Showing posts with label Motor trip. Show all posts
Showing posts with label Motor trip. Show all posts

Sunday, June 07, 2009

Menelusuri Schwarzwald

Catatan Perjalanan 2.

Schwarzwald, atau Black Forest, merupakan daerah pegunungan yang penuh dengan pepohonan dan hutan, terletak di Jerman barat daya. Selain sebagai daerah penghasil kayu, Schwarzwald terkenal sebagai daerah tujuan wisata. Karena pemandangan alamnya yang indah, juga tersebar banyak desa dan kota-kota kecil yang tua dan indah di sana. Belum lagi rute untuk bersepeda gunung dan jalan setapak menyusuri hutan. Dan juga jalur ski di musim dingin.

Di Schwarzwald ini kami habiskan 2 hari terakhir perjalanan kami.

Jika saya menyebutkan Black Forest, sudah pasti yang langsung terbayang adalah Black Forest cake atau Schwarzwälder Kirschtorte dalam bahasa Jerman. Sudah tentu, cake ini tidak lepas dari daftar acara kami.

Pucuk dicita ulam tiba, menjelang coffee time, kami melewati sebuah cafe and bakeri. Waktu yang tepat untuk ngaso sebentar sambil menikmati secangkir kopi dan sepotong Black Forest cake.

Saat pesanan kami keluar, mulut saya yang menggangga, terpaku menatap ukuran kue yang ada dalam piring di depan itu. Astaga gede amat!!! Tapi sudahlah, sikat saja. Hmmm... lezatnya.. Black Forest cake dengan resep tradisional, yaitu yang lengkap dibubuhi dengan kirschwasser, brandy dari Cherry asam. Dan... benar kan? Saya tidak sanggup menghabiskan potongan kue di depan saya itu.

Sedang asyik-asyiknya menikmati pemandangan sore di sekeliling saya dari atas motor, tiba-tiba di sebuah belokan mata saya menangkap atap bangunan yang berbentuk kubah besar sekali. Pantheon??? Ahahahaha... ternyata itu kubah dari katedral di St. Blasien.

Tiba saatnya untuk mencari penginapan, kali ini kami mengalami kesulitan untuk menemukan bed and breakfast. Satu pun tidak kami temukan, padahal tiga desa berturut-turut kami telusuri. Akhirnya tidak ada pilihan lain selain hotel. Terpaksa deh, 80 euro melayang hanya untuk tidur di hotel.
Itulah alasannya, mengapa kami lebih memilih bed and breakfast ketimbang kamar hotel. Harganya. Untuk kamar bed and breakfast kami hanya membayar separuh dari harga kamar hotel.

Sabtu pagi, kembali setelah sarapan kami melanjutkan perjalanan, menyusuri beberapa desa dan daerah pertanian mengambil arah ke Switzerland.

Alam memanjakan mata kami dengan cahaya pagi yang hangat menyelimuti rumah-rumah di pedesaan.

Dan alam juga sedang memanjakan kami dengan kehangatan dan cerah sinar mentari.

Siang hari saat perut mulai mengirim sinyal ke otak, kami berhenti sejenak untuk mengisi perut dengan bekal yang sudah kami siapkan dari bakeri yang kami temui tadi di perjalanan. Ahh.. kami selalu menyukai roti-roti buatan bakeri di Jerman.

Ini dia, tujuan kami ke Switzerland, the Rhine Falls, air terjun terlebar dan terbesar di daratan Eropa.

Dari the Rhine falls, kami kembali mengambil arah ke Schwarzwald.

Lapar lagi menjelang sore, tidak masalah, tinggal mencari sudut menarik dan aman untuk parkir, dan... bongkar alat masak, dalam 5 menit tersaji 2 cangkir kopi panas dan tidak lupa lemon cake yang dibeli saat membeli roti bekal makan siang tadi.

Rumah tradisional Schwarzwald, besar dengan atap yang lebar menutupi hingga nyaris menyentuh bumi. Berdiri kokoh di daerah pertanian. Ada kesan kehangatan, namun juga kesepian.

