Showing posts with label Temans. Show all posts
Showing posts with label Temans. Show all posts

Monday, March 19, 2007

Antara Tapas dan Dim Sum

Ada gosip apa antara tapas dan dim sum?
Mereka adalah judul wiken kemarin.
Ah, yang pasti dua-duanya menggoyang lidah dan menebalkan ukuran lemak di tubuh! Hysterical

Tapas lagi??
Yup, tapas lagi Sabtu kemarin.
Kali ini tapas avond bersama Kasia, Roy dan Sun.

Sabtu pagi Reinier sudah sibuk menguleni roti Focaccia dan menyiapkan sangria, sementara saya menyiapkan pasta salad dan memotong/mengiris bahan-bahan lain untuk tinggal digrill dan digoreng saja nanti. Kami menyiapkan 5 macam sajian tapas selain roti Focaccia, dan Kasia dan Roy juga membawa 5 macam sajian tapas.

Mereka tiba sekitar jam 4 sore, dan acara makan-makan pun segera dimulai setengah jam kemudian dengan salmon salad buatan Kasia dan roti Focaccia yang fresh from the oven.
Acara makan ini juga diselang-seling dengan ngobrol, bercanda, menikmati sangria dan pause sebentar untuk menyiapkan makanan lainnya bersama (Kasia harus menggoreng sayur panir buatannya, saya harus menyiapkan grill paprika dan juga menggoreng calamaris).
Pause ini juga berguna untuk menyiapkan ruangan di perut untuk menu selanjutnya Smiles
Wah.. benar-benar meriah dan menyenangkan.

Acara makan-makan ini berlanjut sampai sekitar jam setengah sepuluh malam, saat kami semua tergeletak kekenyangan. Bahkan sosis bawaan Kasia tidak sempat tersentuh karena memang sudah tidak ada ruangan yang tersisa lagi di perut ini.
Tapi untung juga kami menyiapkan semuanya tidak terlalu berlebihan sehingga tidak banyak yang tersisa.

Setelah membersihkan dapur bersama, acara ngopi dan ngobrol terus dilanjutkan sampai sekitar jam setengah 12, saat para tamu ini pamit pulang.
Hahaha.. sudah tentu kami berdua pun segera tergeletak pulas.

Saat bangun minggu pagi, perut masih terasa kenyang. Pilihan yang terbaik tentunya adalah brunch yang ringan, terutama untuk saya yang masih punya judul dim sum untuk minggu siang kemarin di Nan-King restaurant dengan 2 dim sum lovers, Retno dan Leni.

Keasyikan ngobrol dan makan siang itu, ternyata tidak terasa sudah 3,5jam berlalu.
Dim-sumnya enak, temen ngobrolnya juga asik-asik, hanya saja pelayannya bikin gemes. Ah.. biarkan saja, mungkin dia sedang tidak berbahagia.
Semoga tawa ceria kami bisa membantu menghangatkan hatinya.
Woooaaahhh apa bukan sebaliknya malah bikin mbak itu makin gemes dan jutek?? Hahahaha... emang gue pikirin?? Hysterical
Wah.. kapan diet saya berhasil dong? Cover Up

Monday, January 29, 2007

Gezellig Bersama Teman-Teman Lama

Sebagian teman-teman selam Reinier sudah saya kenal sejak 8 tahun yang lalu, saat pertama kali mereka menjadi tamu-tamu saya di atas sebuah divecruise, Ambasi. Sebagian besar dari mereka, termasuk Reinier, bahkan sudah 3 kali bergabung di atas Ambasi bersama saya mengarungi dan menyelami lautan Indonesia, Bali, Komodo sampai Maumere, Makassar, Taka Bone Rate sampai kepulauan Tukang Besi, Maumere, Banda, Raja Ampat sampai ke Sorong!!
Mereka juga khusus hadir dalam prosesi pernikahan kami di Bali 2 tahun yang lalu.
Ahh.. ada banyak cerita bersama mereka.

