Setelah sarapan dengan menu standard, roti bulat yang juga standard, madu, selei dan butter, teh atau kopi dan secangkir jus jeruk, kami langsung check out dari hotel dan menuju kasbah Aït Benhaddou.
Aït Benhaddou adalah sebuah kota tua, yang pada jaman duluuuu merupakan kota yang persinggahan bagi para kafilah dalam perjalanan Sahara - Marrakech. Para penduduk medina Aït Benhaddou, yang perlahan-lahan rusak akibat badai hujan, pindah ke kota baru yang lebih modern di seberang sungai (tempat di mana kami menginap semalam sebelumnya). Sementara kasbah yang tersisa dilestarikan sebagai bagian dari warisan dunia dibawah perlindungan UNESCO. Hanya ada kira-kira 10 keluarga yang masih mendiami kasbah ini.
Selain sejarahnya, yang membuat kasbah ini menjadi sangat terkenal adalah karena menjadi lokasi shooting beberapa film terkenal. Siapa yang belum mendengar Gladiator atau the Mummy atau Alexander? Tempat ini sudah menjadi lokasi shooting film sejak tahun 1962, Lawrence of Arabia .
Belum juga menyeberangi sungai yang tinggi airnya hanya 2cm, kami sudah langsung didekati oleh seseorang yang dari bahasa tubuhnya, bisa diterjemahkan sebagai: suka atau tidak pokoknya aku mau jadi guide kalian.
Tadinya kami tidak berencana untuk mengambil guide, dan tentunya bisa saja kami mengacuhkan orang itu. Tapi, hitung-hitung sebagai turis yang baik, kami seharusnya juga ikut mendukung keterlibatan penduduk setempat, walaupun mungkin tidak profesional. Bagaimana seseorang bisa menjadi profesional kalau tidak diberi kesempatan, kan?
Maka kami biarkan saja orang itu menjadi guide kami, yang kemudian dengan bangga menunjukkan sudut-sudut dan lapangan yang pernah menjadi lokasi shooting film, dan membawa kami berkeliling kasbah, melewati mesjid tua, masuk ke bagian-bagian ruangan rumah jaman dulu, mulai dari dapur sampai bagian rumah tertinggi. Memanjat atap-atap rumah orang seperti orang kurang kerjaan, dan yang benar-benar memang kegiatan orang kurang kerjaan, singgah di kandang domba!!!! Alamak, komplit sudah!!!
Klik slideshow di atas untuk melihat foto-foto dari Aït Benhaddou.
Oh ya, di Aït Benhaddou, tanpa pakai bubur merah putih hijau kuning biru, secara sebelah pihak, orang-orang langsung mengganti nama saya. Entah apa sebabnya, tiba-tiba nama saya berubah menjadi Fatimah di sana. Bukan ibu, bukan madam, bukan Since, tapi Fatimah!!
Terik matahari benar-benar bikin perih kulit, bikin pening dan mengeringkan tenggorokan. Ah, sudah sekitar 2 jam kami habiskan waktu berkeliling kasbah itu. Menarik sekali. Bukan karena tempat itu sering menjadi lokasi shooting film tapi warna kehidupan yang mengalir di sana, seolah kami dibawa dengan mesin waktu ke jaman yang lain.
Karena angka jarum jam belum menunjukkan jam 12 siang, kami memutuskan untuk makan siang di kota berikutnya, Ouarzazate.
Ouarzazate, yang terkenal juga sebagai Hollywoodnya Maroko, tentu saja juga memiliki studio film yang termasuk kategori studio raksasa, Atlas studio.
Tapi karena kami berdua sama-sama tidak berminat untuk berkunjung ke studio itu, kami hanya melewatinya saja.
Ouarzazate terlihat sangat modern, berbeda dengan kota-kota yang sempat kami lewati sepanjang perjalanan. Bahkan saat duduk makan siang di teras sebuah restaurant kecil di sana, atmosfirnya malah lebih terasa seperti di Kuta square, Bali.Ah ya, di sana makan siang terlezat yang pernah saya makan selama di Maroko!! Tajin kefta, daging cincang (biasanya dibikin bola-bola) yang diberi bumbu, diletakkan telur ditengahnya dan dimasak di dalam tajin, yang terlezat. Sayangnya saya tidak ingat nama restaurantnya.
