Friday, August 29, 2008

Ambon, masih manis kah?

Lembaran 5

3. Ambon Under Water

Salah satu kerinduan saya yang begitu menyala-nyala yang membawa kami mengunjungi Ambon adalah kerinduan pada dunia dalam lautnya. Dunia yang pernah begitu akrab dalam kehidupan saya. Bagaimana tidak, di sanalah awal saya mengenal dunia dalam laut dan kemudian menggelutinya selama beberapa tahun sampai saat di mana saya harus memutuskan untuk pindah ke kota lain.

Tiba di Ambon, kami langsung menghubungi ko Robert, senior saya dalam urusan diving. Saya belajar banyak banget dari dia terutama untuk urusan pengetahuan lokasi-lokasi diving di sekeliling Ambon. Dari ko Robert ini kami menyewa tabung-tabung udara untuk menyelam dan juga boat yang dimilikinya.
Hanya 4 hari yang kami isi dengan penyelaman. Tapi dengan kondisi hari-hari basah, kami juga harus memperhitungkan setidaknya 2 hari tanpa selam untuk mengeringkan alat-alat kami di hotel.

Penyelaman hari pertama kami isi dengan menyelam di Eri.
Eri, saat masa saya masih aktif diving di Ambon terkenal karena susunan karang tua-nya, dan lokasinya yang dekat dengan kota. Saya sangat menyukai lokasi ini karena keunikkannya. Dinding karang yang terjal meluncur sampai ke kedalaman laut dan sepanjang dinding karang kaya akan tunicate yang beraneka jenis, beraneka warna dan ukuran. Saya belum pernah menemukan tempat lain yang memiliki tunicate sebanyak yang saya temui di Eri ini.

Foto di atas adalah beberapa jenis tunicate.
Peringatan, tunicate adalah HEWAN.

Sayangnya, kali ini, saat saya berada di dalam sana, apa yang terlihat membuat emosi antara amarah, sedih dan kecewa bercampur teraduk-aduk dalam jiwa ini. Bagaimana tidak, SAMPAH ada di mana-mana!!! Lokasi diving yang dulunya indah kini hampir seperti tempat sampah raksasa!!! Hot Head

Otomatis karang-karang yang tertutup sampah-sampah plastik mati perlahan-lahan. Tunicate yang ada juga tidak lagi sebanyak sebelumnya. Ahhh...
Sedih... kekayaan yang seharusnya dipelihara dan dimanfaatkan, justru tidak disadari keberadaannya, bahkan kini bukan tidak mungkin berada di ambang kehancuran.

Dive hari kedua, Tanjung Setan di pesisir utara pulau Ambon menjadi tujuan kami. Tanjung Setan, lokasi yang sangat saya kenal dengan baik beberapa tahun yang lalu. Saking kenalnya, saya malah sempat membuat peta lokasi yang lumayan akurat untuk kepentingan pekerjaan. Entah di mana peta itu sekarang.

Untuk ke Tanjung Setan kami harus mengendarai mobil menyeberang pulau Ambon, tiba di desa Hitu dan melanjutkan dengan boat ke lokasi dive.

Terjun ke air dan membiarkan diri meluncur perlahan ke kedalaman menusuri dinding karang dalam pelukan biru air. Ahh... bahagianya bisa kembali ke sini lagi. Berputar-putar di dalam air, berdansa dalam pelukan laut, sampai diketawain Reinier tapi maklum dengan kelakuan ajaib bininya. Maklum dengan kerinduan yang dipendam bininya ini. Blushy 2

Cuaca yang hujan deras akhir-akhir itu di Ambon membuat visibility (jarak pandang) di air berkurang. Walaupun begitu masih jauuuuuuh lebih bening dari visibility air di laut Belanda Teethy
Dan, walaupun di daerah sini bisa dibilang tidak terdapat sampah, namun bisa saya lihat dengan jelas karang-karang hancur di beberapa daerah yang bekas dibom.

Ah... Memang sulit sekali menangani dan menyadarkan para pembom ikan ini. Heran benar, bahkan pernah ada nelayan pembom ikan yang tangannya sudah putus satu gara-gara ledakan bom yang tidak tepat waktu, tapi teruuuuuus saja pede lanjut dengan acara ngebom ikan.
Dan kalaupun mereka tahu akibat dari perbuatan mereka pun sering mereka tak berdaya dalam tuntutan ekonomi. Memang, klise dan klasik banget alasannya. Tapi, begitulah adanya. Maka dibutuhkan kerja sama semua pihak untuk menangani hal ini.

Tapi ada titik terang, karena saat sebelum kami menyelam, kami harus singgah di kewang (penjaga hutan lokal) untuk melapor. Menurut yang saya dengar, sejak ada kewang ini pengeboman di daerah sekitar situ menjadi sangat berkurang. Semoga selalu demikian.

