Showing posts with label J J S. Show all posts
Showing posts with label J J S. Show all posts

Sunday, February 18, 2007

Weekend: China town dan Tapazzzz

Apa hubungannya antara China town dan tapas? Thinking Hmmm...
Hubungannya karena keduanya adalah pengisi weekend kami kemarin. Teethy

Inilah yang terjadi hari Sabtu kemarin di China town di The Hague (Den Haag).
Bukan.. bukan!!! Bukan serangan teroris atau kebakaran di China town.
Kebakaran...hmmm... iya juga sih. Kebakaran mercon!!! Hysterical
Yup, kami ke China town di Den Haag ini dalam rangka perayaan Imlek di sana.
Kami sendiri tidak merayakan imlek secara khusus, namun keramaian dan tarian naga serta barongsai lah yang membawa kami ke sana.

Wajah-wajah ceria anak-anak maupun orang dewasa mewarnai setiap sudut tempat itu. Terlebihi bagi anak-anak tentunya. Imlek artinya juga angpao, hihihi...

Namun kepadatan orang-orang yang datang menonton sungguh menimbulkan kesulitan bagi saya untuk bermain dengan kamera. Terasa benar saat-saat begini betapa "mungil" saya dibandingkan dengan tubuh bule-bule yang berukuran XL itu.

Merasa kalah bersaing dengan tubuh-tubuh berukuran XL ini, mengalah-lah saya. Lebih baik mencari pojokan di gang/jalan yang lain dari pada hasil foto cuma belakang kepala orang-orang doang.

Untung juga ketemu ujung gang yang tidak terlalu banyak penontonnya sehingga saya pun bisa mencapai posisi yang pas untuk menjepret-pret.
Mungkin ujung gang itu tidak terlalu banyak orang karena dari gang ini penonton tidak bisa leluasa melihat keseluruhan pertunjukan.
Tapi tak mengapa buat saya, setidaknya dari ujung gang ini banyak foto yang bisa saya ambil tanpa diganggu oleh kepala-kepala penonton di depan saya.
Dan kebetulan juga restaurant yang terletak di sudut gang ini menyediakan kol yang digantung dengan angpao (uang di dalam amplop merah) di depan pintu untuk barong. Rejekilah untuk saya, Snappyklik.. klik...klik...

Ramai manusia, walaupun acaranya sendiri tidak seramai imlek 2004, saat pertama kali saya mengunjungi China town di The Hague ini. Saat itu ada 3 naga!! Kemarin yang sempat saya lihat hanya ada 1 naga. Barong-barongnya tetap ramai. Sisanya hanyalah lautan manusia dan nyaringnya bunyi mercon, serta asap dan debu dari mercon itu.

Hari Minggu, Reinier sedang dalam mood untuk menguasai dapur. Ujung-ujungnya bukannya dim sum, yang lebih sesuai dengan thema imlek, yang kami santap, malah tapas yang menghiasi menu makan malam kami. Maklum saja, doi masih dalam semangat tapas Hysterical

3 macam tapas (Albóndigas, croquetas de pollo y jamón, dan tortilla de espinaca), roti panino yang fresh from the oven, dibuat sendiri oleh doi dan sudah tentu tidak ketinggalan sangria, lengkap terhidang di atas meja makan. Hmmmm....


Gong Xi Fa Cai!
Selamat tahun baru untuk semua yang merayakan.
Semoga dalam tahun yang baru ini banyak hal yang lebih baik dari tahun yang lalu.
Namun jika terjadi yang sebaliknya, semoga kita semua diberikan kekuatan dan kebijaksanaan untuk menghadapi dan menanganinya.
Amin!!

Thursday, March 16, 2006

Moskeebezoek

Berbeda dari biasanya, program belajar normal di kelas hari Rabu kemarin kami isi dengan kunjungan ke mesjid.

Mesjid Fatih, mesjid yang kami kunjungi ini adalah mesjid orang Turki yang berdiri di ujung Willemstraat sejak 1989, yang sekaligus merupakan pusat kebudayaan dan perkumpulan orang Turki di Eindhoven.

