Azores pernah menjadi salah satu central perburuan paus hingga pada tahun 1980-an. Saat ini Azores masih menjadi salah satu daerah "perburuan" utama, tapi bukan lagi untuk membunuh, melainkan untuk menyaksikan hewan yang berukuran raksasa ini dari jarak yang relatif dekat.
Tugas para vigia (petugas pengamat paus) masih tetap sama, terus mengarahkan binocular mereka sepanjang horinsontal dari pos-pos mereka di darat, mencari jejak paus di permukaan laut dan mengarahkan perahu-perahu menuju tempat dimana paus muncul di permukaan melalui radio. Hanya saja tujuan penumpang perahu yang mereka bimbing yang berubah, posisi para pembunuh paus digantikan oleh para pemburu gambar dan penonton cetacean.
Jadi, tidak setiap hari ada tour untuk whale watching. Tour hanya berlangsung jika para pengelola tour ini menerima kabar positif dari para vigia tentang posisi/daerah kemunculan paus. Jika kabar dari vigia negatif, artinya tidak ada tour.
Dan tentu saja juga dengan pertimbangan ekonomis, berapa jumlah peserta pada hari tersebut. Jika jumlahnya tidak bisa bikin profit, sudah tentu juga, tidak ada tour.
Alhasilnya kami harus benar-benar fleksibel, karena kami tidak memiliki rencana pasti apa yang akan kami lakukan pada keesokan hari, mungkin 2 kali penyelaman, mungkin whale watching kemudian menyelam atau mungkin menyelam dulu kemudian whale watching. Apa yang akan dilakukan pada hari itu hanya baru diketahui setelah jam 9 pagi pada hari tersebut.

1. The boat from Pico sport; 2. I feel like an humback whale with this poncho and the bouyancy jacket; 3. When the sea is calm and no so many people on boat, we can a little bit naugthy to feel free without bouyancy jacket and poncho.
Dua kali kami ikut serta dalam Whale Watching Tour ini.
Kali pertama, ada 12 peserta. Penuh dan sesak perahunya. Apalagi semua orang yang ada di perahu diwajibkan mengenakan jaket pengapung. Dan jika laut sedang tidak bersahabat alias bergelombang, peserta juga diwajibkan mengenakan poncho pelastik supaya tidak basah, karena kadang-kadang bukan hanya percikan air yang kami terima saat gelombang menghantam perahu, melainkan benar-benar siraman gelombang. Basah kuyup dengan air laut yang dingin ditambah terpaan angin yang juga dingin, tanpa poncho beku sudah kami di perahu.
Tapi kok ya, saya merasa seperti humback whale dengan perabotan pengapung dan pancho ini. Jadi tidak bebas bergerak. Tapi sudahlah dari pada mengigil beku kan? Lagian kalau ada kecelakaan atau jatuh ke laut, setidaknya jaket pengapung ini bisa menyelamatkan jiwa saya. Seberapa mampu sih manusia bertahan tanpa kelelep di air sedingin itu?
Sayangnya dalam trip pertama kami belum beruntung. Setelah 3 jam berkeliling, tidak satupun paus yang kami temukan. Padahal menurut boatman-nya, mereka menerima kabar dari vigia tentang keberadaan paus di daerah tersebut beberapa jam yang lalu.
Kami sempat bertemu dengan rombongan lumba-lumba dari jenis hidung botol (bottlenose dolphins). Sayangnya juga rombongan lumba-lumba ini hanya melintas tanpa ada adegan akrobatik. Dan seperti yang sudah saya duga sebelumnya, semua orang di atas perahu berlomba-lomba mengabadikan lumba-lumba ini lewat kameranya. Bayangkan saja kalau 12 orang di boat, hampir semuanya tumpah ke satu sisi di mana lumba-lumba itu muncul...

Cetacean *)
Saat persiapan awal sebelum menuju ke perahu, saya sempat melihat beberapa orang menyiapkan peralatan mereka untuk snorkling dengan rombongan lumba-lumba ini. Tapi rupanya mereka semua sudah cukup kedinginan untuk meloncat ke laut.
Peraturan dari pemerintah Portugal yang mengatur sampai batas mana manusia bisa berinteraksi dengan cetacea. Seperti misalnya, penyelaman dengan scuba di sekitar cetacea tidak diijinkan (Untuk penyelaman di sekitar paus dibutuhkan sekitar 3 bulan untuk mengurus ijinnya). Snorkling hanya diijinkan di sekitar lumba-lumba. Tidak ada snorkling di sekitar paus.
Jarak antara boat dengan rombongan cetacea tidak boleh kurang dari 50 meter, dll.

