Monday, July 17, 2006

Dive: Goese Sas

Hari Minggu kemarin kami kembali menyelam di Goese Sas. Kondisi air dengan suhu yang tidak kurang dari 20°C dan penetrasi sinar matahari yang cukup dalam ke kedalaman air, juga kondisi kekeruhan air yang rendah membuat jarak pandang jauh lebih baik dari penyelaman kami sebelumnya di lokasi ini tahun lalu.

Kondisi kehidupan di dalam air juga jauh lebih beragam dari yang sudah-sudah. Tidak hanya melulu kepiting dan bintang laut, kali ini kami juga sempat melihat 2 jenis nudibranch (keong yang tidak bercangkang), beberapa jenis kepiting yang berbeda, lebih banyak oyster (tiram), lobster perairan Atlantik, dan karena penetrasi sinar matahari yang cukup dalam membuat dunia dalam laut lebih berwarna dan tidak terlalu gelap seperti yang sudah-sudah.


Kepiting, seperti yang sudah-sudah, tetap mendominasi dunia bawah air di perairan sini. Tapi kali ini saya juga melihat beberapa jenis yang berbeda dari sebelumnya.


Anemone, ukuran mereka jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan anemone di perairan tropis. Tapi mereka tetap cantik dengan warna.


Bakal kehidupan dalam nuansa hijau.
Ya, bulatan hitam yang terangkai sepanjang tangkai itu adalah telur sepia (cumi besar). Sedang nuansa hijau dalam air itu adalah cahaya sebenarnya pada kedalaman sekitar 10 meter tanpa bantuan senter dan blitz dari kamera.
Tangkai-tangkai itu sengaja dibuat untuk memudahkan sepia meletakkan telur-telur mereka.


Tiram, mereka cukup banyak menutupi dasar perairan. Wah, tanpa wetsuit (baju selam) bisa lecet-lecet kalau tanpa sengaja menubruk/mengepak mereka.


Nudibranch, akhirnya ketemu juga di perairan Belanda sini. Keong tanpa cangkang ini selalu menarik perhatian penyelam karena kecantikannya.


Lobster perairan Atlantik. Hmmm... lekker!!!!
Tapi lobster ini tidak boleh dibawa ke permukaan. Bayangkan saja kalau setiap penyelam membawa mahluk enak ini bersama mereka ke permukaan, wah.... habis sudah. Bisa-bisa hanya tinggal menjadi daftar species dalam sejarah.

Demikianlah penyelaman saya kali ini.
Penyelaman berikutnya...??
Segera dalam minggu ini juga di perairan tropis Roll

Saya pamit dari ruangan ini untuk sementara waktu.
Mudik dulu aaahhhh!!! Hello

Tuesday, July 11, 2006

Dive: Wemeldinge

Level suhu air laut akhirnya mencapai derajat yang nyaman bagi saya untuk menyelam. Ya, saya masih seorang penyelam tropis yang tidak suka berendam di air yang dingin.
Ahhh.... Setelah sekian lama memendam kerinduan, kemarin terpenuhi juga hasrat untuk bercinta dan bergelut lagi dengan laut.
Ini penyelaman saya yang kedua kalinya di Belanda, setelah Goese sas September tahun lalu.
Kali ini kami memilih nyempung di Wemeldinge, Zeeland.

Wemeldinge tidak seramai biasanya kemarin. Bahkan terkesan sepi, walaupun tidak lepas dari sederetan mobil divers baik dari Belanda sendiri ataupun dari Belgia. Mungkin karena ramalan cuaca sebelumnya yang memperkirakan cuaca akhir minggu kemarin tidak secerah sebelumnya. Apapun itu, makin sepi makin baik menurut saya, tidak perlu membagi "daerah kekuasaan" dengan diver lain Smile

Bagaimana dunia dalam laut di sana?
Jangan!!! Jangan membandingkan dengan perairan Indonesia!
Visibility, jarak pandang, pada kedalaman sampai sekitar 5 meter berkisar 5 meter dan masih dengan remang-remang sinar mentari. Setelah 6 meter jarak pandang berkurang drastis hingga kira-kira hanya sekitar 3 meter dan tanpa rembesan sinar matahari. Serasa seperti night dive. Saya dan Reinier bahkan harus dihubungkan dengan buddy line supaya tidak terpisahkan. Dasar perairan di sini ditutupi dengan lumpur yang pekat, yang sangat mudah teraduk membuat jarak pandang menjadi nol.

