Wednesday, May 30, 2007

12 Jam Keluyuran di Singapore (6)

Yup, gara-gara niat keluyuran di Singapore tanpa harus menginap di sana membuat kami menjadwalkan waktu transit yang panjang di sana, 12 jam ketimbang hanya 3 jam.

Dan mumpung di Singapore, sekalian bikin janjian ketemu dengan Cupi dan Oka.
Untung mereka berdua juga punya waktu untuk bertemu dengan kami.

Tiba di Changi airport sudah dijemput oleh Cupi, dan langsung dengan taxi kami diajak makan siang di daerah restaurant sepanjang riverside.

Selesai acara mengisi perut, tiba acara shopping.
Haha.. Singapore tentunya belum lengkap tanpa acara shopping, kan?
Tapi shopping kali ini bukan untuk menambah isi lemari baju atau menambah koleksi sepatu atau tas.
Kami malah menyerbu Funan, mall IT itu. Hasilnya kami harus menenteng satu tas lumayan gede sepanjang sisa perjalanan di Singapore.


Di Funan mall ini juga kami sekaligus bertemu dengan Oka.
Dengan ditemani Cupi dan Oka, kami merambah mall ini mencari benda buruan kami dan kemudian ngobrol asyik di food-courtsnya, sampai tiba saatnya Oka harus melanjutkan perjalanan ke janji berikutnya.

Sementara kami bersama Cupi kemudian melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki dan menikmati pohon-pohon beton raksasa (baca: gedung-gedung tinggi) wajah Singapore hingga tiba kembali ke daerah sekitar sungai.


Melihat perahu yang membawa turis menyusuri sungai itu membuat saya tergoda juga. Akhirnya berdua dengan Reinier ikut river boat tour itu, menikmati pemandangan sepanjang sungai, yang tentu saja termasuk beberapa point yang terkenal seperti Merlion dan Esplanade theater dari atas perahu itu.

Lama-lama rasa lapar mulai menggigit perlahan-lahan, tapi pasti. Makan yuuk!!
Nah dasar dua orang ini, bukannya mencari makan yang gampang di daerah dekat sungai, malah bikin repot Cupi dengan keinginan mereka untuk makan makanan India.
Ujung-ujungnya diajaklah kami mencari makan di daerah sekitar Little India.

Begitu keluar dari stasiun metro di daerah Little India, saya langsung melotot kebingungan... Shocked
"Waahhh... ada apa ini????!!! Ada yang lagi demo ya??"
Dooohhh... yang kepikir kok langsung ke demo ya..??
Kalem Cupi menjawab, "'gak lah Since, emang begitu habit orang-orang India ini. Kalau sudah sore pasti mereka beramai-ramai turun ke lapangan sekedar bercengkerama dengan teman."

Weiiitss... hanya sekedar bercengkerama dengan teman sudah ramai dan padat begitu???
Sungguh.. ramainya seperti pasar malam atau mungkin seperti saat bubaran pertandingan sepak bola.
Rada-rada ngeri juga sih melihat keramaian begitu.
Dan hanya lelaki yang saya lihat di dalam keramaian itu. Perempuannya ke mana ya?

Ah sudahlah daripada memikirkannya, mendingan nikmati saja hidangan makanan India yang sudah terhidang di depan kami, di sebuah restaurant India yang sederhana.
Wuuuahh enaknya... tidak terasa sudah porsi kedua, bahkan ketiga yang menghilang ke dalam perut kami.
Pssst... padahal saya sempat kuatir kalau sampai harus bolak-balik ke toilet di pesawat nanti.
Untung aman-aman saja selama di pesawat.

Sebelum kembali ke Changi, kami sempatkan juga untuk melewati daerah China town.
Wahh... cantiknya.. jauh banget dengan wajah Little India yang baru saja kami tinggalkan.
Dan... aduh... melihat makanan-makanan yang tersaji di sepanjang pecinan ini membuat tergoda juga...
Waduh... ingin mencoba tapi kancing celana saja sudah menjerit tercekik perut yang penuh terisi makanan India.
Hahahaha... godaan mata dan perut yang kekenyangan benar-benar kombinasi yang salah!!! Hysterical

Di ujung China town ini kami mengucapkan selamat berpisah dengan Cupi dan melanjutkan perjalanan kami ke Changi.

Hari terasa begitu pendek, masih banyak tempat yang belum sempat kami kunjungi.
Next time... semoga..

