Tuesday, June 10, 2008

218 jam merambah Marokko

5. Marrakech, kami kembali.

Hari keenam, perjalanan terus dilanjutkan ke arah utara. Kali ini dalam perjalanan balik ke Marrakech kami juga mengunjungi Imlil, desa kecil di kaki puncak Toubkal, yang merupakan trekking base menuju puncak yang selalu diselimuti salju itu, puncak yang tertinggi di Afrika Utara.

Berbeda sekali dengan pemandangan yang kami terima di jalur Tizi n' Tichka dan di daerah selatan, yang kering. Pemandangan selama perjalanan menuju Imlil memikat mata, hijau dan sejuk. Menyusuri sungai kecil dengan latar belakang puncak yang tertutup salju.

Tiba di Imlil, tepat di ujung jalan beraspal, segera disambut guide-guide yang sudah menunggu mangsanya di parkiran di pinggir jalan desa, menawarkan jasa untuk trekking atau mengunjungi desa-desa yang ada di sana.
Karena kami tidak bermaksud berjalan jauh, kami menolak semua tawaran guide dan memutuskan untuk berjalan sendiri sampai batas-batas yang kami inginkan. Dan yang para guide ini tidak mendesak lagi saat Yayank mengatakan kalau kami akan mencari guide tersebut jika kami berubah pikiran dan ingin menuju puncak atau singgah di kasbah. Terus terang, agak mengejutkan kami, karena menurut pengalaman selama ini tidak semudah itu kami bebas dari mereka.

Mulailah kami menyusuri jalan sampai ke pinggiran desa tanpa bermaksud untuk terus melanjutkan masuk mengunjungi kasbah dan desa-desa tersebut. Kami lebih menikmati pemandangan dari kejauhan.

Perut mulai menggelitik, waktunya untuk balik ke daerah parkiran yang juga dipenuhi oleh toko-toko souvenir. Ada perasaan lega di sini, karena para pemilik toko-toko itu sama sekali tidak menjengkelkan, bahkan ramah. Memang mereka mengajak kami singgah di toko-toko mereka, tapi sama sekali tidak memaksa saat kami hanya tersenyum dan mengatakan terima kasih.

Dan makan siangnya??? Yup!!! Tidak jauh dan tidak bukan, TAJIN lagi!!! Yuppie... hidup Tajin!!! Hysterical

Rencana selanjutnya adalah mengambil arah ke Setti-Fatma, masih desa di daerah High Atlas dan bermalam di sana untuk menikmati udara malam gunung. Tapi kami hampir kehabisan bensin dan tiba-tiba saja kami tidak melihat satu pom bensin di sepanjang jalan.
Heran, kenapa selalu dengan cerita yang sama? Jika kita butuh sesuatu selalu sulit menemukannya, tapi jika tidak butuh, itu pom bensin kami temui hampir setiap beberapa kilometer.
Dan akhirnya ada satu pom bensin yang kami temui, tapi bensinnya HABIS-BIS!!!!! Dismay
Terpaksa langsung ambil arah Marrakech yang tinggal 40 mil (hitung ndiri deh kilometernya).

Kebetulan hari itu hari Minggu, jadi terlihat langsung kegiatan penduduk Maroko pada hari Minggu. Piknik di sepanjang tepi sungai yang mengalir sepanjang perjalanan ke Marakkech. Lengkap dengan tikar dan bekal makanan. Ah.. jadi kangen saat-saat piknik di pantai dulu..

Hari berikutnya karena masih memiliki satu hari tersisa untuk menggunakan mobil sewaan kami maka segera kami menuju Setti-Fatma, di lembah Ourika.
Sempat pakai acara kesasar gara-gara belok terlalu dini. Sungguh bukan salah navigator, karena ternyata ada jalan yang tidak tertera di peta. Tapi tidak menjadi masalah karena pemandangan sepanjang acara kesasar pun indah.