"Ke mesjid? Kok ke mesjid sih?"

Salah satu bab yang kami pelajari di kelas membahas tentang kehidupan sosial di Belanda, yang salah satunya adalah tentang kehidupan beragama.
Maka dimulailah diskusi ringan di kelas, tentang bagaimana kehidupan beragama di sini. Dalam diskusi ini sebagian besar teman-teman sekelas saya berlatar belakang Kristen (Katolik, Protestan dan Ortodoks) sangat antusias untuk mengetahui apa itu Islam.

Tidak heran, sebagian besar dari mereka berasal dari negara-negara non muslim, dan sudah tentu kebanyakan hanya mendengar tentang tindak tanduk orang-orang yang menyebut dirinya Muslim lewat televisi dan berita-berita yang lewat, yang kita tahu sendiri kebanyakan beritanya seperti apa.
Akhirnya diputuskan untuk mengunjungi salah satu mesjid untuk melihat seperti apa bagian dalam mesjid itu dan juga menemukan sumber yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka tentang Islam.


Sudut-sudut di bagian dalam mesjid Fatih.

Pertanyaan-pertanyaan mereka sendiri adalah tentang hal-hal yang umum yang pernah mereka dengar dari mulut ke mulut atau yang pernah mereka baca. Misalnya, tentang prosesi sembayang, kenapa muslim harus disunat? Apakah perempuan juga disunat? Mengapa daging babi haram bagi muslim? Apa yang tertera di dalam Quran, apakah juga mirip dengan kisah dalam Alkitab? Apa itu Kabah? Benarkah muslim boleh beristri banyak? Dan sebagainya..

Kira-kira selama dua jam kami dibawa berkeliling mesjid Fatih dan semua pertanyaan mereka dijawab dengan ramah oleh salah seorang pemuka agama di sana. Semua tanya-jawab berlangsung dalam bahasa Belanda tentu saja.
Menarik juga menurut saya, sebagai tambahan pengetahuan bagi teman-teman sekelas. Sayang tidak semuanya hadir.

Wah, ini pertama kalinya saya mengunjungi sebuah mesjid. Padahal saat di tanah air, mesjid adalah tetangga rumah saya.
Saya jadi kangen pada Moudi, saya banyak mengenal tentang Islam dari dia.

Monday, March 13, 2006

Pameran dan Tentang Perbedaan.

Pameran lagi, pameran lagi...
Apakah kami termasuk penggemar pameran?
Jawabnya; Tidak juga.
Kami hanya mengunjungi pameran yang menarik perhatian kami dan jika pameran yang menarik perhatian kami tersebut berkaitan dengan kebudayaan dan museum, maka kami hanya sekedar memanfaatkan museumjaarkaart, kartu museum tahunan yang pernah dihadiahkan pada kami.

Kali ini pameran yang kami kunjungi adalah Pameran "Indonesia: de ontdekking van het verleden" di De Nieuwe Kerk, Amsterdam. Pameran benda-benda peninggalan jaman dari Indonesia, koleksi Museum Nasional Indonesia-Jakarta dan Rijksmuseum voor Volkenkunde-Leiden.
Tiket masuknya yang 10 euro per orang, tapi dengan museumjaarkaart kami hanya membayar 3,75 euro per orang. Lumayan kan?



Menelusuri ruangan demi ruangan untuk melihat benda-benda yang dipamerkan membuat saya terpaku akan betapa beragamnya budaya yang Indonesia miliki.
Benda-benda antik yang berasal dari berbagai era dan berbagai daerah; Aceh, Mentawai, Jawa, Bali, Lombok, Dayak, Minahasa, Gowa, Timor, Maluku dan Irian.
Setiap era dan daerah menunjukkan ciri khasnya yang berbeda dan khusus.
Indonesia yang tua dan luas ini sungguh kaya dengan keragaman budaya yang menunjukkan dan menjadi ciri setiap tempat dan masa.



