Selesai makan siang, kami ingin berkeliling sebentar sebelum kembali ke rumah.
Ke mana kali ini?
Kita ke pantai Renesse saja, ajak Reinier. Mumpung masih awal musim semi dan belum terlalu panas udaranya. Kalau sudah musim panas, jangan harap ke sana, kamu tidak akan bisa berjalan menikmati pantai dengan santai. Pantai sepanjang 17km ini akan penuh terisi dengan ribuan orang. Salah-salah malah kamu kejungkal kesandung orang yang sedang berjemur, atau terperosok ke dalam lubang-lubang pasir yang dibuat oleh turis-turis Jerman.
Orang Jerman senang sekali membuat lubang di pantai, tidak dalam sih, tapi ada sekitar 30cm, dan duduk di dalam lubang itu.
Pantai Renesse tampak lenggang saat kami tiba di sana, padahal cuaca cerah sekali. Tapi justru merupakan keuntungan buat kami yang tidak terlalu menyukai pantai yang ramai dengan pengunjung.Berjalan sepanjang pantai, sampai akhirnya kami terpaku menikmati aktifitas parasurfer yang sedang beraksi di laut.


Asyik sekali melihat bagaimana mereka meluncur dengan papan surf-nya dan mengendalikan parasutnya bermain dengan angin. Kecepatannya itu lho!!!
Bahkan kadang-kadang dengan menunggang kecepatan angin mereka pun terayun terangkat dari permukaan laut.Kereeenn bow!!!
Kadang mereka juga terjatuh dari papan surfnya, dan kerepotan mengendalikan parasutnya.
Lihat saja foto di samping itu, untuk menurunkan parasutnya juga dibutuhkan ketrampilan untuk itu.
Wah... asli.. jadi pengen ikutan ber-parasurf!!!
Lama-lama dingin juga dihembus angin laut yang segar. Tidak jauh dari tempat kami menikmati aksi parasurfer ada kafe pantai. Hanya saja untuk mencapai kafe pantai itu kami harus berjalan mengintari aliran-aliran air yang mengalir kembali ke laut yang cukup lebar dan cukup dalam, menyerupai sungai-sungai kecil. Kalau di musim panas sih cuek saja, basah ya basah. Tapi untuk saat ini.. ogah lah ya berbasah-basah di pantai.

Secangkir besar cokelat panas dengan rhum dan whip cream sebagai penutup acara jalan-jalan kami di pantai Renesse hari itu. Hmmmm... lekker!!!
Dan... pantai berikutnya yang menjadi sasaran jalan-jalan kami minggu depan adalah... pesisir pantai TROPIS!!!!
Yuppieee!!!!Saya pamit dari halaman ini untuk sementara waktu.
Saya mo mudik sebulanan.
Sampai ketemu lagi di bulan Mei, temans



Bangun pagi yang sudah kesiangan, sebenarnya tidak kesiangan juga, gara-gara perubahan jam winter ke jam summer, jadinya waktu dimajukan satu jam ke depan. Alasan!!! Kesiangan ya kesiangan. Hehehe..

Bayangan akan sakitnya sengatan lebah dan suara dengungan mereka yang menjengkelkan membuat orang sering kalap dan bertindak ceroboh saat mahluk-mahluk ini terbang mendekati dan mengintari tubuh orang tersebut. Jurus jingkrak-jingkrak dengan kibasan tangan ke sana-ke mari serta teriakan-teriakan panik berusaha untuk mengusir lebah dan wesp pergi. Tapi apakah itu membantu?
Namun bagi penderita super sensitif alergi terhadap bisa dari lebah dan wesp, sebaiknya menghindar saja dari hewan-hewan ini.

Sabtu pagi Reinier sudah sibuk menguleni roti Focaccia dan menyiapkan sangria, sementara saya menyiapkan pasta salad dan memotong/mengiris bahan-bahan lain untuk tinggal digrill dan digoreng saja nanti. Kami menyiapkan 5 macam sajian tapas selain roti Focaccia, dan Kasia dan Roy juga membawa 5 macam sajian tapas.


Matahari di luar masih bersinar cerah. Udara di luar pun masih cukup hangat untuk hanya mengenakan t-shirt lengan pendek tanpa jaket atau sweater. Harus dinikmati nih.

Saat memilih rute mana yang hendak diambil, kami tertarik juga untuk memilih rute yang sekitar 23km. Tapi mengingat lamanya kami tidak melakukan trip seperti ini, kami memutuskan rute yang pendek saja, sekitar 14km. Daripada keesokan harinya kami berdua bergerak seperti opa dan oma karena otot-otot yang penat dan sakit, kan? 
Sayangnya beberapa kilometer saat meyelusuri hutan merupakan jalur yang agak membosankan, karena bukan benar-benar menyelusuri hutan dengan jalan yang masih alami, tapi kami justru bersepeda di jalan beraspal yang sempit, lurus dan panjang. Untung saja tidak terlalu banyak mobil yang melewati jalur "hutan" ini.
Tidak terasa 2,5 jam kami lewati untuk bersepeda.
Rasanya hampir semua diver, apalagi yang suka mengambil foto dalam laut, mengenal nudibranch. Ya, hewan ini sering sekali menjadi model bagi fotografer karena kecantikan warnanya.
Berawal dari terpikat oleh keindahan warna hewan ini, saya terbawa untuk mengamati untuk lebih jauh mengenalnya. Bukan hanya sekedar identifikasi jenis untuk mengetahui nama speciesnya, namun juga penasaran pada sisi kehidupannya.
Hewan yang dewasa berukuran kira-kira 6mm sampai yang sepanjang kira-kira 31cm, tergantung dari jenisnya.
merupakan juga salah satu cara perlindungan bagi hewan ini.
Namun jangan salah, hewan kecil, cantik dan tampak rapuh ini adalah karnivora, alias pemakan daging. Tapi tidak berarti semua daging diembat mereka. Biasanya setiap jenis nudibranch memiliki jenis dietnya sendiri-sendiri. Hanya mangsa spesifik yang dimakan oleh mereka, salah satu misalnya sponge.
Ada ribuan telur-telur kecil dalam jalinan pita-pita yang indah itu.
Musim semi mulai menyapa perlahan-lahan.

