Ini dia tujuan kami ke Poland, untuk menghadiri pernikahan Kasia, gadis Poland yang merupakan satu dari teman baik saya.
Kami langsung disambut hangat begitu tiba di villa orang tua Kasia di Przyszowa, sebuah desa kecil yang indah di daerah perbukitan dengan satu gereja Katolik, satu supermarket, tiga toko, satu beauty salon dan satu bengkel di pusat desa.
Przyszowa... ya.. saya sering mengalami kesulitan menyebut nama-nama tempat di Poland, yang menyebabkan begitu sering kami harus terpingkal-pingkal di mobil. Penyebabnya adalah karena kami tidak menggunakan GPS navigation dan sering kali kami mengambil jalan-jalan pedesaan, saya selalu duduk sebagai navigator di samping Reinier. Begitu kami melewati suatu tempat dalam rute kami, Reinier akan bertanya, kota berikutnya? atau selanjutnya? Maka jawaban saya... hmmmm... sebenarnya sih saya tau arah kita, tapi saya tidak bisa menyebutnya.. Pokoknya lihat saja di papan itu mulai dengan Z dan berakhir dengan WICE. Katakanlah bagaimana saya harus menyebut Zdzieszowice atau Pszczyna? Kadang untuk mempermudahkan, kiri kiri, pokoknya lurus saja, kanan... ups.. maksud aku kanan yang sebelah sana.
Belepotan nih navigatornya. Kadang kami harus berhenti sebentar untuk memperjelaskan pada si juru mudi kota apa yang saya maksudkan!!Berhubung saat itu di luar musim liburan, camping site yang ada di sekitar sana kosong melompong. Kami adalah satu-satunya tamu di sana. Wah ngeri juga berada sendirian di tempat yang tidak kami kenal. Maka kami putuskan untuk memarkirkan caravan kami di halaman samping villa orang tua Kasia yang cukup luas itu. Listrik tinggal ditarik dari colokan di dalam rumah sementara keran air juga terletak tidak jauh dari caravan. Juga saya hanya perlu melangkahkan kaki ke dalam rumahnya jika hendak bertemu Kasia untuk beberapa keperluan sehubungan dengan prosesi pernikahannya. Sempurna.
Kami benar-benar dilimpahi dengan keramahan dan makanan oleh keluarga Kasia. Bayangkan saja, pernah sekali saya masuk ke rumahnya dan keluar dengan sepiring penuh kue. Asyiiik.. teman buat minum kopi sore. Eeehh... setengah jam kemudian Reinier membutuhkan sesuatu ke dalam rumah dan keluar kembali ke caravan juga dengan sepiring penuh kue!!! Lho... kita kan masih punya banyak kue, kata saya. Iya, tapi saya tidak diberi kesempatan untuk mengatakan tidak, jawab Reinier. Waaahhh... banjir kue deh. Pokoknya setiap kali masuk ke dalam rumah pasti langsung ditawari sesuatu atau langsung disuguhi sesuatu.
Prosesi pernikahan di sana juga berlangsung unik.
Siang hari setelah makan siang, pengantin lelaki menjemput pengantin perempuan, namun sebelum bertemu pengantin perempuan, pengantin lelaki dicegat di "gerbang pita" oleh saudara lelaki pengantin wanita. Gerbang yang dibuat dari dua pohon pinus sebagai tiangnya dan digantungi pita melintang.
Di gerbang pita ini pengantin lelaki diuji secara fisik dan intelektualnya, dan membayar beberapa zloty (mata uang Poland). Yang pasti jadinya lucu-lucuan, misalnya uji fisik dengan mengangkat barber seberat 5kg sebanyak 10 hitungan, yang ternyata barbel itu hanya lapisan plastik bagian luar saja. Dan menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti berapa ukuran sepatu pengantin wanita, dll.
Yang kemudian menjadi sangat lucu adalah ternyata saudara lelaki Kasia, juga menyiapkan pengantin palsu, salah seorang sepupu lelakinya yang berkostum pengantin menyamar menjadi Kasia. Tentu saja gelak tawa makin kencang di antara tamu dan saudara.