Hari itu, kami kembali menemukan kesulitan mencari tempat menginap. Bukannya tidak ada bed and breakfast, masalahnya mereka hanya mau menerima tamu yang menginap untuk beberapa hari bukan hanya menumpang semalam seperti kami. Akhirnya setelah tiga bed and breakfast menolak kami, yang keempat menerima kami dengan senang hati.
Dan, bayangkan, dengan 50 euro, kami memiliki kamar yang cukup besar, kamar mandi dan lengkap dengan dapur yang lumayan besar dan komplit.

Bahkan dari kamar tidur kami bisa langsung teras di halaman belakang dengan pemandangan yang terhampar luas.

Di teras ini lah kami menikmati makan malam kami. Nasi curry Thais dari Mama instant rice, dan kebetulan sebelumnya kami sempat singgah di hypermaket, menu kami lengkap dengan salad dan ayam panggang. Hmmm..

Minggu pagi sebelum sarapan, kami sempatkan untuk berjalan-jalan sebentar di pusat desa, menikmati suasana pagi sekaligus membeli roti bekal makan siang nanti di bakeri yang ada. Gila, desa kecil itu tapi bakerinya komplit bow!!! Wih sampe iler-ileran lihat deretan cake yang ada. Yowza

Sebelum kembali mengarah ke jalan tol menuju Belanda, kami masih berkeliling lagi dari satu desa ke desa lain di sepanjang Schwarzwald.

Sebagian dari bermacam-macam pemandangan di sepanjang perjalanan di depan kami sepanjang wiken panjang itu.

Tepat setelah makan siang, kami langsung mengarah kembali ke Belanda. Dan astaga, panasnya siang itu, benar-benar seperti sauna di dalam setelan jas motor. Ingin rasanya melepaskan jas itu, tapi jelas itu bukan tindakan yang bijaksana, apalagi dengan kecepatan kendaraan di atas jalan tol.

Wiken panjang yang menyenangkan!! Thumbs Up

Thursday, May 28, 2009

Melintas Alsace

Baca Alzak

Catatan perjalanan 1.

Motorcyle Empat hari selama weekend panjang hemelvaart (hari raya kenaikan Yesus ke Surga) ini kami isi dengan motor trip lagi dan rute yang kami pilih kali ini, adalah melalui jalan tol menyeberangi Ardennen-Belgia dan daerah Jerman menuju daerah Perancis timur laut, kemudian menyeberang ke Schwarzwald (Black Forest) di Jerman, menyerempet sedikit daerah Zwitserland, balik ke daerah pegunungan Schwarzwald dan lewat jalan tol kembali langsung ke Belanda.

Jam sudah menunjukkan pukul 8.00 malam sementara kami masih sekitar 200km dari 500km target tujuan kami Rabu malam. Ternyata sudah 4 jam kami berada dalam perjalanan. Kami memutuskan untuk mencari penginapan di kota terdekat saja, tidak perlu tergesa-gesa untuk harus memenuhi target tujuan kami dan kemudian kelelahan di ujung hari. Ini kan liburan, besok pagi perjalanan dilanjutkan lagi dengan sedikit mengubah rencana. Ah, ini gara-gara macet panjang di daerah Maastricht-Belanda Selatan.

Kamis, jam sembilan pagi kami sudah duduk rapi di jok motor siap untuk melanjutkan perjalanan kami lagi. Melewati perbatasan Jerman, masuk wilayah Perancis dan segera melewati tol yang harus dibayar. Keluar pintu tol, singgah sebentar di sudut tempat untuk beristirahat yang disediakan.

Langsung bergegas menuju ke toilet, tapi begitu pintunya saya dorong, uuughhh yach.. batal masuk, kembali lagi ke parkiran motor dan segera dengan tampang manis berkata, "kita cari hutan saja yaa".
Ya, bagaimanapun hutan jauh lebih bersih dan segar!! Hysterical

Dan sejenak kami berhenti di hutan terdekat yang kami temui untuk pipis dan sekalian ngopi.

