Tuesday, July 31, 2007

Parade Langit Belanda

Tidak ada rencana sebelumnya untuk membuat foto-foto ini.
Hanya saja ketika duduk di mobil saat mondar-mandir Sabtu, Minggu dan Senin kemarin tergerak oleh instink untuk bermain-main sejenak, (doh... instink... gayanya.. Hysterical ),
maka jadilah foto-foto di bawah ini.

Semua foto diambil dari dalam mobil saat mobil melaju kencang di jalan tol (snelweg) dan di autoweg (nah yang ini saya tidak tahu istilahnya dalam bahasa Indonesia, bedanya dengan jalan tol adalah, jalan tol maksimal kecepatan 120km/jam, kecuali di beberapa lokasi sibuk tertentu yang memiliki kecepatan yang lebih lambat, sedangkan di autoweg kecepatan maksimalnya 100km/jam. Ada yang tahu istilahnya dalam bahasa Indonesia?).

Lalu apa yang menggerakkan saya bermain dengan kamera sementara mobil melaju kencang?
Langit dan awan, adalah jawabnya.

Dan berhubung foto-fotonya diambil kebanyakan saat di atas jalan tol, maka tidak heran jika foto-foto ini didominasi oleh pemandangan daerah pertanian.

Sabtu, dalam perjalanan antara Waalwijk dan Zierikzee.
Di mana Waalwijk, di mana Zierikzee, bagi yang belum tahu dan ingin tahu, silahkan cari saja sendiri di peta di atas itu-tuh.


Awan, tidak perduli di mana pun, mereka sering membuat saya terpana memandangnya.
Ada keindahan yang dibawa oleh mereka, ada kekuatan, dan kadang ada juga kengerian.
Awan di foto di atas itu disebut juga awan biri-biri karena bentuknya yang seperti bulu biri-biri.



Foto di bawah ini diambil dalam perjalanan melewati Zeelandbrug, jembatan sepanjang 5km yang pernah menjadi jembatan terpanjang di dunia pada sekitar tahun 1960-an, yang menghubungkan pulau di mana Zierikzee (tempat di mana seorang teman kami yang sedang berulang tahun Sabtu kemarin tinggal) terletak dengan pulau di mana Goes (Pondok Mertua Indah) terletak.
Kebetulan kami harus berhenti karena pintu jembatan sedang dibuka untuk perahu-perahu layar yang hendak menyeberang jembatan itu.


Minggu, dalam perjalanan antara Goes dan Eindhoven.




Mendung... mendung.. mendung..
Tidak.. tidak.. saya tidak sedang mengeluh soal cuaca, tapi kalau mengomel soal cuaca sih sudah dari kemarin-kemarin Hysterical

Senin, dalam perjalanan antara Den Haag-Zoetermeer-Utrecht-Eindhoven.




Dalam perjalanan ini langit bergonta-ganti hiasan, mulai dari langit biru cerah yang memberikan kontras yang indah dengan awan yang menggantung di sana sampai langit kelabu gelap yang menurunkan tetes-tetes air.

Dari semua foto-foto di atas, terlihat jelas banget, Belanda itu datar ya.
Lha "gunung" tertinggi di sini (Vaalserberg) hanya 322,7 meter tingginya. Bukit!!

Monday, July 23, 2007

How Lucky I am!!!

Love You Saya tahu saya orang yang beruntung.
Saya tahu berkat yang saya terima limpah adanya.
Saya tahu kebahagiaan yang saya miliki.
Tapi semua pengetahuan itu, semua kesadaran itu terkadang menjadi begitu datar dalam keseharian yang ada.
Pengetahuan dan kesadaran itu menjadi seolah-olah sekedar kata-kata belaka.

Sampai saat di mana saya duduk bersama mereka, mendengar cerita-cerita tentang diri mereka atau tentang seseorang yang lain yang mereka kenal dengan baik.
Saat itu diam-diam ada sebutir air mata yang mengambang, yang membuat mata ini berkaca-kaca, kesadaran emosi...
Bongkah-bongkah kesadaran akan betapa beruntungnya saya terbangun kembali saat mendengar cerita-cerita itu.

Sungguh saya menjadi malu pada diri sendiri. Keseharian yang ada menjadikan saya membiarkan keberuntungan-keberuntungan itu hanya menjadi hal yang BIASA-BIASA saja.

Saya bersyukur, masih ditegur dan diingatkan dengan cara yang halus itu!!!

