Thursday, May 25, 2006

Data "ERROR"

Tolong...
Bahasa saya kacau-balau..

Hal ini terjadi sejak saya mulai belajar bahasa Belanda secara intensif dan mulai menggunakannya sebagai bagian dari komunikasi sehari-hari. Bahasa Inggris saya menjadi kacau balau!!

Setiap kali saya berbicara dalam bahasa Inggris, kata-kata yang saya pergunakan menjadi campur aduk dengan kata-kata dalam bahasa Belanda. Bahkan sering secara spontan saya menjawab sebuah pertanyaan dalam bahasa Belanda. Sementara bahasa Belanda saya sendiri.. alamaak... masih seupil, belum ada apa-apanya.
Kondisi ini sering membuat saya marah, kesal dan juga frustrasi. Tapi kadang-kadang juga lucu dan menjadi bahan tertawaan bagi kami berdua.

Misalnya saja yang sering terjadi dalam liburan kami.
Hal-hal yang simpel tapi bisa meyebalkan.
Setiap kali saya menyerahkan sesuatu, entah itu pasport pada petugas atau saat membayar, saya harus menggigit lidah saya untuk tidak mengatakan "alstublieft" melainkan "here you are", atau tidak mengucapkan "bedankt" saat berterima kasih, melainkan "thank you".

Pernah tanpa sadar saya menjawab pertanyaan diveguide saya dengan "ja, zeker", padahal maksud saya "ya, sure".
Pernah juga saya berkomentar di akhir sebuah penyelaman kami, "I've never seen that fish zo groot als dat before!!!" Yang langsung disambut dengan senyum Reinier. "Hmm.. Since, zo groot als dat?" Upss... Blushy

Yang paling parah adalah saat liburan kemarin di Inggris. Bahasa Inggris saya menjadi semakin kacau. Beberapa kasus yang terjadi, misalnya,

Di salah satu Bed and Breakfast,
Mrs. A : "Where do you come from?"
Since (lepas tanpa sadar) : "Wij komen uit Nederland." Fly Swat Ups... s**t "We come from the Netherlands". Segera diralat dengan senyum.

Di sebuah restaurant fish and chips snackbar,
Since : "Do you have something pittig for me?"
Pelayan : ???!!! Hmm
Since : ??? (hmm??... kenapa tampang orang ini jadi bingung begitu ya? Not Sure)
Reinier, yang sudah tidak asing dengan kekacauan bahasa yang saya alami ini sudah senyam-senyum saja di samping saya.
Since : (Upss... uggghh... kok pittig sih? Pedis... pedis.. ahhh.. apa sih Inggrisnya pedis.. uughh.. lupa.. lupa.. *mode panic on*).
"Hoi, Reinier... pittig Inggrisnya apa sih?"
Reinier : (Masih terkekeh) "Ah.. bedoel je, spicy?" Lol (Maksudmu, spicy?)
Since : (Sambil tersenyum manis meralat..) "Do you have something spicy for me?"

Kata-kata yang sering juga keluar dari mulut saya tanpa saya sadari misalnya :
Saya hendak bertanya "Do you have..?" malah menjadi "Heeft u...?"
Atau, saat mengatakan "I want..." yang keluar malah "Ik wil..."
Atau "No" menjadi "Nee"...
Ahh....

Sepertinya ada data yang corrupt dalam memory otak saya. Prosesor angkatan tahun '70 ini ternyata lelet juga mengolah semua data yang baru di-download.
Sungguh, saya berharap, saya bisa segera keluar dari fase kekacauan bahasa ini!

Friday, May 19, 2006

Sepeda dan angin.

Sepeda dan angin? Apa hubungannya?
Saya suka bersepeda. Sementara angin dengan Belanda merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan.

Bersepeda di tengah angin yang sepoi-sepoi adalah sebuah kenikmatan. Dengan angin yang sedikit lebih kencang adalah sebuah tantangan buat saya, dan kadang saya bisa menikmati sensasinya. Bersepeda menentang angin, atau harus menjaga keseimbangan sepeda karena angin yang datang dari samping. Kadang menyebalkan juga karena saya merasa seolah-olah saya hanya bersepeda di tempat, atau pada saat berhenti karena lampu merah dan mulai mengayuhkan sepeda, waaah beraaat!!!
Walaupun ngos-ngosan juga mengayuh sepeda, anggap saja bagian dari proses pelangsingan tubuh.

