Friday, November 25, 2005

Catatan yang masih tersisa dari Pico

Ke mana ya waktu milik saya akhir-akhir ini? Rasanya jam demi jam, hari demi hari, berlalu begitu cepat sementara belum banyak yang saya selesaikan. Saya jadi teringat saat kecil dulu, saya sering mendengar ucapan orang-orang tua yang ada di sekitar saya, mama, tante, tetangga, teman mama, selalu mengatakan, "aah... rasanya semakin hari, waktu semakin cepat saja berlalu."
O-ow...Shocked Apakah ini tandanya saya semakin tua?? Well.. whatever!! Menjadi tua adalah bagian dari proses hidup kan? Pekerjaan akan terus ada selama hidup masih dijalani. Dan waktu yang bergeser akan terus menciptakan pekerjaan dan masalah baru.
Waah.. harus lebih giat dan cekatan nih.. kalau tidak mau makin tinggi tumpukan pekerjaannya.

Dan karena tumpukan pekerjaan itu, urusan blog jadi terlantar. Apa boleh buat. Alhasilnya, babak terakhir dari catatan perjalanan ke Azores baru kali ini diluncurkan, setelah tertunda sebentar karena cerita aanrijding minggu kemarin.
Mudah-mudahan belum basi ya Big Smile

Catatan Perjalanan 4.

Berbekal mobil sewaan dan selembar peta, kami isi hari terakhir sebelum meninggalkan Pico, dengan tour keliling pulau itu.

Kami mengambil rute awal menyeberangi daerah pegunungan, dari Madalena (di sebelah barat laut Pico) menuju Lajes do Pico (di bagian selatan Pico) dan kemudian menyusuri jalan sepanjang pantai di sisi timur dan utara pulau ini.


Pico island.

Pulau yang unik, karena disamping vulkano-nya (mount Pico), pulau ini sendiri terbentuk dari pecahan gunung api. Bisa dilihat dengan jelas, batu-batu yang terdapat di pulau ini adalah batu-batu yang berasal dari perut gunung api. Batu-batu ini disusun dengan rapi sebagai pagar, yang menghiasi wajah permukaan pulau ini, bahkan juga rumah tempat tinggal penduduk setempat.


Volcano stones and sign "board"

Curah hujan yang tinggi membuat pulau ini sangat hijau. Perjalanan kami sendiri seharian itu diwarnai dengan gonta-ganti antara hujan dan cerahnya mentari.


Views around the mountain. Some areas are foggy.

Tidak ada pedesaan yang kami temui selama perjalanan sepanjang daerah pegunungan. Yang ada hanya lahan pertanian dan area peternakan. Lebih banyak sapi yang kami lihat dari pada penduduk setempat yang kami jumpai selama perjalanan di dataran tinggi ini.
Yang uniknya lagi, baru kali ini saya melihat sapi yang keriting.


Pretty Curly

Kami juga melewati beberapa danau/telaga. Kehidupan yang saya lihat di sekeliling danau-danau ini adalah itik yang banyak sekali. Lucu juga memperhatikan tingkah laku itik-itik ini. Ternyata ada superior itik jantan juga (jangan tanya bagaimana saya tahu itu itik jantan ya), yang tidak mengijinkan itik lain mendekati itik betinanya (sekali lagi please, jangan tanya bagaimana saya tahu itu itik betina).


A lake somewhere around volcano and the "locals", uncle Donald's family; ducks.

Hanya memakan waktu sekitar tiga jam untuk menyelusuri jalan sepanjang daerah pegunungan ini, kami tiba di Lajes do Pico. Di kota kecil ini terdapat Museu dos Baleiros, museum tentang Perburuan Paus. Sebuah museum yang kecil tapi cukup lengkap dan menarik.
Mulai dari perahu sampai peralatan berburu dan peralatan untuk "mengelolah" hasil buruan, sampai perkakas-perkakas untuk membuat peralatan pembunuh pun komplit.
Wih... saya merinding juga melihat peralatan-peralatan pembunuh ini Bug Eyed
Pernak-pernik kecil "karya seni" dari tulang cetacean, bahkan sampai fetus/embrio dari perut hasil buruannya juga ada!!!
Sayang, pengunjung tidak diijinkan untuk memotret di dalam museum.


Ribeiras and Lajes do Pico



Sepanjang jalan, baik di gunung ataupun di sepanjang pantai, selain susunan batu hitam vulkanis, bunga tidak pernah sepi dari penglihatan kami. Bermacam-macam bunga, tumbuh liar di permukaan pulau ini. Wah, penggemar bunga dan penggemar berat cetacean pasti betah di sini.


island of flowers

Hari sudah sore saat kami kembali ke Joe's place. Saatnya siap-siap untuk makan malam dan mengepak perabot-perabot kami. Kegiatan yang tidak saya sukai dari rangkaian kegiatan sebuah perjalanan.


Praça do rossio (Rossio square), Lisbon.

Tiba sudah kami di ujung perjalanan kami kali ini. Keesokan paginya dengan menggunakan ferry kami menyeberang ke pulau Faial dan kemudian terbang ke Lisbon. Kami menginap semalam di Lisbon, Portugis, sebelum melanjutkan penerbangan ke Brussel di pagi berikutnya. Sudah pasti malam itu kami isi dengan berjalan-jalan sebentar di Lisbon. Sayang, tidak banyak waktu yang kami miliki di sana, padahal ada banyak sekali tempat-tempat yang menarik untuk dikunjungi.
Next time, who knows..

1 comment:

toekangmasak said...

Menarik juga jalan-jalannya (pengennnn). Itu sapi putih banget ya mana berponi kriting lagi.
TTDJ selama diperjalanan, Sin

-mapleaf.blogspot.com-