Wednesday, October 31, 2007

S O S.....!!!

Di rumah:
Waaa.... mungkin saya menyetel temperatur air di mesin cuci baju terlalu tinggi sehingga kebanyakan baju-baju saya menjadi mengkerut.

Dalam kamar pas di toko baju:
Waaa... ukuran yang biasanya saya kenakan kok jadi sesak begini.
Apakah standard ukuran baju-baju di toko saat ini juga telah berubah menjadi lebih kecil?

Wednesday, October 24, 2007

Wiken, menyusuri 4 negara.

3. Luxemburg-Belgia-Belanda

Begitu menggeliat dan membuka mata, astaga sudah setengah delapan!!! Wah... 11 jam kami tertidur pulas!!! Ternyata "tewas" kelelahan juga!
Isenk ngintip keluar lewat jendela kamar, waahhhh.... cantiknya... sungai Our yang mengalir dan kabut tipis yang menggantung ditambah dengan remang pagi dan juga cahaya lampu jalan... langsung deh nyari kamera. Kamera.. kamera... mana kamera?? Sampai diteriakin Reinier, suruh pakai jaket dulu sebelum buka jendela kamar Smiles hehehe... Begitulah...

Setengah sembilan sarapan pagi sudah disiapkan di ruang makan. Berbeda dengan di hotel hari sebelumnya, di B&B biasanya selalu disediakan sarapan pagi. Harga yang dibayar sudah termasuk kamar dan sarapan.
Acara setelah sarapan adalah kembali berjalan-jalan di sekitar situ. Kebetulan sehari sebelumnya kami telah diberitahukan akan ada pesta tahunan hari itu, Minggu 14 Oktober.
Wah perjalanan kali ini kami menemukan beberapa kebetulan, pas di Aachen kebetulan ada Nacht der offenen Kirchen in Aachen, nah pas di Vianden, ada Veiner nëssmoort atau pesta kacang tahunan penduduk Vianden. Hoki!!

Sungai Our yang membelah kota Vianden. Sungguh saya terpaku dengan wajah pagi di sungai ini. Saat sinar mentari masih lembut menyapa dan kabut tipis yang perlahan menghilang... segar banget buat buat semua indera yang ada di tubuh ini.
Ada rasa syukur yang pekat mengalir dalam jiwa, terima kasih, saya masih diberi kesempatan menikmati keindahan itu bersama dalam kehangatan kasih orang yang saya cintai. Love You

Di bukit yang menaungi kota ini berdiri kastil Vianden, kastil yang dibangun sekitar abad ke 11 sampai abad ke 14, yang katanya merupakan satu yang tempat tinggal yang paling besar dan yang paling indah dari jaman Gothic dan romanesque di Eropa.

Kami hanya sempat berjalan sampai pada gerbang dan halaman kastil ini. Tidak sampai masuk ke dalamnya. Yah, tidak semua bisa kami lakukan dalam sehari. Kami masih ingin berbaur dalam Veiner nëssmoort dan kemudian pulang dengan menyusuri jalan-jalan kecil, yang sudah pasti membutuhkan lebih banyak waktu dari pada langsung melewati jalan tol (yang terakhir ini selalu membosankan dan bikin saya terkantuk-kantuk).

Saat turun kembali di pusat kota, sudah mulai kelihatan kesibukan para pengunjung yang semakain ramai saat hari semakin siang.

Berbeda dengan pesta tahunan khas suatu desa/kota di Belanda yang juga berbaur dengan rommelmarkt (pasar barang bekas), pesta tahunan di Vianden ini tidak saya lihat satupun stand barang bekas.
Semua yang disajikan adalah produk-produk yang menggunakan walnut. Liquer (minuman beralkohol) dari walnut, roti yang mengandung campuran walnut, sosis yang ada potongan walnutnya, kue-kue kering dan basah yang juga ada walnut, dan tentunya tidak ketinggalan walnut itu sendiri.
Pssst.. ada juga soes yang berisi vla walnut yang manis dan lembut, hmmm... lekker!!!!

Walnutnya sendiri dijual dengan bermacam-macam cara tergantung ide kreatif sang penjual.
Ada juga stand lain selain walnut, misalnya toko mainan yang mengeluarkan stand mainannya, dan juga stand para penjual makanan, seperti roti sosis atau roti dengan kotelet (pork chop) panggang.