Tapi jika seperti hari ini yang kondisi anginnya sekitar 6 skala Beaufort, kira-kira sekitar 35 kph, yang kebanyakan bertiup menentang saya atau mendorong saya dari samping, sungguh bukan sebuah pengalaman yang menyenangkan. Bukan lagi sekedar membakar kalori, tapi benar-benar membuat saya terkapar begitu tiba di rumah Sickened Buuuhhh... sungguh proses "killing me softly with this wind"...

Ah, jika saja anginnya sedikit lebih kencang lagi, saya pasti sudah melayang dengan sepeda saya di udara!! Wuuuuaaaaahhhh.....

Saturday, May 13, 2006

Bongkar isi tas

Kali ini menjawab todongan dari Mutiara untuk membongkar isi tas. Saya menyukai model tas yang simpel dan praktis. Sedangkan ukurannya disesuaikan dengan aktifitas yang sedang saya lakukan. Untuk kegiatan sehari-hari, saya menyukai tas yang tidak terlalu besar, tapi juga tidak terlalu kecil. Pokoknya cukup untuk memuat semua perabot saya.


1. Tas ini yang paling sering saya bawa ke mana-mana. Talinya yang panjang memudahkan saya menyilangkan pada tubuh saya, bahannya juga ringan dan ukurannya yang "menipu mata" alias kompak tapi berdaya muat yang selalu mengejutkan Reinier Hysterical

Isinya sendiri tergantung ke mana tujuan saya dan apa kegiatan saya saat itu. Yang kebetulan sekarang sedang menghuni tas saya adalah:
2. Kotak kacamata, karena saya paling malas mengenakan kacamata. Kacamata hanya saya kenakan saat diperlukan saja.

3. Dompet dengan segala isinya.

4. Agenda mungil yang memuat jadwal kegiatan saya sebagai pengacara, alias pengangguran banyak acara!! Smiles

5. Tissue basah, barang penting untuk saat-saat khusus. Yang mengesalkan adalah kemasannya yang cukup memenuhi ruang dalam tas. Sulit sekali mencari tissue basah dengan kemasan kompak di sini, yang selalu saya temui hanya dalam kemasan 40 lembar. Kalaupun ketemu yang kompak, harganya tidak jauh berbeda dengan kemasan 40 lembar.

6. Karet pengikat rambut, jalan keluar jitu di saat rambut saya mulai menggoda dan menjengkelkan.

7. Kertas penyerap minyak, berguna untuk menyegarkan wajah dalam sekejap.

8. Rangkaian kunci. Wah, tanpa rombongan satu ini saya bisa tidak masuk rumah kalau Reinier juga sedang tidak berada di rumah.

9. Tusuk gigi. Paling menyebalkan jika masih ada yang tersisa saat selesai makan.

10. Lipgloss yang agak berwarna, biar kelihatan fresh.

11. Fisherman Friend, refreshment.

12. Tissue, selalu saja ada gunanya.

13. Pena.

14. Lotion. Udara Belanda membuat kulit saya cenderung kering dan selalu gatal kalau mulai kering.

15. Handphone. Sejak tinggal di sini benda ini yang hanya penting di saat darurat.

16. Cermin mungil, kadang-kadang saya bingung kenapa benda ini terus ada di dalam tas. Benda yang paling jarang digunakan.

Dat is alles.

Ira, Marlina, Digits, Irvana, Ayu, hayo lanjutin nih bongkar-bongkar isi tas masing-masing.

Tuesday, May 09, 2006

Berkunjung ke negeri lima sekawan.

Phew Pffeeuuuhhh... liburan yang menyenangkan, tapi juga melelahkan. Bagaimana tidak? Liburan kemarin memang agak lain dari biasanya. Kegiatan liburan kemarin sengaja saya fokuskan pada hobi Reinier, motor-riding, yang tidak pernah dia lakukan lagi sejak kami menikah. Dulu, sebelum menikah, dia sering melakukan trip-trip panjang dengan teman-temannya, ke Scotland atau ke Switzerland. Saya tahu, diam-diam dia pasti menyimpan kerinduan untuk mengembara dengan motor lagi. Makanya, liburan kali ini special buat dia, setidaknya itu adalah harapan saya.