Hujan sepanjang hari tidak membuat semangat diving kami berkurang, malah menjadi semakin bersemangat terjun ke dalam air. Iya-lah, suhu air laut terasa hangat dan nyaman ketimbang duduk kedinginan di atas perahu.

Setelah tiga kali penyelaman, kami kembali ke dasa Hitu. Di sana istri pak Ali, boatman, sudah menyiapkan kopi panas dan ampas tarigu yang hangat manis dan lengit. Ampas tarigu ini sejenis roti tapi rasanya manis sekali dan teksturnya lebih padat dari roti tapi tetap empuk. Uuuuaaahhh.. nikmaaaatnyaaa... tanpa malu-malu itu ampas tarigu langsung kami ganyang. Wah... lama sekali saya tidak makan amapas tarigu ini, apalagi ampas tarigu Hitu ini memang yang paling enak.

Keesokan harinya kami kembali diving, kali ini tujuan kami ke Pulo Tiga bareng rombongan ko Robert. Pulo tiga adalah jajaran tiga pulau mungil, Lain, Hatala, Ela, di pojok Barat Laut pulau Ambon.
Kembali kami menuju desa Hitu dengan mobil dan melanjutkan perjalanan dengan speed boat sekitar 1 jam menuju pulau Lain, pulau yang paling dekat dengan pulau Ambon.

Duduk di boat, menikmati pemandangan desa-desa di sepanjang pantai utara pulau Ambon, merasakan hembusan angin di wajah saya, dan kemudian ombak pun mulai menghempas dari sisi-sisi boat. Ahhh... hembusan angin laut.. nyaman sekali rasa. Sungguh.. saya sangat merindukan semua sensasi ini. Semua pengalaman yang sedang saya rasakan saat itu benar-benar saya nikmati dan berharap sebisa mungkin menyerap semua sensasi itu hingga mengobati kerinduan yang ada. Ibarat mobil, saya sedang mengalami proses tune up.

Dan ahh... itu dia, tampak dari jauh Marine Field Station milik Unpatti di desa Hila, tempat dimana saya sempat melakukan penelitian dan praktikum saat kuliah dulu. Tempat yang juga banyak menyimpan cerita pada tahun-tahun sesudahnya.

Juga melewati beberapa bagan yang tersebar di permukaan laut di sepanjang perjalanan...

Berhubung rombongan ko Robert ini adalah hunter semua, alias tukang panah ikan, maka kami segera terbagi dalam tiga kelompok. Kelompok saya dan Reinier yang lebih memilih daerah karang sebagai lokasi diving kami dan dua kelompok ko Robert yang memilih daerah open water, tapi tidak terlalu jauh dari pantai, sebagai arena perburuan mereka. Mereka lebih memilih ikan pelagis seperti tuna, atau barakuda dan beberapa ikan lain yang berenang bebas di laut biru dan TIDAK memanah memanah langsung di daerah karang. Karena alasan inilah saya tidak pernah menentang kebiasaan berburu mereka.

Visibility air di sekitar Pulo Tiga ini jernih banget, berbeda dengan penyelaman-penyelaman kami sebelumnya. Mungkin karena posisi Pulo Tiga yang terpisah dari pulau Ambon dan tidak terdapat sungai di ketiga pulau mungil ini.
Tapi di sini kami harus bermain dengan arus. Maklum saja, para pemburu itu lebih menyukai saat arus karena saat inilah banyak mangsa yang bisa mereka dapatkan. Karena jika laut teduh tanpa arus, para pelagic tidak tampak.

Saat kami kembali ke boat, waaahhh... sampai kehilangan kata-kata melihat hasil panahan ko Robert. Tidak tanggung-tanggung, barakuda sebesar dan lebih panjang dari ukuran kaki saya!!! Belum lagi hasil panahan teman-teman yang lain.

Istirahat makan siang di pulau Ela, pulau terluar. Rasanya aneh juga, di sini matahari bersinar cerah, sementara pulau Ambon yang jarak terdekat kurang dari 4km terlihat awan tebal dan kelabu menutupi.

Sudah tentu kami tidak akan menyia-nyiakan sinar matahari yang merupakan kesempatan langkah hari-hari itu. Menikmati mandi matahari sambil berjalan menelusuri pantai yang masih alami dan sepi.

Dan mana mungkin kami sanggup menolak godaan air laut tropis yang bening, bersih, bebas sampah itu? Maka nyeburlah kami kembali ke laut, berenang dan sekedar berendam menikmati "kemewahan" itu.

