Hanya 2 minggu mudik???? He-eh. Tanggung banget!!! Pengen lebih lama, tapi ya itu... kadang manusia dihadapkan pada beberapa pilihan, pertimbangan dan keputusan yang harus diambil. Ujung-ujungnya... mudik yang nanggung. Tak apalah, yang penting tujuan mudik tercapai, menghadiri pernikahan adik.
Pengalaman dengan Emirate Air.
Keputusan untuk menggunakan Emirate air ini berdasarkan penawaran harga yang kami temukan lewat sebuah situs travel. Setengah dari harga tiket penerbangan lain yang menuju ke Indonesia pada saat itu. Dan setengah itu berarti sekitar 600 Euro per orang, dikalikan 2 artinya kami bisa berhemat sekitar 1200 Euro!!! Setelah melihat-lihat pada situs resmi Emirate air, kelihatannya pelayanan yang diberikan cukup nyaman. Jadilah penerbangan ini yang kami pilih, walaupun lama perjalanan menjadi beberapa jam lebih panjang, dengan rute Düsseldorf (kota di Jerman, dekat dengan perbatasan dengan Belanda) - Dubai - Jakarta, dan dari Jakarta kami harus mengambil salah satu penerbangan domestik menuju Denpasar.
Karena kondisi cuaca di musim dingin, sebelum take off, pesawat harus melewati prosedur penyemprotan cairan de-icing/anti-icing di bagian sayap.
Inilah wajah Düsseldorf, dan juga Belanda, saat kami menginggalkan benua ini menuju Indonesia. Putih tertutup salju.
Yang langsung menarik perhatian saya saat masuk ke kabin pesawat adalah para crew pesawat yang beragam. Ada wajah timur tengah, ada wajah eropah, ada wajah melayu, ada wajah oriental, ada wajah eksotis Latin. Benar-benar berbeda dengan penerbangan lain yang terkesan homogen. Dan mereka memiliki keramahan penerbangan Asia.
Hanya saja ada perbedaan kwalitas hiburan dan makanan antara penerbangan Düsseldorf - Dubai dan Dubai - Jakarta. Hiburan dalam penerbangan dari dan ke Jakarta lebih okey daripada penerbangan dari/ke Düsseldorf. Video on demand, dengan daftar jenis film yang lebih panjang dari amir. Ups.. maksudnya panjang dan komplit.
Sementara urusan sajian makanan, penerbangan dari dan ke Düsseldorf jauh lebih baik. Malah makanan dari Jakarta pada penerbangan pulang, yaks banget.
Saat transit di bandara internasional Dubai, mata saya juga langsung menangkap bermacam ragam manusia di sana. Bukan hanya para pengunjung/penumpang pesawat yang transit, tetapi juga para kru bandara tersebut, entah itu security crew, para pelayan toko sampai tukang bersih-bersih. Ada banyak wajah Asia menghiasi setiap sudut bandara itu.
Bandara Internasional Dubai ini merupakan bandara yang teramai yang pernah saya lihat. Saat tengah malam dan dini hari saja penuh dengan aliran manusia yang berseliweran yang tak putus-putus, dan toko-toko yang padat pengunjung. Dan saat ini juga belum musim liburan.
Yang lain dari airport ini adalah orang-orang yang tidur bebas di lantai di sepanjang beberapa ruang tunggu. Bukan satu dua orang, tapi... mungkin bisa seratusan kali ya kalau mau dihitung. Perasaan, jadi mirip tempat penampungan orang-orang terlantar. Tadinya sih pengen difoto, tapi kok 'gak tega juga... 'gak jadi deh.
Nah, warna lain pada penerbangan dari Dubai ke Jakarta adalah pesawat yang penuh dengan mbak-mbak dan mas TKI dan juga rombongan umroh yang balik ke Indonesia.
Waduh itu tas-tas bawaan mereka yang masuk ke kabin, aujubile. Sampai-sampai para crew pesawat harus adu ngotot dengan sebagian dari mereka karena barang bawaannya itu ikut memenuhi ruang untuk kaki mereka. Ah... demi oleh-oleh...
Karena tidak bisa tidur dan males mlototin layar tv, jadilah mata ini berkeliaran ke mana-mana... dan.... tanpa bisa ditahan... ngakak abis langsung...
Gimana eng'gak, ada seorang bapak yang sibuk banget mondar-mandir nganterin beberapa teman/kerabatnya ke toilet. Kemudian itu bapak kembali lagi ke toilet dengan seorang ibu. Saya pikir, ooohhhh giliran ni ibu nih yang mo pipis. Eh... salah... ternyata mereka hanya sampai di depan toilet, si bapak membuka pintu toilet dan mempersilahkan si ibu nengok ke sana ke mari ke dalam toilet, trus ngobrol rame di depan toilet, trus balik lagi ke tempat duduknya. Astagaaa.. pak... bu... judulnya toilet tour toch!!!! 
Nah, ngomong soal toilet, yang bikin jengkel adalah kondisi kebersihan toilet dalam penerbangan dari dan ke Jakarta ini. Ampun dah, itu toilet bisa basah di mana-mana, bahkan lantainya bisa lengket-lengket gitu.
Bahkan sempat saya temui dua gadis yang keluar bersama-sama dari dalam toilet. Lha, ngapain toch mbak? 'gak kejepit tuh be'dua dalam toilet gitu? 
Bebauan dalam pesawat pun berubah abis, gara-gara pemakaian minyak-minyakan. Ada yang make minyak angin, minyak telon, minyak wangi yang entah apa mereknya yang pasti baunya tajem banget, minyak si nyong-nyong, minyak duyung, minyak goreng... husss keterusan deh... Intinya, bebauan dalam pesawat jadi mirip bebauan dalam bis kota antar propinsi dah. Hoooaaa.... bisa mabok gara-gara bebauan!!!
Dan satu lagi yang bikin saya tersenyum adalah saat menyaksikan kelakuan sebagian dari mbak-mbak dan mas-mas itu, yang begitu duduk di pesawat, langsung membungkus dirinya seperti kepompong dengan selimut yang disediakan pada setiap tempat duduk pesawat. Jadi inget di kampung, pagi-pagi atau malam-malam orang pada membungkus tubuhnya dengan sarung gitu. Khas banget. 
Bersambung.....