Showing posts with label Diving - underwater. Show all posts
Showing posts with label Diving - underwater. Show all posts

Friday, June 19, 2009

Laut Merah, Padang Biru.

Catatan Perjalanan 1.

Saat melangkah keluar dari pintu pesawat malam itu, saat udara hangat yang kering menyentuh kulit ini, saya menyapa negeri itu.
Hello Mesir.

Saat tiba di gerbang kedatangan, kami langsung disambut oleh para petugas yang mengarahkan para penumpang pesawat membentuk barisan untuk melalui sebuah scanner infrared. Yup, setiap orang di-scan bagian wajah dengan kamera infrared sebagai langkah pencegah masuknya pembawa flu, pasti urusan flu babi nih.

Saat pasport kami diperiksa ketika melalui loket imigrasi, kami harus dilemparkan ke loket imigrasi lain dengan petugas yang lebih senior karena kekeliruan yang dilakukan oleh petugas kedutaan Mesir di Belanda pada lembaran visa di pasport kami. Untunglah petugas yang lebih senior di loket kedua langsung menyadari kekeliruan yang ada dan.. plak... stempel boleh masuk ke negri itu pun dicap di halaman pasport kami.
Hello Hurghada.

Saat duduk di dive boat, pagi berikutnya, menikmati sinar mentari yang kalah panasnya oleh terpaan angin yang membuat rambut saya awut-awutan, semua kelelahan dalam perjalanan sirna. Laut Merah, padang biru. Laut yang biru membentang dengan garis turquoise sepanjang pesisir itu menyejukkan jiwa ini.

Ah.. senangnya berada dekat laut lagi, di atas laut lagi, di dalam laut lagi...

Namun jangan berpikir bisa "nyepi" di sini, karena Red sea terkenal sekali sebagai daerah tujuan wisata selam bagi pasar wisata selam di Eropa. Maka sudah pasti di semua dive spot selalu berkumpul beberapa boat dengan kapasitas sekitar 20 penyelam per boat, dan di dalam air kadang ramai seperti pasar.
Untung saja, walaupun sering berpapasan dengan group penyelam lain, kami tidak sampai mengalami situasi hiruk pikuk di dalam sana, dan tidak terganggu oleh penyelam lain.

Dingin air laut segera menyentuh saya ketika meloncat saat penyelaman pertama. Tidak menjadi sebuah kejutan. 25°C sebenarnya lebih hangat dari yang kami perkirakan sebelumnya. Dan dengan wetsuit setebal 7mm, saya terbungkus nyaman di dalamnya. Hanya saja, 10kg harus saya gunakan sebagai pemberat. 2kg lebih berat dari yang saya gunakan di Belanda. Tidak heran, air laut di laut Merah ini lebih padat densitasnya.
Bahkan ketika saya isenk terjun ke air dengan hanya baju renang, tanpa harus mengeluarkan tenaga untuk mengapung, dengan entengnya saya terapung.

Bagi yang bukan penyelam, tentunya asing dengan istilah pemberat ini. Sederhananya, pemberat dibutuhkan oleh seorang penyelam sebagai alat bantu untuk tenggelam dan melayang bebas di dalam air, bahkan pada saat proses seorang penyelam menuju ke permukaan laut pun tidak lepas dari peranan pemberat. Pemberat ini biasanya adalah potongan timah dengan berat persatuannya 1kg dan 2 kg. Dipakai bersama-sama dengan weight belt atau dimasukkan dalam kantong khusus pada jaket BCD. Untuk jelasnya lagi, silahkan di googling saja ya.

Kejernihan air di sana tidak usah ditanyakan lagi. Jernih banget, padahal saat itu termasuk musim angin. Hanya saja, sekali kami sempat menyelam di wreck, kapal tenggelam, dekat dengan dataran besar, kira-kira 2km dari pantai, visibility tidak begitu bagus.

Kebanyakan dive spot di sana landai ke kedalaman. Berpasir dengan bongkahan-bongkahan karang, kadang pinacles yang lumayan besar. Hanya sekali kami menyelam menyulusuri dinding karang, wall dive. Dan itu kali satu-satunya di sana kami menyelam lebih dari 35m. Sisanya, penyelaman kami hanya berkisar 18-20 meter.