Hari semakin siang, dan pasar semakin ramai, perut pun sudah kenyang terisi jajanan dan juga makan siang yang kami beli di nëssmoort, sudah saatnya kami beranjak ke perjalanan kembali ke Belanda.

Dalam perjalanan pulang kami melewati daerah Ardennen di Belgia. Foto di atas itu diambil di salah satu kota di Ardennen, tapi apa nama kotanya malah saya tidak ingat lagi. Sayang di Ardennen sendiri warna musim gugur belum seberapa pekat.

Perhatikan kuda yang di belakang itu. Jadi mikir nih, apa mungkin bapak kuda itu seekor Dalmatian? Seumur-umur belum pernah saya menjumpai kuda dengan corak polka dot begitu. Thinking

Yup, selain penumpangnya, motor juga butuh minum.
Sisa kilometer terakhir, dari Luik (Liege) ke Eindhoven, kami lalui lewat jalan tol.
Tiba di rumah sudah sekitar pukul setengah tujuh malam.
Capek tapi asyik!!!! Way To Go

Foto-foto lain bisa di klik di sini.

Monday, October 22, 2007

Wiken, menyusuri 4 negara.

2. Jerman-Belgia-Luxemburg.

Bangun jam 7 pagi, masih bermalas-malasan sampai setengah delapan di tempat tidur. Coba kalau harus start trip pagi itu dari rumah, mana bisa berleye-leye begitu?
Selesai mandi, ngintip dari jendela kamar, di luar masih remang-remang. Sementara saya mulai beberesan barang-barang bawaan, Reinier sibuk dengan petanya. Daerah yang ingin dilewati memang sudah ada dalam benak kami, tapi mau lewat rute mana selalu merupakan keputusan pada saat-saat terakhir. Bahkan kadang-kadang bisa berubah di tengah jalan sesuai keadaan.
Dengan kata lain, rencana selalu dibuat, tapi bisa berubah sewaktu-waktu sesuai kondisi dan mood kami.

Selesai dengan petanya, doi segera berangkat membeli sarapan pagi, di bakker yang ada dekat hotel. Hotel memang menyediakan sarapan pagi, tapi kami harus membayar extra €14 per orang. Lha dikalikan 2 sudah €28. Sarapannya juga paling roti dengan keju, ham, selei, madu, kopi atau teh dan juice. 'gak ada tuh nasi goreng, omelet, bubur ayam dan sebangsanya. Teethy
Nah, kalau beli sendiri di bakker (tukang roti), 2 croissant, 2 roti, yang masih fresh from the oven, dan beberapa lapis ham dari toko daging, ditotalkan cuma sekitar €5 untuk 2 orang!!! Dengan menu itu saja sudah lebih dari cukup untuk kami!!! Sementara untuk kopi, tidak ada masalah, kami memiliki perabot yg komplit untuk itu.
Mungkin kedengarannya pelit ya? Emang pelit! Hahaha... eng'gak lah, kami hanya lebih memilih untuk menghabiskan €23 untuk hal-hal lain yang bagi kami lebih menarik daripada sekedar membayar sarapan di hotel. Lain ceritanya apabila di dekat-dekat hotel tidak terdapat bakker, apa boleh buat. Dan, lain ceritanya juga jika kebetulan hati sedang ingin memanjakan diri dengan kemewahan sarapan hotel yang berlebihan. Ya toh?

Oh ya, hal yang sempat saya catat dari Aachen ini adalah toko roti ada hampir di setiap jalan yang kami lewati.

Jam 9 cabut dari hotel menuju daerah De Eifel, di Jerman bagian barat. De Eifel, jangan dibuat bingung dengan menara Eiffel di Paris, ya. Kalau lihat di peta, yang putih, yang ada gambar mataharinya.
Mengapa de Eifel yang kami pilih? Karena alam yang indah dan jalan yang berkelok-kelok yang sangat pas dan menyenangkan dilalui dengan motor.
Sudah tentu berbeda dengan suasana di jalan tol yang selalu membuat saya terkantuk-kantuk, menyusuri jalan-jalan ini sangat menyenangkan, terutama jalan-jalan kecil di tepi hutan, daerah pertanian, pedesaan dan kota-kota kecil yang tua.

