Wednesday, June 18, 2008

Permisi.... Mudik dulu aaahhhh

Indonesia kami datang!!!!

Lautku sambutlah kami !!!!

Yupppieeee..... Too Happy 2

Sampai ketemu bulan depan.

Monday, June 16, 2008

Tajin

Postingan kali ini untuk menjawab pertanyaan Fun di catatan liburan yang di bawah tuh, tentang apa itu tajin.

Tajin atau tagine dalam bahasa Inggris, adalah mangkok/piring bercekung dalam yang dibuat dari tanah liat, lengkap dengan penutupnya yang berbentuk kerucut, yang digunakan untuk memasak, selayaknya panci atau wajan. Secara tradisional, tajin dilengkapi juga dengan tungku kecil, yang juga dari tanah liat. Tapi di dapur modern, tajin bisa langsung diletakkan di atas kompor gas.

Tajin yang dipergunakan untuk memasak memiliki corak yang lebih sederhana dan bentuk yang lebih padat dan berat. Sementara tajin yang sekedar hanya untuk hiasan memiliki corak dan warna yang lebih ramai (misalnya tajin kecil yang di sebelah kiri, di foto di atas itu).

Proses pematangan makanan yang dimasak dalam tajin terjadi secara perlahan-lahan karena suhu yang rendah. Hasilnya, daging yang renyah dan empuk dengan aroma sayuran dan rempah yang pekat.

Ada bermacam-macam resep untuk tajin, menurut orang maroko sendiri. Dan kalau mau di-google, akan muncul macam-macam resep untuk tajin ini dan variasinya. Tapi kami tidak mengerti mengapa hanya tajin sayur dan tajin kefta yang sangat populer di restaurant lokal (restaurant tradisional yang murah meriah) di Maroko. Mungkin supaya tidak perlu banyak jenis persediaan di dapur.

Tajin sayuran, seperti namanya, yang tersaji adalah sayuran, biasanya adalah wortel, kol, lobak, terong, tomat dan kentang yang dimasak dengan rempah dan minyak zaitun. Kadang-kadang dilengkapi juga dengan taburan ercis. Saya suka memesan tajin sayur ini karena biasanya juga ada sepotong daging sapi atau domba di tengahnya. Potongan yang tidak terlalu besar tapi juga tidak terlalu kecil. Cukup untuk porsi saya.

Tajin kefta, bola-bola daging cincang yang dimasak dengan bumbu dan rempah, kemudian dilengkapi dengan telur di dalamnya dan dibiarkan terus matang dalam tajin. Enak, tapi berat juga karena terlalu banyak dagingnya.

Demikianlah sekilas info tentang tajin. Sisanya kalau masih penasaran, silahkan tanya langsung ke oom Google saja ya Happy

Tuesday, June 10, 2008

218 jam merambah Marokko

5. Marrakech, kami kembali.

Hari keenam, perjalanan terus dilanjutkan ke arah utara. Kali ini dalam perjalanan balik ke Marrakech kami juga mengunjungi Imlil, desa kecil di kaki puncak Toubkal, yang merupakan trekking base menuju puncak yang selalu diselimuti salju itu, puncak yang tertinggi di Afrika Utara.

Berbeda sekali dengan pemandangan yang kami terima di jalur Tizi n' Tichka dan di daerah selatan, yang kering. Pemandangan selama perjalanan menuju Imlil memikat mata, hijau dan sejuk. Menyusuri sungai kecil dengan latar belakang puncak yang tertutup salju.

Tiba di Imlil, tepat di ujung jalan beraspal, segera disambut guide-guide yang sudah menunggu mangsanya di parkiran di pinggir jalan desa, menawarkan jasa untuk trekking atau mengunjungi desa-desa yang ada di sana.
Karena kami tidak bermaksud berjalan jauh, kami menolak semua tawaran guide dan memutuskan untuk berjalan sendiri sampai batas-batas yang kami inginkan. Dan yang para guide ini tidak mendesak lagi saat Yayank mengatakan kalau kami akan mencari guide tersebut jika kami berubah pikiran dan ingin menuju puncak atau singgah di kasbah. Terus terang, agak mengejutkan kami, karena menurut pengalaman selama ini tidak semudah itu kami bebas dari mereka.

Mulailah kami menyusuri jalan sampai ke pinggiran desa tanpa bermaksud untuk terus melanjutkan masuk mengunjungi kasbah dan desa-desa tersebut. Kami lebih menikmati pemandangan dari kejauhan.

Perut mulai menggelitik, waktunya untuk balik ke daerah parkiran yang juga dipenuhi oleh toko-toko souvenir. Ada perasaan lega di sini, karena para pemilik toko-toko itu sama sekali tidak menjengkelkan, bahkan ramah. Memang mereka mengajak kami singgah di toko-toko mereka, tapi sama sekali tidak memaksa saat kami hanya tersenyum dan mengatakan terima kasih.

