Showing posts with label Makan. Show all posts
Showing posts with label Makan. Show all posts

Monday, October 20, 2008

Gulung yuk gulung...

Nasib tinggal jauh dari kampung halaman, mau apa-apa harus dikerjakan sendiri. Ah...
Misalnya, lagi kebelet roll cake, terpaksa buletin mental, maju tak gentar, dengan semangat biar patah nanti toh tetap cake. Nekad bikin sendiri. Maklum saja, seumur-umur saya belum pernah membuat roll cake.

Sebenarnya oleh seorang tante, saya pernah diberikan resep roll cake andalannya. Tapi sayang, resepnya hilang. Cari-cari via internet, dapat beberapa resep, timbang sana timbang sini, beranilah saya coba salah satu dari resep itu.

Dan, tararam..... sukses!!!! Hula Dancer Hula Dancer Hula Dancer
Ini dia roll cake pertama saya!!!


Wahhh... senang banget!!! Jadi semangat bikin roll cake lagi, mumpung selei nanas dari mama masih ada di kulkas (saya beri olesan selei nanas di bagian tengahnya itu). Apalagi untuk membuat roll cake tidak membutuhkan waktu yang lama. Karena ternyata mulai dari menimbang bahan-bahannya sampai selesai menggulung cake tidak membutuhkan waktu sampai satu jam!!!

Semangat.... semangat!!!! Bikin lagi aaahhh....
He-eh... ingat timbangan dan jeans yang mulai sesak lagi ya!!! Smiles

Monday, October 06, 2008

Ayam goreng Sambal matah

Hmmmm... nikmatnya... menyantap ayam goreng, dengan nasi panas yang masih ngepul, sambal matah yang menggigit, dan lalapan, yang kemudian disantap langsung dengan menggunakan jari-jari tangan tanpa sendok garpu, walaupun sambil meringis kepanasan.


Yup, ayam goreng dan sambal khas Bali ini adalah salah satu menu kegemaran kami. Apalagi cara buat dan bahan-bahannya simpel. Tinggal cemplungin potongan paha ayam yang sudah dibalur, selama sejam, dengan bubuk kunyit dan garam ke dalam minyak yang panas dan banyak. Goreng sampai matang dan kecoklatan.

Sementara ayam dalam proses penggorengan, sambal matah disiapkan. Berhubung kami sangat menyukai sambal ini, sekalian saja saya buat dalam takaran yang cukup banyak untuk ukuran makan berdua. Cincang kasar 10 butir bawang merah (shallot) ukuran sedang. Males ngirisnya, perih bow. Makanya saya cincang kasar saja dengan hakker.
1 butir bawang putih ukuran besar dikeprek alias dipenyetkan dan iris halus, 6-8 buah cabe diiris tipis, kira-kira 3cm sereh, iris tipis-tipis, sepotong kecil terasi bakar/goreng, hancurkan.
Semua bahan-bahan ini kemudian di campur dalam sebuah mangkok, tambahkan 2-3 sendok makan minyak goreng panas. Beri garam secukupnya dan sedikit penyedap rasa (kurang dari 1/5 sendok teh. Pernah dulu agak kebanyakan, wih rasanya malah pahit). Jika mau, boleh ditambah dengan sedikit perasan jeruk.

Ditambah lalapan yang berupa irisan tomat, ketimun, dan daun selada segar, siap dah hidangannya.
Dan kami pun harus berhati-hati saat menikmati hidangan ini, bisa tanpa terasa nambah terus Smiles
Hmmm... siap-siap bau bawang aja nih mulut.

Monday, September 22, 2008

Tuna steak ala Since

Sabtu ke pasar, tiba-tiba girang sendiri nyaris tak percaya apa yang dilihat di meja jualan tukang ikan. Tuna!!! Kayaknya sih dari jenis blackfin, tapi kecil, 'gak sampe 2 kg per ekor. Komplit dari kepala sampai ekor, bukan fillet seperti biasanya. Kelihatannya segar lagi!!! Begitu dicek warna insang, kejernihan mata dan kekenyalan tubuhnya, ternyata memang segar!! Murah lagi!!! Bayangkan, hanya 7 euro per kilo!!! Waahh.... tidak bisa dilewatkan begitu saja nih, langsung beli seekor.

