Wednesday, September 27, 2006

Seksi Since

Awas!!! Bukan sexy Since lho. Waahhh... Hysterical
Tapi seksi Since, alias seksi repot!!

Repot, repot dan repot. Menjadi "tukang" adalah profesi amatiran saya hari-hari belakangan ini. Mulai dari tukang bersih-bersih, tukang cat, tukang beres-beres, "tukang" urusan konsumsi, sampai tukang marah-marah. Ups Blushy ...
Semua ini gara-gara urusan beberesan rumah baru.

Tadinya kami berpikir tidak banyak yang harus kami kerjakan atau rubah dari rumah itu, karena rumah itu sendiri sudah rapi. Tapi setelah inspeksi ulang dan mendata "yang ingin menurut selera kami", ternyata panjang juga daftar perubahan yang ingin kami lakukan.



Nah, seksi yang paling menyebalkan dari seksi Since ini adalah urusan bebersihan. Mulai dari bersih-bersih lantai, membersihkan dapur dan seluruh rak yang ada, sampai bersih-bersih plafon pakai ontvetter. Yang bikin sebal adalah, astaga... kalau boleh hiperbola nih, bulu-bulu anjing yang berhasil saya kumpulkan mungkin bisa untuk membuat sebuah sweater!!!Faint
Bagaimana tidak, pemilik sebelumnya yang menghuni rumah itu memiliki dua anjing Lassie yang gede dan satu ekor herder yang juga gede.
Bulu-bulu anjing ini tidak hanya bertebaran di lantai dan tangga, tapi juga bisa saya temukan dalam laci, dalam lemari, bahkan juga di dalam microwave!!! Bug Eyed
Benar-benar deh!!
Saya bukan seorang yang anti anjing, tapi saya juga bukan seorang pengoleksi bulu anjing!! Uggghhhh..!!!!

Saking semangatnya beberesan dan bersih-bersih, ini pinggang sampai ikut-ikutan terkilir dan akhirnya harus berurusan dengan chiropractor Sabtu kemarin.

Untung saja Tonnie, teman Reinier, ikut bela-belain ambil cuti beberapa hari dari pekerjaannya untuk membantu kami selama hampir semingguan. Setidaknya bagian-bagian yang besar dari daftar "perubahan yang ingin dilakukan" sudah diselesaikan. Wah.. sampai terharu deh, punya teman seperti itu.



Sekarang tinggal menyelesaikan daftar sisanya, yang masih lumayan banyak.
Semua kesibukan ini tidak memungkinkan saya untuk aktif online untuk sementara waktu. Mohon dimaklumi saja ya.

Sudah ah, saya kabur dulu.. ntar 'gak selesai-selesai bagian pekerjaan saya.
Salam!!!

Thursday, September 14, 2006

7 jam di KL (6)

Catatan Perjalanan 6 (akhir).

7 jam transit di Kuala Lumpur bukanlah waktu yang pendek. Waktu yang cukup untuk kami melanglang buana sebentar di Chinatown Kuala Lumpur.

Dengan menggunakan KLIA Express, kurang dari 30 menit kami telah tiba di Interchange station (KL sentral). Dari sana dengan mengambil metro line "Kelana Jaya" kami turun di Pasar Seni PUTRA LRT station, stasiun yang terdekat dengan Chinatown, dilanjutkan dengan berjalan kaki santai menuju jalan Petaling, pasar senggol yang penuh dengan barang-barang imitasi merk-merk terkenal. Mirip Mangga Dua atau pasar Atom, hanya saja di udara terbuka.


Foto di atas, sebelah kiri adalah salah satu sudut China town dan yang sebelah kanan adalah suasana di jalan Petaling. Kelihatan sepi ya? Jangan salah, kebetulan saja foto di atas itu di-shoot di tempat yang agak luang. Sisanya.. wah... kalau mau nekat juga ambil foto, yang terlihat paling-paling ujung kepala orang-orang yang berdesak-desakan di sana.