Dan makan siangnya??? Yup!!! Tidak jauh dan tidak bukan, TAJIN lagi!!! Yuppie... hidup Tajin!!! Hysterical

Rencana selanjutnya adalah mengambil arah ke Setti-Fatma, masih desa di daerah High Atlas dan bermalam di sana untuk menikmati udara malam gunung. Tapi kami hampir kehabisan bensin dan tiba-tiba saja kami tidak melihat satu pom bensin di sepanjang jalan.
Heran, kenapa selalu dengan cerita yang sama? Jika kita butuh sesuatu selalu sulit menemukannya, tapi jika tidak butuh, itu pom bensin kami temui hampir setiap beberapa kilometer.
Dan akhirnya ada satu pom bensin yang kami temui, tapi bensinnya HABIS-BIS!!!!! Dismay
Terpaksa langsung ambil arah Marrakech yang tinggal 40 mil (hitung ndiri deh kilometernya).

Kebetulan hari itu hari Minggu, jadi terlihat langsung kegiatan penduduk Maroko pada hari Minggu. Piknik di sepanjang tepi sungai yang mengalir sepanjang perjalanan ke Marakkech. Lengkap dengan tikar dan bekal makanan. Ah.. jadi kangen saat-saat piknik di pantai dulu..

Hari berikutnya karena masih memiliki satu hari tersisa untuk menggunakan mobil sewaan kami maka segera kami menuju Setti-Fatma, di lembah Ourika.
Sempat pakai acara kesasar gara-gara belok terlalu dini. Sungguh bukan salah navigator, karena ternyata ada jalan yang tidak tertera di peta. Tapi tidak menjadi masalah karena pemandangan sepanjang acara kesasar pun indah.

Setti-Fatma terkenal dengan air terjunnya. Ada 7 air terjun di sana. Tapi tidak satupun yang kami kunjungi, alasannya malas jalan, plus tidak cukup waktu. Kami harus mengembalikan mobil sore itu ke bandara. Jadi kami hanya menikmati kesejukan tempat itu dengan menyeberangi jembatan gantung yang terbentang untuk menyeberangi sungai dan duduk-duduk di restaurant yang ada di tepi sungai sambil menikmati teh mint.
Yang bikin saya tertawa adalah semua restaurant yang ada sepanjang sungai itu hanya dihiasi oleh tajin!!! Artinya ke mana pun kaki melangkah masuk jika perut menggelitik lapar, hidangannya jelas: TAJIN. Hysterical

Sering kami melihat pengembala domba dengan jubah tradisionalnya, yang membuat saya tertarik untuk membuat foto mereka. Karena beberapa foto merupakan foto dari jarak dekat, maka menurut saya lebih baik jika saya meminta ijin dari penggembala tersebut lebih dahulu. Kalaupun mereka misalnya minta bayaran ya okelah. Tapi kalaupun misalnya tidak minta bayaran, tetap akan saya berikan sedikit tip sebagai ucapan terima kasih. Take and give.

Pengembala pertama yang kami temui, dalam komunikasi dengan bahasa Tarzan ala Since, tidak mau difoto. Sama sekali tidak mau. Tapi.... dombanya boleh. Awalnya saya pikir... yeee.. ngapain juga moto domba doank? Di Belanda juga banyak domba. Tapi saya berubah pikiran saat melihat ada anak domba yang lucu dan imut banget. Otomatis tangan ini bergerak segera mengarahkan kamera mencari sudut pengambilan yang oke, etc.
Setelah beberapa foto selesai, kami segera ke mobil, tapi bapak pengembala itu meneriaki kami dan memberikan kode dengan tangannya, duit donk!! Kembali saya berusaha, tapi dengan anda di foto yaa. Tidak.. tidak... serunya sambil tertawa menggelengkan kepala.
Yaiiitttzzz... moto domba juga bayaar booow. .
Akhirnya berhasil juga, pengembala kedua yang kami temui mau difoto.


Hari selanjutnya adalah hari tanpa mobil sewaan, karena sisa hari-hari itu hanya kami habiskan di Marrakech. Ngeri boo nyetir di sana. Bukan hanya karena lalu lintasnya kacau balau tapi juga karena jalannya yang mirip labirin. Biar kata berbekal peta juga tetap saja kesasar jauh.

Nah, hari pertama di Marrakech itu kami isi dengan kursus masak makanan Maroko di Souk Cuisine. Ide untuk ikut kursus masak ini timbul saat kami menyaksikan program tv The Taste of Live.
Yang membuat kami tertarik adalah rangkaian acara yang ada selama kelas berlangsung. Dimulai dari acara berbelanja bersama di pasar tua di medina, mengenal bumbu yang sering dipakai di sana dan bahan-bahan dasar yang ada. Langsung dijelaskan beda antara rempah yang kelihatannya mirip. Eksotik banget!!!
Kemudian dilanjut dengan acara mengolah hasil belanjaan tadi di dapur bersama koki lokal. Jadi benar-benar asli resep dan sentuhan Maroko.
Ada 6 resep yang harus kami olah bersama 4 peserta lain. Dan.... sudah pasti tidak lepas, salah satu yang harus kami olah di dapur itu adalah.... tarararammm... TAJIN!!!

