Wednesday, October 14, 2009

Poland; Auschwitz

Catatan perjalanan 3.

Berhubung Auschwitz tidak berada jauh dari rute perjalanan kami, maka Auschwitz yang terletak di Oświęcim, Poland, juga ada dalam daftar tempat yang akan kami kunjungi.

Foto di samping kiri adalah gerbang dan menara penjaga gerbang masuk kamp konsentrasi Auschwitz I.

Siapa yang tidak mengenal Auschwitz? Bekas camp konsentrasi Jerman yang terbesar. Sekarang merupakan museum dan juga UNESCO World Heritage Site.

Dengan membayar sekitar 8 euro per orang, kami mengambil paket tour dalam bahasa Inggris. Paket ini termasuk tour di dalam kompleks Auschwitz I dan Auschwitz II Birkenau, seorang guide, headphone, dan shutttle bus antara kedua kamp konsentrasi itu.

Di Auschwitz II Birkenau, jika hanya ingin jalan melihat-lihat, tidak perlu membayar tiket. Tapi kami ingin melihat keseluruhan dari camp konsentrasi itu, dari camp konsentrasi yang pertama yang merupakan museum yang menyimpan banyak cerita dan bukti dari saat holocaust hingga ke Birkenau yang merupakan camp extermination dimana sedikitnya 960.000 orang Yahudi, 75.000 orang Poland dan kira-kira 19.000 orang Gypsy yang berakhir di sana!!!

Sejarah dimana manusia menjadi begitu rendah harkat dan martabatnya, yang selama ini hanya saya baca lewat buku-buku dan menyaksikan lewat dokumenter di tv atau adegan film, kini saya berjalan di antara dinding-dinding batu yang menjadi saksi holocaust itu. Saksi semua kekejaman, kegilaan, ketakutan, kebencian, kesedihan...
Saksi di mana manusia menempatkan dirinya begitu rendah dengan merendahkan manusia lain.

Foto di samping kanan adalah bangunan blok 10, blok Medical experiments, dimana dokter-dokter Nazi di Auschwitz melakukan bermacam-macam experimen tanpa prikemanusiaan pada tawanan mereka.

Tanpa melebih-lebihkan, namun kebanyakan pengunjung yang berjalan di sana dipenuhi oleh emosi. Sering terdengah desahan dalam group kami yang berjumlah kira-kira 10 orang, Jesus, my God, ... desahan napas yang tercekat, tangan yang terangkat menekan bibir yang bergetar lirih, geraham yang menekan kencang, atau mata yang berkaca-kaca.

Terutama saat kami berada pada ruangan-ruangn tertentu, seperti pada sebuah ruangan yang sebagiannya ditutupi dengan dinding kaca, dan di balik dinding kaca itu ada tumpukan rambut manusia yang kebanyakan masih lengkap dengan kucirnya, yang menurut keterangan guide ada kira-kira 2000kg!!!! Rambut-rambut itu tentu saja dicukur dari kepala para tawanan dan kemudian hendak dijual untuk dijadikan "wol".
Atau ruangan dengan timbunan ribuan bingkai kacamata di belakang dinding kaca, tumpukan sepatu orang dewasa hingga sepatu anak-anak, bahkan sepatu bayi. Tumpukan koper, tongkat hingga kaki palsu.

Kami bebas mengambil gambar di luar bangunan, di halaman camp, namun tidak di dalam ruangan.


Headphone ternyata berguna banget untuk mengikuti keterangan guide tentang lokasi di mana kami berada. Karena saat berada seruangan dengan kelompok lain, kami tetap mampu mendengar suara guide dari headphone dengan jelas, apalagi jika berada dalam ruangan dengan langit-langit rendah dan menimbulkan gema, juga pada lorong-lorong di mana para pengunjung harus berjalan dalam bentuk barisan satu per satu orang dan menengok ke dalam kamar-kamar melalui jendela-jendela sempit yang ada. Dan guide sendiri tidak perlu berteriak-teriak, cukup berbicara dengan suara normal, peserta yang selalu ketinggalan di belakang, seperti saya, tetap mampu mengikuti keterangannya.