Kali ini kami mengadakan house warming party bersama mereka. Sebagian dari mereka sudah pernah mengunjungi kami di rumah yang baru ini, seperti Tonnie yang membantu kami selama seminggu penuh saat sedang merampungkan rumah ini dan juga saat pindah rumah, demikian juga dengan Robin dan Olga yang membantu memindahkan barang-barang kami saat hari pindah rumah.

Namanya juga pesta, dan berhubung kami sudah lama saling mengenal dan tahu selera lidah masing-masing, maka saya dan Reinier sengaja membuat hidangan komplit ala Indonesia.
Mulai dari nasi kuning (hasil karya Reinier), telur bumbu bali, acar kuning, sambal goreng buncis, rendang sapi, ayam goreng, sambal tumis, tidak ketinggalan juga lalapan dan krupuk.
Tadinya masih ingin ditambah dengan sambal goreng tempe, tapi karena rasa malas yang sudah menyergap, terpaksa tempenya kapan-kapan saja Smiles

Ah... kadang-kadang saat sedang sibuk di dapur, saya jadi teringat mama. Kalau saja dulu mama 'gak galak mengharuskan saya membantunya di dapur, tentunya sekarang saya sudah kelabakan untuk urusan dapur ini. Sekarang, terasa benar hasil didikan mama. Padahal dulu saya sering banget sebal lho saat disuruh membantu di dapur Blushy Ahh... jadi malu...
Thanks ma!!!

Karena mereka semua, berenam, juga menginap di sini, jadilah setelah semua makanan disikat habis, acara dilanjutkan dengan ngobrol ke sana ke mari dari yang serius sampai yang mengocok perut sampai larut malam. Saya sendiri baru 03.30 subuh merebahkan diri di tempat tidur, gara-gara keasyikan ngobrol, berbagi pengalaman dan info tentang fotografi dengan Robin yang juga suka membidik dari balik lensa.

Keesokan harinya setelah brunch, acara ngobrol masih dilanjutkan sampai kira-kira jam dua siang. Dan setelah semua tamu kembali ke rumahnya masing-masing, Reinier dan saya langsung terkapar di atas sofa dan langsung tertidur selama 3 jam!!!
Wuuuaaahhh cuapeeekknyaa!!!
Tapi sungguh, menyenangkan!!! :)

Sunday, December 31, 2006

Gosip Akhir Tahun

Wajah-wajah di atas yang sedang sibuk membersihkan taoge ini adalah wajah-wajah para TKW yang disalurkan dan dipekerjakan pada nyonya S, secara sukarela oleh diri mereka sendiri.
Dari kiri ke kanan:
Ira, TKW asal Surabaya.
Tiwi, TKW asal Semarang.
Dinati, TKW asal.... hmmm... Hmm waduh infonya 'gak lengkap nih. Dyah kamu dari mana sih?

Tapi... siapakah nyonya S, sang penampung para TKW ini?
Marilah kita lihat profil nyonya S ini:

Nyonya S alias nyonya Susie, ibu dari 4 anak ini adalah pengusaha taoge yang sukses dari De Meern.
Dari ekspresi wajahnya jika melihat hasil pekerjaan TKW-nya yang tidak memuaskan, bisa kita simpulkan bahwa nyonya S ini adalah seorang pengusaha handal dan pekerja keras, juga berhati baja dan bersyaraf kawat, emangnya Gatot koco??? Hysterical
Pssst.. padahal Susie sedang asyik bermain dengan si bungsu di gendongannya tuh Teethy

Partner usaha nyonya S dalam bisnis pertukaran TKW ini adalah nyonya I alias nyonya Inne, pengusaha soes yang sangat terkenal dari Eindhoven.

Nyonya I pada saat ini juga sedang dicari-cari oleh para blogger yang mengikuti acara kumpul-kumpul Boxtel yang lalu, gara-gara kasus soes Hantu-nya. Soes yang beredar dan menghilang dengan kekuatan super cepat!!!

Saat berita ini diturunkan, nyonya S dan nyonya I sedang memanfaatkan tenaga2 para TKW ini untuk mengerjakan proyek mereka yang terbaru untuk malam tahun baru nanti. SOES dengan vla TAOGE!!! Sebagai protes untuk oliebollen yang dirasakan terlalu berminyak dan hanya menambah bobot tubuh.

