Sunday, December 31, 2006

Gosip Akhir Tahun

Wajah-wajah di atas yang sedang sibuk membersihkan taoge ini adalah wajah-wajah para TKW yang disalurkan dan dipekerjakan pada nyonya S, secara sukarela oleh diri mereka sendiri.
Dari kiri ke kanan:
Ira, TKW asal Surabaya.
Tiwi, TKW asal Semarang.
Dinati, TKW asal.... hmmm... Hmm waduh infonya 'gak lengkap nih. Dyah kamu dari mana sih?

Tapi... siapakah nyonya S, sang penampung para TKW ini?
Marilah kita lihat profil nyonya S ini:

Nyonya S alias nyonya Susie, ibu dari 4 anak ini adalah pengusaha taoge yang sukses dari De Meern.
Dari ekspresi wajahnya jika melihat hasil pekerjaan TKW-nya yang tidak memuaskan, bisa kita simpulkan bahwa nyonya S ini adalah seorang pengusaha handal dan pekerja keras, juga berhati baja dan bersyaraf kawat, emangnya Gatot koco??? Hysterical
Pssst.. padahal Susie sedang asyik bermain dengan si bungsu di gendongannya tuh Teethy

Partner usaha nyonya S dalam bisnis pertukaran TKW ini adalah nyonya I alias nyonya Inne, pengusaha soes yang sangat terkenal dari Eindhoven.

Nyonya I pada saat ini juga sedang dicari-cari oleh para blogger yang mengikuti acara kumpul-kumpul Boxtel yang lalu, gara-gara kasus soes Hantu-nya. Soes yang beredar dan menghilang dengan kekuatan super cepat!!!

Saat berita ini diturunkan, nyonya S dan nyonya I sedang memanfaatkan tenaga2 para TKW ini untuk mengerjakan proyek mereka yang terbaru untuk malam tahun baru nanti. SOES dengan vla TAOGE!!! Sebagai protes untuk oliebollen yang dirasakan terlalu berminyak dan hanya menambah bobot tubuh.

Pssstt.. jangan dipercaya ya berita di atas, namanya juga gosip akhir tahun!!! Bounce
Foto-foto tersebut diambil kemarin malam saat acara Natal di kediamannya Susie dan Frank.
Acaranya full dengan makanan!!!
Foto dan cerita yang lengkap pasti bisa ditemui di blog teman-teman yang lain, terutama di blog Susie dan Tiwi, yang bapak-bapaknya aktif jepret sana sini.
Si Since sih lebih asyik makan dan ngerumpi daripada main dengan kameranya Smiles

Demikianlah gosip akhir tahun.

Since dan Reinier mengucapkan SELAMAT TAHUN BARU!!! untuk anda semua.

Happy New Year Happy New Year 2007

Tuesday, December 26, 2006

My Grey Christmas

Berhubung ayah mertua saya sedang terbaring di rumah sakit karena operasi perbaikan sendi pinggulnya, kami memutuskan untuk menghabiskan liburan natal kami selama beberapa hari di Goes, menemani ibu mertua sekaligus juga lebih mudah untuk bolak-balik ke rumah sakit.

Natal kelabu?
Yup!! Natal yang kelabu.
Tidak.. tidak.. kelabunya sama sekali tidak ada hubungan dengan urusan perasaan, dan tidak ada hubungannya juga dengan ayah mertua yang sedang terbaring di rumah sakit.

Mengapa saya sebut natal yang kelabu?
Karena sepanjang hari-hari itu memang kelabu. Awan kelabu yang menggantung tebal di langit, kabut yang menghiasi sepanjang hari, sungguh jauh dari white Christmas!!
Namun hari-hari bernuansa kelabu ini tidak berarti membosankan atau juga "kelabu" bagi emosi.
Hari-hari kelabu ini juga punya cerita-cerita yang menarik.
Tidak percaya?
Lihat saja foto-foto di bawah ini.


Asap hitam tebal tampak di ujung jalan tol dekat Oirschot dalam perjalanan ke Goes. Wah.... jangan-jangan kecelakaan nih.
Segera siap-siap kamera dan... klik, jadilah foto di atas.


Ah.. ternyata kebakaran di sebuah gudang pas di tepi jalan tol. Panasnya terasa lho sampai di mobil saat kami melewati lokasi kebakaran ini.