Yang mendominasi kehidupan dalam laut yang tertangkap mata saya adalah karang, keduanya, yang keras dan yang lunak. Sponges, tunicates, dan lain-lain hampir tidak kami lihat. Walaupun sering sekali kami menjumpai penyu dan juga ikan-ikan yang berseliweran, kehidupan di dalam sana terasa sepi. Padahal komentar teman-teman saya yang pernah menyelam di sana, dunia dalam laut di sana 10 tahun yang lalu lebih ramai. Ahh.. alam lelah, jenuh dengan kunjungan rombongan penyelam yang tak putus-putusnya.

Walaupun sepi menurut saya, tetap ada banyak bentuk kehidupan di sana. Satu hal yang membuat saya tergangga dan berdecak adalah ukuran hewan yang kami temui. Jenis yang sama yang pernah saya temui di laut tropis jadi terasa seperti liliput.

Misalnya octopus ini. Octopus terbesar yang pernah saya lihat. Kepalanya kira-kira seukuran bola basket dan lengan-lengannya sebesar lengan saya!!! Jangan lupa efek pembesaran di dalam air, tentu saja ukuran sebenarnya 25% lebih kecil. Walaupun menyadari itu, tetap saja ini merupakan octopus terbesar yang pernah saya lihat langsung dengan mata saya sendiri, tetap saja saya tidak berani mengusik octopus itu. Weleeh.. 'ga lucu abis kalo sampai dibelit octopus.
She is so gorgeous!!!

Ada beberapa species ikan yang baru pernah saya lihat, dan ini membuat saya sangat antusias di dalam air. Misalnya ikan kupu-kupu di samping ini (Chaetodon similarvatus) yang merupakan salah satu ciri khas Red sea. Sayang, tidak terdapat buku-buku identifikasi biota laut di kapal.

Macro alias mahluk-mahluk kecil, jarang sekali saja jumpai. Dan para divemasternya pun lebih antusias pada hewan-hewan yang besar. Penyu misalnya. Astaga, penyu lagi penyu lagi yang ditunjuk. Yang lain doooong!!!

Dan begini ini nih, model interaksi antara penyelam dengan penyu. Satu penyu dikerebutin beramai-ramai. Hehe.. si penyunya sudah terbiasa menjadi model, cuek beibe... tetap anggun dan angkuh melewati para fansnya itu Hysterical

Pernah saya bertanya tentang macro, namun pertanyaan saya hanya melayang di udara dan menguap. Sepertinya mereka memang tidak tertarik pada macro, atau... tidak memiliki taste untuk itu? Ya sudah, cari sendiri saja.

Hanya satu kali kesempatan untuk melakukan wreck dive, menyelam pada bangkai kapal tenggelam. Itupun karena desakan kami dan satu group yang lain.
El Mina wreck, demikian nama bangkai kapal sepanjang 58m yang tergeletak di kedalaman 30m. Walaupun sudah sekitar 40 tahun terbenam dalam laut, namun miskin penutupan coral. Sepi dan buram. Satu-satunya bentuk kehidupan yang ramai yang saya temukan di sekitar bangkai kapal ini adalah lion fish.

Dan juga hanya sekali kami melakukan nightdive, penyelaman malam. Ini disebabkan pihak dive center harus mengumpulkan minimun 6 penyelam yang berminat untuk melakukan night dive. Sampai malam terakhir, itupun yang terkumpul cuma 5 penyelam. Ih, napa sih ni divers, kok kurang peminat night dive. Padahal nyelam malam tuh asik abis!!

