Friday, June 19, 2009

Laut Merah, Padang Biru.

Catatan Perjalanan 1.

Saat melangkah keluar dari pintu pesawat malam itu, saat udara hangat yang kering menyentuh kulit ini, saya menyapa negeri itu.
Hello Mesir.

Saat tiba di gerbang kedatangan, kami langsung disambut oleh para petugas yang mengarahkan para penumpang pesawat membentuk barisan untuk melalui sebuah scanner infrared. Yup, setiap orang di-scan bagian wajah dengan kamera infrared sebagai langkah pencegah masuknya pembawa flu, pasti urusan flu babi nih.

Saat pasport kami diperiksa ketika melalui loket imigrasi, kami harus dilemparkan ke loket imigrasi lain dengan petugas yang lebih senior karena kekeliruan yang dilakukan oleh petugas kedutaan Mesir di Belanda pada lembaran visa di pasport kami. Untunglah petugas yang lebih senior di loket kedua langsung menyadari kekeliruan yang ada dan.. plak... stempel boleh masuk ke negri itu pun dicap di halaman pasport kami.
Hello Hurghada.

Saat duduk di dive boat, pagi berikutnya, menikmati sinar mentari yang kalah panasnya oleh terpaan angin yang membuat rambut saya awut-awutan, semua kelelahan dalam perjalanan sirna. Laut Merah, padang biru. Laut yang biru membentang dengan garis turquoise sepanjang pesisir itu menyejukkan jiwa ini.

Ah.. senangnya berada dekat laut lagi, di atas laut lagi, di dalam laut lagi...

Namun jangan berpikir bisa "nyepi" di sini, karena Red sea terkenal sekali sebagai daerah tujuan wisata selam bagi pasar wisata selam di Eropa. Maka sudah pasti di semua dive spot selalu berkumpul beberapa boat dengan kapasitas sekitar 20 penyelam per boat, dan di dalam air kadang ramai seperti pasar.
Untung saja, walaupun sering berpapasan dengan group penyelam lain, kami tidak sampai mengalami situasi hiruk pikuk di dalam sana, dan tidak terganggu oleh penyelam lain.

Dingin air laut segera menyentuh saya ketika meloncat saat penyelaman pertama. Tidak menjadi sebuah kejutan. 25°C sebenarnya lebih hangat dari yang kami perkirakan sebelumnya. Dan dengan wetsuit setebal 7mm, saya terbungkus nyaman di dalamnya. Hanya saja, 10kg harus saya gunakan sebagai pemberat. 2kg lebih berat dari yang saya gunakan di Belanda. Tidak heran, air laut di laut Merah ini lebih padat densitasnya.
Bahkan ketika saya isenk terjun ke air dengan hanya baju renang, tanpa harus mengeluarkan tenaga untuk mengapung, dengan entengnya saya terapung.

Bagi yang bukan penyelam, tentunya asing dengan istilah pemberat ini. Sederhananya, pemberat dibutuhkan oleh seorang penyelam sebagai alat bantu untuk tenggelam dan melayang bebas di dalam air, bahkan pada saat proses seorang penyelam menuju ke permukaan laut pun tidak lepas dari peranan pemberat. Pemberat ini biasanya adalah potongan timah dengan berat persatuannya 1kg dan 2 kg. Dipakai bersama-sama dengan weight belt atau dimasukkan dalam kantong khusus pada jaket BCD. Untuk jelasnya lagi, silahkan di googling saja ya.

Kejernihan air di sana tidak usah ditanyakan lagi. Jernih banget, padahal saat itu termasuk musim angin. Hanya saja, sekali kami sempat menyelam di wreck, kapal tenggelam, dekat dengan dataran besar, kira-kira 2km dari pantai, visibility tidak begitu bagus.

Kebanyakan dive spot di sana landai ke kedalaman. Berpasir dengan bongkahan-bongkahan karang, kadang pinacles yang lumayan besar. Hanya sekali kami menyelam menyulusuri dinding karang, wall dive. Dan itu kali satu-satunya di sana kami menyelam lebih dari 35m. Sisanya, penyelaman kami hanya berkisar 18-20 meter.

Yang mendominasi kehidupan dalam laut yang tertangkap mata saya adalah karang, keduanya, yang keras dan yang lunak. Sponges, tunicates, dan lain-lain hampir tidak kami lihat. Walaupun sering sekali kami menjumpai penyu dan juga ikan-ikan yang berseliweran, kehidupan di dalam sana terasa sepi. Padahal komentar teman-teman saya yang pernah menyelam di sana, dunia dalam laut di sana 10 tahun yang lalu lebih ramai. Ahh.. alam lelah, jenuh dengan kunjungan rombongan penyelam yang tak putus-putusnya.