Tapi kali ini resep tajin yang berbeda dari yang biasanya kami makan. Tajin dengan bahan dasar ikan.
Selesai masak, lanjut acara makan bersama tentunya. Hmmmm... lekker!!!

Oh ya, saya baru tahu kalau ada 2 tipe kayu manis, kayu manis Asia, yang umumnya kita pakai, dengan harum manis memikat, dan kayu manis Maroko/Afrika yang harumnya lebih pittig dan rasanya lebih tajam. Sepertinya kayu manis ini lebih pas sebagai rempah untuk masak dan juga untuk spekoek, tapi tidak untuk jenis kue-kue manis lainnya.

Di Marrakech, urusan makan menjadi lebih mudah karena variasi. Ada pizzeria dan kebanyakan restaurant menengah ke atas menyajikan menu hidangan Eropa. Urusan roti isi pun tidak menjadi masalah dan urusan jajanan apalagi. Jadi tidak melulu tajin lagi.
Ada restaurant di dekat hotel yang menurut kami asyik dan romantis tempatnya. Café Arabe.

Jajanan yang kami suka. Donat ala Maroko yang rasanya lebih mirip cah kwe dan m'semen, sejenis pancake. M'semen ada yang divariasi dengan bawang dan tomat atau telur. Tapi kami lebih menyukai yang original. Harganya pun murah meriah.

Hari-hari selanjutnya di Marrakech kami isi dengan mengunjungi Madrasah Ben Youssef, istana El-Badi, menyusuri dinding kota di atas kereta kuda, merambah souk (pasar), dan sekedar berjalan-jalan mengikuti irama kaki melangkah.

Madrasah Ben Youssef, yang pada masa jayanya mampu menampung 900 siswa. Namun begitu kamar-kamarnya kami tengok, kami hanya saling memandang.. astaga.. Kamar tidur yang sempit dan harus dibagi dengan beberapa siswa lain. Tapi seni yang menggurat disetiap sisi wajah madrasah ini memang bikin berdecak kagum!!!

Istana El-Badi yang hanya tinggal puing dan lapangan luas membentang. Tembok-tembok sekeliling istana yang masih berdiri itu menjadi bukti betapa luasnya istana itu. Saat ini, hampir setiap lima meter di puncak dinding-dinding itu tergeletak sarang burung bangau. Ramai sekali melihat bangau yang terbang di sana. Sampai sempat bercanda, pantesan saja di Maroko ini banyak terlihat anak-anak Teethy

Saat acara tawar-menawar kereta kuda untuk menyusuri dinding kota sempat saya marah dan berkata tajam pada seorang pemuda. Tipe benalu yang paling saya benci!!! Benalu-benalu ini juga ada di Bali dan pasti di banyak daerah wisata.
Benalu-benalu yang tidak banyak kerja tapi mencoba meraih keuntungan dari pekerja lain. Pengalaman selama lebih dari 10 tahun bekerja di dunia pariwisata membuat saya peka dengan "aroma" tipe ini.

Berhubung bahasa menjadi kendala kami di sana, bahasa Perancis Yayank terpatah-patah, tapi cukup untuk mengerti dan mengutarakan maksud kami, sementara bahasa Perancis saya hanya setingkat bonjour, ça va, merci, alias saya buta bahasa Perancis. Sementara kebanyakan orang di sana tidak berbahasa Inggris. Makanya pada saat sedang tawar menawar kereta, datanglah seorang pemuda yang merasa bisa berbahasa Inggris mencoba meraih keuntungan dari kami.
Bapak kusir minta 200 dirham untuk 1 jam, kata pemuda 4oo dirham. 200 dirham untuk nyonya, 200 dirham untuk tuan. Haaa?? Ini orang kurang ajar bener.
"Hey, hello, we understood what he said, okay??!! We don't need your help!" kata saya galak. Yayank juga bersikeras pada 150 dirham total, kalau 'gak mau ya udah kita pergi. Mengerti tidak akan mendapat 1 sen dirham pun dari kami, berlalulah orang itu. Sementara si pak kusir menatap kami dan berkata 200 dirham ya, untuk 2 orang selama 1 jam. Okay no problem, segera kami duduk di kereta itu.

