Monday, August 27, 2007

Kebunku Studioku (1)

Yup, kebunku adalah studioku.
Dan mereka adalah para modelnya.

Monday, August 20, 2007

Vlasdag di Dreischor

Drieschor adalah sebuah desa di pulau Schouwen-Duiveland, Zeeland utara. Kira-kira 146km dari Amsterdam, 119,5km dari Utrecht, 138km dari Eindhoven, 434km dari Paris dan kira-kira 11.435km dari Jakarta Teethy

Biasanya alasan kami jika ke Dreischor adalah untuk mengunjungi Tonnie atau untuk diving. Tapi Sabtu kemarin kami alasan kami untuk mengunjungi Dreischor adalah Vlasdag.

Vlasdag adalah tradisi tahunan di Dreischor, setiap Sabtu ke-3 di bulan Agustus, untuk mengenang masa-masa dimana vlas memegang peranan penting bagi perekonomian kampung itu.
Vlas atau flax atau linseed adalah sejenis rumput yang merupakan bahan dasar linen.

Seluruh kegiatan vlasdag terpusat pada pusat desa, di sepanjang jalan yang melingkari gereja tua desa itu.
Ada juga layanan bus kuda, kereta yang cukup panjang yang ditarik oleh kuda, yang mengantar para pengunjung dari tempat parkir resmi menuju pusat desa.
Tapi maklum saja karena kami memarkirkan mobil pada sisi lain dari desa, maka kami harus berjalan kaki kira-kira 1km menuju pusat desa.

Kegiatan yang ditemui dalam Vlasdag adalah setengah pameran dan setengah pasar.
Tapi sejujurnya kesan pertama yang saya temui Sabtu kemarin adalah, alamak ini sih pasar loak :P
Ya iya-lah bagaimana tidak, mata saya langsung menangkap sederetan tikar dan meja yang menggelarkan barang-barang bekas untuk dijual di depan rumah-rumah penghuni di sana dalam perjalanan kami menuju ring pusat desa.

Saling melirik dan dua-duanya langsung menanyakan pertanyaan yang sama, apa Vlasdag itu semacam rommelmarkt tahunan?
Rommelmarkt atau flea market atau pasar loak, biasanya diadakan lokalan setahun sekali dengan bermacam-macam tujuan.
Yang pasti, kami berdua tidak pernah tertarik pada rommelmarkt.

Untunglah saat kami tiba di ring pusat desa kami segera melihat beberapa tenda dengan live show.
Misalnya di samping tenda penjual bakiak Belanda alias klompen, sementara si ibu menjual klompen, si bapak menggelarkan bengkel kerja mini dan langsung membuat klompen dari batang kayu yang masih kasar. Dipotong-potong kemudian sampai membentuk klompen, bagaimana lubang untuk memasukan kaki dibuat, kemudian klompen tersebut dihaluskan.

Di tenda pedagang keranjang, para pengunjung bisa langsung melihat bagaimana si bapak itu menganyam keranjang.

Di tenda gerabah, selain hasil buatan yang berupa mangkuk, piring, vas dan lain-lain yang dijual, si bapak duduk di samping counter sibuk beraksi membentuk segenggam tanah liat menjadi pot.

Kemudian bertemu kereta kuda yang dipakai untuk membawa anak-anak berkeliling.

Ada juga tenda tentang hasil pertanian di sana. Tadinya bagi saya kentang adalah kentang. Walaupun saya juga tahu beberapa jenis kentang, misalnya kentang yang manis, jenis kentang untuk stampot, jenis kentang untuk friets, dan jenis kentang untuk perkedel.
Tapi jenis-jenis kentang sebanyak yang tertera di atas meja itu.. wah...

Tiba juga akhirnya di bengkel Vlas. Sekaligus juga ketemu Tonnie di sana, jadilah Tonnie guide kami untuk menerangkan semua aktivitas di bengkel tersebut.


Di bengkel vlas ini mereka menyajikan cara mengerjakan rumput vlas kering hingga menjadi serat-serat yang siap dipintal dan di tenun menjadi kain linen dengan menggunakan mesin-mesin dari tahun 30-an.