Setti-Fatma terkenal dengan air terjunnya. Ada 7 air terjun di sana. Tapi tidak satupun yang kami kunjungi, alasannya malas jalan, plus tidak cukup waktu. Kami harus mengembalikan mobil sore itu ke bandara. Jadi kami hanya menikmati kesejukan tempat itu dengan menyeberangi jembatan gantung yang terbentang untuk menyeberangi sungai dan duduk-duduk di restaurant yang ada di tepi sungai sambil menikmati teh mint.
Yang bikin saya tertawa adalah semua restaurant yang ada sepanjang sungai itu hanya dihiasi oleh tajin!!! Artinya ke mana pun kaki melangkah masuk jika perut menggelitik lapar, hidangannya jelas: TAJIN. Hysterical

Sering kami melihat pengembala domba dengan jubah tradisionalnya, yang membuat saya tertarik untuk membuat foto mereka. Karena beberapa foto merupakan foto dari jarak dekat, maka menurut saya lebih baik jika saya meminta ijin dari penggembala tersebut lebih dahulu. Kalaupun mereka misalnya minta bayaran ya okelah. Tapi kalaupun misalnya tidak minta bayaran, tetap akan saya berikan sedikit tip sebagai ucapan terima kasih. Take and give.

Pengembala pertama yang kami temui, dalam komunikasi dengan bahasa Tarzan ala Since, tidak mau difoto. Sama sekali tidak mau. Tapi.... dombanya boleh. Awalnya saya pikir... yeee.. ngapain juga moto domba doank? Di Belanda juga banyak domba. Tapi saya berubah pikiran saat melihat ada anak domba yang lucu dan imut banget. Otomatis tangan ini bergerak segera mengarahkan kamera mencari sudut pengambilan yang oke, etc.
Setelah beberapa foto selesai, kami segera ke mobil, tapi bapak pengembala itu meneriaki kami dan memberikan kode dengan tangannya, duit donk!! Kembali saya berusaha, tapi dengan anda di foto yaa. Tidak.. tidak... serunya sambil tertawa menggelengkan kepala.
Yaiiitttzzz... moto domba juga bayaar booow. .
Akhirnya berhasil juga, pengembala kedua yang kami temui mau difoto.


Hari selanjutnya adalah hari tanpa mobil sewaan, karena sisa hari-hari itu hanya kami habiskan di Marrakech. Ngeri boo nyetir di sana. Bukan hanya karena lalu lintasnya kacau balau tapi juga karena jalannya yang mirip labirin. Biar kata berbekal peta juga tetap saja kesasar jauh.

Nah, hari pertama di Marrakech itu kami isi dengan kursus masak makanan Maroko di Souk Cuisine. Ide untuk ikut kursus masak ini timbul saat kami menyaksikan program tv The Taste of Live.
Yang membuat kami tertarik adalah rangkaian acara yang ada selama kelas berlangsung. Dimulai dari acara berbelanja bersama di pasar tua di medina, mengenal bumbu yang sering dipakai di sana dan bahan-bahan dasar yang ada. Langsung dijelaskan beda antara rempah yang kelihatannya mirip. Eksotik banget!!!
Kemudian dilanjut dengan acara mengolah hasil belanjaan tadi di dapur bersama koki lokal. Jadi benar-benar asli resep dan sentuhan Maroko.
Ada 6 resep yang harus kami olah bersama 4 peserta lain. Dan.... sudah pasti tidak lepas, salah satu yang harus kami olah di dapur itu adalah.... tarararammm... TAJIN!!!

Tapi kali ini resep tajin yang berbeda dari yang biasanya kami makan. Tajin dengan bahan dasar ikan.
Selesai masak, lanjut acara makan bersama tentunya. Hmmmm... lekker!!!

Oh ya, saya baru tahu kalau ada 2 tipe kayu manis, kayu manis Asia, yang umumnya kita pakai, dengan harum manis memikat, dan kayu manis Maroko/Afrika yang harumnya lebih pittig dan rasanya lebih tajam. Sepertinya kayu manis ini lebih pas sebagai rempah untuk masak dan juga untuk spekoek, tapi tidak untuk jenis kue-kue manis lainnya.

