Friday, September 30, 2005

Mijn eerste duik in Nederlands water

Sudah sejak Juli, awal liburan musim panas lalu, kami berencana untuk menyelam di Oosterschelde, Zeeland. Saat itu temperatur air di Oosterschelde berkisar 21°C. Untuk ukuran perairan Belanda, suhu ini termasuk kategori "hangat". Sayangnya, selalu saja ada masalah yang membuat kami terpaksa terus menunda-nunda rencana kami ini.

Akhirnya, setelah tiba di ujung musim panas, kami bisa melaksanakan rencana kami. Bertiga dengan Tonnie kami menyelam di Goese sas, kira-kira 10 menitan dengan mobil dari rumah mertua di Goes.


Red-X is our dive site (Goese sas)

Deg.. deg.. serrr.. juga rasanya. Saya sama sekali belum pernah menyelam di luar perairan tropis sebelumnya. Apalagi dengan informasi-informasi yang pernah saya dengar, ataupun dari internet yang pernah saya baca, mengenai lokasi-lokasi penyelaman di perairan Zeeland ini, dingin, 6 meter adalah top visibility, kadang-kadang bahkan bisa zero visibility, dan ragam biota yang... sudahlah jangan dibandingkan dengan perairan tropis.
Hmmm... apa yang akan saya temui nanti ya? Thinking Ada ragu-ragu dan penasarannya juga.


Goese sas shore and diver's cars along de road.

Setelah memeriksa di tabel getijden (tabel pasang surut arus), kami memutuskan untuk meyelam sekitar pukul 10.30 pagi itu. Karena pada sekitar saat itu adalah waktu duduk tenang arus.
Tidak seperti di Bali, dimana penyelam bisa kapan saja terjun ke laut. Di perairan Zeeland sini orang hanya bisa menyelam saat sekitar duduk tenang arus, karena hampir semua diver tidak menggunakan perahu tetapi masuk ke laut langsung dari pantai (beach entry) dan juga dengan mempertimbangkan kondisi visibility di dalam air.

Saat kami tiba di Goese sas, pinggiran jalan sudah penuh dengan mobil para diver yang parkir. Untung saja Reinier bisa menemukan celah yang masih kosong yang dekat dengan tangga pada dijk (dam), sehingga saya tidak perlu berjalan jauh sambil memikul peralatan selam saya. Maklum saja, tidak ada ibu porter atau bapak porter di sini.

Ugh... lumayan berat juga. Bayangkan saja, saya harus memakai wetsuit setebal 7 mm, yang sudah pasti membatasi keluwesan gerakan saya, belum lagi saya harus mengimbangi ketebalan wetsuit itu dengan menambah jumlah pemberat yang harus saya pakai. Untung saja tabung udaranya dari baja, yang lebih berat dari tabung aluminium, sehingga tidak terlalu banyak pemberat yang harus saya pakai. Tetapi tetap saja kalau ditotalkan, tetap sama BERATnya!!!
Sudah berat dan kaku begitu, kami masih harus menyeberangi dijk, yang untungnya tidak seberapa tinggi, dan berjalan menuju ke bibir pantai Oh Jeez
He..he.. dasar diver manja!


de dijk, all the way we have to walk, from the sea through the beach, over de dijk, cross the street to the car.

Saat kaki menyentuh air dan air menembus wetsuit saya... brrrr... biar kata sudah menyiapkan mental untuk menghadapi suhu dingin tetap saja brrr... Too Cold padahal suhu air saat itu belum sampai dingin-dingin amat, masih berkisar 19°C. Tapi kejutan dingin itu tidak berlangsung lama. Setelah tubuh saya beradaptasi dengan temperatur di sekeliling dan panas tubuh saya sudah menghangatkan lapisan air yang terperangkap antara kulit saya dengan wetsuit, sengatan dingin itu berkurang banyak.

