Gokil!!
Bayangkan saja 3 hari weekend panjang (Sabtu-Senin), kami isi dengan menempuh perjalanan sejauh total kurang lebih 1600km!!!
Benar-benar cari kerjaan!

Awal ceritanya kami diajak untuk kemping oleh teman saya di daerah Normandy, pesisir utara Perancis, dan mengisi waktu dengan mengunjungi
Mont Saint Michel.
Walaupun kami sudah menyadari jarak tempuh pulang pergi berkisar 1500km, toch tetap saja dijalanin.
Padahal pemantauan cuaca beberapa hari terakhir juga sangat tidak memuaskan, tetap saja teguh kukuh berlapis baja. Maju terus.
Edan!!
Tiba di area perkempingan di Baguer Pican, sebuah kota kecil kira-kira 30km dari Mont Saint Michel sekitar jam 4 sore, setelah kira-kira 8 jam kami habiskan di jalan.
Wah, jujur saja selama perjalanan dengan mobil ke sana bisa dikatakan sangat tidak menarik dan tidak kami banget.
8 jam itu hanya dihabiskan di jalan tol, dan hanya berhenti di tempat perberhentian dekat pom bensin untuk makan siang.
Biasanya dalam perjalanan panjang begitu, kami lebih memilih melewati jalan-jalan sepanjang desa-desa dan kota-kota kecil ketimbang memilih jalan tol. Kami lebih memilih untuk menggunakan peta dan berdebat kecil yang berakhir dengan tawa atau cemberut soal arah dan belokan yang harus diambil, ketimbang hanya terpaku pada layar
portable GPS car navigation systems yang bermerek Tom Tom itu.
Tapi namanya juga jalan berkelompok, disesuaikan sajalah dengan yang lain.
Untung juga kami sudah menyiapkan air panas di thermos, jadi tidak ada masalah bagi saya untuk menyiapkan dan menikmati secangkir kopi panas di dalam mobil, sebagai penyegaran.
Sambil bergantian dengan Reinier mengemudikan mobil.
Ah ya, saya tidak tahu persis berapa "sebenarnya" maksimal kecepatan di tol Perancis. Di beberapa tempat terdapat peringatan batas kecepatan maksimal 130km/jam, tapi jika hujan maksimal kecepatan adalah 110km/jam.
Tapi kenyataannya tidak demikian. Terasa sekali saat hendak melambung mobil lain di depan.
Dari kaca spion terlihat itu mobil masih jaauuuuh banget, eh begitu pasang lampu sen, dan cek sekali lagi di kaca spion dan jendela mobil, itu mobil yang tadi jaauuuuh banget sudah ada tepat di sisi mobil kami, dan terus melaju kencang.

Wuuih!!!.. Untung... dicek lagi setelah pasang lampu sen!!!
Jika menyebut kemping dengan tenda, pasti yang langsung terpikir di benak kebanyakan orang adalah petualangan di alam terbuka, mandi di sungai dan harus mencari tempat pribadi untuk berbincang dengan alam di balik batu besar atau pepohonan rimbun.
Tapi bumi perkempingan di Eropa barat sangat jauh dari bayangan itu.
Bayangkan saja, bumi perkemahan dengan jumlah bintang seperti layaknya sebuah hotel, karena fasilitas yang disiapkannya juga kebersihan yang dijanjikan.

Teman-teman seperjalanan kami memasang bintang 4 sebagai standard area kemping.

Saya hanya menggaruk kepala, toch kolam renang, area bermain anak-anak dan restaurant yang memberi jumlah bintang daerah perkemahan itu sama sekali tidak kami butuhkan.
Bagi saya yang penting adalah toilet dan kamar mandi yang bersih dan air hangat yang konstan dari shower. Itu saja.
Tapi sudahlah, setiap orang memiliki caranya yang berbeda-beda, kan?

Setelah tenda-tenda didirikan di
Le Vieux Chêne, area kemping di Baguer Pican, segera kami menyiapkan persiapan
barbeque dan membuka botol-botol
wine.
Matahari bersinar cerah. Awan mendung tebal yang menggantung berat di langit tadi seolah lenyap tertelan langit biru yang membentang luas itu.
Ah... malam yang indah, dengan matahari musim semi tua yang bersinar makin lama.
Keesokan pagi dihiasi dengan gerimis tebal.
Wahh.. gimana acara jalan-jalan di Mont Saint Michel donk???
Yang lain-lain memutuskan untuk berputar-putar dengan mobil sebentar sambil menunggu hujan reda.
Walah... ini orang-orang.. berputar-putar judulnya, kenyataannya benar-benar hanya seputaran!!! Belok kiri, belok kiri, belok kiri, dan belok kiri lagi, langsung perjalanan dilanjutkan. Hahahaha... benar-benar seputaran, kan??

Sungguh saya hanya bisa ngakak di mobil saat kami membututi mobil mereka.

Tiba di Mont Saint Michel hujan mulai reda, walaupun masih rintik-rintik halus.
Lihat saja pada foto di atas itu, bagaimana kelabunya.
Untung sekitar jam 11-an awan hujan mulai menipis dan langit biru mulai mengintip dari sela-sela awan.
Bisa dikatakan kami terberkati dengan cuaca selama jalan-jalan di
tidal island ini.

