Friday, June 29, 2007

Lilin-lilin kecil

Sedang beberesan file foto-foto saat menjelajah pelosok Nusantara, ah.. ternyata banyak juga wajah-wajah dari dunia lugu yang sempat terjepret kamera saya.
Memandang wajah polos mereka, entah dalam senyum nakal, dalam tawa ceria, dalam lirikan malu-malu... ah.. dunia mereka tetap adalah dunia anak-anak.
Tidak perduli dari pesisir Komodo, atau dari pegunungan di Alor, atau dari desa di Bali, atau dari kota seperti Jakarta, dunia mereka tetap dunia anak-anak.

Tiba-tiba teringat, bukankah tanggal 1 Juli adalah hari anak-anak sedunia dan tanggal 23 Juli nanti adalah hari anak Nasional? *)
Terinspirasi suara Chrisye yang melantunkan lilin-lilin kecil, maka video sederhana ini pun ada.

Semoga kita semua untuk mampu menjadikan "dunia" yang lebih baik bagi anak-anak.



Mengajar tentang kasih sayang adalah mudah,
tapi mengajar tentang kebencian jauh lebih mudah lagi.
Yang mana yang mau kita ajarkan pada mereka?

Melakukan hal yang baik mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang paling sederhana. Dan mereka akan mencontoh apa yang telah kita lakukan.



*) Ps: Thanks Reth, tuh udah diralat. Happy

Monday, June 25, 2007

Wiken di Ardennen (3)

Menelusuri sungai Lesse.

Minggu, matahari bersinar dengan cerahnya.
Bukan kejutan, karena apa yang terjadi persis seperti apa yang tertera di berita ramalan cuaca yang kami ikuti seminggu terakhir.

Bangun pagi-pagi dan setelah selesai sarapan dengan telur orak-arik ham special buatan Kasia dan croissant segar dari bakery, semua langsung bersiap-siap dengan ranselnya yang berisi bekal buat lunch, minuman, handuk, tentu saja khusus buat saya, kamera yang sudah dipasang dalam underwater house-nya.

Lha?? Mau ke mana? Diving?
Ada sih aktivitas dive di Ardennen, cave dive, menyelam pada sungai bawah tanah, goa-goa bawah tanah yang penuh tertutup air.
Tapi bukan diving judul acara kali ini.
Kami mau menyusuri sungai Lesse, sungai yang bermuara ke sungai Maas, dengan kayak!!!


Setelah membayar tiket dan memilih jenis kayak yang mana yang ingin kami pakai, segera kami menuju ke stasiun kereta yang terletak hanya beberapa ratus meter dari counter Lesse kayaks, salah satu penyedia fasilitas berkayak di Anseremme.

Ah ya, ada 4 jenis kayak yang ditawarkan oleh Lesse kayaks.
Kayak untuk 1 orang, untuk 2 orang, sampai kayak dengan tempat duduk yang nyaman.
Sudah pasti pilihan yang terakhir yang kami ambil Teethy

Dan juga ada 2 pilihan rute berkayak.
Yang 12km dengan waktu tempuh sekitar 2,5 jam atau yang 21km dengan waktu tempuh sekitar 5 jam. Rute bisa diklik di sini.
Sudah pasti juga dengan pede saja kami memilih rute yang terakhir, yang 21km Teethy

Dari stasiun kereta itu kami menuju ke Houyet, stasiun Lesse-kayaks untuk start rute 21km, yang jaraknya kira-kira 15 menitan duduk di kereta.

Di sana kami menerima masing-masing orang satu dayung dan satu ember kecil dengan penutupnya untuk tiap kayak untuk melindungi barang bawaan supaya tidak basah nanti. Kalau mau masing-masing orang satu ember juga boleh, tinggal minta saja.

Dan setelah duduk di kayak pesanan kami, segera kayak diluncurkan ke dalam air. Yupppiieee...!!! Blub... ugh... keciprat air juga nih saat kayak meluncur ke sungai Hysterical

Perjalanan dimulai dengan mulus dan tenang.
Hutan yang hijau sepanjang sungai,kicau burung yang membentuk konser alam, sinar matahari yang hangat di kulit, arus air yang mengalir perlahan... waaahhh...