Sangat berbahaya, jika orang terlalu lama berdiam di dalam "kenyamanan" dan tidak membuka mata pada dunia di luar dunianya. Karena hal yang istimewa akan menjadi biasa-biasa saja dan bahkan mungkin terabaikan hingga rusak, bahkan hilang.
Beruntunglah orang-orang yang diingatkan untuk menyadari hal-hal istimewa itu sehingga akan terus berusaha merawatnya.

"Terima kasih, Tuhan." Happy

Lantas cerita apa saja yang telah saya dengar sehingga merefresh kesadaran saya kembali akan keberuntungan yang saya miliki?
Cerita tentang suami si A yang beralih ke daun muda.
Cerita tentang suami si B yang beralih ke pelukan lelaki lain.
Cerita tentang suami si C yang selingkuh dengan teman si C sendiri.
Cerita tentang si D yang bermasalah dengan mantan suaminya.
Cerita tentang si E yang harus mengurus segala tetek bengek di rumah sementara si suami tidak mau membantu dengan urusan pekerjaan di rumah.
Cerita tentang si F yang harus membiayai ketiga anaknya sendirian karena suaminya beralih ke pelukan perempuan lain.
Cerita tentang si G yang anaknya sedang dirundung masalah.
Cerita tentang si H yang sedang mengurus peceraian dengan suaminya karena suaminya ketangkap basah sedang melakukan tindak asosial terhadap anak perempuannya yang menjelang gadis.

Lha??? Ini kok kebanyakan tentang suami semua?
Ya maklum saja kebetulan yang cerita-cerita yang masuk ke telinga saya ini berasal dari keluh kesah dan perbincangan para wanita yang kebetulan saat itu ada di sekitar saya.
Jadi para pembaca yang merasa laki-laki,dilarang komplein, karena tidak ada maksud untuk menyudutkan salah satu atau kedua-dua jenis kelamin di sini.

Tulisan ini hanya bermaksud untuk mengatakan alangkah beruntungnya saya dengan berkat orang-orang yang saya sayangi dan juga yang menyayangi saya.
Betapa beruntungnya saya yang telah diingatkan kembali alangkah istimewanya berkat itu.

Semoga juga merupakan refreshing bagi para pembaca, mengingatkan kembali akan keberuntungan-keberuntungan yang anda miliki.

How lucky I am!!!

How lucky are you?

Tuesday, July 17, 2007

Catatan Hari Minggu

Kecewa menyergap saat awan tebal yang muram menyapa diri dari balik jendela minggu pagi kemarin.
Wajah yang belum mandi itu langsung tertekuk, bibir mencibir monyong... uh.. katanya zomer, katanya wiken ini cuaca cerah... lha... ini malah kelabu. :(

Tapi wajah tertekuk itu tidak bertahan lama... karena begitu tiba di dapur, senyum cerah mertua dan harumnya kopi segera menyambut, belum lagi sepiring tart peach sudah terhidang di meja. Olala... :)

Selesai makan siang, matahari mulai mengintip dari balik awan yang mulai menipis, dan langit biru mulai kelihatan dari cela-cela awan. Gitu donk, dari tadi kek..

Dan.. mertua yang baik hati meminjamkan sepeda elektriknya yang masih bau toko alias masih baru pada kami berdua untuk berkeliling sebentar. Padahal niatnya tadi sepeda tua mertua yang mau kami pakai.
Ya sudah kami jadinya menikmati kenyamanan sepeda baru itu.

Oh ya, sepeda elektrik secara fisik sama dengan sepeda biasa, hanya saja dilengkapi dengan motor kecil di sumber tenaganya berasal dari rechargeable batteri, untuk meringankan tugas mengerahkan tenaga dan menjaga bentuk dan kekenyalan betis supaya tidak melebar seperti betisnya abang becak.
Hush... asal!!! Too Funny

Keluar dari daerah perumahan, kami menyusuri kanal hingga tiba di dermaga Goese sas, menyeberang sluis (pintu air) dan kemudian menyusuri pantai hingga tiba di desa Kattendijk.


Beberapa rute sudah saya kenal dengan baik, hanya baru kali kemarin saya melewati rute itu dengan sepeda.
Sempat juga saya mencoba menggunakan bantuan elektrik yang ada pada sepeda itu, tapi kemudian segera saya matikan kembali sistem elektriknya. Tidak enak, terlalu ringan pedalnya.


