Seminggu berpetualangan di laut berlalu sudah. Malam terakhir sebelum terbang kembali ke Bali kami habiskan di Labuanbajo. Karena hanya semalam, kami berdua memutuskan untuk menginap di hotel yang berada di dalam kota, setidaknya tidak sulit untuk mencari transportasi untuk kegiatan kami hari berikutnya. Kami menginap di hotel Gardena, sebuah hotel di dekat pelabuhan, atas rekomendasi seorang teman. Hotel yang sederhana dengan model bungalow, fan and cold water, dan bersih. Pemandangan ke teluk labuanbajo dari hotel ini oke punya karena letaknya agak tinggi di sisi bukit, ujung-ujungnya untuk mencapai ke kamar kami harus agak ngos-ngosan juga. Soal pelayanan di sini, rada-rada bikin

Labuan bajo bay/harbour from Gardenia hotel.
Begitu tiba di kamar, langsung kamar mandi yang diserbu paling pertama. Puas-puasin mandi dan keramasnya. Waah.. serasa deh!!! Segar, bersih dan adem. Mungkin seperti saat pangeran kodok dicium sang putri
Kami kemudian menuju ke warung bakso langgananku, kira-kira 10 menit berjalan kaki dari hotel menuju arah ke pasar. Setiap kali Ambasi singgah di Labuanbajo, saya selalu menyempatkan diri singgah di warung bakso ini. Untung juga Reinier termasuk "pemakan segala", sehingga tidak pernah ada masalah kalau diajak makan ke mana saja. 3 mangkok kami habis kan
ups... enak sih.Yang lucunya pas saat saya hendak membayar, terjadi obrolan singkat antara saya dengan yang punya warung. Tiba-tiba di belakang saya ada pelanggan lain yang saling berbisik... "Wah... bahasa Indonesianya lancar sekali!!" Oalaahh..???

Warung bakso Solo - Reinier, enjoying his bakso (meat ball soup) - rombong gorengan.
Kami memulai petualangan singkat kami pada pagi berikutnya dengan mencari nasi kuning di pasar untuk sarapan pagi. Sebenarnya sarapan pagi sudah disediakan oleh hotel, pancake. Oh... tidaaaak... no more pancake setelah hampir semingguan setiap pagi sarapan dengan pancake di kapal.
Karena penerbangan kami ke Denpasar baru pukul 12.45 siang, kami mengisi pagi dengan mengunjungi goa batu cermin, sebuah goa batu gamping/kapur, kira-kira 5km dari Labuanbajo. Dengan menyewa mobil penumpang (pete-pete kata orang makassar), kami menuju ke desa Batu Cermin. Jarak 5km perjalanan ini terasa jauh lebih panjang karena kira-kira 2km terakhir ditempuh di jalan yang masih berbatu dan berdebu, belum diaspal.
Kami dipandu oleh bapak Laurensius menyusuri goa ini. Belajar dari pengalaman pertama (ini kali kedua saya mengunjungi tempat ini), saya membawa sendiri persiapan lampu senter supaya bisa melihat keadaan dalam goa dengan jelas.
Saya tetap saja terkagum-kagum melihat karya alam ini. Lekuk-lekuk pada batu yang diciptakan oleh aliran air, belum lagi stalaktit dan stalagmit...

Mirror stone cave (outside) - Goa Batu Cermin
Goa ini diberi nama Batu Cermin karena pada beberapa dindingnya terdapat partikel-partikel yang seperti kristal yang memantulkan cahaya. Terutama pada pagi hari , saat sinar matahari menembusi celah atap goa.
Setelah menyusuri lorong yang sempit, kadang-kadang harus merangkak juga, kami tiba di sebuah ruangan yang besar, seperti sebuah aula ditengah perut goa. Di bagian langit-langit ruangan ini terdapat cekungan-cekungan setengah bulatan kira-kira sebesar buah kelapa.
Menurut bapak Laurensius, goa ini juga dipakai sebagai tempat persembunyian pada jaman penjajahan dulu. Di salah satu ruangan sempit lainnya, terdapat kelelawar-kelelawar kecil. Ngeri juga saat mereka berterbangan dalam ruangan itu karena terkejut dengan sinar senter kami.

Mirror stone cave (inside) - Goa Batu Cermin
Kami juga ditunjukkan fosil ikan dan fosil penyu yang terdapat pada dinding goa. Sayangnya pada beberapa batu dalam goa ini ternoda oleh tangan-tangan iseng yang seenaknya mencoret-coret nama mereka.
Kira-kira 1 jam kami habiskan untuk tour dalam goa ini. Kami kembali ke Labuanbajo, menjemput barang-barang kami di hotel, singgah sebentar untuk mengisi perut di warung nasi Padang sebelum akhirnya menuju ke airport.
Akhir dari trip Komodo kali ini.


2 comments:
Aduh...Sin, itu foto sunsetnya.....cuantik banget...romantis!! Foto2 lainnya juga indah!Wah...bener2 lengkap cerita liburanmu, menarik!! Thanks a lot for sharing ya!!
Aku itu masih sering nggak percaya lho Sin, lha di foto kamu khan cantik dan lembut orangnya, lha kalau di dalam laut kok ya perkasa sekali!(kagum aku Sin)
Aku dan suamiku suka dan sering nonton di TV film ttg berbagai macam ikan termasuk ikan paus, hiu dsb, sering juga ditampilkan diversnya..yang bikin film itu, wah...kagum aku ,jadi ingat Since! Selain memotret di bawah laut, pernah nggak bikin film Sin?
Btw, kemarin2 aku pernah baca berita di TV sini ,ada penebang kayu yang dimakan sama itu macan dihadapan teman2nya yang tak bisa berbuat apa2. Tragis sekali ya, menurut berita itu pula, kalau nggak salah sudah 12 orang dimangsa harimau!
lho ! lha kok sudah abis catatan perjalanannya. gak ada lagi nih mbak ? waduh, aku kehilangan nih. btw catatan perjalanan mbak sin akan jadi pegangan kami kl kita someday akan ke komodo. reinier demen bakso ? si marco gak suka, walau dha coba berkali2.hihihi. niwei, senang baca laporan perjalanan mbak sin ! serign2 jalan2 ya, en share the fun (emang fanta..).
Post a Comment