Banyak pemandangan menarik yang disajikan untuk kami. Dan karena saya tidak ingin mengganggu keasyikan Reinier bermotor, tidak setiap kali saya memintanya berhenti untuk saya mengambil gambar. Apalagi kalau di jalan yang indah berkelok-kelok, surganya para rider. Saya tidak tega mengambil kenikmatan yang sedang dia nikmati saat itu.
Sehingga, kebanyakan foto-foto saya ambil langsung dari atas motor saat sedang melaju di jalan. Kadang beruntung dan sebagian bisa ditampilkan di sini, kadang ancur, yang terekam adalah batang pohon, pagar pinggiran jalan, tiang listrik, dinding rumah orang, obyek yang kelewat atau blur.

Awalnya kami berencana untuk pesiar ke Ruhr Stausee, danau buatan yang terbesar di Jerman, sayang jalan menuju danau itu terlarang bagi pengendara motor selama wiken. Ada jalan lain yang agak memutar jauh, tapi kami tidak ingin mengambil resiko jika jalan itu juga terlarang bagi pengendara motor selama Sabtu Minggu. Ya sudah, nikmati saja pemandangan danau yang kelihatan seupil dari kejauhan. Langsung memutuskan untuk mengambil rute yang lain.

Daerah de Eifel sangat menarik bagi para pengendara motor. Kadang lalu lintas yang kami temui di jalan hanyalah sesama pengendara motor. Ada yang seperti kami, pengendara tunggal, tapi lebih sering pengendara dalam group yang kadang lumayan besar. Ya pantas saja kalau orang-orang yang tinggal di jalan menuju danau itu tidak mau terganggu wiken mereka dengan deru dan laju motor-motor di jalan depan rumahnya.
Ada kebiasaan para pengendara motor untuk saling memberikan salam dengan tangan jika berpapasan. Tidak selalu sih, tapi sering banget.
Sepanjang jalan yang berkelok-kelok di de Eifel ini juga sering kami jumpai salib-salib kecil di tepi jalan. Salib-salib ini diberikan untuk para pengendara motor yang meninggal akibat kecelakaan di situ.
Sebenarnya, idealnya menurut saya, salib-salib kecil ini adalah untuk mengingatkan para pengendara motor untuk berhati-hati dan tidak usah ugal-ugalan di jalan, tapi toh beberapa kali saya melihat kelakuan pengendara motor yang tolol. Misalnya nih, ada yang mencoba melambung mobil di tikungan. Ugh!!! Kami hanya bisa menggelengkan kepala menyaksikan kelakuan bodoh itu.

Ingin juga mengunjungi kota tua Monschau, yang katanya wajahnya tidak banyak berubah sejak 300 tahun yang lalu. Tapi karena semua kendaraan harus diparkirkan di parkiran yang telah tersedia di luar kota tua dan kami harus berjalan kaki ke kota tua, kami memutuskan untuk melihat kota tua hanya dari jauh saja. Jalan kaki bukan masalah bagi kami, barang-barang yang tidak terlalu penting bisa dibiarkan saja di motor, tapi ada satu tas yang berisi barang-barang penting yang lumayan berat. Bukan isinya yang berat, tapi tasnya sendiri memang sudah berat Hysterical Males jadinya. Mungkin di lain waktu kami akan singgah kembali ke Monschau.

Untuk makan siang, kami singgah membeli beberapa potong roti segar di bakker yang ada di sebuah desa yang kami lewati dan juga membeli Fleishkäse, daging khas Jerman, di tukang daging di desa yang sama. Kemudian menyantapnya di tepi danau yang juga kebetulan kami lewati. Ternyata danau tersebut adalah sungai yang dibendung dan dijadikan sebagai sumber cadangan air minum untuk desa-desa di sekitar situ. Pantesan saja ada larangan tidak boleh berenang, memancing dan bersampan di situ.