Ada hal lucu yang terjadi saat penyelaman malam, yang membuat saya bingung, siaga, terpingkal-pingkal, namun jengkel, sekaligus curious.
Kira-kira 5 menit setelah di dalam air, saat saya sedang sibuk dengan objek foto, saya merasa gerakan di dekat lengan, begitu saya senter, astaga ada tiga ekor lionfish yang gede-gede sedang berenang di sekitar lengan saya. Uiiihh... ngalah deh, pindahlah saya ke tempat lain, tapi perasaan ada yang ngikutin, disenter ke belakang, beneran tiga ekor lionfish itu dengan garang mengikuti saya. Nah lho!!! Apa saya sempat membuat mereka marah? Uih ngeri berhadapan dengan lion fish yang marah. Apalagi terbayang duri-duri mereka yang beracun itu. Setelah beberapa detik kemudian, saya menyadari, bukan saya yang mereka targetkan, tapi arah dari sinar senter kami yang mereka gunakan untuk berburu. Aiiih... pintar bener ini Lionfish!!! Jadi tenang setelah menyadari kenyataan itu, tapi jadi jengkel karena mereka menyulitkan saya terutama saat hendak membuat foto. Untung buddy saya yang tercinta ini tanpa perlu kata-kata menyadari menyadari kesulitan saya, dan membantu dengan mengarahkan ikan-ikan itu ke arah lain dengan sinar senternya setiap kali saya hendak bermain dengan kamera.
Baru pernah saya mengalami pengalaman dengan lionfish seperti ini. Apa yang membentuk tingkah ikan itu? Kebiasaan? Instink? Atau..?

Aquarius dive center adalah dive center yang kami gunakan pelayanannya. Tidak ada keluhan tentang pelayanan mereka. Kapalnya luas dan bersih. Kualitas udara di tabung juga oke. Para kru ramah dan membantu sekali, walaupun bahasa Inggris mereka terbatas sekali. Makanan di kapal, tipikal makanan Mesir, berminyak tapi jenis-jenis salad yang terhidang di meja menggoyang lidah.

Dan yang paling asyik adalah para dive master/guide di kapal ini memberikan kami kebebasan dalam waktu, walaupun secara lisan mereka meminta 60 menit lama penyelaman kami karena itu peraturan di taman nasional sana. Dan mereka juga memberikan kami kebebasan untuk menyelam di luar kelompok. Thank God, karena saya paling sebal jika harus menyelam dalam kelompok, karena ritme kelompok selalu berbeda dengan ritme kami.
Dan yang paling penting adalah kemampuan mereka memberikan briefing tentang keadaan dan peta lokasi penyelaman. Sangat membantu.

Sekali waktu saya sempat ngakak di permukaan air. Gara-gara si dive guide dengan sangat serius datang dan memberikan briefing pada kami dan menjelaskan bahwa kami akan melakukan drift dive, penyelaman arus. Gayanya dalam memberikan briefing meyakinkan banget kalau itu bakal menjadi penyelaman beradrenalin. Uh... saya sudah senang, lumayan sudah lama tidak melakukan penyelaman adrenalin. Begitu mau loncat, kok perasaan arus sepoi-sepoi doank deh, setelah meloncat ke air... Bener... Saya berbisik pada buddy, mana arusnya?? Airnya nyaris setenang permukaan danau, apanya yang drift???
Akhirnya kesimpulan kami adalah jika kami harus meloncat saat kapal belum ditambatkan dan menyelam ke arah di mana kapal akan ditambatkan, maka itu adalah drift dive!!! Lol

Saat-saat dalam perjalanan, menuju lokasi penyelaman atau kembali ke dermaga hotel, sering kami jumpai rombongan Lumba-lumba, dan tak jarang mereka bermain mengikuti kapal. Kalau sudah demikian tumpahlah semua penumpang kapal ke sisi-sisi kapal. Kadang menyebalkan juga, karena saru rombongan lumba-lumba dikejar oleh beberapa kapal, ribut dengan tuter dan para kru yang bersikap seperti supporter bola. Malas sudah kalau ribut begini.
Tidak ada foto aksi dolfin di sini karena saya hanya ingin hanyut dalam atraksi mereka tanpa sibuk untuk menunggu dan klak-klik.

Ah.. laut biru, langit yang cerah, hangat mentari, menari lagi di alam dalam laut, my best buddy... dan.. sudah tentu, dive center yang oke punya.
Liburan yang menyenangkan!!



Bersambung...

