Yup, gara-gara niat keluyuran di Singapore tanpa harus menginap di sana membuat kami menjadwalkan waktu transit yang panjang di sana, 12 jam ketimbang hanya 3 jam.Dan mumpung di Singapore, sekalian bikin janjian ketemu dengan Cupi dan Oka.
Untung mereka berdua juga punya waktu untuk bertemu dengan kami.
Tiba di Changi airport sudah dijemput oleh Cupi, dan langsung dengan taxi kami diajak makan siang di daerah restaurant sepanjang riverside.Selesai acara mengisi perut, tiba acara shopping.
Haha.. Singapore tentunya belum lengkap tanpa acara shopping, kan?
Tapi shopping kali ini bukan untuk menambah isi lemari baju atau menambah koleksi sepatu atau tas.
Kami malah menyerbu Funan, mall IT itu. Hasilnya kami harus menenteng satu tas lumayan gede sepanjang sisa perjalanan di Singapore.

Di Funan mall ini juga kami sekaligus bertemu dengan Oka.
Dengan ditemani Cupi dan Oka, kami merambah mall ini mencari benda buruan kami dan kemudian ngobrol asyik di food-courtsnya, sampai tiba saatnya Oka harus melanjutkan perjalanan ke janji berikutnya.
Sementara kami bersama Cupi kemudian melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki dan menikmati pohon-pohon beton raksasa (baca: gedung-gedung tinggi) wajah Singapore hingga tiba kembali ke daerah sekitar sungai.

Melihat perahu yang membawa turis menyusuri sungai itu membuat saya tergoda juga. Akhirnya berdua dengan Reinier ikut river boat tour itu, menikmati pemandangan sepanjang sungai, yang tentu saja termasuk beberapa point yang terkenal seperti Merlion dan Esplanade theater dari atas perahu itu.

Lama-lama rasa lapar mulai menggigit perlahan-lahan, tapi pasti. Makan yuuk!!
Nah dasar dua orang ini, bukannya mencari makan yang gampang di daerah dekat sungai, malah bikin repot Cupi dengan keinginan mereka untuk makan makanan India.
Ujung-ujungnya diajaklah kami mencari makan di daerah sekitar Little India.
Begitu keluar dari stasiun metro di daerah Little India, saya langsung melotot kebingungan...
"Waahhh... ada apa ini????!!! Ada yang lagi demo ya??"
Dooohhh... yang kepikir kok langsung ke demo ya..??
Kalem Cupi menjawab, "'gak lah Since, emang begitu habit orang-orang India ini. Kalau sudah sore pasti mereka beramai-ramai turun ke lapangan sekedar bercengkerama dengan teman."
Weiiitss... hanya sekedar bercengkerama dengan teman sudah ramai dan padat begitu???
Sungguh.. ramainya seperti pasar malam atau mungkin seperti saat bubaran pertandingan sepak bola.
Rada-rada ngeri juga sih melihat keramaian begitu.
Dan hanya lelaki yang saya lihat di dalam keramaian itu. Perempuannya ke mana ya?
Ah sudahlah daripada memikirkannya, mendingan nikmati saja hidangan makanan India yang sudah terhidang di depan kami, di sebuah restaurant India yang sederhana.
Wuuuahh enaknya... tidak terasa sudah porsi kedua, bahkan ketiga yang menghilang ke dalam perut kami.
Pssst... padahal saya sempat kuatir kalau sampai harus bolak-balik ke toilet di pesawat nanti.
Untung aman-aman saja selama di pesawat.
Sebelum kembali ke Changi, kami sempatkan juga untuk melewati daerah China town.Wahh... cantiknya.. jauh banget dengan wajah Little India yang baru saja kami tinggalkan.
Dan... aduh... melihat makanan-makanan yang tersaji di sepanjang pecinan ini membuat tergoda juga...
Waduh... ingin mencoba tapi kancing celana saja sudah menjerit tercekik perut yang penuh terisi makanan India.
Hahahaha... godaan mata dan perut yang kekenyangan benar-benar kombinasi yang salah!!!
Di ujung China town ini kami mengucapkan selamat berpisah dengan Cupi dan melanjutkan perjalanan kami ke Changi.
Hari terasa begitu pendek, masih banyak tempat yang belum sempat kami kunjungi.
Next time... semoga..
Thanks banget buat Cupi. Sungguh lho kami 'gak nyangka Cupi bersedia meluangkan begitu banyak waktu untuk menemani kami dan menunjukkan wajah Singapore untuk kami.
Thanks juga buat traktirannya, Cupi.
Juga buat Oka, yang di samping kesibukan dan urusan pribadi, masih menyempatkan diri bertemu dengan kami. Thanks ya Ka.
Senang sekali bertemu dengan kalian berdua!!
Yang menarik perhatian kami dari museum Bahari sejujurnya bukan isi museum itu, melainkan bangunan tua museum itu sendiri yang masih kokoh, yang tadinya adalah bekas gudang pelabuhan di jaman penjajahan Belanda.
Sayang sekali, kami tidak sempat singgah di museum Fatahillah, melainkan hanya menelusuri daerah sekitarnya yang penuh dengan bangunan tua.


