Tuesday, February 28, 2006

Karnaval

Hari-hari terakhir ini gaung Karnaval terdengar ramai di daerah-daerah di Belanda dan sekitarnya. Karnaval adalah pesta sebelum masa puasa selama 40 hari, masa pra-paska. Tradisi yang dirayakan terutama pada negara-negara atau daerah-daerah Roma-Katolik. Hari Minggu, tujuh minggu sebelum Minggu Paskah merupakan Minggu Karnaval. Pesta ini biasanya dimulai pada hari Sabtu sebelumnya dan berakhir pada malam sebelum Rabu Abu.

Di Belanda, walaupun beberapa tempat di Utara juga merayakan pesta Karnaval, namum gaung pesta ini lebih semarak di daerah Selatan (Brabant dan Limburg) .
Pesta Karnaval ini juga digerakkan secara aktif oleh organisasi-organisasi yang tersebar di hampir semua tempat yang merayakan Karnaval di Belanda.
Tema Karnaval setiap tahun pada setiap daerah selalu berubah, namun yang pasti, selalu dengan kostum yang dan dekorasi yang aneh dan semarak.

Pada beberapa daerah yang fanatik pada Karnaval, kehidupan normal sehari-hari nyaris tidak aktif selama pesta ini (Sabtu-Selasa). Hampir semua aktivitas hanya terfokus pada pesta ini. Bahkan ada seorang teman Reinier bercerita bahwa dia hanya minum bier selama 4 hari itu.



Karnaval sudah tentu tidak terlepas dari optocht, pawai keliling kota. Optocht biasanya berlangsung pada hari Minggu. Karena hari Minggu kemarin kami sedang berada di Goes. Karena Goes tidak termasuk daerah yang merayakan Karnaval, kami menyempatkan diri menyaksikan optocht di desa tetangga, 's Heerenhoek.
Satu jam kami menghabiskan untuk menyaksikan pawai itu. Pawai belum selesai saat kami meninggalkan 's Heerenhoek. Bukan karena pawainya tidak menarik, tapi karena saya yang keburu bosan berada dalam keramaian. Ya, saya tidak terlalu menyukai berada dalam keramaian. Belum lagi ditambah dengan udara dingin yang menggigit.



Yang menarik perhatian saya bukan kostum-kostum aneh dan semarak dalam pawai ini tapi ekspresi dari orang-orang yang terlibat di dalamnya, yang berada dalam barisan pawai dan yang sedang menonton pawai, terutama anak-anak. Mereka sungguh menikmati dunia yang sedang diperankannya itu.

Sunday, February 26, 2006

Terjebak Pikatan Iklan

Sejak awal saya tinggal di sini, kartu sim yang saya pakai untuk telepon genggam saya adalah kartu pre-paid Vodafone. Saya tidak pernah mengalami masalah dengan provider ini.

Kira-kira sebulan yang lalu kami melihat penawaran paket abodemen dari Tele2. Saya tertarik pada salah satu penawaran paket dengan telepon genggam, Voordeelbundel 60. Paket langganan selama 2 tahun, dengan membayar 10 euro per bulan. Paket ini termasuk sebuah telepon genggam dan paket pemakaian per bulan, pulsa selama 60 menit, atau 100 sms, atau 25 mms (tidak termasuk pengiriman ke luar Belanda).

Hitung di atas kertas, dengan penggunaan pre-paid Vodafone ini saya mengeluarkan biaya yang hampir sama per bulan, tidak termasuk tambahan telepon genggamnya. Hmmm... menarik juga harga yang disodorkan. Akhirnya kami memutuskan untuk mengambil paket ini.

Ternyata.... apa yang terjadi kemudian?? Saya tidak bisa menerima sms dari Indonesia!!! Saat saya komplein lewat telepon kenapa sms saya tidak dibalas, justru saya yang menerima komplein mengapa mereka tidak bisa mengirimkan sms pada saya.
Ow... ada gerangan apa ini?

