Saturday, January 28, 2006

Boot Düsseldorf

Sabtu ini kami habiskan di pameran kapal tahunan di Düsseldorf, Jerman. Boot Düsseldorf, merupakan sebuah pameran raksasa, mulai dari rubber boat, canoe, sepeda air, sekuter air, speedboat, yacht, catamaran sampai powerboat mewah yang sepanjang 41meter!!! Dari yang sederhana sampai yang mewah, dari yang "cute" sampai yang "serius" kesannya, dari yang klasik sampai yang modern. Dari yang kecepatannya pakai tenaga manusia, tenaga angin, sampai Formula 1 yang berkecepatan super. Lengkap!!



Bukan hanya kapal yang bisa ditemukan di sana, tapi semua pernak-pernik kapal, mulai dari tali, jangkar, berbagai mesin kapal dan aksesorisnya, mebel dan dekorasi ruang lainnya, layar dan bahan dasarnya, radar, GPS navigation system, serta peralatan lainnya yang asing bagi saya. Juga ada jaket, sepatu, kaos, kemeja, dasi, sweater, topi, tas, bikini dan perlengkapan lainnya yang berhubungan dengan "how do I look" di kapal.
Juga perlengkapan di marina, water tourism, counter-counter penyewa kapal, counter-counter penyedia marina, sampai sekolah dan kursus yang berhubungan dengan pelayaran ini.



Pameran ini tidak hanya tentang kapal, melainkan juga tentang berbagai aktifitas yang berhubungan dengan air.
Ada hall khusus untuk urusan memancing yang lengkap dengan segala perabotannya. Hall ini karena tidak terlalu menarik perhatian kami, terlewat begitu saja. Ada hall yang isinya hanya melulu yang berhubungan dengan selancar. Hall ini juga tidak banyak menarik perhatian kami.
Hall yang menarik perhatian kami adalah hall yang isinya segala macam pernak-pernik selam. Hall ini menyita sebagian besar waktu kami.

Mulai dari iseng melihat-lihat tawaran paket liburan ke segala penjuru dunia, Indonesia (sudah pasti), Malaysia, Thailand, Philiphina, Australia, Maldives, pulau-pulau di Pasifik, Laut Merah, Karibia, sampai yang di sekitar Eropa sini. Wah... sampai ileran... Tongue Out 2 saya harus menahan hati saat melihat brosur-brosur itu. Beberapa tempat yang ditawarkan adalah lokasi-lokasi impian saya. Harus cepat-cepat dapat pekerjaan nih biar tabungan liburan bisa tambah padat Prayer

Kemudian dilanjut dengan acara masuk keluar counter-counter yang menjual peralatan selam. Membanding-bandingkan harga di antara counter-counter tersebut, akhirnya dapat satu set regulator untuk saya. Regulator, bahasa mudahnya, adalah sebuah alat, yang terhubung dengan selang, yang dipasang di keran tabung udara untuk menurunkan tekanan udara yang tinggi di dalam tabung sampai ke tekanan yang sesuai dengan permintaan si penyelam saat bernapas.

Asyik jalan-jalan, kami tiba di counter buku. Karena tertarik pada sebuah buku yang super tebal yang memuat foto-foto ikan, singgahlah saya di counter tersebut untuk melihat buku tersebut secara dekat. Waah... benar-benar sebuah buku yang okee punya!!! "World Atlas of Marine Fishes", yang berisikan 4200 spieces ikan dengan 6000 foto!! Astaga... sampai berkunang-kunang mata saya saking terpesona dengan isi buku itu. Saat dicek harganya, buku seberat 3,5kg ini didiskon 20%. Lumayan, tapi masih mahal juga. Reinier hanya terbahak melihat tingkah dan ekspresi saya saat itu. Wahhh.. ini sih nyaris orgasme namanya!!! Tak bisa menahan lagi, akhirnya direlakanlan jatah winkelen untuk membeli buku ini Lol
Tak mengapalah.. Iman saya memang lemah kalau melihat buku bagus. Kebetulan juga saat itu salah satu author buku ini, Helmut Debelius, juga sedang berada di counter itu, langsung saja ditodong tanda tangannya.

