Wednesday, October 21, 2009

Poland; Pernikahan

Catatan perjalanan 4.

Ini dia tujuan kami ke Poland, untuk menghadiri pernikahan Kasia, gadis Poland yang merupakan satu dari teman baik saya.

Kami langsung disambut hangat begitu tiba di villa orang tua Kasia di Przyszowa, sebuah desa kecil yang indah di daerah perbukitan dengan satu gereja Katolik, satu supermarket, tiga toko, satu beauty salon dan satu bengkel di pusat desa.

Przyszowa... ya.. saya sering mengalami kesulitan menyebut nama-nama tempat di Poland, yang menyebabkan begitu sering kami harus terpingkal-pingkal di mobil. Penyebabnya adalah karena kami tidak menggunakan GPS navigation dan sering kali kami mengambil jalan-jalan pedesaan, saya selalu duduk sebagai navigator di samping Reinier. Begitu kami melewati suatu tempat dalam rute kami, Reinier akan bertanya, kota berikutnya? atau selanjutnya? Maka jawaban saya... hmmmm... sebenarnya sih saya tau arah kita, tapi saya tidak bisa menyebutnya.. Pokoknya lihat saja di papan itu mulai dengan Z dan berakhir dengan WICE. Katakanlah bagaimana saya harus menyebut Zdzieszowice atau Pszczyna? Kadang untuk mempermudahkan, kiri kiri, pokoknya lurus saja, kanan... ups.. maksud aku kanan yang sebelah sana. Smiles Belepotan nih navigatornya. Kadang kami harus berhenti sebentar untuk memperjelaskan pada si juru mudi kota apa yang saya maksudkan!!

Berhubung saat itu di luar musim liburan, camping site yang ada di sekitar sana kosong melompong. Kami adalah satu-satunya tamu di sana. Wah ngeri juga berada sendirian di tempat yang tidak kami kenal. Maka kami putuskan untuk memarkirkan caravan kami di halaman samping villa orang tua Kasia yang cukup luas itu. Listrik tinggal ditarik dari colokan di dalam rumah sementara keran air juga terletak tidak jauh dari caravan. Juga saya hanya perlu melangkahkan kaki ke dalam rumahnya jika hendak bertemu Kasia untuk beberapa keperluan sehubungan dengan prosesi pernikahannya. Sempurna.

Kami benar-benar dilimpahi dengan keramahan dan makanan oleh keluarga Kasia. Bayangkan saja, pernah sekali saya masuk ke rumahnya dan keluar dengan sepiring penuh kue. Asyiiik.. teman buat minum kopi sore. Eeehh... setengah jam kemudian Reinier membutuhkan sesuatu ke dalam rumah dan keluar kembali ke caravan juga dengan sepiring penuh kue!!! Lho... kita kan masih punya banyak kue, kata saya. Iya, tapi saya tidak diberi kesempatan untuk mengatakan tidak, jawab Reinier. Waaahhh... banjir kue deh. Pokoknya setiap kali masuk ke dalam rumah pasti langsung ditawari sesuatu atau langsung disuguhi sesuatu.

Prosesi pernikahan di sana juga berlangsung unik.
Siang hari setelah makan siang, pengantin lelaki menjemput pengantin perempuan, namun sebelum bertemu pengantin perempuan, pengantin lelaki dicegat di "gerbang pita" oleh saudara lelaki pengantin wanita. Gerbang yang dibuat dari dua pohon pinus sebagai tiangnya dan digantungi pita melintang.
Di gerbang pita ini pengantin lelaki diuji secara fisik dan intelektualnya, dan membayar beberapa zloty (mata uang Poland). Yang pasti jadinya lucu-lucuan, misalnya uji fisik dengan mengangkat barber seberat 5kg sebanyak 10 hitungan, yang ternyata barbel itu hanya lapisan plastik bagian luar saja. Dan menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti berapa ukuran sepatu pengantin wanita, dll.

Yang kemudian menjadi sangat lucu adalah ternyata saudara lelaki Kasia, juga menyiapkan pengantin palsu, salah seorang sepupu lelakinya yang berkostum pengantin menyamar menjadi Kasia. Tentu saja gelak tawa makin kencang di antara tamu dan saudara.
Terakhir Kasia dijemput saudara lelakinya dan membawanya menemui calon suaminya, dan pita yang melintang itu digunting masing-masing sebagian hingga putus.