Yang lucu adalah sesaat setelah kepala saya masuk ke dalam air. "Kenapa masker saya berkabut begini? Padahal baru diberi anti fog beberapa detik sebelum dipakai. Yang benar saja, anti fog alamiku tidak mujarab di sini??!" (Yang diver pasti tahu deh anti fog alami Smile ).
Tidak lucu jika saya harus membersihkan masker lagi di dalam sini, mana airnya dingin lagi. Tapi saya tidak punya banyak pilihan, membersihkan masker lagi atau melanjutkan penyelaman dengan masker yang makin berkabut. Saat jemari saya hampir menyentuh masker untuk membersihkannya, kok ada yang terasa ganjil? Sepertinya masker saya baik-baik saja deh. Coba ah.... saya menaruh jari di depan masker sebelah kiri, jari saya terlihat jelas. Di sebelah kanan, jelas juga.
Olala... ternyata memang bukan masker saya yang bermasalah, tetapi airnya yang butek banget!!!! Astaga!!!! Hysterical

Visibility saat itu hanya berkisar setengah meter!!! Untung saja saya dan Reinier dihubungkan dengan buddy line, sehingga kami tidak terpisah selama penyelaman. Saat kami turun makin dalam, visibility-nya agak membaik, dari setengah meter menjadi 1 meter, lumayan kan?

Karena partikel yang melayang dalam air yang begitu pekat, menghalangi sinar matahari untuk menembus jauh ke dalam air. Jadinya gelap seperti sedang night dive. Itu sebabnya, untuk diving di siang hari pun diver di sini selalu melengkapi dirinya dengan senter yang minimal berkapasitas untuk night dive.


Little shrimp and zeedonderpad (fish).

Walaupun begitu, tetap saja ada yang bisa dilihat dan cukup menarik. Flounders (ikan sebelah), zeedonderpad (sejenis scorpionfish), sephia (kecil), lobster, beberapa species udang kecil, dan kepiting, yang banyak sekali. Belum pernah saya jumpai kepiting yang sebanyak ini dalam satu area sebelumnya. Di sini kepiting, di sana kepiting, di mana-mana bertaburan kepiting. Sampai kepiting yang sedang kawin pun ada. Tidak ketinggalan, hermitcrab juga banyak di sini.


Crab and hermitcrab.

Lama-lama saya merasa dingin juga. Wah... keasyikan, tidak terasa sudah 1 jam kami lewati. Agak kaget juga sih, tadinya saya tidak berpikir untuk bisa bertahan selama 1 jam dalam air yang dingin ini.

Naik ke darat, berjalan kembali ke mobil adalah sebuah usaha extra. Tabung yang semakin kosong ini malah terasa menjadi semakin berat. GotSmiley for FREE! Click Here

Salah satu ketrampilan yang perlu dan mesti dikuasai setelah selesai menyelam adalah harus pintar dan cekatan berganti baju di depan umum, karena di semua lokasi penyelaman, di Belanda sini, tidak terdapat ruangan ganti.
Handuk yang lebar termasuk barang penting yang harus disediakan di mobil untuk kegiatan ini, kalau tidak mau terlalu "vulgar" Brows
Untung juga hari itu matahari bersinar cerah dan hembusan angin hanya sepoi-sepoi, sehingga saya tidak perlu menggigil kedinginan saat masih basah dan saat berganti baju.

Sejujurnya, mungkin saya tidak bisa maksimal menikmati penyelaman ini tanpa kamera saya. Tapi yang pasti, saya tidak akan menolak untuk terjun lagi, asal jangan saja suhu air tidak di bawah 17°C.

Monday, September 26, 2005

"Berburu" Mola-mola

Catatan Perjalanan 8

Keinginan Reinier untuk "berburu" mola-mola atau sunfish ini sudah diungkapkannya sejak setahun yang lalu. Di bulan Juli tahun lalu, kami sempat menyelam di Nusa Penida, pulau di sebelah timur pulau Bali. Sayang, kami belum beruntung. Tidak satu pun mola-mola yang kami temui dalam penyelaman kali itu. Bulan Juli memang awal dari "musim" mola-mola, tapi belum seramai seperti dalam bulan Agustus-September.

Karena kali kemarin kami berada di tanah air di bulan Agustus, Bulan dimana mola-mola bisa -paling sering- ditemui di perairan sekitar Bali timur (Agustus-September). Reinier kembali mengungkapkan keinginannya untuk "berburu" mola-mola.