Julia yang tadinya rada-rada kuatir, sampai-sampai minta pulang dengan wajah memelas saat hendak duduk di kayaknya malah jadi bersemangat banget mendayung. Kami-kami (saya, Reinier, Roy dan Kasia) yang malas mendayung dan hanya mengikuti arus sungai malah ketinggalan jauh di belakang mereka Hysterical

Kadang kami seperti penguasa sungai, karena hanya rombongan kecil kami di sana, tapi kadang kami juga harus berbagi dengan rombongan-rombongan pekayak lain yang kami temui.
Ada yang santai dan sopan, saling mengangguk dan tersenyum, tapi ada juga yang brutal dan asosial. Menyebalkan kalau bertemu jenis pekayak yang terakhir ini.

Bayangkan saja, sudah tahu sungai sedang ramai dengan kayak-kayak lain, eh... kayaknya malah tetap didayung dengan kencang dan main tabrak saja. Bukannya menghindar kayak di depan dan mendayung perlahan, malah menjerit berteriak menyuruh kayak yang di depannya minggir. Sudah gitu berlalu tanpa satu kata sorry lagi!!
Walleehhh sungai bapakmu apa?? Idiot!!! Hot Head

Tapi sudahlah daripada marah-marah pada orang-orang yang tidak tahu sopan itu mending nikmati saja kemesraan dan keakraban bersama serta sajian dari alam yang mewah di sepanjang perjalanan.
Tidak hanya hutan sepanjang tepian sungai, kadang juga kami bertemu daerah camping, atau dinding karang putih yang tinggi menjulang, bahkan juga kastil yang atas dinding batu.


Beberapa hal lucu juga terjadi sepanjang perjalanan karena mendayung yang tidak kompak atau karena pengendalian kayak yang kaku.
Misalnya pasangan Julia dan Dima yang kami juluki pencinta pohon, karena mereka sering sekali terjebak di bawah ranting-ranting pohon yang rendah terjulur menaungi tepi sungai.
Kadang juga kami saling bercanda dengan saling menabrakkan kayak perlahan, atau mendorong dan berusaha merubah arah kayak pasangan yang lain.
Tapi sudah tentu saling menabrak ini harus dilakukan dengan hati-hati, jangan sampai menjepit atau menggesek tangan pasangan dari kayak "lawan".

Tidak melulu hanya berkayak, kami juga berhenti beberapa kali di tepi sungai yang landai untuk piknik, sekedar ngopi, menikmati makan siang kami, atau sekedar menikmati pemandangan yang indah di sana.

Sebenarnya jika tidak membawa bekal pun tidak mengapa, karena terdapat juga restaurant-restaurant sederhana dan kedai-kedai kentang goreng di beberapa sudut sepanjang sungai.
Hanya saja kami lebih memilih bekal yang kami siapkan sendiri.

Arus sungai juga tidak melulu mengalir santai, kadang juga ada riam-riam kecil yang membuat kami harus berpikir mau ambil sisi yang mana untuk dilewati.
Kadang malah mati arus sama sekali sehingga kami juga harus menguras sedikit tenaga untuk mendayung.

Dan walaupun sudah berusaha untuk tidak basah atau seminimal mungkin basah, ternyata toch basah juga pada akhirnya.

Ada dua air terjun kecil sepanjang rute ini.
Ups.. jangan melotot dulu, namanya saja yang air terjun tapi jarak jatuhnya pendek banget dan juga landai.

Air terjun yang pertama dengan mulus kami lalui. Nah air terjun yang kedua ini, waahh.. kecil tapi merupakan mission impossible untuk tidak basah!!!
Byuuuuaaarrrrr.... Basah deh!!! Keciprat air yang beriak di ujung air terjun itu.
Ugh.. mana dingin lagi!!! Air sungai hanya 13ºC. Hysterical


Untung sweater saya ada di antara punggung dan sandaran bangku sehingga masih bisa dikatakan kering, ganti baju darurat deh jadinya.
Tapi celana pendek dan daleman tetap basah. BAH!! Tidak nyaman!!! Keplek-keplek rasanya. Lain kali jangan sampai lupa bawa tankini!!!

Tidak terasa stasiun pendaratan Lesse-kayaks sudah didepan mata.
Ah.. jarak 21km itu telah selesai kami tempuh, 4,5 jam kami habiskan untuk menelusuri sungai Lesse.
Menyenangkan!!!

Kembali ke vakantiehuis, istirahat sejenak, makan malam yang dini, beberesan dan pulang, balik ke Eindhoven.

Wiken telah berakhir.

