"Since, ulang tahunmu tinggal tidak lama lagi. Kado apa yang kamu mau?" tanya ibu mertuaku saat beliau mengunjungi kami.
Si Since dengan senyum nakal yang tersembunyi dengan tenangnya menjawab,
"Ah... aku mau tv berlayar datar. Tidak usah besar-besar, 32 inci aja cukup. Plasma juga boleh. Samsung, tapi Sony juga oke".Tenang dan dengan mimik yang serius. Padahal sebenarnya sulit sekali menahan senyum yang mulai melebar saat menggoda ibu mertua.
Ibu mertua saya:

... kemudian...

...
Masih terpingkal-pingkal,
"Aduh Since, kalau itu saya tidak bisa.""Lha.. mama yang nanya aku mau apa..." jawab saya dengan kalem, walaupun gaya kalem itu tidak bertahan lama, kalah dengan rasa geli yang menggelitik...

Sementara Reinier dan ayah mertua saya sudah terpingkal-pingkal di belakang kami.
"Mau kado apa untuk ulang tahunmu?"Pertanyaan tersebut adalah sebuah kejutan kecil bagi saya tahun lalu saat baru memulai hidup saya di negeri ini.
Kado dalam benak saya adalah sebuah surprise.
Selama ini saya selalu menerima kado yang isinya selalu merupakan sebuah kejutan bagi saya. Entah sebuah kejutan yang sangat menyenangkan atau hanya sekedar "Ou.."
Padahal kalau dipikir-pikir sebenarnya dengan mengatakan apa yang kita inginkan jauh lebih efisien. Karena kita mendapat isi kado seperti apa yang kita mau, dan bagi si pemberi kado sendiri tidak sia-sia dengan pemberiannya itu.
Hanya saja... janggal rasanya jika saya harus meminta sesuatu yang saya inginkan sebagai kado.
Sekarang saya lebih fleksibel dan lebih terbiasa dengan urusan kado ini.
Hayo siapa yang mau kasih kado ke saya? Ada satu daftar penuh dengan kado yang saya inginkan lho

Hahaha... kemaruk!!

Dalam tahun pertama di sini, ada banyak kejutan yang saya

temui dalam kebiasaan-kebiasaan di Belanda sini.
Misalnya kebiasaan menyuguhkan biskuit dalam kaleng pada setiap orang saat minum kopi/teh. Setelah tiba pada orang terakhir, kaleng tersebut langsung ditutup dan disimpan di dalam lemari.
Astaga.. kebayang kan ekspresi saya pada saat itu? Antara kaget dan geli. Yah... dijatah'in toch?
Ternyata kemudian saat berdiskusi tentang kebudayaan di kelas, barulah saya ketahui bahwa memang itu adat orang di sini.
Ada seorang teman yang berasal dari Rusia bertanya, jika kue itu enak, apakah boleh meminta potongan yang kedua?
Jawabannya, tidak sopan jika mengambil atau meminta potongan kue untuk kedua kalinya.
"Woooooaaaa...!!!" langsung ribut dengan komentar di kelas.
Ternyata baik di Indonesia, Rusia, Poland dan Mexico, kita semua menghidangkan kue di meja dan si tamu tentu saja boleh mengambil potongan kue untuk kedua kalinya.
Saat ini jika ada teman atau mertua yang bertamu di rumah kami, selalu saya katakan, "Saya bukan orang Belanda, silahkan dinikmati kuenya".
Kaleng kue selalu terbuka di meja dan hanya ditutup dan dimasukkan ke dalam lemari jika gelas-gelas kopi atau teh juga sudah dibersihkan dari meja, dan semua orang tentu saja boleh mengambil lebih dari satu.
Ibu mertua saya juga memperlakukan saya seperti itu jika saya berkunjung ke tempat mertua. Beliau selalu membiarkan kaleng kue tetap terbuka di meja dan saya juga boleh menikmati lebih dari satu jika saya mau

Di kelas kami juga sering menertawakan kebiasaan pesta di sini. Sungguh, pesta di sini sangat berbeda dengan pesta di negara kami masing-masing.
Pesta di negara kami masing-masing artinya MAKAN!!!
Dulu saat pertama kali saya agak bingung juga saat menghadiri pesta ulang tahun anak teman Reinier. Kami hanya diberi sepotong cake dengan kopi, kemudian chips dan beberapa makanan ringan lainnya dengan beberapa jenis minuman seperti cola, juice, bier atau wine. Tidak ada makanan seperti di Indonesia. Mereka menyebutnya borreltje.
Tapi terus terang, saat ini saya sungguh menikmati pesta model begini, terutama jika saya yang harus menjadi tuan rumahnya. Tidak repot jadinya. Paling juga cuma acara cuci gelas.

