Shopping...Siapa sih yang 'gak suka shopping?
Saya suka shopping, bahkan sering mengatas-namakan keperempuanan saya untuk membela diri. Padahal banyak juga laki-laki yang suka shopping, walaupun mungkin gaya mereka sering lebih praktis dari gaya shopping para perempuan.
Tapi sayangnya, sikap konsumtif ini juga memiliki andil dalam pengrusakan terhadap alam. Terutama jika shopping itu dilakukan dengan cara yang tidak bijaksana.
Seberapa sering kita shopping atas nama kebutuhan, dan seberapa sering kita shopping atas nama nafsu?
Saya akui saya lebih sering shopping karena kebutuhan. Kebutuhan untuk memenuhi nafsu saya.
Jujur saja, bukankah kita lebih sering shopping karena tindakan nafsu daripada kebutuhan?
Lihat saja tumpukan barang-barang yang pernah kita beli, seberapa banyak diantaranya yang sering kita pakai, dan seberapa banyak yang jarang sekali bahkan mungkin hanya sekali pernah kita sentuh, atau bahkan ada yang sama sekali terlupakan oleh kita sampai saatnya kita temui kembali di sela-sela tumpukan yang kita miliki.Lantas, pernahkah terpikir darimana dan bagaimana asal barang-barang yang kita beli itu? Baju, sepatu, tas, assessoris, i-Pod, buku, boneka, televisi, laptop, dsb.. dsb...
Tidak perduli made in China, made in USA atau made in Cibaduyut, tidak perduli dari merk yang terkenal atau merk kampung.
Dari mana titik awal dari semua barang-barang itu, saat belum terbentuk sehelai baju molek yang membuat mata terpana memandang? Sebelum menjadi sepasang sepatu gaul yang menggoda iman untuk segera dibeli? Sebelum menjadi lemari cantik yang terasa indah jika menghiasi sudut kamar di rumah? Sebelum menjadi hape keren yang seolah membuat kita tidak ketinggalan jaman jika memakainya?
Belum lagi bahan-bahan pelengkap/pendukung produk yang kita beli itu, mulai dari kemasan karton, kertas atau plastik, batere, sampai cairan pembersih untuk merawat produk tersebut, dsb... dsb...
Pernahkah terpikir berapa banyak sumber alam yang tereksploitasi dalam pengolaannya sebuah produksi, juga berapa banyak polusi dan limbah yang dihasilkan dari proses produksi yang ikut menodai kemurnian alam?
Dan setelah barang-barang itu sudah tidak terpakai lagi, ke manakah barang-barang itu?
Okey, mungkin ada yang akan mengatakan, ah.. saya sumbangkan barang-barang yang sudah jarang saya pakai pada orang-orang yang membutuhkan, atau mungkin ada yang juga akan mengatakan, saya jual lagi sebagai barang secondhand.
Tapi, ke manakah barang-barang itu yang pada akhirnya akan dibuang juga? SAMPAH!!! Yup, sampah. Dan ke manakah sampah itu akan berakhir? Kembali: menjadi limbah pada alam.
Dan semakin tinggi angka permintaan di pasar maka semakin banyak barang yang disediakan, ujung-ujungnya semakin alam ini dieksploitasi dan semakin menumpuk limbah yang mencemarinya
Sebuah rantai dari pemenuhan nafsu shopping yang kita miliki.
Tidak, tidak, bukan maksud saya untuk mencoba menjadi seorang yang idealis dalam hal ini, karena saya bukan seorang hipokrit, yang berteriak-teriak untuk menyelamatkan alam sementara saya sendiri masih belum bisa melepaskan kebiasaan -dalam hal ini- shopping sebagai saluran pemenuhan nafsu.
Yang bisa saya lakukan pada diri sendiri adalah berusaha untuk mengontrol kekalapan saya dangan pertanyaan, seberapa butuhkah saya pada benda yang sedang saya incar. Haruskan saya membeli benda itu?
Tulisan ini hanya sebagai sebuah catatan untuk mengingatkan kita semua, bagaimana andil nafsu shopping kita pada guratan wajah alam ini.
Sisanya, terserah, kembali pada diri anda masing-masing...
Sampai di mana keperdulian kita.
Sudah beberapa dicoba dia masih belum puas dengan hasilnya.