Pssstt.. jangan dipercaya ya berita di atas, namanya juga gosip akhir tahun!!! Bounce
Foto-foto tersebut diambil kemarin malam saat acara Natal di kediamannya Susie dan Frank.
Acaranya full dengan makanan!!!
Foto dan cerita yang lengkap pasti bisa ditemui di blog teman-teman yang lain, terutama di blog Susie dan Tiwi, yang bapak-bapaknya aktif jepret sana sini.
Si Since sih lebih asyik makan dan ngerumpi daripada main dengan kameranya Smiles

Demikianlah gosip akhir tahun.

Since dan Reinier mengucapkan SELAMAT TAHUN BARU!!! untuk anda semua.

Happy New Year Happy New Year 2007

Sunday, December 10, 2006

Kumpul-kumpul

Gara-gara usul ibu ini, dan kontak beberapa kali lewat e-mail dengan beberapa teman dunia maya, akhirnya tercapailah kumpul-kumpul Boxtel 2006 tadi siang.

Tanpa harus banyak kata untuk menggambarkan suasana kumpul-kumpul ini, cukup dengan 3 kata: Ramai dan gezellig.

Tidak banyak foto yang saya ambil selama kumpul-kumpul ini. Maklum saja, saya lebih terhanyut untuk ngobrol, bercanda dan saling menggoda, langsung dengan teman-teman dari dunia maya ini.
Para suami dan anak-anak pun tidak sempat saya jepret.
Anak-anak ramai sibuk bermain, sementara untuk men'jepret para bapak, saya takut. Takut diplototin para ibu. "Ngapain lo njepret-jepret laki gue??!!" Spinning hihihi..
Pssst.. alasan tuh Hysterical


Yang ikut kumpul-kumpul; ada Mbem, ada Susie, ada Dinati, ada Tiwi yang punya rumah, ada Ira, ada Ema, ada yang punya blog ini, ada Marlina, ada Rini, dan ada Tini, mbaknya Tiwi.
Yang ambil fotonya tentu saja pasukan para bapak.


Tiwi, Dinati dan Rini sedang sibuk mengatur yang enak-enak di meja.


Mbem dan Ira, sedang ng'rumpiin apa hayooo...!!! Teethy


Aduuuhhh.. tuh lirikan Ira dan Susie... Siapa yang sedang dilirik tuh? Ema!!!
Ema 'gak ikutan kena kilat blitz nih gara-gara duduknya langsung di samping yang motret. Sorry Ema, sebenarnya justru menyelamatkan dikau kok. Bayangkan saja kalau diclose-up dalam jarak sedekat itu, bisa-bisa cuma kuping yang kena, hihihi Angel 2


Marlina yang sedang mewawancarai Rini: "Rin.. Rin.. enak ya kuenya?" Teethy


Auuhh... tatapannya Mbem... Melas-melas basah... Istilah apaan lagi ini... Asaaal!!! Ngarang!!! Hysterical
Dinati, di samping Mbem sedang serius mendengar apa ya? Thinking

Inne, yang blognya hanya bisa dibaca oleh orang-orang berkekuatan super (blognya hanya bisa dibaca dengan kekuatan psikokinesis sih ROTFL) , muncul kemudian dengan sekantong kue soes. Makanya 'gak sempat difoto soalnya yang punya kamera terlanjur terlena dengan kue soesnya Teethy

Sekitar jam 16.00 setelah kenyang dengan tawa dan makanan, setelah ikut beberesan, masing-masing bertolak kembali ke rumah masing-masing dengan sekotak makanan hasil pembagian jatah.
Tinggallah Tiwi dan Erik yang sibuk membenahi rumah mereka hasil acak-acak anak-anak yang manis-manis ini.

Thanks ya, Tiwi dan Erik.

Dan buat Susie, Ira, Mbem, Ema, Marlina, Dinanti, Inne, Rini dan Tini, juga Tiwi, it was so nice to meet all of you!!

Buat Yulia dan Wiwin, semoga anak kalian cepat sembuh ya.