Sering terlintas di benak saya, sejak dulu, sejak saat masih asyik dengan pekerjaan saya di tanah air, betapa mewahnya fasilitas yang alam berikan pada Indonesia. Sayangnya kemewahan ini menjadi biasa-biasa saja, pudar dan bahkan terabaikan di mata kebanyakan orang yang dalam keseharian tinggal dalam kemewahan itu. Ibarat kata pepatah, gajah di pelupuk mata tak tampak, tapi semut di seberang lautan tampak jelas.

Dan para pemburu ini pun melewatkan waktu istirahat dengan membersihkan hasil buruan mereka.

Selesai penyelaman yang kedua, kami disambut dengan pemandangan seekor tuna yang gede banget di dalam boat. Hasil buruan salah seorang dari mereka yang sedang duduk dengan senyum bangga di wajahnya.
"Astaga, berat juga," seru Reinier saat mencoba mengangkat ikan tersebut.
"Wah... kalau di Belanda, boleh jadi sudah ada sekitar 200 euro di tangan tuh buat ikan tuna segede itu," komentar kami.

Dive hari keempat saya memilih tempat yang dekat dengan kota. Kembali ke Eri, tapi pada lokasi yang lain. Lokasi di belakang rumah penduduk. Bukan penyelaman dalam tapi tergolong penyelaman santai.

Belum cukup rasanya waktu yang kami sediakan di sana. Masih ada banyak hal dan kegiatan yang ingin kami lakukan. Bahkan tidak banyak teman yang sempat saya temui.
Lain waktu... lain waktu kami pasti kembali lagi.

Dan, slideshow di bawah ini saya ambil secara random dari foto-foto yang sempat saya buat di dalam laut di Ambon. Selamat menikmati!!



Mereka ada, mereka indah, dan mereka rapuh.
Mereka ada. Mereka ada untuk kita.
Mereka adalah kekayaan, anugerah sang Pencipta bagi laut kita.
Mampukah kita menghargainya? Menjaganya? Mengolahnya? Menjadikannya sebagai aset daerah untuk kesejahteraan masyarakat daerah?
Atau... kita hanya bisa menghancurkannya? Menghancurkannya karena ketidak-tahuan kita. Menghancurkannya karena ketidak-perdulian kita, menghancurkannya karena keegoisan kita, menghancurkannya atas nama pembangunan.
Atau... kita akan bahkan melepaskannya pada tangan-tangan negara lain atas nama pengelolaan lingkungan hidup?

Kita seharusnya sudah memilih dan melangkah, sebelum semuanya terlambat.

Wednesday, August 20, 2008

Ambon, masih manis kah?

Lembaran 4

2. Merambah Kota Ambon.

Wajah Nona Yang Baru Bangun.

Tentu saja wajah Ambon banyak berubah, terutama setelah acara kerusuhan 1999 yang kemudian berlanjut di tahun-tahun sesudahnya.
Ambon yang tadinya indah, bersih, tertib, kini berubah 180 derajat!!! Ambon terlihat kumuh. Walau bekas-bekas daerah yang terbakar sudah dibersihkan dan beberapa bahkan sudah dibangun kembali, pada beberapa sudut kota masih tetap tampak bekas-bekasnya. Kebanyakan bangunan tampak tidak terpelihara dan lama tidak dicat. Trotoar dengan tegel-tegelnya yang hancur dan tidak rata. Wajar saja jika pejalan kaki menolak berjalan di atas trotoar dengan kondisi trotoar yang seperti itu.

Dan yang paling menyedihkan adalah kondisi sampah yang menghiasi wajah kota!!! Sama sekali tidak tampak bekas-bekas bahwa kota ini pernah menerima penghargaan Adipura.

Sampah di tepi jalan, sampah di dalam selokan, sampah penuh di sungai, dan sampah juga penuh di laut!!! Sering kami menemukan sampah yang menutupi permukaan karang, bahkan ada daerah penyelaman yang dulunya sangat indah dengan susunan karangnya yang "tua" kini menjadi "tempat penimbunan sampah" di dalam laut.
Belum lagi boat di laut yang beberapa kali harus berhenti karena baling-balingnya terbelit sampah yang mengapung di permukaan laut. Ugh!!

Tidak jarang kami melihat orang yang langsung melemparkan sampah (bungkus permen, kotak kue, tissue, plastik bekas minuman, dan sebangsanya) di jalan. Bahkan ada anak sekolah yang langsung melemparkan gelas plastik aqua bekas minumnya ke jalan. Sama sekali tidak ada rasa malu karena membuang sampah sembarangan!!

