3. Ambon Under Water
Salah satu kerinduan saya yang begitu menyala-nyala yang membawa kami mengunjungi Ambon adalah kerinduan pada dunia dalam lautnya. Dunia yang pernah begitu akrab dalam kehidupan saya. Bagaimana tidak, di sanalah awal saya mengenal dunia dalam laut dan kemudian menggelutinya selama beberapa tahun sampai saat di mana saya harus memutuskan untuk pindah ke kota lain.Tiba di Ambon, kami langsung menghubungi ko Robert, senior saya dalam urusan diving. Saya belajar banyak banget dari dia terutama untuk urusan pengetahuan lokasi-lokasi diving di sekeliling Ambon. Dari ko Robert ini kami menyewa tabung-tabung udara untuk menyelam dan juga boat yang dimilikinya.
Hanya 4 hari yang kami isi dengan penyelaman. Tapi dengan kondisi hari-hari basah, kami juga harus memperhitungkan setidaknya 2 hari tanpa selam untuk mengeringkan alat-alat kami di hotel.
Penyelaman hari pertama kami isi dengan menyelam di Eri.
Eri, saat masa saya masih aktif diving di Ambon terkenal karena susunan karang tua-nya, dan lokasinya yang dekat dengan kota. Saya sangat menyukai lokasi ini karena keunikkannya. Dinding karang yang terjal meluncur sampai ke kedalaman laut dan sepanjang dinding karang kaya akan tunicate yang beraneka jenis, beraneka warna dan ukuran. Saya belum pernah menemukan tempat lain yang memiliki tunicate sebanyak yang saya temui di Eri ini.
Foto di atas adalah beberapa jenis tunicate.Peringatan, tunicate adalah HEWAN.
Sayangnya, kali ini, saat saya berada di dalam sana, apa yang terlihat membuat emosi antara amarah, sedih dan kecewa bercampur teraduk-aduk dalam jiwa ini. Bagaimana tidak, SAMPAH ada di mana-mana!!! Lokasi diving yang dulunya indah kini hampir seperti tempat sampah raksasa!!!
Otomatis karang-karang yang tertutup sampah-sampah plastik mati perlahan-lahan. Tunicate yang ada juga tidak lagi sebanyak sebelumnya. Ahhh...
Sedih... kekayaan yang seharusnya dipelihara dan dimanfaatkan, justru tidak disadari keberadaannya, bahkan kini bukan tidak mungkin berada di ambang kehancuran.
Dive hari kedua, Tanjung Setan di pesisir utara pulau Ambon menjadi tujuan kami. Tanjung Setan, lokasi yang sangat saya kenal dengan baik beberapa tahun yang lalu. Saking kenalnya, saya malah sempat membuat peta lokasi yang lumayan akurat untuk kepentingan pekerjaan. Entah di mana peta itu sekarang.
Untuk ke Tanjung Setan kami harus mengendarai mobil menyeberang pulau Ambon, tiba di desa Hitu dan melanjutkan dengan boat ke lokasi dive.
Terjun ke air dan membiarkan diri meluncur perlahan ke kedalaman menusuri dinding karang dalam pelukan biru air. Ahh... bahagianya bisa kembali ke sini lagi. Berputar-putar di dalam air, berdansa dalam pelukan laut, sampai diketawain Reinier tapi maklum dengan kelakuan ajaib bininya. Maklum dengan kerinduan yang dipendam bininya ini.
Cuaca yang hujan deras akhir-akhir itu di Ambon membuat visibility (jarak pandang) di air berkurang. Walaupun begitu masih jauuuuuuh lebih bening dari visibility air di laut Belanda Dan, walaupun di daerah sini bisa dibilang tidak terdapat sampah, namun bisa saya lihat dengan jelas karang-karang hancur di beberapa daerah yang bekas dibom.
Ah... Memang sulit sekali menangani dan menyadarkan para pembom ikan ini. Heran benar, bahkan pernah ada nelayan pembom ikan yang tangannya sudah putus satu gara-gara ledakan bom yang tidak tepat waktu, tapi teruuuuuus saja pede lanjut dengan acara ngebom ikan.
Dan kalaupun mereka tahu akibat dari perbuatan mereka pun sering mereka tak berdaya dalam tuntutan ekonomi. Memang, klise dan klasik banget alasannya. Tapi, begitulah adanya. Maka dibutuhkan kerja sama semua pihak untuk menangani hal ini.