Bagaimana dengan kehidupan di dalam sana?
Lihat saja pada foto-foto di bawah ini, beberapa dari yang sempat saya shoot hari Minggu kemarin.


Kepiting, mereka banyak sekali di perairan sini. Mulai dari yang ukurannya lebih kecil dari setengah kuku kelingking saya sampai yang ukurannya setelapak tangan saya.


Oh.. look those cute eyes!!!! Tapi hati-hati, jepitan capit mereka bisa bikin meringis!!


Ikan sebelah. Sulit sekali mengambil foto close up, ikan ini selalu bergerak membelakangi kami. Senter para penyelam menyilaukan pandangan mereka. Tapi kalau sudah bergerak, saya harus menunggu sampai lumpur mengendap kembali ke dasar untuk mencoba mengambil gambar berikutnya.


Udang kecil, mereka sangat kecil dan transparan, berenang bergerombol di sela-sela pecahan batu di daerah yang dangkal.


"Hey, what do you want from me??!!" Mungkin itu yang ada di benak ikan ini ya? Lol


Yang satu ini sangat pemalu tapi pintar bergaya. Saya menghabiskan beberapa menit bersamanya.


Penyamaran yang sempurna! Kelihatan mahluk apa yang ada dalam foto ini?


My lovely buddy, yang sangat sabar menunggu saya bermain dengan kamera saya. Thanks sayang Blow Kiss
Lihat airnya, seperti kuah kacang hijau!! Foto ini saya ambil di kedalaman sekitar 5 meter.


Kiri: Bintang ular. Mereka banyak sekali, ribuan, menutupi permukaan dasar laut. Melihat mereka saya teringat akan rambut si Medusa.
Kanan: Sexy Oranje, terkapar diantara para bintang ular.

Tidak terasa kami menghabiskan 86 menit di dalam air. Ah, arus sudah mulai bergerak kembali. Saatnya mengakhiri penyelaman kali itu.
Saya jadi teringat pada beberapa teman divers di Indonesia. Wah, seperti apa ya wajah mereka kalau disuruh nyemplung di sini? Lol

Wednesday, July 05, 2006

Memori (2)

Masih tentang memori, operan dari Tiwi-Miniez beberapa minggu yang lalu. Setelah edisi yang lalu tentang enam memori yang penuh kebahagiaan, kali ini tentang enam memori sedih dalam hidup saya.
Memori sedih... Siapakah orang yang tidak memiliki pengalaman yang menyedihkan dalam hidupnya? Hal-hal yang menyedihkan juga merupakan babak yang harus dilewati dalam sebuah kisah kehidupan. Kesedihan adalah bagian dari ego manusia. Entah itu kesedihan yang mudah hilang atau kesedihan yang sungguh dalam menggores.

Tapi, apa yang membuat kita sedih?
Apa yang membuat saya sedih?
Apa yang membuat saya terluka?
Kehilangan, adalah jawabannya.

Lembaran masa lalu yang dibuka kali ini juga diambil secara random.

Saya sedih saat adik perempuan saya kembali ke sisi Bapa. Padahal seharusnya saya bersyukur, karena kepergiannya mengakhiri penderitaan karena sakitnya saat itu. Tapi rasa kehilangan itu... Umur kami hanya terpaut setahun dan kami hanya memiliki 7 tahun kebersamaan.

