Monday, September 29, 2008

Mainan Baru

Di samping itu tuh mainan baru di kelas saat ini.
Yup, lengkap dengan kain hitam penutup kepalanya juga. (Foto di samping itu dipinjam dari wikipedia).

Melihat gambar di samping itu, orang pasti langsung membayangkan kamera jaman dahulu kala alias kamera antik. Padahal kamera tipe ini, dikenal sebagai view camera atau technisch camera kata orang Belanda, masih dipakai sampai saat ini, bahkan ada yang sudah digital mode punya. Kamera ini masih digunakan karena kemampuannya yang tidak bisa digantikan oleh kamera digital biasa atau oleh penggunaan software yang digunakan untuk mengolah foto.

Misalnya saja 2 foto di atas ini. (Koleksi pribadi).
Foto yang pertama diambil dengan kamera digital. Karena pengaruh lensa maka bangunan yang terlihat miring. Pada foto yang kedua, kemiringan yang ada pada foto pertama sudah dikoreksi lewat photoshop. Tapi, ada banyak pixel yang terbuang lewat prosedur koreksi tersebut.
Dengan menggunakan View camera, koreksi perspektif langsung dilakukan pada saat pengambilan gambar. Jadi hasil fotonya adalah gambar dengan perspektif serupa dengan kenyataan apa yang ditangkap langsung oleh mata kita.

Belum lagi kemampuan lainnya seperti mengatur garis fokus yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh kamera biasa, walaupun dibantu dengan lensa tilt-shift.
Plus hasil foto yang super padat.

Hanya saja njelimet banget prosedur pengambilan gambarnya. Mencari komposisi, fokus, bahkan pakai acara hitung rumus matematikanya lagi untuk menentukan shutter speed. Sudah gitu rumus matematikanya pake hitung pembagian kwadrat segala. Ampun dah, untung hape punya program kalkulator, jadi bisa menghitung cepat.
Belum lagi acara membayangkan kira-kira di mana sudut maya titik temu antara kemiringan obyek dan kemiringan lensa. Aiiihhh...
(Foto di samping dipinjam dari bigcameraworkshops.com).

Tapi, menarik sekali. Asyik punya. Thumbs Up
Sayangnya, view camera yang tersedia di sekolah masih belum digital punya, jadi hasil fotonya tidak bisa langsung dilihat dan dibahas di mana salah dan kelirunya. Masih harus tunggu proses cuci cetak film lagi. Ah...

Tapi ya, beruntung bisa "bermain" dengan mainan mahal ini. Bayangkan saja, satu kamera, bodynya saja ya, belum termasuk perlengkapan lain-lain, harganya bisa mencapai di atas 4000USD. Sementara view camera yang digital, yang kata orang oke punya (body only) mencapai di atas 6700USD. Belum lagi ini itu... ditotalin... Waaaahhh....

Tapi selain dari mahalnya, alasan saya untuk tetap memilih bermain dengan digital SLR adalah kamera SLR lebih simpel, ringan dan praktis. View camera ditambah tripodnya mah berat bow!!
Well, bisa saja satu saat nanti saya akan berubah pikiran. Tergantung, dari berapa mahal orang mau membayar hasil foto saya, kan? Smile

Monday, September 22, 2008

Tuna steak ala Since

Sabtu ke pasar, tiba-tiba girang sendiri nyaris tak percaya apa yang dilihat di meja jualan tukang ikan. Tuna!!! Kayaknya sih dari jenis blackfin, tapi kecil, 'gak sampe 2 kg per ekor. Komplit dari kepala sampai ekor, bukan fillet seperti biasanya. Kelihatannya segar lagi!!! Begitu dicek warna insang, kejernihan mata dan kekenyalan tubuhnya, ternyata memang segar!! Murah lagi!!! Bayangkan, hanya 7 euro per kilo!!! Waahh.... tidak bisa dilewatkan begitu saja nih, langsung beli seekor.

Di rumah, segera ikan saya bersihkan, dan langsung berkolaborasi dengan Reinier, menyiapkan makan malam.
Ikan saya rendam dengan bumbu perendam hasil racikan sendiri selama kira-kira sejam, sebelum Reinier memanggangnya di atas grill pan.
Sementara saya menyiapkan kentang goreng dan saus pelengkap untuk steak ikan tuna itu, Reinier menyiapkan sayur pelengkap yang berupa baby courgette dengan bumbu racikannya sendiri.

