Wednesday, May 25, 2005

Op z'n Jan Boeren Fluitjes

Menyelam dan memotret kehidupan dalam laut adalah dua hal yang sangat saya gandrungi. Saat melakukan solo dive (saya termasuk penganut solo dive, walaupun saya selalu mengatakan "never dive alone" pada murid-murid saya), saya bisa dengan sabar diam bermenit-menit menunggu "korban" keluar dari persembunyiannya dan berada pada posisi yang oke untuk di-shoot. Saya menyukai obyek yang besar seperti manta, hiu, penyu atau yang lainnya, namun saya lebih menyukai obyek yang macro .


My uw macro, nudibranch n bubble coral srimp.

Menyelam, mengamati kegiatan kehidupan dalam laut dan mengabadikannya lewat lensa kamera... rasanya nikmat sekali. Sayangnya, sekarang saya tidak bisa menikmati semua kegiatan itu seintens ketika saya masih di Indonesia Sad

Walaupun begitu, semangat untuk membidik korban dari balik lensa tetap mengebu-gebu. Setiap kali kami bersepeda (kegiatan yang sangat jarang saya lakukan di tanah air. Saya hanya bersepeda saat masih anak-anak dulu dan.. terakhir saya bersepeda sebelum saya pindah ke sini kira-kira 12 tahun yang lalu!! Saat saya KKN di desa Layeni, Seram) atau berjalan menyusuri hutan, perkebunan atau pinggiran kota, kamera tidak pernah absen dari ransel saya.



Hasil jalan-jalan di pinggiran kota.

Bahkan kebun mertua pun tidak lepas dari pengamatan saya Smile
Untung saja mertuaku tidak merasa aneh dengan kegiatan saya di kebunnya, yang kadang-kadang nungging, atau berposisi "semi akrobat" lainnya saat mengambil gambar (yang pasti sih tidak dikomentari ke saya, hehehe... Brows).


Bloemen.

Well.. op z'n Jan boeren fluitjes, let's make life simple. Hidup tak perlu dibuat ruwet kan? Tak ada rotan akar pun jadi, tak ada laut darat pun jadi!! Walaupun, jangan dibandingkan dengan kenikmatan memotret dalam air.....

"Kemarin adalah kenangan dan pengalaman, detik ini adalah hidup dan nyata, besok adalah harapan dan impian."
Waktu adalah pemberian yang indah dari Tuhan.

Wednesday, May 18, 2005

How is your school?

How is your school? Do you like your class? Do you enjoy your school? What do they teach you there? Is it difficult for you?
Ya, itu semua pertanyaan-pertanyaan standard yang saya terima akhir-akhir ini.

But, how is my school to me myself?
Sekolahku baru satu minggu umurnya, hari-hari pertama terasa agak membosankan karena yang dipelajari bagaimana mengisi sebuah formulir. Namun beberapa hari belakangan ini lebih mengasikkan dan memabokkan karena yang sekarang dipelajari adalah percakapan sehari-hari dalam bahasa Belanda.
Doofus
Ya, seperti itu kira-kira tampang saya sekarang. Bagaimana tidak, pelajaran di kelas adalah Belanda-Belanda. Artinya, saya belajar bahasa Belanda dengan penjelasan dalam bahasa Belanda. Jadi si gurunya menjelaskan, bertanya ataupun menjawab selalu dalam bahasa Belanda. Nah lo. Mabook kan? Keriting otak saya jadinya.

Saya jadi merasa seperti anak kecil yang sedang belajar berbicara, mengeluarkan suara-suara "aneh" dari mulut saya. Seperti anak kecil yang sedang belajar membaca dengan terbata-bata. Dan juga, belajar menulis dengan benar saat dikte.
Ahhh... jadi senyum-senyum sendiri ingat saat masih di kelas 1 SD dulu, saat masih cute-cutenya... Lol
Saya berharap, semoga spirit yang saya miliki saat itu masih saya miliki juga saat ini



Dibandingkan dengan suasana di kelas, kegiatan di ruang komputer terasa membosankan. Semua latihan soal yang kami lakukan dengan komputer sama dengan latihan soal yang terdapat pada kepingan cd untuk latihan kami di rumah. So, hanya merupakan pengulangan dari latihan yang sudah saya lakukan dengan komputer saya di rumah. Namun, tidak semua siswa memiliki waktu yang cukup di rumah untuk melakukan latihan soal di komputer tersebut.

