Kembali barengan pasangan Kasia dan Roy, Sabtu yang lalu kami merambah kerstmarkt (terjemahan bebas dalam bahasa Indonesianya Pasar Natal kali ya?) di Dusseldorf, Jerman.
Perjalanan dari rumah dihiasi dengan pemandangan yang indah dan langka kami temui di Belanda ini. Es tipis dari kabut yang membeku melapisi permukaan Bumi dengan langit biru dan matahari yang bersinar cerah. Benar-benar hari yang indah.Sayang makin mendekati Dusseldorf pemandangan yang indah ini makin menghilang dan menapakkan pemandangan "normal" yang bebas dari lapisan kabut beku. Di Dusseldorf malah tidak ada kabut beku dan salju sama sekali. Hanya dinginnya saja. Masih untung matahari dan langit biru menjadi anugerah sepanjang hari itu.
Walaupun tidak banyak berbeda dengan kerstmarkt di tempat lain, setidaknya perbandingannya dengan kerstmarkt yang pernah saya kunjungi 2 tahun yang lalu di Koln, suasananya itu yang membuat kami rindu untuk merambahnya kembali.
Isi kerstmarkt adalah pondok-pondok yang menjual souvenir, perhiasan, atribut-atribut yang berbau natal, jajanan seperti permen dan kacang, makanan dan pondok yang menjual minuman khas kerstmarkt, gluhwein, wine yang telah dicampur dengan beberapa rempah (cengkeh dan kayu manis) dan disajikan hangat, eierpunch (eggnog) dan chocolate panas. Juga beberapa pertunjukan dan penyanyi jalanan yang ramai dengan irama Natal.
Nah sudah pasti, pondok makanan dan pondok minuman yang selalu menjadi sasaran kami Supaya tidak cepat penuh ini perut, biasanya Reinier dan saya hanya memesan seporsi dan dibagi berdua, kadang-kadang malah dibagi berempat. Dengan begitu ada banyak macam makanan yang bisa kami cicipi. Ada sosis, steak yang sangan menantang untuk dicicipi, jamur tumis dengan garlic sauce (yang ini tidak pernah bisa saya lewatkan), almond bakar yang manis, coklat, kastanye bakar, tart, reibekuchen (dadar kentang dengan campuran bawang yang dimakan dengan selei apel, apple mousse. Rasanya? Bah!!! Minyak goreng melulu. Mungkin kalau bikin sendiri rasanya lebih oke, lebih gurih dan tidak berendam minyak goreng dan juga dimakan dengan rawit, bukan dengan apple mousse
Dan jika tubuh ini mulai kedinginan, singgahlah kami ke pondok minuman untuk memesan gluhwein. Belum lengkap rasanya mengunjungi kerstmarkt tanpa mencicipi gluhwein. Tadinya saya tidak terlalu menggemari gluhwein, tapi lama-lama bisa juga menikmatinya, walaupun tetap bukan favorit saya. Diteguk perlahan-lahan, rasakan kehangatan dan aroma rempahnya dan biarkan kehangatannya itu menyebar.Pokoknya begitu lewat pondok penjual gluhwein dan ada yang lagi mood, tinggal nyeletuk saja, dingin oi. Semua langsung mengerti maksudnya.
Secangkir gluhwein harganya berkisar antara 4-6 euro, jika cangkirnya ingin dikoleksi silahkan saja, tapi jika cangkirnya dikembalikan ke penjual, maka kita akan mendapat kembalian sekitar 2-3 euro.Cangkirnya kadang-kadang unik dan khas banget. Dua tahun yang lalu kami mengoleksi cangkir dengan bentuk sepatu boot dan tahun ini cangkir berbentuk boneka salju.
Berbeda dengan ketiga partner seperjalanan, saya lebih menyukai eierpunch. Makanya setelah 2 cangkir gluhwein, saya segera beralih ke eierpunch. Ujung-ujungnya kedua cowok di group ini ketagihan juga dengan eierpunch
Ada 6 kerstmarkt yang tersebar di sekitar pusat kota Dusseldorf. Keenam-enamnya kami rambah dengan mudah. Jika dibandingkan dengan kerstmarkt di Koln, kerstmarkt di Dusseldorf ini lebih kecil dengan jarak antara kerstmarkt yang relatif dekat. Jadi cukup jalan kaki dalam tempo hanya beberapa jam semua sudah kami rambah.
Makin malam, makin gelap, kerstmarkt terlihat semakin indah dan gezellig dengan kerlap kerlip lampu dan juga makin padat aliran pengunjung.
Gambar diambil di kerstmarkt di Marktplatz.Di kerstmarkt di Marktplatz ini ada pondok yang menyajikan satu set ukiran kayu Olive yang hampir sebesar aslinya, bayi Yesus di kandang domba, Jusuf dan Maria, dan juga keledai. Katanya sih ukiran itu diselesaikan dalam waktu 2 tahun. Tidak ada fotonya, maklum saja tukang fotonya malas berdesakan dengan pengunjung lain yang sibuk klak klik klak klik dengan kamera mereka di sudut "Star of Bethlehem".
Pohon terang, sudah pasti menjadi atribut yang tidak terpisahkan. Pohon terang ada dan menonjol di setiap kerstmarkt. Weh.. repot pasti masangin lampu sampai puncaknya itu.
Pondok yang menjual lampion yang berbentuk bintang dan bunga salju. Indah. Tadinya sih saya pengen juga membeli satu, tapi pikir-pikir... kok ya namba'in tumpukan barang di rumah... batal deh niat m'belinya.
Wajah-wajah para perambah kerstmarkt minggu lalu, yang sedang menikmati eierpunch. Foto diambil oleh seorang pengunjung dari Belanda yang kebetulan berdiri dekat kami.Sepertinya lebih banyak pengunjung dari Belanda daripada pengunjung Jerman. Soalnya lebih terdengar percakapan dalam bahasa Belanda di sekitar kami daripada bahasa-bahasa lain.
Di ujung hari, perut kenyang, kaki pegal, saatnya kembali ke rumah.
Berhubung si Since tidak perlu nyetir dengan sukses dia tertidur di tempat duduk belakang, bangun-bangun tinggal 5 menit dari Eindhoven. Hihihi...
Satu lagi hari yang menyenangkan.

Sabtu minggu lalu diajak Reinier ke salah satu toko motor di Lohne, Jerman. Kebetulan doi menemukan sebuah artikel jenis motor yang diinginkannya dari toko di daerah itu.
Berangkat dari rumah pukul 9 pagi. Asik-asik saja sambil menikmati nuansa matahari musim dingin yang belum lama terbit, sebelum tertutup awan kelabu yang tebal.



Favorite saya, Carpacio van gerookte zalm, salad salem asap dengan saus mustrad dan honing dengan sentuhan white wine. Hmmmm....
Sebagai sajian utama, Greek tilapia yang khas dengan olive dan feta cheese. Rasanya tidak menyengat tapi lembut di lidah. Dinikmati dengan white wine.
Dan sayur sebagai teman santapan utama adalah tumis buncis dengan biji pinus. Simpel tapi lezat dengan rasa khas biji pinusnya.
Pohon terang.. pohon terang sungguh indah rupamu...
Coklat Letter,
Roomboter amandelstaaf,
Pepernoten,
Taai Taai,
Gevuld Speculaas,
