Cita-cita.. *)
Apa itu?
Buka kamus bebas terjemahan sendiri, ah.. ini dia... Cita-cita adalah impian yang sedang digapai dengan usaha yang gigih.
Iya lah.
Tanpa usaha ya bukan cita-cita namanya. Itu mimpi.
Misalnya, si Since yang ingin menang staatsloterij. Ini tergolong impian, karena hanya diimpi-impi tanpa ada usaha untuk mewujudkan. Beli lotere kek, ogah, berharap nemu di jalan. Lotere orang yang jatuh, gitu. Kacau!!!

Cita-cita...
Dulu saat masih kecil, saya paling sebal kalau ditanya oleh orang dewasa, cita-citanya kalau sudah besar mau jadi apa Since?
Ugh.. mana terpikirkan mau jadi apa nanti. Terpikirkan untuk menjadi dewasa pun tidak, malah lebih tenggelan dan bermain dengan imajinasi dalam petualangan Peter Pan dan buku-buku cerita lain dengan gambar yang indah dan penuh warna yang diberikan papa.
Saat ditanya, mau jadi dokter ya nanti?
Jawaban yang keluar dari mulut saya selalu dengan tegas, tidak!!!
Hmmm... jadi pengusaha?
Tidak.
Jadi apa dong?
Ih reseh bener sih ini tante/om??? Untung papa-mama tidak pernah merepotkan saya dengan pertanyaan-pertanyaan bodoh ini.
Akhirnya suka-suka saja jawabnya, jadi tukang bongkar mobil, tape dan radio saja.
Hah???

kamu mau jadi montir?
Nah kaget kan tante/om? Ya iya lah, emang hobi saya mbongkar-mbongkar kok. Kalau sudah pegang obeng, semua bisa saya prenteli sampe sa kecil-kecilnya. Urusan masangnya lagi?? Hehehe... 'gak janji lah yaooo

Saat duduk di SD, juga selalu ditanya pertanyaan yang sama. Ditambah lagi acara mengisi buku-buku kenangan.
Duh, mana saya tahu mau jadi apa nanti? Akhirnya nyerah juga dengan keputusan guru yang asal bunyi, oooooh... Since mau jadi insinyur ya? Lha?? Ya sudah lah... iya'in saja dari pada capek mikirnya. Ah, kenapa juga orang-orang ini ngotot banget?
Padahal insinyur tuh apaan juga mana saya tahu?
Yang pasti, bulan ini insinyur pertanian, ntar bulan depan insinyur tehnik, lama-lama malah bertahan jadi insinyur pertambangan. Keren sih kedengarannya. Pertambangan... waah... bakalan tajir nih. Nah lho... sebenarnya insinyur pertambangan itu apa masih kabuuuuurrr... Hahahaha... Asal!!!
Pernah keinginan menjadi arsitek menghampiri benak saya, gara-gara dulu sering menekuni blue print rumah kami yang sedang dibangun.
Saya mulai menggemari gambar ruang dan segala tetek bengek yang berhubungan dengan gambar perspektif dan sebangsanya. Tapi gara-gara sebal banget pada guru gambar ruang di SMA dulu, runtuhlah semangat belajar gambar ruang yang tadinya mengebu-gebu itu. Buyarlah cita-cita untuk menjadi arsitek. Dasar!!! Cita-citanya saja yang tidak teguh kukuh berlapis baja

Biologi termasuk pelajaran yang menarik. Herannya walaupun pernah ada guru biologi sangat tidak simpati, toh saya tetap menggemari bidang ini. Tapi tidak terlintas saat itu untuk menjadikan biologi sebagai bagian dari masa depan.
Bahkan saat pembagian jurusan di SMA, tadinya berniat ke jurusan A2, jurusan biologi. Hanya saja saat itu wali kelas berusaha meyakinkan untuk mengambil jurusan A1, jurusan fisika dengan pertimbangan toh nilai matematis saya tergolong cukup baik.
Dan setelah penjelasan panjang lebar dari si wali kelas tentang keuntungan-keuntungan yang bisa diperoleh nanti saat hendak memilih jurusan di universitas, maulah saya memilih A1. Dan yup, saya tidak menyesal karenanya. Tapi saya sebal sekali dengan matematika yang sudah berbunyi penurunan rumus dan segala integralnya itu. Bah.
Lantas, apa cita-cita saya?
Sungguh, saat itu saya tidak tahu pasti. Saya hanya menjalani langkah yang saya anggap berguna nantinya. Walaupun nanti itu apa, masih kaburrrr!!!
Saat menjelang lulus SMA, saya benar-benar tertarik dengan program study yang baru dibuka di Fakultas Perikanan Universitas Pattimura, Ilmu dan Tehnologi Kelautan (ITK). Maka ke sanalah tujuan saya. Kecintaan terhadap laut benar-benar membawa diri ini ke sana.
Punya cita-cita ke arah laut toh?
Hmmm... saya hanya menjalani saja apa yang ingin dilakukan saat itu. Tidak terpikirkan apa yang hendak dilakukan nanti setelah masa kuliah berlalu.
Bergelut dengan diving, hal yang kemudian terjadi, pekerjaan, hobi dan dunia saya yang geluti, sama sekali tidak terpikirkan saat itu.
Dunia yang saya geluti dan nikmati sebagai karier, bahkan menjadi bagian dari identitas justru merupakan hasil dari pilihan-pilihan yang dibuat selama proses "mengikuti panggilan hidup".
Sudah pasti, lewat masa pendidikan selama di ITK ini saya mengenal dunia selam menyelam, walaupun aktifnya malah setelah masa kuliah. Tapi setidaknya di sini titik tolaknya.
Dan, tebak??! Yup, setelah itu saya malah tidak bisa berpisah dari selam