Bisa dikatakan mereka memanfaatkan semua bagian dari rumput vlas yang telah dikeringkan.
Bagian pucuk dihancurkan hingga mendapat biji-biji linseed. Biji-biji ini kemudian digunakan untuk menghasilkan minyak atau dibuat biskuit makanan ternak.
Bagian batang rumput vlas digunakan sebagai penghasil serat kain.
Dan bagian serat-serat yang kasar dikumpulkan untuk kemudian dipress, dijadikan "papan" untuk bagian-bagian dari mebel.

Setelah puas mendengar dan klik sana klik sini kami melanjutkan acara keliling-keliling. Ada tenda yang isinya tali temali, kain dan macam-macam karya lainnya dari vlas atau linen.
Ada tenda urusan merajut dan segala macam urusan yang berbau benang dan kain.
Wahh.. kalau urusan yang beginian sih mending saya menyingkir cepat-cepat dah sebelum mabok melihatnya.
Urusan merajut, menyulam dan saudara-saudaranya sungguh seperti kutukan si Sleeping Beauty. Bukan urusan dengan beauty, tapi dengan sleeping. Begitu melihat benda-benda ini saya langsung menjadi ngantuk.

Group paduan suara juga tidak ketinggalan ikut menyemarakkan suasana dengan melantunkan lagu-lagu gembira yang kebanyakan merupakan lagu daerah setempat di halaman gereja.

Lanjut lagi jalan-jalan, ada tenda pembuat kartu ucapan, tenda yang menjual sirup, selai dan madu, tenda yang penuh dengan mainan anak-anak yang serba kayu, pembuat wine, tenda penjual mobil-mobilan, ...

Dan... Ah... ternyata ada banyak juga yang menjual barang bekas di seputaran ring pusat desa ini.
Ada barang yang masih dalam kondisi yang sangat baik, bahkan mungkin masih baru. Ada yang memang sudah tua tapi terawat dan kadang kesannya udah antik banget. Tapi kadang ada juga yang.... bikin takjub, misalnya panci yang sudah tua dan terkelupas di sana-sini. Alamak, tega amat yang ngejual barang yang sudah seperti begitu. Yang lebih bikin takjub kwadrat lagi, ada juga yang mau beli!!! Bug Eyed

Kalau barang bekasnya masih bagus kondisinya sih hayoo aja, silahkan dijual kembali. Tapi kalau kondisinya sudah parah, walah... benar-benar aji "who knows".
Ternyata budaya sebagian orang Belanda tuh adalah bukannya membuang barang bekas tapi dijualnya kembali. Sukur-sukur ada yang mau beli. Hehe.. tidak mau rugi Teethy
Tapi yang beli barang bekas dengan kondisi seperti itu kira-kira mau diapain ya?? Bodo ah..

Urusan makanan?? Sudah tentu tidak terlepas dari incaran kami. Setidaknya ada 3 tenda makanan yang sempat kami singgahi. Blushy 2

Ah..perut sudah kenyang, kaki sudah pegal, saat untuk pulang.

Thursday, August 16, 2007

Suatu saat di dalam air di Grevelingen

PERINGATAN!!!
WARNING!!!
HANYA UNTUK DEWASA!!!
ADULT CONTENT!!!
Smile

Ya sudah, pokoknya sudah saya ingatkan, jadi resiko ditanggung sendiri lha ya.

Cerita kali ini masih berhubungan dengan cerita kali yang lalu, jadi bisa juga disebut catatan liburan yang tersisa.
Seperti yang sudah saya jelaskan kemarin-kemarin, saat ini suhu air sudah di atas 17ºC, maka menurut saya adalah waktu yang tepat untuk nyebur di laut Belanda. Tapi, berhubung dengan kondisi arus pasang surut yang lumayan kencang, maka jika kami ingin menyelam 2 kali sehari, kami harus menunggu sekitar 5-6 jam di antara waktu menyelam, menunggu air pasang atau air surut.
Kami memutuskan untuk melakukan sekali penyelaman saja dalam sehari, Selasa dan Rabu, sehingga kami juga memiliki waktu yang cukup untuk hal-hal yang lain.