Walaupun sepi menurut saya, tetap ada banyak bentuk kehidupan di sana. Satu hal yang membuat saya tergangga dan berdecak adalah ukuran hewan yang kami temui. Jenis yang sama yang pernah saya temui di laut tropis jadi terasa seperti liliput.

Misalnya octopus ini. Octopus terbesar yang pernah saya lihat. Kepalanya kira-kira seukuran bola basket dan lengan-lengannya sebesar lengan saya!!! Jangan lupa efek pembesaran di dalam air, tentu saja ukuran sebenarnya 25% lebih kecil. Walaupun menyadari itu, tetap saja ini merupakan octopus terbesar yang pernah saya lihat langsung dengan mata saya sendiri, tetap saja saya tidak berani mengusik octopus itu. Weleeh.. 'ga lucu abis kalo sampai dibelit octopus.
She is so gorgeous!!!

Ada beberapa species ikan yang baru pernah saya lihat, dan ini membuat saya sangat antusias di dalam air. Misalnya ikan kupu-kupu di samping ini (Chaetodon similarvatus) yang merupakan salah satu ciri khas Red sea. Sayang, tidak terdapat buku-buku identifikasi biota laut di kapal.

Macro alias mahluk-mahluk kecil, jarang sekali saja jumpai. Dan para divemasternya pun lebih antusias pada hewan-hewan yang besar. Penyu misalnya. Astaga, penyu lagi penyu lagi yang ditunjuk. Yang lain doooong!!!

Dan begini ini nih, model interaksi antara penyelam dengan penyu. Satu penyu dikerebutin beramai-ramai. Hehe.. si penyunya sudah terbiasa menjadi model, cuek beibe... tetap anggun dan angkuh melewati para fansnya itu Hysterical

Pernah saya bertanya tentang macro, namun pertanyaan saya hanya melayang di udara dan menguap. Sepertinya mereka memang tidak tertarik pada macro, atau... tidak memiliki taste untuk itu? Ya sudah, cari sendiri saja.

Hanya satu kali kesempatan untuk melakukan wreck dive, menyelam pada bangkai kapal tenggelam. Itupun karena desakan kami dan satu group yang lain.
El Mina wreck, demikian nama bangkai kapal sepanjang 58m yang tergeletak di kedalaman 30m. Walaupun sudah sekitar 40 tahun terbenam dalam laut, namun miskin penutupan coral. Sepi dan buram. Satu-satunya bentuk kehidupan yang ramai yang saya temukan di sekitar bangkai kapal ini adalah lion fish.

Dan juga hanya sekali kami melakukan nightdive, penyelaman malam. Ini disebabkan pihak dive center harus mengumpulkan minimun 6 penyelam yang berminat untuk melakukan night dive. Sampai malam terakhir, itupun yang terkumpul cuma 5 penyelam. Ih, napa sih ni divers, kok kurang peminat night dive. Padahal nyelam malam tuh asik abis!!

Ada hal lucu yang terjadi saat penyelaman malam, yang membuat saya bingung, siaga, terpingkal-pingkal, namun jengkel, sekaligus curious.
Kira-kira 5 menit setelah di dalam air, saat saya sedang sibuk dengan objek foto, saya merasa gerakan di dekat lengan, begitu saya senter, astaga ada tiga ekor lionfish yang gede-gede sedang berenang di sekitar lengan saya. Uiiihh... ngalah deh, pindahlah saya ke tempat lain, tapi perasaan ada yang ngikutin, disenter ke belakang, beneran tiga ekor lionfish itu dengan garang mengikuti saya. Nah lho!!! Apa saya sempat membuat mereka marah? Uih ngeri berhadapan dengan lion fish yang marah. Apalagi terbayang duri-duri mereka yang beracun itu. Setelah beberapa detik kemudian, saya menyadari, bukan saya yang mereka targetkan, tapi arah dari sinar senter kami yang mereka gunakan untuk berburu. Aiiih... pintar bener ini Lionfish!!! Jadi tenang setelah menyadari kenyataan itu, tapi jadi jengkel karena mereka menyulitkan saya terutama saat hendak membuat foto. Untung buddy saya yang tercinta ini tanpa perlu kata-kata menyadari menyadari kesulitan saya, dan membantu dengan mengarahkan ikan-ikan itu ke arah lain dengan sinar senternya setiap kali saya hendak bermain dengan kamera.
Baru pernah saya mengalami pengalaman dengan lionfish seperti ini. Apa yang membentuk tingkah ikan itu? Kebiasaan? Instink? Atau..?