Terakhir Kasia dijemput saudara lelakinya dan membawanya menemui calon suaminya, dan pita yang melintang itu digunting masing-masing sebagian hingga putus.
Acara selanjutnya adalah pemberkatan oleh para orang tua kedua belah pihak dan kemudian menuju gereja.
Nah, perjalanan ke gereja ini juga unik sekali. Karena beberapa kali iringan pengantin ini diberhentikan di tengah jalan oleh kelompok-kelompok masyarakat. Ternyata merupakan kebiasaan di sana, para penduduk desa selalu merencanakan penghadangan pengantin. Dan iringan pengantin baru diloloskan jika sudah "membayar" dengan vodka. Penghadangan ini dilakukan tidak dengan semena-mena dan seenaknya saja, melainkan dengan rapi dan selalu dengan skenario. Skenarionya juga berbeda-beda pada tiap kelompok.
Penghadangan yang pertama oleh sekelompok orang yang menyamar menjadi polisi lengkap dengan mobil hitam yang ditempeli tulisan tangan, polisi dan dengan seragam dan topi yang mirip milik polisi lengkap dengan pentungan plastik dan senjata. Mereka menghentikan mobil dengan alasan bahwa mencurigai pasangan pengantin ini sebagai penyelundup.Penghadang kedua adalah seseorang yang memberhentikan mobilnya ditengah jalan seolah-olah kehabisan bensin dan harus diisi dengan vodka. Hahaha...
Penghadang ketiga, lucu sekali, mereka memakai kostum orang desa jaman dulu lengkap dengan bayi (orang dewasa berkostum bayi) dalam baskom untuk dimandikan dan tali jemuran yang lengkap dengan jemuran pakaian dalam jaman kuno yang terentang menghalangi jalan. Hahahahaha... sakit perut saya di sini karena tidak bisa berhenti tertawa.
Penghadang keempat adalah sekelompok anak-anak yang bermain bola di tengah jalan, lengkap dengan gawang mininya dan seragam pemain sepak bola. Anak-anak tentu saja tidak diberi vodka melainkan sekantong permen. Dan, manisnya, mereka juga menyiapkan setangkai mawar merah untuk pengantin.
Sementara penghadang kelima adalah seorang pemabuk.
Saat saya bertanya pada saudara lelaki Kasia yang kebetulan semobil dengan saya, tahukan mereka kira-kira ada berapa penghadang. Jawabnya, kamu hanya akan tahu saat kamu sudah tiba di gereja. Selalu merupakan kejutan.
Dan mereka melakukannya juga dengan rapi dan tanpa menghalang pengendara lalu lintas, kecuali jika mobil pengantin sudah di depan mata.
Tiba di halaman gereja, kedua mempelai disambut nyanyian dan pantun-pantun oleh sekelompok pemusik. Jangan tanya saya apa isi pantun itu karena saya sama sekali tidak mengerti isinya.
Prosesi pernikahan di gereja sama seperti prosesi pernikahan layaknya. Gerejanya indah sekali. Kecil tapi indah.Selesai prosesi, saat pengantin melangkah keluar dari dalam gereja dan.... bukannya disirami dengan potongan kertas berwarna atau bunga tapi... gedubrak... mereka disirami dengan koin-koin duit kecil. Saya sebut gedubrak, karena sempat melihat Kasia mengusap-usap dahinya.
Koin-koin ini harus dipungut habis oleh kedua mempelai dibantu dengan sepupu-sepupu mudanya. Begitu koin yang terakhir selesai dipungut... eehh ternyata ada yang iseng menghamburkan koin-koin lagi.... hahahaha... sibuk lagi mereka memunguti koin-koin itu. Ahhh... sakit perut kami, para tamu dan saudaranya, kebanyakan ngakak.Pemberian ucapan selamat pada pengantin dilakukan di halaman gereja ini. Dan ucapan selamat itu hanya diberikan pada kedua mempelai. Tidak pada orang tuanya atau saudara-saudaranya.
Memberikan buket bunga sebagai kado pada pengantin juga merupakan kebiasaan di sana. Wah..wah... bisa buka toko bunga instant kalau saya lihat tumpukan buket yang mereka terima dari para tamu dan saudara.