Thursday, June 21, 2007

Wiken di Ardennen (2)

Menelusuri goa dan menjelajahi hutan.

Cuaca hari Sabtu kemarin tidak terlalu menjanjikan untuk beraktivitas di alam terbuka. Awan kelabu, hujan deras dan sinar matahari terus bergantian mencandai Bumi.
Enaknya ngapain ya cuaca begini?
Akhir diputuskan selesai untuk menelusuri Grottes de Han, goa raksasa yang berusia ribuan tahun, setelah sarapan pagi.
Setidaknya toch kami tidak akan basah kehujanan di dalam goa.

Setelah selesai dengan urusan goa, baru diputuskan lagi mau ke mana atau mau ngapain, tergantung dengan cuaca yang ada nanti.
Julia memutuskan untuk menghabiskan waktunya di vakantiehuis saja. Lagi pengen menyendiri rupanya.

Untuk mencapai Grottes de Han kami harus ke kota Han-sur-Lesse, kira-kira 39km dari Anseremme.
Di sana, setelah membeli karcis, kami menumpang tram yang telah berumur lebih dari 100 tahun, yang khusus membawa para pengunjung ke mulut goa itu.

Tentu saja para pengunjung tidak diperkenankan masuk dengan bebas, melainkan dibawah pimpinan seorang guide yang menjelaskan hal-hal dan fakta-fakta menarik di dalam goa tersebut dalam 2 bahasa.
Sayangnya bahasa Belanda sang guide dengan aksen Perancisnya yang kental membuat saya hanya melongo tidak mengerti, dan Reinier harus menyalin kata-kata guide itu pada saya.

Rute tempuh sepanjang kira-kira 3km itu sungguh tidak terasa sama sekali.
Suhu dalam goa yang selalu konstan 13ºC sepanjang tahun, tidak perduli musim panas ataupun musim dingin di luar karena isolasi goa dengan dunia luar yang sangat baik, membuat tubuh nyaman dan tidak cepat capek.

Belum lagi karena terpana melihat hasil geliat air yang sempurna yang membentuk stalaktit dan stalagmit, colomn (tiang/tugu, ketika stalaktit dan stalagmit bersatu atau ketika stalaktit menyentuh lantai goa) dan drapery (seperti gorden yangtergantung melekuk-lekuk tipis) yang indah menghiasi semua sudut ruangan dalam goa, ditambah lagi dengan sistim pencahayaan yang menerangi dalam goa tanpa meninggalkan kesan alami.

Pahatan-pahatan air yang terukir indah dibadan-badan stalaktit dan stalagmit itu waahhh... mengagumkan sekali..
Ada yang seperti sisik-sisik kecil, bahkan ada yang menyerupai bentuk otak.

Dalam trip itu kami dibawa melewati kira-kira 9 chamber (kamar) yang ada dalam goa itu dan 2 dari 3 level (lantai/tingkat) yang ada.
Ada ruangan yang 110 meter dibawah permukaan Bumi, ada ruangan yang besarnya tidak kira-kira, tingginya 62 meter dengan lebar diagonalnya 145 meter (The Dome chamber), ada ruangan yang terdapat stalagmit setinggi 6 meter yang berusia sekitar 12.000 tahun!!!

Ada ruangan di level 2 (level 2 letaknya lebih jauh dari permukaan tanah dibandingkan dengan level 1) yang selama musim dingin merupakan terowongan aliran air sungai. Jadi ruangan ini ditutup selama musim dingin karena penuh terisi aliran air.
Ada juga ruangan dengan sungai bawah tanah yang sedang mengalir.
Ada ruangan dimana kami juga disuguhkan konser cahaya dengan latar belakang keindahan sudut-sudut goa.

Di ujung perjalanan kami menyusuri sungai bawah tanah yang mengalir dalam goa itu dengan perahu yang telah disiapkan, menuju pintu keluar goa.

Waaahhhh!!!!
Sayang dilarang memotret di dalam goa.
Dengan penghargaan terhadap alam, dan sedikit penghormatan pada aturan tuan rumah, peraturan itupun saya ikuti (walaupun dengan sedikit berat hati :P).

Bedanya goa ini dengan goa-goa lain yang pernah saya kunjungi adalah kesan turistiknya yang kuat sekali. Karena memang goa ini memang sudah diolah dengan sedikit sentuhan tehnologi untuk atraksi pariwisata.
Pengunjung tidak perlu takut akan kegelapan ataupun harus berpikir akan merayap dan membungkuk pada lorong-lorong yang sempit, karena semua masalah itu tidak ditemui dalam perjalanan dalam goa ini.