Perbedaan, apakah itu?
Kekayaan atau masalah?
Tidak semua orang mampu menerima perbedaan sebagai kekayaan. Tidak semua orang mampu menerima perbedaan untuk saling melengkapi. Tragisnya, perbedaan lebih bisa diterima sebagai sebuah ancaman daripada sebagai pelengkap. Lebih brutal lagi, perbedaan-perbedaan yang ada ditanggapi dengan cara yang ekstrim.
Apakah itu perlu?....

Perbedaan.. Kata yang kemudian dipakai oleh orang-orang tertentu untuk menyetir orang lain, untuk meraih niatnya.

Seperti apakah wajah dunia ini tanpa perbedaan?
Semuanya sewarna, sebentuk, serasa, sepemikiran, se...
Seperti apakah bentuk kehidupan saat itu? Masih adakah kehidupan saat itu?
Hidup terjadi karena perbedaan, perbedaan yang menyebabkan aliran. Jika semuanya sama, aliran tidak akan terjadi. Jika tidak ada aliran, akankah ada gerakan dalam kehidupan?

Seperti apakah wajah dunia ini juga jika semua orang bisa menerima perbedaan sebagai pelengkap, bukan sebagai ancaman?

Tidak, tidak, anda tidak perlu sependapat dengan saya. Pendapat anda adalah hak anda.
Saya menginginkan kehidupan saya penuh dengan warna yang beraneka-ragam, karena warna-warna itu membuat saya kaya dalam hidup ini. Saya hanya tidak menyukai kebrutalan.


Sumber foto: Nieuwekerk.

Sunday, February 05, 2006

Duikvaker dan sepenggal kenangan.

Sabtu siang kemarin kami mengunjungi Duikvaker di Veemarktcomplex, Utrecht. Duikvaker adalah sebuah pameran dan pasar wisata kegiatan bawah air tahunan. Saya sendiri pernah terlibat dalam Duikvaker 2004 sebagai salah satu "juru penerangan" dari perusahaan di mana saya bekerja dulu. Kali ini, cukup sebagai pengunjung saja.


Atmosphere in Duikvaker 2006

Berbeda dengan Duikvaker dua tahun yang lalu, Duikvaker kali ini terkesan sepi. Selain counter-counter yang menjual paket-paket duikvacantie, toko-toko yang menjual peralatan selam tidak ada lagi . Kebanyakan peralatan selam yang ada dijual langsung oleh para supplier-nya. Mungkin ini yang menyebabkan suasana terasa lebih sepi. Thinking

Kegiatan-kegiatan lain disamping menawarkan paket-paket liburan adalah beberapa demo tentang penggunaan alat selam dan penyelaman di tabung yang penuh terisi air, kuliah singkat tentang digital underwater photography, penyelaman dengan rebreather dan tentang kehidupan dalam air. Ada sudut museum kegiatan bawah air yang berisi beberapa peralatan penyelaman yang "antik".


Corner of dive-activities museum

Ada juga kolam yang dipenuhi air untuk demo penyelaman bagi anak-anak yang berusia minimal 8 tahun sekaligus juga untuk proefduiken (penyelaman percobaan) bagi anak-anak yang berminat, atau pada orang tua yang berminat supaya anaknya mencoba penyelaman itu.


Children-dive

Ada juga pajangan foto-foto bawah air yang sedang dipertandingkan. Beberapa foto sungguh indah, dan saya tahu bagaimana sulitnya membuat foto seperti itu karena gerakan air laut atau karena obyek foto sendiri yang sangat pemalu, langka atau selalu bergerak cepat, dan faktor-faktor lainnya. Sebagian foto-foto yang dipamerkan itu, menurut saya, biasa-biasa saja. Sedangkan beberapa lainnya.. Doofus ah sudahlah, sebaiknya saya tidak usah memberikan komentar.

Tujuan lain dari kunjungan ke Duikvaker kali ini, selain melihat-lihat apa saja sajiannya, juga untuk mengunjungi beberapa teman lama saya di counter Ambasi, perusahan di mana saya bekerja dulu. Counter Ambasi ini berada di bawah payung counter Eigen-Wijzen Duikreizen, sebuah agen perjalanan di Belanda yang mengkhususkan diri pada dive-holiday.
Sedang asyik-asyiknya berbincang dengan beberapa pemilik Ambasi ini, saya disapa oleh beberapa orang pengunjung, yang rasanya kok lupa-lupa ingat, ya? Ah, ternyata mereka pernah berada di atas Ambasi beberapa tahun yang lalu bersama-sama dengan saya. Waah... jadi ramai membicarakan masa lalu.