Tadinya kami bersembilan di kelas, tapi sejak minggu ini kami hanya berdelapan. Satu dari kami, gadis Jerman, pindah ke kelas dengan level yang lebih tinggi (kelas yang sudah 2 bulan berjalan sebelum kelas kami). Tidak heran, dia bahkan sudah mampu bercakap-cakap dan menjelaskan sesuatu dalam bahasa Belanda.

PR? So pasti! Sekolah tanpa PR mungkin seperti "mission impossible" Lol
PR untuk besok adalah berusaha mengingat arti kata-kata yang ada dalam daftar kata dari bab 2, mampu menjelaskan arti kata tersebut dalam bahasa Belanda dan memberikan contoh kalimat, serta menghafal bentuk lampau dari kata kerjanya Bug Eyed (seperti do, did, done di English)
Ah ya, minggu lalu sebelum long weekend, ada seorang siswa yang sempat komplein ke guru kami saat dia memberikan PR.
"Anda tahu kan kalau besok itu libur? Kenapa anda memberikan PR pada kami? Seharusnya libur ya libur. kami tidak harus memikirkan sekolah saat libur!"
Waaaahh... setuju boanget!!! hahaha... Too Funny Maunya siih... Sayang, sang guru tidak sependapat dengan gadis tersebut.

Dan di rumah, Reinier selalu membantu saat saya menemukan kesulitan dalam pelajaran saya dan juga selalu siap menjadi "lawan tanding" saya saat mempraktekkan bahasa Belanda ala Since (yang kadang-kadang agakShockedbuat dia) He..he..he..Roll Namanya juga usaha...

Wednesday, May 11, 2005

Sekolah Lagi

Setelah 10 tahun meninggalkan bangku kuliah, saya harus kembali lagi ke bangku sekolah. Lima hari dalam seminggu dan tiga jam setiap harinya selama satu tahun. Sekolah beneran deh jadinya.
Tapi ini bukan sekolah buat ambil program master, ini inburgerings cursus (Integration course) judulnya. Isinya, belajar bahasa Belanda, orientasi sosial, informasi kemungkinan untuk bekerja (yang ini urusan beberapa bulan kemudian) dan informasi pendidikan lanjutan (kalo ada minat mo nerusin sekolah).
Ini kursus diwajibkan oleh pemerintah di sini untuk semua imigran (yang berasal dari negara-negara non EU) yang akan tinggal di sini (baik untuk sementara ataupun yang akan menetap). Dan biaya inburgerings cursus ini ditanggung oleh pemerintah sini untuk saat ini. Kalo misalnya ada imigran yang menolak ikut kursus ini, boleh saja, asal dia harus bisa membuktikan kalau dia sudah mampu berbahasa Belanda, atau dia akan didenda oleh pemerintah Belanda.

Saat saya tiba dan melapor di Gemeente Huis (kantor kotamadya), saya dianjurkan untuk tidak membuang waktu, mengambil langkah sendiri untuk menghubungi biro inburgerings untuk urusan kursus ini, dengan membawa bukti lapor diri, tanpa harus menunggu undangan untuk kursus setelah ijin tinggal saya keluar (yang mungkin akan memakan waktu beberapa bulan untuk proses ijin tinggal). Hasilnya, saya bisa mengikuti kelas yang mulai musim semi ini.
Saya termasuk yang beruntung, disamping semua biaya pendidikan (untuk 600 jam), termasuk buku-buku, masih ditanggung oleh pemerintah sini. Harga satu paket buku+cd rom sekitar 76 euro, dan ada 3 paket selama setahun pelajaran ini. Kebayang kan kira-kira berapa biaya yang mesti dikeluarkan kalau harus membayar sendiri? Doofus Dan dalam waktu 6 minggu sejak saya tiba di sini saya sudah bisa mengikuti proses kursus ini.
Makanya walaupun ada yang pro dan kontra tentang kursus ini, saya tetap dengan senang hati mengikuti kursus ini.

Karena ada berbagai latar belakang peserta, kami harus mengikuti kelas perkenalan selama 2 minggu untuk menentukan level kelas kami. Dalam kelas perkenalan ini banyak hal-hal lucu yang terjadi karena salah mengerti, terutama bagi peserta yang tidak bisa berbahasa Inggris. Kami berusaha untuk saling berkomunikasi dengan harus melibatkan body language Lol
Di sisi lain ada positifnya juga, bahwa mau tidak mau satu-satunya cara berkomunikasi ya dengan bahasa Belanda yang sedang kami pelajari itu.