Selesai makan, kami memutuskan untuk ke atm sebentar untuk mengisi dompet yang sudah tipis-pis.Atm pertama, ternyata siesta juga masuk dalam programnya. Aihh...
Waktu kerja di Maroko juga sama seperti Spanyol, siesta berlaku.
Lihat sekeliling, ah.. masih ada bank yang buka, coba saja atm di sana, mungkin atm-nya juga masih aktif. Maka terburu-burulah kami ke sana, mengejar waktu jangan sampai banknya ditutup untuk siesta. Eehhh... di tengah acara buru-buru kami, di depan sebuah toko souvenir, tiba-tiba bangkit pemiliknya sambil menyambut kami dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Aduh, jangan coba-coba jabat tangannya karena pasti jadi lama ceritanya. Ya namanya juga orang buru-buru, kami senyum saja sambil menegur, hai!!
Tapi saudara-saudara, si pemilik toko itu jadi marah-marah, kenapa kalian tidak mau menyambut gengaman tanganku? Apa masalah kalian dengan aku? Apakah kalian tidak menyukai orang lokal? Sombong sekali kalian. Bla.. bla.. bla..
Walaaaahhh... apa-apaan lagi nih??? Segera saja saya jawab, sorry.. we have no problem with you, but we are really in hurry now. Bye. Sambil langsung jalan tapi kemudian sambil terkikik-kikik, bagaimana tidak, di belakang saya dengar omelannya, you, hurry.. hurry... ferrary..
Setelah beberapa km keluar dari kota Ouarzazate, kami disajikan dengan pemandangan yang bikin takjub. Sepanjang beberapa kilometer, sepanjang jalan dipenuhi dengan sampah plastik!!! Seolah-olah semua sampah plastik dari Ouarzazate dan Marrakech dibuang di sini!!!
Padahal, di kota-kota yang kami singgahi selama liburan kemarin bisa dibilang bersih banget. Sampah tidak berceceran sembarangan. Tapi di sini, di sepanjang jalan ini...??? Bahkan sempat dari jauh saya melihat serombongan hitam di langit yang saya kira segerombolan burung yang sedang terbang, tapi tidak... ternyata sampah plastik yang diterbangkan angin yang sedang berputar-putar di angkasa!!
Sedang asyik menikmati pemandangan kiri dan kanan, tiba-tiba di sebuah jalan yang sepi, dari tepi sebuah mobil yang terbuka kap depannya, meloncat seorang pemuda ke tengah jalan sambil melambai-lambai. Nah lo, apaan nih. Kalau 'gak berhenti pasti ini pemuda kami lindas, kalau berhenti.. mudah-mudahan bukan jebakan di jalan.
Berhati-hati membuka sedikit bagian jendela supaya bisa mendengar apa maunya si pemuda itu. Assalamualaikum' sapa pemuda itu. Ya reflex saja saya menjawab, Wa Alaikum Salaam. Nah, binar bingung langsung terlihat di mata pemuda itu begitu melihat saya. Hihihi... iya lah... ada perempuan dalam wujud oriental, dan menjawab dalam bahasa Arab. Mungkin termasuk species yang jarang, ya?
Tapi untunglah percakapan selanjutnya dalam bahasa Perancis dengan Yayank. Hahaha... kata-kata yang saya kenal dalam bahasa Arab hanya sebanyak jumlah jari-jari tangan saya.
Ternyata mobil pemuda itu rusak dan dia berharap bisa menumpang sampai pada kota selanjutnya yang kira-kira 15km di depan. Hmmm... sempat bimbang. Tidak ditolong, kasihan, ditolong, mudah2an bukan orang yang bermaksud jahat. Setelah diskusi singkat dan padat berdua, ambil resiko, dan sepanjang 15km itu kami menjadi "alert".
Begitu tiba di kota tujuan, kami diajak untuk singgah di rumahnya untuk minum teh mint sebagai ucapan terima kasih. Tentu saja reaksi kami juga positif. Wah.. beramah tamah langsung di rumah penduduk setempat.
