Friday, April 28, 2006

Prettige vakantie

Cuaca, bahan hampir selalu menjadi pembuka sebuah percakapan dengan orang yang belum kita kenal di sini. Entah itu di halte, di bus, di supermarket, atau di ruang tunggu dokter misalnya. Bahan yang tidak pernah basi dan ketinggalan jaman.

Bagaimana tidak? Cuaca di sini selalu berubah-ubah. Contohnya awal minggu ini, cuaca sangat cerah dengan suhu udara mencapai 20°C. Hari Rabu diwarnai dengan gerimis hampir seharian, kemarin cerah seharian, hari ini juga cerah ceria tapi suhu udara hanya 12°C. Sementara ramalan untuk weekend besok adalah hujan dan suhu udara hanya berkisar 9°C.
Payah.. padahal saya berharap weekend dihiasi dengan cerah dan hangat mentari.
Tapi.. sudahlah. Saya toch bukan seorang pawang cuaca.
Yang penting adalah... Mei vakantie telah tiba!!!!! Too Happy 2 Asyik.. asyik... Astaga.. kelakuan.. masih seperti anak kecil saja. Tapi, liburan memang selalu mengasyikkan bukan? Spinning
Karena minggu depan saya libur selama seminggu, saya permisi, kabur dulu aah..

Map

Fijn weekend en prettige vakantie allemaal!!

Monday, April 24, 2006

Sepucuk surat untuk Jelita

Jelita, waktu berlalu tanpa terasa, kesibukan demi kesibukan benar-benar tidak menyisakan tempat bagimu, yang dipanggil kembali oleh-Nya beberapa tahun yang lalu, di benakku.
Aku tak tahu mengapa, hari-hari terakhir ini kamu terus hadir dalam benakku. Kuputuskan untuk menulis rangkaian kata-kata ini untuk mengenangmu, sekaligus juga membagi kisahmu yang mungkin bisa berguna bagi perempuan lain.

Sosok perempuan yang supel, menyenangkan, menarik, lembut, tapi juga nakal. Itulah sosokmu yang aku kenal saat kita masih melewatkan waktu bersama dulu. Kamu sering membuat aku tergelak dengan candaanmu yang nakal dalam balutan suaramu yang lembut itu. Kerlingan matamu dan senyummu membuat banyak laki-laki yang bertekuk lutut. Sederetan nama bekas pacarmu sudah tidak asing bagi kami.
Tak jarang juga aku mendengar komentar-komentar ketus yang dilontarkan oleh perempuan-perempuan lain tentangmu. Ah.. mungkin mereka iri dan cemburu dengan apa yang kamu miliki.

Aku masih ingat kerlingan bahagia di matamu saat kamu mengenalkan pacar terakhirmu pada kami. Laki-laki itu ganteng, rapi dan kalem.
Tapi semuanya berubah dengan cepat. Kamu menjadi begitu terikat olehnya, sampai-sampai kamu harus meminta ijinnya untuk clubbing bersama kami. Astaga, pacaran sampai mengikat begitu?
Dalam mataku saat itu, kamu menyimpan ketakutan. Ada apa Jelita?

Aku ingat percakapan kita beberapa bulan kemudian, saat aku mendengar bahwa pacarmu juga pernah memukulmu. Saat kusarankan agar kamu tinggalkan saja dia, kamu menjawab kalau kamu tak bisa melakukannya karena kalian sudah dijodohkan oleh keluarga. Kamu juga bercerita bagaimana reaksi ibu kamu saat kamu beritahu bahwa laki-laki itu memukulmu, "Mungkin kamu yang salah nduk. Lain kali jangan bikin dia marah lagi ya."
"Apaaa???!!!ShockedIbu kamu bilang begitu?" Aku benar-benar terhenyak mendengar ceritamu itu. Tidak salahkah pendengaranku saat itu? Seorang ibu "merestui" anak gadisnya diperlakukan kasar seperti itu oleh pacar anaknya? Sungguh tidak bisa kumengerti.

