Monday, September 26, 2005

"Berburu" Mola-mola

Catatan Perjalanan 8

Keinginan Reinier untuk "berburu" mola-mola atau sunfish ini sudah diungkapkannya sejak setahun yang lalu. Di bulan Juli tahun lalu, kami sempat menyelam di Nusa Penida, pulau di sebelah timur pulau Bali. Sayang, kami belum beruntung. Tidak satu pun mola-mola yang kami temui dalam penyelaman kali itu. Bulan Juli memang awal dari "musim" mola-mola, tapi belum seramai seperti dalam bulan Agustus-September.

Karena kali kemarin kami berada di tanah air di bulan Agustus, Bulan dimana mola-mola bisa -paling sering- ditemui di perairan sekitar Bali timur (Agustus-September). Reinier kembali mengungkapkan keinginannya untuk "berburu" mola-mola.

Mengapa mola-mola begitu istimewa?
Karena mola-mola memiliki bentuk tubuh yang unik, tidak seperti bentuk tubuh ikan pada lazimnya. Nyaris bundar, pipih, dengan sirip punggung dan perut yang mencuat dan nyaris terlihat seperti tidak memiliki ekor. Jarak antara ujung sirip pungung sampai ujung sirip perut ini bisa mencapai sampai 3 meter.
Dan, ikan yang biasanya hidup di laut dalam (sekitar kedalaman 300m) pada laut lepas ini sangat jarang bisa ditemukan oleh diver saat menyelam, hanya pada terumbu karang-terumbu karang tertentu dan pada waktu-waktu tertentu ikan yang terlihat malas bergerak ini terlihat muncul sampai dekat ke daerah terumbu karang.
Mereka muncul ke daerah permukaan dan dekat terumbu karang, pada daerah cleaning stations tertentu, untuk membersihkan parasit-parasit yang tumbuh di permukaan tubuhnya, yang tidak bersisik itu. Misalnya di perairan Nusa Penida ini mereka mendekati daerah karang yang banyak dihuni oleh bannerfish (Heniochus diphreutes), karena ikan-ikan kecil ini akan dengan segera menyerang tubuh mola-mola memangsa parasit-parasit yang hidup di situ.

Karena saya tidak begitu familiar dengan daerah-daerah tempat mola-mola paling sering muncul di perairan sekitar Nusa Penida ini, kami memutuskan untuk membeli daily dive package ke Nusa Penida dari ENA dive center, dive center yang sepengetahuan saya cukup andal untuk trip pencarian mola-mola ini (walaupun sudah tentu tidak pernah ada garansi untuk hal-hal seperti ini).


walking to our boat, sanur beach.

Kami berangkat dari Sanur dengan menggunakan boat menuju Nusa Penida. Karena pagi itu air sedang surut, kami harus berjalan kira-kira setengah kilo menuju ke perahu. Buh... untung saya tidak perlu memikul sendiri peralatan selam saya. Bisa layu sebelum berkembang kalau harus membawa alat sendiri sejauh itu Faint hehehe...

Kami digabungkan dengan grup lain dengan tujuan yang sama dalam satu boat. 16 divers dari HongKong. Semuanya lengkap dengan kamera-kamera mereka, beberapa dengan video. Wah.. jadi grogi juga nih, kamera saya jadi mirip seperti mainan kalau dibandingkan dengan perabotan mereka itu.

Kali ini saya mempersiapkan diri untuk menghadapi suhu air yang mungkin dingin dengan membawa wetsuit 5mm dan tidak lupa hood. Yup, terakhir kali "berburu" mola-mola di Nusa Penida, beberapa tahun yang lalu, suhu air mencapai 18°C!!!

Penyelaman pertama kami lakukan di Crystal bay. Saya dan Reinier ditemani oleh seorang dive master, berada pada group yang terpisah dari rombongan divers HongKong. PhewPfffiuuh... Lega saya. Bagaimana tidak? Bayangkan saja jika harus diving dengan 16 divers lain plus beberapa dive master. Wah... bisa kabur duluan mola-molanya.

Kami menjadi group pertama yang terjun ke laut karena persiapan kami yang lebih cepat. Begitu tubuh saya menyentuh air laut... Shock 4 aaaaghh... dingiiiiinnn...!!!!! Biar kata sudah memakai wetsuit setebal 5mm, dinginnya air tetap menggigit! Kondisi air saat itu tidak sedang berada pada puncaknya. Visibility tidak sejernih biasanya dan kami harus bergerak melawan arus. Setelah beberapa menit menyelam, kami menemukan mola-mola di kedalaman lebih dari 30 meter. Saya memutuskan untuk berhenti di 35 meter dengan pertimbangan case kamera yang tidak bisa dibawa lebih dalam lagi, namun saya sempat melihat 3 ekor yang berjejer rapi. Sementara Reinier (setelah menitipkan kameranya pada saya) dan dive master kami, Bagan, turun sampai 45 meter. Kata Reinier, mereka melihat lebih banyak mola-mola di dalam sana.


