Friday, September 16, 2005

Underwater Komodo

Catatan perjalanan 5

Di samping dikenal karena Varanus komodoensis-nya, daerah Komodo ini juga terkenal karena keindahan dan keragaman dunia dalam lautnya. Bagi divers, Komodo bisa dikategorikan dalam kelas exclusive, karena kondisinya yang agak "terisolasi", hanya dengan liveboard lokasi-lokasi penyelaman yang terpencil bisa dicapai dengan mudah dan tidak membuang banyak waktu.

Perairan Komodo sangat unik, kondisi perairan tropis di bagian utara yang dipengaruhi oleh laut Flores dan laut Banda, sedangkan makin ke selatan suhu air cenderung semakin dingin karena pengaruh upwelling, arus vertikal, yang membawa air dari bagian dalam samudra Indian ke permukaan. Kondisi-kondisi ini membuat daerah Komodo kaya dengan keragaman biota laut.

Ups... kok jadinya seperti sedang menulis bagian pendahuluan buat makalah ya.. Hmm Lol
Ya sudahlah, cukup pengantarnya. Informasi yang lebih lengkap bisa dibaca di sini atau di sini.
Yang pasti pengalaman saya diving di sana selama 5 tahun terakhir, suhu air di Komodo berkisar antara 20°-26°C. Lumayan dingin sih untuk ukuran penyelam tropis.



Tapi... astaga!!!! Memalukan!!! Ini wetsuit (pakaian selam) kok makin sesak saja??!!Shocked Wah.. ini sih akibat keasikan memanjakan lidah Blushy

Kami menyelesaikan 18 dives sepanjang trip Komodo ini. 15 day-dives dan 3 night-dives. Beberapa lokasi penyelaman bahkan di tempat yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Tidak heran, dive guide-nya kan pak Condo. Komodo ibarat halaman belakang rumahnya, tempat beliau sehari-harinya bermain. Titik-titik kuning di peta adalah lokasi selam kami.

Senang sekali rasanya menyelam kembali di perairan Komodo. Rasanya seperti kembali ke rumah lagi saat berada di dalam sana. Ada rasa hangat di hati ini kembali menyapa alam yang pernah kugauli. Terasa akrab saat alam juga membalas sapaanku. Kami bercinta kembali. Dan aku lepaskan semua kerinduan yang aku punya. Ik ben thuis!


Pada saat arus dan pada saat tenang.

Pada beberapa lokasi penyelaman kami harus menunggu sampai duduk tenang arus. Arus pasang surut di perairan Komodo sudah terkenal tidak main-main. Arus di sini bisa mencapai 8 knot. Bahkan sudah beberapa kali terjadi kecelakaan di laut yang memakan korban akibat human-error yang berhubungan dengan arus ini. Di sisi lain, justru lokasi-lokasi penyelaman dengan crazy current ini sangat memukau, dan ramai dengan ikan-ikan besar dan ikan-ikan pelagis (jack, tuna, dll). So, dibela-belain deh nungguin arus berhenti.

Beberapa lokasi berarus yang sangat saya sukai dan sempat kami kunjungi adalah Batu Bolong, pulau yang berbentuk pilar. Kalau di darat dikatakan menjulang ke langit, tapi pulau ini malah menuju ke kedalaman. Kalau sedang arus mati, kami bisa mengintari pulau ini dalam sekali penyelaman (tergantung juga kalau penyelamnya tidak boros udara). Kadang-kadang arus di sekitar Batu Bolong ini hanya melambat, tidak mencapai titik arus mati, maka kami hanya bisa melakukan penyelaman pada satu sisi pulau saja. Hiu, napoleon, jack berseliweran di antara penyelam. Saya selalu merasa seperti hujan ikan di sini.
Tatawa Kecil, adalah sebuah pulau kecil dekat Batu Bolong. Saya suka di sini karena contour bagian dalamnya yang bertingkat dan bergoa-goa/cela-cela. Kadang-kadang kami bisa menemukan hiu yang sedang tidur di dalam lubang itu.
Dan Crystal Rock, di ujung utara Komodo, batu karang di tengah laut yang terlepas dari pulau induk. Visibility di sini hampir selalu wooow!!! Jernih. Di sekitar batu ini selalu dipenuhi dengan ikan yang bergerombolan, terutama sweetlips-nya.
Dan arus di lokasi-lokasi ini tidak pernah main-main. Jika saat menyelam tidak pada saat mati arus, maka harus berhati-hati dan penuh perhitungan. Kadang-kadang beda kedalaman juga berarti beda pola arusnya. Bahkan bergeser sedikit dari posisi yang ada di daerah tikungan bisa merasakan pola arus yang berbeda pula.



