Friday, April 29, 2005

Chateau de Versailles , Brassica napus, Pesisir Normandia

#3 dari 4

Chateau de Versailles , Brassica napus, pesisir Normandia, hmmm.. apa hubungannya ya? Yang pasti tiga-tiganya saya temui di daratan Perancis Smile
Sayangnya hari ketiga ini cuaca tidak secerah hari-hari sebelumnya. Awan tebal dan gerimis, tapi semangat liburan tetap membara, tidak terpengaruh cuaca.

Tahun lalu kami juga sempat mengunjungi chateau de Versailles. Tapi saat itu kami datang pada hari Senin, sementara istana hanya terbuka untuk umum Selasa-Minggu. Hasilnya kami hanya bisa berkeliling di bagian luar istana dan menyusuri taman istana yang super gede itu (dan ternyata selama musim dingin, November-Maret, kunjungan ke taman bebas fee alias gratis Roll). Makanya baru kali ini keinginan Reinier untuk menyaksikan kemegahan bagian dalam istana terpenuhi.


Chateau de Versailles (foto koleksi tahun lalu) Posted by Hello

Berbeda dengan tahun lalu, kali ini suasana benar-benar ramai walaupun dibawah gerimis tipis. Karena kami juga berencana ke pesisir Normandia hari itu, kami hanya membeli tiket untuk mengunjungi state apartments plus dengan audioguide-nya. Hampir satu jam kami habiskan hanya untuk antri ke masuk ke dalam istana (semua tas yang dibawa harus melalui pemeriksaan x-ray), belum termasuk antrean karcis dan antrean buat mendapatkan audioguide-nya. Buuuh...

Ada 20 ruangan yang kami kunjungi. Ruangan-ruangan tersebut termasuk di dalam The King's State Apartment, The Hall of Mirror, The Queen's apartment, dan ruangan tentang Napoleon.


Royal Chapel dan Hall of Mirrors Posted by Hello


Beberapa sudut dalam istana Posted by Hello

Ruangan-ruangan dalam istana ini benar-benar bikin takjub. Apalagi lukisan-lukisan sepanjang langit-langit istana.
Dua jam lebih kami habiskan untuk berkeliling dalam istana. Itupun belum maksimal bagi kami untuk benar-benar mengamati semua dekorasi and interior di dalam istana. Bagaimana mau menikmati dengan maksimal ditengah-tengah lautan manusia begitu? Untuk memotret saja dibutuhkan kesabaran cadangan. Tidak semua orang menghargai orang lain yang sedang mengambil gambar. Asal lewat, asal senggol saja. Thanks to digital camera Happy kebayang kan bisa habis berapa rol kalau pakai kamera biasa.

Saya jadi membayangkan kehidupan dalam istana saat itu, begitu megah, sementara di luar sana begitu banyak rakyat yang hidup sengsara. Tidak heran kalau pada akhirnya rakyat memberontak juga.
Sebenarnya sejarah sudah mengajarkan banyak pada kita, manusia-manusia yang hidup di abad ini. Tapi karena keserakahan, membuat sejarah selalu berulang.


Versailles garden (foto koleksi tahun lalu)Posted by Hello

Dari Versailles kami langsung mengambil rute ke Normandia, dengan tetap mengutamakan jalur kuning di peta. Sepanjang perjalanan saya melihat banyak sekali perkebunan bunga kuning. Reinier menjelaskan bunga itu disebut koolzaad, atau Brassica napus, untuk menghasilkan minyak seperti bunga matahari. Kami hanya sekali melihat produk minyak bunga tersebut di supermarket. Tapi ada juga yang mengatakan bunga ini berbahaya bagi ternak Not Sure hmmm...


Brassica napus Posted by Hello

Kami tiba di daerah pesisir Normandia sore harinya (jadi ingat Asterix dan orang-orang Normandia Smile). Senang sekali melihat ombak yang menjilati bibir pantai dan dinding-dinding batu yang menjulang dari tepi pantai. Ingin rasanya menyentuh air laut itu. Tapi jangankan menyentuh air laut, berdiri di tepi pantai saja sudah membuat saya menggigil kedinginan.


pantai-pantai di Normandia Posted by Hello

Kami bermalam di Honfleur, sebuah kota tua yang indah dan terpelihara. Kota ini terkenal dengan dok tuanya yang indah dan Liutenance, sebuah reruntuhan bangunan tua yang masih terlihat jelas di ujung dok.
Dan saya menyukai kamar tempat kami menginap, hotel du Dauphin (the dolphin). Dan... bukan pink!!! Lol


A calm old dock and Liutenance, Honfleur Posted by Hello

Thursday, April 28, 2005

Paris: Sacre Ceour Church dan Metro

#2 dari 4

Paris, alasan saya mengunjungi kembali kota ini kali ini hanya satu, Sacre Ceour Church. Ada kerinduan yang begitu dalam untuk kembali mengunjungi gereja ini.