Tidak lama di jalan tol, segera kami memilih jalan di daerah pedesaan, menyusuri hutan dan perkebunan serta daerah peternakan penduduk. Merambah daerah yang berbukit-bukit, dan melalui kelok-kelok jalan di lembah sepanjang kaki bukit.

Warna-warna dinding rumah selama dalam perjalanan hari ini sangat menarik, beragam warna-warna ceria. Bentuk rumahnya juga sangat beragam, termasuk bagaimana pemilik rumah tersebut merawat rumahnya. Ada rumah yang kelihatan "mengkilat", namun ada juga yang dekil banget, hingga rasanya hanya perlu sentuhan telunjuk untuk meruntuhkan daun jendelanya.

Singgah sebentar di puncak Rocher de Dabo (nama lainnya, Dagsburg) untuk menikmati pemandangan yang terhampar di lembah bawah sana.

Sapinya, unik banget, baru kali ini saya melihat sapi yang bergaris begini.

Berhubung, hari itu adalah hari raya, kami tidak menemukan satu bakeri pun yang buka. Tapi tidak masalah, bahan pengisi perut selalu lengkap dalam daftar bawaan kami. Begitu menemukan sudut piknik yang asik, segera kami membongkar peralatan memasak kami yang simpel dan praktis untu memanaskan air, dan... tararam... dua ABCmie cup segera terhidang untuk makan siang. Enak juga untuk menghangatkan perut.

Perjalanan setelah makan siang dihiasi dengan hujan, dari gerimis tipis sampai hujan deras. Kami sih tetap kering terlindung dalam setelan motor dan helm. Masalahnya adalah setelan motor kami bukan jas hujan yang akan terus kering tanpa terpengaruh basahnya air hujan. Perlahan tapi pasti basah itu akan merembet sampai di bagian dalam, dan itu yang kami hindari. Sebelnya, saban kali hujan posisi kami jauh dari tempat yang bisa dijadikan tempat berteduh, cafe misalnya. Untung saja suhu udara tidak dingin, sehingga walaupun jari-jari saya sudah basah semua, saya tidak sampai menggigil kedinginan.

Walaupun begitu, saat kami memutuskan untuk berteduh pada sebuah kafe yang kami temui, secangkir cokelat hangat terasa super nikmat, mengalir dan menghangatkan tubuh ini dari dalam. Saat saya menengok ke kiri dan kanan, ternyata kafe tersebut hanya penuh dengan para pengendara motor dan sepeda gunung yang berteduh dan melepaskan penat.

Menjelang malam kami menemukan sebuah bed and breakfast di Kaysersberg, kota kecil yang indah di Perancis timur laut, daerah Alsace, dekat pada perbatasan dengan Jerman. Daerah Alsace, dalam bahasa Perancis atau Elsass, dalam bahasa Jerman, dalam sejarahnya sering berpindah tangan antara Perancis dan Jerman.
Kaysersberg merupakan satu dari daerah perkebunan anggur terbaik di Alsace, dan produksi wine tetap menjadi salah satu sektor penting ekonomi kota itu.

Setelah melepaskan penat sejenak, kami berencana untuk keluar mencari makan malam dan sekedar menikmati suasana kota. Namun apa daya, begitu siap untuk keluar, kami dikejutkan oleh cahaya menyilaukan dari luar jendela kamar dan disusul suara guruh yang menggelegar..

Lihat ke luar.. ups.. awan tebal tanda-tanda hujan gede menderu laju memenuhi langit desa. Astaga, malas berbasah-basah, batal deh acara keluar.

Terus gimana acara makan malamnya? Ah tenang saja, persediaan masih banyak, maka menu kami malam itu adalah pasta bolognese instant. Tinggal masukkan dalam air mendidih, dan diaduk selama 8 menit di atas api. Untung kamar kami juga dilengkapi dengan dapur mini dimana kami bisa memasak yang ringan-ringan.