Dan... tarararaaammmm....

Tuna steak sebagai sajian makan malam kami!!! Hmmm.. Roll

Tuesday, September 16, 2008

Menyusuri Sungai Moezel

Bangun pagi pukul 7, gara-gara alarm hape dan godaan rembesan sinar matahari pagi yang mengintip dan merembes dari balik gordin. Uhh.. masih ingin bergelung hangat di bawah selimut, nyaman.. Tapi sayang juga kalau detik detik hari cerah itu kami habiskan hanya bergelung di balik selimut. Mata masih sepet saat tubuh ini diajak ke kamar mandi. Pakai acara nyenggol wastafel lagi. Auuu...

Tiba di ruang makan yang khas banget sentuhan Jermannya, sarapan sudah tersedia di meja makan mungil. Bukan nasi goreng yang komplit dengan telur ceplok, acar dan krupuk, tapi hanya roti, keju, ham dan telur setengah matang serta kopi panas. Ahh.. kangen nasi goreng..

Sempat nengok keluar jendela sebelum sarapan, ah.. segarnya pemandangan pagi di tepi sungai.

Jam 8 tepat kami sudah duduk manis kembali di atas motor, siap untuk merambah perjalanan kami kembali. Menulusuri sungai Moezel (atau Moselle dalam bahasa Inggrisnya) adalah judul motor trip hari itu. Kami menyusuri mungkin sekitar 150km dari sungai yang kira-kira sepanjang 545km itu, bersumber di Perancis dan melintasi Perancis, Luxemburg dan Jerman dan kemudian bermuara di sungai Rhine, Jerman.

Daerah sepanjang lembah sungai Moezel terkenal karena keindahan alamnya dan juga terkenal sebagai daerah penghasil white wine. maka, sepanjang perjalanan yang tersaji selain desa-desa kecil yang tua dan indah, adalah kebun-kebun anggur yang terhampar luas di sekitar desa, di tepi sungai, di badan-badan bukit.

Tidak heran jika toko-toko penjual wine tersebar di mana-mana, baik itu toko biasa atau yang langsung merupakan etalase pembuat wine itu sendiri. Dan yang asiknya, berbeda dengan di supermarket, di sini para pengunjung boleh mencicipi wine yang ada sebelum memutuskan mau membeli yang mana. Dan tentu saja tidak ada keharusan untuk membeli.

Mengingat hari itu hari Minggu, kami memutuskan untuk segera mencari bakery di sekitar desa yang kami lewati untuk membeli roti bekal makan siang, karena hari Minggu bakery hanya buka sampai jam 10 pagi.
Ujung-ujungnya kami malah singgah di sebuah toko wine setempat. Doh, isenk banget sih nih orang dua, baru juga jam 9 pagi kami sudah mencicipi wine!!!!

Saya mencoba sweet white wine, sementara Reinier mencoba dry white wine. Hmmm.. enak. Sementara Reinier tidak terlalu puas dengan rasa dry white wine-nya.
Ah, saya bukan seorang penyuka dry white wine, saya lebih menyukai white wine yang manis, lembut dan fruity. Akhirnya kami membeli sebotol sweet white wine.

Perjalanan kami lanjutkan kembali, walaupun beberapa kali kami harus mengambil rute yang berbeda dari yang kami rencanakan. Ah.. tidak tepat, seharusnya dari rute yang Reinier rencanakan, karena biasanya kalau itu rute untuk bermotor, saya mah nunut saja.
Perubahan rute ini dikarenakan beberapa ruas jalan yang ditutup untuk entah acara apa, yang pasti acaranya cukup ramai, karena ruas jalan yang ditutup cukup banyak dan luas dan juga melihat perlengkapan kesiapan yang ada. Helikopter, boat dari barisan pemadam kebakaran, ambulans, dan juga penonton yang membanjiri daerah sekitar sana.

Piknik? Sudah tentu. Roti yang tadinya dibeli untuk makan siang, malah kami habiskan saat piknik jam 10 di tepi sungai. Bukan karena kelaparan, tapi karena rotinya yang enak, takabur, lupa deh kalau itu bekal makan siang. :

Caravan-caravan ini bukan caravan bangsa gipsy, tapi caravan para turis, entah itu turis lokal atau turis dari negara tetangga. Berlibur dengan caravan merupakan salah satu alternatif untuk berlibur yang cukup populer di Eropa. Karena gaya berlibur seperti ini memberikan keleluasaan bergerak, ya iyalah, jalan-jalan sambil bawa kamar sendiri kayak keong. Apalagi ada banyak Caravan parks yang tersebar di negara-negara di Eropa ini. Bahkan sampai di Maroko kemarin kami juga melihat rombongan caravan dari Belanda dan Perancis. Jadi pengen nyoba juga, tapi.... bermotor rasanya lebih asyik ah...