At Ambasi counter, with Hans, Daan, Arjan en Martha.

Kami tidak lama berada di Duikvaker. Tidak membutuhkan waktu yang banyak untuk mengelilingi semua sudut di pameran ini. Selesai berkeliling, kami segera kembali ke Eindhoven. Agak kecewa juga, karena ternyata tidak seramai dan sekomplit seperti yang saya bayangkan (setidaknya seperti saat pertama kali saya berada di sana).

Ah.. saya jadi rindu pada masa lalu, saat-saat saya masih bekerja di atas kapal. Saya rindu akan suasana di kapal, teman-teman di kapal, ...

Dan yang pasti, kerinduan saya untuk menyapa kembali dunia bawah air semakin menjadi-jadi. Pouty Tak sabar rasanya menunggu sampai saat liburan tiba.


Ambasi, it was my floating home.

Saturday, January 28, 2006

Boot Düsseldorf

Sabtu ini kami habiskan di pameran kapal tahunan di Düsseldorf, Jerman. Boot Düsseldorf, merupakan sebuah pameran raksasa, mulai dari rubber boat, canoe, sepeda air, sekuter air, speedboat, yacht, catamaran sampai powerboat mewah yang sepanjang 41meter!!! Dari yang sederhana sampai yang mewah, dari yang "cute" sampai yang "serius" kesannya, dari yang klasik sampai yang modern. Dari yang kecepatannya pakai tenaga manusia, tenaga angin, sampai Formula 1 yang berkecepatan super. Lengkap!!



Bukan hanya kapal yang bisa ditemukan di sana, tapi semua pernak-pernik kapal, mulai dari tali, jangkar, berbagai mesin kapal dan aksesorisnya, mebel dan dekorasi ruang lainnya, layar dan bahan dasarnya, radar, GPS navigation system, serta peralatan lainnya yang asing bagi saya. Juga ada jaket, sepatu, kaos, kemeja, dasi, sweater, topi, tas, bikini dan perlengkapan lainnya yang berhubungan dengan "how do I look" di kapal.
Juga perlengkapan di marina, water tourism, counter-counter penyewa kapal, counter-counter penyedia marina, sampai sekolah dan kursus yang berhubungan dengan pelayaran ini.



Pameran ini tidak hanya tentang kapal, melainkan juga tentang berbagai aktifitas yang berhubungan dengan air.
Ada hall khusus untuk urusan memancing yang lengkap dengan segala perabotannya. Hall ini karena tidak terlalu menarik perhatian kami, terlewat begitu saja. Ada hall yang isinya hanya melulu yang berhubungan dengan selancar. Hall ini juga tidak banyak menarik perhatian kami.
Hall yang menarik perhatian kami adalah hall yang isinya segala macam pernak-pernik selam. Hall ini menyita sebagian besar waktu kami.

Mulai dari iseng melihat-lihat tawaran paket liburan ke segala penjuru dunia, Indonesia (sudah pasti), Malaysia, Thailand, Philiphina, Australia, Maldives, pulau-pulau di Pasifik, Laut Merah, Karibia, sampai yang di sekitar Eropa sini. Wah... sampai ileran... Tongue Out 2 saya harus menahan hati saat melihat brosur-brosur itu. Beberapa tempat yang ditawarkan adalah lokasi-lokasi impian saya. Harus cepat-cepat dapat pekerjaan nih biar tabungan liburan bisa tambah padat Prayer

Kemudian dilanjut dengan acara masuk keluar counter-counter yang menjual peralatan selam. Membanding-bandingkan harga di antara counter-counter tersebut, akhirnya dapat satu set regulator untuk saya. Regulator, bahasa mudahnya, adalah sebuah alat, yang terhubung dengan selang, yang dipasang di keran tabung udara untuk menurunkan tekanan udara yang tinggi di dalam tabung sampai ke tekanan yang sesuai dengan permintaan si penyelam saat bernapas.