Kemudian saat kami diundang makan malam oleh seorang teman. Ternyata hidangannya sangat simpel, hanya pasta dan salad. Sungguh, saat itu saya agak geli dalam hati. Lha diundang makan malam cuma ini menunya? Bandingkan dengan di Indonesia, kalau kita mengundang orang makan di rumah, pasti sa' meja makan itu sudah penuh dengan bermacam-macam makanan.
Sekarang, saya justru menikmati "kesederhanaan" ini. Jadi kalau ada yang diundang untuk makan malam, saya tinggal bikin nasi/mie goreng, acar mentah, krupuk dan ayam goreng. Atau beberapa menu makanan yang simpel lainnya.
Sedangkan untuk model rijsttafel komplit (menu makanan Indonesia yang lebih beragam dan komplit) hanya saya lakukan untuk sebuah pesta yang lebih "special" dan dengan jumlah orang yang terbatas.
Masih ada lagi kebiasaan orang di sini yang sering bikin saya geregetan apa lagi pas musim hujan. Kebiasaan masuk ke rumah orang dengan sepatu, tidak perduli lantai rumah itu ditutupi dengan karpet dan sepatu mereka ada bercak lumpurnya.
Saat masih tinggal di appartement dulu, seluruh lantai appartement kami ditutupi dengan kapet. Rata-rata semua teman-teman saya yang bukan orang Belanda, saat mengunjungi kami, langsung membuka sepatu mereka sebelum masuk ke ruang tamu. Sementara teman-teman yang Belanda, ssrrrrttt... langsung saja dengan sepatu-sepatunya

Sekarang kami lantai rumah kami adalah jenis parket/kayu.
Saat teman-teman saya yang bukan orang Belanda mengunjungi saya, mereka juga hendak membuka sepatunya. Terpaksa saya cegah, karena lantainya lebih dingin daripada lantai dengan lapisan karpet. Dan mereka merasa sangat risih harus masuk dengan sepatu ke dalam rumah. Akhirnya saya katakan, kalau kalian merasa risih, lain kali bawalah slop rumah kalian jika hendak ke sini. Dan bagi mereka itu bukan masalah besar. Itu hal yang sangat wajar.
Hmmm... akan sangat menyenangkan jika orang Belanda juga menganggap itu hal yang wajar ya. Mungkin perlu dicoba saat musim hujan begini.
Mengepel lantai, membersihkan bekas jejak-jejak sepatu yang kotor setelah tamunya berlalu di musim hujan bukan hal yang besar, namun apakah saya terlalu berlebihan jika menurut saya akan lebih menyenangkan jika orang juga menghargai kebersihan lantai rumah kami?
Salah satu solusi yang bisa kami lakukan sekarang adalah menyediakan dobel keset di hall masuk yang bisa menyerap air dan kotoran dari sepatu dengan cepat saat hujan.
Belum lagi cara cuci piring khas orang Belanda yang pada awalnya sangat mengejutkan saya.
Astaga!!! Bayangkan saja, bak di isi dengan air panas, kemudian tuangkan sabun cuci piring secukupnya. Celup piring/gelas kotor ke dalam air panas dan sikat dengan sikat cuci piring, keluarkan tanpa dibilas lagi, masih penuh berlumuran busa begitu langsung dikeringkan dengan serbet.


Berhubung mesin cuci piringnya masih belum terpasang alias cuci piringnya masih manual, saya lebih memilih mencuci piring dengan cara saya sendiri, membilas piring/gelas dengan air bersih setelah dari air sabun, dan memilih menggunakan spons daripada sikat. Sedangkan jika giliran Reinier yang mencuci piring, dia boleh menggunakan caranya (cara Belanda). Namun karena Reinier mengetahui saya agak jijik dengan busa sabun yang masih menempel, dia selalu membilas sekilas busa-busa sabun tersebut sebelum dikeringkan
Ah.. yang di atas itu hanyalah sebagian dari perbedaan kebiasaan yang saya temui di sini.
Sebuah negeri ibarat sebuah keluarga. Setiap keluarga memiliki aturan dan kebiasaannya sendiri-sendiri.
Jadi teringat peribahasa saat SD dulu,
di mana kaki berpijak, di situ langit dijunjung.
Mungkin saya termasuk orang yang easy going.
Saya termasuk orang yang ingin menikmati kehidupan yang saya miliki tanpa harus berubah menjadi orang lain.
Setidaknya sampai saat ini, saya tidak menemui kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan kebiasaan di sini tanpa harus kehilangan "identitas budaya" yang telah saya miliki.
Semoga terus demikian.
Bagaimana dengan pengalaman kalian?