Bagian ini adalah sisi jalan yang paling kami sukai. Penuh dengan warung tenda makanan. Murah meriah dan hmm... lekker!!!!
Mau tahu apa yang sedang kami nikmati?? Lihat saja foto di bawah ini.


Nasi tim dengan bebek panggang dan mie kuah dengan daging merah panggang. Tongue Out 2
Maaf... maaf... sudah menimbulkan nafsu... Spinning


Beginilah suasana Chinatown di malam hari.
Yang sebelah kiri itu bukan peragaan master kung fu, melainkan itu adalah bapak yang sedang sibuk memasak nasi ayam tim.

Kira-kira 4 jam kami habiskan dengan berkeliling dan makan di daerah ini. Makannya juga tidak hanya di satu tempat melainkan di beberapa tempat. Nyicip sana nyicip sini. Duh.. perut saya benar-benar penuh saat kembali ke bandara, mungkin ada lebih dari 1 liter air tambahan dalam perut saya selain makanan yang masuk. Tidak heran, saya tergila-gila juga dengan air mata kucing. Ada tiga gelas yang berakhir di perut saya malam itu disamping minuman yang lain dan kuah sup Blushy Ups...

Dari sisi pariwisata, saya angkat topi buat Malaysia. Terlihat benar cara mereka "menjual" daya tarik mereka dengan penyediaan fasilitas-fasilitas dan informasi yang lengkap yang memudahkan wisatawan mencapai suatu daerah dalam waktu singkat dengan harga yang termasuk murah. Juga tanpa harus membuang waktu duduk dalam kemacetan.
Indonesia, kita ketinggalan jauh dalam hal ini.... Dismay

Demikianlah liburan kami yang lalu di Indonesia.

Tamat.

Monday, September 11, 2006

Kemesraan ini... (5)

Catatan perjalanan 5.

Selain jalan-jalan ke sana-ke mari, tentu saja kami tidak melupakan untuk meluangkan waktu bersama keluarga.
Jujur saja, selalu ada sebersit rasa iri setiap saat kami menghabiskan waktu di sini bersama orang tua Reinier. Selalu ada seberkas kerinduan untuk juga menikmati waktu bersama orang tuaku.
Maka adalah saatnya berbagi waktu dengan mereka ketika kami sedang berada di Denpasar juga, bukan?

Bagi aku, kebersamaan itu untuk melepaskan rindu, sekaligus memberikan kesempatan bagi Reinier dan keluargaku lebih saling mengenal satu dengan yang lainnya.

Bagi Reinier, kesempatan untuk mengenal keluargaku lebih baik dengan menikmati aktifitas bersama mereka, sekaligus "taalstage", alias praktek bahasa Indonesia-nya Teethy Maklum saja orang tuaku tidak bisa berbahasa Inggris, apalagi Belanda.
Dan, termasuk beramal juga khan? Membiarkan istri berlama-lama melepaskan rindu dengan keluarganya di samping acara jalan-jalan.

Bagi keluargaku, kesempatan melepaskan rindu bersama kami, juga kesempatan mengenal menantu mereka lebih akrab.

Inilah sebagian aktivitas Reinier selain berjalan-jalan liburan kali lalu:

Bersama-sama mama membongkar dagangan b'li tukang sayur yang setiap pagi mampir di rumah.
Hihi.. awalnya Reinier agak surprise juga melihat muatan motor kecil itu ternyata lengkap dengan berjenis-jenis sayur, ayam, ikan, udang, tempe, tahu dan ... macam-macam.

Happy birthday, sayang Puckering Smile
Senyum menghiasi wajah mengantuk yang baru saja bangun tidur. Mama telah menyiapkan kue ulang tahun yang bergaya klasik pagi itu.
Malamnya, pesta sederhana dengan hidangan khas Indonesia. Nasi kuning, ayam panggang, acar kuning, semur laksa, perkedel, udang goreng... hmmm... aku yang jadi berliur sekarang Yowza ups...