Monday, February 09, 2009

Oh Sepia

Ini hasil isenk saat di dalam laut. Menggoda Sepia (cuttlefish). Lihat perubahan warna tubuhnya. Mereka memiliki kemampuan merubah-rubah warna dan juga struktur permukaan tubuhnya untuk menyamar menyatu dengan latar belakang di sekeliling mereka. Kemampuan Sepia merubah-rubah warna dan struktur permukaan tubuhnya itu dilakukan dengan sangat cepat, jauh lebih cepat dan lebih rumit dibandingkan dengan bunglon alias cameleon di darat.
Mereka juga menggunakan perubahan warna pada tubuhnya untuk saling berkomunikasi.



Saya selalu terpukau melihat mereka. Cantik, anggun, gesit. Satu lagi, berdasarkan hasil beberapa penelitian ilmiah yang telah dilakukan, dikatakan sepia ini sepandai octopus. Nah, apalagi? Sudah cantik, anggun, gesit, pandai pula!!! Winky

Jika sedang beruntung, mereka mau menyambut jari-jari tangan saya dengan tentakel-tentakelnya dan kami seolah berbicara tanpa kata selama beberapa detik. Tapi jika tidak sedang beruntung, ya seperti video di bawah ini, kabur duluan si Sepia. Ya salah saya juga, mendekati dengan agresif gitu.

Jika ada yang tertarik mengenal lebih jauh tentang si Sepia ini, silahkan klik di sini, atau silahkan disurfing sendiri.

Thursday, August 16, 2007

Suatu saat di dalam air di Grevelingen

PERINGATAN!!!
WARNING!!!
HANYA UNTUK DEWASA!!!
ADULT CONTENT!!!
Smile

Ya sudah, pokoknya sudah saya ingatkan, jadi resiko ditanggung sendiri lha ya.

Cerita kali ini masih berhubungan dengan cerita kali yang lalu, jadi bisa juga disebut catatan liburan yang tersisa.
Seperti yang sudah saya jelaskan kemarin-kemarin, saat ini suhu air sudah di atas 17ºC, maka menurut saya adalah waktu yang tepat untuk nyebur di laut Belanda. Tapi, berhubung dengan kondisi arus pasang surut yang lumayan kencang, maka jika kami ingin menyelam 2 kali sehari, kami harus menunggu sekitar 5-6 jam di antara waktu menyelam, menunggu air pasang atau air surut.
Kami memutuskan untuk melakukan sekali penyelaman saja dalam sehari, Selasa dan Rabu, sehingga kami juga memiliki waktu yang cukup untuk hal-hal yang lain.

Selasa siang setelah mengisi tabung selam kami dengan udara kami langsung tancap gas menuju Wemeldingen di perairan Oosterschelde.
Segera merakit peralatan selam kami dan berjuang mengenakan wetsuit (waduuh.. sebenarnya saya malu juga sama wetsuit nih, seandainya dia bisa ngomong, pasti dia sudah menjerit: Hoooi.. diet donk, kesiksa nih gue!!! Shy Whistler ), kami mulai mendaki dijk untuk bisa mencapai bibir pantai. Dijknya sendiri sebenarnya tidak tinggi-tinggi amat, tapi dengan costum selam setebal 7mm plus 6kg pemberat, plus tabung yang beratnya sekitar 15kg di punggung, belum lagi senter dan kamera. Waahhh... lumayan...

Begitu kepala ini masuk ke dalam dunia dalam air, perasaan kok ada yang tidak beres nih, kok saya tidak melihat Reinier ya? Padahal dia ada tepat di samping saya.
Ah.. coba makin ke dalam saja, biasanya makin dalam bisa makin lebih baik jarak pandangnya.
Tapi ternyata tidak, saudara-saudara!!! Tetap saja SUPER BUTEK-TEK-TEK-TEK!!!
Bayangkan saja kalau jarak pandangnya kurang dari 1 meter!!!
Tapi dasar ni orang dua, walaupun butek begitu masih juga bertahan 30 menit di dalam air!!! Hysterical

Setelah kembali ke darat, kata Reinier, ugh buteknya aku 'gak ngeliat apa-apa.
Kata Since, gile tu butek, kok mau-maunya aku dive di sini ya?? Tapi tadi banyak bener kreft yang gede-gede.
Hah??? Elo masih sempet liat kreeft??
Hehe.. iya.. untung saja hidung ini 'gak dijepit ;))

Tapi beneran tuh butek, sampe bikin foto saja harus berjuang, Mesti close up bener!! Itu pun kalau si obyeknya 'gak keburu kabur duluan.
Yang jadi hanya bisa dihitung pake jari sebelah tangan.