Sebuah surat kami layangkan ke Tele2, meminta penjelasan mengapa saya tidak bisa menerima sms dari Indonesia?
Jawaban yang saya terima dari Tele2; Di beberapa negara, beberapa provider tidak memiliki nomor sentral dari Tele2, sehingga tidak bisa mengirimkan sms ke Tele2.
Sebaiknya anda menghubungi provider yang ada di Indonesia tersebut. Tele2 tidak berpengaruh dalam hal ini.

Haaa.. ??? Telkomsel dan Pro-XL, adalah dua provider yang besar di Indonesia tidak bisa mengirimkan sms pada Tele2. Wadeuw.. yang mana yang 'gak nge'top nih??
Hmm... sms saya lewat Tele2 bisa diterima oleh Telkomsel dan Pro-XL, tapi mereka malah tidak bisa mengirim sms pada saya lewat Tele2. Bingung... dah Hmm
Dan, Thinking kenapa saya, yang mesti menghubungi provider di Indonesia?

Surat kedua kami layangkan kembali untuk Tele2, meminta mereka yang langsung menghubungi provider di Indonesia. Telkomsel dan Pro-XL toch bukan provider kecil. Sampai sekarang belum ada reaksi terhadap surat terakhir kami.

Apapun itu, saya menyesal juga mengambil paket dari Tele2 ini Thumbs Down Terbius pada gairah iklan "manis" dari Tele2!!! Mana abodemennya untuk dua tahun lagi!!! Grrr Ugh.. @#$$$%$^**&^^^%%$$#

Mestinya kami lebih jeli dan berhati-hati memilih. Tapi mana kami tahu kalau ternyata Tele2 tidak nge'top di Indonesia?
Kembali ke pangkuan Vodafone lagi tidak masalah. Masalahnya mau diapain abodemen yang 2 tahun ini??
Membawa dua telepon genggam di tas? Satu untuk Indonesia dan satu untuk Belanda? Walaupun Tele2 termasuk murah untuk pulsa lokal, tetap saja tidak praktis toch membawa dua telepon genggam sekaligus. Sickened

Gairah yang membawa masalah!!!

Tuesday, February 21, 2006

Geisha dan Ice

Akhir tahun lalu kami memasukan dua film dalam daftar film yang harus ditonton di 2006. Dua film tersebut adalah Memoirs of a Geisha dan Ice Age 2 (The Meltdown).


Saya tertarik pada Memoirs of a Geisha, karena novel karya Arthur Golden ini sudah saya baca beberapa tahun yang lalu pada malam-malam di atas laut, saat masih di kapal dulu. Sebuah novel yang menarik yang banyak mengungkapkan kehidupan di balik tebalnya bedak para geisha.
Kilas trailer yang sempat saya saksikan membuat film ini berada dalam daftar film yang harus kami tonton tahun ini. Benar bagus atau tidak film tersebut menurut kami, itu urusan setelah nonton.

Yang menjengkelkan adalah film ini baru muncul di Belanda mulai 6 April nanti. Informasi yang sempat saya tangkap, di Jerman, bahkan di 21 Indonesia, sudah sejak 12 Januari yang lalu. Di Belgia tanggal 1 Maret nanti dimulai. Setidaknya sebulan lebih cepat dari di Belanda. Wah.. kalau begini, mendingan kabur ke Antwerpen sajalah nontonnya. Sekalian menjadi turis di Metropolis Antwerpen, kompleks bioskop dengan 24 theater dan dengan total kapasitas penonton lebih dari 8000 orang.

Metropolis Antwerpen

Sementara alasan untuk nonton Ice Age 2 cuma satu, lucu.
Yah.. sabar.. sabar.. baru tanggal 29 Maret nanti di Pathe (21-nya Belanda).

Saya merasa beruntung juga, karena pada dasarnya beberapa hobi kami bisa dikatakan sejalan, sehingga kami bisa memadukan hobi kami dan menikmatinya bersama-sama.