Aku juga masih ingat kata-katamu saat kukatakan kalau yang akan menikah itu kamu bukan keluargamu, mestinya kamu bisa menyatakan sikap.
"Aku bukan seperti kamu, Since, yang bisa melakukan apa yang kamu mau, yang berani mengatakan tidak pada siapa saja pada saatnya. Aku tidak bisa seperti itu. Kita dibesarkan dengan cara yang berbeda. Aku sungguh tidak bisa menentang keluargaku."
"Lantas, kamu akan menikah dengan laki-laki "serigala berbulu domba" yang ringan tangan dan mengikat kebebasanmu itu? Mengorbankan hidup kamu seperti ini? Untuk apa? Apakah kamu mencintai dia?"
Kamu diam.. dan kemudian menjawab, "Mungkin suatu saat nanti dia akan berubah, menjadi lebih baik karena diperlakukan dengan baik."
Oh Jelita, aku tahu kamu tidak sebodoh itu. Saat itu yang melintas di benakku adalah kamu itu naif atau kamu sedang berusaha menghibur diri kamu sendiri?

Sejak percakapan kita itu, aku berhenti menyarankan kamu untuk meninggalkan laki-laki itu dan menentang rencana keluargamu itu.
Tidak semua orang mampu dan berani mengambil resiko akibat menentang sebuah "tradisi".
Kamu sudah membuat keputusanmu. Kebahagianmu dan kepedihanmu hanya kamu sendiri yang bisa merasakannya. Aku hanya bisa memberi saran. Tapi aku tak bisa menjamin kebahagianmu dengan saran-saranku kan?
Kamu pun lantas menikah dengan dia.

Saat kita sudah tidak bersua lagi, dari karibku aku mendengar kalau kamu masih sering dipukul oleh suamimu itu. Terakhir aku mendengar lagi kalau suamimu juga berselingkuh dengan perempuan lain.
Jelita, kamu muda, supel, menarik, dan tidak bodoh. Kamu punya kekuatan untuk berdiri sendiri tanpa tergantung dari dia.
Kenapa kamu tidak berontak? Kenapa kamu terus bersabar seperti itu?
Mengapa kamu membiarkan diri kamu dihina dan disakiti seperti itu?
Apakah itu cinta?
Adakah kebahagiaan yang kamu rasakan?
Apakah keluargamu berbahagia melihat kamu diperlakukan seperti itu oleh suamimu?
Apakah kamu takut dengan apa kata masyarakat jika kamu meninggalkan dia? Perduli setan dengan apa kata mereka!! Terpikirkah kamu apa kata mereka tentang perselingkuhan suamimu? Apakah mereka menyalahkan suamimu atau justru mereka menyalahkan kamu? Apakah mereka juga merasakan apa yang kamu rasakan?
Atau kamu takut pada suamimu?
Apa yang ada di balik ketakutanmu?

Tapi, akhirnya semua berlalu juga. Penyakit lamamu kembali meradang dan membawa kamu kembali pada-Nya. Aku berharap, kamu sudah mendapatkan kedamaianmu di sana.

Jelita, kutuliskan kisahmu ini bukan supaya orang-orang mengutuk laki-lakimu itu. Tidak.. tidak.. aku tidak ingin menambah panjang daftar dosaku. Aku hanya berharap semoga kisah ini juga bisa menjadi pelajaran bagi Jelita-Jelita lain, bagi perempuan-perempuan lain, yang juga sedang jatuh cinta pada orang yang salah. Keluarlah sebelum melangkah lebih jauh.

Tidurlah dengan tenang Jelita, damailah di sisi-Nya.

Penutup

Aku tahu kita tidak bisa menolak saat cinta datang menyapa. Tapi, walaupun berat dan sakit, kita bisa memutuskan untuk melanjutkan atau menyudahinya, terlebihi jika itu pada orang yang salah. Kita mungkin akan beberapa kali jatuh cinta pada orang yang salah sebelum kita menemukan orang yang benar-benar tepat.
Dan itu juga yang terjadi dalam perjalananku. Tidak, bukan karena urusan karate, thai boxing atau taekwondo. Hanya saja mereka bukan orang-orang yang tepat.
Jika orang yang tepat ini tidak pernah datang, maka aku akan lebih memilih menyusuri hidupku sendiri daripada bersama dengan orang yang salah. Daripada saling menyakiti nantinya.

Jatuh bangun dan babak belur karena cinta yang salah, namun dari situ juga kita akan banyak belajar tentang diri kita sendiri, dan mengenal orang yang tepat untuk kita.

Yang aku tahu, dalam cinta ada penghargaan, ada kasih, ada pengertian, ada perlindungan, ada rasa hormat, ada dukungan, ada kebanggaan.
Aku hanya mau membagi hidupku dengan orang yang mencintai aku dengan cara ini. Mungkin aku adalah pencinta yang egois, tapi aku juga mencintai diriku sendiri.