Di antara waktu besuk ke rumah sakit setiap hari, kami juga menyisihkan waktu untuk berjalan-jalan seputaran propinsi Zeeland ini.


Menyulusuri platteland, daerah pertanian yang datar (namanya saja sudah plat Teethy ).
Kabut yang menggantung sepanjang hari, namun justru membuat daerah pertanian ini tampak misterius. Ah.. hahaha.. saya mungkin terlalu banyak berfantasi ya Hysterical

Setelah jalan-jalan di platteland, kami mengunjungi Kloetinge, kota kecil tempat Reinier dibesarkan.


Bangunan di atas dulu bekas kantor walikota (gemeentehuis) Kloetinge, sekarang digunakan sebagai bangunan untuk appartement.


Kolam air yang dulu dipakai sebagai tempat minum kuda. Sekarang tempat mandi bebek.
Ah apapun kegunaannya, tidak penting bagi saya. Yang paling adalah pantulan yang begitu menarik dari air yang tenang ini, yang bisa saya klik dengan kamera saya.


Kabut dan gereja tua...
Hmmm...

Keesokan harinya giliran Vlissingen yang kami kunjungi.
Berjalan di pantai, mendengar debur ombak.. tapi dingin boo... ditiup angin pantai Shiver

Boulevard Vlissingen di kejauhan.
Pantai terlihat kosong, tapi jangan terkecoh, banyak sekali yang berjalan di pantai dengan anjing mereka.


Lalu lintas laut di Vlissingen juga termasuk ramai. Tidak heran, semua lalu lintas laut yang dari dan menuju pelabuhan Antwerpen, yang katanya sebagai pelabuhan terbesar bagi trade antara Asia-Eropa, harus melewati daerah ini.

Dan hari ini, Natal kedua, kami mengunjungi Neeltje jans, bukan pantainya kali ini, tapi bendungan penahan badainya, dam Stormvloedkering.
Cerita dan foto-foto babak terakhir ini menyusul nanti. Masih malas ngolahnya Smiles


Ah ya, foto di atas di-shoot kemarin malam. Menara yang penuh cahaya itu adalah bekas menara pemancar televisi. Menara ini selalu dihiasi dengan lampu-lampu yang indah pada saat-saat tertentu, misalnya Natal sampai tahun baru dan juga saat Koninginnedag.
Hihihi.. Reinier sampai gemetaran kedinginan gara-gara menemani saya mengambil foto-foto di sekitar menara ini. Oooh... mijn lieve.. lieve Reinier Flirty

Demikianlah my grey Christmas yang tidak se-white Christmas di Finlandia misalnya Teethy

Thursday, December 21, 2006

Merry Christmas every body!!!



Keterangan foto: Pssstt.. itu cacing yang hidup di dalam laut. Karena bentuk antennanya yang mirip pohon natal, maka namanya juga Christmas tree worm, badannya sendiri disembunyikan dalam tabung dalam karang. Ah ini mo ngucapin selamat Natal, malah ngasih kuliah Biologi laut Teethy Selamat Natal, semua!!!

Tuesday, December 19, 2006

Perjalananku

So this is my birthday.
And what have I done?
Another year over..
And a new one just begun..

Waktu berlalu tanpa terasa...
Setahun waktuku kembali berlalu..
Langkahku semakin dekat pada Sang Khalik

Kembali menengok sejenak ke belakang...
memperhatikan jejak-jejak yang terbentang dalam waktu.
Apa yang sudah aku lakukan selama ini?
Sebaik apakah aku telah memanfaatkan semua waktuku?



Ada kegagalan,
ada kesalahan,
ada penyesalan,
ada luka,
namun juga ada perbaikan,
ada keberhasilan,
dan juga ada kebanggaan.
Yang pasti ada pelajaran dan pengalaman.

Ada jejak-jejak yang lurus,
namun juga ada jejak-jejak yang melengkung..
Ahh.. semua jejak itu membawa aku di tempat aku berdiri sekarang.

Sebaik apakah.. ?
sungguh aku tak tau..
Sering aku merasa belum cukup baik.
Aku hanya menikmati waktuku.
Aku berusaha melakukan yang terbaik yang aku bisa
walaupun itu tidak berarti menjadi yang terbaik.

Kadang malas juga sih dan semau gue aja Smiles,
so pasti hasilnya juga suka-suka.