Nah mulai minggu ini hasil pembagian kelas tersebut resmi berjalan. Di kelas saya ada 9 murid, semuanya perempuan. Tadinya ada satu teman dari Indonesia juga di kelas saya, namun karena beberapa kepentingannya termasuk balik ke Indonesia Juni besok, dia baru akan mulai Agustus nanti dengan kelas berikutnya.

Menurut informasi yang saya dengar kebijakan pemerintah mengenai inburgering cursus ini akan berubah tahun depan. Calon pendatang harus mengikuti kursus di negaranya sendiri dengan biayanya sendiri, dan harus lulus test di kedutaan Belanda sebelum mendapatkan ijin tinggalnya. Dan biaya untuk test itu tidak murah. Wah....

Saturday, May 07, 2005

Kampung Jaman Besi

Menurut ramalan cuaca, hari Kamis kemarin hujan, namun kenyataannya sejak pagi cuaca cukup cerah walaupun tidak sehangat hari Minggu sebelumnya. Maka kami memutuskan untuk bersepeda dan sekaligus mengunjungi Historical Open-air Museum di Eindhoven sini.
Sayangnya museum card tidak berlaku di museum ini, kebetulan kami masing-masing memiliki museum card, kado dari seorang teman saat pernikahan kami.

Sebenarnya saya bukan seorang penggemar museum, walaupun begitu kadang-kadang tertarik juga untuk mengunjungi museum-museum tertentu. Seperti Historical Open-air Museum ini, sebuah museum di alam terbuka tentang bagaimana orang jaman dulu di sekitar eindhoven hidup dan bekerja. Khususnya pada masa prasejarah, jaman besi (750-50 SM) dan sekitar abad pertengahan (500-1600). Arsitektur rumah jaman dulu yang dibangun dan model kehidupan jaman dulu dalam museum ini berdasarkan dari temuan-temuan dari hasil penggalian di sekitar Eindhoven.

Begitu melewati jembatan gerbang, kami dibawa ke masa prasejarah, jaman besi. Di hadapan kami adalah sebuah farm pada jaman tersebut, rumah petani, kebun, dapur khusus untuk memanggang roti, gudang dan tidak ketinggalan kandang ternaknya. Juga IJzeroven (tempat melelehkan besi dari batuan bumi yang mengandung logam besi) dan Smidse (bengkel tempat membuat peralatan besi).
Farm ini dibuat sesuai dengan model yang ditemukan di Oss Ussen, kira-kira 30km di sebelah utara Eindhoven.


Rumah petani Posted by Hello

Berdiri dalam peternakan prasejarah ini membuat saya merasa seolah-olah saya sedang berada di sebuah kampung tua di Flores. Suasana dimana kehidupan manusia terasa masih begitu dekat dengan alam.


peralatan dapur Posted by Hello

Melihat perabotan dapur saat itu membuat saya jadi tersenyum sendiri. Beberapa di antaranya masih kita pergunakan sampai sekarang dengan bentuk yang tidak banyak berbeda dari saat itu.


IJzeroven dan Smidse Posted by Hello

IJzeroven dan Smidse, dua bangunan yang berkaitan erat dengan kegiatan peleburan dan pembentukan peralatan dari besi.


pohon oak suci Posted by Hello

Di salah satu sisi farm ini terdapat pohon oak yang "disucikan". Tentu saja pada masa itu kebanyakan orang masih ada pada jalur animisme. Juga pada sisi lain kami juga melihat sebuah patung totem, sebagai perlambang "tuan tanah". Menurut informasi, patung ini juga banyak ditemui di daerah rawa-rawa di Jerman.


totem tuan tanah Posted by Hello

Dari suasana prasejarah, kami masuk ke suasana abad pertengahan, masa sekitar 500-1500. Ada 2 hal yang menarik perhatian saya dari jaman ini. Yang pertama adalah toilet yang berada pada bangunan terpisah di belakang rumah, mengingatkan saya pada model kebanyakan rumah "tua" di Indonesia yang saya kunjungi, yang kamar mandi dan toilet selalu terpisah dari rumah induk.
Hal kedua adalah rumah beratap perahu terbalik (bootvormige hoeve) yang merupakan tipikal arsitektur jaman itu (abad ke-10/-11). Rumah ini merupakan replika dari temuan pada penggalian di Blixembosch (utara Eindhoven).


bootvormige hoeve Posted by Hello

Di dalam rumah ini juga terdapat peralatan perang bangsa Viking (yang disebut juga Normans), bangsa yang ditakuti pada masa itu. Dan juga di tepi sungai yang mengalir di samping kompleks museum ini dijumpai replika kapal bangsa Viking.