PS: Mau foto-foto yang lebih banyak dan cerita yang lebih seru? Tinggal klik di rumah maya teman-teman di atas.

Thursday, November 02, 2006

Kilas Balik

Kemarin adalah hari terakhir kursus bahasa Belanda saya di ROC.
Ahh..
Mungkin agak berlebihan, tapi ada rasa sedih yang menggelitik di sudut hati saat saya berjalan meninggalkan gedung sekolah itu.

Tak terasa waktu satu tahun setengah berlalu sudah.
Padahal saya masih ingat hari pertama saya menginjak gedung itu...
Saat itu saya sama sekali belum bisa membentuk satu kalimat pun dalam bahasa Belanda.
Ada banyak hal sudah yang saya peroleh di sana. Bukan hanya pelajaran bahasa Belanda, tapi juga beberapa pengetahuan umum lainnya, yang tadinya saya merasa konyol, ternyata setelah dipikir-pikir, sangat berguna semua informasi tersebut.
Tempat yang merupakan media perantara yang pertama antara saya dengan dunia luar semenjak kepindahan saya ke mari.

Bukan hanya itu, saya juga menemukan kenalan-kenalan baru dari bangsa-bangsa lain.
Beberapa dari kenalan-kenalan itu kemudian menjadi teman-teman saya.
Teman-teman dengan latar belakang budaya dan bahasa asal yang sangat berbeda tapi ternyata gokilnya sama Smiles
Teman-teman yang kemudian saling berbagi rasa dan berbagi cerita.

Foto-foto di bawah merupakan sekedar kilas balik dari group saya, LN-04.
Group yang dimulai dengan 9 murid, yang semuanya wanita. Group yang "wajah" penduduknya beberapa kali berubah-ubah. Setelah liburan musim panas 2005, group ini dihiasi dengan wajah dari jenis kelamin lain, satu-satunya cowok dalam group kami sampai hari kemarin. Group yang kemudian berakhir hanya dengan 4 murid, dan bahkan sempat 2 kali digabungkan dengan kelas lain.

Juni 2005


November 2005


Desember 2005


Mei 2006


Foto-foto yang lain dari kegiatan kami bisa diklik di sini.

PS: Cerita soal rumah baru menyusul nanti, jika inet sudah lancar. Sebel ih kalo gak punya inet. Smashy

Monday, April 24, 2006

Sepucuk surat untuk Jelita

Jelita, waktu berlalu tanpa terasa, kesibukan demi kesibukan benar-benar tidak menyisakan tempat bagimu, yang dipanggil kembali oleh-Nya beberapa tahun yang lalu, di benakku.
Aku tak tahu mengapa, hari-hari terakhir ini kamu terus hadir dalam benakku. Kuputuskan untuk menulis rangkaian kata-kata ini untuk mengenangmu, sekaligus juga membagi kisahmu yang mungkin bisa berguna bagi perempuan lain.

Sosok perempuan yang supel, menyenangkan, menarik, lembut, tapi juga nakal. Itulah sosokmu yang aku kenal saat kita masih melewatkan waktu bersama dulu. Kamu sering membuat aku tergelak dengan candaanmu yang nakal dalam balutan suaramu yang lembut itu. Kerlingan matamu dan senyummu membuat banyak laki-laki yang bertekuk lutut. Sederetan nama bekas pacarmu sudah tidak asing bagi kami.
Tak jarang juga aku mendengar komentar-komentar ketus yang dilontarkan oleh perempuan-perempuan lain tentangmu. Ah.. mungkin mereka iri dan cemburu dengan apa yang kamu miliki.

Aku masih ingat kerlingan bahagia di matamu saat kamu mengenalkan pacar terakhirmu pada kami. Laki-laki itu ganteng, rapi dan kalem.
Tapi semuanya berubah dengan cepat. Kamu menjadi begitu terikat olehnya, sampai-sampai kamu harus meminta ijinnya untuk clubbing bersama kami. Astaga, pacaran sampai mengikat begitu?
Dalam mataku saat itu, kamu menyimpan ketakutan. Ada apa Jelita?

