Saat melangkah keluar dari pintu pesawat malam itu, saat udara hangat yang kering menyentuh kulit ini, saya menyapa negeri itu.
Hello Mesir.
Saat tiba di gerbang kedatangan, kami langsung disambut oleh para petugas yang mengarahkan para penumpang pesawat membentuk barisan untuk melalui sebuah scanner infrared. Yup, setiap orang di-scan bagian wajah dengan kamera infrared sebagai langkah pencegah masuknya pembawa flu, pasti urusan flu babi nih.
Saat pasport kami diperiksa ketika melalui loket imigrasi, kami harus dilemparkan ke loket imigrasi lain dengan petugas yang lebih senior karena kekeliruan yang dilakukan oleh petugas kedutaan Mesir di Belanda pada lembaran visa di pasport kami. Untunglah petugas yang lebih senior di loket kedua langsung menyadari kekeliruan yang ada dan.. plak... stempel boleh masuk ke negri itu pun dicap di halaman pasport kami.
Hello Hurghada.
Saat duduk di dive boat, pagi berikutnya, menikmati sinar mentari yang kalah panasnya oleh terpaan angin yang membuat rambut saya awut-awutan, semua kelelahan dalam perjalanan sirna. Laut Merah, padang biru. Laut yang biru membentang dengan garis turquoise sepanjang pesisir itu menyejukkan jiwa ini.Ah.. senangnya berada dekat laut lagi, di atas laut lagi, di dalam laut lagi...
Namun jangan berpikir bisa "nyepi" di sini, karena Red sea terkenal sekali sebagai daerah tujuan wisata selam bagi pasar wisata selam di Eropa. Maka sudah pasti di semua dive spot selalu berkumpul beberapa boat dengan kapasitas sekitar 20 penyelam per boat, dan di dalam air kadang ramai seperti pasar.Untung saja, walaupun sering berpapasan dengan group penyelam lain, kami tidak sampai mengalami situasi hiruk pikuk di dalam sana, dan tidak terganggu oleh penyelam lain.
Dingin air laut segera menyentuh saya ketika meloncat saat penyelaman pertama. Tidak menjadi sebuah kejutan. 25°C sebenarnya lebih hangat dari yang kami perkirakan sebelumnya. Dan dengan wetsuit setebal 7mm, saya terbungkus nyaman di dalamnya. Hanya saja, 10kg harus saya gunakan sebagai pemberat. 2kg lebih berat dari yang saya gunakan di Belanda. Tidak heran, air laut di laut Merah ini lebih padat densitasnya.
Bahkan ketika saya isenk terjun ke air dengan hanya baju renang, tanpa harus mengeluarkan tenaga untuk mengapung, dengan entengnya saya terapung.
Bagi yang bukan penyelam, tentunya asing dengan istilah pemberat ini. Sederhananya, pemberat dibutuhkan oleh seorang penyelam sebagai alat bantu untuk tenggelam dan melayang bebas di dalam air, bahkan pada saat proses seorang penyelam menuju ke permukaan laut pun tidak lepas dari peranan pemberat. Pemberat ini biasanya adalah potongan timah dengan berat persatuannya 1kg dan 2 kg. Dipakai bersama-sama dengan weight belt atau dimasukkan dalam kantong khusus pada jaket BCD. Untuk jelasnya lagi, silahkan di googling saja ya.
Kejernihan air di sana tidak usah ditanyakan lagi. Jernih banget, padahal saat itu termasuk musim angin. Hanya saja, sekali kami sempat menyelam di wreck, kapal tenggelam, dekat dengan dataran besar, kira-kira 2km dari pantai, visibility tidak begitu bagus.Kebanyakan dive spot di sana landai ke kedalaman. Berpasir dengan bongkahan-bongkahan karang, kadang pinacles yang lumayan besar. Hanya sekali kami menyelam menyulusuri dinding karang, wall dive. Dan itu kali satu-satunya di sana kami menyelam lebih dari 35m. Sisanya, penyelaman kami hanya berkisar 18-20 meter.
Yang mendominasi kehidupan dalam laut yang tertangkap mata saya adalah karang, keduanya, yang keras dan yang lunak. Sponges, tunicates, dan lain-lain hampir tidak kami lihat. Walaupun sering sekali kami menjumpai penyu dan juga ikan-ikan yang berseliweran, kehidupan di dalam sana terasa sepi. Padahal komentar teman-teman saya yang pernah menyelam di sana, dunia dalam laut di sana 10 tahun yang lalu lebih ramai. Ahh.. alam lelah, jenuh dengan kunjungan rombongan penyelam yang tak putus-putusnya.Walaupun sepi menurut saya, tetap ada banyak bentuk kehidupan di sana. Satu hal yang membuat saya tergangga dan berdecak adalah ukuran hewan yang kami temui. Jenis yang sama yang pernah saya temui di laut tropis jadi terasa seperti liliput.