Hari ini pun akan segera berlalu
dan bersatu dengan jejak-jejak yang lain...
Dan jika hari esok masih milikku,
maka aku akan tetap melangkah sampai tiba saat terakhir.
Dan tetap dengan tekad untuk menjadi lebih baik..
dan lebih baik..
dan lebih baik..

Teruslah bimbing aku, Tuhan.

Monday, December 18, 2006

Jalan-jalan di Banjaardstrand

Sejak urusan pindah rumah 2 bulan yang lalu, kebanyakan akhir minggu kami diisi dengan kesibukan yang berhubungan dengan urusan rumah. Tidak banyak waktu yang tersisa untuk bersantai, sekedar bersepeda atau berjalan menyulusuri hutan kecil.

Saat menjenguk orang tua Reinier di Goes hari Minggu kemarin, kebetulan sekali cuaca juga cerah dan tidak terlalu berangin, segera setelah makan siang di tempat mertua, kami berjalan-jalan sebentar di Banjaardstrand (pantai Banjaard), kira-kira setengah jam dengan mobil dari Goes.

Dalam perjalanan ke Banjaardstrand cuaca berubah dengan cepat, awan hitam tampak menggantung dan datang dengan cepat ke arah kami. Waahhh... bisa batal nih acara jalan-jalan di pantai..
Pffeeeuuh...PhewUntung saja awan hujan tersebut juga cepat berlalu secepat datangnya.


Tapi berkat awan hujan tersebut, terbentuklah pelangi indah ini.
Kalau diperhatikan dengan teliti, di sebelah kiri pelangi juga tampak samar-samar bayangan pantulan pelangi.


Hayooo... berlomba menuju ke ujung pelangi, siapa tahu menemukan harta karun Teethy
Foto di atas diambil dari dalam mobil, berlomba dengan kibasan whiper dan tetesan hujan di kaca depan mobil.


Awan tebal yang menggantung dan paduan sinar matahari musim dingin sungguh mengeluarkan warna-warna yang indah dalam aura Bumi.


Garis pantai yang terlihat di kejauhan dari puncak bukit pasir.
Parkiran mobil ada di belakang saya, di balik bukit pasir (duinen) ini.


Astaga!!!! Tiba di dataran pasir... ternyata garis pantai masih jauh, lebih jauh dari yang saya perkirakan!!!


Neetje Jans dan dam Stormvloedkering di kejauhan.


Asyik juga memperhatikan anjing-anjing yang berlari ke sana ke mari dengan girangnya mengejar bola yang sesekali dilemparkan oleh tuannya.


Atau pengendara kuda yang menikmati ketenangan pantai dengan berkuda santai sepanjang pantai ini. Tapi menyebalkan juga, pantai bersih dari kotoran anjing tapi tidak dari kotoran kuda. Annoyed And Disappointed


Our foot prints, isenk membuat jejak kaki di atas pasir pantai. Uiih... jejak kaki Reinier seperti Gulliver saat di negeri liliput Hysterical

Kami menghabiskan sekitar 1 jam untuk berjalan menyulusuri pantai. Sebenarnya masih ingin lebih lama lagi, tapi angin pantai yang dingin membuat telinga saya agak sakit, walaupun telinga ini sudah berlindung di balik muts, mungkin karena muts-nya kurang tebal.

Segar rasanya mendengarkan kembali deru ombak, memandang horizon di kejauhan, merasakan angin dingin yang membelai kulit, berjalan di atas pasir...

Puji dan syukur saya lantunkan untuk kesempatan ini, waktu, kesehatan, keindahan, kehangatan dan kebersamaan yang masih saya miliki, dan ingin terus saya miliki.

Friday, December 15, 2006

Lain Rumah Lain Kebiasaan

"Since, ulang tahunmu tinggal tidak lama lagi. Kado apa yang kamu mau?" tanya ibu mertuaku saat beliau mengunjungi kami.
Si Since dengan senyum nakal yang tersembunyi dengan tenangnya menjawab, "Ah... aku mau tv berlayar datar. Tidak usah besar-besar, 32 inci aja cukup. Plasma juga boleh. Samsung, tapi Sony juga oke".
Tenang dan dengan mimik yang serius. Padahal sebenarnya sulit sekali menahan senyum yang mulai melebar saat menggoda ibu mertua.
Ibu mertua saya: Shocked ... kemudian... Lol ...
Masih terpingkal-pingkal, "Aduh Since, kalau itu saya tidak bisa."
"Lha.. mama yang nanya aku mau apa..." jawab saya dengan kalem, walaupun gaya kalem itu tidak bertahan lama, kalah dengan rasa geli yang menggelitik... Hysterical
Sementara Reinier dan ayah mertua saya sudah terpingkal-pingkal di belakang kami.