Waktu, kebersamaan, kesehatan, kehangatan kasih, adalah anugerah yang terindah, kan?

Hug

Saturday, February 18, 2006

Rijbewijs oh rijbewijs

Karena SIM Indonesia saya hanya berlaku 6 bulan di sini, terhitung sejak tanggal saya tiba di Belanda, maka untuk mendapatkan SIM Belanda, saya harus melakukan prosedur dari awal lagi.

Mulai dari kursus, karena program di otak saya sulit sekali diganti, dari model mengemudi di tanah air dulu dengan pola yang ada di sini. Kelupaan melulu, judulnya. Instruktur saya yang pertama sampai sering gemas pada saya, karena selalu ada saja yang terlupakan atau yang terlewatkan oleh saya. Selalu saja ada kejadian yang memberikan alasan padanya untuk mengomeli saya Lol

Instruktur saya ada dua orang, karena instruktur yang pertama dikirim untuk proyek lain, maka instruktur lain menggantikan posisi instruktur yang lama selama sebulan terakhir. Ada baiknya juga buat saya, karena dua orang yang berbeda tentunya memiliki pendapat dan penilaian yang berbeda tentang kelemahan saya di belakang setir. Saya tinggal menerima masukan-masukan yang bermanfaat dari ke-duanya.

Kemudian mengikuti ujian teori, pre-ujian praktek, sampai ujian prakteknya.
Saya harus melakukan dua kali ujian teori, karena ujian yang pertama saya gagal dengan sukses.
Tussentijdse toets atau pre-ujian praktek berakhir dengan "wajar-wajar" saja. Alias, wajar saja masih ada sedikit kekeliruan yang saya buat Smile . Tapi semua special maneuver yang harus saya lakukan lulus dengan mulus.

Nah, bagaimana dengan ujian prakteknya?
Sebelum melangkah ke proses ujian, inilah komentar-komentar yang masuk ke telinga saya:
Kata teman saya, si A, "Saya harus melakukan ujian praktek dua kali."
Kata temannya teman saya, si B, "Saya harus melakukan ujian praktek tiga kali, baru lulus."
Kata teman sekelas saya, si C, "Ini ujian saya yang ke dua, dan saya gagal lagi!!!!"
Kata tetangga saya yang pendeta, si D, "Saya harus melakukan ujian enam kali untuk lulus!!!"
Kata suami teman saya, si E, "Saya harus melakukan ujian enam kali, dan sebelum ujian kali terakhir saya ke dokter untuk minta pil penenang."
Kata kenalannya Reinier, si F, "Ujian praktek?? Saya harus melakukannya sepuluh kali baru lulus!!!"
Kata instruktur saya yang pertama, "Ujian praktek itu tidak gampang!!!"

Reaksi saya? Tentu saja... wow... hmm.. o-ow...
Shocked Nervous Scared 2

Waahh... terus terang, keder juga dengarnya nih.

Telpon papa, mohon doa restu. Kata papa, "Tidak usah kuatir, kamu pasti lulus!!!"
Wah... agak tenang juga mendengar kata-kata papa itu.
Kata papa mertua pas sehari sebelum ujian, "Besok lulus, Since!"
Kata Reinier di pagi hari sebelum ujian, "Since, aku tahu kamu bisa! Tidak perlu menjadi "sempurna". Kalau nanti ada kesalahan, biar saja, itu normal kok. Jangan biarkan satu kesalahan menguasai kepalamu, itu malah memancing kesalahan-kesalahan berikutnya. Yakin saja ya!"
Kata instruktur saya yang kedua, saat dalam perjalanan ke CBR, "Since, lakukan secara normal saja, tidak usah berusaha untuk sempurna, ya. Tidak ada pengemudi yang sempurna."

Saat duduk di samping penguji, tentu saja deg.. deg'gan.. juga. Namun semenit setelah mobil saya kemudikan, malah rasanya tenang-tenang saja. Grogi sih tetap, tapi kalem saja. Mungkin, karena pekerjaan saya dulu, saya terbiasa menjaga emosi saya tetap "waras" di bawah kondisi stress.

