Monday, May 19, 2008

218 jam merambah Marokko

3. Lintas Anti Atlas.

Setelah sarapan dengan menu standard, roti bulat yang juga standard, madu, selei dan butter, teh atau kopi dan secangkir jus jeruk, kami langsung check out dari hotel dan menuju kasbah Aït Benhaddou.

Aït Benhaddou adalah sebuah kota tua, yang pada jaman duluuuu merupakan kota yang persinggahan bagi para kafilah dalam perjalanan Sahara - Marrakech. Para penduduk medina Aït Benhaddou, yang perlahan-lahan rusak akibat badai hujan, pindah ke kota baru yang lebih modern di seberang sungai (tempat di mana kami menginap semalam sebelumnya). Sementara kasbah yang tersisa dilestarikan sebagai bagian dari warisan dunia dibawah perlindungan UNESCO. Hanya ada kira-kira 10 keluarga yang masih mendiami kasbah ini.

Selain sejarahnya, yang membuat kasbah ini menjadi sangat terkenal adalah karena menjadi lokasi shooting beberapa film terkenal. Siapa yang belum mendengar Gladiator atau the Mummy atau Alexander? Tempat ini sudah menjadi lokasi shooting film sejak tahun 1962, Lawrence of Arabia .

Belum juga menyeberangi sungai yang tinggi airnya hanya 2cm, kami sudah langsung didekati oleh seseorang yang dari bahasa tubuhnya, bisa diterjemahkan sebagai: suka atau tidak pokoknya aku mau jadi guide kalian. Teethy
Tadinya kami tidak berencana untuk mengambil guide, dan tentunya bisa saja kami mengacuhkan orang itu. Tapi, hitung-hitung sebagai turis yang baik, kami seharusnya juga ikut mendukung keterlibatan penduduk setempat, walaupun mungkin tidak profesional. Bagaimana seseorang bisa menjadi profesional kalau tidak diberi kesempatan, kan?
Maka kami biarkan saja orang itu menjadi guide kami, yang kemudian dengan bangga menunjukkan sudut-sudut dan lapangan yang pernah menjadi lokasi shooting film, dan membawa kami berkeliling kasbah, melewati mesjid tua, masuk ke bagian-bagian ruangan rumah jaman dulu, mulai dari dapur sampai bagian rumah tertinggi. Memanjat atap-atap rumah orang seperti orang kurang kerjaan, dan yang benar-benar memang kegiatan orang kurang kerjaan, singgah di kandang domba!!!! Alamak, komplit sudah!!! Hysterical

Klik slideshow di atas untuk melihat foto-foto dari Aït Benhaddou.

Oh ya, di Aït Benhaddou, tanpa pakai bubur merah putih hijau kuning biru, secara sebelah pihak, orang-orang langsung mengganti nama saya. Entah apa sebabnya, tiba-tiba nama saya berubah menjadi Fatimah di sana. Bukan ibu, bukan madam, bukan Since, tapi Fatimah!!

Terik matahari benar-benar bikin perih kulit, bikin pening dan mengeringkan tenggorokan. Ah, sudah sekitar 2 jam kami habiskan waktu berkeliling kasbah itu. Menarik sekali. Bukan karena tempat itu sering menjadi lokasi shooting film tapi warna kehidupan yang mengalir di sana, seolah kami dibawa dengan mesin waktu ke jaman yang lain.
Karena angka jarum jam belum menunjukkan jam 12 siang, kami memutuskan untuk makan siang di kota berikutnya, Ouarzazate.

Ouarzazate, yang terkenal juga sebagai Hollywoodnya Maroko, tentu saja juga memiliki studio film yang termasuk kategori studio raksasa, Atlas studio.
Tapi karena kami berdua sama-sama tidak berminat untuk berkunjung ke studio itu, kami hanya melewatinya saja.

Ouarzazate terlihat sangat modern, berbeda dengan kota-kota yang sempat kami lewati sepanjang perjalanan. Bahkan saat duduk makan siang di teras sebuah restaurant kecil di sana, atmosfirnya malah lebih terasa seperti di Kuta square, Bali.

Ah ya, di sana makan siang terlezat yang pernah saya makan selama di Maroko!! Tajin kefta, daging cincang (biasanya dibikin bola-bola) yang diberi bumbu, diletakkan telur ditengahnya dan dimasak di dalam tajin, yang terlezat. Sayangnya saya tidak ingat nama restaurantnya.

Selesai makan, kami memutuskan untuk ke atm sebentar untuk mengisi dompet yang sudah tipis-pis.
Atm pertama, ternyata siesta juga masuk dalam programnya. Aihh...
Waktu kerja di Maroko juga sama seperti Spanyol, siesta berlaku.
Lihat sekeliling, ah.. masih ada bank yang buka, coba saja atm di sana, mungkin atm-nya juga masih aktif. Maka terburu-burulah kami ke sana, mengejar waktu jangan sampai banknya ditutup untuk siesta. Eehhh... di tengah acara buru-buru kami, di depan sebuah toko souvenir, tiba-tiba bangkit pemiliknya sambil menyambut kami dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Aduh, jangan coba-coba jabat tangannya karena pasti jadi lama ceritanya. Ya namanya juga orang buru-buru, kami senyum saja sambil menegur, hai!!
Tapi saudara-saudara, si pemilik toko itu jadi marah-marah, kenapa kalian tidak mau menyambut gengaman tanganku? Apa masalah kalian dengan aku? Apakah kalian tidak menyukai orang lokal? Sombong sekali kalian. Bla.. bla.. bla..
Walaaaahhh... apa-apaan lagi nih??? Segera saja saya jawab, sorry.. we have no problem with you, but we are really in hurry now. Bye. Sambil langsung jalan tapi kemudian sambil terkikik-kikik, bagaimana tidak, di belakang saya dengar omelannya, you, hurry.. hurry... ferrary..