Scenery along whale watching trip. Looks like "terasering" padi field in Bali, doesn't it?
Walaupun bisa dikatakan trip ini "tidak berhasil" dan beberapa orang tampak kecewa, saya sendiri asik-asik saja. Toch tidak pernah ada garansi untuk bisa melihat hewan-hewan yang bebas lepas di alamnya. Lagi pula saya menikmati kesempatan untuk melihat sisi lain dari pulau Pico ini dan pemandangan lainnya yang indah. Horison dengan awan dan matahari, pulau karang di tengah laut... Dan juga saya menikmati berperahu itu sendiri, walaupun harus berakhir dengan sakit pada otot paha dan pantat saya


Who can reject such beauty? Standing rock, a cape of Pico island and beauty from water, sun and sky.
Pada trip kedua kami lebih beruntung, hanya ada 6 peserta sehingga tentu saja ruang gerak menjadi lebih luas dan leluasa dan toleransi antar peserta lebih pekat. Kondisi laut juga lebih tenang dan... kali ini kami melihat serombongan paus. Sperm whale.
Sudah sering saya melihat paus di laut-laut Indonesia selama bekerja di kapal. Bahkan saya juga pernah melihat paus di dalam teluk Ambon saat sedang berada di atas ferry menuju ke kampus. Tapi baru kali ini saya melihat paus sekaligus dalam jumlah yang besar. Wow!

Saya mencoba untuk membuat foto ekornya saat paus tersebut mulai menyelam, seperti yang ada pada foto-foto di postcard. Tapi saya selalu terlalu cepat atau telat!!!!
aaaahhhh!!! Sebeeel!!!! Hasilnya dapat satu, tapi "out of focus". Sama aja bo'ong kan? Kami semua menunggu-nunggu adegan meloncat dari paus-paus ini. Tapi sayang rupanya belum jam-nya untuk aerobik.
Dalam perjalanan balik kami tidak menemukan satu lumba-lumba pun. Hmmm sepertinya mereka mengatur giliran pemunculan deh. Well, setidaknya trip kali ini tidak "gagal" kan?

Madalena town
*) Gambar cetacean diambil dari acsonline dan mzoo.



4 comments:
Sin, aku sering lihat laporan2 ttg berbagai macam ikan paus di TV, itu saja sering bikin aku terharu, bagaimana kalau lihat langsung seperti photo2 diatas ya? Wah.... ngiri aku lho Sin. Btw, thx for sharing!!
Met wiken ya Sin!!
waaaaaa...abis jalan2 toh. azores...wow!
weits, whale watching. hmm...mesti nunggu di nz kalo mo whale watching. tapi di lovina juga seru ah pake boatnya si iim pula. yang ada bule2 yang pake perahu kecil pada melotot liat kita pake boat bermesin pk 80...hahaha
divingnya seru tuh. abis itu diving ke kutub aja sin. khan kaya'nya dikau sudah mulai terbiasa diving dibawah 20 derajat..hahaha
aku baru balik mudik. ceritanya ntar aja. di jkt ketemu moudy walau cuma sebentar
salam buat reinier ya. thanks buat e-cardnya
sayang telat moto iwak pausnya pake digi ya ? hihihi. mangkanya telat. coba pinjem kameraku yang tuwek dan masih pake rolletje, ke shoot dah. becanda kok mbak sin. gimana, tahan dingin gak ? di rumah tiap hari pake vest nih, soale tetep 16 derajat disetel itu verwarming. anders bangkrut kl terus2an 18 derajat..
Tambahan Sin, salah satu jari tangan suamiku dioperasi karena jari tsb kaku sekali kayak kayu jadi nggak bisa digerakkan sama sekali, jadi kalau semua jari2nya disuruh lurus, jari tsb nggak bisa, tetap kaku ke bawah . Kalau ditanya kenapa bisa begitu, ternyata ini adalah turunan, jadi 18 thn yg lalu mamanya suamiku juga begitu salah satu jarinya dan juga harus dioperasi, terus mamanya itu dapat keturunan dari tante2nya. Alhamdulillah sekarang sudah membaik , jarinya sudah bisa digerakkan cukup lurus seperti jari yg lainnya. Sekali lagi makasih doanya ya Sin!
Post a Comment