Asyik jalan-jalan, kami tiba di counter buku. Karena tertarik pada sebuah buku yang super tebal yang memuat foto-foto ikan, singgahlah saya di counter tersebut untuk melihat buku tersebut secara dekat. Waah... benar-benar sebuah buku yang okee punya!!! "World Atlas of Marine Fishes", yang berisikan 4200 spieces ikan dengan 6000 foto!! Astaga... sampai berkunang-kunang mata saya saking terpesona dengan isi buku itu. Saat dicek harganya, buku seberat 3,5kg ini didiskon 20%. Lumayan, tapi masih mahal juga. Reinier hanya terbahak melihat tingkah dan ekspresi saya saat itu. Wahhh.. ini sih nyaris orgasme namanya!!! Tak bisa menahan lagi, akhirnya direlakanlan jatah winkelen untuk membeli buku ini Lol
Tak mengapalah.. Iman saya memang lemah kalau melihat buku bagus. Kebetulan juga saat itu salah satu author buku ini, Helmut Debelius, juga sedang berada di counter itu, langsung saja ditodong tanda tangannya.

Dari hall urusan selam, kami masih menyempatkan diri untuk melihat beberapa hall lainnya. Tapi karena kaki sudah penat dan beban bawaan yang lumayan juga beratnya, kami tidak terlalu banyak menaruh perhatian secara detail lagi. Hanya sekedar ingin tahu apa isi hall itu.



Saat melewati hall yang berisikan kapal-kapal mewah, saya hanya bisa tersenyum dan melotot melihat harga-harga kapal-kapal itu. Untung saja saya tidak pernah bercita-cita atau bermimpi untuk memiliki sebuah kapal Hysterical

Berjalan menyusuri kompleks pameran raksasa ini bikin teler juga. Pulang aaah...

Thursday, July 14, 2005

S i r k u s

Setahun yang lalu, saat saya masih di Indonesia, Reinier sempat bercerita dengan penuh semangat tentang sirkus yang baru saja dia tonton waktu itu, cirque du soleil. Benar-benar wah, katanya. Diam-diam saya sempat mengerutkan kening dan berpikir... hmm sirkus... Ignoring You segera image yang tercipta di benak saya adalah binatang, yang seharusnya berada dunia alami mereka, badut yang "menyedihkan" dan akrobat, satu-satunya yang "mungkin" masih menarik menurut saya. Umum sekali ya gambaran di otak saya tentang sirkus Smile Walaupun saya juga pernah mendengar beberapa grup sirkus yang berkembang akhir-akhir ini tidak melibatkan binatang. Yang pasti, saya bukan seorang penggemar sirkus. Dan jujur saja, nama cirque du soleil saat itu sangat asing bagi saya.

Sampai kira-kira sebulan yang lalu, saya -dengan tidak direncanakan- menyaksikan atraksi mereka (Varekai, 2002) di salah satu chanel tv di sini. Terus terang saja, awalnya saya bahkan tidak menyadari kalau yang sedang saya tonton saat itu adalah sebuah pertunjukan sirkus!!! Mereka benar-benar berbeda dengan sirkus yang selama ini saya tahu.
Reinier kemudian mengejutkan saya dengan celetukannya dari belakang, "Since, mereka akan pentas selama 2 minggu di Rotterdam minggu depan, kamu mau pergi nonton?" Shocked Waah... mau banget!!! (Rupanya diam-diam dia klik ke websitenya cirque du soleil selama saya asyik dengan tontonan saya).

Alhasilnya, hari Minggu kemarin kami menyaksikan atraksi cirque du soleil, Dralion, di Rotterdam.