Pada setiap kegiatan, jika kami telat menanyakan sampah bekas makanan untuk dikumpulkan di kantong sampah, maka jawaban yang kami terima dari pak supir atau crew boat, "sudah dibuang, ibu".
"Dibuang ke mana?" tanya saya. Dan jawaban yang selalu saya terima adalah sampah itu sudah dilemparkan ke selokan, ke laut atau ke semak-semak. AMPUuuuN!!!!! Duh

Padahal rumah dan halaman rumah penduduk tampak bersih tanpa gangguan sampah. Artinya bahwa orang masih mempunyai budaya dan kesadaran akan kebersihan. Tapi mengapa budaya itu juga tidak diterapkan di luar rumah dan pekarangan masing-masing orang?

Yang bikin berdecak, segunung sampah yang dikumpulkan di tempat sampah umum dari awal kami tiba di Ambon, saat melewati tempat sampah itu, sampai beberapa hari kemudian, kali terakhir kami melewati tempat sampah itu, tumpukkan sampah yang sama masih tergeletak di sana. kami berani mengatakan tumpukan sampah yang sama karena kami mengenali beberapa benda yang tergeletak di sana. Helloooow.... Dinas Kebersihan Kota, di manakah kalian??? Bukankah timbunan sampah seperti itu seharusnya diangkat oleh mobil sampah tiap hari??
Bukankah kalian yang harusnya memberikan contoh kedisiplinan dan kebersihan bagi masyarakat kota?

Ayo warga dan pemerintah kota Ambon, jang biking Ambon jadi tampa sampah basar.
Pasti bisa, Ambon menjadi bersih kembali, karena toh pada kenyataannya ada juga beberapa daerah yang kami lewati dan beberapa desa di luar kota Ambon yang bersih, rapi dan terpelihara.

Ambon, ibarat nona yang baru bangun tidur. Kuyu, kucel, masih batai mata. Nona ini harus cuci muka, mandi, keramas, supaya bersih dan wangi, dan berdandan lagi supaya manis. Supaya siap untuk menantang hari-hari dengan senyum nona Ambon yang memikat lagi.


Napak Tilas Kenangan Masa Lalu.

Menjelajah kota Ambon sambil mengenang masa lalu sekaligus memperkenalkan sisi-sisi masa kecil, masa remaja, sampai dunia kerja saat masih di Ambon dulu pada Reinier, sudah pasti, termasuk salah satu acara wajib saat di Ambon. Tidak perduli harus merambah dalam hujan dan langit kelabu.

Ini dia, wajah kota dari jendela kamar kami. Kelabu, gelap dan basah yang selalu menyambut pagi-pagi kami di sana.

Naik becak keliling kota, menyusuri jalan-jalan yang dulu saya kenal dengan sangat baik, melewati bekas TK, ah.. pohon kamboja yang dulu sering kami panjat sudah tak ada lagi.
Lewat bekas SD, lewat bekas SMP, lewat bekas SMA. Nah hanya wajah SMA ini yang masih saya kenal. Tidak banyak yang berubah dari wajah SMAN 1 Ambon.

Wajah gereja-gereja di sana pun banyak berubah. Kebanyakan merupakan bangunan baru karena bangunan yang lama sudah habis luluh lantak dibakar saat kerusuhan dulu. Sayangnya, bangunan baru ini terasa ada yang hilang. Ciri khasnya... hilang. Bentuk gereja yang unik mirip model bangunan gereja tua Portugis sudah tidak kelihatan lagi.

Gereja yang terlihat sangat indah, yang membuat kami terpaku dan berdecak, bahkan sempat berhenti beberapa menit di depan gereja itu untuk menikmati keindahannya adalah gereja Kathedral. Foto di samping adalah sebagian penampakan gereja Kathedral.

Sementara masjid Jami di jl. Sultan Babulah, tampak lebih cemerlang dengan kubahnya. Ah, dari dulu, dari semua masjid di sana, menurut saya masjid Jami yang paling menawan.

Memang naik becak sambil menikmati kota memang merupakan sebuah keasyikan tersendiri. Lama sekali saya tidak menikmati kegiatan ini. Kadang-kadang terjadi percakapan dengan pengemudi becak, kadang-kadang juga kami memilih turun dari becak dan berjalan kaki di samping becak pada jalan yang menanjak, iya-lah kasian pengemudi becaknya.

Hanya saja, kadang-kadang kami lebih memilih jalan kaki, karena dengan jalur lalu lintas yang dibuat di kota Ambon yang sering hanya searah, dengan menggunakan becak atau mobil kami harus berputar jauh, bahkan memakan waktu yang lebih lama jika macet, jika dibandingkan dengan berjalan kaki.

Yup, macet ini juga merupakan salah satu masalah di Ambon. Terutama di daerah sekitar terminal. Menurut saya sih, yang terjadi di Ambon adalah jumlah mikrolet, mobil angkutan penumpang, yang ada sudah terlalu banyak jika dibandingkan dengan kebutuhan yang ada.
Ah ya, satu hal lagi yang bikin kesal dari mobil penumpang ini adalah sering sekali si sopir menyetel musiknya super kencang. Astaga, pada budeg semua apa? Gimana orang menikmati musik yang disetel kencang begitu? Biar kata lagunya enak, tetap saja yang ada malah sakit kuping.

