Wednesday, January 30, 2008

Shopping, bijaksana kah?

Shopping...
Siapa sih yang 'gak suka shopping?

Saya suka shopping, bahkan sering mengatas-namakan keperempuanan saya untuk membela diri. Padahal banyak juga laki-laki yang suka shopping, walaupun mungkin gaya mereka sering lebih praktis dari gaya shopping para perempuan.

Tapi sayangnya, sikap konsumtif ini juga memiliki andil dalam pengrusakan terhadap alam. Terutama jika shopping itu dilakukan dengan cara yang tidak bijaksana.
Seberapa sering kita shopping atas nama kebutuhan, dan seberapa sering kita shopping atas nama nafsu?
Saya akui saya lebih sering shopping karena kebutuhan. Kebutuhan untuk memenuhi nafsu saya. Lol Sama saja bo'ong dah.
Jujur saja, bukankah kita lebih sering shopping karena tindakan nafsu daripada kebutuhan?

Shopping 2 Lihat saja tumpukan barang-barang yang pernah kita beli, seberapa banyak diantaranya yang sering kita pakai, dan seberapa banyak yang jarang sekali bahkan mungkin hanya sekali pernah kita sentuh, atau bahkan ada yang sama sekali terlupakan oleh kita sampai saatnya kita temui kembali di sela-sela tumpukan yang kita miliki.

Lantas, pernahkah terpikir darimana dan bagaimana asal barang-barang yang kita beli itu? Baju, sepatu, tas, assessoris, i-Pod, buku, boneka, televisi, laptop, dsb.. dsb...
Tidak perduli made in China, made in USA atau made in Cibaduyut, tidak perduli dari merk yang terkenal atau merk kampung.
Dari mana titik awal dari semua barang-barang itu, saat belum terbentuk sehelai baju molek yang membuat mata terpana memandang? Sebelum menjadi sepasang sepatu gaul yang menggoda iman untuk segera dibeli? Sebelum menjadi lemari cantik yang terasa indah jika menghiasi sudut kamar di rumah? Sebelum menjadi hape keren yang seolah membuat kita tidak ketinggalan jaman jika memakainya?
Belum lagi bahan-bahan pelengkap/pendukung produk yang kita beli itu, mulai dari kemasan karton, kertas atau plastik, batere, sampai cairan pembersih untuk merawat produk tersebut, dsb... dsb...

Pernahkah terpikir berapa banyak sumber alam yang tereksploitasi dalam pengolaannya sebuah produksi, juga berapa banyak polusi dan limbah yang dihasilkan dari proses produksi yang ikut menodai kemurnian alam?

Dan setelah barang-barang itu sudah tidak terpakai lagi, ke manakah barang-barang itu?
Okey, mungkin ada yang akan mengatakan, ah.. saya sumbangkan barang-barang yang sudah jarang saya pakai pada orang-orang yang membutuhkan, atau mungkin ada yang juga akan mengatakan, saya jual lagi sebagai barang secondhand.
Tapi, ke manakah barang-barang itu yang pada akhirnya akan dibuang juga? SAMPAH!!! Yup, sampah. Dan ke manakah sampah itu akan berakhir? Kembali: menjadi limbah pada alam.

Dan semakin tinggi angka permintaan di pasar maka semakin banyak barang yang disediakan, ujung-ujungnya semakin alam ini dieksploitasi dan semakin menumpuk limbah yang mencemarinya

Sebuah rantai dari pemenuhan nafsu shopping yang kita miliki.

Tidak, tidak, bukan maksud saya untuk mencoba menjadi seorang yang idealis dalam hal ini, karena saya bukan seorang hipokrit, yang berteriak-teriak untuk menyelamatkan alam sementara saya sendiri masih belum bisa melepaskan kebiasaan -dalam hal ini- shopping sebagai saluran pemenuhan nafsu.
Yang bisa saya lakukan pada diri sendiri adalah berusaha untuk mengontrol kekalapan saya dangan pertanyaan, seberapa butuhkah saya pada benda yang sedang saya incar. Haruskan saya membeli benda itu?

Tulisan ini hanya sebagai sebuah catatan untuk mengingatkan kita semua, bagaimana andil nafsu shopping kita pada guratan wajah alam ini.

Sisanya, terserah, kembali pada diri anda masing-masing...
Sampai di mana keperdulian kita.

Monday, January 21, 2008

Putih telur vs kuning telur

Beberapa minggu belakangan ini si Yayang sibuk banget berexperiment di dapur. Doi sedang penasaran dengan crème brûlée-nya.
Crème brûlée adalah puding dengan bahan dasar custard dengan selapis tipis gula yang dibakar (dikaramelkan) di permukaannya.