Di rumah, segera ikan saya bersihkan, dan langsung berkolaborasi dengan Reinier, menyiapkan makan malam.
Ikan saya rendam dengan bumbu perendam hasil racikan sendiri selama kira-kira sejam, sebelum Reinier memanggangnya di atas grill pan.
Sementara saya menyiapkan kentang goreng dan saus pelengkap untuk steak ikan tuna itu, Reinier menyiapkan sayur pelengkap yang berupa baby courgette dengan bumbu racikannya sendiri.

Dan... tarararaaammmm....

Tuna steak sebagai sajian makan malam kami!!! Hmmm.. Roll

Monday, March 19, 2007

Antara Tapas dan Dim Sum

Ada gosip apa antara tapas dan dim sum?
Mereka adalah judul wiken kemarin.
Ah, yang pasti dua-duanya menggoyang lidah dan menebalkan ukuran lemak di tubuh! Hysterical

Tapas lagi??
Yup, tapas lagi Sabtu kemarin.
Kali ini tapas avond bersama Kasia, Roy dan Sun.

Sabtu pagi Reinier sudah sibuk menguleni roti Focaccia dan menyiapkan sangria, sementara saya menyiapkan pasta salad dan memotong/mengiris bahan-bahan lain untuk tinggal digrill dan digoreng saja nanti. Kami menyiapkan 5 macam sajian tapas selain roti Focaccia, dan Kasia dan Roy juga membawa 5 macam sajian tapas.

Mereka tiba sekitar jam 4 sore, dan acara makan-makan pun segera dimulai setengah jam kemudian dengan salmon salad buatan Kasia dan roti Focaccia yang fresh from the oven.
Acara makan ini juga diselang-seling dengan ngobrol, bercanda, menikmati sangria dan pause sebentar untuk menyiapkan makanan lainnya bersama (Kasia harus menggoreng sayur panir buatannya, saya harus menyiapkan grill paprika dan juga menggoreng calamaris).
Pause ini juga berguna untuk menyiapkan ruangan di perut untuk menu selanjutnya Smiles
Wah.. benar-benar meriah dan menyenangkan.

Acara makan-makan ini berlanjut sampai sekitar jam setengah sepuluh malam, saat kami semua tergeletak kekenyangan. Bahkan sosis bawaan Kasia tidak sempat tersentuh karena memang sudah tidak ada ruangan yang tersisa lagi di perut ini.
Tapi untung juga kami menyiapkan semuanya tidak terlalu berlebihan sehingga tidak banyak yang tersisa.

Setelah membersihkan dapur bersama, acara ngopi dan ngobrol terus dilanjutkan sampai sekitar jam setengah 12, saat para tamu ini pamit pulang.
Hahaha.. sudah tentu kami berdua pun segera tergeletak pulas.

Saat bangun minggu pagi, perut masih terasa kenyang. Pilihan yang terbaik tentunya adalah brunch yang ringan, terutama untuk saya yang masih punya judul dim sum untuk minggu siang kemarin di Nan-King restaurant dengan 2 dim sum lovers, Retno dan Leni.

Keasyikan ngobrol dan makan siang itu, ternyata tidak terasa sudah 3,5jam berlalu.
Dim-sumnya enak, temen ngobrolnya juga asik-asik, hanya saja pelayannya bikin gemes. Ah.. biarkan saja, mungkin dia sedang tidak berbahagia.
Semoga tawa ceria kami bisa membantu menghangatkan hatinya.
Woooaaahhh apa bukan sebaliknya malah bikin mbak itu makin gemes dan jutek?? Hahahaha... emang gue pikirin?? Hysterical
Wah.. kapan diet saya berhasil dong? Cover Up

Wednesday, February 28, 2007

Nyam.. nyam...

Reinier sedang ngidam ikan bakar dan colo-colo (sambalnya orang Ambon).
Ah.. coba lihat di freezer, masih ada satu ekor mackerel, segera keluarkan. Setelah lumer bekunya, ikan langsung saya lumuri dengan asam dan garam *), kemudian diamkan sebentar (kira-kira 1jam), sementara si doi menyiapkan peralatan bbq di halaman belakang.