"Mau kado apa untuk ulang tahunmu?"
Pertanyaan tersebut adalah sebuah kejutan kecil bagi saya tahun lalu saat baru memulai hidup saya di negeri ini.
Kado dalam benak saya adalah sebuah surprise.
Selama ini saya selalu menerima kado yang isinya selalu merupakan sebuah kejutan bagi saya. Entah sebuah kejutan yang sangat menyenangkan atau hanya sekedar "Ou.."
Padahal kalau dipikir-pikir sebenarnya dengan mengatakan apa yang kita inginkan jauh lebih efisien. Karena kita mendapat isi kado seperti apa yang kita mau, dan bagi si pemberi kado sendiri tidak sia-sia dengan pemberiannya itu.
Hanya saja... janggal rasanya jika saya harus meminta sesuatu yang saya inginkan sebagai kado.
Sekarang saya lebih fleksibel dan lebih terbiasa dengan urusan kado ini.
Hayo siapa yang mau kasih kado ke saya? Ada satu daftar penuh dengan kado yang saya inginkan lho Goofy
Hahaha... kemaruk!! Hysterical

Dalam tahun pertama di sini, ada banyak kejutan yang saya temui dalam kebiasaan-kebiasaan di Belanda sini.
Misalnya kebiasaan menyuguhkan biskuit dalam kaleng pada setiap orang saat minum kopi/teh. Setelah tiba pada orang terakhir, kaleng tersebut langsung ditutup dan disimpan di dalam lemari.
Astaga.. kebayang kan ekspresi saya pada saat itu? Antara kaget dan geli. Yah... dijatah'in toch?

Ternyata kemudian saat berdiskusi tentang kebudayaan di kelas, barulah saya ketahui bahwa memang itu adat orang di sini.
Ada seorang teman yang berasal dari Rusia bertanya, jika kue itu enak, apakah boleh meminta potongan yang kedua?
Jawabannya, tidak sopan jika mengambil atau meminta potongan kue untuk kedua kalinya.
"Woooooaaaa...!!!" langsung ribut dengan komentar di kelas.
Ternyata baik di Indonesia, Rusia, Poland dan Mexico, kita semua menghidangkan kue di meja dan si tamu tentu saja boleh mengambil potongan kue untuk kedua kalinya.

Saat ini jika ada teman atau mertua yang bertamu di rumah kami, selalu saya katakan, "Saya bukan orang Belanda, silahkan dinikmati kuenya".
Kaleng kue selalu terbuka di meja dan hanya ditutup dan dimasukkan ke dalam lemari jika gelas-gelas kopi atau teh juga sudah dibersihkan dari meja, dan semua orang tentu saja boleh mengambil lebih dari satu.
Ibu mertua saya juga memperlakukan saya seperti itu jika saya berkunjung ke tempat mertua. Beliau selalu membiarkan kaleng kue tetap terbuka di meja dan saya juga boleh menikmati lebih dari satu jika saya mau Happy

Di kelas kami juga sering menertawakan kebiasaan pesta di sini. Sungguh, pesta di sini sangat berbeda dengan pesta di negara kami masing-masing.
Pesta di negara kami masing-masing artinya MAKAN!!!

Dulu saat pertama kali saya agak bingung juga saat menghadiri pesta ulang tahun anak teman Reinier. Kami hanya diberi sepotong cake dengan kopi, kemudian chips dan beberapa makanan ringan lainnya dengan beberapa jenis minuman seperti cola, juice, bier atau wine. Tidak ada makanan seperti di Indonesia. Mereka menyebutnya borreltje.
Tapi terus terang, saat ini saya sungguh menikmati pesta model begini, terutama jika saya yang harus menjadi tuan rumahnya. Tidak repot jadinya. Paling juga cuma acara cuci gelas. Hysterical

Kemudian saat kami diundang makan malam oleh seorang teman. Ternyata hidangannya sangat simpel, hanya pasta dan salad. Sungguh, saat itu saya agak geli dalam hati. Lha diundang makan malam cuma ini menunya? Bandingkan dengan di Indonesia, kalau kita mengundang orang makan di rumah, pasti sa' meja makan itu sudah penuh dengan bermacam-macam makanan.
Sekarang, saya justru menikmati "kesederhanaan" ini. Jadi kalau ada yang diundang untuk makan malam, saya tinggal bikin nasi/mie goreng, acar mentah, krupuk dan ayam goreng. Atau beberapa menu makanan yang simpel lainnya.
Sedangkan untuk model rijsttafel komplit (menu makanan Indonesia yang lebih beragam dan komplit) hanya saya lakukan untuk sebuah pesta yang lebih "special" dan dengan jumlah orang yang terbatas.