Misalnya octopus ini. Octopus terbesar yang pernah saya lihat. Kepalanya kira-kira seukuran bola basket dan lengan-lengannya sebesar lengan saya!!! Jangan lupa efek pembesaran di dalam air, tentu saja ukuran sebenarnya 25% lebih kecil. Walaupun menyadari itu, tetap saja ini merupakan octopus terbesar yang pernah saya lihat langsung dengan mata saya sendiri, tetap saja saya tidak berani mengusik octopus itu. Weleeh.. 'ga lucu abis kalo sampai dibelit octopus.She is so gorgeous!!!
Ada beberapa species ikan yang baru pernah saya lihat, dan ini membuat saya sangat antusias di dalam air. Misalnya ikan kupu-kupu di samping ini (Chaetodon similarvatus) yang merupakan salah satu ciri khas Red sea. Sayang, tidak terdapat buku-buku identifikasi biota laut di kapal.Macro alias mahluk-mahluk kecil, jarang sekali saja jumpai. Dan para divemasternya pun lebih antusias pada hewan-hewan yang besar. Penyu misalnya. Astaga, penyu lagi penyu lagi yang ditunjuk. Yang lain doooong!!!
Dan begini ini nih, model interaksi antara penyelam dengan penyu. Satu penyu dikerebutin beramai-ramai. Hehe.. si penyunya sudah terbiasa menjadi model, cuek beibe... tetap anggun dan angkuh melewati para fansnya itu 
Pernah saya bertanya tentang macro, namun pertanyaan saya hanya melayang di udara dan menguap. Sepertinya mereka memang tidak tertarik pada macro, atau... tidak memiliki taste untuk itu? Ya sudah, cari sendiri saja.
Hanya satu kali kesempatan untuk melakukan wreck dive, menyelam pada bangkai kapal tenggelam. Itupun karena desakan kami dan satu group yang lain.El Mina wreck, demikian nama bangkai kapal sepanjang 58m yang tergeletak di kedalaman 30m. Walaupun sudah sekitar 40 tahun terbenam dalam laut, namun miskin penutupan coral. Sepi dan buram. Satu-satunya bentuk kehidupan yang ramai yang saya temukan di sekitar bangkai kapal ini adalah lion fish.
Dan juga hanya sekali kami melakukan nightdive, penyelaman malam. Ini disebabkan pihak dive center harus mengumpulkan minimun 6 penyelam yang berminat untuk melakukan night dive. Sampai malam terakhir, itupun yang terkumpul cuma 5 penyelam. Ih, napa sih ni divers, kok kurang peminat night dive. Padahal nyelam malam tuh asik abis!!
Ada hal lucu yang terjadi saat penyelaman malam, yang membuat saya bingung, siaga, terpingkal-pingkal, namun jengkel, sekaligus curious.
Kira-kira 5 menit setelah di dalam air, saat saya sedang sibuk dengan objek foto, saya merasa gerakan di dekat lengan, begitu saya senter, astaga ada tiga ekor lionfish yang gede-gede sedang berenang di sekitar lengan saya. Uiiihh... ngalah deh, pindahlah saya ke tempat lain, tapi perasaan ada yang ngikutin, disenter ke belakang, beneran tiga ekor lionfish itu dengan garang mengikuti saya. Nah lho!!! Apa saya sempat membuat mereka marah? Uih ngeri berhadapan dengan lion fish yang marah. Apalagi terbayang duri-duri mereka yang beracun itu. Setelah beberapa detik kemudian, saya menyadari, bukan saya yang mereka targetkan, tapi arah dari sinar senter kami yang mereka gunakan untuk berburu. Aiiih... pintar bener ini Lionfish!!! Jadi tenang setelah menyadari kenyataan itu, tapi jadi jengkel karena mereka menyulitkan saya terutama saat hendak membuat foto. Untung buddy saya yang tercinta ini tanpa perlu kata-kata menyadari menyadari kesulitan saya, dan membantu dengan mengarahkan ikan-ikan itu ke arah lain dengan sinar senternya setiap kali saya hendak bermain dengan kamera.Baru pernah saya mengalami pengalaman dengan lionfish seperti ini. Apa yang membentuk tingkah ikan itu? Kebiasaan? Instink? Atau..?