Bermula saat pertama kali saya mengunjungi Paris. Saat itu ada masa begitu banyak kegalauan dalam diri saya tentang kehidupan. Ada begitu banyak pertanyaan yang tersimpan di benak saya, ada begitu banyak kekuatiran yang saya pendam, dan ketakutan-ketakutan yang saya simpan.
Padahal dalam doa saya serahkan semua hal yang ada dalam tangan-Nya. Padahal dalam perjalanan hidup saya, cinta-Nya begitu nyata. Namun keegoisan saya, keangkuhan saya, kebodohan saya, rasa cinta diri yang berlebihan membuat saya tak mampu melepaskan kekuatiran-kekuatiran itu dari diri saya.
Jika saya mencari pembenaran diri, maka saya akan katakan, itu sangat manusiawi. Adakah manusia yang tidak memiliki kekuatiran dalam hidupnya? Namun dengan melakukan pembenaran-pembenaran diri justru membuat saya semakin terjebak dalam kebodohan dan keegoisan.

Saat kami, saya dan Reinier, mengunjungi gereja Sacre Couer, di depan altar Maria, entah bagaimana prosesnya, saat itu semua emosi yang saya punya berontak dalam diri saya. Saya terpaku di situ, tak mampu berkata-kata, tak mampu menahan gejolak yang begitu kuat dalam diri, semua gejolak itu mengalir keluar dengan derasnya. Saat itu saya ditelanjangi oleh kasih-Nya, semua ketakutan, semua kekuatiran, semua keangkuhan, semua kesombongan, dan semua kegalauan yang saya simpan rapat dibukaNya satu per satu tanpa mampu saya cegah. Semuanya mengalir seperti keran air yang dibuka. Tidak ada kata-kata yang terucap, semuanya keluar tangis tanpa mampu saya tahan. Sebuah bahasa tanpa kata.
Saat itu saya disentuh, saya ditegur, saya dibangunkan. Saat itu saya dicerahkan.

Tiba-tiba saya merasakan ada tangan yang menyentuh pundak saya, Reinier. Dia memandang saya dengan mimik yang bingung dan kuatir, "Apa yang terjadi?". Tentu saja dia bingung. Saya tiba-tiba menghilang dari sisinya, dan saat dia menemukan saya di depan altar itu, saya sedang menangis dengan tubuh yang bergetar.
Ketika kami melangkah meninggalkan Sacre Ceour beberapa menit kemudian, saya melangkah dengan begitu ringan. Hati saya dipenuhi kehangatan, kepasrahan dan kepastian.

Dan minggu lalu, di depan altar yang sama, setelah menyalakan lilin dan mulai berdoa, saya kembali kehilangan kata-kata yang ingin saya rangkaikan dalam doa. Yang ada adalah kesunyiaan yang hangat, doa yang mengalir tanpa rangkaian kata. Karena Dia tidak membutuhkan kata-kata. Karena Dia maha tahu.
Saya bersyukur karena kasih-Nya yang begitu limpah dalam kehidupan saya.


Mejeng di depan Sacre Ceour Church Posted by Hello


"Pasar seni" di Montmartre Posted by Hello

Hal lain yang membuat saya terkagum-kagum di Paris adalah Metro, jaringan transportasi bawah tanahnya. Sebuah labirin raksasa di bawah kota Paris, dengan 14 jalur kereta dan 380 stasiun yang tersebar dalam kota Paris (satu stasiun setiap radius 0,5 km), 87 diantaranya merupakan titik temu antar jalur. 3500 gerbong dengan 6 juta penumpang setiap harinya. Transportasi yang paling cepat untuk kemana-mana selama di Paris, bebas macet. Informasi jalur pun jelas terpampang di peta di setiap stasiun. Dimanapun saya berdiri di Paris, saya selalu merasa ada kehidupan lain di bawah tanah dimana saya berpijak.


Metro Posted by Hello

Selain Sacre Couer, kami tidak membuat program tempat yang ingin kami kunjungan kali ini. Sebagian besar sudah kami kunjungi tahun lalu. Well, tadinya Reinier ingin ke musium de Louvre, tapi karena cuaca yang begitu hangat, matahari bersinar cerah, kami lebih memilih untuk menghabiskan waktu jalan-jalan menikmati hangatnya mentari.
Asyiknya lagi ada sale di beberapa toko. Hmmm... Rolly 3


Ecole Militaire dari balik Eiffel tower Posted by Hello


Sungai Seine yang membelah kota Paris Posted by Hello

Wednesday, April 27, 2005

Along the way to Paris

#1 dari 4

Kami berdua telah merencanakan sebuah short holiday sebelum masa sekolahku dimulai, sejak beberapa minggu yang lalu. Ke mana? Saya ingin mengunjungi kembali Sacre Coeur church, dan Reinier ingin melihat dekorasi ruangan-ruangan dalam istana Versailles. Klop, Paris adalah jawabannya.