Setelah beberapa km keluar dari kota Ouarzazate, kami disajikan dengan pemandangan yang bikin takjub. Sepanjang beberapa kilometer, sepanjang jalan dipenuhi dengan sampah plastik!!! Seolah-olah semua sampah plastik dari Ouarzazate dan Marrakech dibuang di sini!!!
Padahal, di kota-kota yang kami singgahi selama liburan kemarin bisa dibilang bersih banget. Sampah tidak berceceran sembarangan. Tapi di sini, di sepanjang jalan ini...??? Bahkan sempat dari jauh saya melihat serombongan hitam di langit yang saya kira segerombolan burung yang sedang terbang, tapi tidak... ternyata sampah plastik yang diterbangkan angin yang sedang berputar-putar di angkasa!! Crazy

Sedang asyik menikmati pemandangan kiri dan kanan, tiba-tiba di sebuah jalan yang sepi, dari tepi sebuah mobil yang terbuka kap depannya, meloncat seorang pemuda ke tengah jalan sambil melambai-lambai. Nah lo, apaan nih. Kalau 'gak berhenti pasti ini pemuda kami lindas, kalau berhenti.. mudah-mudahan bukan jebakan di jalan.
Berhati-hati membuka sedikit bagian jendela supaya bisa mendengar apa maunya si pemuda itu. Assalamualaikum' sapa pemuda itu. Ya reflex saja saya menjawab, Wa Alaikum Salaam. Nah, binar bingung langsung terlihat di mata pemuda itu begitu melihat saya. Hihihi... iya lah... ada perempuan dalam wujud oriental, dan menjawab dalam bahasa Arab. Mungkin termasuk species yang jarang, ya?
Tapi untunglah percakapan selanjutnya dalam bahasa Perancis dengan Yayank. Hahaha... kata-kata yang saya kenal dalam bahasa Arab hanya sebanyak jumlah jari-jari tangan saya.

Ternyata mobil pemuda itu rusak dan dia berharap bisa menumpang sampai pada kota selanjutnya yang kira-kira 15km di depan. Hmmm... sempat bimbang. Tidak ditolong, kasihan, ditolong, mudah2an bukan orang yang bermaksud jahat. Setelah diskusi singkat dan padat berdua, ambil resiko, dan sepanjang 15km itu kami menjadi "alert".

Begitu tiba di kota tujuan, kami diajak untuk singgah di rumahnya untuk minum teh mint sebagai ucapan terima kasih. Tentu saja reaksi kami juga positif. Wah.. beramah tamah langsung di rumah penduduk setempat.
Tetapi ternyata, bukan rumah tempat tinggal, tapi sebuah toko yang berukuran sangat besar yang penuh dengan hasil kerajinan tangan. Koperasi, katanya.
Kami dijamu teh mint oleh sepupu pemuda yang menumpang mobil, kali ini teh mintnya enak lho, tanpa ada rasa asin.
Kemudian kami diajak berkeliling toko tersebut. "Kami adalah koperasi, harga kami adalah harga "basic". Jika ada yang kalian inginkan, saya akan memberikan harga special".

Tapi, "harga special" yang diberikan sungguh membuat mata saya melotot. "Haaa??? 'gak salah tuh harga yang dia kasih?" tanya saya pada Yayank.
Katakan, apakah saya salah, jika saya berpikir bahwa "harga special" itu merupakan ungkapan terima kasih, harga yang setidaknya tidak perlu kami tawar lagi? Kami toh tidak minta gratis.
Ternyata, harga special menurut orang itu artinya tawarlah sebisa kalian mampu!!!
Apanya yang special?

Setelah harga yang disepakati diperoleh, barang-barang dibungkus, dan kami kembali melanjutkan perjalanan, saya berkata pada Yayank bahwa saya merasa terjebak. Bahwa walaupun kami menawar dan sepakat dengan harga yang dibayar tapi saya merasa kami membayar terlalu banyak. Dia juga merasakan hal yang sama, tapi di sisi lain, katanya, tidak ada yang memaksa, kami yang memutuskan untuk membeli, untuk menawar, untuk membayar, jadi, sebaiknya jangan memutuskan untuk merasa terjebak. Toh kami sudah memiliki barang-barang yang menurut kami indah. Benar juga kata doi. Semoga saja itu bukan taktik mereka mencari pelanggan tokonya di tengah-tengah persaingan toko-toko souvenir. Hysterical

Kami terus melaju ke selatan, melewati bukit-bukit yang hanya batu melulu. Berhenti sebentar untuk menengok lembah diantara bukit, indah tapi menakutkan.
Yang bikin super takjub adalah pahatan berbentuk hati raksasa di badan bukit oleh tangan alam!!!! Wow!!!!

Lewat gunung-gunung batu ini kami menyusuri sungai Draa, sungai terpanjang di Maroko (1100km), di lembah Draa yang indah dan hijau. Tentu saja sepanjang sungai ini daratannya lebih hijau dibandingkan dengan sekelilingnya yang semakin panas dan kering. Di sepanjang lembah ini juga kami melihat banyak pohon-pohon korma yang bertebaran.