Dari hall urusan selam, kami masih menyempatkan diri untuk melihat beberapa hall lainnya. Tapi karena kaki sudah penat dan beban bawaan yang lumayan juga beratnya, kami tidak terlalu banyak menaruh perhatian secara detail lagi. Hanya sekedar ingin tahu apa isi hall itu.



Saat melewati hall yang berisikan kapal-kapal mewah, saya hanya bisa tersenyum dan melotot melihat harga-harga kapal-kapal itu. Untung saja saya tidak pernah bercita-cita atau bermimpi untuk memiliki sebuah kapal Hysterical

Berjalan menyusuri kompleks pameran raksasa ini bikin teler juga. Pulang aaah...

Tuesday, January 24, 2006

Kejutan...

Berakhir pekan di Roma? Ya, itu kejutan dari Reinier minggu kemarin pada saya, untuk setahun usia perjalanan kami bersama. Saya sempat ternganga mendengarnya. "Hah?? Roma?? Wiken besok?" Antara senang dan sebal. Sebal, karena saya bukan tipe orang yang menyukai kejutan. Sudah cukup banyak kejutan yang saya dapatkan dari hidup itu sendiri. Senang, kerena usahanya itu.

Alhasilnya, Jumat siang kami berangkat dari airport di Eindhoven. Jadi berandai-andai... andaikan penerbangan ke Indonesia juga bisa langsung dari Eindhoven sini, tanpa harus ke Schiphol atau kota-kota lainnya lebih dulu..

Tiba di Roma sekitar pukul setengah lima sore. Setelah menaruh barang-barang bawaan di hotel, tanpa menunggu lama kami langsung berkeliling. Lapar mata dan lapar perut. Tujuan pertama, Piazza di Spagna - Spain square. Sayangnya kami hanya bisa melihat tangganya saja. Gerejanya sendiri sedang direnovasi. Berhubung ini perut mulai berkuluyuk, kami singgah di salah satu pizzeria di sekitar square ini.
Sebelum kembali ke hotel, kami singgah sebentar di Colosseum dan Piazza Venezia untuk menikmati bangunan-bangunan ini bermandikan cahaya lampu.

Keesokan paginya kami kembali menyusuri kota ini. Kali ini kami menuju Fontana di Trevi, menurut hikayat, kalau kita melemparkan koin ke dalam kolam ini, suatu hari nanti kita pasti akan kembali lagi ke Roma Thinking Terlepas dari percaya atau tidak, toch iseng kami melakukannya juga. Yang unik di sini, ada sepasang pemancing yang sibuk memancing di kolam ini. Jangan salah bukan ikan yang dicari, melainkan koin!!! Ujung pancingannya itu bukan kait, melainkan magnet kecil ShockedKira-kira berapa ya yang bisa mereka kumpulkan dalam sehari?


Fontana di Trevi

Dari sana kami singgah di Pantheon, bekas kuil pemujaan dewa-dewa orang Romawi sebelum akhirnya dipakai sebagai gereja. Di kubah bangunan ini terdapat lubang (oculus - mata), dimana sinar matahari bisa masuk ke dalam ruangan di dalam kubah ini. Sayang, tripod tidak diijinkan dipakai dalam ruangan.

Sebelum menuju ke Vatikan, kami melewatkan waktu sebentar di piazza Navona untuk menikmati secangkir cappuccino. Begitu tiba di Vatikan, astaga.. antrian orang-orang yang ingin masuk ke St. Peter's basilica panjang sekali. Padahal sekarang sedang musim dingin, tapi antrian orang-orang itu benar-benar.. wah!!! Rasanya, saya tidak setabah dan sekeukeuh itu, berdiri berjam-jam dalam antrian panjang.