Selesai dengan urusan goa, urusan perut mulai menggelitik.
Untung cuaca berbaik hati pada kami, awan kelabu yang membawa gerimis bergeser pelan, memberikan kesempatan bagi sang mentari tersenyum hangat pada kami saat kami menikmati bekal makan siang kami.


Acara selanjutnya?
Jalan menjelajahi hutan kawasan taman nasional.
Bodoh ah.. kalau nanti hujan... ya basah. Resiko kan.
Dengan mempertimbangan resiko kehujanan ini, kami memilih rute pendek saja.

Wah.. ternyata bikin ngos-ngosan juga, biarpun cuma 5km, tapi naik turun bukitnya itu. Lama-lama kepanasan juga, yang tadinya masih dengan sweater tipis, akhirnya hanya dengan singlet doank jalannya.
Buat saya, malah bernostalgia dengan sensasi ngos-ngosan saat menjelajahi Rinca dulu.


Pemandangan yang indah dan menyegarkan merupakan sajian yang bisa dinikmati di sini.
Wah.. lama sekali rasanya sejak terakhir saya menjelajahi daerah berbukit-bukit seperti ini. Maklum saja, Belanda kan rata Teethy
Sungai yang mengalir di bawah sana adalah sungai Lesse.

Kehujanan? Sudah pasti.
Tapi untung setiap kali saat hujan turun kami berada dekat-dekat goa-goa kecil dimana bisa kami pakai untuk berteduh.

Dan, sambil menunggu hujan reda, mending foto bersama dulu. Pasang tripod, dan.. klik.

Bisa dikatakan, walaupun cuaca hari itu bukan cuaca ideal untuk main di tengah alam terbuka, tapi toch aktivitas kami sama sekali tidak terganggu oleh cuaca.

Saat tiba kembali di vakantiehuis, segera semuanya menyerbu bier dingin. Waahhh segaaarnyaa...
Ramai ngobrol kembali.
Ada saja bahan untuk diobrolkan, sambil ditemani camilan ringan sementara di luar hujan mengguyur makin deras.


Makan malamnya adalah pasta salad buat Roy, Burrito buatan Kasia, Goulash buat mamanya Julia, dan nasi goreng ala Since lengkap dengan krupuk.
Semua makanan ini sudah kami siapkan dari rumah sebelum berangkat liburan, jadi tinggal dihangatkan saja, kecuali krupuk dan pasta salad tentunya.

Setelah beres dengan urusan beberesan dan ngerumpi-ria di dapur bareng Kasia dan Julia, sisa malam kami isi dengan ngobrol dan bermain yahtzee bareng yang lain, sampai tiba saat untuk saling mengucapkan selamat tidur.
Besok masih menunggu petualangan yang juga tidak kalah mengasyikan.

Bersambung..

Monday, June 18, 2007

Wiken di Ardennen (1)

Vakantiehuis dan Dinant.

Wiken kemarin secara legal bukan wiken panjang, tapi sengaja kami semua, saya, Reinier dan 4 teman lain, mengambil jatah libur pada hari Jumat untuk bersama-sama berwiken panjang di Ardennen, Belgia.

Gîte Les Matin Clairs,
adalah sebuah vakantiehuis (rumah yg bisa disewakan untuk liburan) di Anseremme, yang secara kebetulan artikelnya ditemukan oleh Reinier di internet.
Saya langsung tertarik begitu disuguhkan foto-fotonya, demikian juga dengan Kasia, Roy, Julia dan Dima.
Akhirnya, sepakat bersama kami menyewa vakantiehuis itu.

Piknik
Walaupun jarak antara Anseremme, Belgia hanya sekitar 212km dari Eindhoven lewat tol, dengan normal waktu tempuh, tanpa macet, sekitar 2 jam setengah, toh kami menghabiskan sekitar 4 jam setengah dalam perjalanan ke sana.
Tidak heran, kami memilih lewat jalan-jalan yang berwarna hijau di peta (alias jalan-jalan kecil), melewati kota kecil dan pedesaan, daerah pertanian dan hutan-hutan kecil.
Rute yang jauh lebih menarik dibandingkan dengan melulu di jalan tol.