Selesai masa kuliah, dan setelah menolak beberapa tawaran pekerjaan , saya malah aktif ikut seminar dan pendidikan yang lebih berkaitan dengan pendidikan selam dan pariwisata.
Lha?? Kok malah pariwisata sih? Tidak heran, selama masa kuliah saya juga mulai tertarik pada bidang ini, khususnya pariwisata yang menyangkut dunia dalam air. Kebetulan urusan selam-menyelam yang dipelajari saat kuliah itu secara tidak langsung menghubungkan saya dengan pariwisata selam.
Ujung-ujungnya setelah beberapa kali ikut pendidikan pariwisata selam bersama-sama,
Moudi, seorang senior saya di kampus, malah mengajak untuk membuka sebuah usaha dive center bersama-sama.
Akhirnya bersama kami mendirikan dive center, bareng
Emma dan juga 3 teman cowok. 4 tahun kami jalani bersama, benar-benar dari pengalaman nol, hanya berbekal idealisme masing-masing personil dan kerja keras.
Selama masa itu juga saya melengkapi diri mulai dari urusan mengambil level insruktur selam sampai menguasai semua urusan lapangan dan juga berhadapan dengan bermacam ragam tipe orang dengan latar belakang yang berbeda-beda.
Apakah ini cita-cita saya?
Saya hanya tahu bahwa saya sangat menikmati peranan yang sedang saya mainkan dan dunia di mana saya berada di dalamnya. Saya adalah bagian dari dunia itu dan dunia itu juga adalah bagian dari saya. Apakah yang lebih penting dari itu?
Sayangnya, saat di mana perusahaan kami tengah berbuah, terpaksa kami bubarkan karena kekacauan dan perang yang pecah di Ambon.
Saya lantas bergabung dengan
Ambasi di Bali, sebagai cruise director dan dive guide di kapal.
Selama masa ini pula urusan ngajar-mengajar selam sebagai bagian dari kegiatan pribadi pun tetap berjalan lancar. Kegiatan mengajar selam sangat selalu mengasyikkan. Kadang ada murid yang sangat lambat dan sering mengalami kesukaran, tapi semua adalah tantangan. Dan ada rasa bangga dan puas berkobar dalam dada ini saat melihat mereka mampu melakukan semua yang harus mereka kuasai sebagai penyelam dan melihat kegembiraan di mata mereka. Ah...

Apakah biologi dan pendidikan selama kuliah berguna dalam pekerjaan saya?
Yup!! Masa kuliah bisa dikatakan sebagai gerbang di mana saya mengenal dunia selam dan merupakan batu loncatan bagi dunia karier saya. Namun mata kuliah-mata kuliah yang didapatkan dulu juga sangat menunjang pekerjaan yang saat itu sedang ditekuni. Bahkan memberikan nilai plus untuk itu.
Apakah semua proses mengikuti panggilan hidup itu berjalan mulus?
Tentu saja tidak. Sudah pasti ada bagian-bagian jatuh bangunnya juga. Bagian-bagian babak belur. Tapi justru itu semua menjadikan perjalanan itu sangat menggairahkan.
Beberapa tahun bergumul dengan kenikmatan karier di Bali dan juga melanglang buana ke penjuru Indonesia, hingga pada akhirnya pindah ke Belanda sini mengikuti suami.
Sekarang diving hanya hobi, bukan lagi pekerjaan.
Lantas masih adakah cita-cita?
Yup, tentu saja. Keinginan dan impian itu selalu harus ada, bukan? Dan saat ini keinginan dan mimpi itu sedang dalam proses untuk menjadi kenyataan.
Semoga...
Dalam perjalanan ini, saya hanya tahu, cita-cita bisa berubah sesuai keadaan, namun pada akhirnya waktu membimbing menemukan jalan saya, selama tentunya waktu dan semua kesempatan yang dimiliki juga dimanfaatkan semaksimal mungkin.
Kadang sebuah keinginan dirasakan terlalu muluk, tapi selama itu masih rasional, mengapa tidak? Lakukan saja.
Selangkah demi selangkah. Berhasil atau tidak, itu urusan nanti.
Apakah tujuannya akan tetap sama atau bergeser, itu juga urusan nanti.
Lakukanlah!!
Setidaknya jika saatnya gagal, saya bisa mengatakan pada diri sendiri, aku toh sudah mencoba.
Tapi jika tidak pernah mencoba, maka mimpi hanya menjadi mimpi.
Mungkin suatu keinginan akan tercapai, tapi mungkin justru keinginan saat ini dan proses meraihnya adalah batu loncatan ke sesuatu yang belum terpikirkan saat ini. Itu urusan sang waktu.
"If you run, you might lose, but if you don't run, you're guaranteed to lose."
(Jesse Jackson).*)
Lemparan dari Dyah.