Thanks banget buat Cupi. Sungguh lho kami 'gak nyangka Cupi bersedia meluangkan begitu banyak waktu untuk menemani kami dan menunjukkan wajah Singapore untuk kami.
Thanks juga buat traktirannya, Cupi.
Juga buat Oka, yang di samping kesibukan dan urusan pribadi, masih menyempatkan diri bertemu dengan kami. Thanks ya Ka.
Senang sekali bertemu dengan kalian berdua!!

Friday, May 25, 2007

Menelusuri Jakarta (5)

Walau hanya seujung kuku jari kami menelusuri Jakarta, namun ada banyak hal yang tertangkap oleh indera.

Tidak.. tidak... saya tidak akan menceritakan tentang kemacetan di Jakarta yang akhirnya menimbulkan kesan seolah-olah penghuni Jakarta menikmati kemacetan itu, atau tentang lalu lintasnya yang ribet dan super padat, atau tentang belantara bangunan, atau perbedaan tentang kaya dan miskin, atau tentang... semua cerita usang yang terus berputar dan selalu "in".

Menelusuri keriput wajah Jakarta.

Bagian tua dari suatu kota adalah bagian yang sangat menarik karena penuh dengat kerutan-kerutan cerita masa lalu dan selalu memiliki nuansa yang unik dan misteri dalam waktu.

Karena ketertarikan ini kami mengunjungi museum Bahari di daerah Sunda Kelapa dan daerah kota tua di seputaran museum Fatahillah.

Yang menarik perhatian kami dari museum Bahari sejujurnya bukan isi museum itu, melainkan bangunan tua museum itu sendiri yang masih kokoh, yang tadinya adalah bekas gudang pelabuhan di jaman penjajahan Belanda.

Sayang sekali, kami tidak sempat singgah di museum Fatahillah, melainkan hanya menelusuri daerah sekitarnya yang penuh dengan bangunan tua.

Terenyuh juga melihat kondisi sebagian besar bangunan tua yang rusak dan kumuh, padahal jika bangunan-bangunan ini dirawat dengan baik, mereka adalah aset pariwisata dan aset sejarah yang sangat menarik.
Monas.

Benar-benar jadi turis kali ini, Monas pun kami rambah!!! Beberapa kali ke Jakarta, baru kali ini saya mengunjungi Monas.
Sejujurnya, menurut saya selain karena namanya yang "Monumen Nasional" dengan lapisan emas di puncaknmya, tidak ada yang menarik di sana.
Hanya pemandangan Jakarta yang berselimut kabut polusi.
Musik yang terlalu keras disetel, kekeran di ruangan puncak yang hanya tinggal tiangnya saja tanpa kekerannya dan kemudian gambar/foto petunjuk bangunan-bangunan di sekitar Monas yang hanya berisikan kode nomer tanpa keterangan bangunan apa itu. Kemudian toko souvenir yang tertutup rapat pada saat jam pengunjung penuh.
Maaf ya, jika saya banyak komplain, tapi hal-hal kecil itu bukan sebaiknya diperhatikan dan dilengkapi dengan baik?
Bukankah Monas adalah Monumen Nasional?

Museum Textil.

Gara-gara ingin mencoba membatik maka museum di daerah Petamburan ini kami kunjungi. Tapi sayang, waktunya tidak cukup, kami tiba di museum ini juga sudah kesorean. Ujung-ujungnya hanya berkeliling sebentar seputaran museum ini dan di bengkel kerjanya.

Walaupun mengenakan juga kain bercorak batik, saya bukan seorang pengamat batik, bahkan tidak mengerti tentang batik sedikitpun. Makanya berkeliling di dalam ruangan koleksi batik di sana merupakan hal yang membosankan, walaupun banyak juga pertanyaan yang saya lontarkan. Yaaahh.. walaupun membosankan toch tetap ada informasi sebagai tambahan pengetahuan yang bisa saya dapat.

Bengkel kerja tempat pelatihan membatik justru lebih menarik bagi kami. Melihat kesibukan para mbak-mbak dan mas-mas di sana, mulai dari menyalin corak, membuat pola, sampai membatik, semua dilakukan dengan teliti dan sabar.
Waaahhh... tidak janji deh saya bisa seteliti dan sesabar itu.

Wisata Kuliner.
Nah yang ini sudah pasti tidak ketinggalan. Makan itu penting!!! Teethy

Diajak ke Halaman, mirip warung Madiun gitu, makanannya enak, tempatnya juga asyik (jadinya emang makan di halaman terbukanya).