Indah sekali ukiran alam ini. Ada yang mau mengabadikan pahatan wajahnya di sana? Brows

Sepanjang perjalanan selepas dari high Atlas, kami tidak melihat para pedagang batu mineral. Tapi jangan salah, tidak berarti kemudian perjalanan ini bebas pedagang, karena pedagang batu mineral diganti oleh pedagang buah korma.
Judul dagangannya saja yang berbeda.

Sepanjang perjalanan ini pula, saya selalu mendapat kesan bahwa kota-kota yang kami lewati adalah kota yang hanya setengah selesai.
Ada banyak bangunan yang hanya setengah selesai, hanya lantai satu yang selesai dan lantai dua hanya sebagian, kadang bangunannya hanya dicat sebagian, dan sering bangunan utuh tapi dengan batang-batang besi tiang cor utama rumah masih berdiri telanjang.

Hari makin mendekati senja, rasa capek pun mulai menjalar pelan ke setiap cm tubuh ini. Saatnya mencari tempat untuk menginap.
Hotel pertama yang kami putuskan untuk dikunjungi berdasarkan info dari Lonely Planet sebenarnya merupakan tempat yang sangat menarik dan unik. Hotel di tengah-tengah kasbah tua.
Tapi tempat parkirnya tidak menjanjikan rasa aman, ditambah lagi sejumlah anak-anak yang sedang bermain sepak bola. Hmmm....
Begitu masuk ke kompleks hotel setelah berjalan beberapa menit menyusuri lorong kasbah, yang kami lihat kolam renangnya kosong, tidak ada air setetes pun. Alasannya kolam renangnya sedang direnovasi. Padahal kolam renang itu juga merupakan salah satu alasan kami ke sana.
Begitu lihat tenda yang berfungsi sebagai ruang makan dan tempat leye-leye... hmmm tua, lapuk dan berdebu. Lewat pandangan kami mengerti apa yang ada dalam otak kami masing-masing. Tapi penasaran seperti apa hotel di ini kami lanjut saja "tour" singkat itu.
Dan ketika masuk ke kamar tidurnya, ugh... bau apek langsung menyerang. Kondisi kamar tidur sebenarnya tidak jelek, bahkan bisa dibilang etnik banget, tapi begitu melangkah ke kamar mandi, astaga... itu wastafel penuh air, mampet, tapi pipa bagian bawahnya bocor, membawa air menggenangi seluruh kamar mandi, sementara keran di wastafel terus menetes.. tes.. tes.. tes...
Dan, kondisi kamar yang kedua pun sama parahnya!!! Uihhh...
Dan, yang bikin kami sama sekali tidak mengerti adalah pandangan pemilik hotel yang bengong saat kami mengatakan, tidak, kami mencari hotel lain saja.
Ampun deh, pede bener sih menjual kamar dengan kondisi kayak gitu??? Doofus
Apakah penulis di Lonely Planet mengetahui perkembangan terakhir hotel tersebut?

Akhirnya kami putuskan untuk langsung ke Zagora, kota terbesar di selatan sebelum ke padang pasir untuk menginap di sana. Sebuah hotel standard yang cukup besar dengan fasilitas yang juga cukup lengkap, di tepi jalan utama di sana. Hotel de la Palmeraie menjadi pilihan kami. Kondisi kamarnya mungkin mirip hotel bintang 2 di Indonesia. Ber-ac, tapi tanpa tv (tidak penting). Yang bikin saya ngakak adalah kamar hotel yang rada berpasir. Tidak nyaman kalau berjalan tanpa alas kaki, tapi mungkin demikian tipe hotel di tengah-tengah dataran berpasir.
Paket nginap juga lengkap dengan paket makan malam di restaurantnya. Menunya juga bebas. Lengkap dari pembuka, menu utama dan penutup.

Segar rasanya selesai mandi dengan air yang tidak pakai payau Teethy
Kami berdua langsung turun ke restauran dekat kolam renang dan... tararam... bier dingin yang pertama yang kami temui selama perjalanan kami di Maroko!!! Pfeeeuuuuhhh... segar rasanya di tengah-tengah dataran panas itu.

Resep sederhana yang saya pelajari langsung dari makanan penutup yang tersaji, jeruk dikupas bersih, diiris melintang dan taburi bubuk kayu manis, segar, lezat, ringan dan bervitamin.

Selesai makan malam, ngopi, sikat gigi dan... bufff... tanpa pakai acara mimpi langsung black-out sampai esok pagi.


Bersambung..

Wednesday, May 14, 2008

218 jam merambah Marokko

2. Menuju ke Selatan.

Rute perjalanan hari itu adalah menuju ke selatan, melintasi pegunungan Atlas (high Atlas dan anti Atlas), menuju ke padang pasir.
Pegunungan Atlas adalah pegunungan yang terbentang di sepanjang sisi utara benua Afrika, melintasi Maroko, Aljazair dan Tunisia. Pegunungan Atlas yang melintasi Maroko terbagi atas 3 bagian menurut ketinggiannya. Middle Atlas, High Atlas, dan Anti-Atlas.

Begitu keluar dari hotel pagi itu kami langsung disuguhi keramaian lalu lintas ala Marrakech. Astaga, sampai pusing saya. Gila banget. Ya mobil, ya motor, ya kuda, ya keledai, ya manusia. Alamak, benar-benar chaos.
Malah beberapa kali pula lengan dan tas saya kesenggol tubuh pengemudi motor yang mepet banget dengan pejalan kaki. Walaupun lorong Medina yang sudah sempit, tapi motor yang lalu lalang kebanyakan 'gak kira-kira kecepatannya. Bahkan sekali saya sempat meloncat di lorong sempit itu gara-gara ada pick up yang mundur ke arah saya tapi si sopir sama sekali 'gak melihat dan mengontrol sekelilingnya lewat cermin-cermin yang ada di mobilnya itu. Saya lihat sendiri saat mobil itu melewati saya, kalau si sopirnya itu hanya memandang ke depan dan berbicara dengan kenalannya yang berdiri tidak jauh dari tempat itu. Orang tolol!!!
Bukan pemandangan aneh jadinya jika kebanyakan mobil yang kami temui di sana ada penyoknya!!!