Sudah beberapa dicoba dia masih belum puas dengan hasilnya.
Rasanya sih oke banget, sama sekali tidak ada amis telurnya, manisnya pas dan harum vanilinya yang manis, tapi tingkat kekentalannya itu selalu menjadi masalah. Hasilnya setelah dioven masih klepek-klepek, bagian luarnya sudah agak kencang dan kenyal, tapi bagian dalamnya sering lebih mirip eggnog alias masih berbentuk cairan.

Untunglah setelah beberapa kali berexperiment dan juga bermain dengan suhu oven, BERHASIL juga saudara-saudara!!! Pfeeeuuuhhh.... Phew
Iyalah, bagaimana tidak pfeeeuuuhhh?? Selama experiment bininya yang selalu menjadi kelinci percobaan. Mending kalau sekalian saja 'gak enak biar langsung dilempar di tempat sampah, tapi ini enaaaak boo.. kan sayang kalau dibuang begitu saja.
Aduh kolesterol, kamu jangan naik ya... Please

Nah, berhubung bahan dasar si crème brûlée ini kuning telur, jadinya putih telur langsung diserahkan pada saya. Mau dibuang.... sayang... biasanya saya bumbuin dan diolah jadi bagian menu makan malam. Tapi lama-lama pengen juga mencoba kue dengan bahan dasar putih telur.
Ada banyak resep kue yang hanya menggunakan putih telur yang bisa ditemukan kalau mau digoogle, tapi saya justru kangen kue tempo dulu, tolong dicatat bukan tempo doeloe!!
Kalau tempo doeloe itu jaman angkatan opa, tapi tempo dulu artinya kue yang sering mama buat dulu saat saya kecil. Awas, jangan disamakan!!!
Telpon mama dan minta resep zebra putih telurnya.

Segera kumpul bahan-bahan yang diperlukan, dan... alamak... ternyata orang Belanda tidak mengenal cream of tartar!!! Semua supermarket dirambah, tidak ketemu juga. Sampai-sampai saya juga menghafal kode E336 (kode untuk food additives) supaya saya tetap mengenal cream of tartar walaupun dalam kemasan dengan nama lain!!
Untung ketemu juga, cream of tartar cap koepoe-koepoe, saat di Sang Lee, supermarket yang mengkhususkan untuk bahan makanan dari Asia (Indonesia, Cina, India, Thailand, Korea, Jepang, dsb).
Sang Lee ini memang oke banget, dari indomie kari ayam sampai sambal ABC sampai kecap manis cap Bango sampai cream of tartar cap Koepoe-koepoe, komplit dah!!!!

Berhubung putih telurnya hanya cukup untuk setengah resep, maka hanya setengah resep yang saya buat.
Dan karena tangan ini yang belum terbiasa membuat pola adonan kue serta persediaan telaten yang terbatas, alih-alih coraknya mirip zebra, kata Reinier malah mirip sapi. Kue sapi putih telur. Club Me
Hihihihi... Yang penting kan rasanya!!! Lekker!!! Muji diri sendiri dah!!! Smile


Demikianlah kolaborasi kami mengolah si putih dan si kuning telur Smile

Dan hari ini, 3 tahun sudah kami mengikat janji, semoga kolaborasi kami dalam perjalanan hidup kami ini juga akan terus saling mendukung dan mengisi satu sama lainnya.
Semoga kami akan terus semakin kokoh baik dalam tawa maupun saat badai menghempas.
Tuhan menjaga dan membimbing langkah kami selalu.

Wednesday, January 16, 2008

7 (dari sekian banyak) cara saya merusak alam.

Ini dia nih model rantai yang "pintar" yang dioper oleh Susi, yang berkaitan dengan global warming. Siapa sih yang punya inisiatif memulai cerita ini? Dua jempol buat anda!!!

Semoga dengan apa yang kita tulis tentang tindakan-tindakan pribadi kita yang tidak bersahabat dengan alam, juga menjadi langkah awal perbaikan tindakan-tindakan kita itu.
Semoga!!!

Sering saya berpikir bahwa saya adalah pencinta alam. Tapi jika saya mau jujur melihat tindakan-tindakan dalam keseharian saya, wah... sungguh, saya malu telah mengklaimkan diri sebagai pencinta alam.
Misalnya lihat saja urutan di bawah ini:

Penggunaan air.

1. Saya bukan tipe orang yang irit menggunakan air. Terutama kebiasaan sering mencuci tangan. Bukan hanya frekwensi mencuci tangannya tapi juga tanpa sadar sering keran kesenggol sampai terbuka full. Untung ada si Yayang yang sering protes saat keran terbuka kencang Blushy

2. Belum lagi kebiasaan mandi saat winter begini, yang membiarkan air hangat terus mengucur membasahi tubuh ini saat sabunan. Iyalah... dingin boo tanpa air hangat yang mengucuri tubuh. Sementara untuk sedikit menghemat air, keramasnya terpisah dari acara mandi, jadi air yang dipakai hanya seperlunya saja untuk rambut ini.