Nah di salah satu desa yang kami lewati, entah desa apa namanya tidak saya cek lagi, ada pameran traktor. Ramai sekali traktor-traktor yang dipamerkan di tepi sungai. maulai dari yang jaman bauleha sampai traktor modern. Bahkan kebanyakan peserta datang dengan caravannya yang ditarik traktor. Ampun dah kalau pas ketemu yang model ini di jalan. Bayangkan sendiri bagaimana kecepatannya.. klutuk... klutuk.. klutuk... Untung kami bermotor sehingga tidak sukar untuk melewatinya.

Sempat lihat yang ini juga nih, mobil antik dengan caravan antik juga. Mini semua. Astaga, itu caravan kayaknya untuk tidur saja sesak-sesakkan deh.

Jangan tanya ini kastil di mana, saya tidak ingat lagi persisnya di mana. Yang penting ada obyek bagus, ya langsung klik tanpa berhenti apalagi turun dari motor. Maklum saja, judul jalan-jalan kali ini adalah motor trip, bukan foto trip, jadi sebisa mungkin saya tidak ingin mengganggu kesenangan Reinier di atas motor, walaupun doi sendiri sudah mengatakan untuk memberi kode berhenti jika ada obyek yang menarik yang ingin saya foto.

Sementara di beberapa bagian lain dari sungai ini juga terdapat aktifitas pasar. Entah itu pasar desa mingguan atau pasar bulanan atau pasar tahunan. Pokoknya pasar. Mungkin semacam rommelmarkt di Belanda, karena selain barang-barang baru, saya sempat melihat meja-meja dengan barang-barang bekas.
Banyak juga ternyata kegiatan di hari Minggu di sana. Hanya saja saya tidak tahu apakah setiap hari Minggu begitu ramai.

Saat melintasi Traben-Trarbach, kami berhenti untuk berjalan-jalan sejenak karena terpikat pada kecantikan kota kecil ini, yang diawali dengan kecantikan Art Nouveau dari gerbangnya.

Dan... ternyata di dekat gerbang yang sudah berdiri sejak 1898 itu (jadi ingat nyonya Meneer :P) juga ada penjual roti isi, lumayan untuk makan siang, mengingat roti kami sudah kami habiskan saat coffee break pagi tadi, dan... di ujung jembatan yang membentang di atas sungai Moezel ternyata ada penjual es krim yang sulit untuk kami abaikan Smiles Yang ternyata memang yummy banget.

Bagian dari bangunan kantor pos. Keren banget kantor posnya.

Jam matahari. Nah masalahnya kalau matahari terhalang awan mendung yang tebal seperti hari itu, jamnya jadi tidak jelas deh.

Belum puas merambah kota itu, kami sudah harus kembali melanjutkan perjalanan. Apa boleh buat, kami tidak ingin kemalaman tiba di rumah dan juga tidak ingin melanjutkan perjalanan yang sekitar 300km itu hanya di jalan tol.

Kembali di perjalanan kami melewati toko-toko wine yang menggoda untuk di singgahi, maka kembali kami mengunjungi salah satu toko wine yang kami temui di perjalanan.
Kali ini Reinier mencoba Off-dry white wine, dan saya tetap mencoba sweet white wine yang ada. Hmm.. tidak, saya tidak terlalu menyukai rasanya, tapi off-dry-nya oke juga, dan Reinier juga sependapat, maka kami itu yang kami beli, sebotol off-dry white wine. Off-dry white wine ada rasa manis yang ringan, tidak sepekat rasa manis pada sweet white wine.

Ah seharusnya kami ke sini di bulan Oktober, karena Oktober adalah bulan panen anggur di lembah sungai Moezel. Sudah tentu akan ada banyak acara dan perayaan yang diselenggarakan saat itu.