Keluar dari Marrakech, suasana jalan lebih tenang dan lapang. Kami disuguhi dengan pemandangan pohon-pohon olive yang berbaris rapi disusul dengan pemandangan-pemandangan yang terasa gersang dan panas, sampai pemandangan yang penuh warna. Hijau warna daun, dipadu dengan tanah dan bebatuan yang berwarna merah bata atau kekuningan dan langit yang biru bersih. Indah. Walaupun begitu tetap saja keadaan yang "gersang" mendominasi alam di sana.


Saya terpana setiap kali melihat kasbah-kasbah dan desa-desa yang tampak di kejauhan.
Kasbah adalah kota tua islam/medina yang diperkuat dengan dinding kota yang mengelilingi dan melindungi kota seperti layaknya sebuah benteng. Sangat khas dan unik.
Mereka sewarna dengan warna tanah di mana mereka berdiri. Wajar saja, bangunan kasbah itu dibuat dengan bahan baku, tanah liat, yang ada di tempat di mana mereka dibangun. Dan sudah tentu warna yang sama juga membuat mereka tidak mudah dilihat dari kejauhan, yang pada jaman merupakan nilai plus untuk perlindungan kota.

Kasbah-kasbah dan juga rata-rata rumah di daerah pedesaan di Marokko dibangun dari tanah liat yang kemudian dibiarkan terpanggang oleh panasnya matahari. Dinding rumah yang dibangun tebal merupakan isolasi yang bagus untuk mempertahankan kesejukan udara di bagian dalam rumah. Memang pas bagi daerah yang panas dengan curah hujan yang sangat minim.
Masalahnya akan datang jika curah hujan yang datang cukup banyak. Bisa dibayangkan rumah-rumah ini akan hancur karena air hujan tersebut.
Saya tidak tahu bagaimana kondisi perumahan di kota. Mungkin bangunan tua masih berbahan baku tanah liat, tapi bangunan modern sudah pasti menggunakan bahan yang lebih kokoh dari tanah liat.

Semakin tinggi kami mengemudi, semakin sejuk udaranya. Kami berhenti sejenak di sebuah pondok untuk membeli minuman. Saat kami bertanya apakah ada minuman dingin? Pemilik pondok segera menujukkan deretan minuman di rak dan dengan kalemnya menjawab, di sini dingin kok. Hysterical
Cara mendinginkan jeruk yang menjadi bahan untuk membuat juice juga alami. Jeruknya dimasukkan di ember dan embernya diisi air dingin dari keran. Ya dingin dah. Iya lah air gunung kan cukup dingin.
Ah ya, jus jeruk segar di Maroko adalah bagian dari minuman sehari-hari. Bisa sehari 3-4 kali kami menikmati jus segar ini. Di hotel saat sarapan pagi, di restaurant, di pasar, di pondok tepi jalan. Ada banyak perkebunan jeruk yang luas di Maroko.

Karena jalur yang kami tempuh merupakan jalur turistik, bisa diduga, toko-toko souvenir ada dan tergeletak di mana-mana. Dari tempat yang "wajar" sampai pada tempat yang menurut kami somewhere in nowhere!!! Dari yang wajar sebuah toko (foto di atas), sampai yang super simpel (foto di bawah).

Sebagian besar yang ditawarkan oleh toko-toko souvenir ini selain hasil kerajinan tangan yang berupa tembikar dan karpet, adalah fosil dan batuan mineral.

Dan harganya??? Sering mereka berkata, di sini harganya lebih murah dari di Marrakech. Tapi jangan salah, kadang justru di sana lebih mahal daripada di pasar souvenir di Marrakech. Harus pintar menawar, tapi kadang sulit juga kalau kita tidak punya referensi harga pembanding.

Bahkan penjual batu fosil juga menawarkan jualan mereka secara perorangan di sepanjang jalan.
Kami yang terperangah. Tidak jarang di tempat yang begitu panas dan gersang, jauh dari kehidupan (baca: perkampungan), toh berjalan penjual batu mineral berteriak dan menawarkan dagangannya pada kami. Wah!!!
Bahkan sering jadi menyebalkan, karena saat kami berhenti di tepi jalan untuk sekedar memotret atau meluruskan kaki, kami harus berhadapan dengan mereka dan dagangannya itu. Dan walaupun tidak agresif, sebagian besar dari mereka tidak mau mengenal kata: tidak, no, nee, non, laa. Juga tidak mau mengenal bahasa Tarzan yang berupa gelengan kepala dan lambaian tangan menolak. Uh...!!!
Sekali dua kali sih oke-oke saja, tapi melelahkan dan menjengkelkan jika setiap kali harus menghadapi pedagang-pedagang ini.