Mengapa mola-mola begitu istimewa?
Karena mola-mola memiliki bentuk tubuh yang unik, tidak seperti bentuk tubuh ikan pada lazimnya. Nyaris bundar, pipih, dengan sirip punggung dan perut yang mencuat dan nyaris terlihat seperti tidak memiliki ekor. Jarak antara ujung sirip pungung sampai ujung sirip perut ini bisa mencapai sampai 3 meter.
Dan, ikan yang biasanya hidup di laut dalam (sekitar kedalaman 300m) pada laut lepas ini sangat jarang bisa ditemukan oleh diver saat menyelam, hanya pada terumbu karang-terumbu karang tertentu dan pada waktu-waktu tertentu ikan yang terlihat malas bergerak ini terlihat muncul sampai dekat ke daerah terumbu karang.
Mereka muncul ke daerah permukaan dan dekat terumbu karang, pada daerah cleaning stations tertentu, untuk membersihkan parasit-parasit yang tumbuh di permukaan tubuhnya, yang tidak bersisik itu. Misalnya di perairan Nusa Penida ini mereka mendekati daerah karang yang banyak dihuni oleh bannerfish (Heniochus diphreutes), karena ikan-ikan kecil ini akan dengan segera menyerang tubuh mola-mola memangsa parasit-parasit yang hidup di situ.

Karena saya tidak begitu familiar dengan daerah-daerah tempat mola-mola paling sering muncul di perairan sekitar Nusa Penida ini, kami memutuskan untuk membeli daily dive package ke Nusa Penida dari ENA dive center, dive center yang sepengetahuan saya cukup andal untuk trip pencarian mola-mola ini (walaupun sudah tentu tidak pernah ada garansi untuk hal-hal seperti ini).


walking to our boat, sanur beach.

Kami berangkat dari Sanur dengan menggunakan boat menuju Nusa Penida. Karena pagi itu air sedang surut, kami harus berjalan kira-kira setengah kilo menuju ke perahu. Buh... untung saya tidak perlu memikul sendiri peralatan selam saya. Bisa layu sebelum berkembang kalau harus membawa alat sendiri sejauh itu Faint hehehe...

Kami digabungkan dengan grup lain dengan tujuan yang sama dalam satu boat. 16 divers dari HongKong. Semuanya lengkap dengan kamera-kamera mereka, beberapa dengan video. Wah.. jadi grogi juga nih, kamera saya jadi mirip seperti mainan kalau dibandingkan dengan perabotan mereka itu.

Kali ini saya mempersiapkan diri untuk menghadapi suhu air yang mungkin dingin dengan membawa wetsuit 5mm dan tidak lupa hood. Yup, terakhir kali "berburu" mola-mola di Nusa Penida, beberapa tahun yang lalu, suhu air mencapai 18°C!!!

Penyelaman pertama kami lakukan di Crystal bay. Saya dan Reinier ditemani oleh seorang dive master, berada pada group yang terpisah dari rombongan divers HongKong. PhewPfffiuuh... Lega saya. Bagaimana tidak? Bayangkan saja jika harus diving dengan 16 divers lain plus beberapa dive master. Wah... bisa kabur duluan mola-molanya.

Kami menjadi group pertama yang terjun ke laut karena persiapan kami yang lebih cepat. Begitu tubuh saya menyentuh air laut... Shock 4 aaaaghh... dingiiiiinnn...!!!!! Biar kata sudah memakai wetsuit setebal 5mm, dinginnya air tetap menggigit! Kondisi air saat itu tidak sedang berada pada puncaknya. Visibility tidak sejernih biasanya dan kami harus bergerak melawan arus. Setelah beberapa menit menyelam, kami menemukan mola-mola di kedalaman lebih dari 30 meter. Saya memutuskan untuk berhenti di 35 meter dengan pertimbangan case kamera yang tidak bisa dibawa lebih dalam lagi, namun saya sempat melihat 3 ekor yang berjejer rapi. Sementara Reinier (setelah menitipkan kameranya pada saya) dan dive master kami, Bagan, turun sampai 45 meter. Kata Reinier, mereka melihat lebih banyak mola-mola di dalam sana.


