Catatan perjalanan 3.Setelah mempertimbangkan ini-itu, akhirnya kami memilih untuk menghabiskan 4 hari dalam minggu ketiga di Surabaya, satu dari beberapa lokasi tujuan "jalan-jalan" yang ada dalam daftar kami.
Awalnya kami ingin menggunakan bus dari Denpasar ke Surabaya, dengan gaya backpacker, karena Reinier ingin sekaligus melihat-lihat pemandangan sepanjang perjalanan. Ternyata setelah dicari-cari, dari informasi yang kami peroleh bisa dikatakan tidak ada bis eksekutif pagi yang melayani trayek Denpasar-Surabaya, karena satu-satunya bus eksekutif pagi yang melayani trayek ini juga memiliki jadwal yang tidak jelas. Yang tersedia hanya bus patas. Uh... 'gak janji deh pakai patas lagi setelah pengalaman terakhirku dengan patas enam tahun silam.
Sisanya adalah bis/travel malam.
Wah.. kalau malam, bakalan tidak banyak yang bisa dilihat dari balik jendela.
Akhirnya kami putuskan untuk menggunakan pesawat ke Surabaya.

Di pesawat, dari tempat dudukku bisa aku lihat sayap pesawat yang ternyata ada sekrupnya yang bolong. Wahh...
Sebenarnya sadar 'gak ya teknisi pesawat yang memeriksa kelayakan pesawat sebelum terbang, atau para awak pesawat yang ikut terbang ini?
Atau, bolong satu sekrup sebenarnya tidak ada masalah?

Entahlah..

Tiba di Surabaya kami dijemput oleh Febby, sepupuku. Malamnya kami lewatkan di Kya Kya. Ternyata ada dua Kya Kya sekarang. Sepengetahuanku Kya Kya adalah daerah orang berjualan makanan dengan gerobak sepanjang jalan Kembang Jepun di malam hari. Jalannya sendiri bebas kendaraan kalau sudah malam, dan atas jalan tersebut digelar kursi dan meja untuk para pengunjung. Kya Kya ini juga pekat dengan nuansa oriental.
Aku, dan juga Reinier, lebih menyukai suasana Kya Kya yang lama, yang terletak di jalan Kembang Jepun. Lebih
gezellig.

Keesokan paginya setelah brunch, berDim-Sum ria di Tang Palace, JW Marriott Hotel, kami mengunjungi
monumen kapal selam. Jadi teringat lagi, kakek guru pada masa mudanya pernah bertugas dalam KRI Pasopati 410 ini. Ah... jadi kangen kakek guru...
Psssst.. jangan tanya ya, apa yang sedang diintip Reinier lewat periskop itu


Dengan membawa perut yang masih penuh terisi dim-sum, kami melanjutkan acara jalan-jalan hari itu. Febby mengarahkan mobilnya menuju ke
House of Sampoerna.
Rasanya setiap orang di Indonesia pasti mengenal Sampoerna, atau setidaknya Dji Sam Soe. Ya, apalagi kalau bukan rokok?
Aroma cengkeh dan tembakau langsung menyambut kami saat memasuki ruangan depan dari bangunan ini. Setelah menghabiskan beberapa menit dalam
museumnya yang mungil, adem dan terawat rapi, kami menuju ke lantai dua. Di sana bisa kami lihat dari jendela kaca yang besar kegiatan para pekerja pabrik rokok yang sibuk melinting rokok.
Astaga!!! Sampai terpaku aku melihat kecepatan tangan mereka bekerja. Sampai-sampai pangling. Mereka lebih terlihat seperti mesin yang berbentuk manusia.

Di lantai 2 juga terdapat kamar khusus dimana pengunjung juga bisa langsung mencoba melinting rokok. Lihat saja foto di atas, bagaimana sibuknya Reinier mencoba menggulung rokok.
Hari kedua, setelah selesai brunch dengan nasi kuning Avon, kami bertolak ke Prigen. Taman Safari adalah tujuan kami hari ini. Tentu saja sempat terjebak macet yang panjang di ujung tol gara-gara urusan lumpur panas.

Foto di atas adalah potongan koran yang sempat aku beli saat di Indonesia, yang memuat gambar bagaimana kondisi desa yang terendam lumpur panas di daerah Sidoarjo. Gambar itu hanyalah satu dari sekian korban material dan mental yang dialami oleh penduduk di sana.
Ahh.. kesalahan yang berakibat sangat fatal!
Hingga saat ini, sudah beberapa bulan, lumpur itu masih terus mengalir menggenangi daerah sekitarnya.

Rumah-rumah tua yang masih terlihat sepanjang jalan, merupakan nuansa tersendiri selama perjalanan. Sayangnya kebanyakan rumah-rumah tua ini tidak terpelihara dengan baik.

Memasuki kawasan Prigen, atmosfir yang tadinya panas berangsur-angsur menjadi sejuk, lebih-lebih karena cuaca yang mulai mendung. Pemandangan kiri dan kanan jalan juga mulai berubah, lebih didominasi oleh hijaunya sawah.

Ada untungnya kami ke taman safari tidak pada hari libur. Suasana yang sepi memberikan keleluasaan untuk berhenti mengamati dan mengambil foto-foto satwa di sana, selama kami mau.