Untuk makan siang kami singgah membeli roti segar di sebuah toko roti yang kami temui di salah satu desa yang kami lalui dan juga membeli ham dan iga panggang sebagai teman roti di sebuah toko tukang daging yang tidak jauh dari bakery itu.
Makan siangnya, piknik di bawah hangatnya mentari di tengah alam terbuka.
Untungnya di Belgia tidak sulit untuk mencari bangku-bangku untuk piknik di sudut-sudut jalan yang tenang dengan pemandangan yang indah.

Dinant
Kota yang sudah ada sejak abad ke-7 di tepi sungai Maas, yang tebal dengan keriput sejarah ini, 5km dari Anseremme, menjadi daerah pertama acara jalan-jalan kami.
Benteng militer, Citadel, yang menyatu kokoh dengan tebing batu yang menjulang di sisi belakang kota adalah sasaran pertama.
Benteng pada ketinggian 408 anak tangga itu dibangun pada abad ke-11, sempat dihancurkan oleh Perancis dan kemudian dibangun kembali oleh Belanda.
Ooo... ada sentuhan Belandanya... pantesan saja... mengapa saya langsung teringat pada benteng Belgica di Banda Neira saat saya duduk terengah-engah di tengah square benteng itu.


Terengah-engah? Ya iyalah.. setelah menapak 408 anak tangga!!!
Ada sih kereta lift yang membawa pengunjung ke atas, tapi dasar anak-anak gokil (kecuali Julia dan Dima yang memilih lift), malah milih anak tangga untuk mencapai benteng itu!!
Bah... bener-bener deh... bikin kerjaan!!! Hysterical
Terasa banget hasil dari sudah lama tidak olah fisik.


Lihat saja foto di atas itu, tangga yang terlihat di situ hanya sebagian kecil dari keseluruhan yang ada.
Ah ya yang sedang ngeceng di foto itu adalah Kasia dan Roy.

Pengunjung hanya boleh masuk ke dalam ruangan-ruangan dalam benteng itu dengan dipandu secara masal oleh seorang pemandu di sana.
Ada bagian dari benteng ini yang posisi ruangan seluruhnya miring. Kemiringan yang mengingatkan saya saat kapal terombang-ambing, terperangkap badai di laut.


Foto di atas adalah pemandangan kota Dinant dari Citadel.
Kubah gereja yang terlihat itu adalah kubah gereja Notre Dame. Sungai yang membelah kota adalah sungai Maas (Meuse versi Inggris dan Perancis), dan jembatan Charles de Gaulle yang terbentang itu sudah ada sejak akhir abad ke-11. Tapi pada abad itu tentu saja nama jembatan itu belum jembatan Charles de Gaulle.

Turun kembali ke kota. Kali ini dengan normal pakai lift saja Teethy
Langsung menyerbu salah satu kafe di sana. Kehausan boo setelah mendaki sekian ratus anak tangga dan jalan berkeliling di dalam benteng itu. Bier yang super dingin sudah terbayang dalam benak kami.

Tapi begitu duduk dan membuka daftar minumannya, jadi bingung sendiri, astaga mana yang mau saya pilih ya?
Ada lebih dari 20 nama bier yang tertera di sana.
Belgia memang terkenal sebagai penghasil bier yang beragam.

Barbeque
Makan malam kami isi dengan acara bbq di halaman belakang.

Saus pelengkap hidangan dan segala urusan minuman kami bawa dari rumah, Julia juga membawa pasta tuna, sedangkan untuk urusan daging, sayur untuk salad dan roti kami beli di salah satu supermarket di sana.
Pssst... sambal botol made in Indonesia tidak ketinggalan lho *sambil nunjuk-nunjuk foto di samping* Teethy

Saat malam makin larut dan angin mulai bertiup dingin, obrolan dan candaan kami lanjutkan di woonkamer (ruang keluarga) dengan menyalakan juga perapian yang ada.
Wahhh hangat dan gezellig banget!!!
Tapi rasa capek membuat kelopak mata saya semakin berat saja... ah.. tidak terasa sudah setengah 12!! Sudah ah... tidur saja. Besok toh masih acara jalan-jalan lagi.
Welterusten allemaal!!!
Ah.... hahaha.. ternyata semua juga langsung bubar siap-siap bobo... saya kira hanya saya yang kecape'an.

Bersambung...

