Lautku sambutlah kami !!!!
Yupppieeee.....
Sampai ketemu bulan depan.
it's a sea of my thoughts, my dreams, my desires, my life
Postingan kali ini untuk menjawab pertanyaan Fun di catatan liburan yang di bawah tuh, tentang apa itu tajin.
Tajin yang dipergunakan untuk memasak memiliki corak yang lebih sederhana dan bentuk yang lebih padat dan berat. Sementara tajin yang sekedar hanya untuk hiasan memiliki corak dan warna yang lebih ramai (misalnya tajin kecil yang di sebelah kiri, di foto di atas itu).
Tajin sayuran, seperti namanya, yang tersaji adalah sayuran, biasanya adalah wortel, kol, lobak, terong, tomat dan kentang yang dimasak dengan rempah dan minyak zaitun. Kadang-kadang dilengkapi juga dengan taburan ercis. Saya suka memesan tajin sayur ini karena biasanya juga ada sepotong daging sapi atau domba di tengahnya. Potongan yang tidak terlalu besar tapi juga tidak terlalu kecil. Cukup untuk porsi saya.
Tajin kefta, bola-bola daging cincang yang dimasak dengan bumbu dan rempah, kemudian dilengkapi dengan telur di dalamnya dan dibiarkan terus matang dalam tajin. Enak, tapi berat juga karena terlalu banyak dagingnya.
Hari keenam, perjalanan terus dilanjutkan ke arah utara. Kali ini dalam perjalanan balik ke Marrakech kami juga mengunjungi Imlil, desa kecil di kaki puncak Toubkal, yang merupakan trekking base menuju puncak yang selalu diselimuti salju itu, puncak yang tertinggi di Afrika Utara.
Tiba di Imlil, tepat di ujung jalan beraspal, segera disambut guide-guide yang sudah menunggu mangsanya di parkiran di pinggir jalan desa, menawarkan jasa untuk trekking atau mengunjungi desa-desa yang ada di sana.
Mulailah kami menyusuri jalan sampai ke pinggiran desa tanpa bermaksud untuk terus melanjutkan masuk mengunjungi kasbah dan desa-desa tersebut. Kami lebih menikmati pemandangan dari kejauhan.
Setti-Fatma terkenal dengan air terjunnya. Ada 7 air terjun di sana. Tapi tidak satupun yang kami kunjungi, alasannya malas jalan, plus tidak cukup waktu. Kami harus mengembalikan mobil sore itu ke bandara. Jadi kami hanya menikmati kesejukan tempat itu dengan menyeberangi jembatan gantung yang terbentang untuk menyeberangi sungai dan duduk-duduk di restaurant yang ada di tepi sungai sambil menikmati teh mint.
Sering kami melihat pengembala domba dengan jubah tradisionalnya, yang membuat saya tertarik untuk membuat foto mereka. Karena beberapa foto merupakan foto dari jarak dekat, maka menurut saya lebih baik jika saya meminta ijin dari penggembala tersebut lebih dahulu. Kalaupun mereka misalnya minta bayaran ya okelah. Tapi kalaupun misalnya tidak minta bayaran, tetap akan saya berikan sedikit tip sebagai ucapan terima kasih. Take and give.
Yang membuat kami tertarik adalah rangkaian acara yang ada selama kelas berlangsung. Dimulai dari acara berbelanja bersama di pasar tua di medina, mengenal bumbu yang sering dipakai di sana dan bahan-bahan dasar yang ada. Langsung dijelaskan beda antara rempah yang kelihatannya mirip. Eksotik banget!!!
Tapi kali ini resep tajin yang berbeda dari yang biasanya kami makan. Tajin dengan bahan dasar ikan.
Oh ya, saya baru tahu kalau ada 2 tipe kayu manis, kayu manis Asia, yang umumnya kita pakai, dengan harum manis memikat, dan kayu manis Maroko/Afrika yang harumnya lebih pittig dan rasanya lebih tajam. Sepertinya kayu manis ini lebih pas sebagai rempah untuk masak dan juga untuk spekoek, tapi tidak untuk jenis kue-kue manis lainnya.
Jajanan yang kami suka. Donat ala Maroko yang rasanya lebih mirip cah kwe dan m'semen, sejenis pancake. M'semen ada yang divariasi dengan bawang dan tomat atau telur. Tapi kami lebih menyukai yang original. Harganya pun murah meriah.
Madrasah Ben Youssef, yang pada masa jayanya mampu menampung 900 siswa. Namun begitu kamar-kamarnya kami tengok, kami hanya saling memandang.. astaga.. Kamar tidur yang sempit dan harus dibagi dengan beberapa siswa lain. Tapi seni yang menggurat disetiap sisi wajah madrasah ini memang bikin berdecak kagum!!!