Acara selanjutnya adalah pemberkatan oleh para orang tua kedua belah pihak dan kemudian menuju gereja.
Nah, perjalanan ke gereja ini juga unik sekali. Karena beberapa kali iringan pengantin ini diberhentikan di tengah jalan oleh kelompok-kelompok masyarakat. Ternyata merupakan kebiasaan di sana, para penduduk desa selalu merencanakan penghadangan pengantin. Dan iringan pengantin baru diloloskan jika sudah "membayar" dengan vodka. Penghadangan ini dilakukan tidak dengan semena-mena dan seenaknya saja, melainkan dengan rapi dan selalu dengan skenario. Skenarionya juga berbeda-beda pada tiap kelompok.

Penghadangan yang pertama oleh sekelompok orang yang menyamar menjadi polisi lengkap dengan mobil hitam yang ditempeli tulisan tangan, polisi dan dengan seragam dan topi yang mirip milik polisi lengkap dengan pentungan plastik dan senjata. Mereka menghentikan mobil dengan alasan bahwa mencurigai pasangan pengantin ini sebagai penyelundup.

Penghadang kedua adalah seseorang yang memberhentikan mobilnya ditengah jalan seolah-olah kehabisan bensin dan harus diisi dengan vodka. Hahaha...

Penghadang ketiga, lucu sekali, mereka memakai kostum orang desa jaman dulu lengkap dengan bayi (orang dewasa berkostum bayi) dalam baskom untuk dimandikan dan tali jemuran yang lengkap dengan jemuran pakaian dalam jaman kuno yang terentang menghalangi jalan. Hahahahaha... sakit perut saya di sini karena tidak bisa berhenti tertawa.Laugh

Penghadang keempat adalah sekelompok anak-anak yang bermain bola di tengah jalan, lengkap dengan gawang mininya dan seragam pemain sepak bola. Anak-anak tentu saja tidak diberi vodka melainkan sekantong permen. Dan, manisnya, mereka juga menyiapkan setangkai mawar merah untuk pengantin.

Sementara penghadang kelima adalah seorang pemabuk.

Saat saya bertanya pada saudara lelaki Kasia yang kebetulan semobil dengan saya, tahukan mereka kira-kira ada berapa penghadang. Jawabnya, kamu hanya akan tahu saat kamu sudah tiba di gereja. Selalu merupakan kejutan.
Dan mereka melakukannya juga dengan rapi dan tanpa menghalang pengendara lalu lintas, kecuali jika mobil pengantin sudah di depan mata.

Tiba di halaman gereja, kedua mempelai disambut nyanyian dan pantun-pantun oleh sekelompok pemusik. Jangan tanya saya apa isi pantun itu karena saya sama sekali tidak mengerti isinya.

Prosesi pernikahan di gereja sama seperti prosesi pernikahan layaknya. Gerejanya indah sekali. Kecil tapi indah.

Selesai prosesi, saat pengantin melangkah keluar dari dalam gereja dan.... bukannya disirami dengan potongan kertas berwarna atau bunga tapi... gedubrak... mereka disirami dengan koin-koin duit kecil. Saya sebut gedubrak, karena sempat melihat Kasia mengusap-usap dahinya.

Koin-koin ini harus dipungut habis oleh kedua mempelai dibantu dengan sepupu-sepupu mudanya. Begitu koin yang terakhir selesai dipungut... eehh ternyata ada yang iseng menghamburkan koin-koin lagi.... hahahaha... sibuk lagi mereka memunguti koin-koin itu. Ahhh... sakit perut kami, para tamu dan saudaranya, kebanyakan ngakak.

Pemberian ucapan selamat pada pengantin dilakukan di halaman gereja ini. Dan ucapan selamat itu hanya diberikan pada kedua mempelai. Tidak pada orang tuanya atau saudara-saudaranya.
Memberikan buket bunga sebagai kado pada pengantin juga merupakan kebiasaan di sana. Wah..wah... bisa buka toko bunga instant kalau saya lihat tumpukan buket yang mereka terima dari para tamu dan saudara.

