Bangun pagi pukul 7, gara-gara alarm hape dan godaan rembesan sinar matahari pagi yang mengintip dan merembes dari balik gordin. Uhh.. masih ingin bergelung hangat di bawah selimut, nyaman.. Tapi sayang juga kalau detik detik hari cerah itu kami habiskan hanya bergelung di balik selimut. Mata masih sepet saat tubuh ini diajak ke kamar mandi. Pakai acara nyenggol wastafel lagi. Auuu...

Tiba di ruang makan yang khas banget sentuhan Jermannya, sarapan sudah tersedia di meja makan mungil. Bukan nasi goreng yang komplit dengan telur ceplok, acar dan krupuk, tapi hanya roti, keju, ham dan telur setengah matang serta kopi panas. Ahh.. kangen nasi goreng..
Sempat nengok keluar jendela sebelum sarapan, ah.. segarnya pemandangan pagi di tepi sungai.

Jam 8 tepat kami sudah duduk manis kembali di atas motor, siap untuk merambah perjalanan kami kembali. Menulusuri sungai Moezel (atau Moselle dalam bahasa Inggrisnya) adalah judul motor trip hari itu. Kami menyusuri mungkin sekitar 150km dari sungai yang kira-kira sepanjang 545km itu, bersumber di Perancis dan melintasi Perancis, Luxemburg dan Jerman dan kemudian bermuara di sungai Rhine, Jerman.

Daerah sepanjang lembah sungai Moezel terkenal karena keindahan alamnya dan juga terkenal sebagai daerah penghasil white wine. maka, sepanjang perjalanan yang tersaji selain desa-desa kecil yang tua dan indah, adalah kebun-kebun anggur yang terhampar luas di sekitar desa, di tepi sungai, di badan-badan bukit.
Tidak heran jika toko-toko penjual wine tersebar di mana-mana, baik itu toko biasa atau yang langsung merupakan etalase pembuat wine itu sendiri. Dan yang asiknya, berbeda dengan di supermarket, di sini para pengunjung boleh mencicipi wine yang ada sebelum memutuskan mau membeli yang mana. Dan tentu saja tidak ada keharusan untuk membeli.

Mengingat hari itu hari Minggu, kami memutuskan untuk segera mencari bakery di sekitar desa yang kami lewati untuk membeli roti bekal makan siang, karena hari Minggu bakery hanya buka sampai jam 10 pagi.
Ujung-ujungnya kami malah singgah di sebuah toko wine setempat. Doh, isenk banget sih nih orang dua, baru juga jam 9 pagi kami sudah mencicipi wine!!!!
Saya mencoba
sweet white wine, sementara Reinier mencoba dry white wine. Hmmm.. enak. Sementara Reinier tidak terlalu puas dengan rasa dry white wine-nya.
Ah, saya bukan seorang penyuka dry white wine, saya lebih menyukai white wine yang manis, lembut dan fruity. Akhirnya kami membeli sebotol sweet white wine.

Perjalanan kami lanjutkan kembali, walaupun beberapa kali kami harus mengambil rute yang berbeda dari yang kami rencanakan. Ah.. tidak tepat, seharusnya dari rute yang Reinier rencanakan, karena biasanya kalau itu rute untuk bermotor, saya mah nunut saja.
Perubahan rute ini dikarenakan beberapa ruas jalan yang ditutup untuk entah acara apa, yang pasti acaranya cukup ramai, karena ruas jalan yang ditutup cukup banyak dan luas dan juga melihat perlengkapan kesiapan yang ada. Helikopter, boat dari barisan pemadam kebakaran, ambulans, dan juga penonton yang membanjiri daerah sekitar sana.

Piknik? Sudah tentu. Roti yang tadinya dibeli untuk makan siang, malah kami habiskan saat piknik jam 10 di tepi sungai. Bukan karena kelaparan, tapi karena rotinya yang enak, takabur, lupa deh kalau itu bekal makan siang.


Caravan-caravan ini bukan caravan bangsa gipsy, tapi caravan para turis, entah itu turis lokal atau turis dari negara tetangga. Berlibur dengan caravan merupakan salah satu alternatif untuk berlibur yang cukup populer di Eropa. Karena gaya berlibur seperti ini memberikan keleluasaan bergerak, ya iyalah, jalan-jalan sambil bawa kamar sendiri kayak keong. Apalagi ada banyak Caravan parks yang tersebar di negara-negara di Eropa ini. Bahkan sampai di Maroko kemarin kami juga melihat rombongan caravan dari Belanda dan Perancis. Jadi pengen nyoba juga, tapi.... bermotor rasanya lebih asyik ah...