Tetapi ternyata, bukan rumah tempat tinggal, tapi sebuah toko yang berukuran sangat besar yang penuh dengan hasil kerajinan tangan. Koperasi, katanya.
Kami dijamu teh mint oleh sepupu pemuda yang menumpang mobil, kali ini teh mintnya enak lho, tanpa ada rasa asin.
Kemudian kami diajak berkeliling toko tersebut. "Kami adalah koperasi, harga kami adalah harga "basic". Jika ada yang kalian inginkan, saya akan memberikan harga special".
Tapi, "harga special" yang diberikan sungguh membuat mata saya melotot. "Haaa??? 'gak salah tuh harga yang dia kasih?" tanya saya pada Yayank.Katakan, apakah saya salah, jika saya berpikir bahwa "harga special" itu merupakan ungkapan terima kasih, harga yang setidaknya tidak perlu kami tawar lagi? Kami toh tidak minta gratis.
Ternyata, harga special menurut orang itu artinya tawarlah sebisa kalian mampu!!!
Apanya yang special?
Setelah harga yang disepakati diperoleh, barang-barang dibungkus, dan kami kembali melanjutkan perjalanan, saya berkata pada Yayank bahwa saya merasa terjebak. Bahwa walaupun kami menawar dan sepakat dengan harga yang dibayar tapi saya merasa kami membayar terlalu banyak. Dia juga merasakan hal yang sama, tapi di sisi lain, katanya, tidak ada yang memaksa, kami yang memutuskan untuk membeli, untuk menawar, untuk membayar, jadi, sebaiknya jangan memutuskan untuk merasa terjebak. Toh kami sudah memiliki barang-barang yang menurut kami indah. Benar juga kata doi. Semoga saja itu bukan taktik mereka mencari pelanggan tokonya di tengah-tengah persaingan toko-toko souvenir.
Kami terus melaju ke selatan, melewati bukit-bukit yang hanya batu melulu. Berhenti sebentar untuk menengok lembah diantara bukit, indah tapi menakutkan.Yang bikin super takjub adalah pahatan berbentuk hati raksasa di badan bukit oleh tangan alam!!!! Wow!!!!

Lewat gunung-gunung batu ini kami menyusuri sungai Draa, sungai terpanjang di Maroko (1100km), di lembah Draa yang indah dan hijau. Tentu saja sepanjang sungai ini daratannya lebih hijau dibandingkan dengan sekelilingnya yang semakin panas dan kering. Di sepanjang lembah ini juga kami melihat banyak pohon-pohon korma yang bertebaran.
Indah sekali ukiran alam ini. Ada yang mau mengabadikan pahatan wajahnya di sana? Sepanjang perjalanan selepas dari high Atlas, kami tidak melihat para pedagang batu mineral. Tapi jangan salah, tidak berarti kemudian perjalanan ini bebas pedagang, karena pedagang batu mineral diganti oleh pedagang buah korma.
Judul dagangannya saja yang berbeda.
Sepanjang perjalanan ini pula, saya selalu mendapat kesan bahwa kota-kota yang kami lewati adalah kota yang hanya setengah selesai.Ada banyak bangunan yang hanya setengah selesai, hanya lantai satu yang selesai dan lantai dua hanya sebagian, kadang bangunannya hanya dicat sebagian, dan sering bangunan utuh tapi dengan batang-batang besi tiang cor utama rumah masih berdiri telanjang.
Hari makin mendekati senja, rasa capek pun mulai menjalar pelan ke setiap cm tubuh ini. Saatnya mencari tempat untuk menginap.Hotel pertama yang kami putuskan untuk dikunjungi berdasarkan info dari Lonely Planet sebenarnya merupakan tempat yang sangat menarik dan unik. Hotel di tengah-tengah kasbah tua.
Tapi tempat parkirnya tidak menjanjikan rasa aman, ditambah lagi sejumlah anak-anak yang sedang bermain sepak bola. Hmmm....
Begitu masuk ke kompleks hotel setelah berjalan beberapa menit menyusuri lorong kasbah, yang kami lihat kolam renangnya kosong, tidak ada air setetes pun. Alasannya kolam renangnya sedang direnovasi. Padahal kolam renang itu juga merupakan salah satu alasan kami ke sana.