Istana El-Badi yang hanya tinggal puing dan lapangan luas membentang. Tembok-tembok sekeliling istana yang masih berdiri itu menjadi bukti betapa luasnya istana itu. Saat ini, hampir setiap lima meter di puncak dinding-dinding itu tergeletak sarang burung bangau. Ramai sekali melihat bangau yang terbang di sana. Sampai sempat bercanda, pantesan saja di Maroko ini banyak terlihat anak-anak
Berhubung bahasa menjadi kendala kami di sana, bahasa Perancis Yayank terpatah-patah, tapi cukup untuk mengerti dan mengutarakan maksud kami, sementara bahasa Perancis saya hanya setingkat bonjour, ça va, merci, alias saya buta bahasa Perancis. Sementara kebanyakan orang di sana tidak berbahasa Inggris. Makanya pada saat sedang tawar menawar kereta, datanglah seorang pemuda yang merasa bisa berbahasa Inggris mencoba meraih keuntungan dari kami.
Merambah souk dan acara berbelanja sudah pasti tidak terlepaskan. Tapi melelahkan dan kadang menjengkelkan, terutama acara berbelanja. Selalu acara tawar menawar menghabiskan terlalu banyak waktu kami. Sampai-sampai kami memutuskan, tawar sampai pada harga yang kami ingin bayar, dan selanjutnya take it or leave it. Tidak usah banyak membuang waktu.
Foto di atas masih merupakan bagian dari souk, salah satu counter dari deretan penjual aneka buah kering. Ada entah berapa macam jenis kurma di sana, kismis kuning, kismis coklat, fig dan juga kue kering. Kalau di deretan ini, tidak usah bersusah payah untuk menawar lagi. Bisa saja sih, tapi harganya masih termasuk "normal".
Salah satu gerbang di dinding kota, hasil jalan-jalan sore mengikuti suka-suka langkah kaki.
Menara mesjid Koutoubia dibawah siraman cahaya sunset. Menara mesjid ini bisa dilihat dari segala penjuru di medina.
Satu lagi, Maroko bukan tempat yang mudah untuk fotografer. Memang ada banyak obyek-obyek yang indah di sana, tapi jika obyek itu menyangkut manusia, adalah keberuntungan jika kita bisa memotret mereka tanpa masalah.
Demikianlah petualangan kami di Maroko. Jangan jerih karena cerita dari kami, tapi jadikanlah cerita ini sebagai masukkan bagi anda yang ingin mengunjungi Maroko. Ada banyak hal-hal yang juga indah di sana untuk dinikmati kok. Life is an adventure.
Setelah black out sekitar 8 jam, rencananya sih hanya untuk pipis, eeehhh begitu lewat jendela dekat kamar mandi langsung pantulan warna subuh merebak menggoda mata. Arwah yang masih menggantung langsung kumpul menyatu, bangun beneran deh jadinya, ambil kamera klak klik klak klik. Maaf ya sayang, kamu jadi terbangun karena kesibukanku dengan tas kamera.
Perjalanan dimulai dengan menyusuri kasbah "bawah tanah", yang pada kenyataannya bukan asli bawah tanah. Tapi merupakan kasbah, komplek tempat tinggal, yang tertutup rapat oleh tembok dan langit-langit dari tanah liat yang tebal. Hanya ada beberapa lubang di langit-langit kasbah untuk ventilasi dan juga untuk cahaya remang-remang yang menerangi dalam kasbah tersebut. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga kesejukan udara di dalam kasbah. Wajar saja, katanya, di musim panas suhu udara di daerah selatan itu bisa mencapai lebih dari 40°C.
Sementara di pusat kerajinan tembikar, bisa ditebak, yang kami saksikan adalah proses pembuatan tembikar.
Prosesnya sih sama saja dengan proses pembuatan tembikar di mana-mana, hanya suasana sekelilingnya saja yang berbeda. Dan, gara-gara membuat foto di sana, saya tiba-tiba dihampiri oleh seorang pekerja dan dimintai duit karena saya membuat foto mereka. Ya sudahlah, rangoh sana-sini nyari duit kecil.. wah... benar-benar tidak banyak. Segera semua duit kecil itu berpindah tangan, walaupun dengan tatapan galak orang itu karena sudah tentu merasa tidak puas dengan jumlah yang saya berikan. Maap ya pak ya, emang cuman segitu yang kami punya, beneran, liat nih.. celoteh saya dalam bahasa ibu dengan tatapan tanpa dosa sambil mengibas-ngibas dompet saya yang kosong karena isinya memang sengaja dibatasi sampai seminim yang diperlukan saja.