Mola-mola

Setelah beristirahat dan makan siang di boat, kami kembali mempersiapkan diri untuk penyelaman kedua. Kali ini di Blue Corner.
Kami menemukan mola-mola di sekitar 27 meter, tidak jauh dari dinding karang. Mereka seperti "melayang" atau lebih tepatnya mengapung di dalam air. Diam, tidak bergerak. Ada 3 ekor di dekat kami, kemudian menyusul bayang-bayang yang lebih banyak di kejauhan. Saya mencoba membuat beberapa foto lebih dekat. Agak sulit, karena dengan kondisi arus, khususnya downwelling (arus yang menuju ke kedalaman) membuat saya harus terus bergerak mempertahankan posisi dan kedalaman saya saat itu. Payahnya gerakan dan gelembung udara saya ini justru membuat mola-mola makin menghindari saya. Terpana saya melihat bagaimana mereka memanfaatkan arus air untuk mendorong tubuh mereka.

Saat kembali berlindung di dinding karang, saya melihat seekor mola-mola tidak jauh di belakang saya, sedang menuju ke arah saya. Setelah memperhitungkan beberapa kondisi dengan cepat, segera saja saya lepaskan pegangan dari dinding karang dan diam membiarkan arus membawa tubuh saya mendekati mola-mola tersebut. Berhasil!!! Saya bisa berada dekat sekali dengan mola-mola ini bahkan membuat beberapa foto close-up. Salah satu hasil fotonya yang ada di atas itu.
Dan sesuai perhitungan saya, downwelling yang tentu saja menyeret saya makin ke dalam dalam makin menjauh dari dinding karang. Pengukur kedalaman saya segera menunjukkan angka 38 meter dengan tidak memakan waktu yang lama. Wah... 11 meter dari titik awal!!! Saatnya untuk balik ke dinding karang dan terpaksa menggunakan jurus cecak menuju ke atas karena downwelling yang semakin kencang. Dan diujung penyelaman saya harus melakukan prosedur deco-stop. Untung kali ini airnya tidak sedingin yang saya perkirakan sebelumnya. Suhu air kali ini berkisar antara 21°-22°C.

Sakit kepala, itulah penderitaan kami semua, tidak terkecuali, setelah penyelaman kedua ini akibat pengerahan tenaga yang berlebihan selama menyelam. Tidak satupun penyelam yang tidak memegang dahinya atau tidak mengenyitkan dahinya. Menyelam melawan arus sebenarnya bukan hal yang bijaksana.

Total mola-mola yang kami lihat hari itu ada 11 ekor. Saya sempat mendengar dari group yang lain, pada penyelaman kedua tidak semua dari mereka yang sempat melihat mola-mola. Tidak heran resiko ini sering terjadi jika berada dalam group yang besar.


Renier and Mola-mola

Reinier senang sekali, akhirnya keinginannya kesampaian juga. Dan saya? Tentu saja saya juga senang. Ini kali pertama saya berhasil membuat foto mola-mola (kali sebelumnya case kamera saya berembun melulu karena suhu air yang dingin).
Namun, yang lebih dari sekedar berhasil membuat foto, adalah kegembiraan Reinier. Saya lebih menikmati kegembiraannya itu. Blings

Catatan terakhir dari trip ke Indonesia kali ini.

Thursday, September 22, 2005

Labuanbajo

Catatan perjalanan 7

Seminggu berpetualangan di laut berlalu sudah. Malam terakhir sebelum terbang kembali ke Bali kami habiskan di Labuanbajo. Karena hanya semalam, kami berdua memutuskan untuk menginap di hotel yang berada di dalam kota, setidaknya tidak sulit untuk mencari transportasi untuk kegiatan kami hari berikutnya. Kami menginap di hotel Gardena, sebuah hotel di dekat pelabuhan, atas rekomendasi seorang teman. Hotel yang sederhana dengan model bungalow, fan and cold water, dan bersih. Pemandangan ke teluk labuanbajo dari hotel ini oke punya karena letaknya agak tinggi di sisi bukit, ujung-ujungnya untuk mencapai ke kamar kami harus agak ngos-ngosan juga. Soal pelayanan di sini, rada-rada bikin Doofus So.. daripada merusak mood, ya self-service dan easy going saja.


Labuan bajo bay/harbour from Gardenia hotel.