Awalnya, saat saya mengusulkan untuk melakukan motor trip ke Inggris beberapa bulan yang lalu, dia sungguh meragukan kemampuan saya bertahan dalam menjelajah jarak di atas motor selama seminggu. Dia tidak ingin saya menyusahkan diri saya sendiri hanya untuk menyenangkan dia. Hohoho.. itu bukan aku, sayang. Kamu kenal aku, kan? Sampai gemas rasanya setiap kali harus meyakinkannya.

Rute perjalanan dan tempat tujuan.

Akhirnya, berangkat juga kami ke negeri Lima Sekawan itu. Sabtu pagi kami berangkat dari Eindhoven menuju Calais di Perancis (±300 km). Dari sana kami menyeberang dengan ferry selama ±1,5 jam menuju Dover di Inggris.
Setibanya di Dover, kami terus melanjutkan perjalanan kami menyusuri pantai selatan ke arah barat dan bermalam di sebuah kota kecil, Dymchurch.


Padang Brassica napus dan pantai di Lepe

Rute trip ini terkombinasi antara rute di daerah perbukitan dan juga rute sepanjang pantai selatan Inggris. Kadang kami melewati hutan, lahan pertanian dan padang rumput yang dipenuhi dengan biri-biri, kerbau, sapi dan kuda. Tidak ketinggalan juga ladang Brassica napus (Koolzaad, bunga yang menghasilkan minyak) yang berwarna kuning menyegarkan. Ada saatnya kami bermotor menyusuri kota-kota tepi pantai dan boulevard Worthing-Brighton, dan juga menyinggahi kota yang lebih besar, seperti Winchester.

Kami mengendarai motor (maksud saya, Reinier yang mengendarai motor dan saya hanya duduk manis di belakangnya Smiles ) melewati desa demi desa, menyusuri jalan-jalan kecil yang kadang landai, terjal dan berliku. Jalan tol hanya dipilih jika alasannya cukup kuat. Pernah, saking kampungnya itu jalan, kami harus berhenti untuk rombongan ayam yang menyeberang. (Ck..ck..ck.. ayam dengan pengendara kendaraan, ternyata ayam yang mendapat voorrang, prioritas!!!). Jadi geli sendiri, terbayang di kepala saya, waahh.. kalau di tanah air sudah jadi ayam penyet tuh!! Hysterical


Rye, kota tua yang menarik dan puing Corfe Castle.

Tidak hanya melulu duduk di atas sadel motor, kami juga mengunjungi Stonehenge, cuci mata di toko-toko fosil di Lyme Regis, dan berkeliling di kota tua yang menarik, yang pernah didiami oleh penulis-penulis Inggris, Rye. Saya suka berkeliling di toko barang antik di Rye. Bukan, saya bukan pemburu atau pengoleksi barang antik. Hanya saja, berada dalam toko-toko ini seperti berada kembali di jaman dulu. Koleksi mereka banyak sekali, mirip sebuah museum.
Berkeliling di desa model Corfe Castle, berjalan di sepanjang tebing Durdle Door, menyusuri pantai Dymchurch saat sunset.


Gereja di Petworth dan Stonehenge.

Hari terakhir sebelum menyeberang balik ke Calais, Perancis, kami sempat mengunjungi Canterbury. Awalnya ingin mengunjungi Katedral di sana. Tiket untuk masuk ke kompleks Katedral itu 6£ per orang, kira-kira 9€ per orang, 18€ berdua. Wah.. sayang duitnya. Kalau waktunya cukup untuk mengeksplorasi seluruh sudut Katedral sih tak mengapa, hanya saja kami tidak memiliki waktu yang banyak. Boro-boro melihat isi Katedral, mungkin baru setengah berkeliling halamannya kami sudah harus kembali menuju ke pelabuhan di Dover.

Sebenarnya, saya masih ingin mengunjungi beberapa kastil, bangunan dan gereja tua. Tapi kegiatan itu akan menghabiskan banyak waktu, sementara saya ingin waktu yang ada dalam liburan itu lebih terpakai untuk hobinya Reinier. Ya sudahlah, lain kali, kalau masih berjodoh.

Setiap harinya kami menempuh sekitar 150-200km, kecuali hari pergi dan hari pulang yang masing-masing sekitar 350km. Total jarak tempuh selama perjalanan ini sekitar 1750km. Buhhh... sama sekali tidak terasa!!!