Merambah souk dan acara berbelanja sudah pasti tidak terlepaskan. Tapi melelahkan dan kadang menjengkelkan, terutama acara berbelanja. Selalu acara tawar menawar menghabiskan terlalu banyak waktu kami. Sampai-sampai kami memutuskan, tawar sampai pada harga yang kami ingin bayar, dan selanjutnya take it or leave it. Tidak usah banyak membuang waktu.
Selalu tawar sekitar 30% dari harga yang diberikan. Bayangkan saja, harga sarung 2 helai dikasih 500 dirham dan hanya saya bayar 200 dirham.
Kalung yang diberi harga 500 dirham saya bayar seharga 120 dirham. Kacau kan urusan tawar menawar gitu? Jika dibandingkan dengan di Bali, setidaknya di Bali saya punya bayangan harganya, jadi lebih mudah untuk menawar. Di sini saya hanya bisa mengira-ngira saja.
Pokoknya kalau punya waktu jangan langsung beli tapi jalan-jalan keliling dulu, banding-bandingin harga dulu.
Dan sudah pasti harga di pasar umum, masih di souk, lebih murah jika dibandingkan di pasar souvenir yang pasti harga turis punya.

Oh ya, jangan berbelanja dengan menggunakan guide!!! Karena anda akan membayar lebih mahal untuk persentase ke guide yang mengantar anda ke sana. Logis kan, di mana-mana juga begitu.

Foto di atas masih merupakan bagian dari souk, salah satu counter dari deretan penjual aneka buah kering. Ada entah berapa macam jenis kurma di sana, kismis kuning, kismis coklat, fig dan juga kue kering. Kalau di deretan ini, tidak usah bersusah payah untuk menawar lagi. Bisa saja sih, tapi harganya masih termasuk "normal".

Kondisi medina yang mirip labirin ini sangat disadari oleh penduduk di sana. Maka sudah pasti mereka berusaha juga mendapatkan penghasilan dengan kondisi ini. Banyak remaja setempat yang berusaha menunjukkan arah ke lokasi-lokasi yang terkenal di daerah sekitar sana pada turis yang kesasar, tentunya dengan imbalan. Yang menyebalkan adalah kadang kami tidak ingin mengunjungi tempat itu, tapi kami hanya ingin membiarkan kami tenggelam dalam labirin itu. Setiap kali kami berbelok ke arah yang bukan arah ke lokasi turistik, selalu ada remaja yang menghampiri dan berusaha membelokkan kaki kami, dan tidak mau mengerti kalau kami tidak ingin ke lokasi turistik itu. Setiap kali kami membuka peta hanya untuk mengecek di mana posisi kami, selalu ada remaja yang menghampiri dan berusaha membawa kami ke lokasi turistik terdekat.
Sebenarnya kondisi itu bisa saya mengerti, tapi jika setiap kali terjadi ya kesel kan?

Salah satu gerbang di dinding kota, hasil jalan-jalan sore mengikuti suka-suka langkah kaki.

Menara mesjid Koutoubia dibawah siraman cahaya sunset. Menara mesjid ini bisa dilihat dari segala penjuru di medina.

Ada juga trik anak-anak penjual bunga di jalan yang perlu diwaspadai.
Mereka datang dan menawarkan bunga.
Tidak, jawab kami.
Merengek.
Tidak, jawab kami.
Mendesak agak memaksa.
Tidak, jawab kami.
Oke, kado untuk kalian.
TIDAK, jawab kami.
Bunga itu disisipkan di tas saya.
LHO??? HEI. Tidak artinya T I D A K!!
Kado.
... *geregetan, pengen jitak tapi menahan diri*
Kemudian... setidaknya kalian bisa memberikan saya sedikit tanda terima kasih kan?
Tersenyum manis nan berbisa sambil memberikan bunganya kembali: Merci. UUUUGGGHHH!!!

Satu lagi, Maroko bukan tempat yang mudah untuk fotografer. Memang ada banyak obyek-obyek yang indah di sana, tapi jika obyek itu menyangkut manusia, adalah keberuntungan jika kita bisa memotret mereka tanpa masalah.
Kebanyakan menolak untuk di foto, atau meminta bayaran, ya kalau 'gak punya duit kecil maka hilanglah lembaran yang gede.
Beberapa kali saya diomelin orang karena mengambil gambar dan kebetulan mereka ada di sana. Biasanya saya hanya memandang dengan wajah tanpa dosa seolah tidak mengerti apa yang sedang dia omelin, tersenyum, mengangkat bahu dan berlalu. Kalaupun dia mau memaki-maki saya mana saya ngerti kan? Keuntungan tidak mengerti bahasa setempat.
Tapi kalau lagi kesal dan fotonya sendiri tidak terlalu oke, orang itu saya panggil, saya tunjukkan fotonya di lcd kamera, tekan tombol erase, oke, satisfy? Sambil mengangkat tangan dan berlalu.