Halt. Stop. Papan peringatan yang bertebaran sepanjang tepian pagar

Tour ini berlangsung kira-kira 3,5 jam. Sekitar 2,5 jam di Auschwitz I dan sisanya di Auschwitz II - Birkenau.
Gerbang Auschwitz II - Birkenau.

Auschwitz II - Birkenau lebih terlihat seperti puing-puing, karena kebanyakan baraknya sudah dibakar oleh tentara Jerman pada masa itu ketika jarak tentara Rusia tidak jauh lagi dari mereka.
Chamber gas dan crematoriumnya juga sudah hancur.

Foto di samping kanan, rel menuju kematian di Auschwitz II - Birkenau. Camp "pembasmian". Rel yang berakhir dekat gas chamber dan crematorium, dimana kebanyakan penumpang kereta langsung diiring ke sana.

Puing-puing dari barak-barak yang telah dibakar. Yang tersisa hanya tungku-tungku pemanas dan ceroboh asapnya yang terbuat dari batu

Barak-barak tawanan yang masih tersisa hingga kini yang menjadi bukti sejarah.

Lampu dan kawat berduri, yang menjadi bagian dari saksi holocaust.

Puing-puing bekas gas chamber dan crematorium.

Di kompleks kedua ini kami tidak lagi bergabung dengan group. Waktu yang kami semakin kepepet, kami harus tiba di desa tujuan kami hari itu sebelum hari menjadi larut. Untuk mempersingkat waktu, kami menengok sendiri barak-barak yang ada kemudian berjalan hingga ujung rel. Ngos-ngosan juga jalan kaki dari gerbang camp hingga ke ujung rel kereta api di dekat puing-puing gas chamber dan crematorium. Mengambil beberapa gambar, kemudian kembali ke mobil di parkiran.

Kunjungan singkat namun begitu membekas...


Bersambung..

10 comments:

nie said...

Hmmmm... aku yang baca ceritamu aja udah ngerasa campur aduk... gimana lagi kalo aku ke sana sendiri... jadi inget waktu nonton filmnya :(

Veny said...

serem , ngeri ga kebayang . hihh g ga brani sendirian or dgn group kecil kalo kesana . kejem banget org disana waktu itu . !

SinceYen said...

> Sherly,
Bukan hal yang mudah untuk mempertahankan tetap cool di sana. Apalagi jika kamu pernah membaca, bahkan nonton documenternya.

> Veny,
jangan kuatir Ven, selalu banyak pengunjung di sana. Supaya nyaman, satu group isinya sekitar 10 orang ditemani 1 guide. Dan tidak hanya satu group yg jalan di sana, ada beberapa group.
Di foto2nya keliatan sepi karena aku harus nunggu moment di antara orang yg lewat.

Kejamnya orang2 di sana waktu itu, maksud kamu pasti tentara Nazi.

amethys said...

Since...mengasikkan tapi baca aja miris jadinya, ngeliat sepatu2 yg berbagai ukuran ato rambut dan kacamata pasti menimbulkan sensasi sendiri..ih..jadi mbayangin tangis anak2 dan bayi....ngeri Sin...ngeri banget

Leniawati said...

Si geert ada bukunya ttg auschwitz dan ngeri liat rambut2 asli doooh ndak kebayang kalo aku yang kesana:)
menarik bgt ceritanya dna jadi pengen kesana:)

Anonymous said...

duh, serem bayanginnya. still, it's part of the history ya mbak. pelajaran supaya tidak terulang lg...

++retno

Hani said...

lagi jalan2 ke poland pake caravan toh :) ale dicari moudy tuh
merinding banyaknya korban yang jatuh di camp konsentrasi

SinceYen said...

> Wieda
apalagi pas jalan langsung di sana Wied.

> Leni
tujuan kunjungan wisata sejarah berikutnya mungkin? :)

> Retno,
seharusnya demikian, umat manusia seharusnya belajar dari sejarah.

> Hani,
hehe.. iya.. lagi nyoba jalan ala keong.

Udah ketemu :)

Theresia Maria said...

merinding walo cmn liat poto2nya...

Xty said...

gak merinding ke sana Since, pertama kali aku ke museum konsentrasi, pas ke Denmark ihhhhhhhh sedih kalau liat2 gituan