Mola-mola

Setelah beristirahat dan makan siang di boat, kami kembali mempersiapkan diri untuk penyelaman kedua. Kali ini di Blue Corner.
Kami menemukan mola-mola di sekitar 27 meter, tidak jauh dari dinding karang. Mereka seperti "melayang" atau lebih tepatnya mengapung di dalam air. Diam, tidak bergerak. Ada 3 ekor di dekat kami, kemudian menyusul bayang-bayang yang lebih banyak di kejauhan. Saya mencoba membuat beberapa foto lebih dekat. Agak sulit, karena dengan kondisi arus, khususnya downwelling (arus yang menuju ke kedalaman) membuat saya harus terus bergerak mempertahankan posisi dan kedalaman saya saat itu. Payahnya gerakan dan gelembung udara saya ini justru membuat mola-mola makin menghindari saya. Terpana saya melihat bagaimana mereka memanfaatkan arus air untuk mendorong tubuh mereka.

Saat kembali berlindung di dinding karang, saya melihat seekor mola-mola tidak jauh di belakang saya, sedang menuju ke arah saya. Setelah memperhitungkan beberapa kondisi dengan cepat, segera saja saya lepaskan pegangan dari dinding karang dan diam membiarkan arus membawa tubuh saya mendekati mola-mola tersebut. Berhasil!!! Saya bisa berada dekat sekali dengan mola-mola ini bahkan membuat beberapa foto close-up. Salah satu hasil fotonya yang ada di atas itu.
Dan sesuai perhitungan saya, downwelling yang tentu saja menyeret saya makin ke dalam dalam makin menjauh dari dinding karang. Pengukur kedalaman saya segera menunjukkan angka 38 meter dengan tidak memakan waktu yang lama. Wah... 11 meter dari titik awal!!! Saatnya untuk balik ke dinding karang dan terpaksa menggunakan jurus cecak menuju ke atas karena downwelling yang semakin kencang. Dan diujung penyelaman saya harus melakukan prosedur deco-stop. Untung kali ini airnya tidak sedingin yang saya perkirakan sebelumnya. Suhu air kali ini berkisar antara 21°-22°C.

Sakit kepala, itulah penderitaan kami semua, tidak terkecuali, setelah penyelaman kedua ini akibat pengerahan tenaga yang berlebihan selama menyelam. Tidak satupun penyelam yang tidak memegang dahinya atau tidak mengenyitkan dahinya. Menyelam melawan arus sebenarnya bukan hal yang bijaksana.

Total mola-mola yang kami lihat hari itu ada 11 ekor. Saya sempat mendengar dari group yang lain, pada penyelaman kedua tidak semua dari mereka yang sempat melihat mola-mola. Tidak heran resiko ini sering terjadi jika berada dalam group yang besar.


Renier and Mola-mola

Reinier senang sekali, akhirnya keinginannya kesampaian juga. Dan saya? Tentu saja saya juga senang. Ini kali pertama saya berhasil membuat foto mola-mola (kali sebelumnya case kamera saya berembun melulu karena suhu air yang dingin).
Namun, yang lebih dari sekedar berhasil membuat foto, adalah kegembiraan Reinier. Saya lebih menikmati kegembiraannya itu. Blings

Catatan terakhir dari trip ke Indonesia kali ini.

4 comments:

Anonymous said...

18 derajat?? bbrrrr ....

duh kapan gue bisa liat mola2 yaaa...?????//

-itha-

Anonymous said...

Seneng ya Sin, bisa melihat langsung Mola-mola. Aku melihat berbagai macam ikan di TV saja, sudah seneng, apalagi melihat secara langsung! Bentuk mola2 kayak zeppelin ya...

Tiap orang punya hobi beda2 ya Sin. Aku juga tak bisa membayangkan
diving dilaut luas.....wah....bayangnya macam2, takut, ndak kuat napas dsb. Maklum nggak pernah diving! cuman berani di kolam renang ( he..he..he..)
snorkling pernah Sin, dulu di laut depan hotel kita menginap di Bali. Wah.... kamu itu kuat sekali ya Sin, diving dilaut luas begitu. hebat!!

Btw, kasihan Sin, burung2 yg sering berkunjung di kebun kami, kalau biji2 bunga mataharinya kami panen semua he...he...he... tapi aku ya tetap pakai minyak bunga matahari kalau masak, beli dari toko. Happy tuesday ya!!

Anonymous said...

waw dingin ya mbak, 18 derajat :(
gimana perasaanmu waktu liat mola2 yg gede itu? aku pernah liat napoleon, tp di dlm bak budidaya sih :p gede tp tidak berbahaya.

buset kamu deco stop ya mbak, gile aku cuma tau teorinya doaangg

++retno

si inot said...

mola2 mukanya culun ya mbak sin. hehehe. bbrapa hari lalu kita liat di animal planet macem2 ikan dasar laut. marco truz crita juga pengalaman divingnya di manado en aussie. aku mek nyengir wae.. tp emang laut itu masih misteri ya mbak sin.. ngeliat isi laut aja rasanya aku dah duingiiiin banget... dan langsung hyperfentilasi ! mana donker lagi.. waaa.... hebat sampiyan, dapper banget ! pantes reinier cintrong banget.. hehehe..