Lha kan masih dingin cuacanya? Tidak masalah!! Kalau dekat-dekat dengan kotak bbq kan hangat juga Lol
Ngotot!!

Lho?? Mana kepala ikannya ya?
Itulah, kalau minta ikannya dibersihkan di pasar, telat dikit aja untuk bilang "tolong kepalanya jangan dibuang ya", si tukang ikan sudah langsung ambil gampangnya saja. Bukan hanya perut ikan yang dikeluarkan, tetapi juga kepalanya!!! Ugh.. dasar pedagang kurang mengerti seni. Seni indahnya ikan dengan kepala, juga seni enaknya kepala ikan.
Ah.. malah jadi ngomel tukang ikan Smiles

Sedang asik-asiknya menunggu arang menjadi bara.. eh si hujan datang menggoda. Kaburlah doi dengan kotak bbq-nya yang panas ke depan garasi yang terlindung dari tetesan air hujan. Untung kotak bbq hadiah dari Fred ini kecil mungil, cukup untuk membakar satu ekor ikan seukuran kira-kira 35cm, sehingga tidak sulit untuk dipindah-pindahkan sementara dalamnya masih terisi arang yang sedang menyala.
Hahaha... demi ikan bakar!!

Sementara Reinier sibuk dengan ikannya di atas bara, saya menyiapkan colo-colo.
Bawang merah, tomat dan cabe rawit diiris tipis, tambahkan kecap asin dan air jeruk. Cicipi, rasanya harus pas antara asin asam dan pedes. **)

Tidak lama kemudian...
Trumpet Tararaaammm.... siap ikan bakarnya!!!

Hmmm... ikan bakar yang masih ngepul dengan nasi hangat, colo-colo yang bikin mendesis dan courgette, sejenis terong hijau, sebagai lalapannya. Sendok dan garpu pun boleh dilupakan untuk sementara.

Waahh nikmaaaatnyaaa... Yowza

Untung Reinier juga doyan ikan bakar dan colo-colo, sehingga saya punya lawan tanding. Tidak asyik kan jika harus menikmati seorang diri.


Updated *) dan **) ,
berdasarkan pertanyaan dari Kenny, Sili dan Susie.

Irisan cabenya dikira-kirain saja sesuai selera.
Demikian juga dengan kecap asin dan air jeruknya. Saya tidak tahu ukurannya dengan satuan apapun. Maklum saja, sudah refleks dari otak, langsung tuang kecap dan air jeruknya ke campuran irisan bawang, tomat dan cabe dalam mangkok.
Ada yang doyan asin, ada yang doyan asam, silahkan disesuaikan dengan lidah masing-masing ya.

Sunday, February 18, 2007

Weekend: China town dan Tapazzzz

Apa hubungannya antara China town dan tapas? Thinking Hmmm...
Hubungannya karena keduanya adalah pengisi weekend kami kemarin. Teethy

Inilah yang terjadi hari Sabtu kemarin di China town di The Hague (Den Haag).
Bukan.. bukan!!! Bukan serangan teroris atau kebakaran di China town.
Kebakaran...hmmm... iya juga sih. Kebakaran mercon!!! Hysterical
Yup, kami ke China town di Den Haag ini dalam rangka perayaan Imlek di sana.
Kami sendiri tidak merayakan imlek secara khusus, namun keramaian dan tarian naga serta barongsai lah yang membawa kami ke sana.

Wajah-wajah ceria anak-anak maupun orang dewasa mewarnai setiap sudut tempat itu. Terlebihi bagi anak-anak tentunya. Imlek artinya juga angpao, hihihi...

Namun kepadatan orang-orang yang datang menonton sungguh menimbulkan kesulitan bagi saya untuk bermain dengan kamera. Terasa benar saat-saat begini betapa "mungil" saya dibandingkan dengan tubuh bule-bule yang berukuran XL itu.