Kadang-kadang saat kami berhenti pada tempat yang tidak terlihat "kehidupan" (baca: pedagang batu mineral), toch tiba-tiba saja mereka muncul entah dari mana dan sudah berada di samping kami. Ooouuuuugggggccchhh!!!!! Help me!!!! Very Angry

Pernah sekali kami berhenti karena saya ingin memotret kasbah yang ada di lereng gunung. Begitu mobil berhenti datang langsung serombongan anak-anak sekitar 9-11 tahun dengan dagangan mereka yang berupa dedauan rempah yang sudah layu karena panas mentari. Namun ketika mereka melihat saya mengarahkan kamera saya ke arah kasbah di lereng itu, mereka langsung melarang saya untuk memotret dengan sangat agresif. Tentu saja saya bingung melihat keagresifan mereka. Bahkan ada yang sampai menjadi beringgas dan hendak menarik kamera saya. Hou.. hou, anak-anak... Tidak boleh foto? Okey, saya tidak memotret. Kerasukan apa sih kalian ini.
Ya sudah, saya masuk kembali ke mobil. Eh itu anak-anak datang lagi dengan wajah yang manis menunjukkan dagangannya ke saya. No!!! Laa!! Wah... jadi beringgas lagi. Emang gue pikirin??
Tapi kemudian yang terjadi, saat mereka melihat cola Reinier yang tinggal setengah botol di mobil, jadi makin beringgas. Cola... COLA... COLA... Tadinya sih pengen cuekin saja dan langsung pergi, tapi begitu melihat mata mereka saat melihat cola... sungguh, saya merasa tidak tega juga. Ya sudahlah, cola setengah botol itupun segera berpindah tangan ke anak-anak itu. Ah...

Pernah juga saat mobil sedang parkir, datang seorang anak pada saya dan meminta Dirham (mata uang Maroko). Saya hanya menggelengkan kepala. Tiba-tiba dia melihat botol cola yang isinya juga tinggal setengah, dan bisa ditebak, dimintalah cola itu. Dan karena mintanya dengan manis, maka segera berpindah-tanganlah botol tersebut. Doh... girang sekali ekspresinya.

Pernah juga kejadian dengan anak-anak di salah satu kota di sana. Kami baru saja dari supermarket dengan belanjaan kami dan ice cream. Begitu kaca jendela mobil saya turunkan untuk mengeluarkan udara panas dari mobil, berdiri seorang anak di sisi jendela mobil dan meminta Dirham. Laa, tidak, kata saya. Bon-bon (permen) yes, sambil menyerahkan beberapa permen ke tangan anak itu. Dia tersenyum dan merci ucapnya. Tiba-tiba muncul anak kedua yang melihat anak pertama diberi permen. Dia mengulurkan tangan, ya saya beri permen juga. Tapi tidak katanya sambil menunjuk ice cream di tangan kiri saya. Tidak, kata saya sambil menaikkan jendela mobil. Eh... ternyata anak itu dengan lancangnya memasukkan tangan ke mobil untuk merebut ice cream pas saat kaca jendela mobil secara elektris tertutup. Ya terjepitlah tangannya di sana. Mengaduh-aduhlah dia. Tinggal saya yang kaget dan cepat menekan tombol untuk menurunkan kaca jendela. Kaget karena bukan maksud saya menyakiti anak itu. Kata Yayank, biar saja, itu pelajaran buat dia.

Sering kami bertemu dengan anak-anak yang meminta uang pada kami. Kadang dengan alasan menjaga mobil kami saat parkir atau sama sekali tanpa alasan, hanya meminta uang. Makanya kami sediakan saja permen di mobil.
Saya jadi bertanya-tanya, apakah alasan dari perbuatan mereka itu adalah faktor ekonomi dan... menjadi kebiasaan karena "dimanja" oleh para turis yang berkunjung ke sana?

Tidak berarti bahwa semua anak menjengkelkan. Ada juga anak-anak yang manis-manis, ramah, yang menyapa kami tanpa meminta apa-apa. Tersenyum, melambaikan tangan, atau berteriak bonjour. Selayaknya anak-anak dengan kesederhanaan di dunia mereka.

Ini dia mobil sewaan kami. Simpel tapi tangguh. Tadinya pengen ambil 4WD, biar bisa ambil jalur off road. Tapi mahaaal boow biaya sewanya.
Dan selagi bininya asyik bidik sana-bidik sini, si yayank dengan cepat meneliti peta jalur kami. Sepertinya berusaha meyakinkan diri sendiri kalau navigatornya tidak memilih arah yang salah.
Ah, padahal walaupun sering kesasar tanpa peta, sebagai navigator, saya termasuk bisa diandalkan. Hysterical

Perut perlahan-lahan mulai menggeliat. Saatnya untuk mencari restaurant. Tidak terlalu sulit untuk mencari restaurant "lokal" sepanjang perjalanan kami. Sebuah restaurant "lokal" selalu ditandai dengan sederetan tajin di depannya.
Tajin adalah pot untuk memasak khas Maroko, terbuat dari tanah liat dengan penutup yang berbentuk kerucut.
Dan menu makan siang kami hari itu adalah tajin sayuran (sayuran yang dimasak di dalam tajin), brochettes sapi (sate sapi) dan ayam bakar. Menu yang ternyata terlalu banyak bagi kami. Plus jus jeruk segar tentunya.

Nah, ini baru namanya makan!! Tajin sayurannya nikmat dan bumbunya terasa sekali. Brochettes dan ayam bakar juga terasa bahan rendamannya, bukan sekedar daging yang langsung dibakar tanpa bumbu apa-apa. Jauh beda dengan rasa makanan yang kami temui di Djemaa el-Fna.

Perut kenyang, lanjut lagi perjalanan melewati jalan yang berkelok-kelok mengintari satu bukit ke bukit lain menyeberang high Atlas. Jalan yang sungguh memukau, melewati Tizi n'Tichka (Pass Tichka) di ketinggian 2260m.
Wow!! Kagum kami melihat bagaimana indahnya jalan ini. Benar kata banyak orang, spektakuler.
Sudah pasti berhenti sejenak untuk membidik lewat lensa kamera. Pfffeeuuuh... untung tidak ketemu penjual apa-apa kali ini.

