Thursday, January 29, 2009

Dua Minggu Kabur Mudik

Basah, basah dan basah.

Udara tropis yang lembab dan hangat yang menyambut kami saat kami tiba di Jakarta tidak bertahan lama. Segera hujan deras mengguyur Jakarta saat kami sedang bercengkeram dengan Moudy dan Emma di bandara.

Dan hujan ini juga menghiasi sepanjang minggu pertama kami di Bali. Sampai-sampai terjadi tragedi karpet basah, alias banjir di mana-mana. Termasuk, pada suatu malam, di halaman belakang rumah, hampir menyentuh lantai dapur. Ujung masalahnya, ada got di sekitar yang tersumbat. Oalah, ini-nih cerita basi yang selalu terulang di mana-mana dari masa ke masa. Maap, maap itu karpet milik tetangga pake disebut di sini segala Smiles

Alhasilnya kami jadi males ke mana-mana. Ya, basah di mana-mana. Kebanyakan waktu kami hanya ngedon di rumah doank. Paling-paling ke supermarket nyari keperluan harian atau isenk ke mal dan berburu buku di toko buku. Sisanya ya menghabiskan bacaan kami di rumah.

Tapi ada asyiknya juga, tidur sambil menikmati suara hujan. Saya kangen banget dengan suara khas air yang menetes menghantam atap-atap rumah. Dan juga menikmati pemandangan air cucuran dari atap-atap rumah yang bebas menetes ke permukaan bumi tanpa harus memakai bantuan talang.

Menjelang minggu kedua, wajah hujan tiba-tiba menghilang diganti dengan terik mentari yang 'gak kira-kira. Basah lagi di mana-mana. Kali ini basah karena guyuran keringetan!!! Menurut laporannya sih temperatur udara hanya berkisar 31°C, tapi kok perasaannya lebih panas ya. Apa karena efek rumah kaca itu? Sweating 2

Ujung-ujungnya, kami jadi males lagi ke mana-mana. Ngedooooon lagi di rumah.
Sempet sih sepupu-sepupu, om dan tante yang dari luar Bali yang kebetulan nyamperin Bali untuk menghadiri acara pernikahan adik ngajak keliling, ke Nusa Dua, Uluwatu, dan sekitarnya. Tapi gara-gara sumuh itu, kami jadinya nolak ke mana-mana.
Paling banter ke Bali bakery, ngadem, nikmati ice coffee latte sambil surfing internet dengan laptop mini yang kami bawa. Rencana mau bermain di waterboom juga buyar, saking males keluar panas-panas gitu.

Tapi, walaupun demikian, berbasah-basah di laut tetap wajib hukumnya. 'gak ada cerita dan 'gak ada alasan untuk tidak ke laut! Walaupun kami juga tidak melupakan kondisi laut dengan gelombangnya yang sedang tidak terlalu bersahabat. Pokoknya ke lokasi diving dulu, masuk apa tidaknya keputusan nanti.

Dan seperti yang sudah diperhitungkan, visibility, jarak pandang, dalam air tidak terlalu bagus karena kondisi hujan di darat dan pergerakan air laut akibat gelombang itu sendiri. Keterlaluan!!! Hanya 8 kali penyelaman yang kami lakukan trip kemarin itu. Benar-benar tidak puas. Untung juga kami bisa ke gili Selang di ujung sudut Timur Laut pulau Bali. Arus yang sedang bersahabat dan visibility yang terbaik yang kami temui selama penyelaman-penyelaman kemarin, walaupun tidak berada pada kondisi topnya. Dan walau tidak banyak obyek macro di sini, sea gardennya selalu memukau dan sempat pula ketemu penyu dan white tip shark.

Penyelaman malam yang kedua, visibility benar-benar hancur!!! Perasaan seperti diving di Oosterschelde, Belanda sini saja. Hanya temperatur air yang masih membedakannya. Bagaimanapun, 'gak jelek-jelek amat penyelaman itu, karena walaupun visibility kurang dari 2 meter, saya masih menemukan hal-hal yang menarik di bawah sana.

Wajah gunung Agung yang bersih tanpa kabut walau di bawah langit kelabu tampak dari pesisir Tulamben. Yep, dua penyelaman akhir kami lakukan di Tulamben. Penyelaman pertama membutuhkan perahu untuk mencapai lokasi favorite saya. Dan untuk mengeluarkan perahu dari daerah pantai membutuhkan perjuangan sendiri karena kondisi gelombang. Penyelaman terakhir kami lakukan dengan metode beach entry, masuk langsung dari pantai, yang juga membutuhkan perhitungan yang tepat supaya tidak digulung ombak, terlebihi saat keluar dari air, saat berjalan ke arah pantai.

Meskipun permukaan laut bergelombang, namun alam di bawah sana tetap tenang. Tapi, kondisi yang tenang ini, pada saat itu, hanya berlaku pada kedalaman yang lebih dari 10 meter, di atas 10 meter apalagi di daerah yang lebih dangkal tetap terpengaruh gerakan air di permukaan itu.