Acara dilanjutkan dengan resepsi di sebuah restaurant. Berbeda dengan Belanda yang resepsi hanya dengan minuman dan camilan dan makan malam dengan saudara dan teman dekat. Lebih mirip dengan di Indonesia, bahwa semua tamunya diundang dalam perjamuan. Bedanya, di Indonesia hanya satu babak perjamuan, sementara di Poland berbabak-babak. Pesta dimulai sekitar jam 18.00, hidangan pembuka diedarkan, kemudian lanjut dengan hidangan utama, misalnya sepotong gede ayam panggang lengkap dengan kentang goreng dan sayur, dilanjutkan dengan acara dansa, kemudian kembali ke meja makan untuk babak kedua, daging panggang dengan kentang puree dan sayur, kembali ke lantai dansa.... kembali lagi ke meja makan... 6 babak!!!!! Yang artinya enam kali makanan utama dalam porsi normal!! Sementara kue-kue dan buah juga tersebar di setiap meja. Selesai babak kedua saya benar-benar tidak sanggup lagi menyentuh makanan pada babak selanjutnya.
Vodka bergulir seperti air putih.Untuk urusan vodka, saya terpaksa berlaku "curang", gelas minuman saya sering saya isi dengan air putih atau sprite (sepintas tidak kelihatan gelembung-gelembungnya), sehingga setiap kali ada yang beredar dengan botol vodka untuk mengisi gelas-gelas tamu yang hendak diajak bersulang, selalu berkata, ah gelas kamu sudah diisi. Yup, saya sama sekali tidak berencana untuk bangun pagi dengan sakit kepala.
Selain dansa, lantai dansa juga dimanfaatkan untuk permainan berkelompok. Lucu dan selalu mengundang tawa. Pengantinnya juga terlibat aktif dalam kedua acara ini. Jadi tidak hanya duduk pasif dan menjadi "tontonan" seperti kebanyakan pengantin di Indonesia

Pesta berlanjut hingga jam 4 subuh. Dan... jam 2 siang pada hari yang sama pesta berlanjut kembali hingga kira-kira jam 1 malam!!! Yup, 2 hari pesta, walau pesta pada hari kedua terkesan lebih santai dan casual. Dan.. masih juga dengan 6 babak makanan!!! Teler abisss! Saya bahkan tidak ingin menyentuh makanan pada hari berikut setelah pesta hari kedua itu.
Pada hari kedua ini saya melihat banyak wajah yang muda-muda dengan mata yang hampir menyerupai x alias kebanyakan minum. Satu yang saya ancungi jempol, walau kebanyakan minum, mereka sama sekali tidak terbawa emosi yang memancing masalah atau melakukan hal yang aneh-aneh. Mereka tetap sopan. Malah jadi ajang ngakak dari meja ke meja.
Dan, walaupun kami tidak bisa berkomunikasi dengan orang tua Kasia, karena perbedaan bahasa, namun bahasa Tarzan, bahasa tubuh dan bahasa senyum berjalan lancar dan dengan yang muda-muda kami dapat berkomunikasi dalam bahasa Inggris.
Ah... senang sekali berkesempatan ikut terlibat dalam perayaan pernikahan ala Poland ini. Meriah.
Bersambung..
Berhubung Auschwitz tidak berada jauh dari rute perjalanan kami, maka Auschwitz yang terletak di Oświęcim, Poland, juga ada dalam daftar tempat yang akan kami kunjungi.
Sejarah dimana manusia menjadi begitu rendah harkat dan martabatnya, yang selama ini hanya saya baca lewat buku-buku dan menyaksikan lewat dokumenter di tv atau adegan film, kini saya berjalan di antara dinding-dinding batu yang menjadi saksi holocaust itu. Saksi semua kekejaman, kegilaan, ketakutan, kebencian, kesedihan...

Auschwitz II - Birkenau lebih terlihat seperti puing-puing, karena kebanyakan baraknya sudah dibakar oleh tentara Jerman pada masa itu ketika jarak tentara Rusia tidak jauh lagi dari mereka.