Di Marrakech, urusan makan menjadi lebih mudah karena variasi. Ada pizzeria dan kebanyakan restaurant menengah ke atas menyajikan menu hidangan Eropa. Urusan roti isi pun tidak menjadi masalah dan urusan jajanan apalagi. Jadi tidak melulu tajin lagi.
Ada restaurant di dekat hotel yang menurut kami asyik dan romantis tempatnya. Café Arabe.

Jajanan yang kami suka. Donat ala Maroko yang rasanya lebih mirip cah kwe dan m'semen, sejenis pancake. M'semen ada yang divariasi dengan bawang dan tomat atau telur. Tapi kami lebih menyukai yang original. Harganya pun murah meriah.

Hari-hari selanjutnya di Marrakech kami isi dengan mengunjungi Madrasah Ben Youssef, istana El-Badi, menyusuri dinding kota di atas kereta kuda, merambah souk (pasar), dan sekedar berjalan-jalan mengikuti irama kaki melangkah.

Madrasah Ben Youssef, yang pada masa jayanya mampu menampung 900 siswa. Namun begitu kamar-kamarnya kami tengok, kami hanya saling memandang.. astaga.. Kamar tidur yang sempit dan harus dibagi dengan beberapa siswa lain. Tapi seni yang menggurat disetiap sisi wajah madrasah ini memang bikin berdecak kagum!!!

Istana El-Badi yang hanya tinggal puing dan lapangan luas membentang. Tembok-tembok sekeliling istana yang masih berdiri itu menjadi bukti betapa luasnya istana itu. Saat ini, hampir setiap lima meter di puncak dinding-dinding itu tergeletak sarang burung bangau. Ramai sekali melihat bangau yang terbang di sana. Sampai sempat bercanda, pantesan saja di Maroko ini banyak terlihat anak-anak Teethy

Saat acara tawar-menawar kereta kuda untuk menyusuri dinding kota sempat saya marah dan berkata tajam pada seorang pemuda. Tipe benalu yang paling saya benci!!! Benalu-benalu ini juga ada di Bali dan pasti di banyak daerah wisata.
Benalu-benalu yang tidak banyak kerja tapi mencoba meraih keuntungan dari pekerja lain. Pengalaman selama lebih dari 10 tahun bekerja di dunia pariwisata membuat saya peka dengan "aroma" tipe ini.

Berhubung bahasa menjadi kendala kami di sana, bahasa Perancis Yayank terpatah-patah, tapi cukup untuk mengerti dan mengutarakan maksud kami, sementara bahasa Perancis saya hanya setingkat bonjour, ça va, merci, alias saya buta bahasa Perancis. Sementara kebanyakan orang di sana tidak berbahasa Inggris. Makanya pada saat sedang tawar menawar kereta, datanglah seorang pemuda yang merasa bisa berbahasa Inggris mencoba meraih keuntungan dari kami.
Bapak kusir minta 200 dirham untuk 1 jam, kata pemuda 4oo dirham. 200 dirham untuk nyonya, 200 dirham untuk tuan. Haaa?? Ini orang kurang ajar bener.
"Hey, hello, we understood what he said, okay??!! We don't need your help!" kata saya galak. Yayank juga bersikeras pada 150 dirham total, kalau 'gak mau ya udah kita pergi. Mengerti tidak akan mendapat 1 sen dirham pun dari kami, berlalulah orang itu. Sementara si pak kusir menatap kami dan berkata 200 dirham ya, untuk 2 orang selama 1 jam. Okay no problem, segera kami duduk di kereta itu.