Tuh, si kreeft di atas sama si kepiting di bawah ini hasil dari berjuang di dalam butek. Kelihatan kan buteknya.


Tapi air lautnya sendiri ternyata 'gak dingin-dingin amat, 20ºC. Saya malah sempat membuka zipper wetsuit saya saat kami berjalan menuju tempat yang dangkal dan membiarkan air laut menyentuh langsung kulit saya. Segarnya!!!
Untung juga matahari bersinar terik, sehingga angin tidak membuat saya menggigil karena basah.

Kesokan harinya kami memutuskan untuk menyelam di Den Osse yang terletak di perairan Grevelingen. Klik di sini nih kalau mau tahu lokasi-lokasi dive di Zeeland.


Sengaja memang kami memilih perairan Grevelingen karena pengalaman dive sehari sebelumnya yang butek itu.
Perairan Grevelingen merupakan danau air laut yang terbesar di dunia, yang tadinya masih berhubungan langsung dengan North Sea, sehingga pengaruh pasang surut tidak berpengaruh dan visibility air cenderung lebih baik dari di perairan Oosterschelde.

Sayang hari itu tidak secerah hari sebelumnya, temperatur udara pun turun beberapa derajat.

Gini nih gayanya si Since sedang mengumpulkan perkakasnya pada satu tempat supaya gampang dipungut nanti.

Begitu masuk ke dalam air, langsung disuguhi pemandangan adegan untuk 17 thn ke atas.
Kepiting yang sedang menunaikan salah satu panggilan hidupnya, membuat generasi penerus speciesnya, agar tidak punah dari muka bumi ini.

Inilah mereka, wajah-wajah penghuni yang lain.
Walaupun sebenarnya, kepiting, udang, teritip dan anemone kecil mendominasi wajah penghuni di sana.

Ups... Yang ini tidak termasuk kategori penghuni laut ya, dia hanya pengunjung Teethy

Nah ini dia!!! Pasangan kepiting yang sudah mempelajari kamasutra. Baru pernah saya melihat kepiting bercinta dalam posisi seperti ini!!!

Supaya tidak terpisah di dalam air akibat jarak pandang yang terbatas, kami berdua selalu memakai buddy line, tali yang ujung-ujung terpasang pada pergelangan tangan kami masing-masing.

Ah.. satu jam lebih sudah berlalu, jarum di presure gauge (pengukur tekanan udara yang tersisa di dalam tabung selam) saya pun sudah menunjukkan kurang dari 50 bar, sudah waktunya menyudahi penyelaman kami.

Kembali saat berdiri di dekat air dangkal saya membuka zipper wetsuit saya sekedar merasakan sensasi suhu air laut. Hmmm... lekker... tapi begitu berdiri tertiup angin.. brrrr..... dingiiiinnn... cepat-cepat nyungsep kembali ke dalam air sambil membenarkan zipper sebelum keluar dari dalam air.

Setidaknya penyelaman kali ini cukup menghibur kekecewaan penyelaman sebelumnya gara-gara butek.

Thursday, May 10, 2007

Kembali ke Tulamben dan Amed (2)

Tulamben lagi?
Amed lagi?
Bukankah liburan tahun lalu sudah ke sana? Bahkan liburan 2005 juga ke sana.
'gak bosan situ lagi... situ lagi...?

Eng'gak tuh!!!

Saya sangat menyukai kedua tempat ini sebagai lokasi tujuan diving karena kemudahan untuk langsung turun ke air lewat pantai (beach entry) di belakang hotel tempat kami menginap (house reef), kapan saja kami suka. Terbuka 24 jam sehari, tanpa harus berpikir panjang tentang efek pasang surut.
Kapan saja kami mau nyemplung ke dalam air, bahkan pada waktu-waktu yang sangat tidak biasa sekalipun, silahkan saja.