Berguru sama mama, bagaimana caranya membuat nastart.
Lihat saja bagaimana seriusnya dia membentuk nastartnya.

Ke pasar ikan di Jimbaran bareng papa, memborong ikan, cumi dan udang.
"Andaikan saja di Eindhoven juga ada pasar ikan yang selengkap ini.." bisik Reinier padaku.
Malamnya?? Sudah tentu ikan bakar menghias meja makan. Selanjutnya... calamaris dengan bier dingin... hmmmm....

Acara membakar sate?? Mana mungkin ketinggalan??? Kompak Reinier dengan papa untuk urusan yang satu ini.

Bersama adikku bareng ke Besakih, tidak ke puranya karena kebetulan sedang ramai dengan prosesi persembayangan.

Puji Tuhan, kebersamaan ini berlangsung dengan mesra.

Ah, masih ingin rasanya terus berlama-lama di Denpasar bersama keluarga di sana.
Namun waktu adalah penguasa.
Ujung liburan telah tiba, saatnya untuk kembali menghadapi kehidupan nyata.

"Kemesraan ini janganlah cepat berlalu...
Kemesraan ini ingin kukenang selalu..."

Orang-orang terkasih, sampai bertemu lagi...
Tuhan menjaga kita.


Bersambung..

Thursday, September 07, 2006

Dari Menjangan sampai Batur. (4)

Catatan perjalanan 4.

Ya, dari pulau Menjangan sampai danau Batur adalah judul jalan-jalan minggu terakhir dalam liburan kemarin.


Karena tidak mau beriring-iringan dengan barisan truk yang selalu padat sepanjang jalur Denpasar - Gilimanuk, kami sengaja mengambil rute sejuk yang menyusuri daerah pegunungan dari Antosari, Tabanan menuju Seririt di pesisir utara pulau Bali. Petanya bisa diklik di sini. Jalan yang tidak terlalu lebar tapi mulus, berliku, naik dan turun gunung, udara yang sejuk dan bebas polusi, dan dihiasi dengan pemandangan yang tak berhenti membuatku berdecak. Tidak banyak kendaraan yang kami temui di jalur ini.

Dari Seririt kami menyusuri sepanjang pesisir utara menuju Bali Barat. Sebelum akhirnya check in di Mimpi resort, kami nyebur lebih dulu di Secret Bay, teluk kecil dan dangkal dekat pelabuhan ferry di Gilimanuk. Teluk Rahasia yang sudah bukan rahasia lagi Hysterical


Suhu air dalam teluk ini termasuk dingin untuk ukuran tropis. Namun daya tarik dari teluk yang lebih sering keruh ini adalah biotanya yang lain dari di perairan yang berkarang dan terbuka. Tipikal muck dive.
Hanya sekali penyelaman di sini. Setelah menghabiskan sekitar 75 menit di dalam air, saat tubuh sudah menggigil kedinginan, kami kembali ke Mimpi Resort Menjangan.

Kami berdua menyukai resort ini, apalagi karena kolam hot spring-nya. Rasanya enak sekali, seluruh otot di tubuh ini menjadi supel setelah berendam beberapa menit dalam air panas alami itu. Pemandangan di sekitar kolam renang, kolam air panas dan kolam renang biasa, juga alami. Berbatasan langsung dengan muara sungai dan teluk kecil Banyuwedang yang dipenuhi dengan pohon-pohon mangrove.
Wah, pokoknya tempat yang asik buat yang mau honeymoon!! Ih.. malah berpromosi jadinya?! Hysterical

Keesokan paginya setelah selesai sarapan, bergegas kami menuju ke pelabuhan perahu Labuan Lalang dengan semua perlengkapan selam kami. Judul hari itu adalah menyelam di sekitar pulau Menjangan. Di Labuan Lalang kami menyewa perahu sekaligus juga membeli tiket masuk kawasan taman nasional Bali Barat. Memakan waktu sekitar 45 menit dari pelabuhan kecil ini menuju ke pulau Menjangan.