Merambah souk dan acara berbelanja sudah pasti tidak terlepaskan. Tapi melelahkan dan kadang menjengkelkan, terutama acara berbelanja. Selalu acara tawar menawar menghabiskan terlalu banyak waktu kami. Sampai-sampai kami memutuskan, tawar sampai pada harga yang kami ingin bayar, dan selanjutnya take it or leave it. Tidak usah banyak membuang waktu.
Selalu tawar sekitar 30% dari harga yang diberikan. Bayangkan saja, harga sarung 2 helai dikasih 500 dirham dan hanya saya bayar 200 dirham.
Kalung yang diberi harga 500 dirham saya bayar seharga 120 dirham. Kacau kan urusan tawar menawar gitu? Jika dibandingkan dengan di Bali, setidaknya di Bali saya punya bayangan harganya, jadi lebih mudah untuk menawar. Di sini saya hanya bisa mengira-ngira saja.
Pokoknya kalau punya waktu jangan langsung beli tapi jalan-jalan keliling dulu, banding-bandingin harga dulu.
Dan sudah pasti harga di pasar umum, masih di souk, lebih murah jika dibandingkan di pasar souvenir yang pasti harga turis punya.

Oh ya, jangan berbelanja dengan menggunakan guide!!! Karena anda akan membayar lebih mahal untuk persentase ke guide yang mengantar anda ke sana. Logis kan, di mana-mana juga begitu.

Foto di atas masih merupakan bagian dari souk, salah satu counter dari deretan penjual aneka buah kering. Ada entah berapa macam jenis kurma di sana, kismis kuning, kismis coklat, fig dan juga kue kering. Kalau di deretan ini, tidak usah bersusah payah untuk menawar lagi. Bisa saja sih, tapi harganya masih termasuk "normal".

Kondisi medina yang mirip labirin ini sangat disadari oleh penduduk di sana. Maka sudah pasti mereka berusaha juga mendapatkan penghasilan dengan kondisi ini. Banyak remaja setempat yang berusaha menunjukkan arah ke lokasi-lokasi yang terkenal di daerah sekitar sana pada turis yang kesasar, tentunya dengan imbalan. Yang menyebalkan adalah kadang kami tidak ingin mengunjungi tempat itu, tapi kami hanya ingin membiarkan kami tenggelam dalam labirin itu. Setiap kali kami berbelok ke arah yang bukan arah ke lokasi turistik, selalu ada remaja yang menghampiri dan berusaha membelokkan kaki kami, dan tidak mau mengerti kalau kami tidak ingin ke lokasi turistik itu. Setiap kali kami membuka peta hanya untuk mengecek di mana posisi kami, selalu ada remaja yang menghampiri dan berusaha membawa kami ke lokasi turistik terdekat.
Sebenarnya kondisi itu bisa saya mengerti, tapi jika setiap kali terjadi ya kesel kan?

Salah satu gerbang di dinding kota, hasil jalan-jalan sore mengikuti suka-suka langkah kaki.

Menara mesjid Koutoubia dibawah siraman cahaya sunset. Menara mesjid ini bisa dilihat dari segala penjuru di medina.

Ada juga trik anak-anak penjual bunga di jalan yang perlu diwaspadai.
Mereka datang dan menawarkan bunga.
Tidak, jawab kami.
Merengek.
Tidak, jawab kami.
Mendesak agak memaksa.
Tidak, jawab kami.
Oke, kado untuk kalian.
TIDAK, jawab kami.
Bunga itu disisipkan di tas saya.
LHO??? HEI. Tidak artinya T I D A K!!
Kado.
... *geregetan, pengen jitak tapi menahan diri*
Kemudian... setidaknya kalian bisa memberikan saya sedikit tanda terima kasih kan?
Tersenyum manis nan berbisa sambil memberikan bunganya kembali: Merci. UUUUGGGHHH!!!

Satu lagi, Maroko bukan tempat yang mudah untuk fotografer. Memang ada banyak obyek-obyek yang indah di sana, tapi jika obyek itu menyangkut manusia, adalah keberuntungan jika kita bisa memotret mereka tanpa masalah.
Kebanyakan menolak untuk di foto, atau meminta bayaran, ya kalau 'gak punya duit kecil maka hilanglah lembaran yang gede.
Beberapa kali saya diomelin orang karena mengambil gambar dan kebetulan mereka ada di sana. Biasanya saya hanya memandang dengan wajah tanpa dosa seolah tidak mengerti apa yang sedang dia omelin, tersenyum, mengangkat bahu dan berlalu. Kalaupun dia mau memaki-maki saya mana saya ngerti kan? Keuntungan tidak mengerti bahasa setempat.
Tapi kalau lagi kesal dan fotonya sendiri tidak terlalu oke, orang itu saya panggil, saya tunjukkan fotonya di lcd kamera, tekan tombol erase, oke, satisfy? Sambil mengangkat tangan dan berlalu.