Nah di salah satu desa yang kami lewati, entah desa apa namanya tidak saya cek lagi, ada pameran traktor. Ramai sekali traktor-traktor yang dipamerkan di tepi sungai. maulai dari yang jaman bauleha sampai traktor modern. Bahkan kebanyakan peserta datang dengan caravannya yang ditarik traktor. Ampun dah kalau pas ketemu yang model ini di jalan. Bayangkan sendiri bagaimana kecepatannya.. klutuk... klutuk.. klutuk... Untung kami bermotor sehingga tidak sukar untuk melewatinya.

Sempat lihat yang ini juga nih, mobil antik dengan caravan antik juga. Mini semua. Astaga, itu caravan kayaknya untuk tidur saja sesak-sesakkan deh.

Jangan tanya ini kastil di mana, saya tidak ingat lagi persisnya di mana. Yang penting ada obyek bagus, ya langsung klik tanpa berhenti apalagi turun dari motor. Maklum saja, judul jalan-jalan kali ini adalah motor trip, bukan foto trip, jadi sebisa mungkin saya tidak ingin mengganggu kesenangan Reinier di atas motor, walaupun doi sendiri sudah mengatakan untuk memberi kode berhenti jika ada obyek yang menarik yang ingin saya foto.

Sementara di beberapa bagian lain dari sungai ini juga terdapat aktifitas pasar. Entah itu pasar desa mingguan atau pasar bulanan atau pasar tahunan. Pokoknya pasar. Mungkin semacam rommelmarkt di Belanda, karena selain barang-barang baru, saya sempat melihat meja-meja dengan barang-barang bekas.
Banyak juga ternyata kegiatan di hari Minggu di sana. Hanya saja saya tidak tahu apakah setiap hari Minggu begitu ramai.


Saat melintasi
Traben-Trarbach, kami berhenti untuk berjalan-jalan sejenak karena terpikat pada kecantikan kota kecil ini, yang diawali dengan kecantikan
Art Nouveau dari gerbangnya.
Dan... ternyata di dekat gerbang yang sudah berdiri sejak 1898 itu (jadi ingat nyonya Meneer

) juga ada penjual roti isi, lumayan untuk makan siang, mengingat roti kami sudah kami habiskan saat coffee break pagi tadi, dan... di ujung jembatan yang membentang di atas sungai Moezel ternyata ada penjual es krim yang sulit untuk kami abaikan

Yang ternyata memang yummy banget.

Bagian dari bangunan kantor pos. Keren banget kantor posnya.

Jam matahari. Nah masalahnya kalau matahari terhalang awan mendung yang tebal seperti hari itu, jamnya jadi tidak jelas deh.
Belum puas merambah kota itu, kami sudah harus kembali melanjutkan perjalanan. Apa boleh buat, kami tidak ingin kemalaman tiba di rumah dan juga tidak ingin melanjutkan perjalanan yang sekitar 300km itu hanya di jalan tol.

Kembali di perjalanan kami melewati toko-toko wine yang menggoda untuk di singgahi, maka kembali kami mengunjungi salah satu toko wine yang kami temui di perjalanan.
Kali ini Reinier mencoba Off-dry white wine, dan saya tetap mencoba sweet white wine yang ada. Hmm.. tidak, saya tidak terlalu menyukai rasanya, tapi off-dry-nya oke juga, dan Reinier juga sependapat, maka kami itu yang kami beli, sebotol off-dry white wine. Off-dry white wine ada rasa manis yang ringan, tidak sepekat rasa manis pada sweet white wine.
Ah seharusnya kami ke sini di bulan Oktober, karena Oktober adalah bulan panen anggur di lembah sungai Moezel. Sudah tentu akan ada banyak acara dan perayaan yang diselenggarakan saat itu.
Tadinya kami ingin singgah sebentar di
Cochem, salah satu kota yang sangat turistik di lembah sungai Moezel, tapi begitu tiba di sana dan melihat lalu lalang pengunjung yang membanjiri tempat itu, wah... malas juga jadinya. Sudahlah kapan-kapan saja nanti kami kembali mengunjungi kota itu.
Dari Cochem kami berpisah dengan lembah sungai Moezel, karena kami harus mengambil rute ke utara, arah balik ke Belanda.

Namun kami tidak langsung menuju jalan tol, kami masih mengambil jalan pedesaan dan menikmati pemandangan desa-desa yang ada.

Melihat aktifitas petani yang juga bekerja di hari Minggu dan... kembali menikmati pemandangan ladang gandum dengan gulungan-gulungan batang gandum kering yang khas yang tersebar di sana.

Dan, sebelum masuk ke jalan tol, kami singgah sebentar ke sebuah cafe untuk ngopi dan tralala... ada tart yang menggoda iman. Ah sudahlah.. tak usah pikir lama dan panjang, dietnya besok saja, sayang tart seenak itu dilewatkan begitu saja. Di Belanda sudah 'gak dapat lagi tart yang menggoda begitu.
Dan, jam 7 malam kami tiba kembali di rumah. Capek, tapi menyenangkan.