Ah.. kali ini saya tidak menceritakan banyak tentang apa dan di mana Tulamben dan Amed terletak, tentang Matahari resort dan Divers Cafe, karena cerita tentang kedua daerah lokasi selam ini sudah banyak saya tuturkan pada catatan perjalanan tahun yang lalu dan juga pada cerita liburan 2 tahun yang lalu.
Saya juga sangat menyukai early morning dive di house reef Tulamben, menyelam saat subuh, saat matahari belum menampakan dirinya.
Nyebur ke laut 05.30, dan menikmati perubahan wajah kehidupan di dalam air seiring cahaya yang perlahan masuk ke dalam air. Mahluk-mahluk malam perlahan mulai masuk ke persembunyiannya dan penguasa siang mulai menampakan dirinya. Ikan-ikan mulai berenang aktif mencari sarapannya. Bervariasi dalam bentuk, ukuran dan warna. Melihat tingkah ikan-ikan ini juga membuat jiwa ikut bersemangat, semangat pagi.

Perlahan dan pasti, matahari yang beranjak tinggi pun membawa cahaya yang lebih banyak ke dalam air yang membentuk tirai ke'emasan yang menari meliuk-liuk mengikuti irama gerakan air di permukaan. Indah sekali.
Kami juga sempat berkejar-kejaran dengan 2 ekor blacktip sharks kecil yang mendiami daerah ini.
Satu setengah jam sudah kami habiskan di dalam air, perut pun mulai merintih lapar. Saatnya menyudahi penyelaman subuh ini.
Naik ke permukaan.. dan... kami disuguhi pemandangan para nelayan yang baru kembali dari laut serta hangatnya sinar mentari pagi.
Wahhh...
Segera setelah merapikan peralatan selam dan membilas tubuh, nasi goreng ayam yang mengepul panas, segelas mix juice dan kopi panas telah menanti di restaurant tepi pantai. Hmmmm... what a life!!!

Tapi setelah 2 hari berturut-turut penyelaman subuh, Reinier protes karena harus bangun subuh-subuh, pukul 5 pagi. Hahahaha...

Menyelam di Liberty ship wreck? Sudah tentu. Hanya saja kami harus mencari jam-jam sepi diver.

Liberty ship wreck ini termasuk lokasi dive yang selalu ramai dan sibuk. Jika menyelam pada saat sedang ramai, kadang saya merasa seperti sedang berada di mall. Kadang kami bercanda dengan mengatakan, lebih banyak divers ketimbang ikannya di sana.

Kami sempat melihat seorang diver yang sedang mengambil gambar pigmy sea horse. Saking napsunya, dia sampai lupa dengan sekitarnya. Seandainya saja kuda laut mungil itu dan gorgonian bisa menjerit, pasti mereka sudah menjerit, "Leave us alone, you stupid diver!!!" Ugh!!

Baracuda ini sudah lama sekali mendiami area shipwreck.

Selain nyemplung di lokasi-lokasi dive yang sudah umum, kami juga sengaja memilih lokasi yang tidak umum atau bahkan belum pernah dikunjungi diver untuk dicemplungi.
Yup.. lokasi baru selalu menarik bagi kami, tidak perduli apakah lokasi itu benar-benar sangat indah atau hanya lebih banyak ditutupi oleh pasir dan lumpur atau hanya ditutupi oleh koloni-koloni yang cenderung homogen. Itu urusan nanti. Kamu tidak pernah tahu apa yang akan kamu temui jika kamu tidak pernah nyemplung di sana, itu semboyan kami. Psssttt... setidaknya itu semboyan saya Smile

Hasilnya? Kami menemukan beberapa lokasi yang menurut kami menarik untuk nanti kembali kami kunjungi.

Cumi di sebelah ini saya ambil gambarnya saat meyelam malam. Mereka cantik dan anggun sekali di dalam air tapi juga cantik sekali di atas piring dan tentunya enak sekali terhidang sebagai santapan!!! Ups... Teethy

Salah satu atraksi alam yang juga selalu menarik adalah menyelam dan berada di tengah spiral rombongan jacks ini.
Tidak ada kata-kata yang tersirat dalam benak, hanya senyum yang memancar dari kalbu. Seolah diri sedang berdansa dengan mereka di tengah ballroom yang luas dan mewah.