Karena tidak mau menghabiskan waktu berdiri di dalam antrian itu, kami putuskan untuk kembali sore nanti, mungkin saja antriannya makin pendek.
Forum Romanum, salah satu kompleks puing-puing reruntuhan bangunan Romawi, dan Colosseum adalah tujuan selanjutnya.
Berdiri di sana membuat saya tidak habis berpikir bagaimana dan berapa lama waktu yang dibutuhkan saat itu untuk membangun bangunan-bangunan raksasa itu, dan berapa jiwa yang dikorbankan untuk semua itu? Terlebihi saat berdiri di Colosseum. Berapa banyak darah yang membasahi arena itu? Seberapa gempita suara orang-orang yang menikmati pertunjukan berdarah di sana? Sebuah kejayaan atau kekejaman? Kejayaan manusia berakhir dalam waktu, tapi kekejaman manusia, berakhir dalam waktu juga kah?


Colosseum, Rome

Sorenya kami kembali ke Vatikan. Dugaan kami benar, antrian yang ada sudah sangat pendek, kami hanya butuh sekitar 10 menit berdiri di sana.
Melangkah di dalam St. Peter's basilica adalah melangkah dalam sebuah sajian kemewahan. Sentuhan seni ada di setiap pori-pori ruangan ini. Saya hanya bisa berdecak kagum...

Memanjakan lidah? Sudah tentu tidak ketinggalan. Pizza, pasta, rissoto, cappuccino, expresso yang pekat dan kental dan gelati (ice cream). Diet boleh ditunda untuk sementara Smiles
Tapi yang menyebalkan adalah di beberapa restoran, kami harus membayar peralatan makan (piring, sendok, garpu dan gelas) yang kami gunakan. Tentu saja di semua restoran, semua peralatan tersebut sudah secara otomatis dihitung dengan harga makanan. Tapi kalau ditulis terpisah sebagai biaya penggunaan peralatan makan di bon, sudah tentu sangat menjengkelkan.


St. Peter's basilica, Vatican

Minggu pagi kami kembali ke Eindhoven.
Ah, masih ada banyak tempat yang ingin kami kunjungi, namun akhir pekan hanyalah sebuah waktu yang singkat untuk merambah jejak-jejak masa lalu di kota itu.
Tidak banyak foto yang saya tampilkan kali ini. Namun foto-foto bisa diklik di sini atau di My Gallery.

Bride & Groom

Waktu berlalu tanpa terasa. Setahun sudah kami melangkah bersama. Usia yang masih sangat muda. Namun selama setahun ini banyak sudah yang kami pelajari untuk saling mengerti dan menyesuaikan. Semoga kami menjadi semakin kuat lewat waktu dan terus bertahan saat badai menerpa.

"Bantu kami ya Tuhan. Bimbing langkah kami dan kuatkan kami."

Wednesday, January 18, 2006

Gatal oh gatal...

Gatal sudah menjadi "teman" saya selama bertahun-tahun. Walaupun tidak disukai, dia selalu setia mengunjungi saya. Walaupun sudah diusir, dia tidak perduli dan sakit hati, dia selalu kembali dan kembali menghiasi lembaran hidup saya. Haruskah saya membencinya, atau sebaliknya, haruskah saya berdamai dengannya? Tapi bagaimana?

Sejak kecil, kulit saya paling tidak tahan dengan gigitan nyamuk dan agas. Gatalnya mana tahan. Sementara saya senang bermain di alam terbuka dan saya paling tidak suka dengan obat nyamuk, baik itu semprot, yang dioleskan di kulit, apalagi obat nyamuk bakar. Yang menjadi langganan saya hanyalah minyak kayu putih. Itupun tak menolong banyak. Ada masa di mana kulit kaki saya mirip dengan kulit telur burung puyuh, penuh dengan bercak-bercak kecoklatan, hasil pekerjaan para nyamuk dan agas-agas itu.