Aquarius dive center adalah dive center yang kami gunakan pelayanannya. Tidak ada keluhan tentang pelayanan mereka. Kapalnya luas dan bersih. Kualitas udara di tabung juga oke. Para kru ramah dan membantu sekali, walaupun bahasa Inggris mereka terbatas sekali. Makanan di kapal, tipikal makanan Mesir, berminyak tapi jenis-jenis salad yang terhidang di meja menggoyang lidah.

Dan yang paling asyik adalah para dive master/guide di kapal ini memberikan kami kebebasan dalam waktu, walaupun secara lisan mereka meminta 60 menit lama penyelaman kami karena itu peraturan di taman nasional sana. Dan mereka juga memberikan kami kebebasan untuk menyelam di luar kelompok. Thank God, karena saya paling sebal jika harus menyelam dalam kelompok, karena ritme kelompok selalu berbeda dengan ritme kami.
Dan yang paling penting adalah kemampuan mereka memberikan briefing tentang keadaan dan peta lokasi penyelaman. Sangat membantu.

Sekali waktu saya sempat ngakak di permukaan air. Gara-gara si dive guide dengan sangat serius datang dan memberikan briefing pada kami dan menjelaskan bahwa kami akan melakukan drift dive, penyelaman arus. Gayanya dalam memberikan briefing meyakinkan banget kalau itu bakal menjadi penyelaman beradrenalin. Uh... saya sudah senang, lumayan sudah lama tidak melakukan penyelaman adrenalin. Begitu mau loncat, kok perasaan arus sepoi-sepoi doank deh, setelah meloncat ke air... Bener... Saya berbisik pada buddy, mana arusnya?? Airnya nyaris setenang permukaan danau, apanya yang drift???
Akhirnya kesimpulan kami adalah jika kami harus meloncat saat kapal belum ditambatkan dan menyelam ke arah di mana kapal akan ditambatkan, maka itu adalah drift dive!!! Lol

Saat-saat dalam perjalanan, menuju lokasi penyelaman atau kembali ke dermaga hotel, sering kami jumpai rombongan Lumba-lumba, dan tak jarang mereka bermain mengikuti kapal. Kalau sudah demikian tumpahlah semua penumpang kapal ke sisi-sisi kapal. Kadang menyebalkan juga, karena saru rombongan lumba-lumba dikejar oleh beberapa kapal, ribut dengan tuter dan para kru yang bersikap seperti supporter bola. Malas sudah kalau ribut begini.
Tidak ada foto aksi dolfin di sini karena saya hanya ingin hanyut dalam atraksi mereka tanpa sibuk untuk menunggu dan klak-klik.

Ah.. laut biru, langit yang cerah, hangat mentari, menari lagi di alam dalam laut, my best buddy... dan.. sudah tentu, dive center yang oke punya.
Liburan yang menyenangkan!!



Bersambung...

Sunday, June 07, 2009

Menelusuri Schwarzwald

Catatan Perjalanan 2.

Schwarzwald, atau Black Forest, merupakan daerah pegunungan yang penuh dengan pepohonan dan hutan, terletak di Jerman barat daya. Selain sebagai daerah penghasil kayu, Schwarzwald terkenal sebagai daerah tujuan wisata. Karena pemandangan alamnya yang indah, juga tersebar banyak desa dan kota-kota kecil yang tua dan indah di sana. Belum lagi rute untuk bersepeda gunung dan jalan setapak menyusuri hutan. Dan juga jalur ski di musim dingin.

Di Schwarzwald ini kami habiskan 2 hari terakhir perjalanan kami.

Jika saya menyebutkan Black Forest, sudah pasti yang langsung terbayang adalah Black Forest cake atau Schwarzwälder Kirschtorte dalam bahasa Jerman. Sudah tentu, cake ini tidak lepas dari daftar acara kami.

Pucuk dicita ulam tiba, menjelang coffee time, kami melewati sebuah cafe and bakeri. Waktu yang tepat untuk ngaso sebentar sambil menikmati secangkir kopi dan sepotong Black Forest cake.