Tentu saja kami tidak melulu duduk di atas sadel motor, wah.. bisa tepos kami. Beberapa kali kami juga berhenti untuk ngopi. Tidak terlalu sulit untuk menemukan bangku-bangku piknik di sepanjang jalan di sana.
Tinggal keluarkan kompor gas nan compact dan mini, didihkan air.. dan seduh kopinya. Hmmm... enak banget melepaskan kepenatan dengan cara seperti ini.

Begini ini, semua yang dibawa harus seminimal mungkin dan sekompak mungkin sehingga bisa dimuat di motor. Selain beberapa potong baju, jaket, juga keperluan masak-memasak outdoor yang praktis dan beberapa perlengkapan penting lainnya.

Kadang-kadang kebelet pipis juga di jalan. Mau ke mana lagi kalau tidak ada kafe yang bisa disinggahi? Yup, hutan jawabnya!!! Tapi harus berhati-hati, kadang banyak rumput gatal yang menjalar di permukaan tanah. Jangan sampai tersentuh!! Doh 'gak kebayank deh kalau sampai kesentuh Doofus
Sebenarnya ada sih p-mate buat cewek, tapi kelupaan m'lulu, sejak beli lebih dari setahun yang lalu sampai saat ini bungkusnya masih utuh!!

Jembatan di atas itu adalah jembatan jalan tol di perbatasan Jerman-Belgia. Ujung sebelah kiri adalah wilayah Jerman dan ujung sebelah kanan merupakan wilayah Belgia. Foto ini sendiri diambil dari wilayah Belgia.

Hehe... ini sih asli, hasil jepretan isenk. Isenk tapi ternyata 'gak mudah juga lho nyari posisi dan sudut yang pas. Beberapa kali gagal shoot, akhirnya.... Teethy

Tiba di Vianden, sebuah kota kecil di Luxemburg, dekat perbatasan dengan Jerman, sekitar pukul 5 sore, kami memutuskan untuk beristirahat dan mencari penginapan di sana. Bed and breakfast (chambre pour touristes) biasanya menjadi sasaran kami, karena penginapan seperti ini kondisinya memadai dan harganya yang juga biasanya lebih murah dari kamar sebuah hotel.
Setelah berputar mencari B&B, kami hanya menemukan beberapa hotel, yang dari penampakan luarnya sudah menunjukkan kira-kira berapa euro yang harus kami keluarkan dari kocek kami. Ya sudahlah kalau memang tidak ada yang lain lagi.
Akhirnya kami mendapat informasi tentang rumah yang menyewakan kamarnya. Rumah milik seorang wanita tua, yang usianya mungkin sekitar 70 tahunan, yang tinggal seorang diri.
Menurut wanita itu, kami adalah tamu yang pertama sejak 3 bulan terakhir. Bahkan dia sudah memutuskan jika dalam waktu 3 hari masih belum juga ada tamu, dia akan menyudahi usahanya itu.

Kamar yang kami tempati kali itu sangat berbeda dengan kamar-kamar B&B yang pernah kami tempati. Kamar yang diisi dengan furniture yang mungkin setua usia pemilik tempat itu, bahkan mungkin lebih tua lagi. Bahan tempat tidurnya saja lebih pendek dari panjang tubuh Reinier.
Kami menyebutnya "antik" :D

Setelah membongkar muatan motor, kami berjalan-jalan sebentar di pusat kota, kemudian kembali untuk makan malam di kamar kami. Setelah makan malam, berbaring-baring sebentar melepaskan penat sebelum keluar lagi ke kafe, eh... ujung-ujungnya malah pulas terlelap, terbangun sebentar hanya untuk sikat gigi, pipis dan... tidur lagi... Hysterical
Ah... perasaan boleh saja tetap merasa muda, tapi ritme tubuh ternyata tidak bisa menentang aliran alam.

Wednesday, October 17, 2007

Wiken, menyusuri 4 negara.

1. Belanda-Jerman.

Sudah lama kami berencana untuk weekendje dengan bermotor-ria. Tapi beberapa kali wiken, yang juga dengan cuaca yang hangat dan cerah, selalu ada saja yang kami kerjakan, paling-paling kami hanya memiliki satu hari atau bahkan setengah hari yang tersisa untuk "libur".
Sampai hari Rabu kemarin kami memutuskan untuk benar-benar menyisihkan waktu untuk berlibur, mumpung cuaca masih bagus, mumpung belum masuk musim dingin dan mumpung warna musim gugur sedang indah-indahnya.