Merasa kalah bersaing dengan tubuh-tubuh berukuran XL ini, mengalah-lah saya. Lebih baik mencari pojokan di gang/jalan yang lain dari pada hasil foto cuma belakang kepala orang-orang doang.

Untung juga ketemu ujung gang yang tidak terlalu banyak penontonnya sehingga saya pun bisa mencapai posisi yang pas untuk menjepret-pret.
Mungkin ujung gang itu tidak terlalu banyak orang karena dari gang ini penonton tidak bisa leluasa melihat keseluruhan pertunjukan.
Tapi tak mengapa buat saya, setidaknya dari ujung gang ini banyak foto yang bisa saya ambil tanpa diganggu oleh kepala-kepala penonton di depan saya.
Dan kebetulan juga restaurant yang terletak di sudut gang ini menyediakan kol yang digantung dengan angpao (uang di dalam amplop merah) di depan pintu untuk barong. Rejekilah untuk saya, Snappyklik.. klik...klik...

Ramai manusia, walaupun acaranya sendiri tidak seramai imlek 2004, saat pertama kali saya mengunjungi China town di The Hague ini. Saat itu ada 3 naga!! Kemarin yang sempat saya lihat hanya ada 1 naga. Barong-barongnya tetap ramai. Sisanya hanyalah lautan manusia dan nyaringnya bunyi mercon, serta asap dan debu dari mercon itu.

Hari Minggu, Reinier sedang dalam mood untuk menguasai dapur. Ujung-ujungnya bukannya dim sum, yang lebih sesuai dengan thema imlek, yang kami santap, malah tapas yang menghiasi menu makan malam kami. Maklum saja, doi masih dalam semangat tapas Hysterical

3 macam tapas (Albóndigas, croquetas de pollo y jamón, dan tortilla de espinaca), roti panino yang fresh from the oven, dibuat sendiri oleh doi dan sudah tentu tidak ketinggalan sangria, lengkap terhidang di atas meja makan. Hmmmm....


Gong Xi Fa Cai!
Selamat tahun baru untuk semua yang merayakan.
Semoga dalam tahun yang baru ini banyak hal yang lebih baik dari tahun yang lalu.
Namun jika terjadi yang sebaliknya, semoga kita semua diberikan kekuatan dan kebijaksanaan untuk menghadapi dan menanganinya.
Amin!!

Tuesday, December 12, 2006

Ayam Afrika (ayam goreng ala Since)

Resep ini bagian dari seri masakan yang dibawa saat acara kumpul-kumpul hari Minggu kemarin.

Catat ya yang mesti disiapkan:
Namanya juga ayam goreng, so pasti harus ada ayamnya. Kalau pakai bebek, ya namanya bebek goreng, kalau pakai ikan, ya namanya ikan goreng toch?? Ah.. bertele-tele..Teethy
Drumstick (paha ayam) 10 potong, yang besar-besar biar empuk, gurih dan puas makannya. Bagian yang lain juga boleh.
Direndam selama kira-kira 1 jam bersama:
Bawang putih 2 siung, keprok biar hancur.
Kecap manis semangkok genggaman tangan.
Kecap asin satu setengah mangkok genggaman tangan.
Merica secukupnya.

Ukuran bahan perendam ini boleh disesuaikan dengan selera dan mood yang buat.

Minyak secukupnya untuk menggoreng.
Bawang bombay yang besar ukurannya diiris membulat selebar 3mm. Jangan lupa bawa penggarisnya juga ke dapur ya para peminat.Club Me Aauugch... iya..iya... tebal irisnya dikira-kirain saja ya, menurut selera. Kemudian lapisan bawangnya dipisah-pisahkan sehingga membentuk cincin/gelang/bundaran/dan sejenisnya.

Nah, setelah 1 jam direndam, panaskan minyak goreng, masukkan ayam, dan goreng sampai matang dengan api sedang. Angkat.

Eeehhh... jangan dibuang bahan perendamnya.
Didihkan bahan perendamnya dengan sedikit minyak goreng (kira-kira 1 sendok makan minyak goreng) dalam penggorengan yang sudah dicuci, masukkan ayam goreng dan irisan bawang bombay itu, campur rata. Angkat.
Jangan kelamaan ntar bawang bombay-nya layu, tidak kriuk-kriuk lagi.

