Praha, kota ratusan menara ini ada dalam rute perjalanan kami dan sudah pasti juga menjadi salah satu tujuan kami kali ini.Setelah memarkirkan caravan di salah satu camping site yang terletak tepat di luar kota Praha dan setelah menikmati makan malam dari dapur sederhana kami, tanpa banyak membuang waktu kami langsung bersiap-siap mengunjungi pusat kota Praha malam itu.
Dengan berjalan kaki kira-kira 10 menit ke halte bus terdekat, pakai acara lari-lari lagi gara-gara bus yang datang tepat waktu. Yup, saya harus angkat topi untuk urusan bus di kota ini, selama kami menggunakan jasa angkutan umum ini, belum pernah bisnya terlambat atau terlalu cepat datangnya. Selalu tepat waktu!!! Dengan bus kami menuju ke stasiun metro, kemudian lanjut dengan metro ke pusat kota.
Harga angkutan umum murah sekali, kami hanya membayar 100 Czech kroon (koruna) untuk tiket angkutan umum 24 jam. Tiket ini berlaku untuk bus, metro dan juga tram. 1 kroon = 4 sen euro = 550 rupiah.
Menikmati malam di Praha terasa seperti berada di negeri twilight antara kemegahan bangunan-bangunan kuno dan marak lampu-lampu yang menerangi dan memberi efek pada keindahan bangunan-bangunan itu. Berada di antara kegelapan langit malam dan nuansa cahaya yang menyelimuti kota. Berada di antara kemegahan masa lalu dan keramaian saat ini.
Museum Nasional Praha di malam hari. Sepertinya foto ini termasuk foto sejuta umat deh, karena selain saya ada juga beberapa fotografer yang sibuk dengan tripotnya. Museum ini hanya kami nikmati dari bagian luarnya saja, tanpa ada keinginan untuk menengok isinya.
Kemudian berputar-putar sebentar, di dalam keramaian para turis di pusat kota, mengunjungi jembatan Charles yang membentang di atas sungai Vltava, sungai terpanjang di Czech. Sampai sempat-sempatnya naik sampai ke puncak menara yang ada di ujung jembatan untuk menikmati suasana sekitar dari ketinggian. Ada dua menara di masing-masing ujung jembatan. Kami mendaki menara yang ada pada sisi kota tua.Uih.. ngos-ngosan juga mendaki anak tangga yang melingkar itu. Belum lagi permukaan anak tangganya yang dari batu miring-miring, aus terasah kaki-kaki selama beratus tahun, yang bikin tambah gamang melangkah.
Kata orang, Praha sekarang adalah kota yang mahal jika dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu. Kata kami, masih wajarlah. Namanya juga kota turis. Jangan dibandingkan dengan tempat lain di luar kota ini, juga jangan dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu. Nothing lasts forever, apalagi soal harga.
Asik cuci mata dan berleha-leha di sudut sebuah teras restaurant di kota tua, kami lupa kalau bus terakhir yang menuju camping site pada pukul 11 malam. Terpaksa balik ke camping site dengan taxi. Lupa juga kalau di dompet kroon tinggal sedikit banget. Untung supir taxi tidak keberatan menerima euro.
Keesokan hari, bangun kesiangan, santai menikmati sarapan di bawah mentari pagi yang hangat, berleha-leha, jam 11 baru melangkahkan kaki ke halte bus.Hari yang cerah dan panas di penghujung musim panas.
Tujuan pertama adalah Prague Castle, kastil kuno terbesar di dunia. Tapi kami juga tidak mengambil paket berkeliling di dalam kastil tersebut. Bisa habis waktu sehari kalau mau berkeliling dalam kastil tersebut.
Kami hanya mengunjungi basilica of St. Vitus, katedral yang bergaya gothic yang terdapat di dalam kompleks kastil.Makan siang menjelang sore, maklum sudah jam 2 lebih, adalah acara selanjutnya. Duduklah kami di teras salah satu restaurant tidak jauh dari kompleks kastil. Saat sedang meneliti isi menu, tiba2 pandangan kami tertarik pada sebuah mobil yang berjalan lambat menyemprot air ke jalan. O-ow....pasti deh... benarkan keciprat gerimis tipisnya juga. Walau tidak sampai basah, tetap saja air ya air. Setidaknya kamera sudah sempat saya amankan ke dalam tasnya sebelum itu mobil mencapai tempat kami.
Ronde kedua, saat sedang asik menunggu pesanan kami sembil menikmati minuman ringan dan sepotong roti dengan kruidenboter, muncul lagi itu mobil dari kejauhan. Waahhh... buru-buru deh kami menutupi keranjang roti dengan lembaran kertas tisiu yang ada dan menutupi minuman-minuman kami. Para penghuni meja di sebelah kami hanya menatap kami dengan tatapan geli, heran bin ajaib. Dan... hahaha... setelah kena gerimis tipis air dari mobil itu baru deh ngeh mereka. 