Rasanya, saya tidak menemukan sesuatu yang "wah" selama trip pendek ujian itu. Tapi yah... tetap saja, saya tidak tahu persis apakah penguji saya merasa aman atau tidak duduk di samping saya selama perjalanan itu. Teman sekelas saya bercerita tentang ujiannya yang terakhir. Katanya, pengujinya mengatakan kalau dia secara teknis tidak melakukan kesalahan yang berarti selama ujian, hanya saja pengujinya merasa dia belum siap untuk dilepaskan mengemudi sendiri, pendek kata, dia belum bisa diluluskan!!! Wah..??!

Selesai trip, penguji menjabat tangan saya dan berkata, "Sukses ya."
"Wah?? Apa maksudnya nih?? Sukses karena saya lulus, atau sukses untuk ujian yang akan datang?" pikir saya, tapi yang keluar dari mulut saya hanya.. "Ow..??"
"Since, kamu berhasil!!" kata instruktur saya. "Kamu lulus."
Waaaahhhh... puji Tuhan!!! Saya tidak bisa menahan otot wajah saya untuk tidak tersenyum selama perjalanan pulang ke rumah.

Akhirnya, dapat juga SIM Belanda. Lebih dari itu, saya bersyukur lulus hanya dalam sekali ujian. Dengan demikian saya tidak perlu lagi memikirkan prosedur-prosedur yang mesti saya lakukan lagi kalau gagal, dan juga saya tidak perlu mengeluarkan duit banyak lagi untuk biaya kursus dan ujian lagi.
Roll

Wednesday, February 15, 2006

When the time comes

Beberapa hari yang lalu saya menerima sebuah kabar yang sangat mengejutkan dari seorang teman di Bali. Sebuah kabar yang meneteskan air mata saya. Seorang sahabat telah berpulang. Kepergiannya pun begitu mendadak, serangan jantung membawanya kembali ke sisi Ilahi.

Dia yang pernah menjadi murid saya, yang kemudian menjadi salah satu sahabat saya.
Dia yang pernah menghibur saya dengan kata-katanya yang sederhana, saat begitu banyak orang di sekitar saya berkomentar buruk dan bergosip tentang saya.
Dia yang pernah menemani saya tanpa berpihak, saat saya merasa dikhianati.
Dia yang pernah sabar mendengar kemarahan-kemarahan saya tanpa mengomentarinya, tanpa mencoba menjadi si bijaksana.

Rasanya tak ingin percaya mendengar kabar itu.
Tak ada lagi sosok yang selalu riang dan penuh dengan canda yang kebanyakan nakal itu. Komentar-komentar dan banyolan-banyolannya selalu menghidupkan suasana dengan tawa. Dia yang tidak pernah marah saat digoda, hanya bisa masem dan menggerutu kecil, yang justru makin membuat kami, saya dan teman-teman, semakin menggodanya.

Tak ada lagi teman di dalam air yang bisa saya omelin karena mengacaukan visibility air di depan saya atau karena membuat obyek foto saya kabur...

Selamat jalan Handoko, selamat jalan sobat, tidurlah dengan tenang. Jangan kuatir, Tuhan menjaga orang-orang terkasihmu yang kamu tinggalkan, istri dan anak-anakmu.

Terima kasih sobat, karena telah pernah ikut mewarnai hidupku.



Beberapa hari yang lalu juga saya menerima sebuah orderan dari teman sekelas, digital photo's-collage, tentang saudara iparnya yang baru saja berpulang, juga secara mendadak, dalam sebuah kecelakaan lalu lintas.