Jalan-jalan di Petak Sembilan, melirik makanan di pasar pecinan.
Singgah di Ragusa, warung es Italia yang buka sejak 1932.
Jalan-jalan di Senayan City food courts, lewat counter mie tarik, jadi teringat promosi Anung soal mie ini. Maka pesanlah saya seporsi mie tarik bumbu rica-rica. Wah.. benar-benar pedesnya, sampe berair hidung ini. Pas benar buat pencinta pedes!!

Disuguhi J.Co donuts sekali, eh... malah jadi tergila-gila kami pada donats ini.
Sayang di Bali belum ada J.Co donats. Ah jadi melamun... seandainya saja Eindhoven juga ada J.Co donuts... Hysterical

Taxi

Saat di Jakarta kami sudah diingatkan jika hendak menggunakan taxi, maka hanya ada 2 perusahaan taxi yang bisa dipercaya. Selain nama dari kedua perusahaan ini sebaiknya jangan digunakan.
Hati-hati dan teliti saat memanggil taxi karena ada perusahaan taxi yang lambang dan warnanya nyaris mirip.
Tapi kenapa harus sampai seperti itu hati-hatinya? Kriminalitas!!!
Penodongan dalam taxi, hasil kong kali kong!!! Wah...

Tadinya peringatan itu hanya selintas berdiam dalam memory ingatan saya, sampai pada suatu hari ketika sedang berasyik masyuk di toilet sebuah mall mewah, tiba-tiba percakapan melengking dua cewek terdengar oleh saya. Intinya baru saja seorang teman mereka yang diperentelin di taxi dan sekarang masih shock di bawah sana.
Wadewww!!!

Pasar

Belum lengkap mengunjungi suatu tempat tanpa singgah di pasarnya.
Ada banyak hal-hal yang menarik yang bisa kita lihat di pasar.
Maka pagi sebelum terbang kembali ke Denpasar, kami sempatkan ke pasar Mayestik di daerah blok-M dengan Emma dan Moudi, walaupun di bawah ancaman galak Emma supaya jangan dekat-dekat dengannya saat di pasar, takutnya dia dikasih "harga bule" sama penjualnya. Hysterical


Demikianlah hasil jalan-jalan kami di Jakarta.
Ada banyak tempat yang tidak sempat kami kunjungi, ada beberapa teman yang tidak sempat kami temui.
Banyak waktu yang terbuang di tengah kemacetan dan terbuang saat berputar-putar mencari tempat untuk parkir.
Zonde van de tijd.
Jakarta memang membuat penghuninya tua di jalan.
Tapi semua itu sudah menjadi satu paket dengan Jakarta, bahkan seperti sebuah todongan: Take it or leave it!

Thanks banget buat Moudi dan Emma yang sudah mau kami repotkan dan juga buat tante Rum.
Senang sekali walaupun tidak direncanakan jauh-jauh hari, kita tetap bisa menikmati waktu bersama, teman.

Monday, May 21, 2007

Sehari di Kebun teh (4)

Kebun teh...
Terdengar Asia banget kan?
Langsung terbayang juga daerah yang hijau dan sejuk.
Atau... entahlah.. kenapa jika mendengar kebun teh yang terbayang di benak saya adalah romantisme jaman kolonial dulu?
Aneh..

Ah, apapun itu, kebun teh menjadi sasaran kami juga liburan yang lalu.
Dengan menggunakan kijangnya Moudi, dan disetir oleh Reinier, berempat dengan Emma, berangkatlah kami ke sana.
Tidak ada macet Sabtu pagi itu di tol, tapi begitu keluar tol, tararam... selamat datang dalam kemacetan!!! Maka beriring-iringlah kami seperti iringan semut menuju ke daerah Puncak, yang sedang ditutupi langit kelabu. Padahal saat dari Jakarta langit cerah ceria.

Tiba di daerah kebun teh, langsung tanpa harus dikomando kami menyerbu bapak penjual bakso yang sedang termenung nganggur itu.
Waahh.. bayangan bakso panas mengepul sungguh menggoda.
Reinier yang sudah mengenal kelakuan gerombolan ini hanya bisa menggeleng kepala.
Mungkin dalam benaknya adalah, gembul-gembul amat sih ini orang-orang!!! Bodoh ah... aji mumpung dipakai. Mumpung masih gampang jajan sana sini. Hysterical
Sayangnya, rasa baksonya tidak seenak dalam bayangan saya, sepertinya ada rasa yang kurang. Kurang menggigit.
Akhirnya cuma setengah mangkuk yang saya habiskan.