Ah, berhubung waktu yang singkat, walaupun belum puas bermain dalam laut, kami putuskan untuk kembali ke Denpasar, supaya saya juga memiliki waktu untuk melepaskan kangen pada keluarga di sana.

Kalau diingat-ingat kembali saat masih kerja di Bali dulu, emang, bulan Januari adalah bulan sepi pengunjung, bulan yang banyak nganggurnya, bulan yang banyak tidur siangnya!!! Teethy

Singkat kata, judul liburan kemaren yang tepat adalah antara Basah dan Malas.

Sunday, January 25, 2009

Dua Minggu Kabur Mudik

Hanya 2 minggu mudik???? He-eh. Tanggung banget!!! Pengen lebih lama, tapi ya itu... kadang manusia dihadapkan pada beberapa pilihan, pertimbangan dan keputusan yang harus diambil. Ujung-ujungnya... mudik yang nanggung. Tak apalah, yang penting tujuan mudik tercapai, menghadiri pernikahan adik.

Pengalaman dengan Emirate Air.

Keputusan untuk menggunakan Emirate air ini berdasarkan penawaran harga yang kami temukan lewat sebuah situs travel. Setengah dari harga tiket penerbangan lain yang menuju ke Indonesia pada saat itu. Dan setengah itu berarti sekitar 600 Euro per orang, dikalikan 2 artinya kami bisa berhemat sekitar 1200 Euro!!! Setelah melihat-lihat pada situs resmi Emirate air, kelihatannya pelayanan yang diberikan cukup nyaman. Jadilah penerbangan ini yang kami pilih, walaupun lama perjalanan menjadi beberapa jam lebih panjang, dengan rute Düsseldorf (kota di Jerman, dekat dengan perbatasan dengan Belanda) - Dubai - Jakarta, dan dari Jakarta kami harus mengambil salah satu penerbangan domestik menuju Denpasar.

Karena kondisi cuaca di musim dingin, sebelum take off, pesawat harus melewati prosedur penyemprotan cairan de-icing/anti-icing di bagian sayap.

Inilah wajah Düsseldorf, dan juga Belanda, saat kami menginggalkan benua ini menuju Indonesia. Putih tertutup salju.

Yang langsung menarik perhatian saya saat masuk ke kabin pesawat adalah para crew pesawat yang beragam. Ada wajah timur tengah, ada wajah eropah, ada wajah melayu, ada wajah oriental, ada wajah eksotis Latin. Benar-benar berbeda dengan penerbangan lain yang terkesan homogen. Dan mereka memiliki keramahan penerbangan Asia.

Hanya saja ada perbedaan kwalitas hiburan dan makanan antara penerbangan Düsseldorf - Dubai dan Dubai - Jakarta. Hiburan dalam penerbangan dari dan ke Jakarta lebih okey daripada penerbangan dari/ke Düsseldorf. Video on demand, dengan daftar jenis film yang lebih panjang dari amir. Ups.. maksudnya panjang dan komplit.
Sementara urusan sajian makanan, penerbangan dari dan ke Düsseldorf jauh lebih baik. Malah makanan dari Jakarta pada penerbangan pulang, yaks banget.

Saat transit di bandara internasional Dubai, mata saya juga langsung menangkap bermacam ragam manusia di sana. Bukan hanya para pengunjung/penumpang pesawat yang transit, tetapi juga para kru bandara tersebut, entah itu security crew, para pelayan toko sampai tukang bersih-bersih. Ada banyak wajah Asia menghiasi setiap sudut bandara itu.

Bandara Internasional Dubai ini merupakan bandara yang teramai yang pernah saya lihat. Saat tengah malam dan dini hari saja penuh dengan aliran manusia yang berseliweran yang tak putus-putus, dan toko-toko yang padat pengunjung. Dan saat ini juga belum musim liburan.

Yang lain dari airport ini adalah orang-orang yang tidur bebas di lantai di sepanjang beberapa ruang tunggu. Bukan satu dua orang, tapi... mungkin bisa seratusan kali ya kalau mau dihitung. Perasaan, jadi mirip tempat penampungan orang-orang terlantar. Tadinya sih pengen difoto, tapi kok 'gak tega juga... 'gak jadi deh.

Nah, warna lain pada penerbangan dari Dubai ke Jakarta adalah pesawat yang penuh dengan mbak-mbak dan mas TKI dan juga rombongan umroh yang balik ke Indonesia.
Waduh itu tas-tas bawaan mereka yang masuk ke kabin, aujubile. Sampai-sampai para crew pesawat harus adu ngotot dengan sebagian dari mereka karena barang bawaannya itu ikut memenuhi ruang untuk kaki mereka. Ah... demi oleh-oleh...

