Asyik... asyik...Sebenarnya dia diam-diam tidak percaya kalau buku yang dibelikan itu dibaca oleh saya, makanya dia agak terkejut juga dengan hasil test saya. Tentu saja buku yang dibelikan itu saya baca... ya... kadang-kadang... kalau pas penasaran dengan rambu yang saya temui dijalan (emoh nanya langsung ke dia sih, ntar jawabnya, lho buku yang aku belikan kamu apain?).
Sebenarnya juga, saya tidak sebaik jawaban yang saya berikan saat menjawab pertanyaan-pertanyaan di cd itu. Bentuk jawaban yang diminta dalam test itu hanya ja atau nee. Beberapa jawaban saya benar, tapi jangan ditanya alasannya, bisa jauuuuuh... dari kebenaran!!!!
Kami sepakat untuk berkeliling sejenak di Minggu pagi kemarin (dimana lalulintas di jalan tidak terlalu padat). Waaaah... saya merasa agak tegang juga...

Buku dan cd tentang rambu-rambu dan peraturan lalulintas.

Yang paling pertama terasa saat duduk di kursi pengemudi adalah jarak ukuran kaki dari kursi pengemudi ke pedal. Di Indonesia saya hanya perlu memajukan sedikit kursi pengemudinya, sedangkan dengan mobilnya Reinier saya harus memajukan kursinya hingga hampir maksimal. Posisi setirnya juga harus diturunkan. Sabuk pengaman jadi terasa jauh dari jangkauan, dan saya jadi sulit keluar dari mobil sebelum saya memundurkan sedikit kursi pengemudinya

Terasa benar, mobil ini dibuat untuk orang-orang berkaki panjang.
Sebelum perjalanan dimulai, Reinier sempat mengingatkan, "Since remember, you are not in Denpasar". Singkat, tapi PADAT!!!!

Kami menghabiskan sekitar satu setengah jam berkeliling dengan mobil, kira-kira 70km. Reinier memilih arah ke daerah pedesaan. Matahari yang cukup cerah, suasana pedesaan yang cantik dan sepi membuat saya merasa lebih rileks menyetir. Tapi, tentu saja banyak kejadian lucu yang terjadi selama perjalanan.
Selama tiga menit pertama setiap kali saya hendak mengganti persneling, tangan kiri saya otomatis mencari tongkat persneling, ugh.. padahal kan di kiri saya pintu mobil. Yang paling parah adalah setiap kali hendak belok, ke kiri ataupun ke kanan, selalu wiper yang tiba-tiba bekerja. Ups... kebiasaan, setiap kali hendak belok selalu tangan kanan yang otomatis ng'klik tongkat lampu sign belok, padahal kan tongkat lampu sign di sini ada di sebelah kiri, sedangkan tongkat di sebelah kanan setir itu untuk mengaktifkan wiper. Wah... ramai pokoknya setiap kali mau belok.
Saya tidak bermasalah untuk mempertahankan posisi mobil selalu ada di kanan badan jalan selama saya berada di jalan raya. Namun begitu masuk ke jalan pedesaan yang sepi dan tidak ada mobil lain di depan atau belakang saya, maka... tiba-tiba terdengar suara Reinier "Back to the right side, Since. Keep stay in the right side, okay." Ups... tanpa sadar saya cenderung kembali ke kiri badan jalan. O-0w!!!
Walaupun rambu-rambu lalulintas itu secara teori sudah ada dalam otak saya, namun pada saat semua terkumpul menjadi satu, menyesuaikan diri dengan setir dan perabot mobil yang terbalik dari yang biasanya saya temui di Indonesia, sekaligus membaca rambu-rambu tersebut membuat otak saya menjadi keriting juga. Kapan memberi prioritas pada jalur yang lain, kapan berada pada jalur prioritas, limit kecepatan pada jalan-jalan tertentu (yang kontrolnya pakai kamera) dan sebagainya. Reinier menyadari betul hal yang satu ini. He is so helpful and patient, walaupun pasti dia deg-degan juga.
I love you, honey.Satu kali saya diplototin oleh pengendara lain, hehe.. sori... sori... namanya juga anak baru.
Dan, hari senin kemarin, saat kami akan ke Goes, Zeeland, mengunjungi papa dan mama, Reinier menyerahkan kunci mobil padaku, "kamu yang nyetir ya". O-ow... antara exciting dan ragu juga... but why not? Jadilah saya yang nyetir ke Goes. Pertama kali sepanjang sejarah saya nyetir mobil, 120km/h. Mana bisa pakai kecepatan itu di Bali? Hasilnya? Not bad!!!

Walaupun begitu, saya masih butuh waktu untuk benar-benar menyesuaikan diri dengan semua perbedaan yang ada ini.
Aahhhh... leganya. Akhirnya saya berada juga di belakang setir setelah lebih dari sebulan tidak menyetir mobil. Mungkin kedengarannya aneh ya, tapi saya kangen pada kebiasaan-kebiasaan saya sebelum pindah ke sini.