Begitu tiba di kamar, langsung kamar mandi yang diserbu paling pertama. Puas-puasin mandi dan keramasnya. Waah.. serasa deh!!! Segar, bersih dan adem. Mungkin seperti saat pangeran kodok dicium sang putri Laughing 2

Kami kemudian menuju ke warung bakso langgananku, kira-kira 10 menit berjalan kaki dari hotel menuju arah ke pasar. Setiap kali Ambasi singgah di Labuanbajo, saya selalu menyempatkan diri singgah di warung bakso ini. Untung juga Reinier termasuk "pemakan segala", sehingga tidak pernah ada masalah kalau diajak makan ke mana saja. 3 mangkok kami habis kan Blushy ups... enak sih.
Yang lucunya pas saat saya hendak membayar, terjadi obrolan singkat antara saya dengan yang punya warung. Tiba-tiba di belakang saya ada pelanggan lain yang saling berbisik... "Wah... bahasa Indonesianya lancar sekali!!" Oalaahh..??? ROTFL


Warung bakso Solo - Reinier, enjoying his bakso (meat ball soup) - rombong gorengan.

Kami memulai petualangan singkat kami pada pagi berikutnya dengan mencari nasi kuning di pasar untuk sarapan pagi. Sebenarnya sarapan pagi sudah disediakan oleh hotel, pancake. Oh... tidaaaak... no more pancake setelah hampir semingguan setiap pagi sarapan dengan pancake di kapal.

Karena penerbangan kami ke Denpasar baru pukul 12.45 siang, kami mengisi pagi dengan mengunjungi goa batu cermin, sebuah goa batu gamping/kapur, kira-kira 5km dari Labuanbajo. Dengan menyewa mobil penumpang (pete-pete kata orang makassar), kami menuju ke desa Batu Cermin. Jarak 5km perjalanan ini terasa jauh lebih panjang karena kira-kira 2km terakhir ditempuh di jalan yang masih berbatu dan berdebu, belum diaspal.

Kami dipandu oleh bapak Laurensius menyusuri goa ini. Belajar dari pengalaman pertama (ini kali kedua saya mengunjungi tempat ini), saya membawa sendiri persiapan lampu senter supaya bisa melihat keadaan dalam goa dengan jelas.
Saya tetap saja terkagum-kagum melihat karya alam ini. Lekuk-lekuk pada batu yang diciptakan oleh aliran air, belum lagi stalaktit dan stalagmit...


Mirror stone cave (outside) - Goa Batu Cermin

Goa ini diberi nama Batu Cermin karena pada beberapa dindingnya terdapat partikel-partikel yang seperti kristal yang memantulkan cahaya. Terutama pada pagi hari , saat sinar matahari menembusi celah atap goa.

Setelah menyusuri lorong yang sempit, kadang-kadang harus merangkak juga, kami tiba di sebuah ruangan yang besar, seperti sebuah aula ditengah perut goa. Di bagian langit-langit ruangan ini terdapat cekungan-cekungan setengah bulatan kira-kira sebesar buah kelapa.
Menurut bapak Laurensius, goa ini juga dipakai sebagai tempat persembunyian pada jaman penjajahan dulu. Di salah satu ruangan sempit lainnya, terdapat kelelawar-kelelawar kecil. Ngeri juga saat mereka berterbangan dalam ruangan itu karena terkejut dengan sinar senter kami.


Mirror stone cave (inside) - Goa Batu Cermin

Kami juga ditunjukkan fosil ikan dan fosil penyu yang terdapat pada dinding goa. Sayangnya pada beberapa batu dalam goa ini ternoda oleh tangan-tangan iseng yang seenaknya mencoret-coret nama mereka. GotSmiley for FREE! Click Here

Kira-kira 1 jam kami habiskan untuk tour dalam goa ini. Kami kembali ke Labuanbajo, menjemput barang-barang kami di hotel, singgah sebentar untuk mengisi perut di warung nasi Padang sebelum akhirnya menuju ke airport.

Akhir dari trip Komodo kali ini.

Wednesday, September 21, 2005

Condo's boat

Catatan perjalanan 6

Kapal pak Condo ini adalah tipikal perahu nelayan khas Sulawesi. Kapal ini sebenarnya cukup leluasa untuk ukuran 8-10 divers. Sayangnya masih banyak sudut dan ruangan yang belum maksimal dimanfaatkan. Maklum saja, kapal ini masih terus dalam proses penyelesaian tahap akhir untuk tambahan eksterior dan interiornya.