Bersepeda menurut saya harus dengan sedikit mengerahkan tenaga pada otot pantat, paha dan betis, tapi hanya sedikit lho ya, kalau banyak juga saya ogah!! Too Funny
Jadinya itu sepeda elektrik hanya kami pakai selayaknya sepeda biasa, sementara bantuan elektriknya hanya kami pakai saat mendayuh mendaki dijk yang lumayan terjal, bikin ngos-ngosan kalau tanpa bantuan elektrik.

Begitu tiba di sluis, aroma pantai yang khas langsung menerjang indra penciuman ini.
Oooohhh.... Bau laut!!!


Berhenti sejenak di tepi pantai. Tadinya sih rencananya hanya ingin berjalan menyusuri pantai sejenak sementara sepeda kami rebahkan di rerumputan sana.
Ehhh.. ujung-ujungnya Reinier malah asyik mengumpulkan keong-keong kecil untuk "snack" nanti. Dapat seperempat tas kresekan, lumayan, setidaknya kembali tidak dengan tangan kosong buat mertua Teethy
Kami berdua malah tidak termasuk pemakan keong-keong itu.

Berbeda dengan pantai-pantai yang lain, yang hampir selalu penuh dengan manusia dan anjing, kadang juga kuda yang melintas, pantai antara Goese Sas dan Kattendijk ini terbilang sepi.
Selain kami berdua, saya hanya melihat serombongan kecil keluarga Vietnam dari Jerman.
Nun jauh di sana ada satu keluarga lagi. Sisanya adalah pejalan kaki dan orang yang bersepeda di jalur sepeda di sisi sebelah dijk.
Mungkin karena pantai yang satu ini agak berlumpur, makanya sepi.


Melihat perabot piknik keluarga Vietnam ini yang komplit dengan rice cooker-nya dan kotak-kotak makanan lainnya membuat saya terbawa sejenak kembali ke masa lalu.
Duluuuu banget, ketika masih kecil, kami sering banget piknik berombongan seperti itu. Papa, mama, adik, oom, tante, engkong, sepupu-sepupu, kadang tetangga juga terselip, dengan makanan yang berlimpah ruah, mulai dari nasi, ketupat, ayam panggang, acar, colo-colo, dan... ahhh... masa yang sudah lama sekali berlalu...
Kangeeeeeennnnnn.... *hiks* Crying 2


Dari Kattendijk kami memutuskan untuk langsung kembali ke Goes berhubung beberapa tetes air yang lumayan gede dari langit telah mendarat dengan mulus di kepala, jidat, dahi, pipi, bahu, dan paha kami.

Tiba di rumah tepat waktu, baru saja kami memasukkan sepeda-sepeda di garasi, air yang tumpah dari langit bagai keran yang dibuka full.
Untung sudah di rumah, karena dengan hujan yang seperti itu walaupun cuma sebentar garansi pasti basah kuyup!!

Cek komputer sepeda, pantesan saja cuma terasa sebentar, ya hanya 15km hasil keliling-kelilingnya. Ya sudah.. yang penting sudah menghirup udara terbuka, terutama bau laut, dan setidaknya sedikit beraktivitas fisik di luar.

Wednesday, July 11, 2007

Paket

Yupppiiieeee....Spaz

Akhirnya tiba juga paket yang kami kirim dari Indonesia lewat pos laut saat liburan April lalu.
Langsung bongkar.. bongkar...
Tak sabaran... sobek aja sekalian kartonnya...

Nah ini dia... yang bikin saya menari kegirangan, bercampur di tengah-tengah barang-barang yang lain.
Tumpukkan buku-buku yang saya selipkan di dalam dos karton waktu itu. Wakka Wakka

Asyik... jadi ada teman pengisi waktu senggang yang tenang lagi, saat berjemur di kebun belakang saat hari hangat dan cerah atau saat berbaring di sofa pada hari hujan.
Kebetulan juga buku-buku yang saya bawa langsung dalam koper saya tempo hari semua telah habis dibaca.

Yup, membaca buku dalam bahasa Indonesia tetap adalah sebuah relaksasi bagi saya, jika dibandingkan membaca dalam bahasa Inggris atau bahasa Belanda.
Santai... bebas lepas... membiarkan diri hanyut dalam rangkaian kata dan alur cerita.

Jika menurut kata hati saat ada di Gramedia sih, pengen borong semua. Tapi apa daya... budget harus diatur, kan? Kalau tidak bisa kebobolan, apalagi buku yang isinya menyangkut hobi harganya bikin dompet menipis dengan cepat.

