Akhirnya, setelah tiba di ujung musim panas, kami bisa melaksanakan rencana kami. Bertiga dengan Tonnie kami menyelam di Goese sas, kira-kira 10 menitan dengan mobil dari rumah mertua di Goes.

Red-X is our dive site (Goese sas)
Deg.. deg.. serrr.. juga rasanya. Saya sama sekali belum pernah menyelam di luar perairan tropis sebelumnya. Apalagi dengan informasi-informasi yang pernah saya dengar, ataupun dari internet yang pernah saya baca, mengenai lokasi-lokasi penyelaman di perairan Zeeland ini, dingin, 6 meter adalah top visibility, kadang-kadang bahkan bisa zero visibility, dan ragam biota yang... sudahlah jangan dibandingkan dengan perairan tropis.
Hmmm... apa yang akan saya temui nanti ya?

Goese sas shore and diver's cars along de road.
Setelah memeriksa di tabel getijden (tabel pasang surut arus), kami memutuskan untuk meyelam sekitar pukul 10.30 pagi itu. Karena pada sekitar saat itu adalah waktu duduk tenang arus.
Tidak seperti di Bali, dimana penyelam bisa kapan saja terjun ke laut. Di perairan Zeeland sini orang hanya bisa menyelam saat sekitar duduk tenang arus, karena hampir semua diver tidak menggunakan perahu tetapi masuk ke laut langsung dari pantai (beach entry) dan juga dengan mempertimbangkan kondisi visibility di dalam air.
Saat kami tiba di Goese sas, pinggiran jalan sudah penuh dengan mobil para diver yang parkir. Untung saja Reinier bisa menemukan celah yang masih kosong yang dekat dengan tangga pada dijk (dam), sehingga saya tidak perlu berjalan jauh sambil memikul peralatan selam saya. Maklum saja, tidak ada ibu porter atau bapak porter di sini.
Ugh... lumayan berat juga. Bayangkan saja, saya harus memakai wetsuit setebal 7 mm, yang sudah pasti membatasi keluwesan gerakan saya, belum lagi saya harus mengimbangi ketebalan wetsuit itu dengan menambah jumlah pemberat yang harus saya pakai. Untung saja tabung udaranya dari baja, yang lebih berat dari tabung aluminium, sehingga tidak terlalu banyak pemberat yang harus saya pakai. Tetapi tetap saja kalau ditotalkan, tetap sama BERATnya!!!
Sudah berat dan kaku begitu, kami masih harus menyeberangi dijk, yang untungnya tidak seberapa tinggi, dan berjalan menuju ke bibir pantai
He..he.. dasar diver manja!

de dijk, all the way we have to walk, from the sea through the beach, over de dijk, cross the street to the car.
Saat kaki menyentuh air dan air menembus wetsuit saya... brrrr... biar kata sudah menyiapkan mental untuk menghadapi suhu dingin tetap saja brrr...
padahal suhu air saat itu belum sampai dingin-dingin amat, masih berkisar 19°C. Tapi kejutan dingin itu tidak berlangsung lama. Setelah tubuh saya beradaptasi dengan temperatur di sekeliling dan panas tubuh saya sudah menghangatkan lapisan air yang terperangkap antara kulit saya dengan wetsuit, sengatan dingin itu berkurang banyak.Yang lucu adalah sesaat setelah kepala saya masuk ke dalam air. "Kenapa masker saya berkabut begini? Padahal baru diberi anti fog beberapa detik sebelum dipakai. Yang benar saja, anti fog alamiku tidak mujarab di sini??!" (Yang diver pasti tahu deh anti fog alami
).Tidak lucu jika saya harus membersihkan masker lagi di dalam sini, mana airnya dingin lagi. Tapi saya tidak punya banyak pilihan, membersihkan masker lagi atau melanjutkan penyelaman dengan masker yang makin berkabut. Saat jemari saya hampir menyentuh masker untuk membersihkannya, kok ada yang terasa ganjil? Sepertinya masker saya baik-baik saja deh. Coba ah.... saya menaruh jari di depan masker sebelah kiri, jari saya terlihat jelas. Di sebelah kanan, jelas juga.
Olala... ternyata memang bukan masker saya yang bermasalah, tetapi airnya yang butek banget!!!! Astaga!!!!