Di samping lokasi-lokasi berarus lainnya. Kami juga melakukan drift dive sepanjang takat Makassar. Menyelam sambil menunggang arus. Kadang-kadang kalau sedang beruntung bisa ketemu dugong di daerah ini. Sayangnya saya tidak beruntung kali kemarin.
Di ujung setiap penyelaman kami habiskan beberapa menit di daerah yang dangkal (safety stop). Saya sering lupa waktu di sini, kalau Reinier tidak memberikan kode udaranya tinggal sedikit. Kenapa saya bisa lupa waktu? Lihat saja foto di bawah ini. Maklum kan sekarang? Roll Yup! Hampir di setiap area safety stop ditutupi oleh coral garden yang sangat cantik.



Tidak ketinggalan kami juga "berburu" manta di Manta Alley. Sayangnya visibility (jarak pandang) pagi itu tidak begitu jernih, dan kami agak diaduk-aduk oleh surge (gerakan air yang mendorong dan menolak yang tercipta akibat gelombang besar di permukaan yang menghantam dinding batu/karang). Ketemu sekitar 10 ekor manta. Tapi.. fiuuuh...Phewlumayan bikin ngos-ngosan. Bolehlah untuk membakar sedikit kalori. Hehehe...



Sebenarnya saya dan Reinier termasuk yang beruntung dalam group ini. Walaupun kami, bersembilan, selalu loncat ke air pada waktu yang sama dan menuju arah yang sama, tapi karena kami berdua tidak termasuk divers yang suka marathon, dan juga karena kebetulan perairan Komodo ini tidak asing bagi saya, kami sering membagi group menjadi 2 bagian. Sebagian di group saya dan sebagian di group pak Condo, (dan sudah tentu hal ini harus sudah dibicarakan dan disepakati bersama sebelum menyelam). Tapi kadang-kadang hanya tertinggal saya dan Reinier berdua, karena yang lain lebih cepat dan lebih senang berada dalam group yang besar. Karena "group" kami yang jauh lebih kecil dan "sepi", kami jadi memiliki kans yang lebih besar untuk didekati ikan-ikan yang besar seperti eagle ray, shark atau single manta ray. Dan kami juga jadi memiliki ruang yang lebih luas dan lebih leluasa untuk mengeksplorasi sekitar kami. Mulai dari yang besar sampai yang macro.


Yang macro.

Di samping adrenalin dives, kami juga melakukan melakukan beberapa relax-dives. Menyelam di lokasi yang tenang, bebas arus dan cenderung dangkal (maksimum 15 meter). Kami berdua bahkan sempat menghabiskan sekitar 30 menitan di atas daerah berpasir, asyik dengan kamera kami masing-masing.
Mungkin bagi kebanyakan penyelam daerah pasir terasa membosankan. Yang terhampar ya cuma pasir dengan beberapa bongkahan kecil karang. Tapi sebenarnya kalau mau dilihat lebih teliti, ada banyak sekali mahluk dan hal-hal yang menarik di sini. Wah... ini baru benar-benar "lupa daratan" deh...


Yang asyik di pasir.

Pada penyelaman terakhir trip ini, saya sempat sport jantung. Bagaimana tidak? Saat di kedalaman kira-kira 15 meter, saya melihat titik-titik air di dalam casing kamera saya Shocked Waah!!! Ternyata ada sehelai rambut tipis yang terperangkap/turut terjepit saat saya menutup case. Karena tekanan air yang kuat, jadinya air mengalir melalui helai rambut tadi, menetes ke dalam casing kamera. Ugh, padahal saya sudah cek ulang setelah saya tutup casenya. Kok tidak kelihatan tadi ya? Untung saja ini penyelaman terakhir dan tidak dalam, dan juga cepat ketahuan bocornya sehingga masih bisa diselamatkanPhew pffuuuh...
Dalam trip ini sudah ada 1 korban sebelumnya yang casingnya kemasukan air. Benar-benar parah. Kameranya tenggelam di dalam casingnya.


Seminggu terasa cepat sekali berlalu. Ah... seharusnya saya tidak boleh mengeluh kan? Saya sudah diberkati dengan kesempatan untuk kembali menyelam di perairan Komodo. Saya senang sekali. Dan sudah pasti selama kesempatan itu masih ada, saya akan kembali lagi.

Daerah Komodo adalah anugerah Tuhan pada Indonesia. Daerah yang begitu kaya dengan keindahan alamnya.

2 comments:

Anonymous said...

Aduh Since...membaca tulisanmu diatas, membuatku berdecak kagum. Lagi lagi... foto2nya juga cuantik2. Met wiken ya!!

si inot said...

duh bagus ya mbak sin perairan komodo. gak pulaunya gak airnya. sayang aku ndak isok nyelem... (menyeshaal...). dulu aku ngapain aja ya kok ndak bisa yuyung gak isok nyilem. jadi kurang maksimal menikmati karunia tuhan yang di dalam air....info mbak sin ini sangat membantu kami, siapa tahu kl pulkam marco keturutan ke komodo..