Tuesday, June 12, 2007

Satu hari berburu

Si Since ke Afrika?? Shocked

Hihihi... Maunya sih, tapi belum kesampaian.
Bersafari di Afrika itu masih hanya di mimpi.
Foto di samping itu diambil saat di Burgers' zoo, di Arnhem.

Gara-gara ajakan seorang teman yang hendak seharian berburu foto di sana. Kebetulan waktunya juga pas dengan jadwal saya, ya hayoo aja.
Bertiga kami ke sana. Robin, saya dan Ron, teman Robin.


Menyusuri kebun binatang itu sampai pegal betis ini. Mencari mangsa yang bisa di-shoot oleh kami, mencari sudut-sudut pengambilan gambar yang asyik, mencari posisi yang pas bagi kami, dan juga mencoba menangkap moment-moment yang terjadi.
Ah... sudah seperti fotografer profesional di National Geographic saja lagak kami.Teethy


Capek tapi asyik banget!!!
Iyalah, asyik, dapat mangsa buat dibidik, dapat masukan ilmu dan pengalaman orang lain dan juga dapat membagi ilmu dan pengalaman sendiri pada orang yang juga berminat.

Selain capek betis, kadang capek hati juga.
Gimana eng'gak, beberapa kali pas dapat mangsa bagus, yang juga datang mendekat, ketika sedang sibuk membidik, ehhh.... muncul serombongan anak-anak muda, kalau yang cowok ya dengan suaranya yang kencang dan riuh, dan kalau yang muncul kelompok cewek... aduhh sakit telinga saya dengan jeritan-jeritannya...
Waahhh... kabur menjauh bahkan kabur bersembunyi deh mangsa saya... Crying

Grrrrg... kalau sudah begitu rasanya ingin memeras mereka seperti memeras pakaian basah yang hendak dijemur!!! Hot Head ugh!!

Tidak terasa 7 jam kami habiskan di sana!!!
Wahh.. waktu terbang dengan kecepatan super jika kita berada dalam kenikmatan.

"Het was leuk samen met jullie wilde dieren te schieten, guys.
Ik kijk uit naar de volgende trip."

Wednesday, June 06, 2007

750 Km Dari Rumah.

Gokil!!
Bayangkan saja 3 hari weekend panjang (Sabtu-Senin), kami isi dengan menempuh perjalanan sejauh total kurang lebih 1600km!!!
Benar-benar cari kerjaan!

Awal ceritanya kami diajak untuk kemping oleh teman saya di daerah Normandy, pesisir utara Perancis, dan mengisi waktu dengan mengunjungi Mont Saint Michel.

Walaupun kami sudah menyadari jarak tempuh pulang pergi berkisar 1500km, toch tetap saja dijalanin.
Padahal pemantauan cuaca beberapa hari terakhir juga sangat tidak memuaskan, tetap saja teguh kukuh berlapis baja. Maju terus.
Edan!!

Tiba di area perkempingan di Baguer Pican, sebuah kota kecil kira-kira 30km dari Mont Saint Michel sekitar jam 4 sore, setelah kira-kira 8 jam kami habiskan di jalan.
Wah, jujur saja selama perjalanan dengan mobil ke sana bisa dikatakan sangat tidak menarik dan tidak kami banget.
8 jam itu hanya dihabiskan di jalan tol, dan hanya berhenti di tempat perberhentian dekat pom bensin untuk makan siang.

Biasanya dalam perjalanan panjang begitu, kami lebih memilih melewati jalan-jalan sepanjang desa-desa dan kota-kota kecil ketimbang memilih jalan tol. Kami lebih memilih untuk menggunakan peta dan berdebat kecil yang berakhir dengan tawa atau cemberut soal arah dan belokan yang harus diambil, ketimbang hanya terpaku pada layar portable GPS car navigation systems yang bermerek Tom Tom itu.

Tapi namanya juga jalan berkelompok, disesuaikan sajalah dengan yang lain.

Untung juga kami sudah menyiapkan air panas di thermos, jadi tidak ada masalah bagi saya untuk menyiapkan dan menikmati secangkir kopi panas di dalam mobil, sebagai penyegaran.
Sambil bergantian dengan Reinier mengemudikan mobil.