Aku ingat percakapan kita beberapa bulan kemudian, saat aku mendengar bahwa pacarmu juga pernah memukulmu. Saat kusarankan agar kamu tinggalkan saja dia, kamu menjawab kalau kamu tak bisa melakukannya karena kalian sudah dijodohkan oleh keluarga. Kamu juga bercerita bagaimana reaksi ibu kamu saat kamu beritahu bahwa laki-laki itu memukulmu, "Mungkin kamu yang salah nduk. Lain kali jangan bikin dia marah lagi ya."
"Apaaa???!!!ShockedIbu kamu bilang begitu?" Aku benar-benar terhenyak mendengar ceritamu itu. Tidak salahkah pendengaranku saat itu? Seorang ibu "merestui" anak gadisnya diperlakukan kasar seperti itu oleh pacar anaknya? Sungguh tidak bisa kumengerti.

Aku juga masih ingat kata-katamu saat kukatakan kalau yang akan menikah itu kamu bukan keluargamu, mestinya kamu bisa menyatakan sikap.
"Aku bukan seperti kamu, Since, yang bisa melakukan apa yang kamu mau, yang berani mengatakan tidak pada siapa saja pada saatnya. Aku tidak bisa seperti itu. Kita dibesarkan dengan cara yang berbeda. Aku sungguh tidak bisa menentang keluargaku."
"Lantas, kamu akan menikah dengan laki-laki "serigala berbulu domba" yang ringan tangan dan mengikat kebebasanmu itu? Mengorbankan hidup kamu seperti ini? Untuk apa? Apakah kamu mencintai dia?"
Kamu diam.. dan kemudian menjawab, "Mungkin suatu saat nanti dia akan berubah, menjadi lebih baik karena diperlakukan dengan baik."
Oh Jelita, aku tahu kamu tidak sebodoh itu. Saat itu yang melintas di benakku adalah kamu itu naif atau kamu sedang berusaha menghibur diri kamu sendiri?

Sejak percakapan kita itu, aku berhenti menyarankan kamu untuk meninggalkan laki-laki itu dan menentang rencana keluargamu itu.
Tidak semua orang mampu dan berani mengambil resiko akibat menentang sebuah "tradisi".
Kamu sudah membuat keputusanmu. Kebahagianmu dan kepedihanmu hanya kamu sendiri yang bisa merasakannya. Aku hanya bisa memberi saran. Tapi aku tak bisa menjamin kebahagianmu dengan saran-saranku kan?
Kamu pun lantas menikah dengan dia.

Saat kita sudah tidak bersua lagi, dari karibku aku mendengar kalau kamu masih sering dipukul oleh suamimu itu. Terakhir aku mendengar lagi kalau suamimu juga berselingkuh dengan perempuan lain.
Jelita, kamu muda, supel, menarik, dan tidak bodoh. Kamu punya kekuatan untuk berdiri sendiri tanpa tergantung dari dia.
Kenapa kamu tidak berontak? Kenapa kamu terus bersabar seperti itu?
Mengapa kamu membiarkan diri kamu dihina dan disakiti seperti itu?
Apakah itu cinta?
Adakah kebahagiaan yang kamu rasakan?
Apakah keluargamu berbahagia melihat kamu diperlakukan seperti itu oleh suamimu?
Apakah kamu takut dengan apa kata masyarakat jika kamu meninggalkan dia? Perduli setan dengan apa kata mereka!! Terpikirkah kamu apa kata mereka tentang perselingkuhan suamimu? Apakah mereka menyalahkan suamimu atau justru mereka menyalahkan kamu? Apakah mereka juga merasakan apa yang kamu rasakan?
Atau kamu takut pada suamimu?
Apa yang ada di balik ketakutanmu?

Tapi, akhirnya semua berlalu juga. Penyakit lamamu kembali meradang dan membawa kamu kembali pada-Nya. Aku berharap, kamu sudah mendapatkan kedamaianmu di sana.