Praha, kota ratusan menara ini ada dalam rute perjalanan kami dan sudah pasti juga menjadi salah satu tujuan kami kali ini.
Museum Nasional Praha di malam hari. Sepertinya foto ini termasuk foto sejuta umat deh, karena selain saya ada juga beberapa fotografer yang sibuk dengan tripotnya. Museum ini hanya kami nikmati dari bagian luarnya saja, tanpa ada keinginan untuk menengok isinya.
Kemudian berputar-putar sebentar, di dalam keramaian para turis di pusat kota, mengunjungi jembatan Charles yang membentang di atas sungai Vltava, sungai terpanjang di Czech. Sampai sempat-sempatnya naik sampai ke puncak menara yang ada di ujung jembatan untuk menikmati suasana sekitar dari ketinggian. Ada dua menara di masing-masing ujung jembatan. Kami mendaki menara yang ada pada sisi kota tua.
Keesokan hari, bangun kesiangan, santai menikmati sarapan di bawah mentari pagi yang hangat, berleha-leha, jam 11 baru melangkahkan kaki ke halte bus.
Kami hanya mengunjungi
Ronde kedua, saat sedang asik menunggu pesanan kami sembil menikmati minuman ringan dan sepotong roti dengan kruidenboter, muncul lagi itu mobil dari kejauhan. Waahhh... buru-buru deh kami menutupi keranjang roti dengan lembaran kertas tisiu yang ada dan menutupi minuman-minuman kami. Para penghuni meja di sebelah kami hanya menatap kami dengan tatapan geli, heran bin ajaib. Dan... hahaha... setelah kena gerimis tipis air dari mobil itu baru deh ngeh mereka. 
Bebek panggang pesanan saya. Agak kering tapi rasanya oke banget. Disajikan dengan kol asam dan roti kukus dan dumplings, yang merupakan makanan khas di sini.
Menyusuri
Menurut informasi, ada 30 buah patung yang menghiasi jembatan ini. Tapi mungkin cuma 5 yang sempat saya perhatikan. Sisanya, saya lebih asik memperhatikan para seniman jalanan dan kelakuan para turis serta pemandangan sekitar jembatan itu.
Berada di tengah old town square, mengagumi arsiktektur bangunan-bangunan kuno yang masih berdiri megah sekaligus kegerahan karena temperatur udara yang lumayan bikin lengket dengan keringat.
Trdelnik, kue yang merupakan ciri khas di old town square. Kue ini mirip roomhoorn. Yang uniknya adalah kue ini dibakar ala bbq, jadi langsung dibakar di atas arang seperti membakar ikan. Rasanya tidak terlalu manis, juga tidak gurih dan tidak berisi vla seperti roomhoorn. Hambar, menurut lidah saya.
Sekitar menjelang pukul 6 sore, tampak tumpukan orang-orang di depan jam ini. Ada apa gerangan? Ternyata tepat pada pukul 6 patung-patung kecil di sekitar jam itu bergerak secara mekanis.
Makan malam di sebuah restaurant di pojokan kota tua. Restaurant yang kecil, simpel dengan wine yang enak dan goulash (daging sapi yang dimasak hingga empuk dalam saus paprika dan tomat) yang super lezat, dan dihidangkan dengan empat jenis roti kukus. Hmmmm... tanpa malu-malu menandaskan piring sampai licin.. cin!!
Setelah makan malam segera bergegas kami menuju kembali ke jembatan Charles karena saya ingin mengambil gambar kastil Praha saat twilight.
Capek juga hampir seharian mengelilingi sebagian kecil kota Praha. Tampang semakin kuyu seiring dengan betis yang semakin pegal. Saatnya untuk kembali ke caravan, beristirahat, karena besok kami harus melanjutkan perjalanan ke Poland.
Yup, berlibur ala berkicot judul kali ini, alias berlibur dengan caravan. Sudah lama banget kami merencanakan berlibur gaya gipsi ini. Cara berlibur yang baru bagi saya. Sebelumnya saya belum pernah berlibur bawa-bawa cangkang eh... caravan begini. Berbeda dengan si Yayang, karena ini adalah warna liburan yang sudah dilakoninya sejak masih bayi dulu. Maka kami memutuskan untuk berlibur di Eropa timur dengan caravan.