Bed and Breakfast.

Karena kami memiliki rencana yang fleksibel dan sama sekali tidak mengikat diri dengan jadwal yang ketat, melainkan hanya menikmati waktu yang kami miliki dengan bebas, kami sama sekali tidak membuat bookingan hotel di manapun. Di mana kami tiba dan ingin beristirahat, di sanalah kami mencari tempat untuk menginap. Bed and Breakfast (semacam guest house) adalah incaran yang ideal. Lebih murah jika dibandingkan dengan harga kamar di hotel, dengan fasilitas yang sekomplit kamar hotel. Bahkan beberapa kamar juga dilengkapi dengan bathtub, yang tidak pernah kami gunakan. Boro-boro, begitu mencium bau bantal langsung tanpa basa-basi gedubraak.. meluncur ke dunia mimpi.

Bed and Breakfast (B&B) terdapat hampir di semua kota yang kami singgahi. Kadang kami dengan mudah menemukan B&B saat memutuskan sudah waktunya untuk beristirahat. Tapi ada kalanya juga kami harus mencari-cari lebih dulu. Yang pasti kami sama sekali tidak memiliki keluhan terhadap semua B&B yang pernah kami tempati.

Ada yang sebuah kejutan kecil bagi saya. Ternyata di Inggris, kamar mandi dan toiletnya juga berkarpet!!! ShockedSetidaknya 3 dari 6 B&B yang kami tempati melengkapi kamar mandi dan toiletnya dengan karpet tebal selayaknya karpet di kamar tidur.

Makanan dan cuaca.

English breakfast, sudah tentu tidak ketinggalan. Sarapan pagi yang sungguh berat. Dua telur ceplok setengah matang atau orak-arik, sosis, bacon, tomat, irisan jamur, kacang dengan saus tomat dan beberapa potong toast. Buh.. dengan sarapan seperti ini kami sering membiarkan waktu makan siang berlalu begitu saja hingga saatnya untuk coffee time.
Coffee time bagi kami artinya piknik, berhenti sebentar di tempat yang berpemandangan indah dan tenang, keluarkan perabotan masak-memasak (kompor gas kecil dengan panci mungilnya), seduh kopi, dan... hmmm....

Fish and chips? Sekali saya mencobanya. Tidak, saya tidak menyukai fish and chips di Inggris. Rasanya yang tidak "menggigit", di samping itu, Junk food yang hanya memelarkan tubuh.
Yang menarik perhatian saya adalah Chinese food bisa kami temui hampir di setiap kota kecil. Semuanya dalam bentuk take away service, bukan restoran. Ada bagusnya juga, tidak perlu menginvestasikan kursi dan meja, dan tidak membutuhkan tempat yang luas dan tidak perlu banyak tenaga kerja.
Kami sempat membeli makanan ini di sana dan menikmatinya di pantai, dinner on the beach judulnya. Duduk di atas kerikil pantai, mendengar gemerisik ombak, diterangi cahaya sunset dan merasakan semilir angin yang mulai dingin. Asyik dan jauh lebih murah ketimbang makan di restoran.

Dari ramalan cuaca di televisi, kami menyiapkan diri untuk menghadapi hari-hari basah. Pada kenyataannya, sama sekali tidak buruk. Mendung dan sinar matahari silih berganti menghiasi hari-hari kami. Hanya sehari kami sempat disiram gerimis tipis selama hanya beberapa menit. Hujan hanya pada malam hari saat kami sudah terlelap. Hari pertama dalam perjalanan ke Calais, saya hampir beku di atas motor, namun malah pada beberapa hari terakhir saya tidak mengenakan sweater dibalik jaket motor saya karena kepanasan.


Durdle Door dan tebing Beachy Head.

Ah.. puji Tuhan, perjalanan liburan ini berlangsung aman dan nyaman. Well.. kadang timbul juga masalah kecil, namun semuanya bisa diatasi. Bukan adventure jika tanpa masalah, kan?
Sebuah pengalaman baru bagi saya. Menyenangkan!

Masih ada satu masalah... selalu menjadi masalah di ujung liburan, bersih-bersih dan tumpukan PR!! Buuuhh.. Sickened Hysterical

Foto-foto yang lain bisa di klik di sini.