Di samping replika dari farm dan bangunan-bangunan masa lalu, juga disajikan peragaan secara langsung bagaimana cara orang hidup, memasak, menjahit, membuat sepatu, permainan pada masa-masa tersebut. Juga terdapat toko souvenir dan coffee shop dengan atmosfir masa lalu.


toko souvenir Posted by Hello


live shows Posted by Hello

Sayangnya beberapa bangunan dan peralatan terlihat "baru", sehingga unsur antiknya jadi hilang.
Dan yang pasti kunjungan ke museum terbuka ini merupakan sebuah "piknik" yang menyenangkan saat cuaca cerah ('gak janji jika hujan Smile)

Menarik melihat bagaimana sejarah peradapan manusia secara "langsung" (walaupun tidak berarti kembali ke masa lalu), bukan hanya melalui bacaan atau film. Jadi terbayang di kepala saya kejayaan dan juga keruntuhan bangsa-bangsa di muka bumi ini, yang mencetak wajah bumi saat ini.
Manusia, dengan kemampuan, akal budi dan nafsu, akan terus mencetak guratan-guratan sejarah pada wajah bumi ini, akan menjadi l ebih baik kah???... atau menjadikan wajah bumi semakin mengkerut karena sedih dan kecewa? Rolling Eyes

Tuesday, May 03, 2005

Nausicaa, Boulogne

#4 dari 4

Selesai sarapan pagi dengan croisant, kami beranjak meninggalkan Honfleur. Ada rasa sayang meninggalkan tempat ini. Belum puas rasanya menikmati keindahan yang ada. Namun, kenikmatan dan waktu kadang-kadang tidak sejalan.


Normandy bridge Posted by Hello

Kami menyeberangi hilir sungai seine melalui sebuah jembatan raksasa yang di"tahan" oleh kabel-kabel, jembatan Normandy (le pont de Normanie), dan terus melanjutkan perjalanan kami melalui jalan-jalan kecil sepanjang pesisir Normandia. Cuaca tidak jauh berbeda dari hari sebelumnya. Sebelum balik ke Belanda, kami singgah sebentar di Boulogne, mengunjungi Nausicaa, seaworld-nya Perancis.

Ada 35 ruangan dengan tema yang berbeda-beda. Saat masuk ke ruangan pertama, kami disambut oleh tabung biru yang penuh dengan ubur-ubur yang melayang-layang gemulai di dalamnya. Di dalam ruangan itu juga ada beberapa tabung yang lebih kecil dengan isi yang berbeda-beda. Ada tabung yang berisi telur ubur-ubur dan tabung yang berisi bayi ubur-ubur. Di ruangan ini juga ada aquarium yang menggambarkan suasana kehidupan laut di laut dalam. Biota di dalamnya kebanyakan adalah tiruan dan berfosfor, kecuali seekor scorpionfish "raksasa" yang berbaring di pojok aquarium. Scorpionfish ini nyaris dikira ikan-ikanan juga, kalau saja gerakan halus di pipi saat bernapas tidak tertangkap oleh mata saya.
Di depan aquarium ini ada 2 tiang periskop. Namun yang bisa dilihat dari periskop ini bukan permukaan air laut, seperti halnya pada kapal selam, melainkan gambar-gambar 3 dimensi ikan-ikan yang hidup pada dasar laut dalam.

Di sisi aquarium laut dalam ini ada aquarium yang isinya Japanese spidercrab (Macrocheira kaempferi), kepiting raksasa yang hidup di kedalaman lebih dari 200 meter di perairan Pasifik utara sekitar Jepang. Diameter badannya mencapai kira-kira 37 cm, tapi jika termasuk lengan/capitnya, bisa mencapai sampai kira-kira 3 meter!!!! Sementara beratnya sendiri bisa mencapai 30 kg!!!! Dan kepiting ini katanya enak dimakan... hmmm... jadi ingat kepiting saus padang di bypass sanurYowza yummy...

Berbeda dengan nuansa laut dalam yang miskin cahaya, sepi dan "dingin", di ruangan berikutnya terdapat beberapa aquarium yang kaya akan warna dan cahaya, aquarium ikan-ikan karang. Ada aquarium dengan anemone fish, ada juga yang khusus diisi dengan jenis-jenis lionfish dan scorpionfish.
Selain aquarium yang menyajikan keindahan visual, hampir di setiap ruangan dilengkapi dengan poster yang berisikan informasi mengenai biota yang ada dalam ruangan itu, atau peralatan audio (berupa telepon) dan juga audio-visual untuk mendapatkan informasi lanjut mengenai ikan-ikan tersebut atau keluarga dari ikan-ikan tersebut.