Dengan kesederhanaan yang dimiliki kapal ini, maka kapal ini lebih cocok bagi divers yang lebih menyukai petualangan dan menikmati kegiatannya yang dekat dengan alam. Tidak dianjurkan pada divers yang berorientasi pada kenyamanan sebuah hotel bintang lima.


Condo 1 dan kabin kami.

Saya menyukai kabin kami. Tempat tidur kami yang lebar dan kabin kami yang cukup terang saat siang. Kamar tidur kami ini juga dilengkapi dengan AC. Sayangnya AC ini hanya bisa kami gunakan saat siang hari (saat siesta) karena pada malam hari listrik dimatikan, atas permintaan tamu lain karena dia tidak bisa tidur dan tidak tahan dengan suara generator pada malam hari. Untung saja udara malam di daerah Komodo cukup "dingin" sehingga udara di dalam kamar cukup adem, kecuali malam kedua yang rada-rada seperti sauna.
Sebenarnya saya agak kesal dengan diver yang "manja" ini. Lha namanya juga di kapal, ya suara mesin kapal dan suara generator sudah pasti jadi menu sehari-hari. Kalau mau sepi kenapa adventure dengan kapal? Kan lebih enak hotel saja? GotSmiley for FREE! Click Here
Tapi sudahlah, lebih baik saya melihat pada sisi baiknya saja. Kami jadi menghemat bahan bakar karena generator dimatikan setiap malam.
Yah, setiap peristiwa pasti ada positif dan negatifnya. Lebih baik diambil yang positifnya saja.

Dan karena hanya ada satu kamar mandi sekaligus toilet di kapal ini, maka kadang-kadang kami harus antri saat hendak memakainya. Ujung-ujungnya saya jadi malas mandi. Padahal persediaan air tawar termasuk cukup berlimpah untuk ukuran sebuah kapal. Setiap selesai diving, untuk membilas tubuh dari air laut, saya hanya menggunakan beberapa gayung air tawar di dek, open air. Tidak jadi masalah, karena toch beberapa jam kemudian saya sudah terjun ke laut lagi, namun karena open air, siap-siap merinding saja kalau ditiup angin saat tubuh masih basah. Hmm.. 7 hari tidak mandi "bersih" dan tidak keramas membuat saya akhirnya merasa seperti ikan asin juga GotSmiley for FREE! Click Here hehehe..

Untuk urusan perut, sama sekali tidak ada masalah. Walaupun ragam makanan sudah pasti agak terbatas. Tidak mengherankan, base kapal ini di Labuanbajo, sebuah kota kecil di ujung barat Flores. Sudah tentu urusan belanja untuk dapur tidak bisa dibandingkan dengan kota seperti Denpasar kan?
Tapi soal rasa, hmmm... tidak mengecewakan. Yang paling saya sukai adalah kami selalu disuguhi ikan yang masih segar, dibeli langsung dari nelayan yang kebetulan berpapasan atau hasil mancing dari crew kapal sendiri.


Fishing by the crews.

Sebagai dive boat, kapal ini dilengkapi dengan 2 kompresor untuk mengisi dive tanks. Tidak ketinggalan juga tersedia 1 tabung oksigen untuk tindakan penyelamatan/pertolongan pertama jika terjadi kecelakaan dalam penyelaman yang bisa mengakibatkan penyakit dekompresi.
Dan sudah tentu, seorang dive guide (Yang asyik pula. Menguasai area pekerjaanya, ramah dan tanggap).

Terlepas dari kesederhanaan yang ada, saya menikmati liburan saya dengan kapal ini.
Hmm.. pasti akan menjadi semakin asyik dan nyaman setelah semua penambahan eksterior dan interiornya selesai dikerjakan.

Ah ya, terus terang, sebenarnya saya tidak tahu nama dari kapal pak Condo ini. Saya selalu menyebutnya Condo 1.

Friday, September 16, 2005

Underwater Komodo

Catatan perjalanan 5

Di samping dikenal karena Varanus komodoensis-nya, daerah Komodo ini juga terkenal karena keindahan dan keragaman dunia dalam lautnya. Bagi divers, Komodo bisa dikategorikan dalam kelas exclusive, karena kondisinya yang agak "terisolasi", hanya dengan liveboard lokasi-lokasi penyelaman yang terpencil bisa dicapai dengan mudah dan tidak membuang banyak waktu.