Ah ya, saya tidak tahu persis berapa "sebenarnya" maksimal kecepatan di tol Perancis. Di beberapa tempat terdapat peringatan batas kecepatan maksimal 130km/jam, tapi jika hujan maksimal kecepatan adalah 110km/jam.
Tapi kenyataannya tidak demikian. Terasa sekali saat hendak melambung mobil lain di depan.
Dari kaca spion terlihat itu mobil masih jaauuuuh banget, eh begitu pasang lampu sen, dan cek sekali lagi di kaca spion dan jendela mobil, itu mobil yang tadi jaauuuuh banget sudah ada tepat di sisi mobil kami, dan terus melaju kencang.Eyes Poppin Wuuih!!!.. Untung... dicek lagi setelah pasang lampu sen!!!

Jika menyebut kemping dengan tenda, pasti yang langsung terpikir di benak kebanyakan orang adalah petualangan di alam terbuka, mandi di sungai dan harus mencari tempat pribadi untuk berbincang dengan alam di balik batu besar atau pepohonan rimbun.

Tapi bumi perkempingan di Eropa barat sangat jauh dari bayangan itu.
Bayangkan saja, bumi perkemahan dengan jumlah bintang seperti layaknya sebuah hotel, karena fasilitas yang disiapkannya juga kebersihan yang dijanjikan.


Teman-teman seperjalanan kami memasang bintang 4 sebagai standard area kemping.
Hmm Saya hanya menggaruk kepala, toch kolam renang, area bermain anak-anak dan restaurant yang memberi jumlah bintang daerah perkemahan itu sama sekali tidak kami butuhkan.

Bagi saya yang penting adalah toilet dan kamar mandi yang bersih dan air hangat yang konstan dari shower. Itu saja.
Tapi sudahlah, setiap orang memiliki caranya yang berbeda-beda, kan?

Setelah tenda-tenda didirikan di Le Vieux Chêne, area kemping di Baguer Pican, segera kami menyiapkan persiapan barbeque dan membuka botol-botol wine.

Matahari bersinar cerah. Awan mendung tebal yang menggantung berat di langit tadi seolah lenyap tertelan langit biru yang membentang luas itu.
Ah... malam yang indah, dengan matahari musim semi tua yang bersinar makin lama.

Keesokan pagi dihiasi dengan gerimis tebal.
Wahh.. gimana acara jalan-jalan di Mont Saint Michel donk???

Yang lain-lain memutuskan untuk berputar-putar dengan mobil sebentar sambil menunggu hujan reda.
Walah... ini orang-orang.. berputar-putar judulnya, kenyataannya benar-benar hanya seputaran!!! Belok kiri, belok kiri, belok kiri, dan belok kiri lagi, langsung perjalanan dilanjutkan. Hahahaha... benar-benar seputaran, kan?? ROTFL
Sungguh saya hanya bisa ngakak di mobil saat kami membututi mobil mereka.


Tiba di Mont Saint Michel hujan mulai reda, walaupun masih rintik-rintik halus.
Lihat saja pada foto di atas itu, bagaimana kelabunya.
Untung sekitar jam 11-an awan hujan mulai menipis dan langit biru mulai mengintip dari sela-sela awan.
Bisa dikatakan kami terberkati dengan cuaca selama jalan-jalan di tidal island ini.

Mont Saint Michel sendiri pada awalnya (abad ke-6/ke-7) adalah benteng pertahanan orang Armorica pada sebuah rocky tidal island, pulau karang yang saat pasang surut tersambung dengan daratan induk, sementara jika pasang tinggi menjadi pulau terpisah dari daratan induk.
Sejalan dengan waktu benteng pertahanan ini kemudian menjadi biara dan terakhir menjadi penjara. (Sejarah Mont Saint Michel ini bisa dibaca di sini).
Di kaki bukit karang itu juga berkembang sebuah kampung kecil yang pada saat ini kampung tua itu menjadi kompleks toko-toko souvenir dan restaurant.

Uh.. ramai sekali tempat ini, sampai berdesak-desakan jalannya. Tidak harus menunggu lama kami segera kehilangan teman-teman segroup. Ya sudah, malas menelpon untuk mencari-cari, jalan-jalan berdua sajalah. Pikir-pikir lebih bebas untuk merambah sana-sini.

Tidak terasa hampir 3 jam kami menelusuri tempat ini, sebelum akhirnya bergabung kembali dengan teman-teman yang lain.
Matahari bersinar sangat cerah saat itu. Bandingkan saja foto di bawah ini dengan foto yang ada di atas itu.