Saat melihat kotaku dihancurkan, Ambon manise menjadi Ambon angus e...
Bukan hanya kehancuran fisik bangunan, tapi kehancuran dalam banyak hal.
Sungguh, luka yang menggores sangat dalam.
Suasana yang menyenangkan, harapan akan masa depan, rencana-rencana yang saya dan teman-teman bangun untuk perusahaan kami, hanyalah beberapa yang hilang dari diri saya saat itu. Yang lebih lagi, adalah kehilangan akan rasa aman, kehilangan kepercayaan terhadap lingkungan sekitar, bahkan sempat saya protes berat pada Tuhan.
Saat-saat yang melelahkan bagi jiwa. Proses yang panjang untuk menerima sebuah kenyataan dan melihat kenyataan yang ada tidak hanya dari satu sisi saja.

Tiga tahun yang lalu, papa memiliki ikan red devil. Ikan yang galak tapi manja. Ikan ini menyerang dan menggigit semua tangan yg masuk ke aquariumnya, termasuk tangan papa. Hanya tangan saya dan adik lelaki yang diijinkannya masuk ke dalam daerah kekuasaannya itu. Yang lucu adalah setiap kali saya memasukkan tangan ke dalam air, dia selalu datang dan menggosok-gosokkan tubuhnya ke punggung tangan saya. Sering saya tertawa dan mengatakan ikan ini sebenarnya adalah kucing yang sedang menyamar Lol Kadang-kadang dia berenang dan menubruk tangan saya dengan jidatnya yang nong-nong itu. Dia juga senang sekali jika kami menggelitik dagunya atau punggungnya. Tapi dia paling sebal kalau kami pegang ekornya. Kadang dia juga iseng mengibas air membasahi kami saat kami bermain bersama atau saat kami hanya melewati aquarium. Mama sering menjadi korban kibasan airnya. Reinier juga sempat basah kuyup dicipratin air oleh si Gendut ini. Ah ya, Gendut namanya, karena dia memang gendut.
Sampai pada suatu sore dalam trip panjang ke Indonesia timur, saya menelpon ke rumah dari Jayapura, dan papa mengabarkan kalau si Gendut mati. Waahhh... asli nangis saya dalam KBU kecil yang panas di salah satu wartel di sudut pelabuhan di Jayapura. Ada rasa yang hilang, sesuatu yang indah yang saya miliki, rasa dibutuhkan, rasa...

Saat seorang teman berlaku curang. Sakit sekali rasanya.
Dia, teman saya, mencurangi saya... Sungguh mengecewakan. Sungguh menyedihkan, karena rasa percaya dan hormat yang saya miliki untuknya runtuh, hilang tak berbekas. Mungkin saya yang terlalu bodoh menganggapnya sebagai teman, sementara dia hanya memanfaatkan saya. Walaupun demikian, tetap tidak ada alasan untuk berlaku curang dan konyol seperti itu!

Ketika diving di sisi timur pulau Banta (antara pulau Sumbawa dan pulau Komodo), saat melihat keadaan di sekeliling saya di dalam laut sana, saya hanya terdiam... emosi yang meluap antara marah dan sedih membuat kata-kata lenyap dari benak saya. Karang-karang batu yang besar dan indah patah berserakah di mana-mana, karang-karang meja patah terbalik mati, semua keindahan yang pernah saya lihat lenyap, saya seperti berada di kota yang baru habis diserbu musuh. Semuanya tinggal puing...
Jelas sekali bekas seretan jangkar-jangkar dari kapal-kapal yang pernah berlindung di teluk itu.
Saat itu rasanya seperti separuh dari nyawa saya juga melayang bersama dunia yang hilang itu. Saya adalah bagian dari dunia itu...

Saat orang tua sakit. Sakit dan sedih rasanya. Rasanya sungguh tak berdaya...

Apakah juga menyedihkan saat bubaran dengan mantan-mantan pacar? Kalau saya jawab tidak, bohong tuh. Sedih karena perpisahan sudah pasti, tapi di sisi lain ada juga perasaan, "Horeee.. bebas!!!! Legaaa..." Mungkin karena selalu bikin masalah dan bikin pusing ya? Confused
Ah, yang pasti mereka bukan orang-orang yang tepat. Itu saja.

Melewati babak-babak sedih dalam hidup bisa membuat kita semakin terperosok atau sebaliknya justru membuat kita semakin kuat dan bijak dalam menjalani hidup. Pilihan ada di tangan kita sendiri.


(Tamat)