Perjalanan kami dimulai Jumat pagi minggu lalu. Matahari yang bersinar cerah membuat semangat liburan makin mengebu-gebu. Sengaja kami tidak mengambil rute terpendek menuju Paris. Kami berusaha memilih jalan-jalan "kecil" (warnanya kuning di peta) untuk mendapatkan pemandangan yang lebih indah dan lebih "local color", daripada lewat bypass (walaupun kadang-kadang kami harus memilih bypass juga). Dari Eindhoven, kami menyeberangi Belgia menuju Perancis.

Tak lama setelah masuk wilayah Belgia, kami sudah berada di daerah berbukit-bukit. Pemandangan yang sangat berbeda dari daratan Belanda yang begitu datar. Beberapa lokasi mengingatkan saya pada Bedugul di Bali dan juga Tomohon di Sulut. Hmmm... jadi rindu tanah air.

Saat melewati Durbuy, Belgia, kami sempat berhenti sejenak untuk melihat kastilnya. Sebuah kastil tua dari sebelum 1628, yang kemudian dibangun kembali oleh keluarga Ursel pada tahun 1880. Sayangnya kastil tersebut ditutup, sehingga kami hanya melihat dari luar saja. Tempat ini penuh juga dengan turis, diantaranya yang paling jelas diidentifikasi adalah Taiwan dan Jepang Teethy


kastil Durbuy, Belgia Posted by Hello


Durbuy's tourism area Posted by Hello


Reinier dengan peta saat saya sibuk dengan kamera Posted by Hello

Kami juga berhenti beberapa kali, untuk makan siang dan coffee break. Bukan di restoran atau di cafe, melainkan piknik dengan bekal yang sudah kami siapkan dari rumah. Ada begitu banyak tempat piknik yang indah sepanjang perjalanan.


coffee break, picnic, somewhere between Halma and Deverdisse, Belgia.

Menikmati secangkir kopi sambil merasakan hangatnya sinar mentari di kulit, harum segar pepohonan hutan, gemericik air sungai yang mengalir, senyum orang yang dicintai... Indah sekali... Saya sungguh berterima-kasih pada Tuhan.


Bohan, Belgia Posted by Hello

Sekitar pukul 8 malam saat kami tiba di Paris. Hal yang masih terasa agak "lain" bagi saya adalah jam 8 malam di sini masih seterang jam 5 sore di Indonesia. Saya belum 100% terbiasa Smiles

Hotel de la Terrasse, kami memilih hotel ini karena disamping lokasinya yang dekat dengan gereja Sacre Ceour, harganya juga relatif lebih murah (ternyata harga di website lebih mahal dari harga di meja resepsionisnyaMouth At Side) dan kondisi kamar yang bersih dan manis yang terpampang di website tersebut.
Namun, pada kenyataannya kondisi kamar tersebut sungguh jaaaauuuuh berbeda dari foto yang kami lihat di website. Sepertinya foto-foto tersebut diambil sekitar 20 tahun yang laluPonder
Begitu masuk ke kamar... saya hanya bisa melongo dan kemudian tertawa. Saya tidak mengerti apa yang kira-kira ada di benak orang yang mendekorasi kamar tersebut. Semua serba pink!!!! Dinding berwarna pink, bed cover pink, gorden pink, karpetnya merah tua, sampai tissiu dan toilet papernya pun PINK!!!!! Dizzy Maboook sudah!!!!! Untung saya tidak mengenakan t-shirt pink, kalau tidak saya sudah merasa seperti bunglon di kamar itu. Ya sudahlah... hanya 2 malam...

Setelah makan malam yang murah meriah tapi enak di chinese food depot di dekat hotel, kami menghabiskan beberapa jam berjalan-jalan di daerah selatan Montmartre (bukit di mana gereja Sacre Ceour berada), sekaligus mengambil beberapa foto gereja Sacre Ceour yang berselimutkan cahaya lampu.


Sacre Ceour di malam hari, Paris Posted by Hello

Sleeping Tiba saatnya untuk kembali ke chamber de la Pinque kami, sebutan yang kami beri untuk kamar pink itu. Saatnya untuk beristirahat dan siap untuk hari yang baru.

Monday, April 18, 2005

Wallpapering, sebuah parameter...??