Visibility saat itu hanya berkisar setengah meter!!! Untung saja saya dan Reinier dihubungkan dengan buddy line, sehingga kami tidak terpisah selama penyelaman. Saat kami turun makin dalam, visibility-nya agak membaik, dari setengah meter menjadi 1 meter, lumayan kan?
Karena partikel yang melayang dalam air yang begitu pekat, menghalangi sinar matahari untuk menembus jauh ke dalam air. Jadinya gelap seperti sedang night dive. Itu sebabnya, untuk diving di siang hari pun diver di sini selalu melengkapi dirinya dengan senter yang minimal berkapasitas untuk night dive.

Little shrimp and zeedonderpad (fish).
Walaupun begitu, tetap saja ada yang bisa dilihat dan cukup menarik. Flounders (ikan sebelah), zeedonderpad (sejenis scorpionfish), sephia (kecil), lobster, beberapa species udang kecil, dan kepiting, yang banyak sekali. Belum pernah saya jumpai kepiting yang sebanyak ini dalam satu area sebelumnya. Di sini kepiting, di sana kepiting, di mana-mana bertaburan kepiting. Sampai kepiting yang sedang kawin pun ada. Tidak ketinggalan, hermitcrab juga banyak di sini.

Crab and hermitcrab.
Lama-lama saya merasa dingin juga. Wah... keasyikan, tidak terasa sudah 1 jam kami lewati. Agak kaget juga sih, tadinya saya tidak berpikir untuk bisa bertahan selama 1 jam dalam air yang dingin ini.
Naik ke darat, berjalan kembali ke mobil adalah sebuah usaha extra. Tabung yang semakin kosong ini malah terasa menjadi semakin berat.
Salah satu ketrampilan yang perlu dan mesti dikuasai setelah selesai menyelam adalah harus pintar dan cekatan berganti baju di depan umum, karena di semua lokasi penyelaman, di Belanda sini, tidak terdapat ruangan ganti.
Handuk yang lebar termasuk barang penting yang harus disediakan di mobil untuk kegiatan ini, kalau tidak mau terlalu "vulgar"

Untung juga hari itu matahari bersinar cerah dan hembusan angin hanya sepoi-sepoi, sehingga saya tidak perlu menggigil kedinginan saat masih basah dan saat berganti baju.
Sejujurnya, mungkin saya tidak bisa maksimal menikmati penyelaman ini tanpa kamera saya. Tapi yang pasti, saya tidak akan menolak untuk terjun lagi, asal jangan saja suhu air tidak di bawah 17°C.


4 comments:
huaaa :(( siriikk
kebayang mbak gotong2 tabung, apalagi kalo jauh. wih beratnyaa.
musim panas masih kerasa dingin juga ya, gimana musim dingin tuh? hiii..
++retno
Pagi2 gini baca ceritamu aku sedikit ngakak lho Sin, saat ceritamu ttg air yg butek, terus ttg kepiting yang sedang kawin he..he...
Itu Zeedonderpad bentuknya unik ya , hermitcrab juga.
Wah..seneng ya Sin, bisa diving disana. Aku ikut seneng Sin, soalnya khan pasti kebagian cerita, thx ya!
mbak sin, nyelem di indo kayaknya lebih okeh yah, qua yang dilihat jg alias gak bosen gitu. apa di zeeland airnya butek gitu yach, jadi gak bisa liat bener penghuni perairan tsb.
hobi nyelem mbak sin dari kecil yach. ini pertanyaan konyol dari orang yang tidak punya hobi. zielig yach.. hihihi...
iya, diving di indo...mo surut kek, mo pasang ke, nyebur ajah...hehehe
7 mili say! waaaks! pake weight berapa kilo tuh...huhuhu. kalo aku mending ndak deh :p
tapi biotanya oke juga tuh. eh, sayang fotonya reinier dengan mola (postingan dibawah) ndak keliatan jelas...hiks :(
sdh denger bali di bom lagi? di jimbaran ama kuta square....hiiiiiksssssss :((
Post a Comment