Snapshoot adalah cara termudah. Atau memanfaatkan kesempatan di pasar saat selesai sebuah transaksi pembelian. Tapi kebanyakan mereka tidak mau difoto sendirian, maunya berdua dengan salah satu dari kami. Yaaahhhh... bukan mo poto bareng maksudnya pak!!

Sering saya mengatakan, lebih mudah memotret bagian belakang tubuh mereka ketimbang bagian depannya Hysterical

9 hari di Maroko, cukup bagi kami. Melelahkan.
Saat berada kembali di bandara, saya berdiri antara perasaan kagum dan ironis saat memandang kemegahan bandara itu.

Mungkin para pembaca menangkap kesan-kesan negatif dari catatan perjalanan saya ini. Sudah pasti tulisan ini subjektif sekali, berdasarkan pengalaman yang kami alami di sana.
Ada banyak cerita negatif dari orang-orang yang pernah ke sana, tapi toh kami tetap ke sana juga. Karena kami yakin, bagaimana setiap orang menghadapi suatu situasi yang sama itu berbeda-beda.
Buktinya juga ada perempuan Belanda yang setelah beberapa kali mengunjungi Marrakech, memutuskan untuk pindah ke sana dan membuka sekolah masak, Souk Cuisine.
Atau sepasang backpackers muda dari Australia yang kami kenal di sana, yang mengembara mengelilingi Eropa selama 6 bulan, sudah menghabiskan lebih dari sebulan waktu liburan mereka di Maroko dan masih betah juga.

Demikianlah petualangan kami di Maroko. Jangan jerih karena cerita dari kami, tapi jadikanlah cerita ini sebagai masukkan bagi anda yang ingin mengunjungi Maroko. Ada banyak hal-hal yang juga indah di sana untuk dinikmati kok. Life is an adventure.


Wednesday, June 04, 2008

218 jam merambah Marokko

Mohon maaf ya para pembaca, catatan perjalanan ini sempat 2 minggu lebih terbengkalai, dikarenakan banyak faktor yang menyita perhatian dan waktu yang punya blog. Maaf juga, belum sempat mengunjungi blog rekan-rekan.
Pembaca dimohon jangan kabur yaa
Bouquet

4. Selatan ke Utara

Setelah black out sekitar 8 jam, rencananya sih hanya untuk pipis, eeehhh begitu lewat jendela dekat kamar mandi langsung pantulan warna subuh merebak menggoda mata. Arwah yang masih menggantung langsung kumpul menyatu, bangun beneran deh jadinya, ambil kamera klak klik klak klik. Maaf ya sayang, kamu jadi terbangun karena kesibukanku dengan tas kamera.

Awalnya kami berencana akan terus ke selatan sampai perbatasan dengan padang pasir hari itu. Meyusuri padang pasir dengan menunggang onta, dan bermalam di tenda ala para musafir di padang pasir. Saya sendiri sudah membayangkan kesempatan untuk mengabadikan pemandangan padang pasir yang berbukit dan berlekuk-lekuk indah, yang disinari cahaya mentari senja atau saat terbit. Tapi rencana tersebut terpaksa harus kami batalkan. Panas yang menyengat membuat kami berdua menjadi cepat capek dan terus sakit kepala sejak sehari sebelumnya. Yup, harus realistis dengan antara kondisi alam dan tubuh. Bisa saja kami berdua ngotot terus ke sana, tapi untuk apa jika kami tidak bisa menikmati perjalanan itu.
Jadi kami putuskan untuk melaju sedikit ke arah selatan, menuju dunes Tinfou, kira-kira 20km dari Zagora, kota di mana kami menginap saat itu.

Dalam perjalanan ke bukit pasir Tinfou, di tengah jalan, kami tiba-tiba diberhentikan lagi oleh seseorang di tengah jalan di kota kecil Zaouïa, Tamegroute. Weit... apa lagi nih??? Mau tidak mau kami harus berhenti juga karena jalanan yang ramai dengan orang-orang. Tapi kami berdua segera setuju tanpa basa-basi, tidak ada lagi urusan menumpang mobil. Ternyata orang yang memberhentikan kami itu hanya bertanya jika kami ingin berjalan-jalan sebentar melihat-lihat sekitar situ, yang terkenal karena perpustakaan Koran (al-Quran) tertua, kerajinan tembikar dan kasbah "bawah tanah".
Hmmm.... menarik juga, mengapa tidak? Segera kami parkirkan mobil dan... sudah pasti orang yang memberhentikan kami itu otomatis menjelma menjadi guide kami.