My buddy in blue.

He is my best buddy
Love You

Sepotong kecil dari keindahan dunia dalam air di sekitar pulau Menjangan.
Suhu air di sini hampir selalu "hangat", aku hampir selalu kepanasan menyelam di sini, bahkan pernah sekali aku menyelam tanpa mengenakan wetsuit, baju selam, melainkan hanya dengan swimsuit saja. Adem. Untung tidak disengat ubur-ubur atau biota penyengat lainnya Tongue Out


Blennies, jenis ikan yang sangat aku sukai.
Kecil, mungil. Cute bangeet!!!

Selain yang mungil dan cute, kami juga sempat berpapasan dengan yang besar seperti eagle-ray.
Tapi, impianku masih satu, whale shark!! Kapan ya??? Ignoring You


Hanya 2 kali penyelaman yang kami lakukan di sekitar pulau Menjangan.
Waktu di antara penyelaman diisi dengan beristirahat sejenak di daratan pulau ini, sekaligus menikmati makan siang.
Bukan hanya divers lho yang mengunjungi pulau ini. Ada juga pengunjung yang datang untuk snorkling, berenang atau hanya sekedar isenk.


Sayangnya beberapa fasilitas di pulau ini sepertinya tidak terurus.
Aku juga sempat melihat banyak sekali sampah plastik yang bertebaran di sepanjang pantai. Menurut informasi yang aku dapatkan dari salah seorang dive guide di mimpi resort, sampah-sampah tersebut adalah hasil buangan dari ferry-ferry Jawa-Bali yang secara berkala melintasi selat Bali ini. Sementara gabungan dari dive operator di daerah sekitar sana secara berkala sekali dalam 3-4 bulan mengadakan acara bersih-bersih pantai.

Sekali dalam 3-4 bulan... pembersihan pantai, sementara sampah dari kapal mungkin setiap hari dijeblos ke dalam laut Ponder
Wadooouuuhh... Laut masih menjadi tempat sampah raksasa di mata banyak orang.
Kacau!!!


Hari sudah menjelang sore saat kami tiba kembali di Labuan Lalang.
Dari foto di atas terlihat lautnya tenang sekali, padahal dalam perjalanan kembali kami sempat diombang-ambing gelombang karena angin yang bertiup kencang.

Hari berikutnya, tanpa terburu-buru kami bangun.
Matahari bersinar cerah, langit biru membentang... kicau burung, wangi rumput menyambut saat kami meninggalkan kamar menuju ke restaurant di tepi pantai. Pagi yang indah.
Saat sedang menikmati sarapan pagi, aku melihat beberapa group divers yang bersiap-siap menuju ke lokasi penyelaman. Ah... tak bisa ditolak, ada rasa perih yang menggigit tipis di sudut hati. Masih ingin rasanya bercinta dengan lautku, apadaya diri ini sudah berada di ujung vakansi Pouty

Kembali ke Denpasar, tapi sekaligus juga jalan-jalan, kami menyusuri pantai utara sampai tiba di Kubutambahan, belok kanan dan kembali menyusuri jalan pegunungan menuju Kintamani. Ingin melihat keindahan danau Batur walaupun hanya dari jauh.
Agak menyebalkan juga, beberapa papan petunjuk arah/jalan justru berada di dalam rimbunan pepohonan. Tidak terbaca/terlihat jelas.