Dan.. ya!!! Mereka benar-benar memukau. Bukan sekedar pertunjukan sirkus yang mereka sajikan, namun sebuah sajian seni. Paduan yang sangat indah antara akrobat, dance, musik, warna, kostum dan fun, sesuai dengan tema yang disajikan.
Dari awal hingga akhir pertunjukkan mereka terus memukau perhatian penonton dengan atraksi-atraksi mereka yang selalu penuh kejutan. Bukan hanya dengan atraksi utama yang sedang berlangsung di panggung, tapi juga dengan atraksi para pemain latar.
Panggungnya sendiri penuh dengan "lubang-lubang rahasia" di mana pemainnya bisa tiba-tiba muncul dan tiba-tiba menghilang. Belum lagi cincin raksasa yang mengambang di langit-langit panggung yang bisa diturun-naikkan dengan berbagai posisi sesuai kebutuhan pertunjukan.


spider-(wo)men at stage-background,

Dralion (dragon and lion), dari judulnya bisa ditebak nuasa pertunjukannya. Nuasa timur, khususnya nuansa oriental. Dralion sendiri terinspirasi dari filosofi-filosofi timur dan terus bergerak mencari keharmonisan antara manusia dengan alam, dengan empat simbol yang mewakili alam; air, bumi, api dan udara.
Di samping nuasan timur dan simbol-simbol yang mewakili alam, mereka juga memberikan warna aborigin, mewakili hubungan antara manusia dengan alam.


water, earth, fire and air (oceane, Gaya, Yao, Azala)


clowns (FOK!)

Kali ini para badutnya menghapus image badut yang "menyedihkan" dari benak saya. Mereka konyol, lucu dan cerdas. Mereka tidak hanya berakting di panggung, namun juga berbaur dengan penonton. Bahkan ada seorang dari mereka yang menyamar dan duduk bersama para penonton, dan berhasil mengelabuhi penonton pada menit-menit awal dengan aktingnya. Mereka juga kadang-kadang tampil secara surprise ditengah-tengah atraksi pemain lain dan berbaur dengan begitu manisnya.


ame force (vocalists)

Musik juga merupakan elemen penting, dengan daya tarik yang sangat kuat dalam pertunjukan ini. Mereka menyajikan musik-musik pengiring yang sangat "hidup" dengan live mini orchestra di balik panggung dan dengan penyanyi-penyanyi yang juga tampil berbaur dengan pemain-pemain akrobatnya.
(Musiknya juga dipaketkan cd yang bisa dibeli di souvenir shop).


Juggling, bamboo poles, double trapeze, trampoline and aerial pas de deux.


earth, single hand balance and hoop diving.


ballet on lights en dralion balls.

Gerakan-gerakan para akrobatisnya mengalir mengikuti irama musik. Terpadu indah.
Wow!!! Hanya itu yang keluar dari mulut saya beberapa kali. Saya benar-benar kehilangan kata saat menyaksikan pertunjukan ini.
Dan, jika ada kesalahan yang terjadi, mereka dengan tanggap dan tenang saling "menjalin" seolah-olah kesalahan tersebut juga merupakan bagian pertunjukan.

Saya tidak sanggup menahan pikiran saya tentang bagaimana kehidupan mereka di balik panggung. Di balik senyum mereka. Di balik disiplin dan latihan keras mereka...


Aerial pas de deux

Aerial pas de deux, paduan antara sendratari dan aerial-akrobat tentang dua anak manusia yang dimabuk asmara. Saling menggoda dan memadu cinta. Keindahan dan gelora cinta ditunjukkan dengan gerakan-gerakan sensual dan elegan, mimik, bahasa tubuh dan emosi. Melayang antara selendang-selendang, memberikan imajinasi percintaan antara dewa-dewi.

Dua setengah jam mereka memukau penonton. Dua setengah jam berlalu tanpa terasa. Kata-kata tidak cukup untuk menggambarkan keindahan yang mereka sajikan ClappingClappingClapping
Puas rasanya, walaupun pada awalnya harga tiket sempat bikin saya Shocked

Dan untuk Reinier Kisses Thanks honey, it was great!!!!

Sayangnya, kamera termasuk salah satu barang yang dilarang keras penggunaanya selama pertunjukan. So, semua foto-foto edisi kali ini saya ambil dari official program book-nya, kecuali foto para badut, saya ambil dari FOK!