Memang mikrolet tanpa musik itu ibarat bumi tanpa udara. Hiperbolik? Tidak juga. 'gak akan laku itu mikrolet tanpa musik. Dulu, jaman masih di Ambon, musik juga kadang diputar kencang di mobil. Tapi sekarang lebih edan lagi. Ampun dah. Memang 'gak semua mikrolet begitu, ada juga yang pasang musik dengan volume yang normal. Bersyukur banget jika pas naik dapat mikrolet yang terakhir ini. Atau mungkin kami saja yang sering kena mikrolet dengan musik super kencang?

Pas hari terakhir kami di Ambon, matahari menampakkan dirinya. Maka segera si Yayank saya ajak napak tilas perjalanan ke kampus Unpatti di poka.

Memang unik perjalanan ke kampus bagi mahasiswa yang tinggal di kota Ambon, karena bentuk pulau Ambon yang unik ini. Lihat saja di peta di samping itu, ada teluk Ambon di antara kota Ambon dan Poka. Ada beberapa cara tempuh menuju kampus.
Dengan mobil atau motor mengelilingi teluk Ambon dalam, dengan ferry menyeberangi teluk Ambon, atau dengan perahu.

Menggunakan ferry biasanya merupakan alternatif yang paling umum kami pilih, karena yang paling murah. Kadang-kadang kalau laut sedang bersahabat untuk berganti suasana kami memilih menggunakan perahu. Perahu ini juga ada jenis bus, yang mememuat banyak orang, otomatis lebih murah, dan jenis taxi, yang isinya maksimum 2 penumpang, yang pasti lebih mahal tapi juga lebih cepat.
Nah, kalau laut sedang tidak bersahabat, ujung-ujungnya kalau tetap ngotot memilih berperahu pasti sudah bisa ditebak, basah habis kami diterpa ombak. Tapi kadang-kadang isenk juga itu yang kami lakukan. Jadinya ke kampus basah-basah. Pokoknya jangan bawa buku dan cacatan penting saja kalau mau isenk begitu.

Nah, berhubung laut di dalam teluk sedang bersahabat sekali, yayank saya ajak berperahu menuju Poka. Dari terminal kami naik mikrolet yang bikin sakit telinga ke Galala, kemudian menyeberang dengan perahu "taxi", dan berjalan kaki ke arah kampus. Kami tidak singgah di kampus, hanya memandang dari luar kompleks saja.

Lama sekali saya tidak mengunjungi daerah sekita kampus ini. Tentu saja saja ada banyak hal yang membuat saya terkejut, walaupun tentu saja sudah saya tahu lewat cerita teman. Tetapi tetap saja melihat sendiri membawa efek emosionil yang lebih kuat lagi.

Setelah merasa cukup acara jalan-jalannya, dengan ferry kami balik ke Galala.
Duduk di atas ferry dan menikmati pemandangan teluk Ambon, membawa angan kembali pada saat-saat bareng teman-teman kampus dulu. Masa-masa tawa, masa-masa bergelut dengan tugas, ujian dan praktikum, masa-masa... Ah... waktu berlalu tanpa terasa...

Pernah lho dulu saat hendak ke kampus dari atas ferry kami menyaksikan paus, yang kesasar masuk ke teluk Ambon.


Dan, kali ini beruntung, kami menumpang mikrolet yang enak dan adem musiknya dari terminal ferry Galala menuju terminal bus di kota.

Makan-makan

Sudah tentu acara satu ini merupakan bagian dari acara wajib.
Saya kangen sekali dengan jenis-jenis makanan yang khas yang ada di Ambon. Berhubung begitu hidangan yang disajikan langsung diembat, dan baru keingat foto saat piring sudah tandas, so mohon dimaklumi jika tidak banyak laporan pandangan mata untuk urusan makan-makan ini Smiles

Nasi Ijah dan nasi Supira, sebenarnya sih nasi campur khas Ambon, nasi, acar, mie goreng, laksa, ikan pedas, sambal goreng tempe, sambal, plus telur kalau mau. Tapi rasa nasi Ijah dan nasi Supirah ini khas sekali.

Coto Makassar Kim Tek, di samping toko buku Dian Pertiwi. Coto Makassar yang terkenal sejak dulu yang sanggup menggoyang lidah. Hmmmm.... apalagi dimakan dengan buras.