Jalan pegunungan yang berkelok-kelok tentunya juga merupakan surga untuk pengendara motor. Sering kami temui pengendara motor dengan papan nomer dari Perancis. Perjalanan yang cukup jauh, bermotor ke Maroko selatan dari Perancis.

Harus kami akui hebatnya kondisi jalan sepanjang yang telah kami lewati ini. Lebar dan mulus!!! Sementara kendaraan yang lalu lalang tidak begitu banyak. Yang kami rasa aneh adalah kami sama sekali tidak melihat adanya bis antar kota. Yang seukuran bis yang kami temui hanyalah bis turistik. Sisanya ya truk, 4WD, pick-up dan mobil-mobil kecil seukuran mobil sewaan kami.
Mungkin itu sebabnya sering sekali kami melihat orang-orang yang berusaha untuk lifting sepanjang perjalanan. Lelaki dewasa, dan paling sering anak-anak (ini yang bikin saya dobel bingung, ngapain juga anak-anak itu di daerah antah berantah, maksudnya daerah yang jauh dari kampung, kadang di daerah yang panas dan kering). Tapi tidak pernah ada wanita yang mencoba lifting.

Gara-gara jalan yang lebar dan mulus ini, kami sempat kena tilang. 80km/jam adalah kecepatan maksimal rata-rata di sepanjang perjalanan itu. Tapi di beberapa bagian jalan kecepatan maksimal yang diijinkan hanya 60km/jam. Nah saat itu tidak ada kendaraan lain di sekitar kami, jalan yang lurus, pemandangan yang menarik di sekitar kami membuat kami lalai melihat rambu kecepatan yang ada. Tiba-tiba di depan kami di bawah naungan bayangan pepohonan berdiri beberapa polisi lalu lintas memberhentikan kami.
Sambil membawa laser gun, seorang polalin memberitahukan kami batas maksimal kecepatan kendaraan yang diijinkan di jalan tersebut dan menunjukkan angka 75 (km/jam) yang merupakan hasil bidikan kecepatan kami di laser gun.
Anda harus membayar denda sebesar 400 dirham, kata pak polisi itu sambil membawa buku peraturan denda.
Sh*t!!!! Sekitar 35-an euro dah. (Saat laporan perjalanan ini ditulis, 1 dirham kira-kira 1.255 rupiah ; 1 euro kira-kira 11,5 dirhams). Apes!! Ya sudah, segera kami menyiapkan duit sejumlah yang harus kami bayar, sambil ngedumel, masih ada duit buat bayar hotel nanti 'gak ya. Jangan-jangan nanti kami harus mencari hotel yang rada mewah yang memiliki fasilitas untuk gesek atau mencari kota yang agak besar untuk mencari atm.
Saat duit sudah disiapkan, pak Polalin kembali dan mulai bertanya dari mana asal dan bla bla bla menyebut semua nama pemain sepak bola asal Belanda yang dia kenal, yang sudah gaek pula seperti Ruud Gullit dan seangkatannya.
Perasaan saya, kok seperti deja-vu ya? Beneran deh. Setelah obrol tanpa isi 2 menit, pak Polalinnya hanya mengambil 200 dirhams. Diskon katanya sambil berlalu. Hehehehe... beneran kan deja-vu!!! Denda pakai diskon?? Baek ya pak Polalinnya.

High Atlas sudah berada di belakang, kami sudah memasuki daerah anti Atlas.
Rasa haus dan penat kembali mengerogoti. Coffee time. Pas melewati sebuah kota kecil, berhentilah kami untuk mencari secangkir teh atau kopi. Pilihan kami jatuh pada teh mint, minuman harian orang Maroko. Teh yang diberikan daun mint segar dan diberi gula yang boaaanyaaak. Pokoknya belum lengkap kunjungan ke Maroko kalau belum mencicipi teh mint ini.
Nah ini dia, pengalaman minum teh mint yang pertama kali ini bikin saya super mual. Bau mint yang tajam membuat saya seolah meneguk odol gigi dan rasa teh yang manis, sepat dan rada pahit karena getah daun mint, dan ada rasa asin di belakangnya. Rasa asin ini yang membuat saya mual. Ugh. Dua teguk, cukup sudah.

Ternyata oh ternyata, air di daerah sana memang agak payau. Lha, jauh dari laut kok bisa agak payau? Karena kandungan mineral dalam tanahnya itu yang membuat air di sana payau. Rasa payau itu yang membuat saya mual. Karena kemudian dengan rasa air yang normal dan setelah terbiasa dengan aroma mint segar, saya bisa menikmati teh mint ini. Teh mint akan lebih enak jika daun mint yang digunakan tidak terlalu banyak (supaya tidak ada rasa sepat dan pahit) dan dengan takaran gula yang pas, harus manis.

Tanpa terasa sudah pukul 5 sore, saatnya mencari hotel untuk beristirahat. Sesuai rencana yang kami buat, di penghujung hari kami berada di dekat kota Quarzazate, Hollywood-nya Maroko. Tapi kami memilih untuk menginap di kota kecil di dekat sana, Aït Benhaddou, supaya keesokan harinya kami bisa langsung mengunjungi kasbah yang ada di sana.

