Minggu kedua, setelah Reinier tiba di Denpasar, kami habiskan di Tulamben dan Amed. Kedua tempat ini terkenal sebagai daerah penyelaman, terletak di sebelah timur Bali Utara.
Saya sangat menyukai kedua tempat ini sejak masih tinggal di Bali dulu. Di samping suasana santai dan bersahabat yang sangat ideal untuk atmosfer liburan, saya bisa melakukan penyelaman di kedua daerah ini kapan pun saya mau, menyelam saat subuh, pagi, siang, sore, malam, atau bahkan tengah malam, tanpa harus tergantung pada dive master/dive guide, karena saya mengenal kedua daerah ini dengan baik. Dan juga tidak perlu tergantung pada boat, karena kebanyakan lokasi penyelaman di sini bisa dilakukan dengan cara beach entry, masuk ke air langsung dari pantai.

Sepanjang teluk kecil, di atas, sampai di balik tanjung karang merupakan sebagian dari lokasi penyelaman di Tulamben yang selalu memiliki kejutan-kejutan bagi saya dan kamera kesayangan ini.
Mungkin bagi beberapa penyelam tempat-tempat itu membosankan. Tapi tidak bagi saya.
Terutama Tulamben, saya selalu merindukan tempat itu. Semoga saja Reinier juga belum bosan tidak akan bosan, karena setiap kali dia ke Bali, selalu diajak ke sana.

Ini adalah tempat nongkrong favorit kami di Tulamben sejak awal, Matahari dive resort.
Hmmm... selesai melakukan penyelaman pagi-pagi, subuh menurut Reinier
, duduk menikmati sarapan pagi di restaurantnya yang berada di tepi pantai, menikmati bias-bias sinar matahari yang terpantul di permukaan air dan irama merdu ombak yang memecah di pantai berkerikil, membiarkan kenikmatan hangatnya mentari pagi lembut menyentuh tubuh dan jari-jari semilir angin pagi yang dingin sesekali menggelitik kulit... sungguh... hmmm... biarlah mata ini terpejam dan menikmatinya sensasi ini sebentar...Matahari dive resort ini sudah pernah saya ceritakan di edisi cerita liburan tahun lalu.

Reinier di tengah schooling Jacks. Rombongan ikan ini sudah ada di perairan Tulamben sejak lama. Beberapa tahun yang lalu aku selalu menemukan mereka di sekitar wreck, bangkai kapal tenggelam. Namun dua tahun terakhir ini kami menemukan mereka justru di bagian dangkalan dekat drop off.


Sebagian souvenir dari dalam laut sekitar Tulamben dan Amed.
Setelah menghabiskan beberapa hari di Tulamben, kami bertolak ke Amed. Berbeda dengan kali-kali sebelumnya, kali ini kami memilih menginap di Diver Cafe, kebetulan mereka baru saja menyelesaikan kamarnya yang terbaru di tepi pantai.

Kamar yang di atas itu adalah kamar kami selama beberapa hari, foto di sebelah kiri. Sementara foto yang di sebelah kanan adalah pemandangan yang setiap pagi kami saksikan dari balik jendela kamar, bahkan dari atas ranjang! Wow!!
Sebuah kemewahan tersendiri bagi kami!! Kemewahan yang disuguhkan oleh alam dan waktu.

Karena terbangun oleh dan dalam keindahan pagi, kami memiliki banyak waktu untuk berjalan-jalan sebentar di sekeliling Diver Cafe sebelum sarapan. Pemandangan kehidupan pagi di Amed yang dihiasi dengan kesibukan nelayan yang baru kembali ke pantai, pondok-pondok penduduk yang menjual sarapan pagi, para penjual ikan yang bersiap-siap ke pasar.

Selain keindahan karang alami, di dasar perairan Amed juga ditemui bongkahan-bongkahan semen seperti yang terlihat di foto-foto di atas. Bongkahan-bongkahan ini dimaksudkan untuk menjadi karang buatan, tapi sejujurnya, saya kok malah merasa seperti sedang menyelam di tengah-tengah reruntuhan sebuah kota yang hilang?

Menunggu jemputan perahu setelah bermain dengan arus di gili Selang. Gili Selang adalah sebuah pulau yang sangat kecil di ujung paling timur pulau Bali. Di sekitar perairan itu selain keindahan dunia dalam airnya, sering kami juga menemukan ikan-ikan yang besar seperti whitetip shark, eagle ray, dan pernah sekali saya melihat tiga ekor hammer shark!
Tapi kali kemarin kami tidak melihat ikan-ikan besar, melainkan bermain dengan arus. Ya, perairan di sekitar gili ini juga terkenal dengan arusnya yang tidak main-main, kadang malah mungkin seperti di dalam mesin pencuci baju.
Asyik tapi sangat melelahkan. Asyik berpacu dalam adrenalin. Melelahkan karena kerja keras fisik dan juga konsentrasi penuh selama di air. Tidak direkomendasikan untuk penyelam pemula.