Snapshoot adalah cara termudah. Atau memanfaatkan kesempatan di pasar saat selesai sebuah transaksi pembelian. Tapi kebanyakan mereka tidak mau difoto sendirian, maunya berdua dengan salah satu dari kami. Yaaahhhh... bukan mo poto bareng maksudnya pak!!

Sering saya mengatakan, lebih mudah memotret bagian belakang tubuh mereka ketimbang bagian depannya Hysterical

9 hari di Maroko, cukup bagi kami. Melelahkan.
Saat berada kembali di bandara, saya berdiri antara perasaan kagum dan ironis saat memandang kemegahan bandara itu.

Mungkin para pembaca menangkap kesan-kesan negatif dari catatan perjalanan saya ini. Sudah pasti tulisan ini subjektif sekali, berdasarkan pengalaman yang kami alami di sana.
Ada banyak cerita negatif dari orang-orang yang pernah ke sana, tapi toh kami tetap ke sana juga. Karena kami yakin, bagaimana setiap orang menghadapi suatu situasi yang sama itu berbeda-beda.
Buktinya juga ada perempuan Belanda yang setelah beberapa kali mengunjungi Marrakech, memutuskan untuk pindah ke sana dan membuka sekolah masak, Souk Cuisine.
Atau sepasang backpackers muda dari Australia yang kami kenal di sana, yang mengembara mengelilingi Eropa selama 6 bulan, sudah menghabiskan lebih dari sebulan waktu liburan mereka di Maroko dan masih betah juga.

Demikianlah petualangan kami di Maroko. Jangan jerih karena cerita dari kami, tapi jadikanlah cerita ini sebagai masukkan bagi anda yang ingin mengunjungi Maroko. Ada banyak hal-hal yang juga indah di sana untuk dinikmati kok. Life is an adventure.


22 comments:

Zilko said...

bujug deh disana bener2 harus pintar2 yah, kalo ga ditipu, grrr... . Tapi kayanya dimana2 jelas gitu juga ah, kalo kaga jeli kita akan 'ditipu' dengan harga, termasuk di Bali... :(

Btw, masalah nawar, baru juga 30%, kalo di Cina bisa cuma 10% nya lho. Harga barang dibilang 100 yuan bisa kita beli seharga 10 yuan, wkwkwkkww... lol.

Anonymous said...

wah mbak, makasih bgt ya sharing ceritanya. kesimpulannya daku tambah gak tertarik liburan ke daerah2 timteng atau yg berbau2 padang pasir gitu. emang dasar gak tertarik dan rada2 juga ya org2nya.

btw, jd kalo aku ke rumahmu dimasakin tajin gak niii ;)

++retno

Toni Blog said...

mataku ngiri 1000% liat cerita perjalanannya yang begitu menakjubkan, andaikan itu daku :)

Emaknya Bunny said...

wah ternyata liburan kali ini ada kesan berpetualang yah heheheheh ...ternyata since bisa marah juga :P hahahahahhaha
duh aku yg cuma baca aja jadi kesel ndiri,males dah ...ke situ..ntar malah jadi bunuh2an dah hahahahahah

Anonymous said...

nyebelin banget yah, masa di foto ajah mesti bayar. lo boleh foto gw gratis de... mo pose apa? (halahh..)

Foto penggembala yang lagi menggembalakan domba kayak gambar Tuhan Yesus Gembala yang Baik yah? cuman si gembala kurang gondrong ajah. hehehe...