Belum juga acara jalan-jalan dimulai, rintik hujan sudah menghiasi hari.
Aduh!!! Padahal sudah beriming-iming untuk jalan-jalan menyelusuri jalan setapak antara petak-petak kebun teh.

Tapi dasar dua manusia yang maju terus tak pantang hujan, kebun teh pun kami telusuri dibawah rintik hujan berbekal payung pinjaman dari Emma.

Coba, apa yang lebih romantis? Sepayung berdua dibawah rintik hujan.. berjalan menelusuri setapak di kebun teh. Lambat tapi pasti kabut tipis-tipis mulai menggantung... tapi kok tiba-tiba malah adegan horor yang melintas di benak saya ya? Jadi terpikir villa putih yang dingin, sunyi dan tidak terawat di tengah-tengan kebun teh yang berkabut... tiba-tiba terdengar jeritan seorang perempuan dan diikuti dengan sesegukan yang menyayatkan...
Waaaaaahhhh... jadi merinding... syeremm...
Ini nih, hasil terlalu banyak membaca novel cerita horor.
Tidak mendidik!!
Adegan romantis jadi buyar deh!!! Kacau!! Hysterical

Untung rintik hujan pun segera berlalu, sehingga acara memainkan kamera bisa berlanjut lancar, tanpa harus dilindungi dengan payung.

Ah kupu-kupu ini lucu sekali.
Dia hinggap di pergelangan tangan saya, dan betah di sana. Ketika saya memindahkannya ke semak, segera terbang dia dan hinggap kembali di pergelangan tangan ini. Entah apa yang membuat betah di sana.
Terakhir kalinya saya harus meminta bantuan Reinier untuk perlahan dengan bantuan setangkai daun memindahkannya kembali ke semak, sementara saya segera kabur dari tempat itu sebelum si kupu-kupu manis itu kembali menemukan pergelangan tangan saya.

Kembali bergabung dengan Emma dan Moudi yang menunggu di dekat restaurant dan melanjutkan acara ngintip dari balik lensa bersama Emma, yang ternyata sedang sibuk membidik aksi penjual rujak bebeg.
Rujak yang semua isinya ditumbuk sampai hancur.

Seumur hidup, baru kali itu saya mencicipi rujak bebeg.
Rasanya sih bolehlah. Rujak.
Tapi bentuknya itu lho... 'gak jadi ah...

Ah.. ya.. bagi yang belum mengenal rujak bebeg, tolong e-nya dibaca seperti e pada pedang, jadi bunyinya tidak kedengaran seperti bebek.

Hasilnya Reinier dan Moudi harus duduk menunggu kami seperti dua anak yang hilang arah.
Aduh.. maap ya.. maap.. hihihi... Teethy

Dari kebun teh, kami singgah sebentar di Temptation FO dan segera menyerbu Melrimba restaurant di sebelahnya.

Karena masih ingin bangsa sup yang mengepul hangat, pesanlah saya semangkuk tom yam gung.
Ternyata muncul kemudian semangkok gede sup yang bisa dijadikan kolam pemancingan!!!
Alias saking gedenya itu mangkok, dan kebanyakan kuahnya, saya harus "memancing" isi tom yam gung-nya.
Mana tidak panas lagi.
Bah.. Mengecewakan!!!
Untunglah secangkir cappuccino hangat masih bisa menghangatkan perut saya.

Reinier memesan crab-ballen dan Emma memesan bitter ballen, dan hasilnya... nyaris setali tiga uang.
Rasanya sih tidak mengecewakan, hanya saja rasa yang membedakan antara crab-ballen dan bitter ballen sangat tipis. Dan rasa itu hanya ada pada sausnya!!!
Wah.. ini sih mestinya bitter ballen saus crabby judulnya.

Dalam perjalanan balik ke Jakarta, kami masih juga menyempatkan diri singgah di restauran di daerah Cipayung, cuma saya lupa nama restaurannya, untuk mencicipi sate.
Maklum saja ada yang kangen sate kelinci.
Kami juga memesan sate rusa dan sate bebek.
Sate bebeknya sih enak banget.
Tapi sate rusanya, ooohhh tidakkkk.. kembali saya dikecewakan!!!