Selasa siang setelah mengisi tabung selam kami dengan udara kami langsung tancap gas menuju Wemeldingen di perairan Oosterschelde.
Segera merakit peralatan selam kami dan berjuang mengenakan wetsuit (waduuh.. sebenarnya saya malu juga sama wetsuit nih, seandainya dia bisa ngomong, pasti dia sudah menjerit: Hoooi.. diet donk, kesiksa nih gue!!! Shy Whistler ), kami mulai mendaki dijk untuk bisa mencapai bibir pantai. Dijknya sendiri sebenarnya tidak tinggi-tinggi amat, tapi dengan costum selam setebal 7mm plus 6kg pemberat, plus tabung yang beratnya sekitar 15kg di punggung, belum lagi senter dan kamera. Waahhh... lumayan...

Begitu kepala ini masuk ke dalam dunia dalam air, perasaan kok ada yang tidak beres nih, kok saya tidak melihat Reinier ya? Padahal dia ada tepat di samping saya.
Ah.. coba makin ke dalam saja, biasanya makin dalam bisa makin lebih baik jarak pandangnya.
Tapi ternyata tidak, saudara-saudara!!! Tetap saja SUPER BUTEK-TEK-TEK-TEK!!!
Bayangkan saja kalau jarak pandangnya kurang dari 1 meter!!!
Tapi dasar ni orang dua, walaupun butek begitu masih juga bertahan 30 menit di dalam air!!! Hysterical

Setelah kembali ke darat, kata Reinier, ugh buteknya aku 'gak ngeliat apa-apa.
Kata Since, gile tu butek, kok mau-maunya aku dive di sini ya?? Tapi tadi banyak bener kreft yang gede-gede.
Hah??? Elo masih sempet liat kreeft??
Hehe.. iya.. untung saja hidung ini 'gak dijepit ;))

Tapi beneran tuh butek, sampe bikin foto saja harus berjuang, Mesti close up bener!! Itu pun kalau si obyeknya 'gak keburu kabur duluan.
Yang jadi hanya bisa dihitung pake jari sebelah tangan.

Tuh, si kreeft di atas sama si kepiting di bawah ini hasil dari berjuang di dalam butek. Kelihatan kan buteknya.


Tapi air lautnya sendiri ternyata 'gak dingin-dingin amat, 20ºC. Saya malah sempat membuka zipper wetsuit saya saat kami berjalan menuju tempat yang dangkal dan membiarkan air laut menyentuh langsung kulit saya. Segarnya!!!
Untung juga matahari bersinar terik, sehingga angin tidak membuat saya menggigil karena basah.

Kesokan harinya kami memutuskan untuk menyelam di Den Osse yang terletak di perairan Grevelingen. Klik di sini nih kalau mau tahu lokasi-lokasi dive di Zeeland.


Sengaja memang kami memilih perairan Grevelingen karena pengalaman dive sehari sebelumnya yang butek itu.
Perairan Grevelingen merupakan danau air laut yang terbesar di dunia, yang tadinya masih berhubungan langsung dengan North Sea, sehingga pengaruh pasang surut tidak berpengaruh dan visibility air cenderung lebih baik dari di perairan Oosterschelde.

Sayang hari itu tidak secerah hari sebelumnya, temperatur udara pun turun beberapa derajat.

Gini nih gayanya si Since sedang mengumpulkan perkakasnya pada satu tempat supaya gampang dipungut nanti.

Begitu masuk ke dalam air, langsung disuguhi pemandangan adegan untuk 17 thn ke atas.
Kepiting yang sedang menunaikan salah satu panggilan hidupnya, membuat generasi penerus speciesnya, agar tidak punah dari muka bumi ini.

Inilah mereka, wajah-wajah penghuni yang lain.
Walaupun sebenarnya, kepiting, udang, teritip dan anemone kecil mendominasi wajah penghuni di sana.

Ups... Yang ini tidak termasuk kategori penghuni laut ya, dia hanya pengunjung Teethy

Nah ini dia!!! Pasangan kepiting yang sudah mempelajari kamasutra. Baru pernah saya melihat kepiting bercinta dalam posisi seperti ini!!!