Saya terdiam, kembali tersadar bahwa hidup adalah jalinan yang sungguh rapuh. Kita tidak pernah tahu, kapan waktu kita akan tiba. Namun jika waktu itu datang, maka tak ada kekuatan apapun untuk menghindar darinya.
Saya tidak tahu, masih seberapa lama waktu yang saya miliki di kehidupan ini. Saya hanya ingin memanfaatkan semaksimal mungkin waktu yang masih saya miliki dengan orang-orang yang saya kasihi.

If tomorrow never comes
Will she know how much I loved her
Did I try in every way to show her every day
That she's my only one
And if my time on earth were through
And she must face the world without me
Is the love I gave her in the past
Gonna be enough to last
If tomorrow never comes

...

So tell that someone that you love
Just what you're thinking of
If tomorrow never comes


(Ronan Keating)

Monday, February 13, 2006

Buka-bukaan

Untuk menjawab tantangan Yulia untuk buka-bukaan tentang lima kebiasaan saya yang aneh membuat saya harus menggaruk-garuk kepala saya Hmm Bagaimana tidak? Menurut saya sih, kebiasaan sehari-hari saya normal-normal saja. Ah, ada-ada saja si tante itu.

Tapi.. yah, mungkin kebiasaan yang menurut saya "normal", di mata orang lain malah bisa jadi aneh, kan? Mungkin saja. Setidaknya kebiasaan-kebiasaan di bawah ini adalah yang paling sering dikomentari orang.

Harus pipis pada detik terakhir setiap kali mau keluar rumah. Entah kenapa, biarpun baru pipis lima menit yang lalu, tetap saja harus ke toilet lagi. Otak saya telah memprogramkan perintah ke toilet sedetik sebelum meninggalkan rumah. Awalnya kebiasaan ini menjengkelkan Reinier, tapi kelamaan dia pasrah juga.

Saya paling tidak bisa melihat uban di kepala saya. Begitu kelihatan uban pasti langsung gatal tangan dan gatal hati untuk segera mencabutnya. Tidak jarang sebegitu seru dan asyik mencabut uban-uban itu, sampai-sampai bisa rada-rada juling rasanya setelah perjuangan berat itu. Ah, ternyata sulit juga rasanya menerima kenyataan bahwa waktu yang mengalir membuat tanda-tanda ketuaan semakin nyata.

Berbicara pada kamera saya. Mulai dari membujuk, mengomel sampai mengancam saat kamera saya "ngambek". Walaupun sudah tidak asing lagi, Reinier tetap saja melotot setiap kali melihat saya mengomel pada kamera saya Blushy

Setiap kali membasuh wajah dengan air, pasti terdengar suara bersin saya. Bagaimana tidak bersin, bukan hanya wajah yang saya cuci dengan air, melainkan juga rongga hidung saya Hysterical

Dan, yang terakhir, kebiasaan saya yang selalu membubuhi garam pada apel hijau dan salak sebelum menikmatinya sering dikomentari orang. Aneh atau tidak, tidak ada masalah bagi saya.

Sebenarnya ada beberapa aktifitas lain yang juga dinilai aneh oleh orang lain. Tapi biarlah itu dibahas secara khusus di kesempatan lain Brows

Aneh atau normal? Yang mana yang aneh? Dan, yang mana yang normal? Menurut saya, setiap individu memiliki kebiasaan-kebiasaan yang unik. Dan itu menarik, karena keunikan merupakan sebuah keistimewaan.

Supaya ramai, Retno, Ria, Marlina, Sherly, dan Ely, hayoo... mana keunikan masing-masing?

Wednesday, February 08, 2006

Valentine dan saya

Beberapa hari yang lalu ada seorang teman yang bertanya pada saya, "Since, kamu ngapain Valentine nanti?"
"Tidak ada rencana tuh," jawab saya.
"Ow?? Tidak ada yang istimewa? Kami akan makan malam di sebuah restoran, Valentine nanti. Pacarku yang mengajak ke sana," katanya dengan kerlingan cerah di matanya. Tersirat nada bangga dan bahagia. "Pacarku romantis ya," mungkin itu yang tersirat di benaknya.