Menata kembali kamar tidur adalah rencana yang telah kami susun sejak awal saya pindah ke apartement ini. Reinier setuju dengan tema "laut" pada kamar kami. Paduan deepsea blue dan light cream untuk behang (kertas dinding), dengan tekstur yang simpel dan mudah dibersihkan, dan sand color untuk karpetnya.
Kamar yang tidak terlalu luas itu ternyata cukup menyita banyak waktu kami. Terutama saat-saat menelusuri toko-toko mencari behang (kertas dinding) dan karpet yang sesuai dengan keinginan kami. Ada banyak behang dan karpet di sini, namun warna dan tekstur yang kami inginkan tidak mudah kami dapatkan. Setelah beberapa hari "perburuan", akhirnya terkumpul juga bahan-bahan yang kami inginkan. Saatnya untuk mulai mendekorasi kamar tiba.

Beberapa teman kami, termasuk orang tua Reinier sempat mengingatkan kami, bahwa besar kemungkinan kami akan bertengkar pada saat proses memasang behang di dinding. Bahkan beberapa teman sempat bercanda mengatakan, jika kalian mampu survive melalui tahap renovasi kamar ini, maka kalian PASTI akan mampu survive dalam perkawinan kalian sampai oma-opa.
Ponder hmmm... saya sama sekali tidak mengerti apa yang ada dibalik kata-kata mereka. Separah itu kah?

Proses pelepasan behang lama dari dinding berjalan tanpa masalah. Kami menghabiskan hampir seharian untuk proses ini. Pekerjaan yang kelihatannya mudah, namun cukup melelahkan. Setelah membersihkan dinding-dinding tersebut, tibalah saatnya untuk melengketkan behang yang baru. Apakah kami akan mampu bekerja dengan kompak dan damai? Seberapa besar kemungkinan kami untuk bertengkar dalam proses ini? Semua pertanyaan itu ada dalam kepala saya pagi itu. Proses pemasangan behang ke dinding juga memakan waktu hampir seharian. Dan... bagaimana dengan kami?

Minggu berikutnya ketika kami mengunjungi orang tua Reinier, pertanyaan pertama dari mama adalah, bagaimana kalian? Aman-aman saja? Apakah kalian bertengkar saat memasang behang? Tentu saja tidak, sama sekali tidak ada pertengkaran, jawab kami. Dan tentu saja itu adalah sebuah jawaban yang jujur.

Kami tidak bertengkar mungkin karena kami berdua menyadari bahwa kami tidak punya pengalaman banyak di bidang ini. Ini malah yang pertama kalinya saya bekerja dengan behang. Oleh sebab itu kami sama-sama tidak menaruh harapan yang muluk-muluk dari hasil pekerjaan kami. Yang penting rapi dan acceptable.
Awalnya kami sempat mencoba untuk memasang behang ke dinding bersama-sama. Namun itu tidak berhasil. Behang lebih baik dipasang di dinding hanya oleh dua tangan, bukan empat tangan. Akhirnya kami membagi tugas, saya mengelem lembaran-lembaran behang dan Reinier yang memasangnya ke dinding. Dan pembagian tugas ini berhasil, kami jadi tidak saling tarik-menarik berusaha memasang behang dengan rapi di dinding.


Wallpapering (foto diambil dari berbagai sumber) Posted by Hello

Memasang behang ke dinding kelihatannya mudah, namun tidak semudah yang dibayangkan. Salah mengukur, salah memotong, bahan yang terlalu tipis, lem yang kadang tidak melekat sesuai kemauan kita, pemasangan yang tidak serapi yang diharapkan, capek, banyak kesempatan yang bisa bikin tipis emosi.
Untungnya kami mampu bersikap easy going. Jika ada yang mengomel, biarkan saja, masuk telinga kiri, keluar lewat telinga kanan. Tidak usah dimasukkan ke dalam hati. Kalaupun mau ditanggapi , kami menanggapinya dengan kalimat-kalimat yang ringan dan kadang lucu. Tidak merasa dipersalahkan atau mempersalahkan. Namun jika hendak mengkomplain hasil pekerjaan masing-masing, kami lakukan dengan cara yang "manis", dan kadang konyol yang menimbulkan tawa.
Saling mengerti kondisi pasangan, rasa sayang yang terbias dari setiap jawaban yang diberikan, saling menghargai hasil pekerjaan, sungguh merupakan penyejuk bagi emosi yang mulai meluap karena capek atau kesal.
Sekarang saya juga mengerti kenapa kegiatan memasang behang di dinding dijadikan "parameter" survive dalam perkawinan (walaupun itu bukan parameter standard).

Dan kini, setelah karpet baru dibentangkan, kami serasa memiliki pantai pribadi Smile Reinier bahkan sempat mencandai saya, bagaimana kalau kita juga tempatkan pohon palem di kamar biar benar-benar terasa suasana pantai Hysterical