Begitu lihat tenda yang berfungsi sebagai ruang makan dan tempat leye-leye... hmmm tua, lapuk dan berdebu. Lewat pandangan kami mengerti apa yang ada dalam otak kami masing-masing. Tapi penasaran seperti apa hotel di ini kami lanjut saja "tour" singkat itu.
Dan ketika masuk ke kamar tidurnya, ugh... bau apek langsung menyerang. Kondisi kamar tidur sebenarnya tidak jelek, bahkan bisa dibilang etnik banget, tapi begitu melangkah ke kamar mandi, astaga... itu wastafel penuh air, mampet, tapi pipa bagian bawahnya bocor, membawa air menggenangi seluruh kamar mandi, sementara keran di wastafel terus menetes.. tes.. tes.. tes...
Dan, kondisi kamar yang kedua pun sama parahnya!!! Uihhh...
Dan, yang bikin kami sama sekali tidak mengerti adalah pandangan pemilik hotel yang bengong saat kami mengatakan, tidak, kami mencari hotel lain saja.
Ampun deh, pede bener sih menjual kamar dengan kondisi kayak gitu???

Apakah penulis di Lonely Planet mengetahui perkembangan terakhir hotel tersebut?
Akhirnya kami putuskan untuk langsung ke Zagora, kota terbesar di selatan sebelum ke padang pasir untuk menginap di sana. Sebuah hotel standard yang cukup besar dengan fasilitas yang juga cukup lengkap, di tepi jalan utama di sana. Hotel de la Palmeraie menjadi pilihan kami. Kondisi kamarnya mungkin mirip hotel bintang 2 di Indonesia. Ber-ac, tapi tanpa tv (tidak penting). Yang bikin saya ngakak adalah kamar hotel yang rada berpasir. Tidak nyaman kalau berjalan tanpa alas kaki, tapi mungkin demikian tipe hotel di tengah-tengah dataran berpasir.
Paket nginap juga lengkap dengan paket makan malam di restaurantnya. Menunya juga bebas. Lengkap dari pembuka, menu utama dan penutup.
Segar rasanya selesai mandi dengan air yang tidak pakai payau
Kami berdua langsung turun ke restauran dekat kolam renang dan... tararam... bier dingin yang pertama yang kami temui selama perjalanan kami di Maroko!!! Pfeeeuuuuhhh... segar rasanya di tengah-tengah dataran panas itu.
Resep sederhana yang saya pelajari langsung dari makanan penutup yang tersaji, jeruk dikupas bersih, diiris melintang dan taburi bubuk kayu manis, segar, lezat, ringan dan bervitamin.Selesai makan malam, ngopi, sikat gigi dan... bufff... tanpa pakai acara mimpi langsung black-out sampai esok pagi.
Bersambung..
Keluar dari Marrakech, suasana jalan lebih tenang dan lapang. Kami disuguhi dengan pemandangan pohon-pohon olive yang berbaris rapi disusul dengan pemandangan-pemandangan yang terasa gersang dan panas, sampai pemandangan yang penuh warna. Hijau warna daun, dipadu dengan tanah dan bebatuan yang berwarna merah bata atau kekuningan dan langit yang biru bersih. Indah. Walaupun begitu tetap saja keadaan yang "gersang" mendominasi alam di sana.
Karena jalur yang kami tempuh merupakan jalur turistik, bisa diduga, toko-toko souvenir ada dan tergeletak di mana-mana. Dari tempat yang "wajar" sampai pada tempat yang menurut kami somewhere in nowhere!!! Dari yang wajar sebuah toko (foto di atas), sampai yang super simpel (foto di bawah).
Sebagian besar yang ditawarkan oleh toko-toko souvenir ini selain hasil kerajinan tangan yang berupa tembikar dan karpet, adalah fosil dan batuan mineral.
Ini dia mobil sewaan kami. Simpel tapi tangguh. Tadinya pengen ambil 4WD, biar bisa ambil jalur off road. Tapi mahaaal boow biaya sewanya.
Perut perlahan-lahan mulai menggeliat. Saatnya untuk mencari restaurant. Tidak terlalu sulit untuk mencari restaurant "lokal" sepanjang perjalanan kami. Sebuah restaurant "lokal" selalu ditandai dengan sederetan tajin di depannya.