Perjalanan dimulai dengan menyusuri kasbah "bawah tanah", yang pada kenyataannya bukan asli bawah tanah. Tapi merupakan kasbah, komplek tempat tinggal, yang tertutup rapat oleh tembok dan langit-langit dari tanah liat yang tebal. Hanya ada beberapa lubang di langit-langit kasbah untuk ventilasi dan juga untuk cahaya remang-remang yang menerangi dalam kasbah tersebut. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga kesejukan udara di dalam kasbah. Wajar saja, katanya, di musim panas suhu udara di daerah selatan itu bisa mencapai lebih dari 40°C.
Orang-orang yang tinggal di dalam kasbah ini berasal dari bangsa-bangsa lain di Afrika, seperti, Somalia dan lain-lain. Aduh, yang saya ingat kok hanya Somalia, yang lain saya lupa. Blushy
Tempatnya sendiri bisa dibilang kumuh, tapi tetap merupakan warna tersendiri bagi kami selama perjalanan tersebut, iya lah berjalan di tengah "perkampungan" lokal nan kumuh.

Perpustakaan Koran tertua juga menarik isinya. Tidak melulu hanya isi al-Quran dan kaligrafi-kaligrafi yang ada, tapi juga tentang ilmu pengetahuan lain, seperti biologi, astronomi, ekonomi dan matematika. Semuanya tertulis dalam aksara Arab dan dalam tulisan tangan tentunya. Ada lembaran-lembaran buku yang terlihat jelas sangat tua dan rapuh yang membuat saya berdecak, wow.

Sementara di pusat kerajinan tembikar, bisa ditebak, yang kami saksikan adalah proses pembuatan tembikar.
Prosesnya sih sama saja dengan proses pembuatan tembikar di mana-mana, hanya suasana sekelilingnya saja yang berbeda. Dan, gara-gara membuat foto di sana, saya tiba-tiba dihampiri oleh seorang pekerja dan dimintai duit karena saya membuat foto mereka. Ya sudahlah, rangoh sana-sini nyari duit kecil.. wah... benar-benar tidak banyak. Segera semua duit kecil itu berpindah tangan, walaupun dengan tatapan galak orang itu karena sudah tentu merasa tidak puas dengan jumlah yang saya berikan. Maap ya pak ya, emang cuman segitu yang kami punya, beneran, liat nih.. celoteh saya dalam bahasa ibu dengan tatapan tanpa dosa sambil mengibas-ngibas dompet saya yang kosong karena isinya memang sengaja dibatasi sampai seminim yang diperlukan saja.
Hihihi... walaupun sambil ngedumel, berlalu juga orang itu dari hadapan saya.

Yang bikin kesel ujung-ujung acara jalan-jalan, saat kami memberi tip pada si guide, eh... dia minta juga uang masuk ke kasbah. Lha.. mana karcisnya, enak saja. Itu kan hanya kasbah biasa saja, bukan kasbah seperti di Aït Benhaddou yang lengkap dengan karcis tanda masuknya. Kalau sekedar sumbangan, kami tidak keberatan, tapi ini jelas-jelas duit itu bakalan masuk ke kantong orang itu sendiri. Doh, pak, tip untuk anda itu kan sebenarnya sudah cukup gede.

Dari acara jalan-jalan kecil itu, kami langsung ke Tinfou. Pemandangan kiri-kanan jalan benar-benar datar, kering, coklat, dan hampir tidak ada tanda-tanda kehidupan.
Tinfou sendiri adalah bukit pasir yang digerakkan dan dikumpulkan oleh angin. Bukit pasir ini bisa saja bergeser agak ke kiri atau ke kanan tergantung bagaimana kekuatan dan arah angin.

Kami hanya memandang tinfou dari kaki bukit pasir itu saja. Ada sih para penunggang unta yang menawarkan para wisatawan untuk menulusuri dunes itu di punggung unta. Tapi saya yang benar-benar kepanasan. Ini kepala langsung nyut-nyutan saat keluar dari mobil.
Kata orang sana sih, kalau mau ke padang pasir, mending datangnya di bulan April, saat temperatur masih sejuk.

Dalam perjalanan balik ke Zagora, di tengah jalan yang panas sampai terlihat perbedaan aliran temperatur di udara, kami berjumpa dengan beberapa orang Eropa yang "kurang waras", menurut pendapat saya, yang sedang bersepeda dengan wajah yang memelas karena kepanasan.
Saat berjumpa dengan grup sepedaan begitu di Bedugul Bali saja saya sudah geleng-geleng kepala, kurang kerjaan orang-orang ini. Tapi ini, di tengah panasnya daerah pinggiran padang pasir di tengah hari??? Kurang waras kan??

Isenk, kami mencoba rute off-road yang pendek, tapi belum juga 5km, kami memilih balik, mengendarai mobil di jalan aspal yang mulus. Rute off-roadnya terlalu berat untuk mobil sewaan kami yang mungil itu. Memang rute untuk mobil 4WD. Kalau diteruskan bisa runtuh satu per satu badan mobil sewaan kami tuh.