Tapi ada titik terang, karena saat sebelum kami menyelam, kami harus singgah di kewang (penjaga hutan lokal) untuk melapor. Menurut yang saya dengar, sejak ada kewang ini pengeboman di daerah sekitar situ menjadi sangat berkurang. Semoga selalu demikian.
Hujan sepanjang hari tidak membuat semangat diving kami berkurang, malah menjadi semakin bersemangat terjun ke dalam air. Iya-lah, suhu air laut terasa hangat dan nyaman ketimbang duduk kedinginan di atas perahu.
Setelah tiga kali penyelaman, kami kembali ke dasa Hitu. Di sana istri pak Ali, boatman, sudah menyiapkan kopi panas dan ampas tarigu yang hangat manis dan lengit. Ampas tarigu ini sejenis roti tapi rasanya manis sekali dan teksturnya lebih padat dari roti tapi tetap empuk. Uuuuaaahhh.. nikmaaaatnyaaa... tanpa malu-malu itu ampas tarigu langsung kami ganyang. Wah... lama sekali saya tidak makan amapas tarigu ini, apalagi ampas tarigu Hitu ini memang yang paling enak.
Keesokan harinya kami kembali diving, kali ini tujuan kami ke Pulo Tiga bareng rombongan ko Robert. Pulo tiga adalah jajaran tiga pulau mungil, Lain, Hatala, Ela, di pojok Barat Laut pulau Ambon.
Kembali kami menuju desa Hitu dengan mobil dan melanjutkan perjalanan dengan speed boat sekitar 1 jam menuju pulau Lain, pulau yang paling dekat dengan pulau Ambon.
Duduk di boat, menikmati pemandangan desa-desa di sepanjang pantai utara pulau Ambon, merasakan hembusan angin di wajah saya, dan kemudian ombak pun mulai menghempas dari sisi-sisi boat. Ahhh... hembusan angin laut.. nyaman sekali rasa. Sungguh.. saya sangat merindukan semua sensasi ini. Semua pengalaman yang sedang saya rasakan saat itu benar-benar saya nikmati dan berharap sebisa mungkin menyerap semua sensasi itu hingga mengobati kerinduan yang ada. Ibarat mobil, saya sedang mengalami proses tune up.
Dan ahh... itu dia, tampak dari jauh Marine Field Station milik Unpatti di desa Hila, tempat dimana saya sempat melakukan penelitian dan praktikum saat kuliah dulu. Tempat yang juga banyak menyimpan cerita pada tahun-tahun sesudahnya.
Juga melewati beberapa bagan yang tersebar di permukaan laut di sepanjang perjalanan...Berhubung rombongan ko Robert ini adalah hunter semua, alias tukang panah ikan, maka kami segera terbagi dalam tiga kelompok. Kelompok saya dan Reinier yang lebih memilih daerah karang sebagai lokasi diving kami dan dua kelompok ko Robert yang memilih daerah open water, tapi tidak terlalu jauh dari pantai, sebagai arena perburuan mereka. Mereka lebih memilih ikan pelagis seperti tuna, atau barakuda dan beberapa ikan lain yang berenang bebas di laut biru dan TIDAK memanah memanah langsung di daerah karang. Karena alasan inilah saya tidak pernah menentang kebiasaan berburu mereka.
Visibility air di sekitar Pulo Tiga ini jernih banget, berbeda dengan penyelaman-penyelaman kami sebelumnya. Mungkin karena posisi Pulo Tiga yang terpisah dari pulau Ambon dan tidak terdapat sungai di ketiga pulau mungil ini.Tapi di sini kami harus bermain dengan arus. Maklum saja, para pemburu itu lebih menyukai saat arus karena saat inilah banyak mangsa yang bisa mereka dapatkan. Karena jika laut teduh tanpa arus, para pelagic tidak tampak.
Saat kami kembali ke boat, waaahhh... sampai kehilangan kata-kata melihat hasil panahan ko Robert. Tidak tanggung-tanggung, barakuda sebesar dan lebih panjang dari ukuran kaki saya!!! Belum lagi hasil panahan teman-teman yang lain.
Istirahat makan siang di pulau Ela, pulau terluar. Rasanya aneh juga, di sini matahari bersinar cerah, sementara pulau Ambon yang jarak terdekat kurang dari 4km terlihat awan tebal dan kelabu menutupi.
Sudah tentu kami tidak akan menyia-nyiakan sinar matahari yang merupakan kesempatan langkah hari-hari itu. Menikmati mandi matahari sambil berjalan menelusuri pantai yang masih alami dan sepi.