Valentine, kata yang sudah lama saya kenal sejak awal masa remaja dulu. Saat itu, kebanyakan teman-teman saya repot sekali menyiapkan dirinya untuk acara di hari Valentine. Mulai dari kartu yang berwarna merah atau pink yang penuh berisi kata-kata cinta, sampai t'shirt atau gaun yang juga berwarna pink dan kebanyakan tema percakapan sejak awal februari juga berkaitan dengan Valentine.

Saya sendiri termasuk kategori orang yang tidak mau repot dengan urusan Valentine. Yeeah... saya pernah juga terlibat dalam satu pesta Valentine saat kelas 2 SMA dulu, tapi sejujurnya inti pesta itu bukan untuk Valentine, melainkan kami hanya mencari-cari alasan untuk mengadakan pesta kelas. (Astaga... kelas 2 SMA!!??.. itu sudah 18 tahun yang lalu!!!!!Shocked Pfffiuuuhh.. waktu mengalir sangat cepat).

Kata orang, hari Valentine adalah hari kasih sayang. Kasih sayang..?? Hmmm... Apakah kasih sayang membutuhkan sebuah hari khusus untuk dirayakan? Sudah sebegitu langka kah kasih sayang itu sehingga harus dirayakan? Diperingati?

Apakah kata cinta terdengar lebih mendayu, lebih menyentuh dan memabukkan jika diucapkan pada tanggal 14 Februari?


Kata orang, pada hari Valentine adalah hari pengekspresian cinta. Ow?? Aneh saja rasanya buat saya. Lantas bagaimana dengan hari-hari di luar hari Valentine?
Apakah kasih sayang terasa lebih manis dan hangat jika diekspresikan pada hari Valentine?
Apakah makan malam yang romantis di malam hari Valentine akan terasa lebih romantis daripada di malam-malam yang lain?
Apakah nilai sebuah keromantisan diukur dari hadiah-hadiah dan ucapan-ucapan cinta pada hari Valentine?
Itu sih pesan komersial. Tunjukkanlah cinta anda pada si dia dengan sebotol parfum, sekotak bon-bon coklat, seikat mawar merah, atau.. seuntai kalung emas, bahkan mungkin cincin berlian, atau beragam paket-paket romantis lainnya untuk melewatkan hari Valentine berdua.
Saya melihat ada begitu banyak penawaran-penawaran yang bernuansa Valentine di toko-toko dengan embel-embel diskon. Sejujurnya, jika saya seorang pengusaha, saya juga akan memanfaatkan moment ini untuk melariskan dagangan saya.

Bayangkan kalau pengekspresian cinta hanya ada sekali dalam setahun. Ouch.. menderita sekali!! Tapi mungkin lebih irit jadinya ya? Thinking Tidak perlu sering-sering membeli kado buat si doi, hahaha...
Setidak-tidaknya saya juga turut memanfaatkan kesempatan diskon ini, kalau-kalau parfum yang saya pakai juga masuk dalam kategori didiskon. Sayangnya, di brosur ada, di tokonya malah tak ada. Mad

Mungkin saya tidak romantis. Saya tidak membutuhkan hari Valentine untuk sebuah ekspresi cinta, karena ekspresi itu ada dalam setiap denyut nadi saya. Dan tidak akan menjadi spesial hanya karena satu kata, Valentine. Karena adanya ekspresi itu sendiri sudah spesial bagi saya.
Tidak perlu hari-hari khusus untuk saling memanjakan, bukan?
Spontanitas jauh lebih menggairahkan bagi saya.

Saya tidak memiliki hari yang khusus untuk merayakan kasih sayang, karena kasih sayang mengalir dalam setiap hari yang saya miliki. Tidak saya pungkiri, ada hari-hari dimana terasa lebih spesial daripada keseharian yang ada, yang pasti, Valentine tidak termasuk diantaranya.

Kasih sayang itu luas, biarkanlah tetap menjadi luas.

Sunday, February 05, 2006

Duikvaker dan sepenggal kenangan.