Penggunaan plastik (tas plastik dan wadah plastik lainnya).

Tidak semua toko di Belanda langsung melayani hasil belanja dengan tas plastik. Kadang mereka akan bertanya dahulu sebelum memberi selembaran tas plastik. Biasanya sih kalau belanjaan yang kecil atau selama belanjaan itu masih bisa muat di ransel atau tas yang sedang dikenakan, saya akan menolak tas plastik tersebut.
Sementara untuk toko-toko yang langsung menyarungkan tas plastik pada belanjaan, jika tas plastiknya kecil (lebih kecil dari tempat sampah di rumah), maka tas plastik itu juga akan saya tolak.

3. Nah, urusan pengambilan tas plastik yang dengan alasan untuk tempat sampah pun kadang tetap terambil yang berlebihan. Buktinya satu laci di gudang tuh penuh dengan tas plastik "untuk tempat sampah"!!! Apa iya saya butuh sebanyak itu untuk tempat sampah??? UPSSSS!!!!!
Harusnya saya menaruh satu kantong plastik di dalam tas saya, dengan demikian saya selalu punya stok tas plastik untuk dipakai saat berbelanja.

Sementara penggunaan wadah plastik lainnya, walaupun sudah diusahakan seminimal mungkin toch tidak bisa terlepas juga. Terlalu banyak produk kebutuhan sehari-hari yang dijual dalam kemasan plastik :(

Penggunaan bahan bakar.

4. Saat membeli mobil baru, kami malah memilih mobil yang kapasitas pemakaian bahan bakar lebih banyak daripada mobil sebelumnya. Dengan alasan ini dan alasan itu, padahal intinya simpel banget, kami suka mobil itu.

5. Walaupun sering juga menggunakan kendaraan umum, toch tetap dengan mengatasnamakan kenyamanan, waktu dan terutama privacy, kami lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi ketimbang berbagi tempat dan bahan bakar dengan penumpang lain di kendaraan umum.

Penggunaan kertas.

6. Saat ini misalnya, duduk dengan serol tissue wc untuk membersihkan hidung yang sudah seperti keran bocor. Pilek boo.
Sebenarnya perhitungan praktis saja, bisa saja menggunakan sapu tangan tapi kan harus dicuci setiap saat, sementara untuk penyucian kan juga dibutuhkan air. Alesan!!! Teethy

7. Masih juga belum menempelkan stiker "ja/nee atau nee/nee" di kotak surat untuk menolak brosur. Padahal kebanyakan dari brosur itu hanya sepintas dilihat dan segera berakhir di kotak sampah untuk kertas.

Sifat konsumtif.

8 (ups... sudah lebih dari 7 malah, ya sudah anggap saja extra).
Masih sering tergoda untuk shopping atas nama nafsu daripada atas nama kebutuhan Blushy

Demikianlah saudara-saudara...
Walaupun satu sisi sudah berusaha meminimalkan kecenderungan pengrusakan terhadap alam, tapi di sisi lain tawaran kenyamanan yang beresiko pada "kesehatan" alam juga memanjakan sisi manusiawi saya. Ah...

Nah, kemudian mau dilemparkan ke siapa lagi? Buat siapa saja yang mau introspeksi diri dan membagi cerita soal tindakannya yang ternyata tidak bersahabat dengan alam.

Kabar terakhir:

*) Gambar diambil dari hallmark.nl

Saturday, January 05, 2008

Aaaaaaaaarrggg!!!!

@#$&%$*#!!!!!!!
Kentang busuk!!!
Biang kudisan!!!
Ugh, baru juga awal tahun sudah bikin marah!!!! Grrrrrr....ggghhhh....Mad
Gimana 'gak marah bin kesal?
Hp mungil kesayangan saya di tas dalam loker ruang ganti di tempat kerja dicuri!!!!!!

VoodooUgh.. perasaan tuh... bener-bener deh kalau sampai tertangkap pencurinya, dicabik-cabik pake jarum pentul sampai puas dah!!!

Ah sudahlah, marah-marah hanya membawa efek negatif bagi tubuh dan pikiran. Memaki dan menyumpah hanya menjerumus pikiran dan emosi ke dalam kegelapan.
Pikir-pikir, toh kecerobohan saya juga, mengabaikan instink.

Mungkin juga saya malah harus menaruh rasa kasihan padanya. Sudah pasti hidupnya selalu "kekurangan". Dismay
Ah...

Uih.... harus mulai ngumpulin nomer-nomer telepon yang belum sempat dicatat di buku telepon rumah.