Jelita, kutuliskan kisahmu ini bukan supaya orang-orang mengutuk laki-lakimu itu. Tidak.. tidak.. aku tidak ingin menambah panjang daftar dosaku. Aku hanya berharap semoga kisah ini juga bisa menjadi pelajaran bagi Jelita-Jelita lain, bagi perempuan-perempuan lain, yang juga sedang jatuh cinta pada orang yang salah. Keluarlah sebelum melangkah lebih jauh.

Tidurlah dengan tenang Jelita, damailah di sisi-Nya.

Penutup

Aku tahu kita tidak bisa menolak saat cinta datang menyapa. Tapi, walaupun berat dan sakit, kita bisa memutuskan untuk melanjutkan atau menyudahinya, terlebihi jika itu pada orang yang salah. Kita mungkin akan beberapa kali jatuh cinta pada orang yang salah sebelum kita menemukan orang yang benar-benar tepat.
Dan itu juga yang terjadi dalam perjalananku. Tidak, bukan karena urusan karate, thai boxing atau taekwondo. Hanya saja mereka bukan orang-orang yang tepat.
Jika orang yang tepat ini tidak pernah datang, maka aku akan lebih memilih menyusuri hidupku sendiri daripada bersama dengan orang yang salah. Daripada saling menyakiti nantinya.

Jatuh bangun dan babak belur karena cinta yang salah, namun dari situ juga kita akan banyak belajar tentang diri kita sendiri, dan mengenal orang yang tepat untuk kita.

Yang aku tahu, dalam cinta ada penghargaan, ada kasih, ada pengertian, ada perlindungan, ada rasa hormat, ada dukungan, ada kebanggaan.
Aku hanya mau membagi hidupku dengan orang yang mencintai aku dengan cara ini. Mungkin aku adalah pencinta yang egois, tapi aku juga mencintai diriku sendiri.

Wednesday, February 15, 2006

When the time comes

Beberapa hari yang lalu saya menerima sebuah kabar yang sangat mengejutkan dari seorang teman di Bali. Sebuah kabar yang meneteskan air mata saya. Seorang sahabat telah berpulang. Kepergiannya pun begitu mendadak, serangan jantung membawanya kembali ke sisi Ilahi.

Dia yang pernah menjadi murid saya, yang kemudian menjadi salah satu sahabat saya.
Dia yang pernah menghibur saya dengan kata-katanya yang sederhana, saat begitu banyak orang di sekitar saya berkomentar buruk dan bergosip tentang saya.
Dia yang pernah menemani saya tanpa berpihak, saat saya merasa dikhianati.
Dia yang pernah sabar mendengar kemarahan-kemarahan saya tanpa mengomentarinya, tanpa mencoba menjadi si bijaksana.

Rasanya tak ingin percaya mendengar kabar itu.
Tak ada lagi sosok yang selalu riang dan penuh dengan canda yang kebanyakan nakal itu. Komentar-komentar dan banyolan-banyolannya selalu menghidupkan suasana dengan tawa. Dia yang tidak pernah marah saat digoda, hanya bisa masem dan menggerutu kecil, yang justru makin membuat kami, saya dan teman-teman, semakin menggodanya.

Tak ada lagi teman di dalam air yang bisa saya omelin karena mengacaukan visibility air di depan saya atau karena membuat obyek foto saya kabur...

Selamat jalan Handoko, selamat jalan sobat, tidurlah dengan tenang. Jangan kuatir, Tuhan menjaga orang-orang terkasihmu yang kamu tinggalkan, istri dan anak-anakmu.

Terima kasih sobat, karena telah pernah ikut mewarnai hidupku.



Beberapa hari yang lalu juga saya menerima sebuah orderan dari teman sekelas, digital photo's-collage, tentang saudara iparnya yang baru saja berpulang, juga secara mendadak, dalam sebuah kecelakaan lalu lintas.

Saya terdiam, kembali tersadar bahwa hidup adalah jalinan yang sungguh rapuh. Kita tidak pernah tahu, kapan waktu kita akan tiba. Namun jika waktu itu datang, maka tak ada kekuatan apapun untuk menghindar darinya.
Saya tidak tahu, masih seberapa lama waktu yang saya miliki di kehidupan ini. Saya hanya ingin memanfaatkan semaksimal mungkin waktu yang masih saya miliki dengan orang-orang yang saya kasihi.