Marlina said...

orang2 di sana kayaknya pada takut ngetop kali ya? kok takut di foto sih. Tapi kalo pake ditawarin duit ya oke-oke aja pasti, hihi..

trik dan tips mu bagus Sin. Kalo suatu saat aku ke Marokko (entah kapan) udh tau kira2 gimana di sana :)

yenni 'yendoel' said...

pas lihat foto, emang bentuk donat tapi kayak cakue yah.
sempat2nya Since, belajar masak segala..hehehe..

Anonymous said...

sinceyen si petualang nih, ceritamu bener2 detail bangetgak ngebosenin bacanya
.
eh bener kog anak kambingnya kliatan cute.

amethys said...

sin....emang kan lain ladang lain belalang,....kemana saja kita pergi itu petualangan kan? kadang susah kadang gampang....

waktu ke pantai kuta lombok...aku sampai ter birit2 dikejar pedagang asongan yg ngerubutin aku, sampai ke mobil, dan mereka ngga memperbolehkan aku menutup pintu, seblum beli...harganya? 3 kalinya di Bali.....hiks

bener2 kaya baca guide book nee sin, thx a bunch

Anonymous said...

Itu gunung bersalju beneraaannn?? Dan bukannya cuma poto tempelaann??? Seriuuss loo?
Ckckckckck, indah.

Eniwei,
endingnya errr..kata²nya itu lho, kayaknya mpe kapanpun aku ga bakalan bisa menginjakkan kaki ke Maroko deh ya (kcuali kalo Retha ntar kawin sama pengusaha bilyuner, ekekek)

Psstt,
looks like Tajin not that bad tuh, hehehe

Theresia Maria said...

Orang Maroko gak narcis yach hahahaha...pada ogah dipoto seh.

Kondisi kejar2an ama pedagang sama deh kek yang di Borobudur, ato di Bali...jual campur maksa.

Anonymous said...

ceritanya menarik Sin , foto2nya juga , hebat kalian berani ke maroko ..

Anonymous said...

ternyata dirimu galak juga yak... ehehehehe dimana2 juga kayak gitu kali... duit yang bercerita deh...
ada duit disayang2, ga ada duit ditendang2...
thx for sharing... setidaknya bisa menikmati juga ceritamu berpetualang ria.. :)

dari semua cerita loe, gw cuman pengen nanya, TAJIN apaan seh? serius gw ga tau loh... :)

Anonymous said...

ya ampun itu tajin eksotis amat...yakin gue pasti enak !pedes gak ? menor gitu

Anonymous said...

jadi penasaran rasanya tajin. Henri pernah bilang kl mau liat kehidupan org Maroko dia cukup berdiri di jendela dapur, krn dibelakang kami byk tinggal org Maroko.

nie said...

wahhh... di sana penuh trik deh... harus bener-bener hati2 ya :) dan panjang sabar tentunya hahahaha...
I love the last photo... the sun is sooo beautiful :)
oleh2ku sarung ya dari maroko? hahahaha

Susan Harsono said...

aku bener2 spt ikut berpetualang baca cerita kamu:) next trip kemana nih? hehehe..

Anonymous said...

anak wedusnya cute ya :)

jadi inget pas di Bali diuber mbak2 sampai ke mobil dan digeprak2 tuh kaca mobil agar kami mau beli taplak mereka, mobil laripun masih dikejar, urghhh jadi nggak nyaman kalo dikejar2 terus begitu.

Leniawati said...

wah les masaknya nih boleh juga sin:)

yanti said...

ada yaa orang2 yg ga narses gitu, kalo di indo pan misal ada reporter tv lagi ngeshoot gitu, org2 setempat suka pura2 ngelap or ngapain keg biar masuk tipi wkwkwkwk
anyway seru keliatannya perjalanannya, makanannya juga menggoda mata tuh, ngejreng gitu

Anonymous said...

thanks buwat sharingna, sin...
mudah-mudahan bebek bisa ke sana satu saat nanti *aminnn*

Xty said...

wuahahhahahhah donut nya org Maroko kok kayak donut emak gue yg yeast (ragi yah???) kagak jadi wuakakkakaakkakakakakkaka :D:D:D