Acara dilanjutkan dengan resepsi di sebuah restaurant. Berbeda dengan Belanda yang resepsi hanya dengan minuman dan camilan dan makan malam dengan saudara dan teman dekat. Lebih mirip dengan di Indonesia, bahwa semua tamunya diundang dalam perjamuan. Bedanya, di Indonesia hanya satu babak perjamuan, sementara di Poland berbabak-babak. Pesta dimulai sekitar jam 18.00, hidangan pembuka diedarkan, kemudian lanjut dengan hidangan utama, misalnya sepotong gede ayam panggang lengkap dengan kentang goreng dan sayur, dilanjutkan dengan acara dansa, kemudian kembali ke meja makan untuk babak kedua, daging panggang dengan kentang puree dan sayur, kembali ke lantai dansa.... kembali lagi ke meja makan... 6 babak!!!!! Yang artinya enam kali makanan utama dalam porsi normal!! Sementara kue-kue dan buah juga tersebar di setiap meja. Selesai babak kedua saya benar-benar tidak sanggup lagi menyentuh makanan pada babak selanjutnya.

Vodka bergulir seperti air putih.
Untuk urusan vodka, saya terpaksa berlaku "curang", gelas minuman saya sering saya isi dengan air putih atau sprite (sepintas tidak kelihatan gelembung-gelembungnya), sehingga setiap kali ada yang beredar dengan botol vodka untuk mengisi gelas-gelas tamu yang hendak diajak bersulang, selalu berkata, ah gelas kamu sudah diisi. Yup, saya sama sekali tidak berencana untuk bangun pagi dengan sakit kepala.

Selain dansa, lantai dansa juga dimanfaatkan untuk permainan berkelompok. Lucu dan selalu mengundang tawa. Pengantinnya juga terlibat aktif dalam kedua acara ini. Jadi tidak hanya duduk pasif dan menjadi "tontonan" seperti kebanyakan pengantin di Indonesia Goofy

Pesta berlanjut hingga jam 4 subuh. Dan... jam 2 siang pada hari yang sama pesta berlanjut kembali hingga kira-kira jam 1 malam!!! Yup, 2 hari pesta, walau pesta pada hari kedua terkesan lebih santai dan casual. Dan.. masih juga dengan 6 babak makanan!!! Teler abisss! Saya bahkan tidak ingin menyentuh makanan pada hari berikut setelah pesta hari kedua itu.

Pada hari kedua ini saya melihat banyak wajah yang muda-muda dengan mata yang hampir menyerupai x alias kebanyakan minum. Satu yang saya ancungi jempol, walau kebanyakan minum, mereka sama sekali tidak terbawa emosi yang memancing masalah atau melakukan hal yang aneh-aneh. Mereka tetap sopan. Malah jadi ajang ngakak dari meja ke meja.

Dan, walaupun kami tidak bisa berkomunikasi dengan orang tua Kasia, karena perbedaan bahasa, namun bahasa Tarzan, bahasa tubuh dan bahasa senyum berjalan lancar dan dengan yang muda-muda kami dapat berkomunikasi dalam bahasa Inggris.

Ah... senang sekali berkesempatan ikut terlibat dalam perayaan pernikahan ala Poland ini. Meriah.


Bersambung..

Wednesday, October 14, 2009

Poland; Auschwitz

Catatan perjalanan 3.

Berhubung Auschwitz tidak berada jauh dari rute perjalanan kami, maka Auschwitz yang terletak di Oświęcim, Poland, juga ada dalam daftar tempat yang akan kami kunjungi.

Foto di samping kiri adalah gerbang dan menara penjaga gerbang masuk kamp konsentrasi Auschwitz I.

Siapa yang tidak mengenal Auschwitz? Bekas camp konsentrasi Jerman yang terbesar. Sekarang merupakan museum dan juga UNESCO World Heritage Site.

Dengan membayar sekitar 8 euro per orang, kami mengambil paket tour dalam bahasa Inggris. Paket ini termasuk tour di dalam kompleks Auschwitz I dan Auschwitz II Birkenau, seorang guide, headphone, dan shutttle bus antara kedua kamp konsentrasi itu.

Di Auschwitz II Birkenau, jika hanya ingin jalan melihat-lihat, tidak perlu membayar tiket. Tapi kami ingin melihat keseluruhan dari camp konsentrasi itu, dari camp konsentrasi yang pertama yang merupakan museum yang menyimpan banyak cerita dan bukti dari saat holocaust hingga ke Birkenau yang merupakan camp extermination dimana sedikitnya 960.000 orang Yahudi, 75.000 orang Poland dan kira-kira 19.000 orang Gypsy yang berakhir di sana!!!

