Thursday, September 01, 2005

TULAMBEN

Catatan Perjalanan 2

Tulamben adalah sebuah desa di dataran sebelah utara gunung Agung yang bisa dikategorikan kering. Memiliki pantai berpasir hitam (dari perut gunung Agung) dan berbatu-batu, namun kaya akan keindahan laut.


Tulamben yang kering tapi indah

Tulamben bukan sebuah kata yang asing di telinga kebanyakan penyelam. Pesisir di utara (sebelah timur) Bali ini memang terkenal dengan lokasi penyelamannya (dive sites). Mulai dari wreck (bangkai kapal di dalam laut), sampai keragaman organisme lautnya, khususnya yang makro.



Saya sungguh menyukai tempat ini. Bukan karena nama besarnya, melainkan karena saya bisa mengatur dan memilih waktu untuk menyelam dengan santai di sini. Lha, lokasi selamnya berada langsung di depan hotel. Saya bisa turun ke laut kapan pun saya mau. Subuh, pagi setelah sarapan, sebelum makan siang, setelah makan siang, sore, magrib, sebelum makan malam, sesudah makan malam atau bahkan tengah malam. Karena hanya ada beberapa lokasi selam di sini yang membutuhkan perahu. Sisanya adalah beach entry, alias langsung dari pantai tanpa perlu berenang jauh.

Kami menginap di Matahari resort, milik pak Oka. Resort ini sudah seperti rumah kedua saya saat saya masih di Bali. Karena setiap kali saya ke Tulamben, entah karena pekerjaan atau untuk sekedar refreshing dengan teman-teman diver, selalu di sini saya menginap. Sebuah resort mungil, bersih, cantik, terjangkau kantong dan yang penting juga bagi saya adalah atmosfir yang ramah dan akrab yang tercipta di lingkungan resort ini.
Ah ya, satu lagi yang bikin saya selalu betah di sini adalah saya tidak perlu susah-susah untuk berpikir, mau makan di mana ya nanti? Hasil dapur mbok (mbak) Suci selalu bisa menggoyang lidah!!



Sayangnya, kali ini ombak tidak terlalu bersahabat. Acara masuk dan keluar dari laut menjadi tidak mudah. Bahkan sekali saya sempat digulung ombak saat akan keluar dari air. Bah... mana masih lengkap dengan segala peralatan selam di badan, mana batunya besar-besar lagi.
Semestinya sih bukan musim gelombang lagi saat ini. Menurut penduduk lokal, gelombang dan ombak yang besar-besar itu dikarenakan adanya upacara ngaben di daerah sekitar situ. Hmmm... Ponder percaya tidak percaya, sudah beberapa kali saya mengalami kejadian seperti ini di Bali.

Karena kondisi ombak ini kami memutuskan untuk menyelam hanya di sekitar Matahari resort saja, dengan cara beach entry. Terlalu beresiko menggunakan perahu dengan kondisi pantai yang berombak seperti ini (khususnya pada saat perahu bongkar-muat peralatan selam di pantai).

Selain menyelam di Drop off dan Coral Garden, tidak ketinggalan tentunya The USAT Liberty Shipwreck, wreck sepanjang 120 meter, merupakan kapal Amerika yang ditorpedo oleh kapal selam Jepang di dekat selat Lombok.
Kami juga melakukan penyelaman malam di Drop Off dan Coral Garden. Saya suka sekali pada penyelaman malam, selalu unik biota yang keluar malam. Dan, menurut saya lebih mudah mengambil foto saat malam.



Sementara untuk The USAT Liberty Shipwreck, kami melakukan penyelaman pagi-pagi, jam 6.30. Sengaja kami pilih waktu ini untuk menghindari keramaian dan penumpukan divers di sekitar wreck. Wah, coba saja menyelam di Liberty wreck antara jam 9.00 - 14.00, seperti di pasar!!! Dengan gaya bahasa hiperbolanya sih: lebih banyak divernya dari ikannya. Belum lagi gangguan-gangguan yang datang saat sedang mengambil foto dari divers yang tidak ber-etiket.
Tapi ternyata biar kata masih pagi begitu tetap saja kami berjumpa dengan beberapa divers lain di dalam sana. Ternyata sepemikiran juga Lol
Pak Oka menawarkan diri menyelam bersama kami kali ini. Tentu saja saya senang sekali, karena dia lebih menguasai seluk beluk kampung dalam laut di Tulamben ini daripada saya.
Di wreck ini, kami sempat menemukan pigmy seahorse yang imut sekali di batang gorgonian. Sulit sekali menemukannya kembali kalau dia bergeser sedikit saja dari posisi semula. Pink leaf scorpionfish, beberapa jenis nudibranch dan serombongan bumhead parrotfish. Mungkin ada 15-an ekor dalam rombongan itu.