Mie Simon, di dekat hotel Amboina. Warung mie yang beken sejak jaman saya masih balita. Astaga, mungkin sudah lebih dari dari usia saya, warung mie ini. Walaupun disebut warung mie tapi ada juga menu lain seperti nasi goreng, pangsit kuah, dan cap cai. Dan warungnya juga tetap sama seperti jaman saya kecil dulu. Super sederhana dan kumuh!!! Tapi yang beli ngantri!! Baik yang makan di tempat atau buat bungkus bawa pulang. Warung ini hanya buka mulai dari jam 6 sore sampai habis persediaan dapurnya, dan itu jika ramai antriannya bisa berarti hanya sampai jam 10 malam. Dan jangan pernah ke sana saat kelaparan, karena bakalan menderita dalam penantian pesanan di sana. Waktu tunggu makanan tergantung dari pesanan. Kalau mau cepat, lirik ke dapur, apa yang sedang di masak, atau pesanan apa yang banyak, pesan yang sama!!! Jika berani mesan yang berbeda, ya selamat menunggu.
Catatan: warung ini tidak direkomendasikan bagi yang mengharamkan Babi.

Mie Citra, counter mie di supermarket Citra di Mardika , yang menyajikan pangsit mie Ujung Pandang, mirip mie ayam tapi bertaburan babi panggang merah yang yummy dan pangsit rebus serta pangsit goreng dan di sajikan juga dengan semangkuk kecil kuah kaldu. Dan nyuk nyang, bakso komplit ala Ujung Pandang.
Seperti keterangan yang ada di atas, mie ini juga tidak direkomendasikan bagi yang mengharamkan si ekor keriting.

Kemudian mengunjungi rumah makan Nusantara di lorong GPM. Makanan andalan rumah makan ini adalah gule kambing, yang kata seorang teman, uenaak banget.
Sayang gule kambingnya sudah habis saat kami ke sana. Tapi menu lainnya juga dua jempol!!! Lekker!!!

Depot Seafood Dedes di jalan Sultan babulah, samping hotel Abdulalie. Depot yang menyediakan aneka seafood tergantung apa yang tersedia di pasar. Pokoknya kalau urusan seafood yang diolah dengan resep ala Indonesia, depot ini berani saya rekomendasikan. Hmmm... nyam... nyamm

Sempat juga mengunjungi restaurant seafood di Tantui, atas rekomendasi seorang teman. Tempatnya memang lebih "mentereng" dengan seaview, dan menu yang lebih "modern", tapi rasanya mengecewakan. Tidak ada yang istimewa dan "menggigit".

Dan diajak adik untuk menikmati es pisang ijo di toko kue Pemuda di Setia Budi. Sama sekali tidak mengecewakan!!

Dan, belum komplit jika mengunjungi Ambon tanpa mencicipi cakalang asar (asap).
Ikan cakalang asar kami beli dari deretan penjual di Galala saat hari mulai gelap, kemudian disantap dengan kohu-kohu yang kami beli dari deretan penjual makanan di tepi jalan di Batu Meja, kasbi (singkong) rebus, ketupat santan dan colo-colo.
Sayangnya makanan seperti ini tidak bisa ditemui di restaurant manapun di Ambon. Kebanyakan makanan tradisional ini merupakan makanan rumahan.

Dan tidak lupa, nasi kuning bagadang.
Yup Ambon saat malam dipenuhi dengan penjual nasi kuning di mana-mana. Disebut nasi kuning bagadang karena nasi kuning ini bisa ditemui sampai jauh malam.

Bagaimana celana dan rok saya tidak sesak dengan memanjakan lidah seperti ini?


Bersambung...

Sunday, August 10, 2008

Ambon, masih manis kah?

Lembaran 3

1. Saat Kembali ke Ambon

Langit kelabu gelap, gerimis menerpa jendela pesawat, dan gelombang laut di mulut teluk Ambon terlihat jelas mengelijang liar dan membuih di bawah sana, menyambut kami saat pesawat mulai mempersiapkan prosedur untuk mendarat seolah mengucapkan selamat datang di Ambon.

Ambon, kota yang merupakan bagian dari catatan sejarah perjalanan hidup saya. Kota dimana lebih dari 10.000 hari dalam kehidupan ini pernah saya jalani di sana. Kota yang selalu dikenang, karena manisnya dan karena.. pedihnya.
Dan kerinduan padanyalah yang membawa kami mengunjungi kota ini.

Sebenarnya cuaca yang kelabu itu bukan kejutan bagi kami, karena saya tahu pasti bulan Juli di Ambon ada di musim hujan. Bagi yang belum mengenal cuaca di Ambon, ada cara sederhana untuk mengingatnya, jika musim dingin di Australia artinya musim hujan di Ambon, dan sebaliknya, jika musim panas di Australia artinya juga musim panas di Ambon. Kemudian ada juga musim pancaroba di setiap antara kedua musim itu. Musim pancaroba ini artinya tidak ada kejelasan arah angin dan cuaca. Bisa hujan tapi bisa juga panas.