Acara kami selanjutnya malam itu hanya berdiam di kamar karena di luar sedang berlangsung badai ringan.

Jumat pagi, setelah sarapan, sudah tentu acara jalan-jalan mengelilingi kota kecil indah itu. Mumpung masih pagi, turis-turis yang berseliwer pun belum banyak-banyak amat. Dan kami berdecak melihat keindahan kota itu. Rasanya seperti berjalan dalam cerita-cerita romantis abad lampau. Kesan manis, hangat dan romantis melekat kental sekali.

Ah, seolah berada di desa Belle, Beauty and the Beast.

Dan baru sebentar kami barjalan santai, di sekeliling kami mulai muncul para turis, dan tanpa harus menunggu terlalu lama, pusat kota kecil itu sudah ramai. Wah, kalau siang pasti lebih ramai lagi.

Sekitar 2 jam kami habiskan menelusuri Kaysersberg. Belum puas rasanya, namun kami harus melanjutkan lagi perjalanan kami.

Ketika kami kembali ke kamar kami, oleh pemiliknya kami ditawarkan untuk menikmati buah kersen, cherry, langsung petik sendiri dari kebunnya. Hahaha...tanpa basa basi segera kami serbu buah-buah kersen yang merah merekah tergantung menggoda pada cabang-cabang pohon. Coba satu manis... hmmm.. satu lagi... satu lagi... dan satu lagi... dan satu lagi... dan satu lagi... ups.. jangan kalap oi!!! Smiles

Perjalanan lanjut lagi, mengarah ke Schwarzwald.




(Bersambung....)

Thursday, March 26, 2009

Ternyata...Masih Dingin..

Berhubung udara yang cerah selama seminggu penuh, kami jadinya terkena lentekriebels juga, alias kegatelan untuk segera menikmati hari-hari cerah ini sepuas-puasnya.
Jadinya, Sabtu siang, begitu selesai urusan ini itu, segera kami meluncur dengan si kuda besi, motoren, dengan tujuan Zuid Limburg!!! Daerah berbukit-bukit di bagian selatan Belanda.

Ternyata, sejam duduk di atas motor sih masih aman-aman saja, selama matahari bersinar cerah. Tapi setelah satu jam, dan matahari mulai bermain petak umpet, mulai deh kerasa dinginnya. Padahal itu sudah termasuk sweater dan double jaket motor (jaket motor yang bagian dalamnya diberi pelapis extra, untuk daerah dingin).

Dan kalau sudah dingin, apa yang terjadi? Lapar!!! Maka so pasti singgahlah kami di sebuah kedai kentang goreng di daerah Belgia. Belgische friet dengan mayo-nya memang tidak ada tandingannya!!! Apalagi disantap dalam kondisi lapar dan dingin Teethy

Dan saya benar-benar gemetar kedinginan saat tiba di penginapan di Valkenburg sore itu.
Buh.. ternyata suhu udara lebih dingin dari yang saya perkirakan!! Shiver

Malamnya, kami melangkah ke centrum, pusat kota, yang jaraknya hanya kurang dari 10 menit jalan kaki santai dari penginapan, untuk mencari pengisi perut.

Wah.. centrumnya ramai dan gezellig sekali, terutama di daerah restaurantnya. Ada bermacam-macam pilihan di sana. Bingung juga mau pilih yang mana. Akhirnya bukannya memilih berdasarkan menu yang ada, kami malah memilih sebuah restaurant yang dilengkapi dengan perapian yang terlihat begitu romantis dan hangat. Untung makanannya juga tidak begitu mengecewakan.

Dan penginapan tempat kami menginap adalah sebuah villa yang dibangun sejak 1850. Sudah tentu interiornya juga terlihat antik dan juga pojok-pojok ruangan yang dipenuhi oleh benda-benda yang kira-kira seusia dengan rumah tersebut.
Perhatikan saja kursi di ruang makan di atas. Jika saya dapat menggambarkan suasana vila tersebut dengan dua kata, saya akan menyebutnya oldies romantis.