Yang khas dari bagian kegiatan penyelaman di Tulamben ini adalah pasukan porter wanitanya. Mereka berasal dari beragam usia. Bahkan ada nenek-nenek dan juga anak-anak. Walaupun sudah bertahun-tahun melihatnya, tetap saja saya terkagum-kagum melihat "kekokohan" wanita-wanita ini, membawa tabung udara para diver menuju tempat penyelaman. Kebanyakan tamu dan murid saya yang bertitel lelaki sering merasa risih melihat wanita-wanita "kuat" ini membawa peralatan selam mereka di kepala. Kadang-kadang bahkan sampai disusun 2!!! Bayangkan saja, 1 set peralatan (tabung udara, BCD (jaket selam) dan regulator) beratnya kira-kira 20kg. Nah, kalau disusun 2, jadi sekitar 40kg. Mana jalannya di atas pantai berbatu lagi. Way To Go Wah.. Tanpa peralatan saja kadang saya ngos-ngosan juga berjalan jauh di pantai berbatu ini.
Keberadaan pasukan porter wanita ini sangat membantu kenyamanan dalam kegiatan penyelaman. Bayangkan saja kalau para divers harus mengangkut sendiri peralatan mereka jika mereka hendak menyelam di lokasi selam yang agak jauh dari base/hotel mereka, dan berjalan di pantai yang berbatu begitu. Belum masuk ke air sudah teler duluan.

Sementara para prianya menyediakan perahu yang disewakan pada divers yang ingin menggunakan perahu untuk mencapai lokasi-lokasi penyelaman yang sulit dicapai dari darat.


Ibu porter

Dengan keterlibatan penduduk lokal dalam mengelolah lokasi selam ini maka sudah pasti mereka juga berusaha menjaga kelestarian aset mereka ini.
Beberapa kali saya melihat kehancuran ekosistim karang di daerah Tulamben ini, dan penyebab kehancuran itu adalah lumpur yang datang bersama banjir dari lereng gunung Agung.

Selain di Tulamben, kami juga sempat menyelam di teluk Amed, kira-kira 20km dari Tulamben. Kami menggunakan Diver's Cafe sebagai base. Saya suka pada daerah penyelaman di tanjung sebelah timur dari base, kaya dengan objek makro dan selalu menyimpan kejutan bagi saya.



Berbeda dengan perjalanan ke Tulamben, perjalanan ke Amed ini dihiasi dengan pemandangan yang lebih hijau.
Dan, peringatan khusus buat cewek-cewek, jangan kaget ya kalau melintas jalan ke Amed ini sore-sore sekitar jam 5 jam 6, kadang-kadang ada pemandangan yang bisa bikin Shock 2 ups. Dumb



Ah... belum puas rasanya menikmati semua ini. Saya masih rindu berlama-lama dalam dunia saya yang satu ini, menyelam dalam lautku. Namun waktu dan keinginan dan kenikmatan tidak berada dalam satu jalan. Mungkin inilah yang membuat kita terus mempunyai mimpi dan harapan.

4 comments:

si inot said...

wah, kasian jga mbak sin ya pindah ke belanda. di bali bisa nyelem kapan aja mbak sin mau.... tapi cinta mengalahkan segalanya ya mabk sin. kl mau yuyung ya bisa diatur kapan walau gak tiap hari kayak di bali dulu.en bisa di lain tempat juga walau duingin hehehe... info tempat nyelamnya ntar bisa aku kasih ke marco. tapi tembalan itu jauh banget gak ya dari den pasar maksudku berapa jam naik mobil dari den pasar ?

Hani said...

nasib tragis, aku belum sekalipun diving di bali. sudah dirayu bolak-balik sama mas boen, tetep aja ndak napsu diving di bali...hahaha. kenapa yah? aku lebih suka dolphin watching di lovina nih.

matahari resort bagus ya. wah kalo aku tinggal disitu walhasil anak2ku bisa tidurnya dilaut, abis mereka kalo liat laut langsung matanya berbinar-binar kaya' liat uang 1 milyar...hahaha

sudah diterjemahkan dengan baik pesanku pada reinier. aku emang sengaja kok...hihihi

Anonymous said...

hah? pemandangan apaan tuh yg bisa bikin melotot??

Pipin said...

since, foto-foto bawah lautmu memang bener-bener tiada duanya...
(jarang sih, aku liat foto-foto bawah laut)

wah, pasti rasanya males banget ya ninggalin semua keindahan itu... (balik lagi ke belanda)