Sejarah dimana manusia menjadi begitu rendah harkat dan martabatnya, yang selama ini hanya saya baca lewat buku-buku dan menyaksikan lewat dokumenter di tv atau adegan film, kini saya berjalan di antara dinding-dinding batu yang menjadi saksi holocaust itu. Saksi semua kekejaman, kegilaan, ketakutan, kebencian, kesedihan...
Saksi di mana manusia menempatkan dirinya begitu rendah dengan merendahkan manusia lain.

Foto di samping kanan adalah bangunan blok 10, blok Medical experiments, dimana dokter-dokter Nazi di Auschwitz melakukan bermacam-macam experimen tanpa prikemanusiaan pada tawanan mereka.

Tanpa melebih-lebihkan, namun kebanyakan pengunjung yang berjalan di sana dipenuhi oleh emosi. Sering terdengah desahan dalam group kami yang berjumlah kira-kira 10 orang, Jesus, my God, ... desahan napas yang tercekat, tangan yang terangkat menekan bibir yang bergetar lirih, geraham yang menekan kencang, atau mata yang berkaca-kaca.

Terutama saat kami berada pada ruangan-ruangn tertentu, seperti pada sebuah ruangan yang sebagiannya ditutupi dengan dinding kaca, dan di balik dinding kaca itu ada tumpukan rambut manusia yang kebanyakan masih lengkap dengan kucirnya, yang menurut keterangan guide ada kira-kira 2000kg!!!! Rambut-rambut itu tentu saja dicukur dari kepala para tawanan dan kemudian hendak dijual untuk dijadikan "wol".
Atau ruangan dengan timbunan ribuan bingkai kacamata di belakang dinding kaca, tumpukan sepatu orang dewasa hingga sepatu anak-anak, bahkan sepatu bayi. Tumpukan koper, tongkat hingga kaki palsu.

Kami bebas mengambil gambar di luar bangunan, di halaman camp, namun tidak di dalam ruangan.


Headphone ternyata berguna banget untuk mengikuti keterangan guide tentang lokasi di mana kami berada. Karena saat berada seruangan dengan kelompok lain, kami tetap mampu mendengar suara guide dari headphone dengan jelas, apalagi jika berada dalam ruangan dengan langit-langit rendah dan menimbulkan gema, juga pada lorong-lorong di mana para pengunjung harus berjalan dalam bentuk barisan satu per satu orang dan menengok ke dalam kamar-kamar melalui jendela-jendela sempit yang ada. Dan guide sendiri tidak perlu berteriak-teriak, cukup berbicara dengan suara normal, peserta yang selalu ketinggalan di belakang, seperti saya, tetap mampu mengikuti keterangannya.

Halt. Stop. Papan peringatan yang bertebaran sepanjang tepian pagar

Tour ini berlangsung kira-kira 3,5 jam. Sekitar 2,5 jam di Auschwitz I dan sisanya di Auschwitz II - Birkenau.
Gerbang Auschwitz II - Birkenau.

Auschwitz II - Birkenau lebih terlihat seperti puing-puing, karena kebanyakan baraknya sudah dibakar oleh tentara Jerman pada masa itu ketika jarak tentara Rusia tidak jauh lagi dari mereka.
Chamber gas dan crematoriumnya juga sudah hancur.

Foto di samping kanan, rel menuju kematian di Auschwitz II - Birkenau. Camp "pembasmian". Rel yang berakhir dekat gas chamber dan crematorium, dimana kebanyakan penumpang kereta langsung diiring ke sana.

Puing-puing dari barak-barak yang telah dibakar. Yang tersisa hanya tungku-tungku pemanas dan ceroboh asapnya yang terbuat dari batu

Barak-barak tawanan yang masih tersisa hingga kini yang menjadi bukti sejarah.

Lampu dan kawat berduri, yang menjadi bagian dari saksi holocaust.

Puing-puing bekas gas chamber dan crematorium.

