Tuesday, September 29, 2009

Berlibur Ala Bekicot

Catatan perjalanan 1.

Yup, berlibur ala berkicot judul kali ini, alias berlibur dengan caravan. Sudah lama banget kami merencanakan berlibur gaya gipsi ini. Cara berlibur yang baru bagi saya. Sebelumnya saya belum pernah berlibur bawa-bawa cangkang eh... caravan begini. Berbeda dengan si Yayang, karena ini adalah warna liburan yang sudah dilakoninya sejak masih bayi dulu. Maka kami memutuskan untuk berlibur di Eropa timur dengan caravan.

Berhubung kami tidak memiliki caravan sendiri, maka jalan keluar yang paling gampang adalah menyewa dari perusahaan penyewaan caravan. Walapun demikian, kami juga memiliki syarat-syarat caravan yang kami inginkan. Pertama, setidaknya perusahaan tersebut tidak mengijinkan penyewanya membawa hewan piaraan ke dalam caravan. Kedua, bobot caravan tersebut harus cocok dengan kekuatan mesin mobil kami. Ketiga, karavan tersebut harus dilengkapi dengan toilet. Yang ini kami beruntung juga dapat yang lengkap dengan shower. Keempat, usia karavan tersebut harus relatif baru, caravan lama biasanya bau. Kelima, harga sewanya, sudah pasti, harus cocok dengan kantong kami. Penting itu.
Pfeeeuuuhhh... setelah semalam suntuk surfing, dapat juga caravan sewaan yang memenuhi syarat-syarat kami itu.

Tadinya sempat mikir, antara caravan atau camper. Pilihan kami jatuh pada caravan. Karena jika caravan sudah ditinggalkan di caravan park, kami bisa berkeliling seperti nudibranch, bebas, hanya dengan mobil. Sementara dengan camper melekat erat, ke mana-mana si keong tetap setia setiap saat. Kurang praktis jadinya.

Tiba hari H, tanpa lupa untuk membekalkan diri juga dengan berbekal dengan buku panduan campinggids Europa 2009 yang berisikan daftar camping site di seluruh Eropa, setelah menjemput caravan sewaan yang sepanjang 4,20m, kami segera menyusuri jalan menuju timur, menuju Poland.

Aih... maap... maap... sodara-sodara, isi caravan yang berantakan begini juga dipamer-pamer Smiles

Jadi serba praktis, rak jadi jemuran handuk. Keranjang baju kotor diganti dengan kantong plastik gede yang sudah dibolong-bolongi dengan garpu. Tempat sampah dari kantong plastik apa saja yang bisa dijangkau. Kantong sampah dapat dengan mudah disetor ke tempat sampah yang terdapat pada setiap caravan park atau pom bensin.

Walaupun lambat di jalan, karena di jalan tol kami hanya diijinkan mengemudi sampai batas kecepatan 80 - 100 km/jam, namun asyik juga berlibur dengan caravan begini. Mau pipis, tinggal cari tempat parkir, buka pintu caravan. Tidak perlu lagi singgah di pom bensin atau mencari mcDonald dan kemudian meringis jika menemukan toilet yang jauh dari bersih.

Mau ngopi? Tinggal berhenti di tempat parkiran dengan pemandangan yang asik dinikmati, didihkan air, seduh kopinya dan... sluuurp... Bahkan sempat kami kemalaman di daerah antah berantah dan perut sudah merintih minta diisi, tinggal hentikan mobil, segera buat roti isi dengan telur mata sapi dan sosis goreng, dalam tempo kurang dari 10 menit, siap makan malam darurat yang bisa kami santap sambil jalan. Jangan salah, bukannya tidak ada restaurant yang bisa ditemukan, tapi kami yang tidak memiliki banyak waktu saat itu.

Ada 6 caravan park, atau camping site, yang sempat kami singgah untuk bermalam. Keenam-enamnya memiliki warna yang berbeda-beda. Ah ya, camping site juga dibedakan dalam kelas seperti layaknya hotel, dengan bintang. Semakin banyak bintangnya semakin komplit fasilitas extra yang dimilikinya. Namun ukuran bintang ini sama sekali tidak penting bagi kami. Yang penting bagi kami adalah camping site itu berada di daerah yang kami butuhkan, yaitu daerah yang kami capai pada sore hari. Dan campinggids Europa ini sangat membantu kami menemukan camping site yang ada di sekitar posisi kami.

Camping site kami yang pertama terletak di tepi danau Möhnesee, Jerman. Tempatnya lumayan indah dengan pemandangan langsung ke danau, tapi ruas jalan dan tempat untuk memarkir caravan sempit banget.

Keesokan pagi kami mengalami sedikit kerepotan untuk mengeluarkan caravan dari tempat parkirnya. Lihat saja penampakan dari foto di atas itu. Terpaksa caravannya harus secara manual, alias dengan kekuatan tubuh sendiri, ditarik keluar dari tempat parkir ke arah posisi yang tepat untuk digandeng pada mobil. Bah, mending kalau tempat parkirannya rata, ini rada miring, jadinya berat abis kalau pas posisinya harus ditarik ke tempat yang lebih tinggi. Untung kami juga dibantu oleh dua penghuni di camping site itu. Weeiih.. bisa penuh otot nih tubuh kalau setiap hari selama liburan mesti narik-narik caravan begini!!

Camping site yang kedua ada di Drognitz, Jerman, dulunya Jerman timur. Camping site yang paling saya sukai diantara keenam lainnya. Bahkan saya tidak keberatan untuk menghabiskan extra satu dua hari di sana. Sayangnya kami kali ini liburan kami agak terjadwal ketat dalam waktu. Tempat ini jauh dari mana-mana. Tidak ada restaurant di sekitarnya, kota kecil terdekat pun kira-kira setengah jam perjalanan dengan jalan yang kadang curam dan sempit. Dengan begitu roti untuk sarapan pagi juga harus kami pesan di lobby.

Namun tempat ini luas banget, hijau dengan lapangan rumput yang agak berbukit dengan pohon pinus yang menjulang tinggi di sekelilingnya dan sungai kecil yang bening yang mengalir di sisi padang rumput. Keren banget!!! Apalagi saat itu sudah berada di luar musim liburan musim panas. Jadi sepi, penghuni lain juga bisa dihitung dengan jari-jari tangan. Ah.. jiwa menjadi lepas, segar dan sejuk di sana.

Sarapan pagi, dengan roti dari lobby dan scrambled eggs dari dapur sendiri, tidak lupa juga.. crooot... crooot... sambalnya dong Teethy

Camping site yang terakhir, tidak jauh dari Dresden, Jerman, sama sekali bukan tipe yang saya sukai. Camping site ini terlalu rapi, dan diatur dengan petak berpagar semak. Tipe camping site yang sering dijumpai di Belanda dan Jerman. Ya sudahlah, toch hanya untuk semalam.

Soal urusan perut, selain sesekali menikmati makanan setempat di restaurant, saya juga menyiapkan beberapa jenis makanan seperti nasi goreng, rendang, dan daging bumbu kecap dari rumah, masukkan ke fridge di caravan, dan tinggal dihangatkan saat hendak dimakan. Mudah dan cepat. Barbeque sudah tentu tidak ketinggalan, jika ada waktu dan cuaca cerah.

Bersambung....


Snail's clipart is taken from coolclips.com.