Berhenti di sebuah restauran yang terlihat adem dengan pohon dan tenda di halamannya untuk melepaskan dahaga. Panas-panas paling asyik kan Coca cola super dingin!!
Saat sedang menikmati minuman kami, datang pelayan restaurant dan berbincang-bincang dengan kami. Sungguh, itu saat yang pertama kali kami berbincang asyik dengan orang "lokal". Pengetahuannya cukup luas untuk informasi-informasi yang kami perlukan.
Tapi di ujung percakapan yang membuat kami berdua berpandangan, berdecak jengkel tapi kemudian tertawa di mobil adalah kami berdua digiring ke toko souvenirnya di depan restaurant itu.
Ah, apakah semua keramahan yang ada hanyalah kedok? Mengecewakan.

Hari itu juga termasuk hari yang sangat aneh bagi saya. Entah kenapa dua kali saya "ditusuk" pada hari itu.
Ceritanya bermula dari saat saya hendak keluar dari mobil yang diparkirkan di depan sebuah rumah makan untuk makan siang. Tiba-tiba, saya merasa perih dan sensasi terbakar, panas di ketiak bagian belakang. OOUUUCCHHH!!! Takutnya tuh ada semut merah gede yang mungkin jatuh dari pohon di kaos saya dan merayap ke dalam. Ngeri kan?
Tapi ternyata, yang menyengat saya itu adalah tawon!!! Lha?? Gimana tuh tawon nyasar ke dalam baju saya ya??? Kesimpulan yang ditarik dengan sangat pede adalah ketek saya harum semerbak!!! ROTFL Lha buktinya, tawon aja doyan!!!
Lega juga sih, karena saya tidak memiliki alergi terhadap sengatan tawon. Paling juga hanya perih sebentar kemudian hilang diganti gatal sesekali selama beberapa hari.

Nah, tusukan kedua terjadi pada malamnya saat kami sedang makan malam. kali ini bukan tawon, tapi orang kurang waras!!!
Saat kami sedang menunggu pesanan kami di teras sebuah restaurant, saya sempat melihat ada orang gila di jalan yang berteriak-teriak dengan suara gede dan berusaha membuat percakapan dengan orang-orang yang ditemuinya. Tidak menakutkan jadi ya biar saja, toh dia di jalan.
Nah saat makanan kami tersaji dan saya sedang asyik menikmati hidangan itu, tiba-tiba saya mendengar ada orang berteriak-teriak di samping saya, ya yang namanya saya kalau sudah asyik dengan makanan, super cueknya muncul. Mungkin orang gila itu sedang berusaha bercakap-cakap dengan orang di meja sebelah, pikir saya. Belum juga semenit ribut, tiba-tiba ada hantaman tusukan di punggung saya!!! Duh!!
Apa-apaan ini!!! Tapi ketika saya tengok, itu orang gila jauh di jalan sibuk dengan orang lain, ya bukan dia. Siapa dong?? Kata yayank yang juga masih setengah terkejut, ada perempuan setengah baya yang datang tiba-tiba, menggonggong kencang, langsung menghantam punggung saya dan terus lari menghilang!! Lha??? Kenapa?? Apa yang membuat orang itu kesal pada saya? Baju yang saya kenakan juga sopan kok.
Untung juga dia nusuknya pakai ranting pohon kering yang rapuh, jadi langsung patah rantingnya, tanpa melukai saya. Tapi lumayan perih boo.

Ah... lihat bulan naik, pantesan, purnama, banyak orang gila kambuh. Apa hubungannya ya?? Asal!! Hysterical
Puji Tuhan tidak ada hal-hal yang sampai membahayakan keselamatan kami berdua.

Oh ya, kali ini kami mendapat hotel yang sederhana di tengah hamparan pohon-pohon kurma. Baru hari itu, dan hanya hari itu, kami menikmati berada di tengah hamparan padang pohon kurma.

Keesokan pagi, bangun pagi dan menyaksikan burung-burung yang sibuk meloncat dan bekicau dari ranting ke ranting pohon yang ada di dekat jendela kamar dan sarapan pagi di bawah pohon kurma.
Agak menjengkelkan karena hari itu saya kena diare dan perut yang perih seharian gara-gara sehari sebelumnya saya minum terlalu banyak minuman bersoda.
Yayank rada-rada kuatir juga untuk melanjutkan perjalanan dengan kondisi diare saya, tapi saya yang ngotot untuk melanjutkan perjalanan. Walaupun daerah sekitar hotelnya indah tetap saja malas saya berlama-lama di sana.