Aquarius dive center adalah dive center yang kami gunakan pelayanannya. Tidak ada keluhan tentang pelayanan mereka. Kapalnya luas dan bersih. Kualitas udara di tabung juga oke. Para kru ramah dan membantu sekali, walaupun bahasa Inggris mereka terbatas sekali. Makanan di kapal, tipikal makanan Mesir, berminyak tapi jenis-jenis salad yang terhidang di meja menggoyang lidah.Dan yang paling asyik adalah para dive master/guide di kapal ini memberikan kami kebebasan dalam waktu, walaupun secara lisan mereka meminta 60 menit lama penyelaman kami karena itu peraturan di taman nasional sana. Dan mereka juga memberikan kami kebebasan untuk menyelam di luar kelompok. Thank God, karena saya paling sebal jika harus menyelam dalam kelompok, karena ritme kelompok selalu berbeda dengan ritme kami.
Dan yang paling penting adalah kemampuan mereka memberikan briefing tentang keadaan dan peta lokasi penyelaman. Sangat membantu.
Sekali waktu saya sempat ngakak di permukaan air. Gara-gara si dive guide dengan sangat serius datang dan memberikan briefing pada kami dan menjelaskan bahwa kami akan melakukan drift dive, penyelaman arus. Gayanya dalam memberikan briefing meyakinkan banget kalau itu bakal menjadi penyelaman beradrenalin. Uh... saya sudah senang, lumayan sudah lama tidak melakukan penyelaman adrenalin. Begitu mau loncat, kok perasaan arus sepoi-sepoi doank deh, setelah meloncat ke air... Bener... Saya berbisik pada buddy, mana arusnya?? Airnya nyaris setenang permukaan danau, apanya yang drift???Akhirnya kesimpulan kami adalah jika kami harus meloncat saat kapal belum ditambatkan dan menyelam ke arah di mana kapal akan ditambatkan, maka itu adalah drift dive!!!

Saat-saat dalam perjalanan, menuju lokasi penyelaman atau kembali ke dermaga hotel, sering kami jumpai rombongan Lumba-lumba, dan tak jarang mereka bermain mengikuti kapal. Kalau sudah demikian tumpahlah semua penumpang kapal ke sisi-sisi kapal. Kadang menyebalkan juga, karena saru rombongan lumba-lumba dikejar oleh beberapa kapal, ribut dengan tuter dan para kru yang bersikap seperti supporter bola. Malas sudah kalau ribut begini.Tidak ada foto aksi dolfin di sini karena saya hanya ingin hanyut dalam atraksi mereka tanpa sibuk untuk menunggu dan klak-klik.
Ah.. laut biru, langit yang cerah, hangat mentari, menari lagi di alam dalam laut, my best buddy... dan.. sudah tentu, dive center yang oke punya.Liburan yang menyenangkan!!
Bersambung...


18 comments:
wah keren banget diving nya .. baru plng dari Laut merah toh ?
seneng ya bisa liat alam bawah laut n isinya . cakep2 smua .
Gimana rasanya saat menyelam di bawah air?
Saya belum pernah tapi rasanya pingin banget
welehhhhh!! asyiknya ke mesir!! Kapan tuh, Sin??? Jalan2 terus yah! Btw, ke sana budgetnya mahal ndak?
waah Mesir,
Ceritanya menarik sekali sin:)
pergi ke cairo ndak?
> Veny,
diving emang asik banget Ven.
> Tikno,
Ayo Tikno, laut di Indonesia indah banget lho. Kapan mau nyoba? :)
> Sherly,
Udah 2 minggu balik. Yang pasti 'gak semahal kalo mesti ke Indonesia lah.
> Leniawati,
'gak nyampe ke Cairo, Len. Diving mulu. Emang judulnya duikvakantie :)
Hmm... saya takut menyelam di dalam laut. Kata orang itu phobia. Tapi saya suka nonton film dokumenter tentang kehidupan bawah laut. Biasanya saya nonton di Discovery atau National Geographic.