Bebek panggang pesanan saya. Agak kering tapi rasanya oke banget. Disajikan dengan kol asam dan roti kukus dan dumplings, yang merupakan makanan khas di sini.Untung itu mobil penyiram jalan tidak lewat lagi saat kami menikmati makanan kami.
Menyusuri jembatan Charles, jembatan batu yang dibangun 1357 dan baru selesai awal abad 15, kami menuju ke pusat kota tua. Berhubung jembatan Charles berada pada daftar must see setiap pelancong di Praha, sudah bisa diduga, bagaimana ramainya di jembatan itu dengan turis. Belum lagi para seniman yang kebanyakan pelukis dan pamusik jalanan. Foto di atas kelihatan sepi karena sengaja saya menunggu hingga moment yang rada sepi, kalau tidak begitu terlalu banyak kepala orang yang menghiasi foto saya.
Menurut informasi, ada 30 buah patung yang menghiasi jembatan ini. Tapi mungkin cuma 5 yang sempat saya perhatikan. Sisanya, saya lebih asik memperhatikan para seniman jalanan dan kelakuan para turis serta pemandangan sekitar jembatan itu.
Berada di tengah old town square, mengagumi arsiktektur bangunan-bangunan kuno yang masih berdiri megah sekaligus kegerahan karena temperatur udara yang lumayan bikin lengket dengan keringat.
Trdelnik, kue yang merupakan ciri khas di old town square. Kue ini mirip roomhoorn. Yang uniknya adalah kue ini dibakar ala bbq, jadi langsung dibakar di atas arang seperti membakar ikan. Rasanya tidak terlalu manis, juga tidak gurih dan tidak berisi vla seperti roomhoorn. Hambar, menurut lidah saya.Trdelnik, haha... mengucapkannya saja serasa keriting lidah ini

Prague Orloj atau jam astronomi di Praha. Jam yang sudah ada sejak tahun 1490, yang ngejelimet saat melihatnya dengan teliti.
Sekitar menjelang pukul 6 sore, tampak tumpukan orang-orang di depan jam ini. Ada apa gerangan? Ternyata tepat pada pukul 6 patung-patung kecil di sekitar jam itu bergerak secara mekanis.
Makan malam di sebuah restaurant di pojokan kota tua. Restaurant yang kecil, simpel dengan wine yang enak dan goulash (daging sapi yang dimasak hingga empuk dalam saus paprika dan tomat) yang super lezat, dan dihidangkan dengan empat jenis roti kukus. Hmmmm... tanpa malu-malu menandaskan piring sampai licin.. cin!!
Setelah makan malam segera bergegas kami menuju kembali ke jembatan Charles karena saya ingin mengambil gambar kastil Praha saat twilight.
Capek juga hampir seharian mengelilingi sebagian kecil kota Praha. Tampang semakin kuyu seiring dengan betis yang semakin pegal. Saatnya untuk kembali ke caravan, beristirahat, karena besok kami harus melanjutkan perjalanan ke Poland.Bersambung...


8 comments:
whoa. pengen liat jam nya..
ada vid nya ga tante since? :P
Tante ga naik kapal menyusurin sungainya? looks fun!
> Anung
Nung, aku 'gak bikin videonya. Tapi kalo kamu penasaran, klik di sini deh.
Nah foto terakhirnya keren tuhhhhhhh! Kapan lagi liat foto kalian berduaan :) Pake tripod atau minta tolong org? Eh, rambutmu pendek juga! Hihihi... aku jg pangkas rambut :D
Doh, ditengah sibuk2nya, baca ttg liburan... makkkkk...
Wooow foto2nya keren2 terutama foto waktu malam, kita kesana lom sempet menikmati praha diwaktu malam, pas musim dingin juga kereeen apalagi pas ada salju cuman dingiiinnya ampuuun hehhehe
> Sherly,
pake tripot, pake timer dan pake kamera kecil. 'gak berani aku pake kamera gede trus ditinggal gitu ke tripod. Pengalaman beberapa kali minta tolong orang jepret, aku sering 'gak puas dengan hasilnya. Komposisinya asal.
Iya, rambutku ta pendekin abis, praktis, biar pas hari H kemaren tuh aku 'gak usah sibuk antara ngurus rambut dengan urusan moto.
> Leni
Pengen ngalamin sendiri juga winter di Praha, lengkap dengan saljunya.
Praha .. salah satu impian ku , tega nya ... sadis de lo Sin .. bikin ngiler g aja . he222
selalu suka ma poto display makanan²nya, biar bahannya terkadang ngebikin kening berkerut tapi always looks yumms ya...jadi ngeces
*lap iler*
wow, ada poto sejoli nihhh
Post a Comment