Dan mana mungkin kami sanggup menolak godaan air laut tropis yang bening, bersih, bebas sampah itu? Maka nyeburlah kami kembali ke laut, berenang dan sekedar berendam menikmati "kemewahan" itu.Sering terlintas di benak saya, sejak dulu, sejak saat masih asyik dengan pekerjaan saya di tanah air, betapa mewahnya fasilitas yang alam berikan pada Indonesia. Sayangnya kemewahan ini menjadi biasa-biasa saja, pudar dan bahkan terabaikan di mata kebanyakan orang yang dalam keseharian tinggal dalam kemewahan itu. Ibarat kata pepatah, gajah di pelupuk mata tak tampak, tapi semut di seberang lautan tampak jelas.
Dan para pemburu ini pun melewatkan waktu istirahat dengan membersihkan hasil buruan mereka.
Selesai penyelaman yang kedua, kami disambut dengan pemandangan seekor tuna yang gede banget di dalam boat. Hasil buruan salah seorang dari mereka yang sedang duduk dengan senyum bangga di wajahnya."Astaga, berat juga," seru Reinier saat mencoba mengangkat ikan tersebut.
"Wah... kalau di Belanda, boleh jadi sudah ada sekitar 200 euro di tangan tuh buat ikan tuna segede itu," komentar kami.
Dive hari keempat saya memilih tempat yang dekat dengan kota. Kembali ke Eri, tapi pada lokasi yang lain. Lokasi di belakang rumah penduduk. Bukan penyelaman dalam tapi tergolong penyelaman santai.
Belum cukup rasanya waktu yang kami sediakan di sana. Masih ada banyak hal dan kegiatan yang ingin kami lakukan. Bahkan tidak banyak teman yang sempat saya temui.
Lain waktu... lain waktu kami pasti kembali lagi.
Dan, slideshow di bawah ini saya ambil secara random dari foto-foto yang sempat saya buat di dalam laut di Ambon. Selamat menikmati!!
Mereka ada, mereka indah, dan mereka rapuh.
Mereka ada. Mereka ada untuk kita.
Mereka adalah kekayaan, anugerah sang Pencipta bagi laut kita.
Mampukah kita menghargainya? Menjaganya? Mengolahnya? Menjadikannya sebagai aset daerah untuk kesejahteraan masyarakat daerah?
Atau... kita hanya bisa menghancurkannya? Menghancurkannya karena ketidak-tahuan kita. Menghancurkannya karena ketidak-perdulian kita, menghancurkannya karena keegoisan kita, menghancurkannya atas nama pembangunan.
Atau... kita akan bahkan melepaskannya pada tangan-tangan negara lain atas nama pengelolaan lingkungan hidup?
Kita seharusnya sudah memilih dan melangkah, sebelum semuanya terlambat.
Sampah di tepi jalan, sampah di dalam selokan, sampah penuh di sungai, dan sampah juga penuh di laut!!! Sering kami menemukan sampah yang menutupi permukaan karang, bahkan ada daerah penyelaman yang dulunya sangat indah dengan susunan karangnya yang "tua" kini menjadi "tempat penimbunan sampah" di dalam laut.
Ini dia, wajah kota dari jendela kamar kami. Kelabu, gelap dan basah yang selalu menyambut pagi-pagi kami di sana.
Gereja yang terlihat sangat indah, yang membuat kami terpaku dan berdecak, bahkan sempat berhenti beberapa menit di depan gereja itu untuk menikmati keindahannya adalah gereja Kathedral. Foto di samping adalah sebagian penampakan gereja Kathedral.
Hanya saja, kadang-kadang kami lebih memilih jalan kaki, karena dengan jalur lalu lintas yang dibuat di kota Ambon yang sering hanya searah, dengan menggunakan becak atau mobil kami harus berputar jauh, bahkan memakan waktu yang lebih lama jika macet, jika dibandingkan dengan berjalan kaki.
Memang unik perjalanan ke kampus bagi mahasiswa yang tinggal di kota Ambon, karena bentuk pulau Ambon yang unik ini. Lihat saja di peta di samping itu, ada teluk Ambon di antara kota Ambon dan Poka. Ada beberapa cara tempuh menuju kampus.
Nah, berhubung laut di dalam teluk sedang bersahabat sekali, yayank saya ajak berperahu menuju Poka. Dari terminal kami naik mikrolet yang bikin sakit telinga ke Galala, kemudian menyeberang dengan perahu "taxi", dan berjalan kaki ke arah kampus. Kami tidak singgah di kampus, hanya memandang dari luar kompleks saja.