Sabtu siang kemarin kami mengunjungi Duikvaker di Veemarktcomplex, Utrecht. Duikvaker adalah sebuah pameran dan pasar wisata kegiatan bawah air tahunan. Saya sendiri pernah terlibat dalam Duikvaker 2004 sebagai salah satu "juru penerangan" dari perusahaan di mana saya bekerja dulu. Kali ini, cukup sebagai pengunjung saja.


Atmosphere in Duikvaker 2006

Berbeda dengan Duikvaker dua tahun yang lalu, Duikvaker kali ini terkesan sepi. Selain counter-counter yang menjual paket-paket duikvacantie, toko-toko yang menjual peralatan selam tidak ada lagi . Kebanyakan peralatan selam yang ada dijual langsung oleh para supplier-nya. Mungkin ini yang menyebabkan suasana terasa lebih sepi. Thinking

Kegiatan-kegiatan lain disamping menawarkan paket-paket liburan adalah beberapa demo tentang penggunaan alat selam dan penyelaman di tabung yang penuh terisi air, kuliah singkat tentang digital underwater photography, penyelaman dengan rebreather dan tentang kehidupan dalam air. Ada sudut museum kegiatan bawah air yang berisi beberapa peralatan penyelaman yang "antik".


Corner of dive-activities museum

Ada juga kolam yang dipenuhi air untuk demo penyelaman bagi anak-anak yang berusia minimal 8 tahun sekaligus juga untuk proefduiken (penyelaman percobaan) bagi anak-anak yang berminat, atau pada orang tua yang berminat supaya anaknya mencoba penyelaman itu.


Children-dive

Ada juga pajangan foto-foto bawah air yang sedang dipertandingkan. Beberapa foto sungguh indah, dan saya tahu bagaimana sulitnya membuat foto seperti itu karena gerakan air laut atau karena obyek foto sendiri yang sangat pemalu, langka atau selalu bergerak cepat, dan faktor-faktor lainnya. Sebagian foto-foto yang dipamerkan itu, menurut saya, biasa-biasa saja. Sedangkan beberapa lainnya.. Doofus ah sudahlah, sebaiknya saya tidak usah memberikan komentar.

Tujuan lain dari kunjungan ke Duikvaker kali ini, selain melihat-lihat apa saja sajiannya, juga untuk mengunjungi beberapa teman lama saya di counter Ambasi, perusahan di mana saya bekerja dulu. Counter Ambasi ini berada di bawah payung counter Eigen-Wijzen Duikreizen, sebuah agen perjalanan di Belanda yang mengkhususkan diri pada dive-holiday.
Sedang asyik-asyiknya berbincang dengan beberapa pemilik Ambasi ini, saya disapa oleh beberapa orang pengunjung, yang rasanya kok lupa-lupa ingat, ya? Ah, ternyata mereka pernah berada di atas Ambasi beberapa tahun yang lalu bersama-sama dengan saya. Waah... jadi ramai membicarakan masa lalu.


At Ambasi counter, with Hans, Daan, Arjan en Martha.

Kami tidak lama berada di Duikvaker. Tidak membutuhkan waktu yang banyak untuk mengelilingi semua sudut di pameran ini. Selesai berkeliling, kami segera kembali ke Eindhoven. Agak kecewa juga, karena ternyata tidak seramai dan sekomplit seperti yang saya bayangkan (setidaknya seperti saat pertama kali saya berada di sana).

Ah.. saya jadi rindu pada masa lalu, saat-saat saya masih bekerja di atas kapal. Saya rindu akan suasana di kapal, teman-teman di kapal, ...

Dan yang pasti, kerinduan saya untuk menyapa kembali dunia bawah air semakin menjadi-jadi. Pouty Tak sabar rasanya menunggu sampai saat liburan tiba.


Ambasi, it was my floating home.

Thursday, February 02, 2006

Sperma.. Sayur??