Saat pesanan kami keluar, mulut saya yang menggangga, terpaku menatap ukuran kue yang ada dalam piring di depan itu. Astaga gede amat!!! Tapi sudahlah, sikat saja. Hmmm... lezatnya.. Black Forest cake dengan resep tradisional, yaitu yang lengkap dibubuhi dengan kirschwasser, brandy dari Cherry asam. Dan... benar kan? Saya tidak sanggup menghabiskan potongan kue di depan saya itu.

Sedang asyik-asyiknya menikmati pemandangan sore di sekeliling saya dari atas motor, tiba-tiba di sebuah belokan mata saya menangkap atap bangunan yang berbentuk kubah besar sekali. Pantheon??? Ahahahaha... ternyata itu kubah dari katedral di St. Blasien.

Tiba saatnya untuk mencari penginapan, kali ini kami mengalami kesulitan untuk menemukan bed and breakfast. Satu pun tidak kami temukan, padahal tiga desa berturut-turut kami telusuri. Akhirnya tidak ada pilihan lain selain hotel. Terpaksa deh, 80 euro melayang hanya untuk tidur di hotel.
Itulah alasannya, mengapa kami lebih memilih bed and breakfast ketimbang kamar hotel. Harganya. Untuk kamar bed and breakfast kami hanya membayar separuh dari harga kamar hotel.

Sabtu pagi, kembali setelah sarapan kami melanjutkan perjalanan, menyusuri beberapa desa dan daerah pertanian mengambil arah ke Switzerland.

Alam memanjakan mata kami dengan cahaya pagi yang hangat menyelimuti rumah-rumah di pedesaan.

Dan alam juga sedang memanjakan kami dengan kehangatan dan cerah sinar mentari.

Siang hari saat perut mulai mengirim sinyal ke otak, kami berhenti sejenak untuk mengisi perut dengan bekal yang sudah kami siapkan dari bakeri yang kami temui tadi di perjalanan. Ahh.. kami selalu menyukai roti-roti buatan bakeri di Jerman.

Ini dia, tujuan kami ke Switzerland, the Rhine Falls, air terjun terlebar dan terbesar di daratan Eropa.

Dari the Rhine falls, kami kembali mengambil arah ke Schwarzwald.

Lapar lagi menjelang sore, tidak masalah, tinggal mencari sudut menarik dan aman untuk parkir, dan... bongkar alat masak, dalam 5 menit tersaji 2 cangkir kopi panas dan tidak lupa lemon cake yang dibeli saat membeli roti bekal makan siang tadi.

Rumah tradisional Schwarzwald, besar dengan atap yang lebar menutupi hingga nyaris menyentuh bumi. Berdiri kokoh di daerah pertanian. Ada kesan kehangatan, namun juga kesepian.

Hari itu, kami kembali menemukan kesulitan mencari tempat menginap. Bukannya tidak ada bed and breakfast, masalahnya mereka hanya mau menerima tamu yang menginap untuk beberapa hari bukan hanya menumpang semalam seperti kami. Akhirnya setelah tiga bed and breakfast menolak kami, yang keempat menerima kami dengan senang hati.
Dan, bayangkan, dengan 50 euro, kami memiliki kamar yang cukup besar, kamar mandi dan lengkap dengan dapur yang lumayan besar dan komplit.

Bahkan dari kamar tidur kami bisa langsung teras di halaman belakang dengan pemandangan yang terhampar luas.

Di teras ini lah kami menikmati makan malam kami. Nasi curry Thais dari Mama instant rice, dan kebetulan sebelumnya kami sempat singgah di hypermaket, menu kami lengkap dengan salad dan ayam panggang. Hmmm..

Minggu pagi sebelum sarapan, kami sempatkan untuk berjalan-jalan sebentar di pusat desa, menikmati suasana pagi sekaligus membeli roti bekal makan siang nanti di bakeri yang ada. Gila, desa kecil itu tapi bakerinya komplit bow!!! Wih sampe iler-ileran lihat deretan cake yang ada. Yowza

Sebelum kembali mengarah ke jalan tol menuju Belanda, kami masih berkeliling lagi dari satu desa ke desa lain di sepanjang Schwarzwald.

Sebagian dari bermacam-macam pemandangan di sepanjang perjalanan di depan kami sepanjang wiken panjang itu.

Tepat setelah makan siang, kami langsung mengarah kembali ke Belanda. Dan astaga, panasnya siang itu, benar-benar seperti sauna di dalam setelan jas motor. Ingin rasanya melepaskan jas itu, tapi jelas itu bukan tindakan yang bijaksana, apalagi dengan kecepatan kendaraan di atas jalan tol.

Wiken panjang yang menyenangkan!! Thumbs Up