Supaya tidak terpisah di dalam air akibat jarak pandang yang terbatas, kami berdua selalu memakai buddy line, tali yang ujung-ujung terpasang pada pergelangan tangan kami masing-masing.

Ah.. satu jam lebih sudah berlalu, jarum di presure gauge (pengukur tekanan udara yang tersisa di dalam tabung selam) saya pun sudah menunjukkan kurang dari 50 bar, sudah waktunya menyudahi penyelaman kami.

Kembali saat berdiri di dekat air dangkal saya membuka zipper wetsuit saya sekedar merasakan sensasi suhu air laut. Hmmm... lekker... tapi begitu berdiri tertiup angin.. brrrr..... dingiiiinnn... cepat-cepat nyungsep kembali ke dalam air sambil membenarkan zipper sebelum keluar dari dalam air.

Setidaknya penyelaman kali ini cukup menghibur kekecewaan penyelaman sebelumnya gara-gara butek.

Monday, August 13, 2007

Catatan Liburan

Berhubung Reinier wajib mengambil liburan musim panas maka tema minggu kemarin ya tidak jauh dari urusan libur berlibur.

Ke mana kali ini??
Liburan musim panas biasanya ramai di mana-mana dan harga-harganya pun selangit dibandingkan dengan musim di luar peak season. Hmmm.. males ah ngebayangin ramenya, males juga ngebayangin mesti ngerongoh lebih dari kocek untuk membayar harga-harga extra karena alasan klise, high season prices.

Terus, ngapain donk??
Yang simpel tapi menyenangkan.
Yang tidak perlu mengosongkan dompet secara berlebihan, tapi tetap meriah.

Ya, apa donk??
Hehe.. sepedaan aja yuk, mumpung cuaca lagi bagus dan saya sedang bersemangat merambah dunia dengan sepeda.

Jadilah kami bersepeda menyusuri fietsroute yang ada di sekitar tempat tinggal kami. Siap-siap kooltas, isi dengan juice, sekotak geda isi semangka merah yang manis dan ranum, dua potong kit kat, sebotol air minum dan tentu saja tidak lupa kotak es batunya. Iya lah, percuma bawa kooltas kalau lupa esnya kan? Teethy
Tidak lupa juga bekal makan siangnya.

Keluarkan sepeda. mulailah petualangan!!
Merambah route ke Best, kemudian mengambil arah Liempde dan berbelok kembali ke arah Son.


Saking bersemangatnya tidak kira-kira sudah 30km jarak yang kami tempuh!! Pantesan saja saya udah mulai lemes dan pegel begini. Lihat peta, masih ada kira-kira 3km lagi!! Waaaaahhh...
Bahh... 3km terakhir serasa seperti tidak ada akhirnya Too Funny
Hasil tiba di rumah??? Puas tapi ramai menyeringai karena nyeri dan pegal berat pantat ini!!!! (Uiiih... pantat pegelnya terasa sampe hari ke-3 setelah bersepeda.


Segera setelah tiba di rumah, bentangkan kursi malas di bawah rindang pohon di kebun belakang dan segelas bier super dingin yang ditegak dengan penuh napsu... waahhhh segaaarnyaa... tidak terasa malah ketiduran setengah jam setelahnya, untung tidak di-poep burung-burung yang sibuk menyantap buah-buah di dahan-dahan atas sana!! Hysterical

Terus ngapain lagi donk, masa seminggu liburan hanya bersepeda saja?
Ya eng'gak lah. Juga beberesan ini itu di rumah yang sering 'gak dikerjakan dengan alasan yang manusiawi banget, belum sempat, belum ada waktu, cuaca 'gak mendukung, males, de es be.
Nah.. mumpung libur, cuaca mendukung, acara ngelunasin hutang untuk beberesan rumah harus jalan donk.