Tadinya sempat mikir, antara
Aih... maap... maap... sodara-sodara, isi caravan yang berantakan begini juga dipamer-pamer
Jadi serba praktis, rak jadi jemuran handuk. Keranjang baju kotor diganti dengan kantong plastik gede yang sudah dibolong-bolongi dengan garpu. Tempat sampah dari kantong plastik apa saja yang bisa dijangkau. Kantong sampah dapat dengan mudah disetor ke tempat sampah yang terdapat pada setiap caravan park atau pom bensin.
Mau ngopi? Tinggal berhenti di tempat parkiran dengan pemandangan yang asik dinikmati, didihkan air, seduh kopinya dan... sluuurp... Bahkan sempat kami kemalaman di daerah antah berantah dan perut sudah merintih minta diisi, tinggal hentikan mobil, segera buat roti isi dengan telur mata sapi dan sosis goreng, dalam tempo kurang dari 10 menit, siap makan malam darurat yang bisa kami santap sambil jalan. Jangan salah, bukannya tidak ada restaurant yang bisa ditemukan, tapi kami yang tidak memiliki banyak waktu saat itu.
Camping site kami yang pertama terletak di tepi danau Möhnesee, Jerman. Tempatnya lumayan indah dengan pemandangan langsung ke danau, tapi ruas jalan dan tempat untuk memarkir caravan sempit banget.
Keesokan pagi kami mengalami sedikit kerepotan untuk mengeluarkan caravan dari tempat parkirnya. Lihat saja penampakan dari foto di atas itu. Terpaksa caravannya harus secara manual, alias dengan kekuatan tubuh sendiri, ditarik keluar dari tempat parkir ke arah posisi yang tepat untuk digandeng pada mobil. Bah, mending kalau tempat parkirannya rata, ini rada miring, jadinya berat abis kalau pas posisinya harus ditarik ke tempat yang lebih tinggi. Untung kami juga dibantu oleh dua penghuni di camping site itu. Weeiih.. bisa penuh otot nih tubuh kalau setiap hari selama liburan mesti narik-narik caravan begini!!
Camping site yang kedua ada di Drognitz, Jerman, dulunya Jerman timur. Camping site yang paling saya sukai diantara keenam lainnya. Bahkan saya tidak keberatan untuk menghabiskan extra satu dua hari di sana. Sayangnya kami kali ini liburan kami agak terjadwal ketat dalam waktu. Tempat ini jauh dari mana-mana. Tidak ada restaurant di sekitarnya, kota kecil terdekat pun kira-kira setengah jam perjalanan dengan jalan yang kadang curam dan sempit. Dengan begitu roti untuk sarapan pagi juga harus kami pesan di lobby.
Namun tempat ini luas banget, hijau dengan lapangan rumput yang agak berbukit dengan pohon pinus yang menjulang tinggi di sekelilingnya dan sungai kecil yang bening yang mengalir di sisi padang rumput. Keren banget!!! Apalagi saat itu sudah berada di luar musim liburan musim panas. Jadi sepi, penghuni lain juga bisa dihitung dengan jari-jari tangan. Ah.. jiwa menjadi lepas, segar dan sejuk di sana.
Sarapan pagi, dengan roti dari lobby dan scrambled eggs dari dapur sendiri, tidak lupa juga.. crooot... crooot... sambalnya dong 
Camping site yang terakhir, tidak jauh dari Dresden, Jerman, sama sekali bukan tipe yang saya sukai. Camping site ini terlalu rapi, dan diatur dengan petak berpagar semak. Tipe camping site yang sering dijumpai di Belanda dan Jerman. Ya sudahlah, toch hanya untuk semalam.
Soal urusan perut, selain sesekali menikmati makanan setempat di restaurant, saya juga menyiapkan beberapa jenis makanan seperti nasi goreng, rendang, dan daging bumbu kecap dari rumah, masukkan ke fridge di caravan, dan tinggal dihangatkan saat hendak dimakan. Mudah dan cepat. Barbeque sudah tentu tidak ketinggalan, jika ada waktu dan cuaca cerah.