Tadinya kami ingin singgah sebentar di Cochem, salah satu kota yang sangat turistik di lembah sungai Moezel, tapi begitu tiba di sana dan melihat lalu lalang pengunjung yang membanjiri tempat itu, wah... malas juga jadinya. Sudahlah kapan-kapan saja nanti kami kembali mengunjungi kota itu.
Dari Cochem kami berpisah dengan lembah sungai Moezel, karena kami harus mengambil rute ke utara, arah balik ke Belanda.

Namun kami tidak langsung menuju jalan tol, kami masih mengambil jalan pedesaan dan menikmati pemandangan desa-desa yang ada.

Melihat aktifitas petani yang juga bekerja di hari Minggu dan... kembali menikmati pemandangan ladang gandum dengan gulungan-gulungan batang gandum kering yang khas yang tersebar di sana.

Dan, sebelum masuk ke jalan tol, kami singgah sebentar ke sebuah cafe untuk ngopi dan tralala... ada tart yang menggoda iman. Ah sudahlah.. tak usah pikir lama dan panjang, dietnya besok saja, sayang tart seenak itu dilewatkan begitu saja. Di Belanda sudah 'gak dapat lagi tart yang menggoda begitu.

Dan, jam 7 malam kami tiba kembali di rumah. Capek, tapi menyenangkan.

Thursday, September 11, 2008

Wiken, bermotor lagi.

Jumat sore Reinier menelpon saya dari kantor dan tiba-tiba mengatakan ingin melakukan motor trip wiken itu, mengingat berita dari ramalan cuaca yang menjanjikan hari-hari cerah dan hangat sepanjang wiken. Hari-hari hangat dan cerah selama musim panas ini bisa dibilang langkah, maka sudah tentu cuaca cerah ini ingin kami nikmati. Dan jalan-jalan? Mengapa tidak? Toh sudah lama kami tidak melakukan motor trip jarak jauh, apalagi setelah kejadian dengan si Ungu. Terakhir trip jauh kami dengan motor adalah menyusuri dataran tinggi Eifel sudah hampir setahun yang lalu.

Maka keesokan paginya kami sudah duduk manis di atas si Biru, pengganti si Ungu, mengambil arah ke Aachen, Jerman, lewat jalan tol dan dari Aachen kami mengambil jalan kecil berliku melewati dataran tinggi Ardennen di Belgia, singgah untuk makan siang di Malmedy. Kami ingat di Malmedy ini ada pondok yang menjual friet (kentang goreng) ala Belgia yang gurih dengan mayonaise Belgia yang pekat. Sayang kali ini rasa frietnya tidak segurih tempo hari, walau mayo-nya masih lezat.

Perjalanan kami lanjutkan menyusuri jalan-jalan di pedesaan di Belgia menuju ke Luxemburg. Namanya juga jalan-jalan di pedesaan, maka sudah pasti pemandangan yang tersaji tidak jauh dari lapangan rumput nan hijau dan penuh dengan ternak. Kiri sapi, kanan sapi, bau sapi... wuiiih sapi melulu.

Nah, begini ini rumah yang bikin rada jeles di daerah luar kota. Luas dengan bentuk yang beragam dan halaman yang juga luas. Tapi cuma jeles saja melihat bentuk rumahnya, ogah ah kalau tinggal di sana. Jauh dari mana-mana.

Istirahat beberapa kali selama perjalanan adalah mutlak perlu. Untuk meluruskan punggung dan kaki dan juga memberi kesempatan untuk pantat mengembung kembali. Emangnya spons!!Teethy

Acara ngopi-ngopi tentu saja tidak ketinggalan. Kan ada peralatan masak-memasak yang simpel dan praktis dalam koper di motor. Untung banget di sepanjang perjalanan ini, baik di Belanda, Belgia, Jerman dan Luxemburg, ada banyak tempat piknik yang disediakan lengkap dengan meja-bangku pikniknya. Di tepi sungai, taman kota, di sudut-sudut hutan, atau di tepi jalan yang berpemandangan indah. Makanya kalau pantat sudah pegal duduk di motor atau ada tempat piknik yang asyik, kami selalu berhenti dan menyeduh kopi.
Pernah sekali waktu kami harus ngakak mendengar komentar beberapa orang yang bersepeda melintasi tempat kami menikmati kopi kami. "Ah, orang Belanda!!" Apa coba maksudnya?

Selain sapi, pemandangan sepanjang daerah pertanian juga dihiasi oleh warna kuning, warna tangkai-tangkai kering gandum yang sudah selesai dipanen.