Untuk menghindari bangun pagi-pagi dan harus mengendarai motor saat hari masih gelap (maklum saja, matahari baru terbit bulan begini sekitar pukul 8 pagi), kami memutuskan Jumat sore langsung berangkat ke Aachen, Jerman, dan bermalam di sana. Dengan begitu setidaknya Sabtu pagi acara kami lebih santai . Tidak usah terburu-buru bangun.

Jarak dari rumah ke Aachen sendiri sebenarnya hanya sekitar 123km, tapi karena setengah dari jaraknya kami tempuh lewah jalan-jalan kecil dan setengah sisanya baru ditempuh lewat jalan tol, sehingga dibutuhkan sekitar 2,5 jam di jalan.

Tiba di Aachen, apalagi yang langsung dilakukan setelah check in di hotel dan meletakkan semua muatan dari motor kalau bukan mencari sesuatu untuk mengisi perut-perut ini? Apalagi di sepanjang perjalanan menuju ke hotel beberapa kali bau schnitzel yang mengugah selera memenuhi rongga dada.

Karena letak hotel yang tidak jauh dari pusat kota tua, dengan santai kami bisa berjalan kaki mencari tempat makan dan juga menyusuri bagian pusat kota.
Selesai menyantap potongan daging berpanir yang digoreng itu, yang ukurannya bikin ngos-ngosan, dengan french fries, mulailah kami merambah Aachen yang terbalut cahaya lampu-lampu.

Daerah pusat pertokoan. Terlihat sepi, maklum saja toko-toko sudah tutup pada jam segitu, sekitar 8.30 malam. Tapi, yang ada pada kenyataannya di sekitar kami masih sangat ramai orang lalu lalang. Aachen juga dikenal sebagai kota turis.

Ngiler juga melihat sajian di etalase toko-toko itu. Untuuuung toko-tokonya sudah tutup semua, kalau tidak bisa buyar nih acara jalan-jalan, malah jadi acara shopping!! Hysterical

Ada beberapa tempat yang terdapat dalam daftar tempat yang ingin saya kunjungi dalam waktu yang singkat itu, tapi begitulah.... jika sudah keasikan jalan berdua dan menikmati hal-hal yang ada di sekeliling kami, dan membiarkan waktu mengalir tanpa tergesa-gesa, sering daftar tempat itu terlupakan begitu saja. Dan baru teringat kemudian, eh iyaa... saya kan mau ke sini.., setelah tiba di rumah kembali Hysterical
Ah sudahlah.. tempat itu memang menarik untuk dikunjungi, toch kami juga menikmati setiap langkah kami dan hal-hal yang ada di sekeliling kami. Kalau tidak, bagaimana mungkin daftar tempat-tempat itu bisa terlupakan begitu saja di dasar saku jeans saya?

Kebetulan pada malam itu ada program Nacht der offenen Kirchen in Aachen, malam dimana gereja-gereja dibuka untuk umum, sehingga kami juga bisa melewatkan waktu sesaat menikmati keindahan bagian dalam gereja Cathedral.

Sebenarnya sih isenk saja saya mengambil gambar puncak menara Cathedral, eh... ujung-ujung semua orang yang lewat tempat itu pasti berhenti untuk melihat apa yang ada pada puncak Cathedral. Malah ada seorang kakek yang lamaaaa berdiri di belakang saya sambil memandang dengan serius antara aktifitas saya dengan puncak Cathedral itu. Wah 'gak tahu dah apa yang ada di pikirannya.


Habis keliling-keliling di dalam gereja, acara jalan-jalan dilanjutkan lagi. Tadinya sih pengen bikin foto Town Hall yang diterangi lampu di malam hari, gara-gara sempat lihat foto Town Hall yang indah bermandikan cahaya lampu. Sayang kenyataan yang ada berbeda, Town Hall yang ada di hadapan saya tampak senyap dan temaram. Hanya ada beberapa lampu yang menyala menaungi bangunan itu dan juga tampak bagian-bagian yang sedang direnovasi. Ah... sudahlah daripada kecewa mending duduk-duduk di salah satu kafe dekat-dekat situ menikmati bier dingin.