Ahahaha... iyalah Sin-chan tidak ketinggalan juga Hysterical

Permisi.. saya mau baca-baca dulu sambil leye-leye di atas sofa dan bergelung hangat dalam selimut ikat, pengennya sih sambil duduk-duduk di halaman belakang sambil menikmati udara terbuka, tapi sayang... di luar angin dingin menghembus lirih dan awan mendung yang tebal sedang menguasai langit.Reading

Friday, July 06, 2007

Artis

Sabtu pagi kembali berburu foto bareng Robin. Kali ini artis adalah sasaran kami.
Ooh.. bukan.. bukan...... bukan artis yang selebritis itu, melainkan kebun binatang Artis di Amsterdam.

Wah, ini adalah rekord bagi saya, 2 kali dalam setahun mengunjungi kebun binatang!!!
Padahal sewaktu masih di tanah air dulu saya paling menghindari kebun binatang. Sedih rasanya melihat hewan liar yang terpenjara dalam kerangkeng atau berkeliaran hanya pada kandang terbuka yang sempit. Makanya saya lebih memilih untuk mengunjungi taman safari daripada kebun binatang. Walaupun sebenarnya toh masih sama juga, hewan liar yang tidak hidup bebas, tapi setidaknya di taman safari daerah bergerak mereka jauh lebih lega ketimbang di kebun binatang.

Dan, menurut saya setelah tiba di Artis, Burger's zoo jauh lebih menarik.
Artis adalah tipikal kebun binatang tua dengan kerangkeng kokoh dan kandang terbuka yang tidak terlalu besar.
Burger's zoo jauh lebih natural kesannya.

Namun, tidak ada gunanya terus membandingkan dan melihat sisi yang minusnya saja, kan? Hanya membuang-buang waktu.
Lebih baik nikmati saja kesempatan-kesempatan yang disodorkan oleh alam melalui tingkah hewan-hewan ini, dan jeli melihat sudut-sudut yang menarik dari tempat ini.

Daerah kandang burung yang terbuka tanpa kerangkeng, terarium (ruangan untuk reptil) dan rumah kupu-kupu menarik bagi saya.

Monyet kecil ini lucu sekali, dia sangat ingin tahu dan masih belajar tentang banyak hal. Sering banget digalakin oleh monyet-monyet lain yang lebih besar.
Kami melewatkan beberapa menit tanpa kamera untuk mengamati tingkah monyet kecil ini.

Doooh... itu gigi... astaga!!!!
Anak-anak manis, kalau malas sikat gigi, hasilnya nanti sama lho giginya dengan gigi si pak Berang-berang ini! Hiiiiii.....

Menurut informasi dari mbak pengawas kura-kura ini, si kura-kura gede ini sudah berusia lebih dari 80 tahun dan beratnya lebih dari 200kg!! Wih.. gimana kalau disenggol kura-kura ini ya??
Kalau si kura-kura ini berdiri untuk berjalan, tingginya tuh hampir sepinggang saya.

Muuuuaaaawwwwwhhhh.... nguaantuk!!!
Boring banget sih... tiap hari cuma begini, duduk-duduk... ditontoni mahluk-mahluk yang mirip monyet tanpa bulu itu, yang mengenakan lapisan-lapisan aneh yang penuh warna ditubuhnya...
Muuuaaaawwwhhh... hmmm... tuh.. nguap lagi kan... uh... seandainya saja bisa mengejar salah satu dari mereka mungkin jadi agak menggairahkan ya???

Uh... mana si akang juga mesti membagi waktu dengan 5 istri lainnya lagi... aahhh... boring!!! Nasib... nasib...

Hehe... iya, di kandang singa ini hanya ada satu jantan diantara 6 betina!!! Wahhh!!!

Ups!!! Bukan!!! Saya bukan ular lho. Jangan salah!!! Saya kadal yang tidak berkaki, itu saja.

Kadal yang tidak berkaki ini lebih dikenal sebagai slow worm atau di Belanda lebih dikenal sebagai Hazelworm. Di Indonesia apa namanya ya?

Si cantik di sebelah ini adalah hanya salah satu dari beberapa species koleksi kupu-kupu di vlinderhuis.
Bahkan ada jenis yang kalau sayapnya direntangkan, lebih lebar dari kedua telapak tangan saya!!!!

Setengah enam sore kami menyudahi perburuan kami di Artis karena saya harus mengejar kereta pukul 6 yang membawa saya kembali ke Eindhoven.

Melelahkan, bagaimana tidak? Perjalanan pulang pergi saja sudah memakan waktu 4 jam total, plus 6 jam berkeliling di Artis.
Tapi tetap, mengasyikan!!!