Gara-gara ingin mencoba membatik maka museum di daerah Petamburan ini kami kunjungi. Tapi sayang, waktunya tidak cukup, kami tiba di museum ini juga sudah kesorean. Ujung-ujungnya hanya berkeliling sebentar seputaran museum ini dan di bengkel kerjanya.
Walaupun mengenakan juga kain bercorak batik, saya bukan seorang pengamat batik, bahkan tidak mengerti tentang batik sedikitpun. Makanya berkeliling di dalam ruangan koleksi batik di sana merupakan hal yang membosankan, walaupun banyak juga pertanyaan yang saya lontarkan. Yaaahh.. walaupun membosankan toch tetap ada informasi sebagai tambahan pengetahuan yang bisa saya dapat.

Ah jadi melamun... seandainya saja Eindhoven juga ada J.Co donuts...
Belum lengkap mengunjungi suatu tempat tanpa singgah di pasarnya.
Kebun teh...
Tiba di daerah kebun teh, langsung tanpa harus dikomando kami menyerbu bapak penjual bakso yang sedang termenung nganggur itu.
Coba, apa yang lebih romantis? Sepayung berdua dibawah rintik hujan.. berjalan menelusuri setapak di kebun teh. Lambat tapi pasti kabut tipis-tipis mulai menggantung... tapi kok tiba-tiba malah adegan horor yang melintas di benak saya ya? Jadi terpikir villa putih yang dingin, sunyi dan tidak terawat di tengah-tengan kebun teh yang berkabut... tiba-tiba terdengar jeritan seorang perempuan dan diikuti dengan sesegukan yang menyayatkan...
Ah kupu-kupu ini lucu sekali.
Kembali bergabung dengan Emma dan Moudi yang menunggu di dekat restaurant dan melanjutkan acara ngintip dari balik lensa bersama Emma, yang ternyata sedang sibuk membidik aksi penjual rujak bebeg.
Karena masih ingin bangsa sup yang mengepul hangat, pesanlah saya semangkuk tom yam gung.
Reinier memesan crab-ballen dan Emma memesan bitter ballen, dan hasilnya... nyaris setali tiga uang.
Dalam perjalanan balik ke Jakarta, kami masih juga menyempatkan diri singgah di restauran di daerah Cipayung, cuma saya lupa nama restaurannya, untuk mencicipi sate.
Tapi tak mengapalah saya sekali-sekali dikecewakan dengan rasa makanan, lihat dari sudut baiknya saja, jadi ada kendali untuk jumlah makanan yang masuk ke perut ini *menghiburdirisendiridotcom*.
Moudi dan Emma, dua teman yang lebih dari sekedar teman.
Banyak pengalaman baru bagi dia, dan juga bagi saya, mulai dari stasiun sampai pengalaman di dalam kereta.
Mie Sehat adalah mie ayam juga sih, hanya saja mie ini katanya tidak mengandung MSG dan penyedap-penyedap imitasi lainnya. Ada 2 macam mie, mie bayam yang sudah pasti hijau warnanya dan mie wortel yang pasti oranye warnanya. Agak aneh juga memakan mie yang agak lain warnanya. Walaupun rasanya sendiri tidak mengecewakan.
Tiba di 
Sayangnya acara jalan-jalan di dalam Kebun Raya sendiri tidak maksimal. Saya tidak terpikir sebelumnya untuk mendonlot peta Kebun Raya dari situsnya. Saya kira kami akan diberi setidaknya brosur saat membeli tiket masuk dan peta kebun raya terpampang di gerbang pintu masuk atau di sudut-sudut yang strategis, atau setidaknya papan-papan penunjuk jalan yang jelas.
Setelah dari kebun raya, saya kemudian menemukan informasi dari 
Baru kira-kira 1,5 jam jalan-jalan berkeliling plus jeprat-jepret bareng Emma, kami diguyur hujan. Namanya juga kota hujan, tentunya belum lengkap tanpa hujan.