Kembali ke Denpasar. Katakanlah, bagaimana saya tidak merindukan keindahan seperti ini?

Lapar saat di perjalanan balik ke Denpasar. Untung Reinier termasuk pemakan segala, sehingga tidak sulit untuk menemukan jalan keluarnya. Tinggal mengikuti aroma sate lilit yang sedang dibakar di depan warung Bali yang sederhana yang banyak bertebaran sepanjang perjalanan, berhenti, dan... sate lilit, sup ikan, pepes ikan, nasi, aqua untuk Reinier dan teh botol untuk saya.. hmmm.
Murah meriah!!!
Bersambung..


11 comments:
Sinceeeeeeeee....gw iri nih :)
kapan yak bisa nyelam.
kali ini foto2 nya mewakili nih , serasa ikut dalam tour nya since..hehehe, miss u since, hayuuk cerita mudik lagi dunk.
enak ya kalo bisa nyelam.... bisa nikmatin sesuatu yang dikasih gratis dari alam...
susah nggak sih untuk belajar nyelam Sin?
Waa, nyelam kayanya asik yah?? Tp serem juga sih, kaya nyelam di antara bangkai2 kapa yg karam...
Foto2nya bagus bgt tuh... :)
ck..ck..ck..foto2nya .... luar biasa bagus en cantik Since! benar2 hasil jepretan fotografer handal!! makasih buanyak ceritanya, dah nggak sabar nunggu kelanjutannya!
enake pulang kampung!!foto2nya bagus2!BRAVO* btw, tulamben&amed jauhkah dari kuta?gue sering liat bagus2 tuh viewnya..tapi katanya jauh?apa ya?
ya ampun..banyak banget teryata objeknya. kami pengen ke bali lagi kalo ke indo. saat ke phuket, lakiku bilang ; bali gak ada tempat2x kayak gini ya ? aku bilang belum abis kita kunjungi.
aku catet ah daeahnya. thanks ya, dear
waaaaaaaa waaaaaaaa waaaaaaaa since is back with great stories and wonderful photos!! selalu menyenangkan setiap baca perjalanan kamu Since. lanjutin postingnya doooooong. hehehe
@Lina
Ayoo begitu ada kesempatan buat belajar diving, do it!!! :)
@Ira
Kalo tanya ke aku sih, ya belajar diving gak susah. Tapi ya, tergantung orangnya juga. Ada orang yg cepet, ada yg lambat.
Tapi kalo emang pengen yakin lebih dulu, mending ambil paket "introductory" aja dulu. Paket belajar biasanya 3-4 hari, tapi kalo intro sehari doank, langsung ke laut.
@Zilko
Nyelam emang asik Ko. 'gak serem kok diving di bangkai kapal tenggelam. Ntar deh kalo udah nyelam, baru tau asiknya :)
@Ely
Handal sih ng'gak. Tinggal klik aja kok, lha wong keindahannya udah langsung disuguhi alam di depan mata.
Sabar ya Ely, critanya lanjutnya, pasti muncul juga :)
@Ema
Kuta-Tulamben/Amed bisa 2-3 jam'an, tergantung kecepatan ngemudi. Jaraknya sendiri sih kira2 150an km. Tapi udah ada jalan baru kok yg lebih lebar en memperpendek jarak.
Kelamaan di jalan? Jangan takut,
vieuw sepanjang jalan juga oke punya.
Bisa juga snorkling di sana kalo 'gak mau diving.
@Dian
Aku belom pernah ke Phuket, tapi bener seperti kamu bilang, kalo tempat yg keren di Bali mah banyak.
@Iwok
Thanks Wok.
Hmmm... siapa tau ada juga produser yg bakalan tertarik ama crita "Petualangan Since" :D
Sabar ya Wok, aku bikin PR dulu nih.
Amed aku kangen dikauuuu..huaaahh..Taun 2002 gw ke Amed 2 hari (dulu masih sepi, sekarang jugakah?) , snorkelen disana..keren pisan ya Sin ;) rasanya gak mau keluar dr air..jernih banged airnya.
Sate lilitnya kok kecil yak :D itu mah seporsi buat gw sendiri..wakakakkkk..
Bagusnya Bali...*mengheningkan cipta, kapan tau gw mo balik ke Bali*..
sate lilitnya menggodaaaaaaa!! hueheuheu...
Sungguh aku ga pernah tau lho kalau lautan di sekitar pulau bali itu banyak ikan yg lucu n unik seperti di foto kamu itu... pantes aja temenku seneng banget diving hehehe...
Waaooow pemandangan alamnya indah bener Sin, ini deket daerah mana? boleh buat ide next time kalo ke bali:) fotonya keren abies:) sate lilit aduuh jadi laper liatnya, dilombok juga enak neh sate yg ginian:)
Post a Comment