Dari acara jalan-jalan kecil itu, kami langsung ke Tinfou. Pemandangan kiri-kanan jalan benar-benar datar, kering, coklat, dan hampir tidak ada tanda-tanda kehidupan.
Kami hanya memandang tinfou dari kaki bukit pasir itu saja. Ada sih para penunggang unta yang menawarkan para wisatawan untuk menulusuri dunes itu di punggung unta. Tapi saya yang benar-benar kepanasan. Ini kepala langsung nyut-nyutan saat keluar dari mobil.
Dalam perjalanan balik ke Zagora, di tengah jalan yang panas sampai terlihat perbedaan aliran temperatur di udara, kami berjumpa dengan beberapa orang Eropa yang "kurang waras", menurut pendapat saya, yang sedang bersepeda dengan wajah yang memelas karena kepanasan.
Isenk, kami mencoba rute off-road yang pendek, tapi belum juga 5km, kami memilih balik, mengendarai mobil di jalan aspal yang mulus. Rute off-roadnya terlalu berat untuk mobil sewaan kami yang mungil itu. Memang rute untuk mobil 4WD. Kalau diteruskan bisa runtuh satu per satu badan mobil sewaan kami tuh.
Nah, tusukan kedua terjadi pada malamnya saat kami sedang makan malam. kali ini bukan tawon, tapi orang kurang waras!!!
Oh ya, kali ini kami mendapat hotel yang sederhana di tengah hamparan pohon-pohon kurma. Baru hari itu, dan hanya hari itu, kami menikmati berada di tengah hamparan padang pohon kurma.
Keesokan pagi, bangun pagi dan menyaksikan burung-burung yang sibuk meloncat dan bekicau dari ranting ke ranting pohon yang ada di dekat jendela kamar dan sarapan pagi di bawah pohon kurma.
Sengaja kami ambil rute lain untuk kembali ke Marrakech. Awal perjalanan sama sekali tidak termasuk dalam rute turistik. Tapi harus kami akui, jalan-jalan di Maroko termasuk lebar dan mulus!! Walaupun tidak banyak dilewati oleh kendaraan. Misalnya pada hari kelima ini, ada sekitar 200km yang kami tempuh dan hanya pada daerah-daerah perkotaan yang kami temui banyak kendaraan. Sisanya di daerah luar kota berpapasan dengan kendaraan lain bisa dihitung dengan jari tangan. Bahkan ada rute yang sama sekali kosong!!! Kami adalah satu-satunya pengguna jalan itu. Saat cek sinyal hape, kosong boo!!! Astaga, benar-benar jangan sampai ada masalah dengan mobil di rute itu deh. Menakutkan!! Bisa-bisa kami sudah menjadi dendeng saat orang menemukan kami. Hihihi... hiperboliknya keluar dah.
Anak-anak di rute ini juga jauh lebih ramah dan bersahabat, selayaknya sifat anak-anak. Jika kami berhenti untuk sekedar meluruskan kaki atau untuk memotret, kadang mereka menghampiri, menyapa, tersenyum, mengamati kegiatan kami dan gembira jika kami menawarkan permen. Kadang kami disapa dan mereka langsung berlalu. Kadang kami bahkan dicuekin. Rasanya lega seperti berada di alam yang normal. Apa mungkin karena daerah ini tidak termasuk daerah turistik atau karena alam lebih ramah di sini?
Menjelang sore, saat hari makin dingin dengan mendung tebal dan hujan, kami tiba di puncak pass, tizi n'Test. Jalan yang berliku, curam dan sempit. Bikin deg-deg'an juga, terutama jika harus berpapasan dengan mobil lain. Kadang saking sempitnya jalan, salah satu mobil harus berhenti, menepi mepet di dinding gunung. Sisi sebelahnya langsung jurang yang dalam.
Yang bikin tambah deg-deg'an lagi saat hampir mencapai puncak, kabut yang tebal turun dengan cepat. Jarak pandang langsung tinggal beberapa meter di depan mobil. Walaupun saya terbiasa dengan kabut tebal Bedugul, tapi dengan jurang di satu sisi jalan.. wiiiihhh....
Dan begitu tiba di balik puncak, keluar dari kabut, kami langsung disambut cahaya mentari yang hangat dan hijau pepohonan. Benar-benar berbeda dari sisi di balik puncak itu.
Makan malam yang romantis, walaupun tanpa gaun yang manis dan rasa makanan yang hanya so-so, dan malam itu adalah pertama kalinya kami mencicipi wine selama perjalanan kami dari hari pertama. Moroccan wine. Hmmm... lekker.|
|