Selama berada dalam area pegunungan menuju Kintamani ini aroma pekat cengkih sering menyentuh hidung kami. Tidak heran, terlihat banyak sekali pohon cengkih, dan juga jemuran cengkih yang tergeletak di pinggiran jalan menghiasi sepanjang jalan.
Yang lain yang tidak kalah menariknya menghiasi sepanjang jalan ini adalah mangga!! Baik pohonnya, baik penjualnya.
Murah-murah jika dibandingkan dengan harga per kilo di Denpasar, apalagi dengan di Belanda sini!!! Hysterical

Makan siang ala "buffet" di restaurant, lupa apa nama restaurant itu, dengan teras yang memiliki pemandangan gunung dan danau Batur. Dingin juga lama-lama duduk di teras restaurant itu. Makanannya boleh juga, walaupun tidak istimewa. Tapi, peringatan, kopinya... jangan coba-coba disentuh, ugghh...!!!! Bug Eyed

Kami tidak lama menghabiskan waktu untuk menikmati pemandangan di sekitar lokasi ini. Para pedagang "asongan" sungguh sangat mengganggu sekali dengan tawaran-tawaran dan rengekan mereka yang agak memaksa. Sepertinya mereka tidak mengenal arti kata: ng'gak, tidak, senk, no atau NEE!! Crazy
Walaah.. mending kabuuur dah daripada dikeroyok begitu!!


Bersambung..

Friday, September 01, 2006

Surabaya oh Surabaya. (3)

Catatan perjalanan 3.

Setelah mempertimbangkan ini-itu, akhirnya kami memilih untuk menghabiskan 4 hari dalam minggu ketiga di Surabaya, satu dari beberapa lokasi tujuan "jalan-jalan" yang ada dalam daftar kami.
Awalnya kami ingin menggunakan bus dari Denpasar ke Surabaya, dengan gaya backpacker, karena Reinier ingin sekaligus melihat-lihat pemandangan sepanjang perjalanan. Ternyata setelah dicari-cari, dari informasi yang kami peroleh bisa dikatakan tidak ada bis eksekutif pagi yang melayani trayek Denpasar-Surabaya, karena satu-satunya bus eksekutif pagi yang melayani trayek ini juga memiliki jadwal yang tidak jelas. Yang tersedia hanya bus patas. Uh... 'gak janji deh pakai patas lagi setelah pengalaman terakhirku dengan patas enam tahun silam.
Sisanya adalah bis/travel malam.
Wah.. kalau malam, bakalan tidak banyak yang bisa dilihat dari balik jendela.
Akhirnya kami putuskan untuk menggunakan pesawat ke Surabaya.

Di pesawat, dari tempat dudukku bisa aku lihat sayap pesawat yang ternyata ada sekrupnya yang bolong. Wahh...
Sebenarnya sadar 'gak ya teknisi pesawat yang memeriksa kelayakan pesawat sebelum terbang, atau para awak pesawat yang ikut terbang ini?
Atau, bolong satu sekrup sebenarnya tidak ada masalah? Hmm Entahlah..

Tiba di Surabaya kami dijemput oleh Febby, sepupuku. Malamnya kami lewatkan di Kya Kya. Ternyata ada dua Kya Kya sekarang. Sepengetahuanku Kya Kya adalah daerah orang berjualan makanan dengan gerobak sepanjang jalan Kembang Jepun di malam hari. Jalannya sendiri bebas kendaraan kalau sudah malam, dan atas jalan tersebut digelar kursi dan meja untuk para pengunjung. Kya Kya ini juga pekat dengan nuansa oriental.
Aku, dan juga Reinier, lebih menyukai suasana Kya Kya yang lama, yang terletak di jalan Kembang Jepun. Lebih gezellig.

Keesokan paginya setelah brunch, berDim-Sum ria di Tang Palace, JW Marriott Hotel, kami mengunjungi monumen kapal selam. Jadi teringat lagi, kakek guru pada masa mudanya pernah bertugas dalam KRI Pasopati 410 ini. Ah... jadi kangen kakek guru...
Psssst.. jangan tanya ya, apa yang sedang diintip Reinier lewat periskop itu Thinking

Dengan membawa perut yang masih penuh terisi dim-sum, kami melanjutkan acara jalan-jalan hari itu. Febby mengarahkan mobilnya menuju ke House of Sampoerna.
Rasanya setiap orang di Indonesia pasti mengenal Sampoerna, atau setidaknya Dji Sam Soe. Ya, apalagi kalau bukan rokok?