Selesai sarapan, berhubung cuaca minggu pagi yang kelabu, kami memutuskan untuk menghabiskan waktu sebentar berjalan-jalan seputaran di Valkenburg sebelum kembali ke rumah.
Valkenburg, atau bahasa setempatnya Valkeberg, dulunya adalah sebuah kota pertahanan, kota benteng. Dengan mudah kenyataan sejarah itu bisa dilihat dari penampakan kota kecil tersebut. Sisa-sisa dinding-dinding kota yang masih berdiri, reruntuhan kastil, dan meriam-meriam kuno yang tersebar di mana-mana.

Ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan di Valkenburg, mengunjungi reruntuhan kastil, menyusuri lorong-lorong bawah tanah bekas daerah pertambangan, bersepeda menikmati keindahan bukit-bukit hijau Belanda, yang terakhir ini dijamin pasti bikin ngos-ngosan, atau sekedar berjalan kaki menikmati daerah centrum, menelusuri sungai atau alam pegunungan di sekitarnya.

Awas, jangan tertipu penampilan bangunan di atas ini. Kelihatannya saja mirip gereja, namun pada kenyataannya adalah restaurant Mediterranean. Mungkin dulunya memang adalah sebuah gereja.

Hahaha... seandainya patung itu adalah manusia asli.... suit... suit... pasti banyak pengemudi dan pejalan kaki yang celaka saat melewati rumah itu!!

Menjelang siang, awan kelabu tebal perlahan-lahan tergeser dan langit biru serta cerahnya mentari perlahan-lahan menguasai langit. Hmmm... tergoda lagi untuk berkeliling dengan motor. Sayang banget kalau langsung pulang.
Ya sudah kami putuskan untuk berkeliling sebentar lagi, menelusuri daerah pertanian sampai ke perbatasan 3 negara.
Hasilnya? Seperti gambar-gambar di bawah ini.


Walaupun menyenangkan, tapi kesimpulan yang jelas, masih terlalu dingin bulan segini duduk di atas motor untuk perjalanan yang jauh. Brrrr...

Tuesday, September 16, 2008

Menyusuri Sungai Moezel

Bangun pagi pukul 7, gara-gara alarm hape dan godaan rembesan sinar matahari pagi yang mengintip dan merembes dari balik gordin. Uhh.. masih ingin bergelung hangat di bawah selimut, nyaman.. Tapi sayang juga kalau detik detik hari cerah itu kami habiskan hanya bergelung di balik selimut. Mata masih sepet saat tubuh ini diajak ke kamar mandi. Pakai acara nyenggol wastafel lagi. Auuu...

Tiba di ruang makan yang khas banget sentuhan Jermannya, sarapan sudah tersedia di meja makan mungil. Bukan nasi goreng yang komplit dengan telur ceplok, acar dan krupuk, tapi hanya roti, keju, ham dan telur setengah matang serta kopi panas. Ahh.. kangen nasi goreng..

Sempat nengok keluar jendela sebelum sarapan, ah.. segarnya pemandangan pagi di tepi sungai.

Jam 8 tepat kami sudah duduk manis kembali di atas motor, siap untuk merambah perjalanan kami kembali. Menulusuri sungai Moezel (atau Moselle dalam bahasa Inggrisnya) adalah judul motor trip hari itu. Kami menyusuri mungkin sekitar 150km dari sungai yang kira-kira sepanjang 545km itu, bersumber di Perancis dan melintasi Perancis, Luxemburg dan Jerman dan kemudian bermuara di sungai Rhine, Jerman.

Daerah sepanjang lembah sungai Moezel terkenal karena keindahan alamnya dan juga terkenal sebagai daerah penghasil white wine. maka, sepanjang perjalanan yang tersaji selain desa-desa kecil yang tua dan indah, adalah kebun-kebun anggur yang terhampar luas di sekitar desa, di tepi sungai, di badan-badan bukit.