Tapi tak mengapalah saya sekali-sekali dikecewakan dengan rasa makanan, lihat dari sudut baiknya saja, jadi ada kendali untuk jumlah makanan yang masuk ke perut ini *menghiburdirisendiridotcom*. :P

Sayangnya saat kebun teh itu, ada tempat yang ingin kami kunjungi tapi terlewatkan karena informasi yang juga terlewatkan. Pabrik teh.
Ah.. bagaimanapun kami menikmati perjalanan kami hari itu. :)

Wednesday, May 16, 2007

Kisah di Kereta dan Kota Hujan (3)

Lha?
Dari bermain di dunia dalam air di utara Bali loncatnya ke kota hujan?
Yup!! Begitulah kejadiannya.

Sebenarnya kami tidak memiliki rencana untuk ke Jakarta dan sekitarnya. Tapi karena ada perubahan ini dan itu, maka kami putuskan saja untuk jalan-jalan selama 5 hari di Jakarta dan tetangganya.
Kebetulan Reinier sendiri belum pernah mengunjungi Jakarta dan sama sekali belum mempunyai gambaran bagaimana wajah kota terbesar di Indonesia itu.
Kebetulan dua karibku juga mendiami kota ini.

Moudi dan Emma, dua teman yang lebih dari sekedar teman.
Ahh.. ada begitu banyak cerita bersama mereka berdua. Kami pernah tertawa bersama, menangis bersama, juga pernah saling sebel-sebelan.
Cerita tentang tiga karakter yang berbeda namun saling mengisi dan mendukung, walaupun mengisi dan mendukung itu kadang termasuk dengan cara bertengkar Hysterical

Singkat cerita, acara kami yang berada paling atas dari rencana jalan-jalan di Jakarta dan seputarannya di bloknote-nya Moudi adalah jalan-jalan ke Bogor.
Dari stasiun Tebet, kami menggunakan jasa kereta api ekonomi ke Bogor, sesuai dengan permintaan saya.
Bukan.. bukan karena Harga tiket yang hanya Rp. 2500/orang.
Bukan, bukan karena murahnya, melainkan karena warna dan atmosfir yang berbeda, khususnya bagi Reinier.

Banyak pengalaman baru bagi dia, dan juga bagi saya, mulai dari stasiun sampai pengalaman di dalam kereta.
Mulai dari kereta yang penuh berdesakan sampai-sampai orang-orang yang duduk memenuhi atap kereta api.
Oaalaah... itu nyawa apa tidak berharga lagi, mas?

Sampai pada suasana di dalam kereta sendiri yang juga unik, selain para penumpang, ada penjual obeng, penjual aqua, penjual harmonika, tukang ngamen, penjual...
Akhirnya kami saling berbisik menyebut nama-nama toko di Belanda jika ada pedagang yang mendekat. Praxis jika penjual obeng dan test-pen mendekat, Bruna jika penjual majalah dan koran mendekat, Bart Smit jika ada penjual mainan, Kruidvat jika ada penjual tissue, AH jika tukang buah mendekat, Zeeman jika ada pejual kaus kaki...
Wah... ramai... sampai-sampai pengemis kusta yang menyeret-nyeret kakinya yang penuh luka yang sudah terinfeksi juga ada.

Di Stasiun Depok Lama ternyata kami harus berganti kereta yang menuju arah Bogor.
Dan... kisah selanjutnya pun dimulai.
Reinier dan Moudi kecopetan!!!! Hp keduanya diembat orang, sementara zipper tas tangan Emma terbuka separuh namun isinya tidak terganggu gugat.

Lha ini orang dua juga, hp kok ditaruh di kantong celana sih?!!
Ya, bergerilyalah tangan-tangan siluman itu!!!
Untung juga... (nah kan masih kebiasaan melayu juga: UNTUNG!!!) mereka berdua menggunakan hp tua sementara hp yg sehari-hari digunakan tersimpan dengan aman di rumah.
Kami bahkan sempat mencandai Moudi kalau-kalau si pemilik tangan siluman yang menilep hp-nya saat itu sedang menyesal habis-habisan karena harga hp-nya dan dosa yang dibuat jauh dari berimbang ROTFL

Ujung-ujungnya, acara yang paling pertama kami lakukan saat tiba di Bogor adalah bercengkerama ria di kontor polisi Bogor, membuat laporan acara kehilangan, dan juga segera menelpon sana-sini untuk memblokir kartu sim mereka. Wah...

