Paris, alasan saya mengunjungi kembali kota ini kali ini hanya satu, Sacre Ceour Church. Ada kerinduan yang begitu dalam untuk kembali mengunjungi gereja ini.
Bermula saat pertama kali saya mengunjungi Paris. Saat itu ada masa begitu banyak kegalauan dalam diri saya tentang kehidupan. Ada begitu banyak pertanyaan yang tersimpan di benak saya, ada begitu banyak kekuatiran yang saya pendam, dan ketakutan-ketakutan yang saya simpan.
Padahal dalam doa saya serahkan semua hal yang ada dalam tangan-Nya. Padahal dalam perjalanan hidup saya, cinta-Nya begitu nyata. Namun keegoisan saya, keangkuhan saya, kebodohan saya, rasa cinta diri yang berlebihan membuat saya tak mampu melepaskan kekuatiran-kekuatiran itu dari diri saya.
Jika saya mencari pembenaran diri, maka saya akan katakan, itu sangat manusiawi. Adakah manusia yang tidak memiliki kekuatiran dalam hidupnya? Namun dengan melakukan pembenaran-pembenaran diri justru membuat saya semakin terjebak dalam kebodohan dan keegoisan.
Saat kami, saya dan Reinier, mengunjungi gereja Sacre Couer, di depan altar Maria, entah bagaimana prosesnya, saat itu semua emosi yang saya punya berontak dalam diri saya. Saya terpaku di situ, tak mampu berkata-kata, tak mampu menahan gejolak yang begitu kuat dalam diri, semua gejolak itu mengalir keluar dengan derasnya. Saat itu saya ditelanjangi oleh kasih-Nya, semua ketakutan, semua kekuatiran, semua keangkuhan, semua kesombongan, dan semua kegalauan yang saya simpan rapat dibukaNya satu per satu tanpa mampu saya cegah. Semuanya mengalir seperti keran air yang dibuka. Tidak ada kata-kata yang terucap, semuanya keluar tangis tanpa mampu saya tahan. Sebuah bahasa tanpa kata.
Saat itu saya disentuh, saya ditegur, saya dibangunkan. Saat itu saya dicerahkan.
Tiba-tiba saya merasakan ada tangan yang menyentuh pundak saya, Reinier. Dia memandang saya dengan mimik yang bingung dan kuatir, "Apa yang terjadi?". Tentu saja dia bingung. Saya tiba-tiba menghilang dari sisinya, dan saat dia menemukan saya di depan altar itu, saya sedang menangis dengan tubuh yang bergetar.
Ketika kami melangkah meninggalkan Sacre Ceour beberapa menit kemudian, saya melangkah dengan begitu ringan. Hati saya dipenuhi kehangatan, kepasrahan dan kepastian.
Dan minggu lalu, di depan altar yang sama, setelah menyalakan lilin dan mulai berdoa, saya kembali kehilangan kata-kata yang ingin saya rangkaikan dalam doa. Yang ada adalah kesunyiaan yang hangat, doa yang mengalir tanpa rangkaian kata. Karena Dia tidak membutuhkan kata-kata. Karena Dia maha tahu.
Saya bersyukur karena kasih-Nya yang begitu limpah dalam kehidupan saya.

Mejeng di depan Sacre Ceour Church


"Pasar seni" di Montmartre

Hal lain yang membuat saya terkagum-kagum di Paris adalah Metro, jaringan transportasi bawah tanahnya. Sebuah labirin raksasa di bawah kota Paris, dengan 14 jalur kereta dan 380 stasiun yang tersebar dalam kota Paris (satu stasiun setiap radius 0,5 km), 87 diantaranya merupakan titik temu antar jalur. 3500 gerbong dengan 6 juta penumpang setiap harinya. Transportasi yang paling cepat untuk kemana-mana selama di Paris, bebas macet. Informasi jalur pun jelas terpampang di peta di setiap stasiun. Dimanapun saya berdiri di Paris, saya selalu merasa ada kehidupan lain di bawah tanah dimana saya berpijak.

Metro

Selain Sacre Couer, kami tidak membuat program tempat yang ingin kami kunjungan kali ini. Sebagian besar sudah kami kunjungi tahun lalu. Well, tadinya Reinier ingin ke musium de Louvre, tapi karena cuaca yang begitu hangat, matahari bersinar cerah, kami lebih memilih untuk menghabiskan waktu jalan-jalan menikmati hangatnya mentari.
Asyiknya lagi ada sale di beberapa toko. Hmmm...

Ecole Militaire dari balik Eiffel tower


Sungai Seine yang membelah kota Paris


No comments:
Post a Comment