Tidak terasa sudah jam 5 sore saat taman safari kami tinggalkan dan bertolak ke Malang.
Di Malang, setelah menjemput Tasya, sepupuku yang lain, sasaran berikutnya adalah toko Oen.
Toko Oen adalah rumah makan yang ada sejak jaman penjajahan Belanda dulu. Suasana tempoe doeloe juga masih dipertahankan di dalamnya. Seragam para pelayannya juga putih-putih dengan model tempoe doeloe. Hanya satu yang kurang, kurang dikanji'in, jadi 'gak kaku mirip seragam jaman kolonial. Sayang, makanannya sendiri tidak istimewa.
Hartono, yang sebentar lagi menjadi suami Febby ikut bergabung dengan kelompok kami beberapa saat kemudian. Ramai jadinya.
Setelah bermalam di villa salah seorang famili Hartono di Batu, kami mengisi jalan-jalan pagi ke wilayah air terjun Coban Rondo. Sudah tentu harus berhenti beberapa kali sepanjang perjalanan gara-gara Since dengan kameranya

Eiitt... jangan salahkan aku, pemandangan serta hawa yang begitu sejuk dan segar terlalu indah dilewatkan begitu saja.

Kami beruntung, karena suasana di area
Coban Rondo sendiri bisa dikatakan sepi. Hanya ada beberapa pengunjung yang bisa dihitung dengan jari-jari tangan. Suasana yang pas untuk menikmati sajian alam.
Gemuruh suara air terjun yang menghantam batu, yang di seling oleh sayup-sayup gemericik air dari celah-celah batu yang mengaliri sungai kecil di sana..
Membiarkan hangat sinar mentari mengelus kulit tubuh. Merasakan semilir angin yang membawa percikan-percikan air menyentuh dingin. Hmmm....

Lapar juga setelah berjalan-jalan, langsung saja kami menyerbu warung Bethania di Batu. Lesehan dengan ayam penyet dan tempe penyet, gurami goreng, kangkung cah dan lalapan serta sambal. Wahhh... kelaparan.. sampai tandas-das seluruh isi piring-piring itu.
Walaupun begitu, Reinier masih menagih janji Febby dan Hartono, makan sate kelinci! Batu kan terkenal juga dengan sate kelincinya. Jadilah mereka makan sate kelinci sebelum balik ke Malang.

Kangen, sudah lama tidak naik becak. Mana ada becak di Bali?
Ujung-ujungnya kami memilih untuk naik becak sebentar di Malang sebelum kembali ke Surabaya. Setidaknya udara Malang masih lebih bersih dan adem untuk berbecak ketimbang di Surabaya.
Sebelum balik ke Surabaya kami juga sempat mendengar bahwa terjadi macet yang parah di daerah Mojokerjo akibat tanggul penahan yang jebol lagi karena tidak bisa menahan resapan air dan lumpur, dan ditutupnya jalan tol. Bahkan ada pengemudi yang sudah terjebak dalam macet tersebut selama 5 jam!!! Wadauooo..!! Bisa-bisa tidak kembali ke Surabaya nih.
Berbekal peta untuk siap-siap mengambil jalan tikus, setikus-tikusnya, jika dibutuhkan, terus memantau laporan setiap perkembangan yang terjadi lewat radio Suara Surabaya, tidak lupa roti, air, dan camilan lainnya, kami membulatkan tekad untuk maju terus.
Puji Tuhan, macet yang kami alami hanya sekitar 30 menit dan jalan tol yang tadinya ditutup kembali dibuka tidak lama setelah kami berada di daerah sekitar sana.
Malamnya, sebelum kembali ke rumah Febby, kami bahkan masih sempat ber-ice cream ria di Sangrandi.
Hari terakhir, berhubung penerbangan kami kembali ke Denpasar jam 7 malam, kami masih memiliki waktu sepanjang pagi, siang dan sore untuk merambah kota Surabaya.
Kali ini Felicia, adik Febby, yang baru saja menyelesaikan masa ujiannya sepanjang minggu, ikut bergabung dengan kami.

Mobil diarahkan ke kawasan wisata Kenjeran, ah rupanya kami diajak melihat vihara Sanggar Agung. Febby yang bertindak sebagai guide kami selama di Surabaya dan sekitarnya ini menjelaskan, kalau patung dewi Kwang Im yang besar itu terbuat dari emas. Tadinya masih berwarna kuning emas sebelum kemudan dilapisi dengan adonan putih itu.

Febby, Hartono, Reinier, aku, dan Felicia, dengan latar belakang Budha berwajah empat.
Dari kawasan Kenjeran kami bertolak ke, tentu saja, pasar Atom. Surabaya belum komplit tanpa pasar Atom bukan?
Setelah berkeliling, makan dan membeli pernak-pernik ini itu, sekaligus memburu beberapa perlengkapan kamera, tiba saatnya kami harus menuju ke bandara.
Empat hari, memang terlalu singkat.
Thanks berat buat Febby, Felicia dan Hartono. Thanks berat buat waktu yang sudah kalian luangkan dan juga fasilitas-fasilitas yang sudah disediakan untuk kami.
Thanks untuk keramahan dan kehangatan ini.
Bersambung..