Yuupiiii... Akhirnya ada waktu untuk menulis lagi

Setumpuk PR, perjalanan saat liburan musim gugur, ujian sekolah dan tugas lainnya sungguh merupakan paduan yang sempurna untuk menghabiskan waktu. Liburan sih menyenangkan, tapi... urusan PR dan ujian plus tugas ekstra itu lho...
Pfeeeeuuuhhh...

setidaknya bisa lega untuk sementara waktu sebelum tugas-tugas berikutnya.
Catatan Perjalanan 1Azores, kepulauan hasil letusan gunung api di samudra Atlantik di sebelah barat Portugis, menjadi pilihan kami untuk melewati liburan musim gugur yang lalu. Untuk diving dan whale watching

Dari 9 pulau yang terdapat di kepulauan ini, Pico adalah tujuan kami. Alasannya sederhana, karena
Pico Sport Lda, dive center dan juga Whale wacthing base yang kami hubungi berlokasi di pulau Pico.

Perjalanan menuju Pico cukup melelahkan, terutama karena kami harus transit di beberapa tempat; Lisbon, Ponta Delgada dan Terceira, sebelum tiba di Pico, akibat perubahan jadwal penerbangan dari jadwal semula. Tapi tak mengapa, karena kami jadi memiliki kesempatan untuk melihat dan menikmati keindahan pulau-pulau lain, Sao Miguel dan Terceira, walaupun hanya dari ketinggian. Sete Cidades di Sao Miguel ini misalnya.
Lagoons of tears, Sao Miguel.Sete Cidades (tujuh negeri) atau dikenal juga sebagai lagoons of tears ini memiliki legenda kisah cinta terlarang dari dua anak manusia, yang terpisahkan karena status. Cinta seorang putri raja dengan seorang pemuda pengembala. Danau ini terbentuk oleh air mata mereka yang terus mengalir saat mengucapkan kata-kata perpisahan

Danau yang biru, berasal dari air mata sang putri yang bermata biru dan danau yang hijau berasal dari air mata si pengembala yang bermata hijau.
Ah ya, ada juga hal yang menarik bagi saya selama perjalanan menuju Pico ini. Mulai dari Lisbon, kami selalu sepesawat dengan team sepak bola yang berbeda-beda setiap kali transit.

Pertandingan antar pulau???
Hari sudah sore saat tiba di Pico. Airportnya kecil, mengingatkan saya pada airport di Labuanbajo. Kami dijemput oleh Frank, pemilik Pico Sport dan diantar ke
Joe's Place, tempat dimana kami menginap di Madalena. Dalam perjalanan ke Madalena, laju mobil menjadi semakin tidak mulus, dan berakhir dengan "g'lutuk..g'lutuk... g'lutuk.. mobilnya meluncur terpincang-pincang. Ternyata bannya kempes. Astaga bannya juga ternyata botak habis boo!!!!

Benar-benar gundul!!! Bingung juga sih, kok bisa ya ban itu bertahan sekian lama?

Bosnya kan gede boanget!!! Itu ban seharusnya sudah lama pensiun, atau bahkan sudah bisa digantung di dinding museum. Wah.. benar-benar deh.
Sungguh tidak bijaksana

Apalagi dengan kondisi Pico yang agak berbukit-bukit, beberapa jalan dengan
kinderkopjes dan dengan curah hujan yang tinggi.
Ya, curah hujan di sini tinggi sekali. Ada istilah "four season of the day" (tanpa salju tentunya) untuk cuaca di Azores. Cuaca di sini tidak bisa ditebak dan cepat sekali berubah-rubah. Tingkat kelembaban pun tinggi sekali di sini. Baju yang basah butuh setidaknya 2 hari untuk kering, itupun dengan meninggalkan bau yang tidak enak

Madalena townMadalena sendiri adalah sebuah kota kecil, dan tempat kami menginap tidak jauh dari "pusat kota" dan Pico Sport base (kira-kira 800 m). Namun 400 meter menuju Joe's Place adalah jalan mendaki. Lumayan juga berjalan kaki s
etiap hari bolak-balik antara penginapan dan pusat kota/Pico sport base, apalagi tanjakan menuju Joe's Place. Angkutan umum? Ada. Bis, tapi antar kota/desa. Taksi juga ada, bisa dihitung pakai jari. Sewa mobil? Bisa, tapi tekor juga kan kalau hanya untuk naik turun 2 kali dalam sehari. Wah... jadi berandai-andai... andaikan saja ada ojek di sini...
Madalena townAda beberapa hal unik yang kami temui di Pico ini. Misalnya, mobil yang tidak pernah dikunci saat diparkir

Waahh... kalau di sini sudah "terbang" itu mobil. Pernah juga kami masuk ke toko yang dibiarkan terbuka tanpa ada yang menunggu. Demikian juga dengan internet cafe-nya. Bahkan beberapa kali kami "break" untuk makan siang dan membiarkan peralatan selam kami tergeletak begitu saja di dermaga tanpa ada yang mengawasi. Wow!!! Saya angkat topi untuk kenyataan ini.

Dan, restaurant di sini sepertinya hanya beroperasi saat musim panas. beberapa restauran yang kami kunjungi tutup melulu. Yang ada hanya snack bar yang kebanyakan hanya menyajikan sup, sandwich dan sebangsanya. Ada 2 snack bar yang cukup memadai dengan hidangan yang lebih bervariasi yang kami temui. Yang terbesar, Warung Tenda (saya lupa nama aslinya), di depan dermaga dan snack bar favorite kami "Golfinho" (yang pada kenyataannya lebih dari sekedar sebuah snack bar. Golfinho lebih merupakan sebuah restoran kecil).
Golfinho, our favourite restaurant.Bisa dikatakan kami selalu makan malam di Golfinho. Wine yang mereka sajikan benar-benar yummy!!! Wine khas Azores. Dan, kami juga menyukai atmosfir di Golfinho,
gezellig.
Menu khas Portugal yang saya sukai adalah
Francesinha, sandwich isi komplit dengan saus berbahan dasar tomat dan bier. Awalnya sih sekedar coba-coba, ternyata enak juga, sampai lupa bikin fotonya.
FishingGambar di atas saya ambil saat sedang berada di dermaga. Memancing merupakan juga sebuah rekreasi bagi penduduk di sini. Mengamati kegiatan para pemancing ini seru juga. Mereka tidak perlu menunggu lama hingga ikan terjerat kailnya. Hanya butuh beberapa sekitar 10 - 20 detik setiap kalinya. Seru kan?? Bayangkan saja, dalam setengah jam memancing sudah bisa pesta. Walaupun ikan yang diperoleh adalah ikan-ikan yang berukuran kecil. Kayaknya enak juga tuh digoreng kering

hmmm...
Ah ya, kalau di Belanda saya tidak "aneh" mendengar beberapa kata yang sering kita pergunakan di Indonesia yang dipergunakan juga dalam bahasa Belanda. (350 tahun bukan waktu yang pendek untuk saling "berbagi" bahasa, bukan?).
Dan, walaupun saya tahu beberapa kata dalam bahasa Indonesia juga berasal dari bahasa Portugis, toch tetap rasanya aneh mendengar kata-kata tersebut dipergunakan di sana.
Atau, justru saya sendiri yang aneh ya??

hahaha...
Beberapa kata tersebut misalnya; meja (mesa), bendera (bandeira), jendela (janela), kemeja (kamisa), keju (queijo), mentega (mantaiga), gereja (igreja), dan yang pernah saya dengar di Ambon; topi/capeu (chapéu), kursi/kadera (cadeira).