Tuesday, April 18, 2006

Weekend Paskah:

Antara Keukenhof dan Goes.

Weekend panjang!! Tetap saja asyik walaupun tidak ada rencana yang heboh untuk mengisi weekend panjang itu.
Kami hanya mengisi weekend panjang ini dengan mengunjungi Keukenhof, taman bunga yang hanya buka selama satu setengah bulan selama musim semi setiap tahun (tahun ini buka dari 23 Maret sampai 19 Mei), dan mengunjungi mertua di Goes.

Untuk menghindari berdiri lama dalam antrian di depan loket karcis di Keukenhof, apalagi saat liburan seperti ini, kami membeli tiket masuk kami secara on-line.
Sayangnya belum semua bunga mekar di dalam taman seluas 32 hektar ini. Suhu yang masih lebih dingin dari biasanya menyebabkan bunga-bunga ini lambat untuk mekar. Tak menjadi masalah bagi saya. Berjalan menelusuri taman ini sungguh membuat saya serasa di-recharge lagi. Harum kulit pohon, bau tanah yang basah serta bau lumut.. sungguh menyegarkan.

Sudah tentu kami juga singgah di rumah kaca untuk melihat koleksi tulip yang ada. Waaahh.. mulai dari jenis-jenis tulip yang sering saya lihat di pasar sampai jenis tulip yang super lebar kelopak bunganya, bergaris-garis dengan warna-warna yang menarik, bahkan ada yang mirip dengan secarik kain kumuh dengan benang-benang yang terurai.



Sudah pasti saya tidak akan melewatkan moment-moment ini begitu saja dari balik lensa kamera mungil saya. Foto-foto yang lain bisa diklik di sini.

Selain rumah kaca ini, masih ada dua pavilion lain yang kami kunjungi. Kami tidak lama berada di dalam kedua pavilion ini. Terlalu banyak pengunjung yang berdesakan di dalam pavilion yang dipenuhi anggrek, membuat saya merasa gerah tidak nyaman. Sementara walaupun pengunjung jauh lebih sepi di pavilion yang dipenuhi mawar, saya tidak terlalu tertarik pada mawar untuk menghabiskan banyak waktu di sana.

Minggu dan Senin, kami lewatkan di Goes, di tempat mertua. Memasak bersama, dan karena cuaca yang sangat cerah dan hangat kami juga melewatkan waktu merapikan kebun bersama.
Saya selalu menyukai kebun mertua saya ini. Saya bisa menghabiskan berjam-jam di sini. Luas dan indah. Saya selalu menemukan mangsa menarik untuk kamera saya salama musim semi sampai musim gugur di sini.




Seperti kali ini misalnya, spring is in the air! Serangga-serangga kecil mulai keluar dan berkembang biak. Masa bercinta tiba!!
Laba-laba yang asyik berjemur di atas daun, menikmati hangatnya mentari. Lebah yang terbang dan hinggap di setiap kuntum bunga mengumpulkan putik madunya.

Hangat mentari menyapa kulit dan menyapa hati.
Sungguh saya tidak pernah menyangka sebelumnya, salama masih di Indonesia, bahwa akan ada saat dimana saya begitu merindukan kehangatan mentari seperti saat ini.
Selain itu, saya juga bersyukur, karena dianugerahkan orang-orang yang juga berhati hangat disekeliling saya. Sebuah kehangatan bagi jiwa.
Kasih.. Bukankah itu juga makna Paskah?

Selamat Paskah!!

Tuesday, April 11, 2006

Agenda seminggu terakhir..

Senin minggu lalu saya mengunjungi konsulat Inggris di Amsterdam, setelah bikin janji lewat internet online untuk pertemuan jam 10.00 pagi, dengan embel-embel catatan kecil, pertemuan bisa dibatalkan karena keterlambatan anda. Hmm.. jangan terlambat... baru jam 12.00 siang giliran saya dilayani. Baru jam 12.30 saya meninggalkan gedung konsulat itu. Wahh ini sih keluar dari rencana jadwal saya hari itu. Mana sempat ke sekolah lagi nih? Telepon teman sekelas, tolong urus absensi saya hari ini di kelas ya.