Yang ini (foto di atas) sudah pasti bukan dari dalam laut!! Big Smile
Itu pemandangan di tepi pantai.
Anak-anak ini sedang sibuk menumbuk buah ketapang. Buah ketapang yang tua isinya berwarna putih dan dilindungi batok yang keras, hampir mirip dengan kenari. Putih dan gurih.
Melihat keasyikan mereka, saya jadi tersenyum, teringat akan masa kecil dulu, yang juga saya habiskan di tepi pantai.

Di Amed, selain menyelam di daerah teluk Jemeluk, kami juga berencana untuk ke gili Selang, pulau kecil di ujung paling timur pulau Bali.
Sayangnya hari dimana kami akan ke sana diwarnai dengan guyuran hujan dan hujan. Wah... tidak asyiklah jika kami harus duduk di boat selama sekitar setengah jam di bawah guyur hujan. Dingiiiinnn booow!!!

Maka diputuskanlah untuk dive di area teluk Banyuning dan di Japanese wreck di teluk Lipah.
Orang-orang menyebutnya Japanese wreck, tapi sebenarnya tidak pasti apakah itu benar kapal Jepang atau bukan.Kapal ini tergeletak di daerah yang dangkal, sehingga asyik juga untuk sekedar snorkling atau skin diving.

Informasi yang saya dengar dari beberapa pegawai hotel tempat kami menginap, hari itu diguyur hujan karena pada hari itu banyak pengantenan. Jadi banyak dukun yang saling mencoba ilmunya.
Pihak pengantenan tentunya menginginkan hari yang cerah, maka dikerahkanlah pawang penolak hujannya. Sementara para dukun yang kebetulan tidak terlibat prosesi itu merasa "mumpung ada lawan tanding, boleh nih buat nyoba ilmu".
Nah lho!!! Believe or not.

Apa yang sedang dilakukan oleh Reinier dan ikan ini? Mereka seolah-olah sedang bercakap mesra Too Funny
Ikan ini terus membututi kami dan jika kami sedang berhenti memperhatikan sesuatu, maka dia segera mengambil posisi di depan masker Reinier. Kelihatannya dia tidak begitu menyukai bayangannya yang dipantulkan di lensa masker Reinier.

Penyelaman malam kami lakukan di area dekat hotel. House reef di teluk Jemeluk ini juga termasuk area yang menarik untuk night dive. Sayang ada juga sampah tersisip di antara coral.

Kami tidak melakukan dive subuh di Amed, tapi kami mengisi waktu pagi kami dengan berjalan-jalan menikmati wajah pagi. Wajah alam dan juga warna aktifitas di sana.

Bangun pagi-pagi adalah hal yang menyebalkan, tapi mengamati warna pagi adalah hal yang mengasyikkan.

Saat kembali ke Denpasar, sengaja kami mengambil rute menyusuri jalan pantai dari Amed ke taman Ujung.
Jalan ini sepi dari kendaraan, sempit, berliku dan terjal. Tapi jalannya sendiri termasuk mulus, pemandangan di kiri kanan jalan yang dipenuhi dengan hijau semak dan pepohonan serta laut biru membentang dan udara yang bebas polusi!!
Tidak nyesal kami memilih rute ini, walaupun waktu tempuh menjadi sedikit lebih lambat. Toch tidak ada yang sedang kami kejar.

Thursday, March 08, 2007

Keong Telanjang

Rasanya hampir semua diver, apalagi yang suka mengambil foto dalam laut, mengenal nudibranch. Ya, hewan ini sering sekali menjadi model bagi fotografer karena kecantikan warnanya.
Mereka adalah juga favorit saya.

Tapi apa sih nudibranch itu?
Nudibranch adalah keong telanjang, alias keong tanpa cangkang yang hidup di laut.
Disebut nudibranch, insang telanjang (naked gills), karena insangnya yang berada di bagian luar tubuh.