Sengaja kami ambil rute lain untuk kembali ke Marrakech. Awal perjalanan sama sekali tidak termasuk dalam rute turistik. Tapi harus kami akui, jalan-jalan di Maroko termasuk lebar dan mulus!! Walaupun tidak banyak dilewati oleh kendaraan. Misalnya pada hari kelima ini, ada sekitar 200km yang kami tempuh dan hanya pada daerah-daerah perkotaan yang kami temui banyak kendaraan. Sisanya di daerah luar kota berpapasan dengan kendaraan lain bisa dihitung dengan jari tangan. Bahkan ada rute yang sama sekali kosong!!! Kami adalah satu-satunya pengguna jalan itu. Saat cek sinyal hape, kosong boo!!! Astaga, benar-benar jangan sampai ada masalah dengan mobil di rute itu deh. Menakutkan!! Bisa-bisa kami sudah menjadi dendeng saat orang menemukan kami. Hihihi... hiperboliknya keluar dah.

Untung selama perjalanan diare saya tidak kambuh, hanya perih yang sering menggigit. Uh amit-amit deh, wc umum atau wc di restaurant yang bersih di Maroko tuh barang SUPER LANGKAH!!! Beberapa kali saya kebelet pipis, tapi membayangkan kondisi wc-nya... ditahan deh sampai daerah luar kota yang tidak kelihatan kehidupan, buka pintu mobil, cek kiri-kanan, muka-belakang, atas-bawah dan... meluncuuuuuuuuuuuurrrr.... uhhhhh legaaaa!!!

Anak-anak di rute ini juga jauh lebih ramah dan bersahabat, selayaknya sifat anak-anak. Jika kami berhenti untuk sekedar meluruskan kaki atau untuk memotret, kadang mereka menghampiri, menyapa, tersenyum, mengamati kegiatan kami dan gembira jika kami menawarkan permen. Kadang kami disapa dan mereka langsung berlalu. Kadang kami bahkan dicuekin. Rasanya lega seperti berada di alam yang normal. Apa mungkin karena daerah ini tidak termasuk daerah turistik atau karena alam lebih ramah di sini?
Satu lagi yang sempat saya perhatikan, penampakan orang-orang di jalur ini sangat berbeda dengan di jalur saat kami ke Selatan. Padahal masih satu garis pararel di High Atlas.
Orang-orang di rute ini berkulit lebih terang dan rata-rata berwajah agak bulat dibandingkan dengan di rute sebelumnya yang berkulit lebih gelap dan berwajah lonjong meruncing.

Makan siang, saya inginkan sesuatu yang tidak terlalu berminyak mengingat kondisi perut saya. Tapi ternyata yang ada hanyalah TAJIIIIIIIIIIN lagi.
Heran, padahal ada lebih dari 200 jenis resep yang ada di buku kumpulan resep masakan Moroko. Tapi selalu tersaji di restaurant selain bakar-bakaran, adalah tajin. Itupun hanya dua macam, tajin kefta dan tajin sayuran. Menu yang sama di hampir semua restaurant/rumah makan di sana terutama yang di kota-kota kecil.
Pernah kami melihat daftar menu yang super panjang. Tapi pesan ini, 'gak ada, pesan itu, 'gak ada. Apa dong yang ada? Tajin kefta dan tajin sayur. Doh, lu lagi lu lagi!! Doofus
Tajin dengan bumbunya yang pekat memang enak, tapi kalau 5 hari berturut-turut makan tajin?? Ampun dah!!!

Menjelang sore, saat hari makin dingin dengan mendung tebal dan hujan, kami tiba di puncak pass, tizi n'Test. Jalan yang berliku, curam dan sempit. Bikin deg-deg'an juga, terutama jika harus berpapasan dengan mobil lain. Kadang saking sempitnya jalan, salah satu mobil harus berhenti, menepi mepet di dinding gunung. Sisi sebelahnya langsung jurang yang dalam.

Yang bikin tambah deg-deg'an lagi saat hampir mencapai puncak, kabut yang tebal turun dengan cepat. Jarak pandang langsung tinggal beberapa meter di depan mobil. Walaupun saya terbiasa dengan kabut tebal Bedugul, tapi dengan jurang di satu sisi jalan.. wiiiihhh....

Dan begitu tiba di balik puncak, keluar dari kabut, kami langsung disambut cahaya mentari yang hangat dan hijau pepohonan. Benar-benar berbeda dari sisi di balik puncak itu.
Perubahan alam ini selalu membuat saya berdecak kagum.

Menjelang malam, kami menemukan sebuah hotel mungil yang lengkap dengan restaurant yang mungil dan hangat dan kolam renang. Uh, saat kami begitu keukeuh untuk berenang karena kepanasan, kami tidak menemukan kolam renang yang "pantas". Dan ini, kolam renang yang begitu menggoda, tapi udara sekitar cukup bikin menggigil tanpa sweater. Baru menyentuh air kolam dengan kaki saja sudah... brrrrrr...

Makan malam yang romantis, walaupun tanpa gaun yang manis dan rasa makanan yang hanya so-so, dan malam itu adalah pertama kalinya kami mencicipi wine selama perjalanan kami dari hari pertama. Moroccan wine. Hmmm... lekker.

Bersambung..