Thursday, September 08, 2005

Komodo (edisi atas laut #2)

Catatan perjalanan 4

Loh Liang,

Setelah menghabiskan 3 hari diving di sekitar perairan Komodo, tiba saatnya untuk memperbaharui tiket kami untuk 3 hari ke depan lagi. Kali ini kami mengunjungi Loh Liang di pulau Komodo. Sebenarnya bisa saja kami membeli 2 kali tiket untuk 6 hari di Loh Buaya. Tapi biar sekaligus ada alasan buat jalan-jalan Brows

Saat tiba di Loh Liang hari sudah menjelang sore, namun matahari masih panas menyengat. Kami semua akhirnya sepakat, tidak mengambil paket untuk jalan-jalan lagi. Hanya pak Condo dan kapten yang menuju ke ranger office/visitor center untuk report dan memperbaharui tiket kami.

Saya mengambil kesempatan ini untuk ikut ke darat untuk mengunjungi "teman-teman lama", beberapa ranger di Loh Liang dan para pedagang souvenir.
Senang rasanya bertemu lagi dengan orang-orang yang sudah saya kenal di Komodo ini. Ramai jadinya saling bertegur sapa.
"Ooooiii... dari mana bu, sudah lama tidak kelihatan?"
"Apakabar ibu, ke mana saja?"
"Oi ibu, apa kabar????!!!"
"Berapa tamunya bu?"
"Mana Ambasinya bu?"
"Lah ibu sekarang di kapal mana?"
"Dengan pak Condo ya bu?"
"Ambasinya bagaimana bu?"
Ya, mereka tentu saja mengenal saya sebagai bagian dari Ambasi, dan kali ini mereka mengira saya sudah bergabung dengan pak Condo dan meninggalkan Ambasi.
Setelah dijelaskan kalau saya sudah menikah dan tidak bekerja di kapal lagi,...
"Yah... jadi kapan lagi ni baru kita bisa bertemu ibu lagi?"
Saya terdiam... yah... kapan lagi ya???...


Pesisir Loh Liang.

Kampung Komodo,

Dari Loh Liang kami singgah sebentar di kampung komodo, satu-satunya kampung di pulau Komodo. 5 tahun saya bolak-balik ke Komodo, baru kali ini saya sempat singgah di kampung ini. Sebenarnya alasan saya singgah di sini bukan untuk ng'sok jadi turis masuk kampung. Ada hal yang lebih penting dan mendesak, yaitu membeli tambahan ransum camilan yang ternyata cepat sekali menipis Blushy (yah... namanya juga di laut, selain diving kegiatan nikmat lainnya ya tidur dan mengunyah Lol).
Tapi... kalau mau dipikir-pikir Ponder dengan berbelanja di sana, saya sudah turut memperlancar arus perputaran ekonomi di sana dong.. Waah ngelantur jadinya nih, belanjanya cuma sekedar camilan kecil-kecil, itu pun hanya di 2 pondok yang berbeda, sudah mikirnya yang wah saja... DuhDasaaar!!! hehehe...

Ada beberapa legenda menarik dari daerah komodo. Salah satu legenda itu menceritakan bahwa komodo adalah saudara dari penduduk setempat. Oleh karena itu mereka memperlakukan komodo juga sebagai saudara. Legenda-legenda ini bisa di baca di sini (mulai halaman 16).



Segera setelah mendarat dengan perahu, kami dikerumuni oleh anak-anak, yang kebanyakan berusia di bawah 12 tahun. Astaga... banyak sekali anak-anak di sini. Wah... yang pertama kali terpikirkan adalah bapak-bapak dan ibu-ibu penyuluh KB-nya gagal total!!! Smile (Memang ada ya, proyek penyuluhan KB di desa ini? Ignoring You ).
Rombongan anak-anak ini terus mengikuti rombongan para turis itu ke mana pun mereka berjalan (kebetulan saya dan Reinier sengaja memisahkan diri, untuk mencari pondok orang berjualan). Mereka bercanda dan terus mengomentari apa saja yang mereka lihat pada turis-turis ini. Kemudian ada beberapa anak mulai menepuk-nepuk tanganku dan meminta difoto. Lucu dan polos tingkah mereka. Mereka tidak perduli dengan hasil foto, bahkan tidak minta untuk dikirimkan ke mereka, yang penting bergaya di depan kamera. Namun mereka senang sekali melihat hasilnya di layar LCD kamera.


"Senyum ceria para penerus bangsa" dan "jiwa bahariku"

Saya tidak melihat banyak laki-laki dewasa di kampung ini selama kami berkeliling. Kebanyakan para wanita dari berbagai umur, dan anak-anak ini. Mungkin para lelakinya masih di tengah laut mencari ikan, mungkin masih di kota, mungkin masih dalam perjalanan pulang dari Loh Liang.
Menurut catatan resminya, ada sekitar 1400 orang penduduk kampung ini. Mereka berasal dari berbagai tempat; Bima, Bajo, Flores, Sulawesi Selatan, dll.
Sebagian besar dari mereka adalah nelayan. Ada juga beberapa yang berjualan souvenir di Loh Liang (ranger base dan visitor center) atau di Labuanbajo, dan ada juga yang membuat patung komodo dari kayu.
Kebetulan saat kami lewat ada satu keluarga pengrajin yang sedang sibuk dengan pekerjaan mereka.



Kebanyakan rumah di sini adalah rumah panggung, untuk melindungi mereka dari komodo. Tapi ada juga rumah-rumah yang bukan rumah panggung dan dari semen. Yang pasti, desa ini sangat sederhana.
Sejujurnya, tadinya saya berpikir bahwa saya akan menemukan sebuah desa yang "lebih" dari pada apa yang saya lihat, mengingat adanya proyek yang besar di area Komodo ini. Hmmm... Mouth At Side

Kami tidak banyak menghabiskan waktu di darat. Selain diving, sebagian besar waktu kami habis di atas kapal, di tengah laut. Walaupun demikian tidak berarti waktu selama di atas kapal itu membosankan. Pemandangan terus berubah-ubah di sekitar kami, mulai dari bentuk pulau-pulau, bertemu dengan kapal nelayan, dan kadang-kadang ada saja yang bisa bikin tertawa karena aksinya. Kalau sedang beruntung, kami juga bertemu dengan serombongan lumba-lumba...

Wanted???! Shocked Lol

Tidak ketinggalan sunset dan sunrise yang selalu membuat saya terpukau... Well.. kalau sunset sih sempat dilihat setiap hari selama di kapal, tapi kalau sunrise-nya sih cuma sempat 2 kali Blushy hehehe..

sunset in Komodo

3 comments:

Anonymous said...

Wah.....membaca cerita menarik diatas seperti melihat laporan wisata di TV, hebat!! foto2nya itu lho cantik sekali!!

Anonymous said...

*speechless liat poto2nya*

la itu yg wanted takut item kali ya mbak hihihihi...

++retno

si inot said...

iyo mbak sin itu mestinya jadi jurnalis. tulisannya padat singkat dan informatif sekali. pantes jadi jurnalisnya majalah intisari. eh masih beredar gak ya intisari ?