Berawal dari terpikat oleh keindahan warna hewan ini, saya terbawa untuk mengamati untuk lebih jauh mengenalnya. Bukan hanya sekedar identifikasi jenis untuk mengetahui nama speciesnya, namun juga penasaran pada sisi kehidupannya.

Ada banyak pertanyaan yang terbentuk dalam benak saya saat mengamati tingkah laku hewan ini dalam laut. Bahkan sampai saat ini masih ada sejumlah pertanyaan yang masih menggantung di benak.
Pertanyaan-pertanyaan ini membawa saya lebih mengenal mereka dengan fakta-fakta yang menarik.

Ada lebih dari 3000 species nudibranch yang sudah dikenal dan tersebar di perairan mulai dari tropis sampai ke sekitar kutub, bahkan yang pernah saya baca, ada jenis tertentu yang ditemukan di kedalaman 270 meter!!!

Hewan yang dewasa berukuran kira-kira 6mm sampai yang sepanjang kira-kira 31cm, tergantung dari jenisnya.
Kebanyakan species yang hidup di kondisi alam (saya tidak berbicara tentang kondisi aquarium) mencapai hingga 1 tahun masa hidup, tapi ada juga species yang hanya sekitar 2-3 bulan masa hidupnya, dan ada juga yang mencapai beberapa tahun.
Pendek sekali ya.

Warna yang indah dan menyolok dari tubuh mereka merupakan juga salah satu cara perlindungan bagi hewan ini.
Warna yang menyolok ini seolah peringatan bagi ikan, "Awas, saya berbahaya dan beracun."
Walaupun demikian, tidak ada jaminan 100% bahwa nudibranch ini akan terhindar dari serangan ikan atau menjadi mangsa hewan lainnya.

Tidak semua jenis nudibranch berwarna ceria dan menyolok, dan tidak semua nudibranch mengandalkan warna menyolok untuk menghindari bahaya. Ada juga nudibranch yang mempergunakan cara kamulfase, mengeluarkan lendir beracun untuk melindungi tubuh mereka, dan jenis-jenis tertentu hanya keluar pada malam hari.

Namun jangan salah, hewan kecil, cantik dan tampak rapuh ini adalah karnivora, alias pemakan daging. Tapi tidak berarti semua daging diembat mereka. Biasanya setiap jenis nudibranch memiliki jenis dietnya sendiri-sendiri. Hanya mangsa spesifik yang dimakan oleh mereka, salah satu misalnya sponge.
Jenis-jenis tertentu dari nudibranch juga adalah kanibal, pemakan sesama.

Fakta lain yang sangat menarik dari nudibranch ini adalah mereka hermaprodit.
Setiap individu nudibranch adalah jantan dan juga betina. Dalam satu tubuh, mereka menghasilkan sperma dan juga telur. Namun mereka tetap membutuhkan "partner" untuk saling "mengisi".

Mating nudibranchs. Alat senggama mereka terletak pada sisi kanan tubuh, dekat dengan bagian kepala mereka.

Saat kawin, mereka saling memberikan sperma pada telur partnernya.
Pada copulatory apparatus (alat senggama) terdapat keduanya, alat kelamin jantan dan juga betina, bersisian. Saat kopulasi (penyatuan) bisa sangat bervariasi dari hanya beberapa detik sampai seharian, tergantung speciesnya.
Setelah saling lepas, maka mereka masing-masing pun berpisah mencari arah sendiri-sendiri dan meletakkan telur-telurnya di atas karang, batu, atau substrat lainnya.

Bentuk dan warna jaringan telur-telurnya pun membuat decak kagum.
Kebanyakan berbentuk seperti renda-renda yang juga dengan warna-warna yang cerah (kuning, pink dan putih), dan ada juga yang seperti kabel yang melingkar-lingkar seperti kabel telepon.
Ada ribuan telur-telur kecil dalam jalinan pita-pita yang indah itu.

Ah, Dia, Sang Pencipta, sungguh adalah seniman besar!!


Sumber: Semua bahan bacaan yang pernah saya baca.
Foto-foto: koleksi pribadi.