Karena tidak bisa tidur dan males mlototin layar tv, jadilah mata ini berkeliaran ke mana-mana... dan.... tanpa bisa ditahan... ngakak abis langsung...
Gimana eng'gak, ada seorang bapak yang sibuk banget mondar-mandir nganterin beberapa teman/kerabatnya ke toilet. Kemudian itu bapak kembali lagi ke toilet dengan seorang ibu. Saya pikir, ooohhhh giliran ni ibu nih yang mo pipis. Eh... salah... ternyata mereka hanya sampai di depan toilet, si bapak membuka pintu toilet dan mempersilahkan si ibu nengok ke sana ke mari ke dalam toilet, trus ngobrol rame di depan toilet, trus balik lagi ke tempat duduknya. Astagaaa.. pak... bu... judulnya toilet tour toch!!!! Too Funny

Nah, ngomong soal toilet, yang bikin jengkel adalah kondisi kebersihan toilet dalam penerbangan dari dan ke Jakarta ini. Ampun dah, itu toilet bisa basah di mana-mana, bahkan lantainya bisa lengket-lengket gitu.
Bahkan sempat saya temui dua gadis yang keluar bersama-sama dari dalam toilet. Lha, ngapain toch mbak? 'gak kejepit tuh be'dua dalam toilet gitu? Doofus

Bebauan dalam pesawat pun berubah abis, gara-gara pemakaian minyak-minyakan. Ada yang make minyak angin, minyak telon, minyak wangi yang entah apa mereknya yang pasti baunya tajem banget, minyak si nyong-nyong, minyak duyung, minyak goreng... husss keterusan deh... Intinya, bebauan dalam pesawat jadi mirip bebauan dalam bis kota antar propinsi dah. Hoooaaa.... bisa mabok gara-gara bebauan!!!

Dan satu lagi yang bikin saya tersenyum adalah saat menyaksikan kelakuan sebagian dari mbak-mbak dan mas-mas itu, yang begitu duduk di pesawat, langsung membungkus dirinya seperti kepompong dengan selimut yang disediakan pada setiap tempat duduk pesawat. Jadi inget di kampung, pagi-pagi atau malam-malam orang pada membungkus tubuhnya dengan sarung gitu. Khas banget. Happy


Bersambung.....

Monday, January 05, 2009

Kabar Kabur

Ampun, malu daku kalau membaca judul postingan yang lalu. I'm back, katanya, tapi kabur lagi!!!! Blog ditinggal 'gak terurus!! Sampai-sampai ngintip rumah tetangga saja tak sempat.
Ah... maapkan daku ya pren.

Setidaknya sekarang saya benar-benar bisa menarik napas lega. Tugas akhir buat sekolah juga sudah selesai. Tapi yang bikin kesel, jadwal assessment yang seharusnya hari ini malah diundur sampai minggu depan!!! SEBEEELLLL!!!! Gimana 'gak sebel perubahan jadwalnya dadakan gitu, dan berjalan di luar rencana, sama sekali tidak sesuai dengan jadwal pribadi saya. Bah. Harus ngurus ijin untuk assessment susulan, yang 'gak tau kapan. Bikin repot saja!!!
Ugh, kirain di ujung hari ini saya sudah bisa lepas dari beban urusan assessment akhir.
Tapi sudahlah. Toch semuanya sudah saya siapkan, tinggal tunggu waktunya saja. Tetap pede-lah.

Cerita lain, sekarang di luar ada setumpuk salju. Tadinya pengen bikin boneka salju di halaman belakang, tapi berhubungan kedinginan sendiri di luar, bubarlah dengan sukses acara bikin boneka salju. Lagian... bikin boneka salju sendirian.. mana asik??? Kayak orang depressif gitu. Asiknya kalo rame-rame sambil lemparan bola salju dan diakhiri dengan secangkir susu cokelat panas yang kental dan dikasih rhum, atau secangkir glühwein (wine yang hangat).

Ice Skating
Dan berhubung beberapa hari terakhir ini suhu di Belanda minim banget, minimum temperatur tuh nyampe -9 -10°C sementara maksimumnya masih tetanggaan dekat dengan nol, so pasti permukaan air ikut membeku. Nah kalau bekunya sudah cukup tebal untuk ice skate, jadilah surga buat bagi penggemar ice skate.

Reinier bahkan sempat-sempatnya ngendarain mobil ke Zwolle yang jaraknya 200km dari rumah untuk berskating ria di sana. Ada sih telaga kecil di dekat rumah sini, tapi tak puas katanya, sekali putar hanya sekitar 2 kiloan. Maunya yang luas dan lapang seperti di Zwolle, yang sekali route bisa 30-40km.
Dan daku? Ntar bikin celana dan jaket dari kasur dulu, baru deh belajar meluncur dengan skate.
Teethy
Sebenarnya, pengen juga sih. Tapi nyali 'gak ada. Belum apa-apa sudah terbayang tergelincir, mendarat sukses di atas es. Dingin, keras, bah. Sakit banget. Boro-boro kalau hanya biru-biru, kalo sampai retak dan patah tulang... waahhhh.... Tau diri deh awak. Sudah tua, tulang sudah tak selentur dulu lagi.

Dan, foto di atas itu diambil dari tepi selokan gede di belakang rumah mertua. Lihat saja gaya si Yayank yang isenk meluncur dengan sepatu normal. Weiiisss... licin bow!!

Dan, tidak lupa, walaupun terlambat,
SELAMAT TAHUN BARU, TEMAN!!!!