Aroma cengkeh dan tembakau langsung menyambut kami saat memasuki ruangan depan dari bangunan ini. Setelah menghabiskan beberapa menit dalam museumnya yang mungil, adem dan terawat rapi, kami menuju ke lantai dua. Di sana bisa kami lihat dari jendela kaca yang besar kegiatan para pekerja pabrik rokok yang sibuk melinting rokok.
Astaga!!! Sampai terpaku aku melihat kecepatan tangan mereka bekerja. Sampai-sampai pangling. Mereka lebih terlihat seperti mesin yang berbentuk manusia.


Di lantai 2 juga terdapat kamar khusus dimana pengunjung juga bisa langsung mencoba melinting rokok. Lihat saja foto di atas, bagaimana sibuknya Reinier mencoba menggulung rokok.

Hari kedua, setelah selesai brunch dengan nasi kuning Avon, kami bertolak ke Prigen. Taman Safari adalah tujuan kami hari ini. Tentu saja sempat terjebak macet yang panjang di ujung tol gara-gara urusan lumpur panas.


Foto di atas adalah potongan koran yang sempat aku beli saat di Indonesia, yang memuat gambar bagaimana kondisi desa yang terendam lumpur panas di daerah Sidoarjo. Gambar itu hanyalah satu dari sekian korban material dan mental yang dialami oleh penduduk di sana.
Ahh.. kesalahan yang berakibat sangat fatal!
Hingga saat ini, sudah beberapa bulan, lumpur itu masih terus mengalir menggenangi daerah sekitarnya.


Rumah-rumah tua yang masih terlihat sepanjang jalan, merupakan nuansa tersendiri selama perjalanan. Sayangnya kebanyakan rumah-rumah tua ini tidak terpelihara dengan baik.


Memasuki kawasan Prigen, atmosfir yang tadinya panas berangsur-angsur menjadi sejuk, lebih-lebih karena cuaca yang mulai mendung. Pemandangan kiri dan kanan jalan juga mulai berubah, lebih didominasi oleh hijaunya sawah.


Ada untungnya kami ke taman safari tidak pada hari libur. Suasana yang sepi memberikan keleluasaan untuk berhenti mengamati dan mengambil foto-foto satwa di sana, selama kami mau.

Tidak terasa sudah jam 5 sore saat taman safari kami tinggalkan dan bertolak ke Malang.
Di Malang, setelah menjemput Tasya, sepupuku yang lain, sasaran berikutnya adalah toko Oen.
Toko Oen adalah rumah makan yang ada sejak jaman penjajahan Belanda dulu. Suasana tempoe doeloe juga masih dipertahankan di dalamnya. Seragam para pelayannya juga putih-putih dengan model tempoe doeloe. Hanya satu yang kurang, kurang dikanji'in, jadi 'gak kaku mirip seragam jaman kolonial. Sayang, makanannya sendiri tidak istimewa.
Hartono, yang sebentar lagi menjadi suami Febby ikut bergabung dengan kelompok kami beberapa saat kemudian. Ramai jadinya.

Setelah bermalam di villa salah seorang famili Hartono di Batu, kami mengisi jalan-jalan pagi ke wilayah air terjun Coban Rondo. Sudah tentu harus berhenti beberapa kali sepanjang perjalanan gara-gara Since dengan kameranya Smiles
Eiitt... jangan salahkan aku, pemandangan serta hawa yang begitu sejuk dan segar terlalu indah dilewatkan begitu saja.