Sin..aseek banget, seneng banget bacanya...klo aku seh ga brani diving......chicken seh, jadi ginilah....ngambang dilaut aja panik pasti..hehehehe
tapi aku sangat menikmati ttg dunia bawah laut...seneng berimajinasi oiiii
Weiiii....kek liat discovery channel...
thx sharingnya say.
sekali dive berapaan? bisa jadi pedoman kalo abis umroh langsung nyebrang kesono...hehehe
sin, taon depan pulkam kah? ambon ada acara pulang kampung sedunia ya? beta deng moudy ada rencana ikutan jua....hehehe
ikan kupu2xnya cantik bener...sayang keganggu ama water marknya hikhik
dian -gak log in
Wow, menyelam di Mesir!! Yah, bayangan orang umum tentang Mesir sih rasanya piramida dan gurun kali yah, jarang mikir tentang lautnya. Ternyata bagus2 juga! hehehe... :D
Wihhh asyikkk banget Since Jalan2 mulu nih kerjaannya bikin ngiri euy..hihihi.
Kemana2 pastinya bawa peralatan diving-nya bejubun dunk since???.
> Tikno,
selama 'gak phobia sama air, snorkling boleh dicoba Tikno :)
> Wieda,
perlu dibiasa'in dengan air kali Wied. jadi pas masuk air tuh jangan mbayangin kelelep atau jaws, tapi mabayangin jadi Ariel mermaid gitu :)
> Tiwi,
nyelem kering jadinya nih Wi :D
> Hani,
harganya paket dive 'ga beda jauh dengan di Indonesia, tapi harga tiketnya beda jauh bow!!!
Bulan apa mo ke sana? Saat winter dan spring, airnya masih dingin. Temperatur air yang paling enak tuh pas akhir spring, summer dan autumn. Tapi summer di sana panasnya minta ampun lah.
Taon depan? Blom bikin planing matangnya. Tapi males juga kalo semua orang pulang, rame, sumpek, macet, harga barang jadi ikut mahal dadakan.
> Dian,
emang itu disengaja, soalnya udah beberapa kali aku nemu foto2ku dicopy-paste.
Iya, aku suka banget ngamatin ikan kupu2, cantik2 :)
> Zilko,
hahaha... yang ngebayangin soal divingnya ya pasti divers :)
> Lily,
Resiko Ly jadi diver. Kalo pas dive trip, masing-masing punya satu dive bag yang ukurannya lumayan gede. Baju dan bawaan lain mesti yg ringkas2 aja.
yg foto terakhir itu mejeng berdua bareng suami yah? btw, pemberat kan utk memberatkan. waktu mau naik, apa dilepas? atau tetap bisa naik?
asik dan seru pastinya yah Since! aih... belom pernah sekalipun menyelam!
> Yenny,
1. Iya, bareng suamiku.
2. Pemberat 'gak dilepaskan saat dalam proses menuju ke permukaan.
Bener bahwa pemberat itu tujuannya untuk memberatkan. Crita simpelnya gini nih, peralatan penyelam kayak jaket bcd dan wetsuit itu memiliki daya apung positif, sedangkan tubuh penyelam ada yg berdaya apung positif, netral atau negatif. (Kebanyakan sih positif, terutama yang banyak sancamnya kayak aku gitu :D). Nah daya apung positif ini perlu untuk dinegatifkan saat tenggelam (menuju ke kedalaman), dinetralkan saat berada di dalam air. Nah urusan dinetralkan ini adalah hasil kerja sama antara pemberat dengan jumlah udara yang dikontrol masuk ke dalam jaket bcd (udaranya dari udara tabung selam itu juga).
Nah jika mo naik ke permukaan, daya apung yang sudah netral itu, tinggal ditambah sedikit kepakan kaki, naik deh pelan-pelan. Ntar kalo udah di permukaan mo berenang ke darat ato nunggu boat jemputan, baru deh masukin udara ke jaket bcd sa kembung-kembungnya buat terapung. Tapi jangan keliru ya, prosedur naik dari kedalaman menuju ke permukaan itu tidak dengan memasukkan udara ke bcd!! Tapi dengan dengan kontrol daya apung netral dan kontrol kecepatan dengan sedikit kepakan kaki. Jadi pemberat tetap dibutuhkan saat proses naik ke permukaan.
wuaaah serunya...
naaahh gw ga bisa ngapung nih ce... kenapa yak?? berenang ga bisa ngapung, gimana yak? :)
huaa asikk jalan2 lagiii, pemandangannya keren2.. ngomong2 itu foto elo helmnya dibuka dunk, biar keliatan wajahnya wkwkkwkwkw
Hixs...hixss....
*sambil nangis ngitungin recehan dicelengan ayamku, berharap dan berangan kapan bisa melihat dan mengagumi pemandangan seperti yang diliat ma ci Since*
Post a Comment