Nah, ini baru namanya makan!! Tajin sayurannya nikmat dan bumbunya terasa sekali. Brochettes dan ayam bakar juga terasa bahan rendamannya, bukan sekedar daging yang langsung dibakar tanpa bumbu apa-apa. Jauh beda dengan rasa makanan yang kami temui di Djemaa el-Fna.
Perut kenyang, lanjut lagi perjalanan melewati jalan yang berkelok-kelok mengintari satu bukit ke bukit lain menyeberang high Atlas. Jalan yang sungguh memukau, melewati Tizi n'Tichka (Pass Tichka) di ketinggian 2260m.
Jalan pegunungan yang berkelok-kelok tentunya juga merupakan surga untuk pengendara motor. Sering kami temui pengendara motor dengan papan nomer dari Perancis. Perjalanan yang cukup jauh, bermotor ke Maroko selatan dari Perancis.
High Atlas sudah berada di belakang, kami sudah memasuki daerah anti Atlas.
Nah ini dia, pengalaman minum teh mint yang pertama kali ini bikin saya super mual. Bau mint yang tajam membuat saya seolah meneguk odol gigi dan rasa teh yang manis, sepat dan rada pahit karena getah daun mint, dan ada rasa asin di belakangnya. Rasa asin ini yang membuat saya mual. Ugh. Dua teguk, cukup sudah.
Tanpa terasa sudah pukul 5 sore, saatnya mencari hotel untuk beristirahat. Sesuai rencana yang kami buat, di penghujung hari kami berada di dekat kota Quarzazate, Hollywood-nya Maroko. Tapi kami memilih untuk menginap di kota kecil di dekat sana, Aït Benhaddou, supaya keesokan harinya kami bisa langsung mengunjungi kasbah yang ada di sana.
Begitu keluar dari bagian "tua" bangunan di airport dam masuk ke bagian depannya yang baru selesai dibangun... gilaaaa... takjub!!!!! Kereeeennnnyaaa....!!!! Guede banget hall-nya. Wah.. 'gak habis berdecak kami.
Menangkap ekspressi ragu-ragu kami, menyapalah seorang pemuda, jika kami butuh bantuannya untuk menunjukkan arah. Seorang teman kerja dari Marokko pernah mengingatkan saya untuk tidak mengambil guide jalanan. Tapi pemuda itu terlihat necis dan sopan dan lagi hari yang semakin gelap dan badan yang semakin capek, kami mengiyakan dan memberikan nama dan alamat riad yang dituju. Untung banget, seandainya jika kami harus mencari sendiri, walah bakalan kesasar abis. Lihat saja map di samping itu.
Tertarik dengan warna-warna buah kering yang dipamerkan, kami menghampiri sebuah tenda yang ada dan membeli sedikit kacang gula dan buah figue kering. Saya tidak tahu namanya dalam bahasa Indonesia. Saat hendak membayar, Yayank menyenggol lengan saya dan memberi kode ke arah tumpukan korma, astaga... ada kecoak yang merayap di sana. Uiiihh... Ya namanya juga jualan di pasar begitu, mana ada jaminan 100% bebas serangga kan?
Beberapa tenda makanan yang kami coba di sana selama liburan kemarin, hasilnya benar-benar mengecewakan. Tidak ada yang membuat kami berdecak seperti ketika kami di pecinan Kuala Lumpur atau yang simpel seperti warung bakso dan nasi bebek di tanah air.
Tenda penjual ikan goreng adalah salah satu tenda yang dipenuhi pengunjung lokal yang kami singgahi. Rasanya..ya... seperti ikan goreng..
Kami juga isenk mencicipi teh rempah yang banyak di jual di tenda-tenda di sana. Gilaa... keras dan tajam banget rempah dalam teh itu. Langsung terasa membakar dalam lambung ini. Uhhh... langsung perih, 'gak tahan panasnya. Entah ada berapa macam rempah dalam itu teh. Pokoknya ada gingseng, jahe, kayu manis dan lain-lain. Setidaknya ketiga rempah itu yang saya mengerti dari daftar rempah-rempah yang tertera dalam bahasa Perancis dan Arab, bahasa sehari-hari yang dipakai di sana.