Foto isenk salah satu sudut jalan saat duduk di teras sebuah kafe menunggu pesanan kami.

Nah ini dia, berbeda dengan di Belanda, di Jerman beberapa kali kami harus menyebutkan ukuran saat memesan bier. Jika tidak menyebutkan kata "kecil", pasti yang keluar itu bier dalam ukuran gelas setengah liter!!!
Bukan masalah mabuk, kandungan alkohol pada setiap jenis bier itu tidak seragam, masalahnya kembungnya itu lho kalau harus meneguk habis setengah liter bier. Lihat saja perbandingan antara gelas 330ml dengan gelas setengah liter tuh.
Setelah tuntas isi gelas, melangkahlah kami balik ke hotel untuk beristirahat.
Besok masih ada perjalanan yang panjang.

Tuesday, October 09, 2007

Menelusuri hutan di Hoenderloo

Minggu pagi bangun kesiangan...
Rencana hari itu sebenarnya adalah membereskan beberapa pekerjaan di rumah, mumpung cuaca sedang bagus.
Tapi gara-gara cuaca yang terlalu bagus, sayang untuk dilewatkan hanya di rumah, ditambah dengan rasa malas untuk beberesan akibat bangun terlambat, kami malah memutuskan untuk bersepeda menyusuri hutan di daerah De Veluwe, di Belanda tengah (Gelderland). Klik di sini jika ingin melihat posisi de Veluwe di atas peta Belanda.
Dan setelah meneliti peta jalur sepeda, pilihan kami jatuh pada Hoenderloo, sebuah desa di tepi taman nasional de Veluwe, sekitar 99km dari rumah, sekitar 26km arah utara Arnhem.

Sepeda-sepeda sedang diturunkan dari fietsdrager di bagian belakang mobil. Siap-siap untuk menyusuri hutan.

Empat foto di atas ini adalah pemandangan yang disajikan sepanjang rute bersepeda kami. Berbeda dengan wilayah Brabant yang sudah kaya dengan warna musim gugur, wilayah de Veluwe ini masih terkesan hijau.

Cek peta, jangan sampai kesasar. Wah.. kalau sampai kesasar bisa berputar berkilo-kilo meter lho dengan sepeda. Urusan ngos-ngosan dah.

Jamur, mereka banyak menghiasi pelosok hutan saat musim gugur begini. Mulai dari yang sederhana bentuknya sampai yang berwarna indah.
Ah.. gara-gara kalau melihat jamur yang berbentuk indah itu saya jadi teringat putri Salju dan juga kabouters (liliput dalam bahasa Belanda, bahkan ada orang-orang di Belanda sini yang percaya banget kalau liliput itu ada!!!).

Piknik!!! Tentu saja kami tidak melewatkan acara bersepeda tanpa piknik sederhana di alam terbuka, apalagi jika melihat bangku dan meja yang kosong di sudut-sudut jalan yang menarik. Walaupun itu hanya sekedar meneguk secangkir kopi dan mengunyah sekeping biskuit.

Burung ini adalah satu-satunya hewan liar yang kami temui hari Minggu kemarin. Padahal menurut informasi yang sempat saya baca, ada banyak hewan liar yang hidup di daerah hutan di de Veluwe. Belum rejeki. Lain kali kami harus datang lebih pagi, bahkan saat hari masih pagi untuk kans yang lebih besar bisa bertemu dengan hewan-hewan liar yang lain. Semoga.

Asik juga bersepeda sepanjang rute di Hoenderloo ini, walaupun sempat ngos-ngosan juga, padahal tidak jauh-jauh amat rutenya, bahkan bisa dibilang hanya seputaran kecil, hanya sekitar 15km (putaran besarnya bisa 2 kali itu).
Ngos-ngosan gara-gara ternyata daerah de Veluwe ini adalah daerah berbukit-bukit, sudah pasti bersepedanya juga menanjak dan meluncur.
Ah... ternyata Belanda tidak rata-rata amat Teethy

Trip yang pendek dan menyenangkan. Namun saya belum puas... balik lagi ahhh kapan-kapan...