If tomorrow never comes
Will she know how much I loved her
Did I try in every way to show her every day
That she's my only one
And if my time on earth were through
And she must face the world without me
Is the love I gave her in the past
Gonna be enough to last
If tomorrow never comes

...

So tell that someone that you love
Just what you're thinking of
If tomorrow never comes


(Ronan Keating)

Thursday, December 22, 2005

Kerstmarkt

Rencana jalan-jalan ke kerstmarkt (pasar Natal) di Koln, Jerman, akhirnya terlaksana juga weekend kemarin. Walaupun paginya turun salju, niat untuk jalan-jalan tetap kokoh tidak terpatahkan. Untung saja kami tidak terjebak macet, baik perjalanan ke Koln dan perjalanan kembali ke Eindhoven. Berempat (dengan Kasia, teman sekelas saya, dan pacarnya), kami menyusuri satu demi satu kerstmarkt di Koln.


de Dom van Köln

Yang paling pertama kami singgahi adalah kerstmarkt yang terdapat di sisi de Dom van Köln, Katedral di Koln. Untung juga tidak sulit bagi kami untuk menemukan tempat parkir di sekitar sana. Kami singgah sebentar, menjenguk sisi bagian dalam Katedral ini. Wah... arsitekturnya yang begitu mendetil membuat saya terkagum-kagum.


Christmas tree is everywhere.

Suasana di kerstmarkt ramai sekali. Percakapan lebih sering terdengar dalam bahasa Belanda dan Inggris daripada dalam bahasa Jerman sendiri. Selain kental dengan nuansa Natal, yang paling menonjol, setidaknya bagi saya dan Reinier, adalah bebauan yang membuat air liur kami menetes. Yup!!!! Pondok-pondok yang menjual makanan, mulai dari snack seperti kacang-kacangan, permen dan cokelat sampai sosis, steak, sushi, mie goreng dan seafood. Komplit semua!!!
Mana tahan untuk tidak segera menyerbu tenda-tenda ini? Judulnya saja yang mengunjungi pasar Natal, kegiatan utamanya malah mengunjungi tenda-tenda makanan Roll Gendut, gendut deh. Toch tidak setiap hari saya memanjakan tubuh dan lidah (mencari alasan untuk memaafkan diri sendiri Lol).


Steak corner, warm and lekker!!!

Suasana di pasar ini sangat gezellig. Apalagi saat turun salju, basah dan dingin, tapi sungguh menyenangkan. Menikmati gluhwein (wine hangat) di tengah turun salju ternyata mengasyikan juga. Cukup menghangatkan tubuh. Ah ya, saya suka sekali eierpunch. Wah.. bisa jadi alkoholist nih, tapi pas dingin-dingin begitu perlu juga buat menghangatkan badan.


The atmosphere on the Christmas markets; busy and warm.

Kami sempat mengunjungi kerstmarkt di 4 lokasi yang berbeda. Ada mobil yang berbentuk kereta api yang memiliki rute khusus berputar dari satu pasar ke pasar lainnya. Karcis yang dibayar juga untuk sekali putaran penuh (4 lokasi). Cukup praktis, karena kami tidak perlu berjalan jauh atau berputar dengan mobil dan juga tidak perlu mencari tempat parkir.


A little train (infact, it is a car) taking us from one market to the other.

Soal harga di pasar ini jangan ditanya. Mahaaal!!! Hasil jalan-jalan seharian, berkeliling dari pasar ke pasar ini hanyalah muts (topi) yang lucu yang langsung bertengker di kepala kami. Selanjutnya kegiatan kami hanyalah "kijken, kijken, niet kopen". Smile


Kasia en ik.

Di ujung hari kami benar-benar terkapar kelelahan. Lelah tapi menyenangkan.
Menyenangkan melewatkan hari dengan orang terkasih, menikmati suasana yang berbeda dan mengasyikan, dan juga bersama teman-teman yang menyenangkan. Ini juga anugerah, bukan?