Tidak heran jika toko-toko penjual wine tersebar di mana-mana, baik itu toko biasa atau yang langsung merupakan etalase pembuat wine itu sendiri. Dan yang asiknya, berbeda dengan di supermarket, di sini para pengunjung boleh mencicipi wine yang ada sebelum memutuskan mau membeli yang mana. Dan tentu saja tidak ada keharusan untuk membeli.

Mengingat hari itu hari Minggu, kami memutuskan untuk segera mencari bakery di sekitar desa yang kami lewati untuk membeli roti bekal makan siang, karena hari Minggu bakery hanya buka sampai jam 10 pagi.
Ujung-ujungnya kami malah singgah di sebuah toko wine setempat. Doh, isenk banget sih nih orang dua, baru juga jam 9 pagi kami sudah mencicipi wine!!!!

Saya mencoba sweet white wine, sementara Reinier mencoba dry white wine. Hmmm.. enak. Sementara Reinier tidak terlalu puas dengan rasa dry white wine-nya.
Ah, saya bukan seorang penyuka dry white wine, saya lebih menyukai white wine yang manis, lembut dan fruity. Akhirnya kami membeli sebotol sweet white wine.

Perjalanan kami lanjutkan kembali, walaupun beberapa kali kami harus mengambil rute yang berbeda dari yang kami rencanakan. Ah.. tidak tepat, seharusnya dari rute yang Reinier rencanakan, karena biasanya kalau itu rute untuk bermotor, saya mah nunut saja.
Perubahan rute ini dikarenakan beberapa ruas jalan yang ditutup untuk entah acara apa, yang pasti acaranya cukup ramai, karena ruas jalan yang ditutup cukup banyak dan luas dan juga melihat perlengkapan kesiapan yang ada. Helikopter, boat dari barisan pemadam kebakaran, ambulans, dan juga penonton yang membanjiri daerah sekitar sana.

Piknik? Sudah tentu. Roti yang tadinya dibeli untuk makan siang, malah kami habiskan saat piknik jam 10 di tepi sungai. Bukan karena kelaparan, tapi karena rotinya yang enak, takabur, lupa deh kalau itu bekal makan siang. :

Caravan-caravan ini bukan caravan bangsa gipsy, tapi caravan para turis, entah itu turis lokal atau turis dari negara tetangga. Berlibur dengan caravan merupakan salah satu alternatif untuk berlibur yang cukup populer di Eropa. Karena gaya berlibur seperti ini memberikan keleluasaan bergerak, ya iyalah, jalan-jalan sambil bawa kamar sendiri kayak keong. Apalagi ada banyak Caravan parks yang tersebar di negara-negara di Eropa ini. Bahkan sampai di Maroko kemarin kami juga melihat rombongan caravan dari Belanda dan Perancis. Jadi pengen nyoba juga, tapi.... bermotor rasanya lebih asyik ah...

Nah di salah satu desa yang kami lewati, entah desa apa namanya tidak saya cek lagi, ada pameran traktor. Ramai sekali traktor-traktor yang dipamerkan di tepi sungai. maulai dari yang jaman bauleha sampai traktor modern. Bahkan kebanyakan peserta datang dengan caravannya yang ditarik traktor. Ampun dah kalau pas ketemu yang model ini di jalan. Bayangkan sendiri bagaimana kecepatannya.. klutuk... klutuk.. klutuk... Untung kami bermotor sehingga tidak sukar untuk melewatinya.

Sempat lihat yang ini juga nih, mobil antik dengan caravan antik juga. Mini semua. Astaga, itu caravan kayaknya untuk tidur saja sesak-sesakkan deh.

Jangan tanya ini kastil di mana, saya tidak ingat lagi persisnya di mana. Yang penting ada obyek bagus, ya langsung klik tanpa berhenti apalagi turun dari motor. Maklum saja, judul jalan-jalan kali ini adalah motor trip, bukan foto trip, jadi sebisa mungkin saya tidak ingin mengganggu kesenangan Reinier di atas motor, walaupun doi sendiri sudah mengatakan untuk memberi kode berhenti jika ada obyek yang menarik yang ingin saya foto.