Benar juga kata Reinier pada saya, "Tidak perduli sesederhana apapun yang saya kenakan, toch postur fisik saya seolah sudah memberikan stiker besar di dahi saya "Mangsa Empuk"."
Well.. sudahlah.. daripada menambah dosa karena berkomat-kamit, biarlah... semoga hp-hp itu menghasilkan sesuatu yang berguna bagi pencopetnya. Mungkin untuk membayar ongkos sekolah, bayar ongkos obat... atau... sudah ah...

Setelah selesai acara di kantor polisi, perut-perut ini sudah merintih-rintih minta diisi. Maka segeralah dengan dipandu oleh Emma, gerombolan ini menuju jalan Surya Kencana untuk mencari mie Sehat.

Mie Sehat adalah mie ayam juga sih, hanya saja mie ini katanya tidak mengandung MSG dan penyedap-penyedap imitasi lainnya. Ada 2 macam mie, mie bayam yang sudah pasti hijau warnanya dan mie wortel yang pasti oranye warnanya. Agak aneh juga memakan mie yang agak lain warnanya. Walaupun rasanya sendiri tidak mengecewakan.

Selain mie sehat, kami juga menyerbu otak-otak tengiri dan asinan pala yang dijual di depan restaurant ini.
Saya juga mencoba otak-otak jamur. Uih.. aneh rasanya.
Sudahlah, otak-otak tenggiri masih yang terenak, menurut saya.

Dari restorant mie Sehat ini, barulah kami menuju ke Kebun Raya Bogor dengan tidak ketinggalan acara salah memilih mikroletnya Hysterical
Tapi tidak mengapa, kan jadi bisa keliling-keliling melihat-lihat kota Bogor lewat jalur mikrolet.

Tiba di Kebun Raya, apa yang paling pertama dilakukan? Yup, betul, makan lagi!!!
Singgah di Café Dedaunan sebentar, tadinya sih rencananya hanya sekedar melepaskan dahaga. Eeh.. tergoda juga gara-gara melihat pondok pofercesnya. Jadilah pesan satu porsi poferces dihajar beramai-ramai.
Pofercesnya lucu ih, bukannya plat seperti koin, ini malah bulat seperti oliebollen. Lihat saja gambar di samping kanan itu.


Sayangnya acara jalan-jalan di dalam Kebun Raya sendiri tidak maksimal. Saya tidak terpikir sebelumnya untuk mendonlot peta Kebun Raya dari situsnya. Saya kira kami akan diberi setidaknya brosur saat membeli tiket masuk dan peta kebun raya terpampang di gerbang pintu masuk atau di sudut-sudut yang strategis, atau setidaknya papan-papan penunjuk jalan yang jelas.
Tapi saya tidak melihat apa-apa.
Atau kami yang kurang jeli mencari papan penunjuk arah?

Akhir kami hanya mengekplorasi buta tempat ini. Melangkah sesuka kaki melangkah.

Setelah dari kebun raya, saya kemudian menemukan informasi dari sini, ternyata telah diterbitkan buku "Empat Rute Jalan Kaki dengan Panduan Kebun Raya Bogor".
Hanya saja saya tidak jelas di mana kami bisa menemukan buku itu.

Tidak kami perhatikan saat membeli karcis di loket jika ada buku yang bisa menuntun kami di dalam kebun, ya karena tidak terpikirkan saat itu bahwa petunjuk arahnya tidak jelas di dalam sana. Makanya tidak jeli memperhatikan.

Begitulah jika acara jalan-jalan yang tiba-tiba terbersit dari otak dan langsung instant dikerjakan. Informasinya jadi tidak lengkap.
Tapi toch tetap fun. Kejutan-kejutan yang kami temukan adalah petualangan bagi kami.


Baru kira-kira 1,5 jam jalan-jalan berkeliling plus jeprat-jepret bareng Emma, kami diguyur hujan. Namanya juga kota hujan, tentunya belum lengkap tanpa hujan.
Kembalilah kami ke Café Dedaunan. Sambil menunggu hujan reda... ya makan lagi. Too Funny

Menjelang senja kami kembali ke Jakarta dengan kereta yang ber-ac (kereta Pakuan???) yang bersih, sepi, bebas pedagang asongan dan pengamen. Pengamennya hanya ada saat kereta masih di stasiun dan asik punya, bukan yang sekedar asal tarik suara.
Wah... bedanya.. sungguh terasa!!

Foto di bawah ini adalah stasiun kereta di Bogor. Gaya bangunan yang tua itu membuatnya artistik di mata saya.


Demikianlah petualangan hari itu yang penuh warna dan pengalaman-pengalaman baru.