Tangkai-tangkai kering ini akan digulung, dan kemudian akan digunakan sebagai makanan ternak.
Indah dan khas, melihat gulungan-gulungan raksasa dari tangkai-tangkai itu yang tersebar di ladang gandum.
Di Belanda ada juga batang-batang gandum kering yang digulung seperti ini, tapi jarang, biasanya dipadatkan dalam bentuk kotak.

Berhubung cuaca yang cerah dan hangat, juga di akhir minggu, sudah bisa ditebak, rute yang kami ambil juga dipenuhi oleh para pengemudi motor lain. Berbagai macam bentuk dan modelnya. Yang pasti, semuanya ingin menikmati hari-hari cerah itu.

Bahkan sempat kami berpapasan dengan sebuah group motor yang mungkin ada lebih dari 100 motor. Pfeeuuhhh.... panjaaaang banget. Untung.. untung.. kami hanya berpapasan dari arah yang berlawanan. Bayangkan kalau kami harus ikut di belakang rombongan mereka, mending pilih rute lain deh.

Di Luxemburg, kami menyempatkan diri singgah di Echternach untuk urusan belanja minuman beralkohol. Minuman beralkohol dan bahan bakar memang terkenal lebih murah di Luxemburg ketimbang di negara-negara tetangganya. Tidak banyak yang kami beli, hanya beberapa botol sebagai penambah koleksi dan juga mengingat kami tidak memiliki ruang bagasi yang besar.

Kebetulan di pusat kota sedang ada pameran dan demonstrasi dari dinas pemadam kebakaran setempat. Keliling deh jadinya, melihat koleksi mobil pemadam kebakaran dari jaman antik yang mereka miliki, sampai mobil yang dipergunakan saat ini yang bisa kami lihat isi perutnya. Baru tahu saya kalau isi mobil pemadam kebakaran tuh seperti itu.

Isi bensin dulu sebelum meninggalkan Luxemburg. Waah... berdecak saya melihat luasnya pomp bensin itu. Ada 32 units!!! Belum lagi kami sempat kesasar di daerah industri yang kiri kanan semuanya pomp bensin dengan unit-unitnya yang berjejer ramai, dari berbagai perusahaan. Waaahhh.... gigantisch !! Kembali saya seperti orang kampung yang kesasar di kota. Hihi... jadi ingat Indonesia, kita hanya punya satu, Pertamina, atau sebaliknya nih, Pertamina yang memiliki Indonesia?

Tidak heran melihat ukuran luas pomp bensin yang super besar itu, karena harga bahan bakar yang lebih murah di sana, maka hampir semua kendaraan yang melintasi daerah sana mengisi bahan bakarnya di negara itu, termasuk kami.

Tidak terasa kami sudah tiba di ujung hari. Penat mulai merambah tubuh kami. Saatnya mencari tempat untuk bermalam.
Beruntung kami menemukan sebuah Bed and Breakfast di desa kecil Issel, dekat Trier, di sisi sungai Moezel.

Sayang, kami tidak memiliki banyak waktu untuk mengeksplorasi kota Trier. Padahal pasti banyak hal menarik di kota ini mengingat Trier adalah kota tertua di Jerman. Kota yang sudah berdiri sejak tahun ke-16 SM. Harus dimasukkan dalam agenda acara jalan-jalan di lain waktu. Catet!!!
Ah ya, foto di atas itu bukan bed and breakfast tempat kami menginap tapi adalah sebuah bangunan di kota Trier.

Dan, setelah menaruh semua perabot kami di kamar, dengan berjalan kaki menyusuri jalan setapak di sisi sungai Moezel sambil menikmati aura sunset, kami menuju ke sebuah restaurant kecil namun tampak hangat yang sempat kami lihat saat kami sedang mencari kamar untuk bermalam. Di Issel ini saya menikmati schnitzel yang terenak yang pernah saya nikmati. Lezat dan puas, ukurannya yang lumayan besar dan tersaji dua potong dalam hitungan satu porsi. Schnitzel adalah daging goreng berpanir, biasanya babi, disajikan dengan saus sesuai pilihan, dengan kentang goreng dan salad.
Tidak lupa tentunya mencicipi white wine yang menjadi ciri khas daerah sepanjang lembah sungai Moezel.

Perut kenyang, kami kembali ke kamar kami dan badan yang penat ini segera mengantarkan kami ke negeri mimpi.


Bersambung...