Kami beruntung, karena suasana di area Coban Rondo sendiri bisa dikatakan sepi. Hanya ada beberapa pengunjung yang bisa dihitung dengan jari-jari tangan. Suasana yang pas untuk menikmati sajian alam.
Gemuruh suara air terjun yang menghantam batu, yang di seling oleh sayup-sayup gemericik air dari celah-celah batu yang mengaliri sungai kecil di sana..
Membiarkan hangat sinar mentari mengelus kulit tubuh. Merasakan semilir angin yang membawa percikan-percikan air menyentuh dingin. Hmmm....

Lapar juga setelah berjalan-jalan, langsung saja kami menyerbu warung Bethania di Batu. Lesehan dengan ayam penyet dan tempe penyet, gurami goreng, kangkung cah dan lalapan serta sambal. Wahhh... kelaparan.. sampai tandas-das seluruh isi piring-piring itu.

Walaupun begitu, Reinier masih menagih janji Febby dan Hartono, makan sate kelinci! Batu kan terkenal juga dengan sate kelincinya. Jadilah mereka makan sate kelinci sebelum balik ke Malang.

Kangen, sudah lama tidak naik becak. Mana ada becak di Bali?
Ujung-ujungnya kami memilih untuk naik becak sebentar di Malang sebelum kembali ke Surabaya. Setidaknya udara Malang masih lebih bersih dan adem untuk berbecak ketimbang di Surabaya.

Sebelum balik ke Surabaya kami juga sempat mendengar bahwa terjadi macet yang parah di daerah Mojokerjo akibat tanggul penahan yang jebol lagi karena tidak bisa menahan resapan air dan lumpur, dan ditutupnya jalan tol. Bahkan ada pengemudi yang sudah terjebak dalam macet tersebut selama 5 jam!!! Wadauooo..!! Bisa-bisa tidak kembali ke Surabaya nih.

Berbekal peta untuk siap-siap mengambil jalan tikus, setikus-tikusnya, jika dibutuhkan, terus memantau laporan setiap perkembangan yang terjadi lewat radio Suara Surabaya, tidak lupa roti, air, dan camilan lainnya, kami membulatkan tekad untuk maju terus.
Puji Tuhan, macet yang kami alami hanya sekitar 30 menit dan jalan tol yang tadinya ditutup kembali dibuka tidak lama setelah kami berada di daerah sekitar sana.
Malamnya, sebelum kembali ke rumah Febby, kami bahkan masih sempat ber-ice cream ria di Sangrandi.

Hari terakhir, berhubung penerbangan kami kembali ke Denpasar jam 7 malam, kami masih memiliki waktu sepanjang pagi, siang dan sore untuk merambah kota Surabaya.
Kali ini Felicia, adik Febby, yang baru saja menyelesaikan masa ujiannya sepanjang minggu, ikut bergabung dengan kami.

Mobil diarahkan ke kawasan wisata Kenjeran, ah rupanya kami diajak melihat vihara Sanggar Agung. Febby yang bertindak sebagai guide kami selama di Surabaya dan sekitarnya ini menjelaskan, kalau patung dewi Kwang Im yang besar itu terbuat dari emas. Tadinya masih berwarna kuning emas sebelum kemudan dilapisi dengan adonan putih itu.

Febby, Hartono, Reinier, aku, dan Felicia, dengan latar belakang Budha berwajah empat.

Dari kawasan Kenjeran kami bertolak ke, tentu saja, pasar Atom. Surabaya belum komplit tanpa pasar Atom bukan?
Setelah berkeliling, makan dan membeli pernak-pernik ini itu, sekaligus memburu beberapa perlengkapan kamera, tiba saatnya kami harus menuju ke bandara.

Empat hari, memang terlalu singkat.

Thanks berat buat Febby, Felicia dan Hartono. Thanks berat buat waktu yang sudah kalian luangkan dan juga fasilitas-fasilitas yang sudah disediakan untuk kami.
Thanks untuk keramahan dan kehangatan ini.

Thumbs Up Kisses

Bersambung..