Masih ada lagi kebiasaan orang di sini yang sering bikin saya geregetan apa lagi pas musim hujan. Kebiasaan masuk ke rumah orang dengan sepatu, tidak perduli lantai rumah itu ditutupi dengan karpet dan sepatu mereka ada bercak lumpurnya.
Saat masih tinggal di appartement dulu, seluruh lantai appartement kami ditutupi dengan kapet. Rata-rata semua teman-teman saya yang bukan orang Belanda, saat mengunjungi kami, langsung membuka sepatu mereka sebelum masuk ke ruang tamu. Sementara teman-teman yang Belanda, ssrrrrttt... langsung saja dengan sepatu-sepatunya Annoyed And Disappointed

Sekarang kami lantai rumah kami adalah jenis parket/kayu.
Saat teman-teman saya yang bukan orang Belanda mengunjungi saya, mereka juga hendak membuka sepatunya. Terpaksa saya cegah, karena lantainya lebih dingin daripada lantai dengan lapisan karpet. Dan mereka merasa sangat risih harus masuk dengan sepatu ke dalam rumah. Akhirnya saya katakan, kalau kalian merasa risih, lain kali bawalah slop rumah kalian jika hendak ke sini. Dan bagi mereka itu bukan masalah besar. Itu hal yang sangat wajar.
Hmmm... akan sangat menyenangkan jika orang Belanda juga menganggap itu hal yang wajar ya. Mungkin perlu dicoba saat musim hujan begini.
Mengepel lantai, membersihkan bekas jejak-jejak sepatu yang kotor setelah tamunya berlalu di musim hujan bukan hal yang besar, namun apakah saya terlalu berlebihan jika menurut saya akan lebih menyenangkan jika orang juga menghargai kebersihan lantai rumah kami?
Salah satu solusi yang bisa kami lakukan sekarang adalah menyediakan dobel keset di hall masuk yang bisa menyerap air dan kotoran dari sepatu dengan cepat saat hujan.

Belum lagi cara cuci piring khas orang Belanda yang pada awalnya sangat mengejutkan saya.
Astaga!!! Bayangkan saja, bak di isi dengan air panas, kemudian tuangkan sabun cuci piring secukupnya. Celup piring/gelas kotor ke dalam air panas dan sikat dengan sikat cuci piring, keluarkan tanpa dibilas lagi, masih penuh berlumuran busa begitu langsung dikeringkan dengan serbet.Shocked



Berhubung mesin cuci piringnya masih belum terpasang alias cuci piringnya masih manual, saya lebih memilih mencuci piring dengan cara saya sendiri, membilas piring/gelas dengan air bersih setelah dari air sabun, dan memilih menggunakan spons daripada sikat. Sedangkan jika giliran Reinier yang mencuci piring, dia boleh menggunakan caranya (cara Belanda). Namun karena Reinier mengetahui saya agak jijik dengan busa sabun yang masih menempel, dia selalu membilas sekilas busa-busa sabun tersebut sebelum dikeringkan

Ah.. yang di atas itu hanyalah sebagian dari perbedaan kebiasaan yang saya temui di sini.
Sebuah negeri ibarat sebuah keluarga. Setiap keluarga memiliki aturan dan kebiasaannya sendiri-sendiri.
Jadi teringat peribahasa saat SD dulu,
di mana kaki berpijak, di situ langit dijunjung.

Mungkin saya termasuk orang yang easy going.
Saya termasuk orang yang ingin menikmati kehidupan yang saya miliki tanpa harus berubah menjadi orang lain.
Setidaknya sampai saat ini, saya tidak menemui kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan kebiasaan di sini tanpa harus kehilangan "identitas budaya" yang telah saya miliki.
Semoga terus demikian.

Bagaimana dengan pengalaman kalian?