Sementara di beberapa bagian lain dari sungai ini juga terdapat aktifitas pasar. Entah itu pasar desa mingguan atau pasar bulanan atau pasar tahunan. Pokoknya pasar. Mungkin semacam rommelmarkt di Belanda, karena selain barang-barang baru, saya sempat melihat meja-meja dengan barang-barang bekas.
Banyak juga ternyata kegiatan di hari Minggu di sana. Hanya saja saya tidak tahu apakah setiap hari Minggu begitu ramai.

Saat melintasi Traben-Trarbach, kami berhenti untuk berjalan-jalan sejenak karena terpikat pada kecantikan kota kecil ini, yang diawali dengan kecantikan Art Nouveau dari gerbangnya.

Dan... ternyata di dekat gerbang yang sudah berdiri sejak 1898 itu (jadi ingat nyonya Meneer :P) juga ada penjual roti isi, lumayan untuk makan siang, mengingat roti kami sudah kami habiskan saat coffee break pagi tadi, dan... di ujung jembatan yang membentang di atas sungai Moezel ternyata ada penjual es krim yang sulit untuk kami abaikan Smiles Yang ternyata memang yummy banget.

Bagian dari bangunan kantor pos. Keren banget kantor posnya.

Jam matahari. Nah masalahnya kalau matahari terhalang awan mendung yang tebal seperti hari itu, jamnya jadi tidak jelas deh.

Belum puas merambah kota itu, kami sudah harus kembali melanjutkan perjalanan. Apa boleh buat, kami tidak ingin kemalaman tiba di rumah dan juga tidak ingin melanjutkan perjalanan yang sekitar 300km itu hanya di jalan tol.

Kembali di perjalanan kami melewati toko-toko wine yang menggoda untuk di singgahi, maka kembali kami mengunjungi salah satu toko wine yang kami temui di perjalanan.
Kali ini Reinier mencoba Off-dry white wine, dan saya tetap mencoba sweet white wine yang ada. Hmm.. tidak, saya tidak terlalu menyukai rasanya, tapi off-dry-nya oke juga, dan Reinier juga sependapat, maka kami itu yang kami beli, sebotol off-dry white wine. Off-dry white wine ada rasa manis yang ringan, tidak sepekat rasa manis pada sweet white wine.

Ah seharusnya kami ke sini di bulan Oktober, karena Oktober adalah bulan panen anggur di lembah sungai Moezel. Sudah tentu akan ada banyak acara dan perayaan yang diselenggarakan saat itu.

Tadinya kami ingin singgah sebentar di Cochem, salah satu kota yang sangat turistik di lembah sungai Moezel, tapi begitu tiba di sana dan melihat lalu lalang pengunjung yang membanjiri tempat itu, wah... malas juga jadinya. Sudahlah kapan-kapan saja nanti kami kembali mengunjungi kota itu.
Dari Cochem kami berpisah dengan lembah sungai Moezel, karena kami harus mengambil rute ke utara, arah balik ke Belanda.

Namun kami tidak langsung menuju jalan tol, kami masih mengambil jalan pedesaan dan menikmati pemandangan desa-desa yang ada.

Melihat aktifitas petani yang juga bekerja di hari Minggu dan... kembali menikmati pemandangan ladang gandum dengan gulungan-gulungan batang gandum kering yang khas yang tersebar di sana.

Dan, sebelum masuk ke jalan tol, kami singgah sebentar ke sebuah cafe untuk ngopi dan tralala... ada tart yang menggoda iman. Ah sudahlah.. tak usah pikir lama dan panjang, dietnya besok saja, sayang tart seenak itu dilewatkan begitu saja. Di Belanda sudah 'gak dapat lagi tart yang menggoda begitu.

Dan, jam 7 malam kami tiba kembali di rumah. Capek, tapi menyenangkan.