Shocked What????!!! Ya.. ya... jangan heran dulu saat membaca judul di atas Teethy.
Cerita ini berawal di kelas, saat kami membahas salah satu bab dari buku pelajaran tentang saran kesehatan. Kami membentuk beberapa kelompok diskusi untuk membahas kesehatan kami masing-masing. Ternyata teman-teman dalam group saya, kecuali saya, memiliki keluhan yang sama, tekanan darah rendah.

Dulu saya sering menderita tekanan darah rendah, dan setiap kali itu terjadi, mama selalu memberikan tauge pada saya. Entah itu ditumis, ditaruh dalam soto ayam, digado, diurep, atau cara lainnya, yang penting judulnya cuma satu: Tauge. Reaksinya terhadap pemulihan kondisi saya pun cepat sekali. Untungnya, saya juga doyan tauge.

Berdasarkan pengalaman saya itu, saya anjurkan pada teman-teman saya ini untuk menaruh tauge juga dalam menu makanan mereka sehari-hari.

"Tauge? Apa'an tuh?" tanya salah satu teman saya ini dan diiyakan oleh teman yang lain.
Ah.. saya pikir tauge bukan sayuran asing di Belanda sini, karena tauge dapat dijumpai hampir di semua supermarket dan toko sayur yang ada. Tapi ternyata kedua teman saya ini tidak mengenal tauge. Wajar saja, mereka tidak mengkonsumsi tauge di negeri mereka sendiri.
"Tauge itu tunas muda dari kacang hijau atau kacang kedelei. Kalian bisa jumpai di supermarket di rak sayuran. Biasanya dipaket dalam kotak plastik," jawab saya diiringi kerutan kening mereka.
"Seperti apa sih modelnya?"
Wadouuh... bagaimana menjelaskannya ya? Ya sudah, digambar saja. Selesai gambar, saya melihat kening mereka semakin berkerut memperhatikan gambar saya. Kok...?? Oaaalaaahh... pantesan aja... gambarnya lebih mirip....
"Hoi!!! Itu bukan sperma ya!!! Itu tauge!!!" protes saya galak yang disambut dengan ledakan tawa mereka.
"Ah... ya ya.. saya tahu sayur itu!! Saya pernah melihatnya, warnanya putih kan?" celetuk salah satu teman saya.
Aaahhh.. syukurlah...
"Benar nih Since, sayur ini bisa memulihkan tekanan darah?" tanyanya masih setengah tak percaya.
"Yaahh.. pengalaman saya sih gitu. Tauge selalu manjur buat saya, dan sepanjang pengetahuan saya juga, tauge mengandung vitamin A, C, E, zat besi, antioksidan, dan serat. Ya, coba saja toch, siapa tahu juga manjur buat kalian."

Tiba-tiba...
"Weeiiits.. apa ini???!!!" jerit kecil seorang teman lain, yang tiba-tiba sudah berada di belakang kami, setengah melotot, menunjuk gambar saya itu.
Apa yang ada dalam otaknya sudah terbaca jelas di ekspresinya Lol
"Hei, itu sayur, bukan sperma!!!" omel saya pura-pura galak.
"Sayur? Sayur apa'an tuh?" masih dengan nada yang mengganjal.
"Tauge. Bagus buat kesehatan darah," jawab salah satu teman dari kelompok saya.
"Ow??? Jadi dengan mengkonsumsi sayur itu, sex kita jadi hebat ya?" tanyanya lagi dengan ekspresi yang ingin tahu dan tanpa dosa.
Astaga... saling pandang bertiga dan...meledaklah tawa kami.
"Nou... bisa juga sih," jawab saya masih terkekeh-kekeh..
Wah... karena gambar saya yang mirip sperma, langsung saja dihubungkan dengan sex. Dasaaar!! Lol

Dan dari hasil surf kemarin sore, ternyata kandungan dalam sayur sperma eh tauge ini lebih dari yang saya ketahui sebelumnya. Klik saja langsung di sini untuk jelasnya.