Perairan Komodo sangat unik, kondisi perairan tropis di bagian utara yang dipengaruhi oleh laut Flores dan laut Banda, sedangkan makin ke selatan suhu air cenderung semakin dingin karena pengaruh upwelling, arus vertikal, yang membawa air dari bagian dalam samudra Indian ke permukaan. Kondisi-kondisi ini membuat daerah Komodo kaya dengan keragaman biota laut.

Ups... kok jadinya seperti sedang menulis bagian pendahuluan buat makalah ya.. Hmm Lol
Ya sudahlah, cukup pengantarnya. Informasi yang lebih lengkap bisa dibaca di sini atau di sini.
Yang pasti pengalaman saya diving di sana selama 5 tahun terakhir, suhu air di Komodo berkisar antara 20°-26°C. Lumayan dingin sih untuk ukuran penyelam tropis.



Tapi... astaga!!!! Memalukan!!! Ini wetsuit (pakaian selam) kok makin sesak saja??!!Shocked Wah.. ini sih akibat keasikan memanjakan lidah Blushy

Kami menyelesaikan 18 dives sepanjang trip Komodo ini. 15 day-dives dan 3 night-dives. Beberapa lokasi penyelaman bahkan di tempat yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Tidak heran, dive guide-nya kan pak Condo. Komodo ibarat halaman belakang rumahnya, tempat beliau sehari-harinya bermain. Titik-titik kuning di peta adalah lokasi selam kami.

Senang sekali rasanya menyelam kembali di perairan Komodo. Rasanya seperti kembali ke rumah lagi saat berada di dalam sana. Ada rasa hangat di hati ini kembali menyapa alam yang pernah kugauli. Terasa akrab saat alam juga membalas sapaanku. Kami bercinta kembali. Dan aku lepaskan semua kerinduan yang aku punya. Ik ben thuis!


Pada saat arus dan pada saat tenang.

Pada beberapa lokasi penyelaman kami harus menunggu sampai duduk tenang arus. Arus pasang surut di perairan Komodo sudah terkenal tidak main-main. Arus di sini bisa mencapai 8 knot. Bahkan sudah beberapa kali terjadi kecelakaan di laut yang memakan korban akibat human-error yang berhubungan dengan arus ini. Di sisi lain, justru lokasi-lokasi penyelaman dengan crazy current ini sangat memukau, dan ramai dengan ikan-ikan besar dan ikan-ikan pelagis (jack, tuna, dll). So, dibela-belain deh nungguin arus berhenti.

Beberapa lokasi berarus yang sangat saya sukai dan sempat kami kunjungi adalah Batu Bolong, pulau yang berbentuk pilar. Kalau di darat dikatakan menjulang ke langit, tapi pulau ini malah menuju ke kedalaman. Kalau sedang arus mati, kami bisa mengintari pulau ini dalam sekali penyelaman (tergantung juga kalau penyelamnya tidak boros udara). Kadang-kadang arus di sekitar Batu Bolong ini hanya melambat, tidak mencapai titik arus mati, maka kami hanya bisa melakukan penyelaman pada satu sisi pulau saja. Hiu, napoleon, jack berseliweran di antara penyelam. Saya selalu merasa seperti hujan ikan di sini.
Tatawa Kecil, adalah sebuah pulau kecil dekat Batu Bolong. Saya suka di sini karena contour bagian dalamnya yang bertingkat dan bergoa-goa/cela-cela. Kadang-kadang kami bisa menemukan hiu yang sedang tidur di dalam lubang itu.
Dan Crystal Rock, di ujung utara Komodo, batu karang di tengah laut yang terlepas dari pulau induk. Visibility di sini hampir selalu wooow!!! Jernih. Di sekitar batu ini selalu dipenuhi dengan ikan yang bergerombolan, terutama sweetlips-nya.
Dan arus di lokasi-lokasi ini tidak pernah main-main. Jika saat menyelam tidak pada saat mati arus, maka harus berhati-hati dan penuh perhitungan. Kadang-kadang beda kedalaman juga berarti beda pola arusnya. Bahkan bergeser sedikit dari posisi yang ada di daerah tikungan bisa merasakan pola arus yang berbeda pula.