Di kompleks kedua ini kami tidak lagi bergabung dengan group. Waktu yang kami semakin kepepet, kami harus tiba di desa tujuan kami hari itu sebelum hari menjadi larut. Untuk mempersingkat waktu, kami menengok sendiri barak-barak yang ada kemudian berjalan hingga ujung rel. Ngos-ngosan juga jalan kaki dari gerbang camp hingga ke ujung rel kereta api di dekat puing-puing gas chamber dan crematorium. Mengambil beberapa gambar, kemudian kembali ke mobil di parkiran.

Kunjungan singkat namun begitu membekas...


Bersambung..

Monday, October 05, 2009

Sehari di Praha.

Catatan perjalanan 2.

Praha, kota ratusan menara ini ada dalam rute perjalanan kami dan sudah pasti juga menjadi salah satu tujuan kami kali ini.

Setelah memarkirkan caravan di salah satu camping site yang terletak tepat di luar kota Praha dan setelah menikmati makan malam dari dapur sederhana kami, tanpa banyak membuang waktu kami langsung bersiap-siap mengunjungi pusat kota Praha malam itu.

Dengan berjalan kaki kira-kira 10 menit ke halte bus terdekat, pakai acara lari-lari lagi gara-gara bus yang datang tepat waktu. Yup, saya harus angkat topi untuk urusan bus di kota ini, selama kami menggunakan jasa angkutan umum ini, belum pernah bisnya terlambat atau terlalu cepat datangnya. Selalu tepat waktu!!! Dengan bus kami menuju ke stasiun metro, kemudian lanjut dengan metro ke pusat kota.
Harga angkutan umum murah sekali, kami hanya membayar 100 Czech kroon (koruna) untuk tiket angkutan umum 24 jam. Tiket ini berlaku untuk bus, metro dan juga tram. 1 kroon = 4 sen euro = 550 rupiah.

Menikmati malam di Praha terasa seperti berada di negeri twilight antara kemegahan bangunan-bangunan kuno dan marak lampu-lampu yang menerangi dan memberi efek pada keindahan bangunan-bangunan itu. Berada di antara kegelapan langit malam dan nuansa cahaya yang menyelimuti kota. Berada di antara kemegahan masa lalu dan keramaian saat ini.

Museum Nasional Praha di malam hari. Sepertinya foto ini termasuk foto sejuta umat deh, karena selain saya ada juga beberapa fotografer yang sibuk dengan tripotnya. Museum ini hanya kami nikmati dari bagian luarnya saja, tanpa ada keinginan untuk menengok isinya.

Kemudian berputar-putar sebentar, di dalam keramaian para turis di pusat kota, mengunjungi jembatan Charles yang membentang di atas sungai Vltava, sungai terpanjang di Czech. Sampai sempat-sempatnya naik sampai ke puncak menara yang ada di ujung jembatan untuk menikmati suasana sekitar dari ketinggian. Ada dua menara di masing-masing ujung jembatan. Kami mendaki menara yang ada pada sisi kota tua.

Uih.. ngos-ngosan juga mendaki anak tangga yang melingkar itu. Belum lagi permukaan anak tangganya yang dari batu miring-miring, aus terasah kaki-kaki selama beratus tahun, yang bikin tambah gamang melangkah.

Kata orang, Praha sekarang adalah kota yang mahal jika dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu. Kata kami, masih wajarlah. Namanya juga kota turis. Jangan dibandingkan dengan tempat lain di luar kota ini, juga jangan dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu. Nothing lasts forever, apalagi soal harga.

Asik cuci mata dan berleha-leha di sudut sebuah teras restaurant di kota tua, kami lupa kalau bus terakhir yang menuju camping site pada pukul 11 malam. Terpaksa balik ke camping site dengan taxi. Lupa juga kalau di dompet kroon tinggal sedikit banget. Untung supir taxi tidak keberatan menerima euro.

Keesokan hari, bangun kesiangan, santai menikmati sarapan di bawah mentari pagi yang hangat, berleha-leha, jam 11 baru melangkahkan kaki ke halte bus.
Hari yang cerah dan panas di penghujung musim panas.

Tujuan pertama adalah Prague Castle, kastil kuno terbesar di dunia. Tapi kami juga tidak mengambil paket berkeliling di dalam kastil tersebut. Bisa habis waktu sehari kalau mau berkeliling dalam kastil tersebut.