Akhirnya kami temukan hotel yang sesuai dengan kriteria kami, simpel, bersih dengan private kamar mandi dan wc. Juga termasuk paket makan malam. Saya malas kalau harus keluar lagi untuk mencari makan malam. Mana angin di luar juga sudah bertiup kencang sekali. Ogah makan debu ah.
Sayangnya pernak-pernik kamarnya diisi dengan bambu, sehingga tidak "berbau" etnik setempat.

Selesai mandi, yang juga tidak terlalu menyegarkan karena airnya yang payau itu, tapi lumayan tidak berdebu lagi, kami bersiap untuk makan malam. Dan astaga, makan malamnya tersaji setengah sembilan malam!!! Satu jam molor!!! Hihihi... ada tamu yang sampai terkantuk-kantuk di meja sebelah.

Dan menu makan malamnya, couscous (baca: kuskus, gandum??), dengan sayuran dan daging sapi. Hmm... tidak terlalu istimewa, tapi saya suka couscous, dan juga... lapaaarrr!!!
Selesai makan malam, sikat gigi dan langsung... terbang ke negeri mimpi... kecapekan seharian melanglang dengan mobil.



Bersambung...

Thursday, May 08, 2008

218 jam merambah Marokko

1. La bes Marrakech.

La bes Marokko, la bes Marrakech, sapa saya saat udara hangat dan kering Marrakech, menyambut wajah ini di tangga pesawat, setelah 4 jam penerbangan dari Düsseldorf, Jerman.
Segera kami disambut oleh antrian yang panjang imigrasi. Padahal ada beberapa loket pemeriksaan, tapi semuanya panjang dan bergerak lambat. Astaga, 1 jam 15 menit boow berdiri di antrian itu. Doh bapak... kerjaannya tuh emang teliti banget tapi leletnya itu lho. Pas giliran saya, pasport saya diperiksa detil banget, tiap halamannya diperiksa bolak-balik, sepertinya ada 4-5 kali pasport saya dihitung tiap halamannya, belum lagi tampang saya diplototin, dicocokkan dengan foto di pasport. Doh, untung foto di pasport tuh tidak perlu tersenyum lebar, sehingga saya tidak perlu memaksakan senyum di wajah ini saat sudah pegal begitu. Eh, pas giliran si Yayank, prosesnya lebih cepat, pasportnya tidak diperiksa per halaman bolak-balik seperti punya saya. Ugh.. jadi curiga juga saya, jangan-jangan karena pasport saya lembaran identitasnya pakai tulisan tangan.
Sekedar informasi, warga negara Indonesia tidak membutuhkan visa untuk berkunjung (maksimal 3 bulan) di Marokko.

Setelah ambil barang bagasi kami yang cuma satu tas yang ukuran sedang langsung kami menuju counter penyewaan mobil. Tadinya malah tidak mau punya barang bagasi segala biar tidak usah buang-buang waktu menunggu barang bagasi keluar dari perut pesawat, modal hand lugage 10kg per orang rasanya cukup. Tapi dengan pertimbangan tidak ada ruang jika nantinya ingin beli ini itu, jadilah kami membawa satu bagasi.
Untung, kami tidak perlu berpegal ria menunggu tas kami karena begitu masuk ke ruang pengambilan barang, langsung terlihat tas kami, yang warnanya menyolok asli bikin sakit mata supaya gampang dikenali, sedang mengendarai conveyor belt dengan asyiknya.

Nah, di counter penyewaan mobil ini semua formulir harus diisi ulang lagi, padahal data-data tersebut sudah lengkap diisi lewat pemesanan online internet. Doh, ada mungkin 20 menit terbuang di counter ini.

Begitu keluar dari bagian "tua" bangunan di airport dam masuk ke bagian depannya yang baru selesai dibangun... gilaaaa... takjub!!!!! Kereeeennnnyaaa....!!!! Guede banget hall-nya. Wah.. 'gak habis berdecak kami.

Ambil mobil, langsung buka peta, sudah pasti arah menuju hotel,
Riad Dar Benanni, sebuah hotel kecil di distrik Mouassine, daerah Medina, Marrakech.
Medina adalah daerah kota tua.
Dan walaupun jarak airport ke kota hanya sekitar 6,5km dan peta yang kami miliki cukup jelas, tetap saja perjalanan dengan mengemudikan mobil sendiri merupakan sebuah petualangan kecil bagi kami, karena ada beberapa ruas jalan yang lalu lintasnya hanya searah. Dan kelakuan lalu lintas yang rada-rada mirip di tanah air.

Pfeuuuh... untung dalam waktu singkat kami berhasil menemukan bab Ksour, salah satu gerbang dari sekian gerbang masuk Medina, yang kebetulan juga dekat daerah Mouassine. Parkir mobil tidak jauh dari gerbang, berhubung mobil tidak bisa masuk dengan bebas di daerah Medina yang jalannya sudah pasti ukuran masa lalu punya, sempit-sempit. Berdirilah kami berdua di depan gerbang Mouassine, bingung mau ke arah mana. Masalahnya kami tidak memiliki peta yang akurat dalam skala yang kecil untuk Medina, yang mirip banget labirin jika belum mengenalnya. Telepon ke hotel supaya dijemput di gerbang itu, teleponnya tidak diangkat-angkat. Wah...

Menangkap ekspressi ragu-ragu kami, menyapalah seorang pemuda, jika kami butuh bantuannya untuk menunjukkan arah. Seorang teman kerja dari Marokko pernah mengingatkan saya untuk tidak mengambil guide jalanan. Tapi pemuda itu terlihat necis dan sopan dan lagi hari yang semakin gelap dan badan yang semakin capek, kami mengiyakan dan memberikan nama dan alamat riad yang dituju. Untung banget, seandainya jika kami harus mencari sendiri, walah bakalan kesasar abis. Lihat saja map di samping itu.
Dan praktis juga karena dalam perjalanan pemuda itu juga sempat menunjukkan arah ke Djemaa el-Fna.