Mont Saint Michel sendiri pada awalnya (abad ke-6/ke-7) adalah benteng pertahanan orang Armorica pada sebuah
rocky tidal island, pulau karang yang saat pasang surut tersambung dengan daratan induk, sementara jika pasang tinggi menjadi pulau terpisah dari daratan induk.
Sejalan dengan waktu benteng pertahanan ini kemudian menjadi biara dan terakhir menjadi penjara. (Sejarah Mont Saint Michel ini bisa dibaca di
sini).
Di kaki bukit karang itu juga berkembang sebuah kampung kecil yang pada saat ini kampung tua itu menjadi kompleks toko-toko souvenir dan restaurant.

Uh.. ramai sekali tempat ini, sampai berdesak-desakan jalannya. Tidak harus menunggu lama kami segera kehilangan teman-teman segroup. Ya sudah, malas menelpon untuk mencari-cari, jalan-jalan berdua sajalah. Pikir-pikir lebih bebas untuk merambah sana-sini.
Tidak terasa hampir 3 jam kami menelusuri tempat ini, sebelum akhirnya bergabung kembali dengan teman-teman yang lain.
Matahari bersinar sangat cerah saat itu. Bandingkan saja foto di bawah ini dengan foto yang ada di atas itu.

Tapi jangan gembira dulu, saat berjalan di pelataran parkir nan luas itu menuju ke mobil, dalam hitungan detik langit biru hilang ditutup awan kelam dan hujan yang jatuh ke Bumi seperti air dari shower yang diputar maksimum!!! Ditambah dengan angin menghempas kencang membuat tetes hujan terasa perih menghujam kulit. Jika anginnya tambah kencang sedikit saja lagi, akupuntur beneran deh!!!

Bah!!!
Setelah Mont Saint Michele ini, acara dilanjutkan dengan tour tanpa tujuan jelas dengan mobil.
Tidak ada masalah buat saya, merambah daerah baru selalu menyenangkan. Hanya saja yang kemudian membuat saya mengerutkan kening, semoga tidak sampai menambah satu garis kerutan lagi di dahi saya, adalah orang-orang ini kok senang banget ngedon di mobil???
Tempat-tempat bagus, pantai yang indah, semua hanya dilalui dengan mobil saja tanpa ada niat untuk berhenti dan berjalan keliling sejenak. Bahkan sama sekali tidak berhenti untuk minum kopi atau apalah yang santai.
Ya sudahlah, saya minta Reinier untuk menepikan mobil di sebuah pesisir sekedar membuat foto dan mengembungkan pantat saya lagi, yang pasti sudah penyet diduduki terus.
Sekaligus memasak air membuat kopi untuk berdua. Kebetulan peralatan memasak dan kompor gas yang simpel untuk kebutuhan kemping ada di mobil bersama kami.
Malamnya kami singgah di
St. Malo, kota pelabuhan dan juga daerah turist, sekitar 30km dari Baguer Pican, untuk mencari pengisi perut dan berjalan sebentar menyusuri dinding yang membentengi kota itu.

Pilihan kami jatuh pada restaurant yang khusus hanya menyediakan mosselen (mussel). Semuanya lagi ngidam mossel!!
Saya yang kesenangan, maklum saja penggemar berat mossel


Balik ke tempat perkemahan, begitu tiba, begitu mobil diparkirkan, Reinier langsung loncat buru-buru ke tenda kami.
Astaga, ternyata ada bagian atas penutup tenda kami yang terlepas ikatannya, dan sudah pasti... bocor saat hujan tadi siang!!! Alamak.. basah deh
sleeping bag dan bantal-bantal kami. Untung hanya satu yang basah.
Tapi biar kata cuma satu sleeping bag yang basah, biar kata sudah rapet-rapetan tidurnya, tetap saja dua-duanya kedinginan semalaman. Mana di luar hujan badai lagi, belum lagi matrasnya ikutan bocor. Ah... lengkap sudah penderitaanku.
Weleh.. ini sih bukan liburan, ini kamp penyiksaan boo!!

Jadi kesel sendiri, siapa sih yang mbantu ngikatin tali bagian atas tenda kami kemarin?
Biasa, paling mudah saat kesel dan paling menghibur adalah mencari kesalahan orang lain, kan?


Keesokan harinya dalam perjalanan kembali ke Eindhoven, kami sempat singgah sejenak di
Étretat, sebuah kota di pesisir Normandy yang memiliki gerbang dinding karang putih dan bangunan-bangunan yang tua dan menarik, untuk ngopi dan kemudian memilih sejenak mengemudi menyusuri jalan-jalan pinggiran kota, daripada sekedar hanya di jalan tol, sampai akhirnya kami saling mengucapkan selamat tinggal dan sampai ketemu lagi, karena kebetulan kami hendak singgah berbelanja di sebuah supermarket di sana, maklum saja jenis makanan di sana jauh lebih bervariasi dari di Belanda sini.

Tiba di rumah sudah pukul 10 malam.
Cuapeekk booo!!!
Ada enaknya, tapi ada tidak enaknya juga perjalanan seperti ini.
Ah... tidak mau lagi liburan jauh-jauh dari rumah jika waktu yang dimiliki hanya long weekend.
Tidak mau lagi ikut-ikutan kemping jika cuaca tidak menjanjikan.
Tidak mau lagi merasa tidak enakkan untuk membatalkan janji jika cuaca memang tidak mendukung. Memaksakan diri dalam kondisi seperti ini hanyalah merupakan penyiksaan diri.
Tidak mau lagi ikut-ikutan liburan yang isinya serba kejar-mengejar dan hanya mengempeskan pantat di mobil saja.