Kata orang darah saya manis, makanya nyamuk dan agas senang memangsa saya. Kata orang saya harus banyak makan makanan yang pahit-pahit, supaya darah saya juga menjadi pahit, sehingga serangga-serangga penghisap darah itu tidak doyan lagi memangsa saya Hmm Hmmm... ya sudah, saya coba saja. Untungnya saya termasuk pemakan sayur, sehingga tidak bermasalah melahap bangsa sayur-sayuran ini.
Tidak tahu benar atau tidak teori itu, lama-kelaman nyamuk-nyamuk yang memangsa saya makin berkurang. Entah jumlah nyamuknya yang makin berkurang atau rasa darah saya menjadi tidak enak bagi mereka. Yang pasti, kalau agas, mereka pasti punah karena lingkungan tempat tinggal mereka, semak-semak dan rerumputan, dihancurkan oleh manusia atas nama pembangunan Annoyed And Disappointed

Saat saya mulai aktif di dunia selam, gatal kembali menggoda saya. Bukan, bukan karena hewan laut, melainkan karena kulit saya ternyata sensitif terhadap neoprene (bahan untuk baju selam). Saya tidak bisa lama mengenakan baju selam yang lembab (setelah naik dari laut). Jika terlambat saya melepaskan baju selam saya itu, maka beberapa jam kemudian gatal mulai berpesta pora. Kadang-kadang kalau sudah sangat mengganggu, maka incidal adalah jawabannya. Tapi toch saya tidak mampu melepaskan dunia saya yang satu itu, walaupun harus sering bertemu dengan si gatal.

Sekarang, setelah saya pindah ke sini, otomatis saya tidak bisa sesering dulu terjun ke dalam laut. Tapi itu tidak berarti tidak ada alasan untuk gatal mengunjungi saya. Dia selalu memiliki alasan menghampiri saya, terutama saat musim dingin seperti sekarang. Apalagi sekarang? Suhu yang dingin dan udara yang kering membuat kelembaban kulit saya berkurang banyak, itulah alasannya. Beberapa kali dalam sehari saya harus membalut kulit saya dengan pelembab yang creamy, jenis pelembab yang tidak pernah saya sentuh saat di tanah air dulu. Jika saja saya lupa atau terlambat memberikan pelembab, terlebihi saat malam, maka berpesta-poralah si gatal.

Ah gatal... setelah sekian tahun saling mengenal, tetap saja saya tidak bisa menyukainya.
Katakan bagaimana saya bisa menyukainya seperti dia menyukai diri saya?

Friday, January 13, 2006

Sushi di Restoran Kita

Restoran Kita? Ya, Restoran Kita adalah nama yang kami berikan pada dapur kami. Cool
Karena di Belanda tidak semudah di tanah air untuk memanjakan lidah dengan makanan enak, bukannya tidak ada makanan enak di sini, tapi urusan merongoh sakunya itu bisa bikin bangkrut kalau keseringan makan di luar, kami lebih sering bereksperimen di dapur kami. Hasilnya tidak kalah dari restoran, urusan kocek, jauh lebih hemat.

Berawal dari celetukan saya seminggu yang lalu, tentang kerinduan saya pada Ryoshi, restoran Jepang di Bali, semalam berbekal sushi kit yang dibeli di SangLee, supermarket asia di Eindhoven sini, mulailah Reinier dengan eksperimennya di laboratorium, eh.. dapur maksud saya.
Beginilah gaya Reinier di dapur. Serius!! Big Smile


Reinier, serious with his sushi.

Hasilnya? Lihat saja langsung di foto. Rapi.
Yah, isinya tidak pas di tengah, tidak masalah kan?
Rasanya? Hmm... bukan sekedar memuji, tapi benar-benar enak boo. Saya sampai lupa akan ikrar diet yang sudah saya buat minggu lalu. Blushy Ups...
Koki yang satu ini benar-benar bikin takjub dengan hasil dari pengalaman pertamanya bikin sushi. Kisses


Sushi from "Restaurant Kita".