Aquarium "perairan tropis" Posted by Hello

Kolam hiu tentunya yang selalu paling menarik perhatian pengunjung. Dan di Nausicaa ini, mereka juga punya tiger shark, kira-kira 3 meteran besarnya. Pertama kalinya saya melihat tiger shark secara langsung. Saya belum pernah berjumpa dengan tiger shark selama penyelaman saya.
Sebenarnya saya merasa kasihan terutama pada hiu-hiu ini, mereka seharusnya berada pada lautan bebas, bukan dalam kolam seperti ini. Melihat mereka berenang bolak-balik dalam kolam ini membuat hati saya sedih. Terbayang saat saya menyaksikan hiu-hiu yang berenang bebas memburu makananannya di alam lepas. Seperti itulah mereka seharusnya. Semoga kebebasan yang diambil dari hiu-hiu ini memberikan informasi pengetahuan yang berguna bagi manusia, bagi alam, bagi kehidupan dan kelestarian hiu-hiu yang lain.


Shark Posted by Hello

Di samping kolam hiu juga terdapat kolam dangkal perairan tropis. Jernih dan hangat. Saya harus menahan diri untuk tidak loncat dalam kolam ini. Saya sungguh merindukan laut tropisku, saya sungguh merindukan berada di dalamnya lagi Tears
Tidak seperti kolam hiu yang dilengkapi dengan dinding kaca (aquarium), kolam perairan tropis ini di lengkapi dengan kubah/gelembung kaca mirip helm. Pengunjung bisa memasukkan kepalanya dalam kubah kaca tersebut dan menyaksikan ikan-ikan karang yang berenang di sekitar situ dari lantai dibawah kolam tersebut.


hasil jepretan dari jendela gelembung di kolam "perairan tropis" Posted by Hello

Ada juga kolam "boleh sentuh", yang berisi beberapa biota yang boleh disentuh olah pengunjung. Anak-anak tentunya sangat menyukai kolam ini, tapi airnya dingin booo.

Sayangnya kolam yang berisi seal (anjing laut) airnya butek, hasil foto jadi tidak maksimal. Padahal saat itu saya menyaksikan hal yang menarik di dalam sana. Sepasang seal yang saling menggoda, dan saling berusaha menggigit ekor lawannya. Mereka melakukannya terus menerus seperti mereka sedang berkelahi, namun lebih mirip sebuah tarian ritual. Mating? Mungkin juga, hewan selalu punya kebiasaan unik saat mating.

Disamping menyajikan keindahan laut lewat aquarium, nausicaa juga melengkapi dirinya dengan ruangan-ruangan tentang sejarah manusia mengekplorasi laut, kondisi laut saat ini, pengaruh kehidupan manusia di darat terhadap laut, polusi laut dan informasi pendukung lainnya.
Ada ruangan yang mirip ruang kemudi kapal dengan layar yang besar yang menggambarkan horison di laut yang bergerak-gerak seolah-olah kapal oleng ke kiri ke kanan diterpa gelombang. Mabok juga melihat layar itu.


1 kubik meter air laut mengandung.... Posted by Hello

Sajian yang terakhir adalah sebuah kolam tertutup (mulut kolam itu tertutup bagi pengunjung, sehingga pengunjung hanya bisa menyaksikan lewat dinding kaca) air payau yang berisi buaya. Kecil-kecil, tapi tetap saja buaya.

Ada yang kurang Ponder tidak ada ular lautnya. Dan juga tidak ada channel/lorong kaca seperti di seaworld Indonesia. Wah... terakhir saya ke seaworld di Jakarta tahun 1995, astaga sudah 10 tahun yang lalu!!!! Apakabar seaworldnya sekarang ya???
Moudi temenin daku ke seaworld lagi donk.

Dan sebelum meninggalkan nauticaa, supaya lengkap kami mengunjungi souvenir shop-nya, walaupun yang dibeli cuma table mat Smile

Menyeberangi Belgia kali ini kami memilih jalur bypass. Hujan, hari yang semakin larut, capek, membuat kami ingin segera tiba di rumah.
Akhir liburan kali ini. Pendek namun menyenangkan.