Setelah merasa cukup acara jalan-jalannya, dengan ferry kami balik ke Galala.
Pernah lho dulu saat hendak ke kampus dari atas ferry kami menyaksikan paus, yang kesasar masuk ke teluk Ambon.

Mie Simon, di dekat hotel Amboina. Warung mie yang beken sejak jaman saya masih balita. Astaga, mungkin sudah lebih dari dari usia saya, warung mie ini. Walaupun disebut warung mie tapi ada juga menu lain seperti nasi goreng, pangsit kuah, dan cap cai. Dan warungnya juga tetap sama seperti jaman saya kecil dulu. Super sederhana dan kumuh!!! Tapi yang beli ngantri!! Baik yang makan di tempat atau buat bungkus bawa pulang. Warung ini hanya buka mulai dari jam 6 sore sampai habis persediaan dapurnya, dan itu jika ramai antriannya bisa berarti hanya sampai jam 10 malam. Dan jangan pernah ke sana saat kelaparan, karena bakalan menderita dalam penantian pesanan di sana. Waktu tunggu makanan tergantung dari pesanan. Kalau mau cepat, lirik ke dapur, apa yang sedang di masak, atau pesanan apa yang banyak, pesan yang sama!!! Jika berani mesan yang berbeda, ya selamat menunggu.
Dan, belum komplit jika mengunjungi Ambon tanpa mencicipi cakalang asar (asap).

Tiga pantai yang kami kunjungi, ketiga-tiganya dihiasi dengan laut yang bergelombang dan ombak besar yang memecah di tepi pantai. Maklum saja ketiga pantai ini terletak menghadap arah selatan, sehingga pada musim hujan (musim timur) begini menerima langsung hembusan angin kencang yang bertiup dari arah selatan.
Pantai Namalatu, pantai yang sangat saya sukai. Selain karena indahnya suasana pantai, pada saat musim Barat dengan mudah kami dapat melakukan penyelaman langsung dari pantai, atau sekedar snorkling. Saya menyukai pantai ini karena pada beberapa sudut tidak terlalu ramai, bahkan bisa dikatakan sepi pada hari-hari di luar hari libur dan wiken, sehingga saya dapat menikmati keindahan yang alam sajikan tanpa terganggu.
Tapi kali ini, kami hanya menikmati angin yang bertiup dingin, gemuruh ombak dan hempasan tetesan air hujan. Tidak mengapa, karena kedua balita, keponakan saya, yang ikut juga sangat menikmati keadaan tersebut. Senang sekali melihat kegembiraan mereka.
Pintu Kota, gerbang yang unik yang terbentuk di dinding karang yang terletak dekat tanjung Nusaniwe, menghadap laut Banda. Di ujung gerbang ini, menjorok ke laut, terdapat juga gerbang karang di dalam laut, yang indah untuk diselami.
Memandang anak-anak yang asyik bermain dengan gelombang mengingatkan saya pada masa kecil dulu. Karena rumah kami tepat berada di tepi laut yang landai berpasir, pada musim ombak begini adalah saat untuk bermain "body surfing". Dengan menggunakan sebilah papan kecil di air sebatas dada, menunggu gulungan ombak yang memecah dan mengikuti derasnya laju ombak sampai pada bibir pasir di pantai. Begitu yang kami lakukan berulang-ulang sampai puas. Nah yang kacaunya, biasanya sebilah papan itu kami "pinjam" dari perahu nelayan yang ada di pinggir pantai. Sebilah papan untuk tempat duduk di perahu itu. Ah, sebenarnya bukan pinjam lagi tapi lebih tepatnya curi. Sering kami dikejar nelayan pemilik perahu itu bahkan ada yang sampai melapor ke orang tua kami karena kenakalan kami itu
Belum lengkap kalau sudah tiba di pantai Natsepa tanpa mencicipi rujak Natsepa, yang dijual ramai di sepanjang pantai. Rujak buah segar seperti nanas, mangga, kedondong, jambu, timun, belimbing, dengan adonan ulekan gula jawa dan kacang yang pekat. Lebih enak lagi jika ditambahkan 2 buah cabe.. hmmmm.... segar, asam, manis, pedas, asin... ck... baru membayangkan lagi sudah langsung gleg...
Selain rujak yang menjadi makanan khas pantai Natsepa, ada juga sagu gula. Sagu forna yang dibakar dengan campuran kelapa dan dengan gula jawa di tengahnya.