Tiba di bandara masih tersisa gerimis. Not bad, karena sehari sebelumnya malah banjir di kota Ambon. Dan terkagum-kagum saya memandang bandara Patimura itu. Waaahh... cantiknya!!! Maklum saja terakhir saya mengunjungi Ambon beberapa tahun yang lalu, bangunan bandara ini belum selesai dipoles. Dan satu hal yang bikin saya berdecak lagi adalah karena BERSIH!!! Mulai dari ruang kedatangan, lorong-lorong, tempat pengambilan bagasi, sampai pada wc, semuanya bersih. Para pengguna wc pun merasa nyaman tentunya. Mungkin karena masih baru dan mengkilap ya. Ups.. nuduh!!! Haha.. maap... maap... Tapi semoga tetap terus dijaga bersih dan indahnya ya.

Dari bandara langsung menuju hotel Amans yang langsung disambut oleh kemacetan di sekitar hotel. Tidak heran, hotel ini terletak pas di dekat terminal kota. Sengaja memilih hotel ini karena kami ingin menikmati pemandangan teluk Ambon dan selintas kesibukan kota dari balik jendela kamar.
Sayangnya hotel yang 10 tahun yang lalu termasuk megah untuk ukuran kota Ambon ini, kelihatannya sudah butuh sedikit polesan sana-sini. Namun yang pasti, terlepas dari beberapa hal yang berhubungan dengan urusan "yang harus diremajakan kembali", kami tidak memiliki keluhan dengan pelayanan yang ada. Mulai dari petugas lobby, room boy sampai satpam-nya, oke punya. Ramah dan sangat membantu. Always smile, always nice!!

Tapi satu hal yang agak mengganggu adalah, ada pemakai kamar yang berada pada lantai yang sama, ributnya minta ampun. Setel musik gede-gede, belum lagi yel-yel di kamar. Mungkin karena kesibukan dalam rangka Pilkada. Walaupun begitu tetap tidak sopan menurut saya. Kalau mau ramai-ramai begitu sebaiknya sewa saja salah satu fasilitas hotel yang memang ditujukan untuk bergegap gempita. Bukannya di kamar tidur begitu.
Dan tepat pada hari pemilihan, ada beberapa remaja, yang entah dalam rangka apa, berlatih menari di tengah-tengah gang antara kamar dengan tentunya musik yang disetel dan aba-aba dari seorang di antara mereka. Ampun dah. Walaupun itu sudah di atas jam 9 pagi, tetap saja mengganggu pemakai kamar yang lain. Kalau dibilang kampungan pasti marah, kan? Tapi kok begitu modelnya? Kan bisa berlatih di ruang olah raga di lantai paling atas yang lega dan selalu kosong tidak terpakai.
Harusnya sih para petugas hotel memperhatikan hal-hal seperti ini.

Sepuluh hari kami berada di Ambon, sembilan hari hari-hari kami dihiasi oleh hujan deras. Untung program utama kami adalah diving, sehingga tidak perduli hujan atau tidak hujan toh tetap basah acaranya. Hanya saja dengan hujan yang terus menerus ini membuat saya menjadi malas untuk mengeluarkan kamera dari tas. Sehingga maklum saja jika tidak banyak foto-foto sudut kota yang saya bawa sebagai souvenier dari Ambon.

Tapi tentu saja hujan deras dan langit kelabu sepanjang minggu tidak membuat kami surut untuk sekedar mengunjungi pantai-pantai pulau Ambon, di luar acara diving.
Walaupun tidak bisa maksimal kami nikmati. Hanya memandang laut, merasakan hembusan angin pantai, mengenang masa lalu, merekam pemandangan yang akrab ini ke sel-sel otak. Setidaknya cukup untuk sedikit melepaskan kerinduan pada pulau ini.

Tiga pantai yang kami kunjungi, ketiga-tiganya dihiasi dengan laut yang bergelombang dan ombak besar yang memecah di tepi pantai. Maklum saja ketiga pantai ini terletak menghadap arah selatan, sehingga pada musim hujan (musim timur) begini menerima langsung hembusan angin kencang yang bertiup dari arah selatan.

Pantai Namalatu, pantai yang sangat saya sukai. Selain karena indahnya suasana pantai, pada saat musim Barat dengan mudah kami dapat melakukan penyelaman langsung dari pantai, atau sekedar snorkling. Saya menyukai pantai ini karena pada beberapa sudut tidak terlalu ramai, bahkan bisa dikatakan sepi pada hari-hari di luar hari libur dan wiken, sehingga saya dapat menikmati keindahan yang alam sajikan tanpa terganggu.