Rabu minggu lalu saya harus menemui kontak person saya untuk urusan inburgerings cursus. Dalam pertemuan itu, resmi berakhir inburgerings cursus saya. Belum, saya belum menerima hasil test yang lalu. Tapi seperti yang pernah saya jelaskan, tidak ada istilah gagal untuk hasil test itu. Walaupun demikian, saya tetap berharap hasil ujian itu sesuai dengan yang saya harapkan.
Karena masa setahun wajib inburgerings cursus sudah berakhir, artinya saya sudah bisa melenggangkan kaki saya meninggalkan kelas saya dan buku-buku pelajaran saya itu. Namun saya juga masih memiliki sisa 6 bulan dari keseluruhan paket yang bisa saya manfaatkan. Dasar si Since, malah memutuskan untuk terus melanjutkan sisa 6 bulan untuk kursus NT2 (kursus bahasa Belanda) bersama kelas saya itu. Mumpung sisa 6 bulan ini masih terus dibayarin dan juga karena saya ingin melakukan NT2-2 staat examen nanti.

Kamis minggu lalu, makan malam bersama teman sejak kanak-kanaknya Reinier, Andy bersama istrinya, Catelijn dan anak-anak mereka Bjorn dan Dymphy di tempat kami. Kali ini nuansa hidangannya Chinese food ala Since dan Reinier. Cap cay, fu yung hai dan ayam cah jamur dengan saus tiram.
Ah.. saya selalu jatuh hati pada anak-anak ini. Si bungsu sungguh cute tapi masih terlalu kecil untuk diajak bermain. Si sulung juga cute, cerdas, antusias dan kadang nakal juga. Zo lief.
Sedang asyik menikmati kopi dan bercengkerama dengan keluarga ini, tiba-tiba telepon berdering. Ah.. ternyata undangan makan malam mendadak dari Bas, seorang teman, yang saya kenal saat dia menjadi tamu di atas kapal di mana saya bekerja dulu.

Hasilnya Jumat malam kemarin kami habiskan di tempat Bas bersama dua teman lainnya dari Utrecht. Tema makan malamnya Indische keuken alias makanan Indonesia. Ketupat, gado-gado, sambal goreng telur, sambal goreng tempe, ikan asin, dan sambal. Waah.. lekker!!! Surprise juga buat saya, bule bisa masak makanan Indonesia dengan begitu menggigit di lidah!!
Makan malam diakhiri dengan ice cream dengan lichee, kopi dan kahlua (Mexican coffee liqueur). Ah.. saya memang menyukai minuman beralkohol yang manis rasanya.

Sabtu kemarin, setelah siangnya sambil berhujan-hujanan shopping di winkel centrum di Valkenswaard (kira-kira 25 menit dari Eindhoven).
Malamnya masih dengan judul yang sama, makan. Kami memenuhi undangan makan malam dari Julia, seorang teman saya dari Rusia. Makan malam dengan menu makanan Rusia!!
Wow.. dia benar-benar membuat surprise bagi kami. Dimulai dengan hidangan pembuka dua jenis salad yang berbeda namun sama-sama menggoyang lidah, diikuti dengan hidangan utama, panekuk dengan isi nasi dan daging cincang dengan sourcream. Penutupnya kopi dan appel pie.
Wah... sampai benar-benar sulit berdiri Blushy

Wadew.. berantakan nih program diet-nya.

Minggu seharian saya terkapar, sakit. Griep. Demam dan seluruh otot dan tulang saya sakit dan ngilu rasanya, seperti petinju yang baru habis dihajar, kalah pula. Benar-benar hanya terbaring di sofa seharian. Reinier sungguh merawat dan memanjakan saya. Untung juga laci obat saya selalu tersedia obat yang saya butuhkan, sehingga tidak terlalu merepotkan jatuh sakit di hari Minggu.
Dasar melayu tetap melayu, belum komplit rasanya tanpa kerokan. Terbayangkan bagaimana kira-kira ekspresi wajah Reinier saat saya minta untuk mengeroki saya? Eyes Poppin hihihi..
Baru setelah dikerokin saya bisa tertidur pulas. Ringan rasanya.

Senin, masih lemes untuk ke sekolah. Kepala pun masih nyut-nyutan. Seharian pun lidah ini rasanya tak enak. Semua yang saya cicipi rasanya wuaak!!! Hmm.. mungkin ada baiknya juga kalau yang ini. Jadi bisa diet. Hihihihi.. tapi menyiksa benar.
Senin malam.. kenapa juga ini batuk ikut-ikutan muncul?? Ini juga kepala, kenapa juga makin nyut-nyutan? Sebel!!! Kompak sekali kalian?