Kemudian... ngapain lagi setelah bersepeda sampai sakit pantat dan jadi tukang di rumah sendiri?
Njemput pasport yang sudah selesai diperpanjang di KBRI di Den Haag.
Wah, cepat juga urusan perpanjang pasport ini, belom juga seminggu setelah acara ngelapor paspor sudah ampir kadaluarsa, sudah ditelpon oleh ibu yang duduk di bagian urusan pasport Indonesia itu, katanya pasport barunya udah siap. Wah.. siiip!!! Thumbs Up
Hehehe... ketawa juga melihat foto di pasport baru ini, kalau begini sih petugas imigrasi di gerbang Schiphol 'gak akan meragukan lagi kepemilikan pasport saya.
Iya lah, saya sering diplolotin lamaaa gara-gara foto saya yang 5 tahun yang lalu itu masih ramping dan imut (yang terakhir ini sih berdasarkan kepercayaan diri sendiri yang berlebihan Too Funny ). Nah foto yang baru ini benar-benar jelas menunjukkan ketembeman saya saat ini. Hahaha... jadi punya alasan juga untuk tidak diet sampai lima tahun mendatang!! Biar tetep sama dengan foto di pasport!!!

Dari Den Haag langsung kami menuju hotel Mertua Indah di Goes.
Lha??? Liburan kok malah ke tempat mertua sih? Gak bosan tuh, kan udah sering ke tempat mertua.
Memang sering kami melewatkan waktu di tempat mertua, tapi Zeeland (propinsi di mana Goes terletak) sendiri juga menarik untuk dikunjungi.

Lantas ngapain aja di Goes?
SHOPPING!!!
Shopping???
Yup!!! Shopping. Goes walaupun bukan kota besar tapi memiliki winkelcentrum (pusat pertokoan) di stad (pusat kota) yang menarik dan gezellig.
Yang pasti, saya selalu menemukan sesuatu yang menarik bagi saya di pusat pertokoan ini.

Nah, kalau sering menemukan barang yang cocok dengan kita, bukankah pusat pertokoan tersebut jadi sangat menarik bagi kita untuk dikunjungi?? Tapi kalau tidak pernah atau jarang menemukan yang asyik-asyik buat kita, ya ngapain juga ke sana. Tempat itu jadi tidak menarik dan tidak lengkap. Ya toh??

Pas ke pusat kota, pas sedang hari pasar, ramailah cuci mata kiri-kanan.
Dan hasil shopping??? Tentu saja ada. Yang pasti tangan-tangan ini masih mampu mengenggam tas-tas hasil belanjaan dan yang pasti kartu atm belom berteriak karena kena gesek Teethy


Kalau sedang musim panas begini dermaga di pusat kota Goes selalu penuh sesak dengan boat dan yacht. Mulai dari yang sederhana sampai yang wow (walaupun belum secanggih yang di film-film 007), mulai dari yang "antik" (kata yang lebih halus untuk menyebutkan "tua" untuk benda) sampai yang masih mengkilat, mungkin malah masih bau toko kalau ada yang mau mengendus-endus.
Kalau sudah ramai begini, semua orang jadi pengamat, alias saling mengamati. Yang di boat mengamati yang di darat, yang di darat mengamati yang di boat.

Trus... acara lainnya?
Diving, apa lagi??
Zomer, temperatur air sudah di atas 17ºC, waktu yang tepat untuk nyebur di laut Belanda.
Berhubung dengan kondisi arus pasang surut yang lumayan kencang, maka setidaknya jarak di antara penyelaman adalah sekitar 6 jam, menunggu air pasang atau air surut.
Bah... malas gonta-ganti baju, kami putuskan satu kali menyelam saja per hari. Kalau di perairan tropis sih 4-5 kali per hari pun dibelain. Hayooo aja. Di sini??? 'gak janji deh!!

Nah pas habis dive yang kedua, kebetulan ada snackbar di dekat lokasi selam, langsung saja kami serbu. Lha wong lapaaar.
Pas waktu masuk, saya langsung suka dengan interior snakbar itu. Manis dan hangat banget. Belum pernah sebelumnya saya lihat snackbar dengan interior semanis itu.
Pesen kibling (ikan goreng tepung) dengan friet (kentang goreng), sayangnya kiblingnya parah banget!!! Waahh.. heran... pede bener sih jualan kibling kayak gitu??? 'gak ada asin gurihnya, hanya rasa minyak goreng saja!!!!
Wah... langsung kami berikrar, pertama dan terakhir kalinya kami pesan kibling di snakbar itu!! Kentang gorengnya sih standard, maksudnya standard rasa kentang goreng Belanda, jadi okelah kalau memang sedang lapar dan tidak membawa bekal.