Di samping lokasi-lokasi berarus lainnya. Kami juga melakukan drift dive sepanjang takat Makassar. Menyelam sambil menunggang arus. Kadang-kadang kalau sedang beruntung bisa ketemu dugong di daerah ini. Sayangnya saya tidak beruntung kali kemarin.
Di ujung setiap penyelaman kami habiskan beberapa menit di daerah yang dangkal (safety stop). Saya sering lupa waktu di sini, kalau Reinier tidak memberikan kode udaranya tinggal sedikit. Kenapa saya bisa lupa waktu? Lihat saja foto di bawah ini. Maklum kan sekarang? Roll Yup! Hampir di setiap area safety stop ditutupi oleh coral garden yang sangat cantik.



Tidak ketinggalan kami juga "berburu" manta di Manta Alley. Sayangnya visibility (jarak pandang) pagi itu tidak begitu jernih, dan kami agak diaduk-aduk oleh surge (gerakan air yang mendorong dan menolak yang tercipta akibat gelombang besar di permukaan yang menghantam dinding batu/karang). Ketemu sekitar 10 ekor manta. Tapi.. fiuuuh...Phewlumayan bikin ngos-ngosan. Bolehlah untuk membakar sedikit kalori. Hehehe...



Sebenarnya saya dan Reinier termasuk yang beruntung dalam group ini. Walaupun kami, bersembilan, selalu loncat ke air pada waktu yang sama dan menuju arah yang sama, tapi karena kami berdua tidak termasuk divers yang suka marathon, dan juga karena kebetulan perairan Komodo ini tidak asing bagi saya, kami sering membagi group menjadi 2 bagian. Sebagian di group saya dan sebagian di group pak Condo, (dan sudah tentu hal ini harus sudah dibicarakan dan disepakati bersama sebelum menyelam). Tapi kadang-kadang hanya tertinggal saya dan Reinier berdua, karena yang lain lebih cepat dan lebih senang berada dalam group yang besar. Karena "group" kami yang jauh lebih kecil dan "sepi", kami jadi memiliki kans yang lebih besar untuk didekati ikan-ikan yang besar seperti eagle ray, shark atau single manta ray. Dan kami juga jadi memiliki ruang yang lebih luas dan lebih leluasa untuk mengeksplorasi sekitar kami. Mulai dari yang besar sampai yang macro.


Yang macro.

Di samping adrenalin dives, kami juga melakukan melakukan beberapa relax-dives. Menyelam di lokasi yang tenang, bebas arus dan cenderung dangkal (maksimum 15 meter). Kami berdua bahkan sempat menghabiskan sekitar 30 menitan di atas daerah berpasir, asyik dengan kamera kami masing-masing.
Mungkin bagi kebanyakan penyelam daerah pasir terasa membosankan. Yang terhampar ya cuma pasir dengan beberapa bongkahan kecil karang. Tapi sebenarnya kalau mau dilihat lebih teliti, ada banyak sekali mahluk dan hal-hal yang menarik di sini. Wah... ini baru benar-benar "lupa daratan" deh...


Yang asyik di pasir.

Pada penyelaman terakhir trip ini, saya sempat sport jantung. Bagaimana tidak? Saat di kedalaman kira-kira 15 meter, saya melihat titik-titik air di dalam casing kamera saya Shocked Waah!!! Ternyata ada sehelai rambut tipis yang terperangkap/turut terjepit saat saya menutup case. Karena tekanan air yang kuat, jadinya air mengalir melalui helai rambut tadi, menetes ke dalam casing kamera. Ugh, padahal saya sudah cek ulang setelah saya tutup casenya. Kok tidak kelihatan tadi ya? Untung saja ini penyelaman terakhir dan tidak dalam, dan juga cepat ketahuan bocornya sehingga masih bisa diselamatkanPhew pffuuuh...
Dalam trip ini sudah ada 1 korban sebelumnya yang casingnya kemasukan air. Benar-benar parah. Kameranya tenggelam di dalam casingnya.


Seminggu terasa cepat sekali berlalu. Ah... seharusnya saya tidak boleh mengeluh kan? Saya sudah diberkati dengan kesempatan untuk kembali menyelam di perairan Komodo. Saya senang sekali. Dan sudah pasti selama kesempatan itu masih ada, saya akan kembali lagi.

Daerah Komodo adalah anugerah Tuhan pada Indonesia. Daerah yang begitu kaya dengan keindahan alamnya.