Selesai!!!
Sekarang tinggal dihidangkan dengan nasi panas dan lalapan ketimun.

Selamat mencoba.
PS : Hasil masakan anda diluar tanggung jawab saya ya.Cool Dragster

Friday, December 01, 2006

Masakan ala orang malaaazz

Uuugghh... lagi tak ada ide mau masak apa.
Ini otak sedang sibuk dengan urusan lain, boro-boro terpikir mau masak apa hari ini.
Pizza? Lekker makkelijk, tapi.. itu baru menu 2 hari yang lalu.
Reinier yang masak? Baru kemarin dia yang masak. Weleehh.. bisa diplototin habis daku ini Smiles

Hmmm... Hmm
Buka freezer... ahh... ada 2 pak roze garnalen, udang pink yang kecuil-kecuil banget.
Masih ada lombok segar, ada bawang merah ada bawang putih, cincang halus semuanya. Ambil cabe gede dan jahe, iris tipis-tipis.
Panaskan wajan, tumis semua bahan yang sudah dihaluskan itu sampai wangi. Masukkan pemeran utamanya (baca: udang), juga pemeran pembantu lainnya (baca: kecap manis, asem, daun jeruk, garam, sedikit air dengan terasi).
Masak sampai airnya agak mengering. Jangan kelamaan di atas api, bisa liat seperti otot petinju daging udangnnya. Makanya airnya jangan banyak-banyak diberi, secukupnya saja.

Dan... tararaaaammm....

Jadilah sambal udang ala orang pemalas Spinning
Disantap dengan nasi panas-panas dengan lalapan irisan tomat dan ketimun... hmmmm... Thumbs Up

Tolong jangan tanya berapa banyak kecap manisnya, berapa banyak garamnya, and so on.. and so on...
Saya sering bingung jika ditanya seperti itu. Bukannya tidak mau berbagi resep, tapi sungguh, saya hanya mempercayakan rasa pada lidah saya. Jika kurang manis, tambahin lagi kecapnya, jika kurang asin, tambahin lagi garamnya.
Bukankah rasa juga termasuk seni??
Seni memasak maksudnya Spinning

Friday, January 13, 2006

Sushi di Restoran Kita

Restoran Kita? Ya, Restoran Kita adalah nama yang kami berikan pada dapur kami. Cool
Karena di Belanda tidak semudah di tanah air untuk memanjakan lidah dengan makanan enak, bukannya tidak ada makanan enak di sini, tapi urusan merongoh sakunya itu bisa bikin bangkrut kalau keseringan makan di luar, kami lebih sering bereksperimen di dapur kami. Hasilnya tidak kalah dari restoran, urusan kocek, jauh lebih hemat.

Berawal dari celetukan saya seminggu yang lalu, tentang kerinduan saya pada Ryoshi, restoran Jepang di Bali, semalam berbekal sushi kit yang dibeli di SangLee, supermarket asia di Eindhoven sini, mulailah Reinier dengan eksperimennya di laboratorium, eh.. dapur maksud saya.
Beginilah gaya Reinier di dapur. Serius!! Big Smile


Reinier, serious with his sushi.

Hasilnya? Lihat saja langsung di foto. Rapi.
Yah, isinya tidak pas di tengah, tidak masalah kan?
Rasanya? Hmm... bukan sekedar memuji, tapi benar-benar enak boo. Saya sampai lupa akan ikrar diet yang sudah saya buat minggu lalu. Blushy Ups...
Koki yang satu ini benar-benar bikin takjub dengan hasil dari pengalaman pertamanya bikin sushi. Kisses


Sushi from "Restaurant Kita".

Dan si Since apa yang dia lakukan selain makan? Wah.. dia bikin aka miso soup (soybean soup).
Rebus air, mendidih, tuangkan bubuk dari kemasannya, aduk, selesai. Hysterical

Murah meriah, masih tetap menjadi idola saya. Tapi tumpukan piring kotor itu... sama sekali bukan idola saya Sickened Maklum saja, afwasmachine-nya masih bermerek Since dan Reinier Hysterical