Hari ini, Selasa. Masih belum ke sekolah walaupun kondisi saya sudah lebih baik. Tapi, rasanya separuh jiwa saya masih melanglang buana di luaran sana mencari angin segar.
Waaaahhh... benar-benar kangen dengan rawatan, belaian dan omelan ayah bunda kalau sedang sakit begini.
Ternyata, manja juga si Since ini, ya!!! Teethy

Padahal sakit tidak termasuk dalam agenda saya...
Hopefully, tomorrow will be better.

Sunday, April 09, 2006

Sepenggal Cerita...

Penerbitan Playboy Indonesia, Playboy zonder naakt, meminjam komentar salah satu media di Belanda, sejak awal sudah menimbulkan perdebatan panas yang menghiasi media-media di Indonesia. Terlepas dari pro dan kontra terhadap penerbitan majalah ini, perdebatan panas tersebut justru menambah popularitas majalah ini. Advertensi gratis.

Apa sih yang ada diujung keributan-keributan ini?
Jika itu tentang akhlak, kenapa harus ribut?
Jika akhlakmu benar dan niatmu kuat maka tak perduli bagaimana godaan di sekitarmu, jalanmu pun tetap akan lurus. Justru godaan-godaan itu adalah proses pembelajaran yang menguatkan dan membuatmu menjadi selangkah lebih baik.
Mengapa bukannya akhlak yang dikuatkan, dimatangkan?
Menyingkirkan godaan, bukankah itu merupakan sebuah mission impossible? Bukankah godaan adalah bagian dalam kehidupan ini.
Katakanlah, satu godaan berhasil disingkirkan. Apakah itu lantas menyelesaikan masalah?

Saya teringat kembali akan peristiwa yang pernah saya alami beberapa tahun yang lampau.
Saat itu saya masih seorang yang sangat keras kepala, tidak sabaran dan mudah meledak dalam amarah. Sungguh saya menyadari kelemahan saya yang satu ini. Suatu malam saya berbicara dengan Tuhan, memohon bantuanNya supaya saya mampu mengendalikan emosi saya ini.
Malam itu saya berpikir, Tuhan mendengar doa saya dan melenyapkan penyebab-penyebab yang bisa membuat saya meledak lagi.
Tapi apa yang terjadi, keesokan harinya jutru terjadi hal-hal yang membuat saya terus menerus meledak. Saya tak mampu menahan kesabaran saya.
Saya kembali protes pada Tuhan, kenapa justru saya dihadapkan pada situasi yang sebenarnya ingin saya hindari?
Tidak ada jawaban.
Setiap hari kejadian demi kejadian membuat saya marah, kecewa dan sempat berpikir, "Apa maunya Tuhan, sih? Kok bukannya godaannya dilenyapkan, malah kejadiannya makin menjadi-jadi? Kenapa pada saat saya ingin menjadi seseorang yang lebih baik, jutru saya diberikan jalan yang semakin terjal dan sakit? Apa yang Tuhan inginkan dari saya?"

Tapi ternyata Tuhan bekerja dengan caraNya. Dia mengajarkan saya dengan caraNya.
Dia tidak melenyapkan godaan-godaan itu seperti harapan saya. Namun justru Dia mengajarkan saya melewati godaan-godaan itu, Dia mendewasakan saya lewat kejadian-kejadian itu. Kemampuan saya mengontrol emosi justru ditempah saat menghadapi godaan-godaan itu.
Saya bersyukur akan pelajaran-pelajaran itu. Saya menjadi saya yang lebih baik dari sebelumnya.

Godaan, masih sering saya tersungkur jatuh karenanya, namun dia bukan untuk saya hindari.
Semakin saya ingin menjadi lebih baik, semakin banyak masalah menghampiri saya, menguji niat saya, melatih dan membelajarkan saya.
Biarlah saya letakkan lengan saya dalam genggaman kasihNya, karena hanya itu kekuatan saya.
Bagaimanapun godaan yang terbesar ada dalam diri saya sendiri.

Ini hanya sepenggal cerita.
Sepenggal cerita tentang niat dan godaan...

Sumber gambar: Glitterberries.