Dan si Since apa yang dia lakukan selain makan? Wah.. dia bikin aka miso soup (soybean soup).
Rebus air, mendidih, tuangkan bubuk dari kemasannya, aduk, selesai. Hysterical

Murah meriah, masih tetap menjadi idola saya. Tapi tumpukan piring kotor itu... sama sekali bukan idola saya Sickened Maklum saja, afwasmachine-nya masih bermerek Since dan Reinier Hysterical

Monday, January 09, 2006

Hari ke-8 tahun 2006

Astaga... Shocked itu reaksi saat berdiri di atas timbangan kemarin . Wah padahal saat jeans saya mulai terasa sesak sejak beberapa hari yang lalu, sudah saya bela-belain katakan pada diri saya, ah mungkin air cuciannya terlalu panas, jeans-nya jadi mengerut. Happy Ah, ternyata... penumpukan lemak memang tidak bisa berbohong... Blushy Problem yang selalu menjadi langganan saya saat masa natal dan tahun baru berlalu
Saat berpesta sudah selesai. Saatnya tiba untuk berhenti memanjakan lidah dan menggiatkan diri membakar kalori. Hup.. hup.. hup.. tu.. wa.. tu.. wa..
Sit Up Push Up Jumping Rope Squats
Karena matahari yang bersinar cerah hari Minggu kemarin, setelah Reinier mewujudkan permintaan saya untuk membuat rak tambahan di dapur, kami memutuskan untuk bersepeda sebentar. Sudah lama kami tidak berkeliling dengan sepeda berduaan.
Udara dingin (sekitar 2°C) di luar tidak menyurutkan niat kami. Setelah mengenakan jaket tebal, shall dan muts dimulailah trip kecil ini.



Wandelpark Philips de Jongh, west Eindhoven

Ternyata, rencana yang tadinya benar-benar hanya sebentar, pelaksanaannya malah jauh dari sebentar. kami malah iseng mengintari rute bersepeda yang ada. Udara yang dingin malah terasa adem saat bersepeda. Di samping itu, kami juga terbuai dengan keindahan yang disajikan alam. Tentu saja warna yang berbeda dari yang kami temui saat musim semi dan musim panas.



Somewhere close to Eindhoven airport.

Tidak terasa kami bersepeda selama hampir dua setengah jam dengan total kilometer kira-kira 20km. Benar-benar di luar rencana. Hitung-hitung membakar kalori kan? Tapi... pantat saya jadi keram begini Doofus

Ah ya, pada foto-fotonya tidak terlihat musim dinginnya ya, malah terlihat seperti di musim gugur. Yah, Belanda tidak selalu tertutup salju saat musim dingin. Dan kalaupun turun salju, tidak semua tempat kebagian.

Wednesday, January 04, 2006

Antara saya dan membaca

Reading

Membaca buku adalah bagian dari hidup saya. Penyebabnya adalah papa saya. Saat saya kecil dulu, papa selalu menaruh saya di pangkuannya dan membaca cerita-cerita dari majalah Bobo atau komik anak-anak lainnya. Saya sangat terbuai dengan cerita-ceritanya. Tapi saat saya duduk di kelas 1 SD dan mulai belajar membaca, papa menolak untuk membacakan cerita-cerita tersebut untuk saya. "Kamu kan sudah belajar membaca. Sudah saatnya kamu membaca sendiri cerita-cerita itu!". Saat itu saya sempat sedih dan marah. Tapi papa kemudian menggoda saya dengan membelikan sebuah buku cerita yang kelihatan mewah bagi anak berumur 7 tahun pada saat itu. Sebuah buku bersampul tebal dengan kertas yang licin dan gambar-gambar yang indah dan berwarna. Saya masih ingat judul buku itu, Peter Pan. Buku itu adalah seolah-olah harta yang sangat berharga bagi saya. Entah berapa puluh kali saya membaca buku itu dan mengagumi gambar-gambar di dalamnya, dan tidak seorangpun saya ijinkan untuk menyentuh harta karun saya itu Lol

Dari Bobo, Peter Pan beranjak ke Donald bebek dan H. C. Andersen. Kemudian naik ke jenjang lebih tinggi, serial dari Enid Blyton dan Alfred Hitchcock, Anita dan Hai. Perkembangan musik era 80-an saya lahap lewat Hai. Kemudian Kho Ping Hoo mewarnai hari-hari saya. Wah.. sampai kecanduan. Pernah satu set serial Kho Ping Hoo dibakar papa, gara-gara ketahuan saya mengabaikan peringatannya dan sama sekali tidak belajar saat ujian semesteran, malah asik dengan Kho Ping Hoo itu. Ya, papaku memang tegas.