Tapi kali ini, kami hanya menikmati angin yang bertiup dingin, gemuruh ombak dan hempasan tetesan air hujan. Tidak mengapa, karena kedua balita, keponakan saya, yang ikut juga sangat menikmati keadaan tersebut. Senang sekali melihat kegembiraan mereka.

Pintu Kota, gerbang yang unik yang terbentuk di dinding karang yang terletak dekat tanjung Nusaniwe, menghadap laut Banda. Di ujung gerbang ini, menjorok ke laut, terdapat juga gerbang karang di dalam laut, yang indah untuk diselami.
Tidak lama waktu yang kami habiskan di sini, hanya sekedar menikmati dasyatnya gelombang yang pecah saat menghantam dinding karang.

Pantai Natsepa, pantai yang sangat terkenal bagi penduduk Ambon. Jangan berharap menemukan pantai ini sepi saat musim liburan dan pada saat wiken. Bahkan saat musim hujan begini, pantai ini tetap penuh pengunjung. Saya jadi teringat entah berapa kisah kasih yang terjadi di antara teman-teman di pantai ini, bahkan ada kisah yang lucu badut abis pada sepasang kekasih itu yang setiap kali membuat saya tertawa sendiri bila mengenangnya.

Sayangnya, pantai pasir tidak terlihat saat kami di sana karena sedang pasang penuh ditambah dengan gelombang air, membuat pantai yang ada hanya selebar sampai pada bagian talit.

Memandang anak-anak yang asyik bermain dengan gelombang mengingatkan saya pada masa kecil dulu. Karena rumah kami tepat berada di tepi laut yang landai berpasir, pada musim ombak begini adalah saat untuk bermain "body surfing". Dengan menggunakan sebilah papan kecil di air sebatas dada, menunggu gulungan ombak yang memecah dan mengikuti derasnya laju ombak sampai pada bibir pasir di pantai. Begitu yang kami lakukan berulang-ulang sampai puas. Nah yang kacaunya, biasanya sebilah papan itu kami "pinjam" dari perahu nelayan yang ada di pinggir pantai. Sebilah papan untuk tempat duduk di perahu itu. Ah, sebenarnya bukan pinjam lagi tapi lebih tepatnya curi. Sering kami dikejar nelayan pemilik perahu itu bahkan ada yang sampai melapor ke orang tua kami karena kenakalan kami itu Too Funny
Padahal sebenarnya kami boleh saja menggunakan papan-papan itu jika selesai bermain kami kembalikan lagi papan tersebut ke perahunya. Masalahnya adalah sering kami lupa, selesai bermain papan-papan itu hanyut begitu saja dalam putaran ombak.

Belum lengkap kalau sudah tiba di pantai Natsepa tanpa mencicipi rujak Natsepa, yang dijual ramai di sepanjang pantai. Rujak buah segar seperti nanas, mangga, kedondong, jambu, timun, belimbing, dengan adonan ulekan gula jawa dan kacang yang pekat. Lebih enak lagi jika ditambahkan 2 buah cabe.. hmmmm.... segar, asam, manis, pedas, asin... ck... baru membayangkan lagi sudah langsung gleg...

Sebenarnya rujak ini sama saja dengan rujak di tempat lain, hanya saja sejak dulu, rujak ini populer sekali di daerah Ambon dengan nama rujak Natsepa. Bisa dibilang rujak ini menjadi makanan wajib para pengunjung di pantai Natsepa. Sambil duduk-duduk dengan teman, kekasih atau sanak famili, menikmati canda ditengah semilir angin pantai, deburan ombak, berunya laut dan ditemani dengan rasa rujak Natsepa yang khas. Lengkap sudah kenikmatan piknik. Apalagi ditambah dengan tegukkan air kelapa muda yang segar.

Selain rujak yang menjadi makanan khas pantai Natsepa, ada juga sagu gula. Sagu forna yang dibakar dengan campuran kelapa dan dengan gula jawa di tengahnya.
Memang berbeda dengan pantai-pantai wisata lain yang ada di pulau Ambon, di pantai Natsepa ini jajanan yang tersedia lebih beragam. Ada bakso, pisang goreng, jagung rebus, nasi ikan (nasi campur) dan lain-lain.

Masih ada beberapa pantai yang belum sempat kami kunjungi. Pulau Ambon memiliki banyak sekali pantai-pantai yang indah mengelilingi pulau ini. Dan sudah pasti tidak semua pantai ini mengalami pukulan ombak pada saat yang bersamaan. Jika pesisir selatan dihantam gelombang, maka pesisir utara tenang, dan sebaliknya. Tapi, dengan suasana hujan, setenang apapun laut di pantai tersebut sudah pasti tidak bisa maksimum kami nikmati.

Lain waktu... ya lain waktu... kami pasti kembali lagi.


Bersambung...