Kemudian, acara mengunjungi teman-teman lama yang sudah lama tak sua, atas nama sibuk, tidak punya waktu, jauh-jauhan tinggalnya. Yah.. teman-teman yang selama ini hanya sempat saling menjaga tali silahturahmi bersama lewat telpon menelpon saja.

Kemudian di ujung wiken acara cuti liburan musim panas kami akhiri dengan bbq di Sabtu siang, reuni bersama teman-teman semasa inburgeringscursus dulu bersama suami, pasangan dan anak-anak mereka.
Dan Minggu kemarin, merayakan ulang tahun Reinier secara sederhana bareng mertua yang juga berkunjung ke rumah kami.

Demikianlah liburan kami yang simpel tapi padat.

Sunday, August 05, 2007

Kisah Bocah dan Salamander

Alkisah di belakang rumah kakek terdapat dua kolam ikan. Kolam ikan yang besar terisi dengan ikan-ikan mas dan ikan-ikan koi, sementara kolam yang kecil yang terletak di pojok yang agak tersembunyi dibiarkan saja terisi air tanpa ikan. Kolam ini dibiarkan sebagai tempat bernaung salamander-salamander liar.

Sebenarnya tidak bisa juga dikatakan liar karena jika memberi makan ikan-ikan di kolam besar, kadang kakek dan nenek juga menaburkan sedikit makanan ikan di kolam kecil untuk salamander-salamander itu.

Hampir setiap wiken kakek dan nenek dikunjungi oleh cucu-cucu mereka, Kaka dan Ade.
Dan salamander-salamander merupakan daya tarik utama di halaman kakek dan nenek di mata bocah-bocah cerdas itu.

Pada suatu hari ketika saya sedang sibuk dengan aksinya membidik bocah-bocah ini dari balik lensa, saya tiba-tiba tertarik dengan kegiatan Kaka yang sedang mencoba menumpuk salamander-salamander itu menjadi satu.
"Sedang apa kamu, Kaka?" tanya saya dengan mimik yang heran.
"Ah... saya sedang mencoba mengawinkan mereka," jawab Kaka dengan mimik serius nan polos itu.
"HaaaaaShocked????" sambil menahan tawa... dan juga heran saya kembali bertanya, "Memangnya kamu tau mana salamander jantan dan malah salamander betina?"

Lha wong saya sendiri tidak tahu mana jantannya mana betinanya??? Hebat sekali ini bocah, begitu yang ada dalam benak saya saat itu.

"Oh iya... hehehe... tidak, saya belum tahu," jawab Kaka sambil meringis.
Ah bocah... saya hanya bisa menggaruk-garuk telinga yang tidak gatal dan melanjutkan aksi saya mencetak aksi-aksi mereka dalam cf-card.

Tak lama kemudian, saya melihat kakak beradik ini sedang kasak-kusuk dengan serius di pojok kebun dekat kolam salamander itu.
Beberapa menit kemudian, Kaka datang mendekati saya sambil membawa 2 ekor salamander di genggaman tangannya yang mungil.

"Since, yang ini satu jantan dan satu betina," serunya.
"Iya!!! Sudah saya cek kok, yang betina punya titik lubang kecil di dekat ekornya dan jantan punya bola kecil juga ada di dekat ekornya!!!" segera tanpa diminta Kaka memberikan penjelasan yang panjang lebar. Mungkin kerutan di alis saya terlalu kentara bagi si bocah ini.

"Astaga!!!! Jadi saat kasak-kusuk tadi itu kedua bocah ini memeriksa kelamin para salamander!!!" Faint

"Sekarang, saya mau mencoba kembali mengawinkan mereka!!" ujar Kaka bersemangat.
Ah.. poor... poor salamander. Apa yang bisa saya lakukan untuk menyelamatkan salamander di genggamannya itu dari keingin-tahuan dan semangat untuk berekperimen bocah ini.

"Kaka, kamu tidak boleh memaksakan salamander itu kawin," tegur saya.
"Mengapa???" Kedua mata itu memandang saya tidak puas.