Tapi jangan gembira dulu, saat berjalan di pelataran parkir nan luas itu menuju ke mobil, dalam hitungan detik langit biru hilang ditutup awan kelam dan hujan yang jatuh ke Bumi seperti air dari shower yang diputar maksimum!!! Ditambah dengan angin menghempas kencang membuat tetes hujan terasa perih menghujam kulit. Jika anginnya tambah kencang sedikit saja lagi, akupuntur beneran deh!!! Acupuncture Bah!!!

Setelah Mont Saint Michele ini, acara dilanjutkan dengan tour tanpa tujuan jelas dengan mobil.
Tidak ada masalah buat saya, merambah daerah baru selalu menyenangkan. Hanya saja yang kemudian membuat saya mengerutkan kening, semoga tidak sampai menambah satu garis kerutan lagi di dahi saya, adalah orang-orang ini kok senang banget ngedon di mobil???

Tempat-tempat bagus, pantai yang indah, semua hanya dilalui dengan mobil saja tanpa ada niat untuk berhenti dan berjalan keliling sejenak. Bahkan sama sekali tidak berhenti untuk minum kopi atau apalah yang santai.

Ya sudahlah, saya minta Reinier untuk menepikan mobil di sebuah pesisir sekedar membuat foto dan mengembungkan pantat saya lagi, yang pasti sudah penyet diduduki terus.
Sekaligus memasak air membuat kopi untuk berdua. Kebetulan peralatan memasak dan kompor gas yang simpel untuk kebutuhan kemping ada di mobil bersama kami.

Malamnya kami singgah di St. Malo, kota pelabuhan dan juga daerah turist, sekitar 30km dari Baguer Pican, untuk mencari pengisi perut dan berjalan sebentar menyusuri dinding yang membentengi kota itu.


Pilihan kami jatuh pada restaurant yang khusus hanya menyediakan mosselen (mussel). Semuanya lagi ngidam mossel!!
Saya yang kesenangan, maklum saja penggemar berat mossel Hysterical


Balik ke tempat perkemahan, begitu tiba, begitu mobil diparkirkan, Reinier langsung loncat buru-buru ke tenda kami.
Astaga, ternyata ada bagian atas penutup tenda kami yang terlepas ikatannya, dan sudah pasti... bocor saat hujan tadi siang!!! Alamak.. basah deh sleeping bag dan bantal-bantal kami. Untung hanya satu yang basah.
Tapi biar kata cuma satu sleeping bag yang basah, biar kata sudah rapet-rapetan tidurnya, tetap saja dua-duanya kedinginan semalaman. Mana di luar hujan badai lagi, belum lagi matrasnya ikutan bocor. Ah... lengkap sudah penderitaanku.
Weleh.. ini sih bukan liburan, ini kamp penyiksaan boo!! Doofus
Jadi kesel sendiri, siapa sih yang mbantu ngikatin tali bagian atas tenda kami kemarin?
Biasa, paling mudah saat kesel dan paling menghibur adalah mencari kesalahan orang lain, kan? ;)

Keesokan harinya dalam perjalanan kembali ke Eindhoven, kami sempat singgah sejenak di Étretat, sebuah kota di pesisir Normandy yang memiliki gerbang dinding karang putih dan bangunan-bangunan yang tua dan menarik, untuk ngopi dan kemudian memilih sejenak mengemudi menyusuri jalan-jalan pinggiran kota, daripada sekedar hanya di jalan tol, sampai akhirnya kami saling mengucapkan selamat tinggal dan sampai ketemu lagi, karena kebetulan kami hendak singgah berbelanja di sebuah supermarket di sana, maklum saja jenis makanan di sana jauh lebih bervariasi dari di Belanda sini.

Tiba di rumah sudah pukul 10 malam.
Cuapeekk booo!!!
Ada enaknya, tapi ada tidak enaknya juga perjalanan seperti ini.

Ah... tidak mau lagi liburan jauh-jauh dari rumah jika waktu yang dimiliki hanya long weekend.
Tidak mau lagi ikut-ikutan kemping jika cuaca tidak menjanjikan.
Tidak mau lagi merasa tidak enakkan untuk membatalkan janji jika cuaca memang tidak mendukung. Memaksakan diri dalam kondisi seperti ini hanyalah merupakan penyiksaan diri.
Tidak mau lagi ikut-ikutan liburan yang isinya serba kejar-mengejar dan hanya mengempeskan pantat di mobil saja.