Tiba di riad, begitu masuk ke kamar, jelas sekali bangsa ini adalah pencinta berat tegel dan karpet Teethy. Hiasan tegel di sepanjang dinding kamar bikin perasaan kayak tidur di kamar mandi saja, untung ada karpet, model lampunya, lekuk-lekuk jendela serta pintu membuat atmosfir etnik di kamar terasa banget, seperti di cerita 1001 malam.
Taruh tas-tas bawaan di kamar, cuci muka biar segaran dikit, serta membekali diri dengan peta daerah Medina dari riad, meluncurlah kami ke Djemaa el-Fna untuk mencari pengisi perut sekaligus menikmati suasana malam sebentar di sana.

Djemaa el-Fna adalah tempat berkumpul dan bertemu orang-orang dengan segala kegiatan dan merupakan jantung kota. Malam hari lapangan ini dipenuhi dengan tenda-tenda makanan, permainan, musik jalanan, dan kereta-kereta penjual buah. Siang hari tenda-tenda makanan lenyap, dan lapangan ini dipenuhi dengan penjual obat, seperti juga penjual obat jalanan di Indonesia, segala macam obat ada di sana, mulai dari obat penumbuh rambut, penyakit kulit sampai viagra tradisional. Juga artis jalanan, pencerita dan pertunjukan ular. Kata orang, Djemaa el-Fna yang membuat Marrakech berbeda dari kota-kota lainnya di Marokko.

Tertarik dengan warna-warna buah kering yang dipamerkan, kami menghampiri sebuah tenda yang ada dan membeli sedikit kacang gula dan buah figue kering. Saya tidak tahu namanya dalam bahasa Indonesia. Saat hendak membayar, Yayank menyenggol lengan saya dan memberi kode ke arah tumpukan korma, astaga... ada kecoak yang merayap di sana. Uiiihh... Ya namanya juga jualan di pasar begitu, mana ada jaminan 100% bebas serangga kan?

Beberapa tenda makanan yang kami coba di sana selama liburan kemarin, hasilnya benar-benar mengecewakan. Tidak ada yang membuat kami berdecak seperti ketika kami di pecinan Kuala Lumpur atau yang simpel seperti warung bakso dan nasi bebek di tanah air.
Apalagi tuh tenda 114, wah... benar-benar 'gak ada rasa makanannya. Brochette-nya (sate tapi tanpa bumbu kacang/kecap) pun harus kami kembalikan dan minta dibakar lagi, gara-gara daging bagian dalamnya masih mentah. Padahal dagingnya hanya seuprit gedenya.
Jangan terpancing karena banyak turis yang duduk di tenda makanan tersebut. Itu hanya karena para pelayannya yang pandai dan keukeuh membujuk para pejalan kaki singgah di sana.

Menurut tips yang kami terima, sebaiknya pilih tenda yang dipenuhi oleh pengunjung lokal, karena pasti rasa hidangan di tenda tersebut lebih menjanjikan. Masalahnya tenda-tenda makanan yang dipenuhi oleh pengunjung setempat selalu menyajikan hidangan kepala kambing yang juga diletakan di meja. Nah, pengunjung yang makan, duduknya juga mengelilingi meja itu. Aduh mak... emoh ah makan sambil mlototin kepala kambing. Alih-alih makanan masuk ke perut, malah bisa kebalik kejadiannya, lalu lintas di perut bisa berbalik arah Sickened

Tenda penjual ikan goreng adalah salah satu tenda yang dipenuhi pengunjung lokal yang kami singgahi. Rasanya..ya... seperti ikan goreng.. Teethy Lumayanlah, ikan goreng yang panas dan gurih walaupun ada beberapa potong yang agak keasinan.
Itu roti di foto di atas, adalah roti wajib. Semua hidangan disajikan bersama roti itu. Saat rotinya masih segar enak juga, tapi kalau sudah malam, alias rotinya sudah tua, ugh... alot habis!!! Sampai sakit sendi gerahamku, kalau sudah begitu, cara makannya ya pakai acara ngebor, yang dicuil-cuil hanya bagian empuknya saja, bagian luarnya yang keras ya ditinggal.
Saus tomatnya itu seger banget. Bentuk lain dari Moroccan Tomato Salad.

Kami juga isenk mencicipi teh rempah yang banyak di jual di tenda-tenda di sana. Gilaa... keras dan tajam banget rempah dalam teh itu. Langsung terasa membakar dalam lambung ini. Uhhh... langsung perih, 'gak tahan panasnya. Entah ada berapa macam rempah dalam itu teh. Pokoknya ada gingseng, jahe, kayu manis dan lain-lain. Setidaknya ketiga rempah itu yang saya mengerti dari daftar rempah-rempah yang tertera dalam bahasa Perancis dan Arab, bahasa sehari-hari yang dipakai di sana.

Berkeliling sebentar di tengah keramaian dan kembali ke riad. Arloji baru menunjukkan pukul 10 tapi jam tubuh ini sudah mencapai pukul 12. Yup, Belanda 2 jam lebih awal dari Marokko. Saatnya kami mengistirahatkan tubuh ini dan menyiapkannya untuk petualangan esok hari.


Bersambung..


PS. Semua foto merupakan koleksi pribadi kecuali foto kamar hotel di atas, diambil dari website hotel tersebut.