Namun jika saya mengingat masa-masa itu, serial Petualangan dari Enid Blyton dan cerita-cerita kepahlawanan bangsa Indian adalah cerita-cerita yang sangat menghanyutkan saya. Pernah adik laki-laki saya meminjam serial Old Shutterhand and Winnetou dari temannya khusus untuk saya.

Kemudian cerita bergambar dari Jepang merambah pasaran buku di Indonesia. Doraemon, Candy-candy, Maya Kitajima sampai yang terakhir Shin-chan. Untung saja adik perempuan saya juga sama gilanya dengan saya menyangkut buku, jadinya kami bisa saling bergilir untuk membeli buku-buku tersebut.
Sayangnya adik saya ini tidak tertarik dengan novel, sehingga untuk urusan ini harus saya tangani sendiri.

Saat di Bali saya menjadi lebih selektif dalam membeli buku. Asian diver, Harry Potter, Shin-chan (yang selalu bisa bikin saya terpingkal-pingkal), kadang-kadang Cosmopolitan (kalau sedang isenk), dan beberapa novel lainnya. Yang pasti harus selalu ada sesuatu untuk dibaca.

Saat pindah ke sini, tidak lupa juga saya siapkan beberapa novel baru dalam tas saya. Sayangnya kapasitas untuk membawa buku sangat terbatas, dan untuk melahap buku-buku tersebut tidak membutuhkan waktu yang lama. Saya kangen Asian diver, tapi kalau mau berlangganan dari sini, aduh mak, bisa bangkrut saya.

Karena membaca via dunia internet tidak bisa memenuhi kebutuhan saya akan buku, saya mulai mencari-cari buku/majalah yang menarik bisa saya baca. Iseng saya ambil National Geographic dari rak majalah di supermarket. Setidaknya walaupun dalam edisi bahasa Belanda, foto-foto dalam majalah ini bagus-bagus. Dan, setidak-tidaknya karena penasaran dengan cerita dalam foto-foto itu saya mencoba membaca teks-teks kecil tentang foto-foto tersebut dengan bermodal 2 kamus di depan saya. Sudah pasti mengerti teks-teks di dalam tersebut tidak mudah bagi saya yang bahasa Belanda-nya masih parah begini Confused Untung ada kamus lengkap saya yang bermerek Reinier Happy

Dan ternyata keisengan saya membeli National Geographic membuat Reinier mengambil inisiatif untuk berlangganan majalah ini. Dan karenanya kami bisa memilih salah satu paket selamat datangnya, dan kami memilih buku "Mensen In Hun wereld" sebagai hadiahnya.

Dan pada ulang tahun saya bulan lalu, saya juga memperoleh sebuah buku sebagai kado dari teman-teman sekelas saya. Sebuah buku foto "Wide Angle - National Geographic - Greatest places". Buku ini memuat foto-foto koleksi dari National Geographic.

Dan akhir tahun kemarin Reinier memperoleh sebuah kalender cantik, juga dari National Geographic, dari bos departemennya. Wah... minggu-minggu ini jadi bernuansa National Geographic.

Ada senangnya, namun juga ada sebelnya buat saya. Senang karena memperoleh 2 buku cantik dan 1 kalender yang juga cantik secara gratis. Namun sebel karena saya jadi harus "berpikir" selama membaca buku-buku ini. Sementara saya lebih menikmati bacaan saya jika saya dapat terhanyut dalam cerita yang ada tanpa harus menerjemahkan apa yang sedang saya baca Doofus

Ah.. mudah-mudah akan datang waktunya di mana saya mampu membaca buku-buku ini semudah saya membaca dalam bahasa Indonesia. Mungkinkah? Yah... namanya juga mudah-mudahan..