Kami hanya mengunjungi basilica of St. Vitus, katedral yang bergaya gothic yang terdapat di dalam kompleks kastil.

Makan siang menjelang sore, maklum sudah jam 2 lebih, adalah acara selanjutnya. Duduklah kami di teras salah satu restaurant tidak jauh dari kompleks kastil. Saat sedang meneliti isi menu, tiba2 pandangan kami tertarik pada sebuah mobil yang berjalan lambat menyemprot air ke jalan. O-ow....pasti deh... benarkan keciprat gerimis tipisnya juga. Walau tidak sampai basah, tetap saja air ya air. Setidaknya kamera sudah sempat saya amankan ke dalam tasnya sebelum itu mobil mencapai tempat kami.

Ronde kedua, saat sedang asik menunggu pesanan kami sembil menikmati minuman ringan dan sepotong roti dengan kruidenboter, muncul lagi itu mobil dari kejauhan. Waahhh... buru-buru deh kami menutupi keranjang roti dengan lembaran kertas tisiu yang ada dan menutupi minuman-minuman kami. Para penghuni meja di sebelah kami hanya menatap kami dengan tatapan geli, heran bin ajaib. Dan... hahaha... setelah kena gerimis tipis air dari mobil itu baru deh ngeh mereka. Hysterical

Bebek panggang pesanan saya. Agak kering tapi rasanya oke banget. Disajikan dengan kol asam dan roti kukus dan dumplings, yang merupakan makanan khas di sini.
Untung itu mobil penyiram jalan tidak lewat lagi saat kami menikmati makanan kami.

Menyusuri jembatan Charles, jembatan batu yang dibangun 1357 dan baru selesai awal abad 15, kami menuju ke pusat kota tua. Berhubung jembatan Charles berada pada daftar must see setiap pelancong di Praha, sudah bisa diduga, bagaimana ramainya di jembatan itu dengan turis. Belum lagi para seniman yang kebanyakan pelukis dan pamusik jalanan. Foto di atas kelihatan sepi karena sengaja saya menunggu hingga moment yang rada sepi, kalau tidak begitu terlalu banyak kepala orang yang menghiasi foto saya.

Menurut informasi, ada 30 buah patung yang menghiasi jembatan ini. Tapi mungkin cuma 5 yang sempat saya perhatikan. Sisanya, saya lebih asik memperhatikan para seniman jalanan dan kelakuan para turis serta pemandangan sekitar jembatan itu.

Berada di tengah old town square, mengagumi arsiktektur bangunan-bangunan kuno yang masih berdiri megah sekaligus kegerahan karena temperatur udara yang lumayan bikin lengket dengan keringat.

Trdelnik, kue yang merupakan ciri khas di old town square. Kue ini mirip roomhoorn. Yang uniknya adalah kue ini dibakar ala bbq, jadi langsung dibakar di atas arang seperti membakar ikan. Rasanya tidak terlalu manis, juga tidak gurih dan tidak berisi vla seperti roomhoorn. Hambar, menurut lidah saya.
Trdelnik, haha... mengucapkannya saja serasa keriting lidah ini Hysterical

Prague Orloj atau jam astronomi di Praha. Jam yang sudah ada sejak tahun 1490, yang ngejelimet saat melihatnya dengan teliti.

Sekitar menjelang pukul 6 sore, tampak tumpukan orang-orang di depan jam ini. Ada apa gerangan? Ternyata tepat pada pukul 6 patung-patung kecil di sekitar jam itu bergerak secara mekanis.

Makan malam di sebuah restaurant di pojokan kota tua. Restaurant yang kecil, simpel dengan wine yang enak dan goulash (daging sapi yang dimasak hingga empuk dalam saus paprika dan tomat) yang super lezat, dan dihidangkan dengan empat jenis roti kukus. Hmmmm... tanpa malu-malu menandaskan piring sampai licin.. cin!!

Setelah makan malam segera bergegas kami menuju kembali ke jembatan Charles karena saya ingin mengambil gambar kastil Praha saat twilight.

Capek juga hampir seharian mengelilingi sebagian kecil kota Praha. Tampang semakin kuyu seiring dengan betis yang semakin pegal. Saatnya untuk kembali ke caravan, beristirahat, karena besok kami harus melanjutkan perjalanan ke Poland.


Bersambung...