"Apakah kamu yakin kalau mereka saling mengenal? Jika mereka tidak saling mengenal maka mereka harus berkenalan dulu, kemudian belajar saling mengenal, kemudian jatuh cinta, dan jika tiba saatnya untuk mereka kawin, mereka akan melakukan dengan sendirinya. Jadi kamu jangan memaksa mereka untuk kawin, mereka tidak akan melakukannya jika belum saatnya. Apakah kamu mau dipaksa mencium orang yang belum kamu kenal atau tidak kamu sukai?" saya mencoba memakai logika bocah daripada menerangkan pelajaran biologi yang panjang lebar tentang bagaimana hewan bereproduksi.

Akan jauh lebih efektif jika menerangkan dan menjawab pertanyaan bocah-bocah ini dalam bahasa, gaya dan mendekati logika mereka daripada harus menerangkan dalam bahasa dan logika saya. Dan logika bocah tidak berarti sebuah dongeng atau cerita bohong.


Kaka tercenung... berpikir sejenak...
"Okey Since, tapi saya biarkan saja mereka berdua di dalam ember kecil ini saja ya, biar mereka bisa saling berkenalan dan kemudian berteman." kata Kaka sambil memungut ember kecil yang tergeletak tidak jauh dari kaki-kaki kami.
Pffffeeeuuuuhhhh.... setidaknya bebaslah kedua salamander ini sejenak dari fantasi si bocah. Phew

Beberapa menit kemudian, ketika saya dan oma sedang berbincang-bincang ringan di pojok kebun, datang Ade dengan terburu-buru ke arah kami sambil berteriak, "Oma, Since, lihat!!! Aku baru saja menangkap satu salamander lagi. Dia laki-laki lho. Lihat, dia punya bola di dekat ekornya!!", sambil berusaha menunjukkan bola salamander yang ada di genggaman tangannya.

Tanpa perlu kata-kata, saya dan oma saling menatap dan mengerti apa yang ada di benak kami masing-masing : Doofus

Dengan cerdik oma bereaksi, "Ade, sejujurnya aku merasa kasihan pada salamander itu. Dia pasti sangat stress."
"Stress??? Mengapa??" tanya Ade mengejar dengan tatapan tidak mengerti.
"Bayangkan, bagaimana perasaanmu jika oma berjalan bersama kamu, kemudian oma bertemu teman oma dan berkata, hai ini Ade, cucu oma. Dia laki-laki lho. Ini buktinya, dan oma menunjukkan bolamu pada teman oma. Kamu pasti tidak senang kan?" tutur oma dengan dengan hangat, lembut, dan agak berkelakar namun tetap tegas dalam garis suaranya.

Ade diam, menerawang sebentar, kemudian tersenyum nakal memandang kami, senyum yang mengatakan: aku mengerti maksudmu, oma, dan terkekeh-kekeh sambil membawa salamander itu dan melepaskannya kembali ke kolam.

Ah.. bocah-bocah ini.. selalu dipenuhi dengan keingin-tahuan dan berusaha mencari jawaban pertanyaan mereka dengan gayanya yang lucu, polos dan nakal.
Bocah-bocah yang kadang membuat saya terkejut dengan pertanyaannya dan selalu berusaha untuk tidak terpingkal-pingkal mendengar jawaban dengan logika mereka yang polos.

Beberapa minggu yang lalu saat hujan turun dengan deras, halaman belakang opa dan oma di bagian yang rendah posisinya dimana terdapat kolam salamander itu, kebanjiran.
Kami semua berpikir, mungkin salamander-salamander itu menggunakan kesempatan ini juga untuk melepaskan diri dari kolamnya, setidaknya melarikan diri dari bocah-bocah ini.
Tapi ternyata tidak, salamander-salamander itu masih tetap mendiami kolam yang sama dan tetap menjadi teman bermain kedua bocah, setidaknya sampai kedua bocah merasa bosan bermain dengan salamander.

Light Bulb Sekedar informasi bagi pembaca yang belum mengenal salamander.
Salamander adalah kadal air. Namun kadal adalah reptil sedangkan salamander adalah amphibi.